cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 261 Documents
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI SAMBUNG PUCUK SEBAGAI ALTERNATIF PILIHAN PERBANYAKAN BIBIT KAKAO Jermia Limbongan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n4.2013.p166-172

Abstract

Perkembangan area kakao di Indonesia terus meningkat dari tahunke tahun. Produktivitas rata-rata mencapai 625 kg/ha/tahun,meskipun potensinya lebih dari 2.000 kg/ha/tahun. Salah satukendala dalam program revitalisasi perkebunan kakao adalahkekurangan bibit sebanyak 18 juta bibit per tahun. Bibit tanamankakao dapat diperbanyak secara generatif maupun vegetatif.Perbanyakan bibit kakao secara vegetatif bertujuan untuk memperolehbibit yang bermutu tinggi, baik kuantitas maupunkualitasnya. Pemilihan teknologi perbanyakan bibit kakao secaravegetatif perlu mempertimbangkan ketersediaan entres, kemampuansumber daya manusia, tingkat keberhasilan sambungan, jumlahkebutuhan bibit, dan ketersediaan fasilitas penunjang. Beberapaalternatif pilihan yang tersedia antara lain teknologi setek, okulasi,sambung pucuk, sambung samping, dan somatik embriogenesis.Teknologi perbanyakan vegetatif yang paling banyak diterapkanpetani kakao adalah sambung pucuk. Teknologi ini mudahdilakukan, bahan-bahan yang digunakan mudah didapat, danbiayanya murah. Keuntungan yang diperoleh dari usaha perbenihankakao mencapai Rp26.250.500 per 10.000 bibit dengan tingkatkelayakan usaha (B/C) 1,4.
Kebijakan Subsidi Pupuk: Ditinjau Kembali Wayan R. Susila
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n2.2010.p%p

Abstract

Subsidi pupuk yang terus meningkat merupakan salah satu tulang punggung kebijakan pertanian sejak tahun 1969. Berbagai prestasi di bidang pertanian seperti peningkatan produksi dan produktivitas serta swasembada beras, sampai batas tertentu merupakan dampak dari kebijakan subsidi pupuk. Namun, berbagai masalah dan dampak negatif dari kebijakan tersebut, seperti sistem distribusi yang tidak efisien, tidak tepat sasaran, dualisme pasar, penggunaan pupuk yang berlebihan, serta pengembangan industri pupuk yang terhambat, tidak dapat diabaikan. Tulisan ini mencoba meninjau ulang dampak positif dan negatif kebijakan subsidi pupuk. Berdasarkan hasil tinjauan, diusulkan dua pilihan kebijakan. Pilihan pertama adalah melanjutkan kebijakan subsidi pupuk dengan memperbaikiperencanaan, pemantauan, sistem distribusi, dan pemberdayaan penyuluh lapangan. Pilihan kedua adalah mengganti kebijakan subsidi pupuk dengan kebijakan lain yang lebih efektif, seperti subsidi benih unggul, subsidi kredit, perbaikan dan pemeliharaan saluran irigasi, subsidi alat mesin pertanian, perbaikan pemasaran, dan pemberdayaan penyuluh lapangan.
PRODUKSI DAN PENGELOLAAN BENIH JAHE PUTIH BESAR (Zingiber officinale var. officinale) MELALUI PROSES INDUSTRI Sukarman .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n2.2013.p76-84

Abstract

Jahe putih besar merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesiadengan area pengembangan pada tahun 2010 mencapai 6.053 hadan kebutuhan benih jahe berupa rimpang 12.106 ton/tahun. Pasarekspor jahe menghendaki kesinambungan pasokan produk denganmutu hasil yang tinggi. Hal ini menuntut penyediaan benih yangberproduktivitas tinggi dengan kualitas produk yang baik. Namun,penyediaan benih bermutu masih menjadi salah satu kendala dalamusaha tani jahe di Indonesia sehingga petani menggunakan benihasalan yang kualitasnya kurang terjamin. Produksi dan pengelolaanbenih jahe dalam skala industri belum umum diusahakan meskipunteknologi produksi benih jahe unggul berkualitas tinggi telahtersedia. Nilai ekonomi industri benih jahe cukup menarik untukpengembangan agribisnis baru. Industri benih jahe dapat dijalankandengan memerhatikan seluruh aspek produksi dan pengelolaan,yang meliputi varietas unggul, teknik perbanyakan, panen, prosesingdan sortasi, perlakuan benih, pengemasan, penyimpanan danpemasaran, dengan pengawasan mutu dan distribusi yang ketat.
Capturing The Benefit of Monsoonal and Tropical Climate to Enhance National Food Security Istiqlal Amien; Eleonora Runtunuwu
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n1.2010.p%p

Abstract

Although the consumption level is declining with improved economy and living condition, rice remains the staple food in many Asian countries. With annual consumption per capita of more than 100 kg, Indonesia is far higher than Japan, Korea, Taiwan, and Malaysia with around 90 kg but less than the least developed countries in Southeast Asia, Laos and Myanmar that consume around 200 kg. Java the most populous island with about 7% of Indonesian terrestrial territory has long been and is still the national rice basket although its contribution to the national rice production is steadily declining. With population is still growing by 1.30% annually, competition for food, water, and energy will increase. Consequently food prices will rise, more people will go hungry, and migrants will flee theworst-affected regions. Therefore, to cater the national rice demand, alternatives has to be found in outer islands. The geographic position and variable climate of monsoonal and tropical rainfall patterns as well as the availabilityof large swathes of swampy land offer opportunity to evenly spread planting time and hence rice production throughout the year. However, recent rapid development of tree plantations will make it difficult to implement without political will supported with strong policy and appropriate planning. This paper describes the challenges and opportunities in utilizing climate variability to enhance national food security and improve farmers’ welfare.
OPTIMASI PEMANFAATAN BERAGAM JENIS PESTISIDA UNTUK MENGENDALIKAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN Supriadi .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n1.2013.p1-9

Abstract

Berdasarkan sumber bahan aktifnya, pestisida dikelompokkan ke dalam pestisida hayati, nabati, dan sintetis. Peran pestisida sintetis masih  sangat dominan dalam mendukung peningkatan produksi pertanian di dunia. Namun, karena banyak efek negatifnya, maka penggunaan  pestisida sintetis makin diminimalkan antara lain dengan meningkatkan peran pestisida hayati dan nabati. Tulisan ini memaparkan kompatibilitas berbagai pestisida dan keefektifannya dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman (OPT) terutama pestisida hayati dan nabati yang semakin marak dikembangkan dan diperdagangkan. Banyak di antaranya dapat digunakan secara bersamaan atau bergiliran karena bersifat  kompatibel satu sama lain, bahkan dengan pestisida sintetis. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Bacillus thuringiensis dapat  digunakan bersamaan dengan parasitoid Diadegma semiclausum, Cotesiaplutellae, dan Diadromus collaris untuk mengendalikan Plutella xylostella pada tanaman kubis-kubisan. Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae kompatibel dengan mimba dan spinosad, sedangkan  Trichoderma kompatibel dengan beberapa jenis pestisida sintetis, seperti mankozeb, kaptan, deltametrin, monokrotofos, dan imidakloprid. Di samping itu, asap cair (vinegar) bersifat sinergis dengan karbofuran sehingga menghemat penggunaan karbofuran sampai 50% dalam  pengendalian wereng batang coklat. Namun, data kompatibilitas beragam jenis pestisida masih terbatas dan belum terdokumentasi dengan baik, serta mekanismenya masih perlu dikaji. Untuk meyakinkan petani bahwa mencampur pestisida berlainan jenis yang sinergis menguntungkan, perlu dibuat demplot dengan melibatkan petani sebagai kooperator. Produsen pestisida seyogianya menginformasikan kompatibilitas produknya denganpestisida lain. Pemerintah perlu meningkatkan penyuluhan tentangpestisida dan mengawasi secara ketat peredaran dan penggunaannya.
Penggunaan Lahan Kering di DAS Limboto Provinsi Gorontalo untuk Pertanian Berkelanjutan Nurdin .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 3 (2011): September 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n3.2011.p98-107

Abstract

Lahan kering merupakan salah satu agroekosistem yang berpotensi besar untuk usaha pertanian. Daerah aliransungai (DAS) Limboto mempunyai lahan kering yang sesuai untuk pengembangan pertanian seluas 37.049 ha,sedangkan lahan datar sampai bergelombang yang potensial untuk pertanian 33.144 ha. Untuk memanfaatkanlahan kering tersebut, dapat diterapkan beberapa strategi dan teknologi yang meliputi: 1) pengelolaan sistem budidaya, yang mencakup pengelompokan tanaman dalam suatu bentang lahan mengikuti kebutuhan air yang sama,penentuan pola tanam yang tepat, pemberian mulsa dan bahan organik, pembuatan pemecah angin, dan penerapansistem agroforestry, 2) pengembangan ekonomi, sosial, dan budaya melalui penyuluhan, penyediaan sarana danprasarana produksi serta permodalan petani, pemberdayaan kelembagaan petani dan penyuluh, serta penerapansistem agribisnis, dan 3) implementasi kebijakan yang berpihak kepada pertanian, yang meliputi pemberian subsidikepada petani di daerah hulu untuk melaksanakan konservasi lahan, pemberian subsidi pajak kepada petani didaerah hulu, penetapan peraturan daerah yang berkaitan dengan pengelolaan lahan berbasis konservasi, danpengelolaan lahan dengan sistem hak guna usaha (HGU). Hal lain yang terpenting dalam pemanfaatan lahan keringadalah sinkronisasi dan koordinasi antarinstitusi pemerintah dengan melibatkan petani untuk menghindari tumpangtindih kepentingan.
Optimalisasi Produktivitas Karet Melalui Penggunaan Bahan Tanam, Pemeliharaan, Sistem Eksploitasi dan Peremajaan Tanaman Island Boerhendhy; Khaidir Amypalupy
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n1.2011.p23-30

Abstract

Produktivitas dan keuntungan yang dihasilkan perkebunan karet Indonesia saat ini masih relatif rendah. Rendahnyaproduktivitas karet terutama disebabkan penerapan teknologi dan pengelolaan kebun yang belum sesuai rekomendasi,terutama untuk perkebunan karet rakyat. Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkanproduktivitas kebun adalah: 1) penggunaan bahan tanam seragam dan klon unggul berproduksi tinggi dengankomposisi klon dan umur yang seimbang dan penempatan klon pada agroekosistem yang sesuai, 2) penerapanteknik budi daya yang meliputi pengolahan tanah, pemupukan dengan takaran, frekuensi, dan cara aplikasi yangtepat, serta pengendalian penyakit jamur akar putih, 3) penerapan sistem eksploitasi sesuai sifat fisiologis klon danpengendalian kekeringan alur sadap, dan 4) peremajaan bagi kebun-kebun yang kurang produktif.
LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS DALAM MENCAPAI SWASEMBADA DAGING SAPI/KERBAU 2014 Matondang, Rasali H.; Rusdiana, S.
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n3.2013.p131-139

Abstract

Swasembada daging sapi 2014 dapat diwujudkan dengan menetapkankawasan perbibitan sapi nasional, yang meliputi perbibitan danpemuliabiakan sapi melalui program pemurnian sapi lokal danpengembangan bangsa sapi komersial (bakalan), serta pengembangankawasan industri terpadu sapi potong dan wilayah barupeternakan di pulau-pulau kecil. Ketersediaan pakan merupakanaspek krusial dalam budi daya ternak. Untuk menjamin ketahananpakan nasional, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1)pemberlakuan tarif ekspor bahan baku pakan, 2) pembentukaninstitusi penyangga bahan baku pakan, 3) pengembangan sistemkerja sama produksi pakan antarwilayah bagi wilayah padat ternaktetapi tidak memiliki lahan untuk sumber pakan dan sebaliknya, 4)pengembangan zona produksi hijauan pakan di pedesaan dankesehatan hewan, 5) pemetaan dan revitalisasi padang penggembalaandi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan SulawesiSelatan serta wilayah bukaan baru, 6) pengembangan sistem mekanisasipakan, 7) subsidi harga bahan baku pakan, 8) strukturisasi tataniaga bahan baku pakan, dan 9) pengembangan sistem informasipakan nasional. Kelembagaan sangat memengaruhi keberhasilanswasembada daging sapi sehingga koordinasi antarsektor, antardaerah,dan antarpemangku kepentingan yang didukung denganperaturan perundangan sangat diperlukan untuk mendukung upayapeningkatan populasi sapi nasional. Penganekaragaman sumberpangan daging yang proses produksinya memerlukan waktu lebihpendek diharapkan dapat menekan laju pemotongan sapi.
Cemaran Mikotoksin, Bioekologi Patogen Fusarium veriticillioides dan Upaya Pengendaliannya pada Jagung Pakki, Syahrir
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n1.2016.p11-16

Abstract

Fusarium sp. merupakan salah satu patogen penting pada tanaman jagung di Indonesia, yang menginfeksi batang, tongkol, dan biji jagung di lapangan maupun pada tempat penyimpanan. Cemaran F. verticillioides perlu diwaspadai karena patogen tersebut menghasilkan toksin fumonisin (FB1, FB2, dan FB3). Fusarium sp. terdiri atas enam spesies, dan spesies yang dominan menginfeksi jagung ialah F. verticillioides. Infeksi patogen tersebut pada biji jagung dapat menimbulkan gejala maupun tanpa gejala (symptomless). Pengendalian hayati pada tanaman di lapangan dengan Bacillus amyloliquefaciens, B. mojavensis, dan bahan kimia berbahan aktif asam amonia dan propionat efektif menekan infeksi F. verti
POTENSI PENGEMBANGAN JAGUNG DAN SORGUM SEBAGAI SUMBER PANGAN FUNGSIONAL ., Suarni; Subagio, Herman
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n2.2013.p47-55

Abstract

Jagung dan sorgum merupakan serealia penting karena selain sebagai sumber karbohidrat, juga kaya akan komponen pangan fungsional. Berbagai  antioksidan, unsur mineral terutama Fe, serat makanan, oligosakarida, -glukan yang merupakan komponen karbohidrat non-starch  polysaccharides (NSP) terkandung dalam biji jagung dan sorgum yang potensial sebagai sumber pangan fungsional. Jagung mengandung lemak  esensial omega 3 dan 6, lisin, dan triptofan tinggi (QPM). Sementara sorgum mengandung tanin dan asam pitat yang memiliki efek negatif maupun positif bagi kesehatan. Sifat antioksidan tanin lebih tinggi dibanding vitamin E dan C, demikian juga antosianin sorgum lebih stabil. Kedua komoditas pangantersebut mempunyai kesamaan dan kelebihan dalam kandungan komponen pangan fungsional. Selama ini, diversifikasi pangan berbasis jagung dan sorgum hanya sebatas sumber karbohidrat, tetapi ke depan dapat menjadi komponen pangan fungsional. Peluang pasar pangan fungsional di Indonesia makin terbuka seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan yang mengarah hidup sehat.

Page 9 of 27 | Total Record : 261


Filter by Year

2008 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue