cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 261 Documents
PROSPEK PENGEMBANGAN INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KALIMANTAN SELATAN Suryana, Suryana; Yasin, Muhammad
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n1.2015.p9-18

Abstract

Luas perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Selatan pada tahun 2013 mencapai 343.749 ha, terdiri atas perkebunan rakyat 59.618 ha (15,95%), perkebunan besar negara 4.906 ha (1,38%), dan perkebunan besar swasta 279.015 ha (87,68%). Dari luas tersebut, terbuka peluang pengembangan ternak sapi potong secara terintegrasi dengan memanfaatkan hijauan berupa rumput dan legum penutup tanah, limbah kebun seperti pelepah sawit, dan limbah pengolahan crude palm oil (CPO) sebagai sumber pakan. Populasi sapi potong di Kalimantan Selatan pada tahun 2013 mencapai 135.900 ekor, dengan pola pemeliharaan secara tradisional dan semiintensif. Produktivitas sapi potong tergolong rendah, antara lain karena biaya pakan yang tinggi dan efisiensi reproduksi yang rendah. Perbaikan produktivitas sapi potong dapat dilakukan melalui pemeliharaan secara terintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan pakan. Sementara kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai biogas dan pupuk organik/kompos untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah sehingga produktivitas kelapa sawit meningkat. Perbaikan manajemen pemeliharaan sapi potong yang meliputi pemilihan bibit, perkandangan, pemberian pakan yang berkualitas, sistem perkawinan, pemeliharaan pedet dan bakalan, pengendalian penyakit disertai penguatan kelembagaan kelompok tani/ternak atau gabungan kelompok tani/ternak (gapoknak) diharapkan mampu membantu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
PELUANG PENGEMBANGAN BIOGAS DI SENTRA SAPI PERAH Meksy Dianawati; Siti Lia Mulijanti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n3.2015.p125-134

Abstract

Kotoran sapi perah yang tidak diolah dengan benar dapatmencemari lingkungan serta memengaruhi produksi dan kualitassusu. Limbah peternakan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumberenergi alternatif untuk mensubstitusi kebutuhan energi fosil yangsemakin meningkat dan ketersediaannya makin terbatas. Biogasmerupakan sumber energi terbarukan yang dihasilkan dari prosespengolahan limbah pertanian maupun peternakan. Makalah inimengulas alternatif pemanfaatan kotoran sapi perah sebagai biogas.Pengolahan kotoran ternak menjadi biogas memberikan banyakmanfaat, yakni sebagai sumber energi alternatif, pupuk organikpadat maupun cair, dan pakan ternak, serta dapat memperbaikisanitasi lingkungan. Oleh karena itu, pembuatan biogas perludimasyarakatkan terutama di sentra sapi perah. Biogas lebih murahdibandingkan sumber energi lain sehingga peternak lebih baikberinvestasi membangun digester secara swadaya dibandingkanmembeli gas elpiji. Pemerintah dapat memberikan subsidi digesterkepada peternak sapi perah untuk mengurangi ketergantungan padaelpiji. Perbaikan teknologi biogas, integrasi sistem biogas denganproduksi pupuk organik, serta sosialisasi dan bimbingan teknisproduksi dan pemanfaatan biogas dapat memperluas pengembanganbiogas di masyarakat. Peminjaman kredit lunak dari pemerintahmaupun swasta juga dapat mendorong pengembangan biogas.
Efisiensi Penggunaan Kemasan Kardus Distribusi Mangga Arumanis Qanytah .; Indrie ambarsari
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n1.2011.p8-15

Abstract

Mangga merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia. Jenis mangga yang paling banyak diekspor adalah gedong gincu dan arumanis. Proses distribusi merupakan tahap yang paling krusial dalam ekspor mangga karena mangga tergolong buah yang mudah rusak. Pendistribusian mangga umumnya menggunakan kemasan untuk memudahkan penyimpanan dan pengangkutan, selain untuk mengurangi kerusakan buah. Oleh karena itu, kemasan yang digunakan harus dapat meminimalkan kerusakan, mempertahankan mutu buah, dan efisien dari segi biaya. Kemasan yang banyak digunakan produsen/pengekspor mangga arumanis terbuat dari kardus bergelombang. Tulisan ini mengulas hasil-hasil penelitian tentang efisiensi penggunaan kemasan kardus untuk distribusi mangga arumanis. Evaluasi dilakukan berdasarkan jenis dan ukuran kemasan kardus yang banyak digunakan produsen/pengekspor mangga arumanis di beberapa sentra produksi. Ulasan mengenai efisiensi penggunaan kemasan kardus juga dikaitkan dengan efisiensi penggunaan palet sebagai alat bantu dalam distribusi mangga arumanis, terutama untuk tujuan ekspor. Efisiensi muatan palet untuk berbagai ukuran kemasan mangga arumanis berkisar antara 60-100%. Ukuran kemasan dengan efisiensi muatan palet tertinggi adalah 450 mm x 220 mm x 180 mm, yang digunakan produsen/pengekspor mangga di Cirebon. Usulan standar operasional prosedur (SOP) dan rekomendasi kemasan mangga arumanis untuk ekspor adalah karton bergelombang muka ganda dan dinding ganda, dengan tipe wadah celah teratur (regular slotted container/RSC), atau full-telescopic, self-locking dengan ukuran kemasan 450 mm x 220 mm x 180 mm. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, sebelum dikemas tiap buah dibungkus dengan net foam dan dasar kemasan diberi alas kertas. Kemasan diberi ventilasi untuk aerasi udara, lubang pegangan untuk memudahkan penanganan, dan label produk sebagai identitas.
PENENTUAN LOKUS GEN DALAM KROMOSOM TANAMAN DENGAN BANTUAN MARKA DNA Reflinur Reflinur; Puji Lestari
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n4.2015.p177-186

Abstract

Kemajuan teknik marka molekuler memberikan kemudahan bagi pemulia tanaman dalam penentuan lokasi gen yang mengendalikan karakter yang diinginkan. Penentuan gen yang mengendalikan sejumlah karakter penting dengan menggunakan marka genetik telah berhasil dilakukan pada berbagai jenis tanaman. Sebelum pemetaan suatu marka molekuler terhadap karakter yang diinginkan, diperlukan pemetaan genetik yang dikonstruksi dari sejumlah marka molekuler. Pemetaan daerah dalam kromosom yang mengendalikan karakter kualitatif dan kuantitatif mendapat perhatian yang sangat besar dalam program pemuliaan. Penentuan gen yang mengendalikan karakter kualitatif maupun kuantitatif memerlukan populasi pemetaan. Metode umum yang digunakan dalam penentuan lokasi gen yang mengendalikan karakter kualitatif ialah bulk segregant analysis (BSA). Pendekatan tersebut terbukti mampu mempercepat penentuan lokasi gen dengan biaya yang relatif rendah. Sebaliknya, penentuan lokasi gen yang mengen-dalikan sifat kuantitatif dilakukan melalui pemetaan  quantitative trait loci (QTL). Dibandingkan penentuan lokasi gen pengendali sifat kualitatif, pemetaan QTL lebih kompleks dan membutuhkan kemampuan analisis statistik untuk menentukan daerah kromosom yang terkait dengan karakter kuantitatif tersebut. Tulisan ini membahas metode penentuan lokasi gen di dalam kromosom yang bertanggung jawab terhadap karakter penting tanaman dengan memanfaatkan marka molekuler dalam pemetaan genetik dan analisis QTL.
Teknologi Pengendalian Hama Berbasis Ekologi dalam Mendukung Pengembangan Kapas Subiyakto .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 3 (2011): September 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n3.2011.p81-86

Abstract

Biaya pengendalian hama pada usaha tani kapas tergolong tinggi, yaitu 41% dari biaya produksi, bahkan sebelumnyamencapai 75%. Tingginya biaya tersebut disebabkan pengendalian hama masih bertumpu pada insektisida kimia.Untuk mengurangi biaya pengendalian hama, upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah menerapkan teknologipengendalian berbasis ekologi, yang meliputi tumpang sari kapas dengan kedelai, perlakuan terhadap benih, budidaya tanpa olah tanah, pemanfaatan jerami padi sebagai mulsa, dan penggunaan pestisida nabati. Teknologitersebut dapat mengurangi biaya pengendalian hama hingga 57%, meningkatkan hasil kapas 21% dan kedelai 31%,serta menaikkan pendapatan 57%. Pengembangan teknologi pengendalian hama berbasis ekologi untuk mendukungpengembangan kapas memerlukan arah dan strategi. Ke depan, pengembangan teknologi pengendalian hamaberbasis ekologi hendaknya tidak sepenuhnya diserahkan kepada petani dan pengelola karena mereka memilikiberbagai keterbatasan. Oleh karena itu, pemerintah berperan sangat penting, terutama dalam sosialisasi dan bantuanteknis. Strategi yang paling efektif untuk mengimplementasikan paradigma pengendalian hama berbasis ekologiadalah melalui sekolah lapang yang didukung oleh pembinaan dan pendampingan teknologi.
Potensi Sapi Pesisir dan Upaya Pengembangannya di Sumatera Barat Adrial .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n2.2010.p%p

Abstract

Sapi pesisir merupakan salah satu jenis sapi lokal Indonesia yang berpotensi sebagai penghasil daging. Walaupun ukuran badannya lebih kecil dibanding sapi lokal lainnya, sapi pesisir memiliki keunggulan yaitu daya adaptasinya tinggi terhadap pakan berkualitas rendah, sistem pemeliharaan ekstensif tradisional, dan tahan terhadap beberapapenyakit dan parasit. Sapi pesisir berkontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan daging bagi masyarakat Sumatera Barat. Populasi sapi pesisir mencapai 20% dari total populasi sapi di Sumatera Barat. Pada tahun 2008, populasi sapi pesisir tercatat 89.995 ekor. Jumlah tersebut jauh menurun dibanding tahun 2004 yang mencapai 104.109 ekor. Penurunan populasi diduga berkaitan dengan sistem pemeliharaan yang bersifat ekstensif tradisional, tingginya tingkat pemotongan ternak produktif, terbatasnya pakan, makin menyempitnya padang penggembalaan, serta terjadinya penurunan mutu genetik. Untuk meningkatkan populasi, produktivitas, dan reproduksi sapi pesisir perlu dilakukan perbaikan kualitas genetik ternak melalui seleksi, persilangan dengan bangsa sapi unggul, perbaikan mutu pakan, penyuluhan kepada peternak agar tidak memotong ternak produktif, dan perbaikan manajemen pemeliharaan.
TUMBUHAN KIRINYU Chromolaena odorata (L) (ASTERACEAE: ASTERALES) SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN ULAT GRAYAK Spodoptera litura M. Thamrin; S. Asikin; M. Willis
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n3.2013.p112-121

Abstract

Kirinyu (Chromolaena odorata) adalah gulma berbentuk semakberkayu yang dapat berkembang cepat sehingga sulit dikendalikan.Tumbuhan ini merupakan gulma padang rumput yang sangatmerugikan karena dapat mengurangi daya tampung padangpenggembalaan. Selain sebagai pesaing agresif, kirinyu didugamemiliki efek allelopati serta menyebabkan keracunan bahkankematian pada ternak. Hasil penelitian menunjukkan gulma inidapat menjadi insektisida nabati karena mengandung pryrrolizidinealkaloids yang bersifat racun terhadap serangga. Makalah inimenguraikan potensi tumbuhan kirinyu sebagai insektisida nabatiuntuk mengendalikan ulat grayak. Ulat grayak adalah hama yangsulit dikendalikan karena perkembangbiakannya cepat sertamempunyai kisaran inang yang luas, yaitu hampir semua jenistanaman pangan dan hortikultura. Hama ini biasanya dikendalikandengan insektisida sintetis dengan dosis melebihi dari yangditentukan sehingga menyebabkan resistensi dan resurgensi. Olehkarena itu, perlu dicari pengganti insektisida sintetis agarpenggunaannya dapat dikurangi dengan menggunakan insektisidanabati. Ekstrak daun kirinyu efektif mengendalikan ulat grayakdengan mortalitas 80100% serta menekan tingkat kerusakan daunkedelai hingga 55,2%. Racun yang terkandung di dalam ekstrakkirinyu bersifat racun perut. Oleh karena itu, gulma ini perludikembangkan pemanfaatannya sebagai bahan insektisida nabatiagar bernilai ekonomis.
Kebijakan Pengembangan Peternakan Sapi Potong di Indonesia Hamdi Mayulu; Sunarso .; Imam Sutrisno; Sumarsono .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n1.2010.p%p

Abstract

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, produksi maupun populasi sapi potong dalam rangka mendukung program kecukupan daging (PKD) 2010, yang direvisi menjadi 2014. Produksi daging dalam negeri diharapkan mampu memenuhi 9095% kebutuhan daging nasional. Karena itu, pengembangan sapi potong perlu dilakukan melalui pendekatan usaha yang berkelanjutan, didukung dengan industri pakan yang mengoptimalkan pemanfaatan bahan pakan lokal spesifik lokasi melalui pola yang terintegrasi. Hingga kini, upaya pengembangan sapi potong belum mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri, selain rentan terhadap serangan penyakit. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai kelemahan dalam sistem pengembangan peternakan. Oleh karena itu, perlu diupayakan model pengembangan dan kelembagaan yang tepat berbasis masyarakat dan secara ekonomi menguntungkan. Pemerintah sebaiknya menyerahkan pengembangan peternakan ke depan kepada masyarakat melalui mekanisme pasar bebas. Pemerintah lebih berperan dalam pelayanan dan membangun kawasan untuk memecahkan permasalahan dasar dalam pengembangan peternakan sehingga dapat mengaktifkan mekanisme pasar. Usaha peternakan hendaknya dapat memacu perkembangan agroindustri sehingga membuka kesempatan kerja dan usaha. Implikasi kebijakan dari gagasan ini adalah perlu dibuat peta jalan pembangunan peternakan nasional dan diuraikan secara rinci di setiap wilayah pengembangan ternak.
Peran Cacing Tanah Kelompok Endogaesis dalam Meningkatkan Efisiensi Pengolahan Tanah Lahan Kering Subowo .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n4.2011.p125-131

Abstract

Tanah lahan kering di Indonesia didominasi tanah berlereng dengan lapisan bawah padat, lapisan atas tipis, sertamiskin bahan organik dan fauna tanah. Pengolahan tanah lahan kering berlereng secara mekanis selain dapatmemadatkan tanah lapisan bawah dan menurunkan populasi fauna tanah, juga mahal dan sulit dilakukan. Aktivitascacing tanah yang membuat liang di dalam tanah dengan memakan massa tanah dan bahan organik dapat mencegahpemadatan tanah serta mencampur tanah lapisan atas dan bawah (bioturbasi). Liang-liang cacing tanah meningkatkaninfiltrasi dan aerasi serta menurunkan aliran permukaan dan erosi. Melalui kasting, cacing tanah kelompokendogaesis meningkatkan stabilitas agregat tanah, mengonservasi bahan organik, dan menempatkan hara maupunbahan organik di daerah rhizosfir sehingga nilai fungsi hara maupun bahan organik untuk pertumbuhan tanamanmenjadi efektif. Dengan pemberian bahan organik yang cukup jumlah dan jenisnya serta penempatan yang tepat,cacing tanah endogaesis dapat meningkatkan efisiensi pengolahan tanah dan memperbaiki kesuburan tanah lahankering. Untuk itu, perlu penelitian mengenai potensi cacing tanah kelompok endogaesis, kesesuaian habitat, caraperbanyakan, cara inokulasi, dan cara perbaikan habitat sesuai permasalahan yang perlu diatasi.
Perkembangan Teknik Aklimatisasi Tanaman Kedelai Hasil Regenerasi Kultur In Vitro Slamet .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n2.2011.p48-54

Abstract

Pembentukan varietas unggul melalui bioteknologi melibatkan kultur in vitro. Penyesuaian bibit kultur terhadaplingkungan luar (aklimatisasi) adalah salah satu tahapan yang harus dilalui dalam penelitian yang melibatkan kulturjaringan (kultur in vitro). Aklimatisasi dilakukan setelah teknik regenerasi tanaman dikuasai. Namun, selain teknikaklimatisasi yang sulit, protokol teknik aklimatisasi tanaman tidak berlaku umum. Setiap jenis tanaman hasilregenerasi kultur in vitro biasa (nontransgenik) menghendaki teknik aklimatisasi yang berbeda. Keberhasilanaklimatisasi merupakan salah satu tindakan penyelamatan plasma nutfah yang tidak ternilai. Tulisan ini membahaskultur jaringan dalam bioteknologi, arti penting aklimatisasi, perkembangan aklimatisasi kedelai, faktor-faktoryang memengaruhi keberhasilan aklimatisasi, serta kendala dan prospek pengembangannya. Informasi yang disajikandiharapkan memberikan sumbangsih bagi kemajuan penelitian kedelai di Indonesia khususnya, dan pihak-pihakyang terlibat dalam kultur jaringan, baik peneliti, praktisi, mahasiswa maupun khalayak umum.

Page 7 of 27 | Total Record : 261


Filter by Year

2008 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue