cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PENGARUH PERLAKUAN AIR PANAS TERHADAP PERTUMBUHAN APEKS TEBU RARA PUSPITA DEWI LIMA WATI; DEDEN SUKMADJAJA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n4.2014.169-178

Abstract

ABSTRAKKultur apeks merupakan salah satu metode alternatif yang dapatdiaplikasikan untuk eliminasi virus. Penguasaan sistem regenerasi apekspasca-perlakuan air panas (Hot Water Treatment/HWT) perlu dilakukansebelum aplikasi teknik eliminasi virus. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui pengaruh suhu dan menentukan perlakuan air panas yangoptimal  untuk  pertumbuhan  apeks  tebu.  Penelitian  dilakukan  diLaboratorium Kultur Jaringan, Kelompok Peneliti Biologi Sel danJaringan,  Balai  Penelitian  dan  Pengembangan  Bioteknologi  danSumberdaya Genetik Pertanian, Bogor pada Februari sampai Desember2013. Bahan tanaman yang digunakan adalah tebu PS864. Terdapat tigatahap percobaan. Rancangan percobaan pada ketiga tahapan tersebutadalah Rancangan Acak Lengkap. Percobaan pertama adalah HWT secaralangsung terhadap apeks. Percobaan kedua adalah HWT secara tidaklangsung tanpa saringan. Percobaan ketiga adalah HWT secara tidaklangsung dengan saringan. Taraf suhu yang diuji, yaitu 25, 30, 40, 50, dan60°C. Apeks hasil perlakuan tersebut ditanam pada media MS denganpenambahan BA 0,3 ppm. Peubah yang diamati meliputi daya hidup dantumbuh, pembentukan kalus dan akar, serta jumlah tunas. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa apeks mampu bertahan hidup (96%) dan tumbuh (3tunas/eksplan) hingga perlakuan suhu 40°C pada metode pertama. Padametode kedua, eksplan mampu bertahan hidup dan tumbuh hinggaperlakuan suhu 50°C (26,7%, 2 tunas/eksplan). Pada metode ketiga, apekstebu juga dapat tumbuh hingga perlakuan suhu 50°C (25%). Metode ketigamampu  mengurangi  pengaruh  thermo-shock  yang  ditandai  denganmeningkatnya jumlah tunas/eksplan (4 tunas/eksplan). HWT secara tidaklangsung pada suhu 50°C dengan saringan merupakan metode yang palingoptimal untuk mempertahankan kemampuan regenerasi apeks.Kata kunci: Tebu ( L.), kultur apeks, perlakuan airpanasABSTRACTThe regeneration system of apex after hot water treatment (HWT) isneeded before applying the virus elimination technique. The objective ofHWT method for growing sugar cane apexes. The experiments wereconducted in Tissue Culture Laboratory, Plant Cell Tissue Biology Group,Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic ResourcesResearch and Development on February−December 2013. The plantmaterial was sugar cane PS864. There were three experiments. TheCompletely Randomized Design was used in these experiments. Firstexperiment was direct HWT method to the apexes. Second experiment wastemperature were tested (25, 30, 40, 50, and 60°C). After the HWTtreatment, apexes were grown on MS medium with the addition of 0,3 ppmBA. The observed variables were survival rate, growth rate, callusformation, root formation and shoot number. The results showed thatapexes could survive (96%) and regrew (3 shoots/explants) after HWT upand regrew after HWT up to 50°C (26.7%; 2 shoots/explants). In the thirdmethod, apexes also could grow after HWT up to 50°C (25%) and couldreduce  thermo-shock  by  increasing  the  number  shoot/explant  (4optimal method for maintaining regeneration capacity of sugar caneapexes.Keywords:  Sugar cane ( L.), apex culture, hotwater treatment
EFISIENSI PENGENDALIAN PENGGEREK BUAH KAPAS Helicoverpa armigera HÜBNER DENGAN SERBUK BIJI MIMBA DAN NUCLEAR POLYHEDROSIS VIRUS I G.A.A. INDRAYANI; DWI WINARNO; TEGER BASUKI BASUKI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n2.2006.45-51

Abstract

ABSTRAKPengendalian hama non-kimiawi semakin meningkat sehinggamengurangi penggunaan insektisida kimia. Alternatif pengendalian hamamenggunakan pestisida botani dan agensia mikrobia cukup efektifmengendalikan penggerek buah kapas H. armigera. Penelitian efisiensipengendalian penggerek buah kapas H. armigera dengan SBM dan NPVdilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Tembakau danSerat di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur mulai Januari hinggaDesember 2003. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat efisiensipengendalian penggerek buah kapas H. armigera terutama dengankombinasi SBM dan NPV. Perlakuan yang digunakan adalah: (1)SBM(LC 25 )+NPV(LC 50 ), (2) SBM(LC 50 )+NPV(LC 50 ), (3) SBM (dosisrekomendasi), (4) NPV (dosis rekomendasi), (5) betasiflutrin (dosisrekomendasi), dan (6) kontrol (tanpa perlakuan). Setiap perlakuan disusundalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Parameteryang diamati meliputi populasi ulat H. armigera dan komplekspredatornya, frekuensi penyemprotan masing-masing perlakuan, kerusakankuncup bunga dan buah kapas, biaya pengendalian hama, pendapatan,marginal rate of return (MRR), dan hasil kapas serta kacang hijau. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pengendalian H. armigera dengankombinasi perlakuan SBM(LC 50 )+NPV(LC 50 ) lebih efisien menurunkanbiaya pengendalian hama hingga 63,4% dan meningkatkan pendapatansebesar 32,7% dibanding insektisida kimia betasiflutrin, dengan nilai MRR4,66 dan 4,28 masing-masing atas kontrol dan insektisida kimia.Kata kunci: Kapas, Gossypium hirsutum, hama, penggerek buah,Helicoverpa armigera, SBM, NPV, pengendalian hama,marginal rate of return, Jawa TimurABSTRACTEfficiency in cotton bollworm Helicoverpa armigera Hübner controlusing neem seed powder and nuclear polyhedrosis virusInsect pest biological control potentially decreases the use ofchemical insecticides. The alternative control method chosen wascombination of botanical and microbial agents that showed highereffectiveness against H. armigera. This control method might alsopotential to minimize the use of chemical pesticide on cotton. Study onefficiency of cotton bollworm Helicoverpa armigera Hübner control usingneem seed powder (NSP) and nuclear polyhedrosis virus was conducted atAsembagus Experimental Station of Indonesian Tobacco and Fiber CropsResearch Institute, Situbondo, East Java, from January to December 2003.The objective of this study was to find out the efficiency level of cottonbollworm control using combination of neem seed powder (NSP) andnuclear polyhedrosis virus (NPV). The treatments were : (1) NSP(LC 25 ) +NPV(LC 50 ), (2) NSP(LC 50 ) + NPV(LC 50 ), (3) NSP (recommended dose),(4) NPV (recommended dose), (5) betacyfluthrin (recommended dose),and (6) control (untreated). The treatments were arranged in a randomizedblock design with three replications. Parameters observed were populationof H. armigera larvae and its complex predators, frequency of spraying,square and boll damage, cost of control, net income, marginal rate ofreturn, and yield of seed cotton and mungbean. The research resultsshowed that the combination of NSP(LC 50 )+NPV(LC 50 ) effectivelyreduced the total cost of insect control by 63.4% and increased the increase32.7% compared to betacyfluthrin. The combination also showed thehighest marginal rate of return of 4.66 and 4.28 based on control andbetacyfluthrin, respectively.Key words: Cotton, Gossypium hirsutum, insect, cotton bollworm,Helicoverpa armigera, NSP, NPV, insect control, marginalrate of return, East Java
VARIASI GENETIK, HERITABILITAS, DAN KORELASI GENOTIPIK SIFAT-SIFAT PENTING TANAMAN WIJEN (Sesamum indicum L.) SUDARMADJI SUDARMADJI; RUSIM MARDJONO; HADI SUDARMO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n3.2007.88-92

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini merupakan pengujian terhadap genotip-genotip hasilpersilangan tanaman wijen, dengan tujuan mendapatkan informasimengenai variasi genetik, heritabilitas, dan korelasi genotipik beberapa sifatpenting hasil persilangan tanaman wijen. Penelitian dilakukan di KebunPercobaan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur pada bulan April 2002 –Agustus 2003. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelom-pok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sebagianbesar sifat yang diamati mempunyai variasi genetik yang cukup besar, (2)nilai heritabilitas (dalam arti luas) tinggi terdapat pada sifat tinggi tanaman,umur berbunga, umur panen, jumlah cabang per tanaman, jumlah polongper tanaman, panjang polong, berat 1000 biji, dan hasil biji per hektar,sehingga dapat digunakan sebagai kriteria seleksi pada generasi awal, dan(3) korelasi genotipik terhadap hasil biji per hektar terjadi pada sifat tinggitanaman dan berat 1000 biji pada persilangan Sbr 1 X Si 13, sedangkanpada persilangan Sbr 1 X Si 22, dan Sbr 1 X Si 26 terjadi korelasi genotipikantara hasil biji per hektar dengan tinggi tanaman dan jumlah cabang pertanaman.Kata kunci : Wijen, Sesamum indicum L., persilangan, genotip, variasigenetik, heritabilitas, korelasi genotipik, pertumbuhan, hasil,Jawa TimurABSTRACTGenetic variations, heritability and genotypic correlationsof important characteristics of sesame (Sesamum indicumL.)The experiment was conducted to evaluate genetic variations,heritability, and genotypic correlations of important characteristics ofsesame. The experiment was located at Pasirian Research Station,Lumajang, East Java from April 2002 – August 2003. Randomized blockdesign with three replications was used in the experiment. The result of theexperiment showed that: (1) generally, the genetic variations for all traitswere high enough, (2) the heritability values (in broad sense) on plantheight, flowering time, harvest time, number of branches per plant, numberof pods per plant, length of pods, 1000-seed weight, and grain yield perhectare were high, indicating that the inheritance of these traits were simpleinheritance and selection can be performed in early generation, and (3) inSbr 1 X Si 13 crosses, plant height and 1000-seeed weight had genotypiccorrelation with grain yield per hectare, then plant height and number ofbranches per plant had genotypic correlation with grain yield per hectare inSbr 1 X Si 22, and Sbr 1 X Si 26 crosses.Key words : Sesame, Sesamum indicum L., crossing, genotype, geneticvariations, heritability, genotypic correlation, growth, yield,East Jav
USE OF ANTIOXIDANT TO INHIBIT BROWNING ON WHITE PEPPER DECORTICATING PROCESS NANAN NURDJANNAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n2.2005.78-84

Abstract

ABSTRACTWhite pepper is an important export commodity for Indonesia, until2003 about 70 percent of word demand of white pepper was supplied byIndonesia, but it dropped to about 40 percent in 2004. White pepperprocessing is still done at farm level using a very modest method. Theprocess consists of soaking the berries for seven to twelve days, followedby pepper skin separation and drying the pepper corn for three to five days.The product is often contaminated by undesirable microorganism, and alsounpleasant odor which is caused by improper method and limited cleanwater for soaking process. Researh Institute for Spice and Medicinal Cropsunder Agriculture Department has designed and constructed the pepperthresher and decorticating machine to improve the product quality andprocess efficiency. Those machines could produce the hygienic whitepepper with high essential oil content, however it has brownish white colorcaused by browning process during decorticating process. The consumerused to white pepper with creamy white in color. The antioxidants, malicand tartaric acids were applied to prevent the browning process. Thetreatment consisted of three factors, i.e.: kind of antioxidant (malic andtartaric acid), antioxidant consentration (1.5, 2,0 and 2,5 percent) andsoaking period (1, 2 and 3 hrs). The experiment was arranged inCompletely Randomized Design with two replications. The result showedthat both acids could be used as antioxidant to inhibit browning in peppermechanical decorticating process. The colour of white pepper produce wascreamy white similar to the one produced by traditional method. Theoptimum treatment was malic acid with 2.5 percent concentration and 2hours soaking period.Key words : Pepper, Piper nigrum L., processing, traditional, mechanical,antioxidan, white pepperABSTRAKPenggunaan antioksidan untuk mencegah proses pen-cokelatan pada proses pengupasan kulit ladaLada putih adalah salah satu komoditas ekspor penting bagiIndonesia, dimana sampai tahun 2003 kurang lebih 70 persen kebutuhandunia dipenuhi oleh Indonesia. Namun pada tahun 2004 jumlah tersebutturun drastis menjadi kurang lebih 40 persen. Pengolahan lada putih masihdilakukan di tingkat petani dengan peralatan yang sangat sederhana yangprosesnya terdiri dari perendaman selama tujuh sampai duabelas hari,diikuti dengan pemisahan kulit dan pengeringan biji lada selama tigasampai lima hari. Lada putih yang dihasilkan sering terkontaminasi olehmikroorganisme yang tidak diinginkan dan juga mempunyai bau busukakibat dari metode yang kurang baik dan keterbatasan air bersih. BalaiPenelitian Tanaman Rempah dan Obat telah berhasil merancang bangunalat perontok dan pengupas lada untuk meningkatkan mutu lada danefisiensi prosesnya. Dengan mesin tersebut dapat diproduksi lada putihhigienis dengan kadar minyak atsiri yang tinggi, namun warnanyakecokelatan yang disebabkan karena proses pencokelatan yang terjadiselama proses pengupasan kulit. Sedangkan konsumen biasa dengan warnayang putih kekuningan. Penggunaan antioksidan (asam malat dan tartrat)untuk mencegah proses pencokelatan tersebut telah dicobakan. Perlakuanterdiri dari : jenis antioksidan (asam malat dan tartrat), konsentrasiantioksidan ( 1,5; 2,0 dan 2,5 persen) serta lama perendaman (1, 2 dan 3jam). Percobaan dirancang secara acak lengkap dengan ulangan dua kali.Hasil percobaan menunjukkan bahwa asam malat dan asam tartrat dapatdigunakan untuk mencegah proses pencokelatan pada proses pengupasankulit lada dengan mesin. Warna dari lada putih yang dihasilkan putihkekuningan sama dengan yang dihasilkan dengan cara tradisional(perendaman). Perlakuan terbaik adalah penggunaan asam malat padakonsentrasi 2,5 persen dengan waktu perendaman dua jam.Kata kunci : Lada, Piper nigrum L., prosesing, tradisional, mekanik,antioksidan, lada putih
ANALISIS KOMPONEN HASIL VANILI ALOR PADA BEBERAPA AGROEKOLOGI DI NUSA TENGGARA TIMUR HANDI SUPRIADI; M. HADAD E.A; EDI WARDIANA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n3.2014.142-150

Abstract

ABSTRAKTanaman vanili (Vanilla planifolia Andrews) dapat tumbuh padadaerah beriklim kering, seperti di daerah Kabupaten Alor denganketinggian tempat 0-1500 m dpl. Namun demikian, pertumbuhan danproduksinya diduga akan bervariasi bergantung pada perbedaan kondisiagroklimat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pertumbuhanvegetatif, generatif, dan komponen hasil tanaman vanili lokal Alor didaerah beriklim kering. Penelitian dilakukan di daerah beriklim kering,Kabupaten Alor,  Nusa  Tenggara  Timur,  pada  tiga  lokasi  denganketinggian tempat 25-825 m dpl., jenis tanah Inceptisol, dan tipe iklim F(Scmidht dan Ferguson), pada bulan Januari sampai Desember 2009.Metode yang digunakan adalah observasi terhadap populasi tanaman vaniliyang ditanam pada tiga lingkungan tumbuh yang berbeda berdasarkanketinggian tempat dari permukaan laut: (1) agroklimat dataran rendah(ketinggian 25 m dpl), (2) dataran medium (425 m dpl), dan (3) datarantinggi (825 m dpl). Peubah yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif,generatif, dan komponen hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktoragroklimat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan komponen hasiltanaman vanili. Pada ketinggian 825 m dpl, tanaman vanili menghasilkanpertumbuhan generatif dan komponen hasil vanili lebih baik, namunsebaliknya untuk pertumbuhan vegetatif. Kondisi iklim mikro, terutamaintensitas cahaya matahari, suhu udara, dan unsur hara tanah didugamenjadi penyebab perbedaan tersebut.Kata kunci: Vanilla planifolia Andrews, varietas lokal Alor, ketinggiantempat, pertumbuhan, komponen hasilABSTRACTVanilla (Vanilla planifolia Andrews) plants can grow in dryclimates such in Alor Regency from altitude of 0-1500 m above sea level.However, their growth and production may vary depending on thedifference in agroclimatic condition. The objective of the research was toanalyze the growth of vegetative, generative, and yield components ofAlor’s vanilla in dry climates. This research was conducted in the dryclimates, Alor Regency, East Nusa Tenggara, at those locations 25-825 mabove sea level (asl) altitude, in Inceptisol type of soil and F type ofclimate (Scmidht and Ferguson), from January until December 2009. Thestudy was undertaken based on observation method on the vanillapopulation grown in three different agroclimatic condition, with altitudes:(1) 25 m asl; (2) 425 m asl, and (3) 825 m asl. Variables measured includethe growth of vegetative, generative, and yield components characters. Theresearch showed that at 825 m asl vanilla produces better for generativeand yield components, and vice versa for vegetative growth. Microclimateconditions, soil nutrition, light intensity, and temperature, may be thecause of these differences.Key words: Vanilla planifolia Andrews, local variety of Alor, altitude,growth, yield components
KERAGAMAN MORFOLOGI, PERTUMBUHAN, PRODUKSI, MUTU DAN FITOKIMIA KELADI TIKUS (Typonium flagelliforme Lodd.) Blume ASAL VARIASI SOMAKLONAL SITTI FATIMAH SYAHID
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n3.2008.113-118

Abstract

ABSTRAKKeladi tikus (Typonium flagelliforme Lodd.) Blume merupakantanaman obat yang bermanfaat dalam mengobati penyakit kanker. Secarakonvensional, tanaman ini diperbanyak vegetatif sehingga keragamangenetiknya tergolong sempit. Upaya peningkatan ragam genetik keladitikus telah dilakukan melalui variasi somaklonal yaitu kultur kalus dandiperoleh plantlet yang normal, namun belum dievaluasi keragamanmorfologi, komponen pertumbuhan, produksi, mutu dan skrining fitokimiatanaman. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman morfologi,pertumbuhan, produksi, mutu dan fitokimia tanaman hasil kultur kalustersebut. Kegiatan dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian TanamanObat dan Aromatik mulai November 2005 sampai Januari 2007. Bahantanaman yang digunakan adalah benih keladi tikus asal kultur kalus.Sebagai pembanding digunakan benih keladi tikus asal kultur jaringan dankonvensional. Bahan tanaman tersebut ditanam di dalam polibagberukuran 20 cm x 30 cm yang berisi media tumbuh campuran tanahdengan pupuk kandang sapi (2:1), dan dipelihara di rumah kaca sampaiberumur sembilan bulan. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkapdengan enam belas ulangan. Setiap ulangan terdiri atas satu polibag.Parameter yang diamati adalah karakter morfologi dan pertumbuhan padaumur enam bulan sedangkan produksi umbi diamati pada umur sembilanbulan. Selain itu, juga dilakukan analisis terhadap mutu dan fitokimia dariumbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara visual tanaman asalbenih kultur kalus memiliki karakteristik morfologi yaitu bentuk daun,bentuk batang, warna daun dan batang serta bentuk umbi yang samadengan benih asal kultur jaringan maupun benih konvensional. Komponenpertumbuhan (jumlah anakan) benih asal kultur kalus dari kutur jaringanlebih sedikit dari benih konvensional. Sedangkan jumlah daun, panjangdan lebar daun tidak berbeda. Tinggi tanaman asal benih kultur kalus lebihpendek dari benih kultur jaringan dan konvensional. Produksi umbi hasilkultur kalus (14,24 g) dan hasil kultur jaringan (15,11g) lebih tinggi dariumbi konvensional (7,0 g). Analisis mutu (kadar sari larut dalam air) padakeladi tikus asal benih kultur jaringan lebih tinggi dari benih asal kulturkalus dan benih konvensional. Senyawa steroid ditemukan pada tanamanasal benih kultur kalus dan kultur jaringan, namun senyawa flavonoid dantriterpenoid terdeteksi dalam jumlah tinggi pada tanaman asal benihkonvensional. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan teknik keragamansomaklonal pada tanaman keladi tikus hanya meningkatkan variasi mutudan fitokimia tetapi tidak pada morfologi tanaman.Kata kunci : Keladi tikus, Typonium flagelliforme (Lodd.) Blume,keragaman morfologi, pertumbuhan, produksi, mutu,fitokimiaABSTRACTMorphological variation, growth, production, quality andfitochemistry of rodent tuber (Typonium flagelliformeLodd.) Blume derived from somaclonal variationRodent tuber (Typonium flagelliforme Lodd.) Blume is one ofmedicinal plant which is used for healing cancer. Conventionally, the plantwas vegetatively propagated, therefore. Its genetic variation is narrow. Anattempt to increase the genetic variation of plant was conducted usingsomaclonal variation (calli culture) and resulted the normal planlet in vitro.But, the plant morphology, growth, production, quality and fitochemistryvariation have not been evaluated yet. The aim of the research were toobtain the morphological variation, growth, production, quality andfitochemistry of rodent tuber from calli culture seeds. Experiment wasdone at the Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research InstituteGreen house from November 2005 to January 2007. The plants materialused were seeds of rodent tuber from calli culture compared with seedsfrom in vitro culture. They were planted in the polibag (20 cm x 30 cm)which is contained soil and cow manure (2:1) and maintained until ninemonths. The experiment was arranged in completely randomized designwith sixteen replications. The parameters observed were morphologicalcharacter and growth component at six months and rhizome production atnine months. Further more, quality and fitochemical variation and rhizomewere also analyzed. The result showed that visually, morphologicalcharacter of those plant observed were same in leaf, stem and rhizome.Growth component (number of leaves, length and width of leaves) of seedsfrom calli culture were same with in vitro and conventional but plantheight was different. Conventional seeds produced the greatest tillers butrhizome production was lower than seeds from calli and in vitro. Watersoluble extract from in vitro seeds was higher than calli culture andconventional seeds. Steroid compound was detected in seeds from calliand in vitro. On the otherhand, flavonoid and triterpenoid were not found.The experiment showed that application of somaclonal variation on rodenttuber only increase the quality and fitochemical variations but not on plantmorphology.Key words : Typonium flagelliforme (Lodd.) Blume, morphologicalvariation, growth, production, quality, fitochemistry
PENGARUH UMUR PANEN TERHADAP VIABILITAS BENIH SERTA HUBUNGANNYA DENGAN PRODUKSI TERNA SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees DEVI RUSMIN; MELATI, S MELATI, S; WAHYUNI WAHYUN; SUKARMAN SUKARMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n1.2007.21-27

Abstract

ABSTRAKSalah satu faktor yang berpengaruh terhadap viabilitas benihsambiloto (Andrographis paniculata Nees) adalah waktu panen.Berdasarkan permasalahan tersebut kegiatan ini dilakukan dengan tujuanuntuk mengetahui pengaruh umur panen terhadap viabilitas benih sertahubungannya dengan produksi terna sambiloto. Percobaan dilakukan diKP. Cimanggu dan Laboratorium, Balai Penelitian Tanaman Obat danAromatik, dari Maret 2005 – Maret 2006. Percobaan disusun dalamrancangan acak kelompok (RAK) dengan 10 perlakuan stadia umurpanen dan 4 ulangan. Stadia umur panen yang diuji yaitu 18, 21, 22, 23,24, 25, 26, 27, 28, dan 29 hari setelah antesis (HSA). Variabel yangdiamati yaitu mutu benih (daya berkecambah benih, kecepatanberkecambah), pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah cabang),serta produksi terna (bobot basah tanaman, bobot kering daun, dan bobotkering batang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Umur panenbenih berpengaruh terhadap daya berkecambah benih dan kecepatanberkecambah benih sambiloto; daya berkecambah dan kecepatanberkecambah tertinggi didapatkan pada umur panen benih 22 dan 21 HSA(67,00 dan 55,00)%; sedangkan daya berkecambah yang terendahdiperoleh pada umur panen 18 HSA (23,50)%, (2) Umur panen benihberpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah cabang pada tanamanumur 1 bulan. Tinggi tanaman dan jumlah cabang tertinggi berturut-turutdidapatkan pada perlakuan umur panen benih 27 dan 26 HSA (39, 63dan 36,58 cm serta 16,71 dan 16,61 buah); dan (3) Umur panen benihberpengaruh terhadap produksi terna (bobot basah tanaman, bobot keringdaun, bobot kering batang) pada umur 3 bulan. Bobot basah tanaman,bobot kering daun, serta bobot kering batang tertinggi didapatkan padaperlakuan umur panen benih 27 HSA (291,25, 28, 27 dan 28,86)g. Bobotbasah tanaman, bobot kering daun, serta bobot kering batang terendahdidapatkan pada perlakuan 18 HSA (217,09, 22,10 dan 20,24)g. Umurpanen benih tidak berpengaruh terhadap jumlah cabang pada umur 3bulan.Kata kunci : Sambiloto, Andrographis paniculata Nees, umur panen,viabilitas, produksi, Jawa BaratABSTRACTThe influence of harvesting time on the seed viability andthe  relationship  with  herb  yield  of  king  bitter(Andrographis paniculata Nees)One of the main factors influencing the viability of king bitter(Andrographis paniculata Nees) is appropriate harvesting time. Based onthis problem a research was conducted to study the relationship betweenseed maturity and seed viability, and herb yield of king bitter. The researchwas conducted at Cimanggu Experimental Station and in the laboratory ofIndonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institute (IMACRI)from March 2005 to March 2006. The experiment was arranged in arandomized block design with 10 seed maturity stages and 4 replications.Maturity seed tested was 18, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28 and 29 daysafter anthesis. The observations were made on seed quality (percentage ofseed germination, and rate of seed germination), plant growth (plantheight, number of branches) and herb yield (fresh herb weight, leaf dryweight, and stem dry weight). The results of experiment indicated that (1)seed maturity affected seed germination, and rate of seed germination ofking bitter; the highest seed germination and germination rate wereachieved by seeds harvested at 21 and 22 days after anthesis, (2) stage ofseed harvesting affected on the plant height and number of branches at 1month after planting. The highest plant height and number of brancheswere found on the treatments of seeds harvested at 26 and 27 days afteranthesis, they were 39.63 and 36.58 cm and 16.71 and 16.61; (3) seedmaturity also affected herb production, such as wet weight of plants, dryweight of leaf and dry weight of steam at 3 moths after planting. Wetweight of plant, dry weight of leaf and dry weight of stem were achievedat the treatments of seeds harvested at 27 days after anthesis, they were291.25, 28.27 and 28.86 g. The lowest of wet of plant weight, dry weightof leaf and dry weight of stem were found on the seeds harvested at 18days after anthesis. They were 217.09, 22.10 and 20.24 g. Moreover, thestage of harvesting did not influence the number of branches at 3 monthsafter planting.Key words: King bitter, Andrographis paniculata Nees, seed maturity,viability, production, West Java
PENCUCIAN DAN SERAPAN HARA LADA PERDU (Piper nigrum L.) PADA BERBAGAI TINGKAT DAN FREKUENSI PEMBERIAN AIR PASRIL WAHID; M. SYAKIR; HERMANTO HERMANTO; E. SURMAINI; J. PITONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n1.2005.13-18

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian harapada berbagai tingkat dan frekuensi pemberian air terhadap pertumbuhandan produksi lada perdu. Penelitian dilakukan di rumah atap InstalasiPenelitian Cimanggu, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, tahun1996-1998. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pot drum 40 liter.Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok berukuran 6tanaman/petak yang diulang 3 kali. Terdapat 2 faktor yang diuji yaitukombinasi dari tingkat dan frekuensi pemberian air dan faktor keduaadalah takaran hara NPK Mg 12-12-17-2. Hasil penelitian menunjukkanbahwa pemberian air 21 mm/2 hari, setara dengan curah hujan 3.780 mmper tahun dengan pemberian pupuk 400 g NPKMg 12-12-17-2 pertanaman per tahun menghasilkan pertumbuhan terbaik dan produksitertinggi yaitu 42,7 g/tanaman pada produksi tahun pertama dan 171,2g/tanaman pada tahun produksi kedua. Ini berarti dengan jarak tanam1,25 x 1,25 m telah mampu dicapai hasil lebih dari 1,09 ton/ha. Tingkatpencucian hara makro tertinggi terjadi pada perlakuan pemberian air 21mm/2hari dengan agihan pemupukan 600g/tanaman/tahun.Kata kunci : Lada perdu, Piper nigrum L., pemupukan, pemberian air,produksiABSTRACTNutrient leaching and intake in bushy pepper (Pipernigrum L.) at different rates and frequency of wateringThe objective of the research was to find out the effect offertilizing at different rates and frequency of watering on the growth andyield of bushy pepper. The research was done at a shading house ofCimanggu Experimental Farm, Indonesian Spices and Medicinal CropsResearch Institute in 1996 – 1998. Bushy pepper was planted in acontainer of 40 litre in Cimanggu Instalation. The research used arandomized block design with 3 replication, 6 plants/ plot. There weretwo factors studied in the research i.e. the combination of the rate andfrequency of watering, and the rate of NPK Mg 12-12-7-2. The resultsshowed that watering at 21 ml in 2 days, equals to 3780 mm rainfall, withthe application of 400 g NPK Mg 12-12-17-2 per plant gave the bestgrowth performance and the highest yield of pepper 42.7 g/vine at the 1 styear and 171.2 g/vine at the 2 nd year. It means that at the plant spacing of1.25 x 1.25 m the plants can produce 1.09 tones/ha. The highest nutrientleached happened at the treatment of watering of 21 mm/2days withfertilizer application 600 g/vine.Key words: Bushy pepper, Piper nigrum L., fertilizing, watering,growth, production
DETERMINASI NEMATODA PARASIT Aphelenchoides sp. PENYEBAB PENYAKIT HAWAR DAUN SAMBILOTO (Andrographis paniculata) S. RETNO DJIWANTI; SUPRIADI SUPRIADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n2.2008.61-66

Abstract

ABSTRAKNematoda hawar daun Aphelenchoides sp. telah dilaporkanmenyerang dan menyebabkan gugur daun pada sambiloto (Andrographispaniculata (Burm. f.) Wall. ex Nees) (Acanthaceae). Penelitian yangbertujuan untuk mengindentifikasi spesies Aphelenchoides sp. tersebuttelah dilakukan di laboratorium, rumah kaca dan kebun percobaan BalaiPenelitian Tanaman Obat dan Aromatik pada tahun 2005-2006.Identifikasi dilakukan dengan mengamati gejala khas pada tanaman sakitdan karakteristik morfologi nematoda secara mikroskopik pada preparatsemi-permanen Aphelenchoides sp. yang difiksasi dengan larutantriethanolamine formaldehyde (TAF). Gejala khas hawar daun merupakanbercak klorotik yang meluas yang kemudian berubah berwarna kehitamanatau kadang-kadang keunguan yang dibatasi tulang-tulang daun. Secaramikroskopik bentuk tubuh betina Aphelenchoides sp. ramping denganpanjang tubuh berkisar 0,46 – 0,70 mm dan lebar tubuh rata-rata 15 µm;daerah vulva terletak 2/3 dari panjang tubuh diukur dari bagian anterior;stilet ramping, panjangnya 10 µm dengan “basal knobs” kecil tetapi jelas;metakorpus besar, menempati ¾ atau lebih dari lebar esophagus; daerahbibir tampak halus, menonjol, dan bagian depannya rata, dengan konturhampir menyatu/bersambung dengan kontur tubuh; ujung ekornyaberbentuk kerucut tajam memanjang dengan ujung meruncing seperti duritumpul. Bentuk tubuh jantan pada dasarnya sama dengan ukuran danbentuk betinanya; ekor agak melengkung kearah 45º - 90º ketika dalamkeadaan relaks dan bentuk ujungnya meruncing seperti duri tumpul; spikulberbentuk duri mawar (“rose-thorne”). Persentase jumlah jantan dalamsatu populasi umumnya banyak berkisar 34,7 – 38,9% dari populasiseluruhnya (jantan dan betina). Karakter-karakter gejala serangan,morfologi nematoda, dan ratio jantan-betina tersebut merupakan karakterspesies Aphelenchoides fragariae (RITZEMA BOS, 1891) CHRISTIE1932. Deteksi adanya spesies nematoda A. fragariae merupakan yangpertama kali dilaporkan di Indonesia, dan sambiloto sebagai inang A.fragariae juga pertama kali dilaporkan baik di Indonesia maupun di dunia.Kata kunci : Sambiloto, Andrographis paniculata, Aphelenchoidesfragariae, identifikasi, nematoda parasitABSTRACTDetermination of parasitic nematode Aphelenchoides sp.causing leaf blotch disease of sambiloto (Andrographispaniculata)Leaf blotch disease by parasitic nematode Aphelenchoides sp. havebeen reported infected and causedleaf drops on sambiloto (Andrographispaniculata (Burm. f.) Wall. ex Nees) (Acanthaceae). Experiments ofspecies determination of the nematode have been carried out inlaboratorium, greenhouse and fields of IMACRI during the year 2005-2006. Identification were done by observing its typical symptoms of theinfected plants caused by the nematode and its nematode morphologicalcharacteristics microscopically on the semi-permanent preparats fixed byTAF (triethanolamine formaldehyde) solution. Typical symptoms of leafblotch were began as chlorotic vein-deliminated areas which later changedto light brown, then dark brown and finally black; or sometimes purplishunder field condition. Microscopically, the female was slender, 0.46 –0.70 mm long and 15 µm width in average, the vulval region cited about2/3 of the body length sized from anterior part; spear slender, 10 µm longwith small and distinct basal knobs; large metacorpus occupying ¾ ormore of the width of the esophagus; lip region almost continuous withbody contour; the tail tip was elongate-conoid ending in a simple bluntspike. The male was abundant and essentially similar to size and shape ofthe female; tail arcuate through 45º to 90 when relaxed, with a simpleblunt terminal spine; spicules rose-thorn shaped. Those describedsymptoms and morphological characters mentioned above were the typicalcharacters of the species Aphelenchoides fragariae (RITZEMA BOS,1891) CHRISTIE 1932. Detection of species A. fragariae was the firstreport in Indonesia; and sambiloto as the natural host of A. fragariae wasthe first report in Indonesia and internationally.Key words: King of bitter, Andrographis paniculata, Aphelenchoidesfragariae, parasitic nematode, identification
STABILITAS HASIL LIMA NOMOR HARAPAN KENCUR OTIH ROSTIANA; WAWAN HARYUDIN; ROSITA SMD SMD
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n4.2006.140-145

Abstract

ABSTRAKTujuan pemuliaan kencur diarahkan untuk meningkatkan produksirimpang dan kandungan mutu utama yang sesuai dengan standar yangditetapkan oleh Materia Medika Indonesia, dalam upaya meningkatkanpendapatan usahatani. Hasil seleksi berdasarkan produksi dan muturimpang terhadap aksesi plasma nutfah yang terkumpul, terpilih 5 nomordengan rata-rata produksi rimpang > 40 g/rumpun dan kadar minyak atsiri> 1,5%, yaitu V1, V2, V3, V4 dan V5. Kelima nomor diuji multilokasi di 5lokasi pada 2 musim tanam (tahun 2002/2003 dan 2003/2004). Kelimalokasi tersebut adalah: Cileungsi (80 m dpl.) dan Cijeruk (650 m dpl.)(Bogor), Subang (80 m dpl), Sumedang (550 m dpl) dan Sukamulya (350m dpl.) (Sukabumi). Pengujian menggunakan rancangan acak kelompokdengan 6 ulangan, jarak tanam 20 x 20 cm, ukuran petak 4 x 1 m 2 ,populasi tanaman per petak 100. Dari hasil pengujian diperoleh nomoryang menghasilkan rata-rata bobot rimpang tertinggi yaitu V4 (53,58g/rumpun atau setara dengan 10,7 ton/ha), rata-rata kadar minyak atsiritertinggi (6,64%) dan beradaptasi secara spesifik pada lingkungan tumbuhyang sama dengan lokasi penanaman di Cijeruk, Sumedang dan Suka-mulya. Sedangkan V2 dengan nilai diameter rimpang terbesar (2,089 cm),stabil di 4 lokasi pengujian, responsif terhadap pemupukan, serta V3dengan rata-rata produksi rimpang 51,98 g/rumpun atau setara dengan 10,4ton/ha, beradaptasi secara spesifik pada lingkungan tumbuh yang samadengan lokasi penanaman kencur di Cileungsi, Cijeruk dan lokasi asalnyadi Sumedang.Kata kunci : Kencur, Kaempferia galanga L., varietas unggul, stabilitashasil, spesifik lokasi, Jawa BaratABSTRACTStability of five promissing Galanga lines productionBreeding of Galanga was focused on the improvement of rhizomeyield and quality based on the Indonesian Materia Medica Standard, toincrease farmers’ income. Based on the selection on rhizome yield andquality, 5 accession numbers were selected as promising lines for theirhigh rhizome yield (>40 g/tiller) and essential oil contents (> 1.5%), e.g.V1, V2, V3, V4 and V5. All numbers were subjected to multilocation testsat 5 locations, e.g. Cileungsi (80 m asl) and Cijeruk (650 m asl) (Bogor),Subang (80 m asl), Sumedang (550 m asl) and Sukamulya (350 m asl)(Sukabumi), for 2 planting-seasons (2002/2003 and 2003/2004). Experi-ments were arranged in a randomized-block design, with 6 replications,plant spacing 20 cm x 20 cm, plot size of 4 x 1 m2, and population 100plants/plot. The research results showed that the highest average ofrhizome yield was performed by V4 (53.58 g/tiller, equal to 10.7 t/ha),with essential oil content 6.64% and specifically adaptable to the sameagro-climate as the environment conditions at Cijeruk (Bogor), Sumedangand Sukamulya (Sukabumi). Meanwhile, V2 with the highest diameter ofrhizome (2,089 cm), stable at 4 out of 5 locations and responsive tofertilizer application. On the other hand, V3 with the average of rhizomeyield 51.98 g/tiller, equal to 10.4 t/ha, specifically adaptable to the agro-climate similar to the environment conditions at Cileungsi, Cijeruk(Bogor) and its native, Sumedang.Key words: Kaempferia galanga L., superior variety, yield stability,specific location, West Java

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue