cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PRAKIRAAN HARGA AKARWANGI: APLIKASI METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN CHANDRA INDRAWANTO; ERIYATNO ERIYATNO; ANAS M. FAUZI; MACHFUD MACHFUD; SUKARDI SUKARDI; NOER SOETRISNO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n1.2007.14-20

Abstract

ABSTRAKPrakiraan harga terna akarwangi dan harga minyak akarwangi telahdilakukan dengan menggunakan metode jaringan syaraf tiruan. Memakaidata harga dari Januari 2000 sampai Agustus 2006 dilakukan prakiraanharga untuk 24 bulan kedepan. Prakiraan terbaik dengan Mse pelatihandan Mse testing yang rendah didapat pada kombinasi fungsi aktivasi layartersembunyi sigmoid biner dan fungsi aktivasi output sigmoid bipolardengan rentang data transformasi (0,1) untuk prakiraan harga ternaakarwangi. Sedangkan untuk prakiraan harga minyak akarwangi didapatpada fungsi aktivasi layar tersembunyi sigmoid bipolar dan fungsi aktivasioutput sigmoid biner dengan rentang data (0,1). Hasil prakiraan hargamenunjukkan harga rata-rata terna akarwangi dan harga rata-rata minyakakarwangi untuk tahun 2007 dan 2008 masih di atas harga titik impasusahatani maupun usaha agroindustri minyak akarwangi.Kata kunci : Akarwangi, Vetiveria zizanioides L., harga, prakiraan,jaringan syaraf tiruan, Jawa BaratABSTRACTVetiver oil prices forecasting with artificial neuralnetwork methodVetiver and vetiver oil prices forecasting with artificial neuralnetwork method has been done. Time series data from January 2000 toAugust 2006 was used to forecast the prices for 24 months ahead. The bestresult for forecasting of vetiver prices was gotten using sigmoid binaryactivation in hidden layer, sigmoid bipolar activation in output layer andtransformation data spread (0,1). The best result for forecasting of vetiveroil prices was gotten using sigmoid bipolar activation in hidden layer,sigmoid binary activation in output layer and transformation data spread(0,1). The result shows that the average forecasting prices of vetiver andvetiver oil in 2007 and 2008 higher than the prices needed for vetiverfarming and vetiver oil agroindustry to reach break event point.Key words: Vetiveria zizanioides L., prices, forecasting, artificial neuralnetwork, West Jav
PENGARUH PEMOTONGAN BUNGA, PUCUK DAN PENGHENTIAN PENAMBAHAN CAHAYA PADA TANAMAN MENTHA (Mentha piperita L.) ROSIHAN ROSMAN; SRI SETYATI HARJAD; SUGENG SUDIATSO; SUDIRMAN YAHYA; BAMBANG SAPTA PURWOKO; CHAIRUL CHAIRUL
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n1.2005.7-12

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan mengkaji pengaruh pemotongan bunga, pucukdan penghentian pencahayaan pada tanaman M. piperita L. Penelitiandilakukan di Instalasi Penelitian Lembang, Balai Penelitian TanamanRempah dan Obat, Jawa Barat, dari bulan Januari sampai Juli 2000, dalamdua tahap : tahap pertama membuat variasi lingkungan cahaya dan habitustanaman, dan tahap kedua penyulingan dan analisis komponen minyakdengan kromatografi gas spektrometer massa. Penelitian menggunakantanaman yang tidak berbunga akibat panjang hari normal dan tanamanberbunga akibat penambahan cahaya empat jam, pukul 18.00-22.00 mulaiumur 30 hari. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok 5perlakuan, yaitu B 0 (tanaman berbunga dibiarkan), B 1 (tanaman berbungadipotong bunganya), B 2 (tanaman berbunga diletakkan pada kondisinormal), B 3  (tanaman tidak berbunga dibiarkan), dan B 4 (tanaman tidakberbunga dipotong pucuk). Hasil penelitian menunjukkan bahwapemotongan bunga meningkatkan mentol dan menekan menthofuran.Penghentian penambahan cahaya 4 jam pada tanaman berbungamenjadikan tanaman merunduk, kadar mentol menurun dan menthofuranmeningkat. Pemotongan pucuk dapat menurunkan kandungan mentol danmeningkatkan kandungan menthofuran.Kata kunci : Mentha, Mentha piperita L., pemotongan bunga, pucuk,pencahayaan, kandungan mentol, kandungan menthofuranABSTRACTThe effect of inflorescent pinching , bud pinching, andnormal light period on peppermint (Mentha piperita L)Experiment on the effect of pinching the inflorescent, pinching thebud, and normal light period on peppermint (Mentha piperita L) wascarried out at the experimental garden Lembang of Research Institute forSpice and Medicinal Crops, West Java, from January to July, 2000. Thestudy was conducted with two steps i.e. The first step was manipulation ofphoto period using TL lamps and the second step was distillation andanalisis of peppermint oil from their products with gas chromatographyand mass spectrometry. The experiment, 5 treatments were given i.e.using long day treated plants, 3 treatments are given i.e. control, pinchingthe inflorescent and with holding light supplement (four hours lightsupplement at the age of 30 days), and using control plants, 2 treamentsare given i.e. no pinching and pinching of terminal bud (control or normallight period). The result showed that pinching the inflorescent elevate thementhol and reduce the menthofuran content. Pinching the bud of nonflowering plants can reduce the menthol and increase the menthofurancontent.Key words : Peppermint, Mentha piperita L, inflorescent pinching, bud,pinching, light period, menthol content, menthofuran content
FENOLOGI PEMBUNGAAN DAN KELIMPAHAN POPULASI KEPIK Diconocoris hewetti (DIST.) (HEMIPTERA: TINGIDAE) PADA PERTANAMAN LADA I WAYAN LABA; AUNU RAUF; UTOMO KARTOSUWONDO; M. SOEHARDJAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n2.2008.43-53

Abstract

ABSTRAKKepik renda lada (KRL), Diconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera:Tingidae) adalah salah satu hama pada pertanaman lada di Indonesia.Hama ini selalu hadir pada perbungaan lada dan bulir bunga lada denganjalan mengisap cairan bunga sebelum menjadi buah. Serangan nimfa danimago pada bunga dan bulir bunga akan mengakibatkan perubahan warnabunga dari hijau kekuningan menjadi cokelat atau hitam. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui fenologi pembungaan, kelimpahan populasiKRL, dan tingkat kerusakan bunga pada pertanaman lada. Kelimpahan danfenologi pembungaan lada menentukan kelimpahan populasi KRL.Penelitian dilakukan di kebun petani, di Desa Air Anyir, KecamatanMerawang, Kabupaten Bangka Induk, dari Mei 2003 sampai dengan Mei2004, dan di Desa Puput, Kecamatan Simpang Katis Kabupaten BangkaTengah, dari Oktober 2003 sampai dengan Mei 2004. Luas lahanpercobaan masing-masing sekitar 5000 m 2 yang sudah ditanami ladavarietas Chunuk di Air Anyir dan varietas Lampung Daun Lebar (LDL) diPuput. Umur tanaman masing-masing sekitar 5 tahun. Jumlah pohoncontoh di setiap lokasi 24 pohon. Pengamatan dilakukan setiap minggudengan cara menghitung langsung KRL yang ada pada bulir bunga, sertabanyaknya bunga yang terserang. Pada percobaan lainnya dilakukanpengamatan terhadap perkembangan bulir bunga serta tingkat keguguranfisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pembungaan ladavarietas Chunuk dan LDL mengikuti pola curah hujan. Rataan banyaknyabulir bunga berkisar antara 2,63-120,59 tandan per pohon pada varietasChunuk, sedangkan pada varietas LDL antara 4,79-153,84 tandan perpohon. Masa perkembangan bulir bunga fase-1 berlangsung 16,6 hari,fase-2 berlangsung 7,6 hari, dan fase-3 berlangsung 6,4 hari. Tidaksemua bulir bunga dan buah muda berhasil menjadi buah siap dipanen(23,14% pada Chunuk mengalami keguguran fisiologis). Keguguranpaling banyak terjadi pada bulir bunga yang berumur 4-5 minggu(17,62%). Rataan kelimpahan kepik renda lebih tinggi (0,042-1,375ekor/pohon) pada varietas LDL dibandingkan pada varietas Chunuk(0,042-0,333 ekor/pohon), terutama selama periode November hinggaApril. Perkembangan populasi kepik renda pada varietas LDL meningkat(1,375 ekor/pohon) selama bulan November hingga Februari, berhubungandengan banyaknya bulir bunga yang tersedia pada periode tersebut.Berdasarkan nisbah ragam terhadap rataan (s 2 /m), populasi kepik D.hewetti umumnya memperlihatkan pola sebaran acak, sedangkan pada saatpopulasi tinggi (1,375 ekor/pohon) memperlihatkan pola sebaranbergerombol. Persentase bulir bunga terserang pada varietas Chunukberkisar antara 0,06-3,85%, sedangkan pada varietas LDL berkisar antara0,34-17,72%. Terdapat hubungan linear varietas Chunuk dan LDL (r =0,87 dan 0,78) yang nyata antara kelimpahan populasi D. hewetti dankerusakan bunga. Varietas LDL lebih rentan dibandingkan dengan varietasChunuk. Pengendalian KRL dapat dilakukan pada awal pembentukanbunga yaitu sejak November.Kata kunci: Lada, Piper nigrum L., hama, kepik renda lada, Diconocorishewetti (Dist.), kerusakan bunga, kelimpahan populasi,Bangka BelitungABSTRACTFlowering phenology and population abundance ofpepper lace bug, Diconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera:Tingidae) on pepper plantationPepper lace bug (PLB), Diconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera :Tingidae) is one of the insect pests attacking pepper in Indonesia. Thisinsect pest always presents and causes damage to the spikes of pepperinflorescence. The research was conducted to study the floweringphenology of Chunuk and LDL varieties and population abundance ofPLB on pepper plantation. The abundance and inflorescence phenology ofpepper determined PLB abundance. The research was conducted in farmerfields in Air Anyir Village, Sub District of Merawang from May 2003 toMay 2004 and Puput Village, Sub District of Simpang Katis, BangkaIslands, from October 2003 to May 2004. The acreage of the experimentwas about 5000 m 2 for each location with 5 years old of Chunuk and LDLvarieties in Air Anyir and Puput, respectively. Number of plant sampleswere 24 plants for each location. Observation were done every week, forthe population of PLB, the spike and flower damage. Another experimentwas done to study the develop-ment stage of inflorescence and floral lossphysiology. The result indicated that flowering phenology of Chunuk andLDL varieties followed the rainfall pattern. The mean number of spike onChunuk variety varied between 2.63 – 120.59, while that on LDL varietywere 4.79 – 153.84 spikes per tree. The developments period of spikeswere 16.6; 7.6 and 6.4 days for stages 1, 2 and 3 respectively. Not all thespikes became young berries and could be harvested, since there were23.14% inflorescence of the Chunuk variety floral loss naturally. Floralloss occurred mostly when the spikes were 4-5 weeks old (17.62%). Themean number of lace bug density was higher on LDL(0.042-1.375bug/tree) than on Chunuk (0.042-0.333 bugs/tree), especially duringNovember until April. D. hewetti population increased during November-February (1.375 bugs/tree), and it was related to the increase in spikesduring that time. Based on variance-mean ratio (S 2 /m), D. hewettipopulation generally showed a random distribution, but a clumpeddistribution when population density increased (1.375 bugs/tree). Thepercentage of inflorescence damage was between 0.06-3.85% on Chunuk,while on LDL was 0.34-17.2%. There is a linear correlation between PLBand spike damage (r = 0.87 and 0.78 on Chunuk and LDL respectively).LDL variety was more susceptible than Chunuk variety. The study impliesthat controlling PLB has to be done on the beginning of inflorescence inNovember.Key words: Pepper, Piper nigrum L., insect pest, pepper lace bug,Diconocoris hewetti (Dist.), spike damage, populationabundance, Bangka Belitung
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN SETEK BERAKAR TERHADAP PERTUMBUHAN NILAM(Pogostemon cablin Benth) MELATI MELATI; DEVI RUSMIN; SUKARMAN SUKARMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n4.2006.135-139

Abstract

ABSTRAKDalam upaya pengembangan nilam (Pogostemon cablin) di daerahyang jaraknya jauh dari kebun induk, pengadaan benih nilam yang berkua-litas menjadi masalah yang serius, karena bibit akan cepat mengalamipenurunan kualitas selama transportasi. Untuk itu dilaksanakan penelitianyang bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama simpan setek berakarnilam terhadap pertumbuhan. Percobaan dilaksanakan di rumah kaca BalaiPenelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) dari bulan April –Agustus 2004. Percobaan disusun dalam rancangan petak terbagi (RPT)dengan 3 ulangan. Petak utama (main plot) adalah 2 jenis setek nilamyaitu: (1) setek berdaun dan (2) setek tidak berdaun. Anak petak (sub plot)adalah lama penyimpanan setek yaitu: (1) setek langsung ditanam(kontrol), (2) setek disimpan 1 hari, (3) setek disimpan 3 hari, (4)setekdisimpan 5 hari dan, (5) setek disimpan 7 hari. Pengamatan dilakukansejak tanaman berumur 2 minggu sampai tanaman berumur 8 minggu.Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman (tinggi, jumlahdaun dan jumlah tunas), bobot kering (batang, daun, akar). Hasil perco-baan menunjukkan bahwa persentase hidup setek nilam berakar (setekberdaun dan setek tidak berdaun) masih 100% setelah disimpan selama 7hari. Hampir dari seluruh parameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlahcabang, jumlah daun) yang diamati menunjukkan bahwa pertumbuhanbibit setek berdaun lebih baik dibandingkan dengan setek yang tidakberdaun.Kata kunci : Nilam, Pogostemon cablin Benth, bibit, setek berakar,penyimpanan, pertumbuhan, Jawa BaratABSTRACTEffect of storage periods of rooted cutting on the growthof patchouli (Pogostemon cablin Benth)Providing high quality of patchouli (Pogostemon cablin Benth)seedlings is necessary to support the development of patchouli plants. Inthe new developing area transportation become serious problems (highcost transportation), therefore some alternative solution is reducing thetransportation cost without reducing the quality of the seedlings. Base onthe problems, this experiment was conducted. The objective of thisexperiment was to study the effect of storage periods of rooted cuttings onthe growth of patchouli plant. The experiment was conducted in the greenhouse of Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute(ISMECRI), from April to August 2004. The experiment was arranged ina split-plot design with 3 replications. The main plot was 2 kinds of cuttingthere were: (1) leaf cutting and (2) non leaf cutting. The sub plot was 5different storage periods, there were: (1) control (no storage), (2)1 daystorage, (3) 3 day storage, (4) 5 day storage, (5) 7 day storage. Thevariables observed were plant growth (plant height, number of leaves andnumber of shoots), dry weight of stems, leaves and roots. The results ofexperiment indicated that after 7 day storage, rooted cuttings of patchouliwere still 100% viable. The growth of patchouli from leaf cutting wassignificantly different from non leaf cutting. Patchouli plant from leafcutting produced higher plant height, number of leaves, number of shootsand dry weight of plants compared to those of patchouli plants from nonleaf cuttings. Storage period significantly affected the height of plantshowever it did not significantly affected the number of leaves, number ofshoots and dry weight of plants.Key words: Pacthouli, Pogostemon cablin, seedlings, rooted cutting,storage, growth, West JavE
PENGGUNAAN FILM PLASTIK UNTUK KEMASAN KELAPA KOPYOR MUHAMMAD YUSUF ANTU; ROKHANI HASBULLAH; USMAN AHMAD
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v21n2.2015.99-107

Abstract

ABSTRAKKelapa kopyor memiliki kandungan gizi yang penting, seperti karbohidrat, protein, lemak, dan asam lemak. Selama penyimpanan kelapa kopyor mudah mengalami kerusakan karena proses oksidasi dan hidrolisis lemak. Hal ini menyebabkan kelapa kopyor mengalami ketengikan dan perubahan warna dari putih menjadi kuning kecoklatan. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan pengemasan dengan film plastik dan menyimpannya pada suhu dingin.  Tujuan penelitian adalah untuk Memberikan informasi mengenai keefektifan film plastik untuk penyimpanan  daging kelapa kopyor. Bahan  penelitian adalah kelapa kopyor dari Kalianda (Lampung Selatan). Kelapa kopyor dikemas film plastik jenis Polyamide (PA),  Polypropylene (PP), dan High Density Polyethylene (HDPE).  Arameter mutu yang dianalisis adalah Thiobarbituric acid  (TBA),  asam lemak  bebas  (ALB),  total  padatan terlarut (TPT), pH, total mikrob,  kadar lemak, serta uji organoleptik warna,  aroma,  dan  rasa.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah film plastik dengan tiga taraf (PA, PP, HDPE), dan faktor kedua adalah suhu dengan dua taraf (5 ± 2 dan 10 ± 2 oC). Hasil penelitian menunjukkan jenis film plastik PA pada penyimpanan suhu 5 ± 2 oC merupakan kemasan yang efektif dalam mempertahankan mutu kelapa kopyor hingga enam hari, yang dibuktikan dengan rendahnya total mikrob, TBA, dan ALB. Selain itu, panelis masih menyukai kelapa kopyor dari warna, aroma dan rasa.Kata kunci: kelapa kopyor, plastik film, mutu, suhu, waktu penyimpanan The Usage of Plastic Film for Kopyor Coconut Packaging ABSTRACTKopyor coconut contains important  nutrients, such as carbohydrates, protein, fat, and fatty acids. During storage kopyor coconut is  easily  suffered  damage,  because  of  oxidizing  and  fat  hydrolysis processes. The processes cause  kopyor coconut suffered rancidity and color change from white to brownish-yellow. Packaging  kopyor coconut with plastic film and keep it in a cool temperature could overcome this problem. The aim of the research  was to provide  information   the effectiveness  of  plastic  films  for  kopyor  coconut  storage.  Research material was kopyor coconut obtained from Kalianda (South Lampung). Kopyor   coconut   packaged   in   plastic   film   type   Polyamide (PA), Polypropylene (PP), and High Density Polyethylene (HDPE).  The quality parameters observed were Thiobarbituric acid (TBA), free fatty acids (FFA), pH, total soluble solid (TSS), pH, total microbes, fat content, and sensory characteristics including color, flavor, and taste. This research used Randomized Complete Design with two factors. The first factor was the packaging material with three different types (PA, PP, HDPE), and the second factor was the storage temperature at two levels of 5 ± 2 and 10 ± 2 oC. The results showed that the type of plastic film packaging PA at storage temperature 5 ± 2 oC is effective in maintaining the quality of kopyor coconut up to six days, as evidenced bythe low total microbe, TBA, and ALB. In addition, panelists still like kopyor coconut of color aroma and taste.
PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI, DAN MUTU TANAMAN TIMI (Thymus vulgaris L.) RAHARDJO RAHARDJO; I. DARWATI; H. NURHAYATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n4.2014.195-202

Abstract

ABSTRAK Tanaman   timi   banyak   dibudidayakan   di   Indonesia   karena bermanfaat  untuk  kesehatan.  Kebutuhan  hara  N,  P,  dan  K  penting diketahui  untuk  mendukung  budidayanya.  Penelitian  bertujuan  untuk mengetahui respon pemupukan terhadap pertumbuhan, produksi, mutu simplisia, dan serapan hara tanaman timi. Penelitian dilaksanakan di KP. Manoko  (1200  m  dpl)  pada  bulan  Januari  sampai  Desember 2013. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan pemupukan: (1) kontrol (tanpa pupuk); (2) 20 ton/ha pupuk kandang; (3) 20 ton/ha pupuk kandang + urea, SP36, dan KCl masing- masing 50 kg/ha; (4) 20 ton/ha pupuk kandang + urea, SP36, dan KCl masing-masing 75 kg/ha; (5) 20 ton/ha pupuk kandang + urea, SP36, dan KCl masing-masing 100 kg/ha; (6) 20 ton/ha pupuk kandang + urea, SP36, dan KCl masing-masing 125 kg/ha; (7) 20 ton/ha pupuk kandang + urea, SP36, dan KCl masing-masing 150 kg/ha; dan (8) Urea, SP36, dan KCl masing-masing 150 kg/ha. Peubah yang diamati: tinggi, bobot segar dan kering, produksi herba kering, mutu simplisia, serta kadar hara N, P, dan K tanaman. Produksi herba tertinggi (3,93 ton/ha) diperoleh pada perlakuan urea, SP36, dan KCl masing-masing 150 kg/ha. Peningkatan SP36 menjadi 150 kg/ha yang diikuti oleh urea dan KCl masing-masing 150 kg/ha tanpa pupuk kandang, mampu meningkatkan herba kering timi 44-88%. Kadar thymol  tertinggi (70,90%)  dicapai  pada  perlakuan 20  ton/ha  pupuk kandang +  urea,  SP36,  dan  KCl  masing-masing 150  kg/ha,  namun menghasilkan kadar minyak atsiri terendah (0,30%). Sebaliknya, kadar thymol terendah (43,99%) dicapai pada perlakuan tanpa pupuk, tetapi memiliki kadar minyak atsiri tertinggi (0,92%). Kata kunci:  Thymus  vulgaris  L.,  pemupukan,  pertumbuhan,  produksi,             kualitas The Effect of Fertilizer on Growth, Yield, and Quality of Thyme (Thymus vulgaris L.)  ABSTRACT   Thyme has been cultivating in Indonesia because of  its benefits for health. Thyme nutrients requirement is important to support its cultivation. This study is aimed to evaluate thyme responses to fertilizer. The research was  conducted  at  Manoko  Experimental  Garden (1200  m  asl)  from January to December 2013, arranged in randomized block design with four replications. Fertilization treatments: (1) control (no fertilizer); (2) 20 tonnes/kg manure; (3) 20 tonnes/ha manure + 50 kg/ha of each urea, SP36, and KCl; (4) 20 tonnes/kg manure + 75 kg/ha of each urea, SP36, and KCl; (5) 20 tonnes/kg manure + 100 kg/ha of each urea, SP36, and KCl; (6) 20 tonnes/kg manure + 125 kg/ha of each urea, SP36, and KCl; (7) 20 tonnes/kg manure + 150 kg/ha of each urea, SP36, and KCl; and (8) 150 kg/ha of each urea, SP36, and KCl. Parameters observed: plant height, fresh and dry weight per plant, yield of dry herb, simplicia quality, and N, P, and K contents. Treatment 150 kg/ha of each urea, SP36, and KCl was produced the highest yield (3.93 tonnes/ha). The increase of SP36 until 25 kg/ha combined with 150 kg/ha urea and KCl could enhance yield of dry herb 44-88%. The highest thymol content (70.90%) was obtained from treatment 20 tonnes/kg manure + 150 kg/ha of each urea, SP36, and KCl, but it produced the lowest essential oil content (0.30%). Contrarily, control treatment produced the highest essential oil content (0.92%) but gave the lowest thymol content (43.99%).Key words: Thymus vulgaris L., fertilization, growth, yield, quality
PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN MUTU SIMPLISIA PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molkenb) MONO RAHARDJO; ROSITA SMD; IRENG DARWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n2.2006.73-79

Abstract

ABSTRAKPurwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb.) adalah tanaman obatasli Indonesia yang statusnya langka, dan teknologi budidayanya belumbanyak diketahui. Penelitian pengaruh pemupukan terhadap produksi danmutu simplisia purwoceng telah dilakukan tahun 2004-2005 di DesaSikunang, Dieng, Jawa Tengah. Perlakuan pemupukannya adalah: (1)kontrol (tidak dipupuk); (2) 9,6 kg pupuk kandang (pk); (3) 96 g urea + 48g SP36 + 72 g KCl; (4) 9,6 kg pk + 96 g urea + 48 g SP36 + 72 g KCl; (5)9,6 kg pk + 96 g urea + 48 g SP36; (6) 9,6 kg pk + 96 g urea + 72 g KCl;(7) 9,6 kg pk + 48 g SP36 + 72 g KCl. Percobaan menggunakan rancanganacak kelompok diulang 4 kali dengan ukuran petak 2,4 m 2 . Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pemberian pupuk lengkap 9,6 kg pk + 96 g urea + 48g SP36 + 72 g KCl/petak dan pemupukan 96 g urea + 48 g SP36 + 72 gKCl/petak dapat meningkatkan produksi dan mutu simplisia purwoceng.Dibandingkan dengan tanaman yang tidak dipupuk, produksi simplisiameningkat 40%, kadar stigmasterol di akar meningkat 11 – 14 kali. Akartanaman purwoceng yang tidak dipupuk tidak mengandung sitosterol,tetapi setelah dipupuk mengandung sitosterol sebanyak 16,17 – 17,11 ppm.Tajuk tanaman tidak mengandung bergapten apabila tidak dipupuk, tetapisetelah dipupuk mengandung bergapten 4,92 – 5,56 ppm. Produksi danmutu simplisia perlakuan 96 g urea + 48 g SP36 + 72 g KCl/petak tidakberbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan 9,6 kg pk + 96 g urea + 48g SP36 + 72 g KCl/petak. Ini diduga karena kandungan bahan organiktanah cukup tinggi, sehingga penambahan 96 kg/petak pupuk kandangtidak berpengaruh nyata. Untuk menghasilkan simplisia kering purwocengsecara optimal 8,41 g/tanaman (6,98 kwt/ha) dan bermutu tinggi,diperlukan serapan hara N, P dan K pada jaringan tanaman masing-masingberturut-turut sebanyak 283 mg N; 55 mg P; dan 356 mg K/tanaman atausetara dengan 23,50 kg N; 6,30 kg P; dan 38,90 kg K/ha.Kata kunci: Purwoceng, Pimpinella pruatjan Molkenb, pemupukan,pertumbuhan, produksi, mutu, Jawa TengahABSTRACTEffect of fertilizer application on production and qualityof Pimpinella pruatjan MolkenbPurwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb) is an Indonesianindigenous medicinal plant. Purwoceng is classified as an endangeredspecies, and its cultivation technology has not been devoleped. Theobjective of the research was to find out the effect of fertilizer applicationon the production and quality of purwoceng simplisia. The research wasconducted in Sikunang, Dieng, Wonosobo, Central Java from 2004 until2005. The treatments of fertilizer application on 2.4 m 2  were (1) control(without fertilizer); (2) 9.6 kg dung manure (dm); (3) 96 g urea + 48 gSP36 + 72 g KCl; (4) 9.6 kg pk + 96 g urea + 48 g SP36 + 72 g KCl; (5)9.6 kg pk + 96 g urea + 48 g SP36; (6) 96 kg pk + 9.6 g urea + 72 g KCl;(7) 9.6 kg pk + 48 g SP36 + 72 g KCl. The experiment was designed inrandomized block designed with four replications. The result of theresearch showed that the treatments of 9.6 kg dm + 96 g urea + 48 g SP36+ 72 g KCl/2.4 m 2 and 96 g urea + 48 g SP36 + 72 g KCl/2.4 m 2 increasedthe simplisia production and quality compared with control. The simplisiaproduction increased up to 40% and the stigma sterol content in the rootsincreased up to 11 – 14 times. The content of sitosterol in the plants withfertilizer application was 6.7 – 17.11 ppm but in the plants withoutfertilizer application was zero. The content of bergapten in shoot part ofplant with fertilizer application was 4.92 – 5.56 ppm, but in the shoot partwithout fertilizer application was zeros. The production and quality ofsimplisia with the fertilizer application of 96 g urea + 48 g SP36 + 72 gKCl/2.4 m 2 were not significantly different from those with fertilizerapplication of 9.6 kg pk + 96 g urea + 48 g SP36 + 72 gKCl/2.4 m 2 . Ithappened probably because the organic soil content was high, so that theapplication of 40 ton/ha of dung manure did not give any effect.Furthermore, to increase the optimum production of purwoceng simplisia(6.98 kwt/ha) with high quality it needs 283 mg N, 55 mg P dan 356 mgK/plant or 23.50 kg N, 6.30 kg P, and 38.90 K/ha.Key words : Purwoceng,  Pimpinella  pruatjan  Molkenb,  fertilizerapplication, growth, production, quality, Central Java
RESPON TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) HASIL RIMPANG KULTUR JARINGAN GENERASI KEDUA TERHADAP PEMUPUKAN ENDANG HADIPOENTYANTI; SITTI FATIMAH SYAHID
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n3.2007.106-110

Abstract

ABSTRAKPenelitian mengenai respon temulawak hasil rimpang kulturjaringan generasi kedua terhadap pemupukan telah dilaksanakan di lahanpetani Sumur Wangi, Kecamatan Tanah Sareal, Bogor dari bulan Oktober2002 sampai bulan September 2003. Bahan tanaman yang digunakansebagai benih adalah rimpang induk temulawak hasil kultur jaringangenerasi kedua. Perlakuan yang diuji adalah : (1) tanpa pupuk (kontrol),(2) pupuk kandang kambing 1 kg/tanaman, (3) pupuk kandang kambing 2kg/tanaman, (4) pupuk kandang kambing 1 kg/tanaman + pupuk buatanyaitu urea 2 g/tanaman, SP-36 1,8 g/tanaman dan KCL 2,7 g/tanaman dan,(5) pupuk kandang kambing 2 kg/tanaman + pupuk buatan urea 2g/tanaman, SP-36 1,8 g/tanaman dan KCL 2,7 g/tanaman. Rancangan yangdigunakan adalah rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Setiapulangan terdiri atas sepuluh tanaman. Jarak tanam yang digunakan adalah60 cm x 60 cm. Parameter yang diamati adalah persentase tumbuh, jumlahanakan, tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun serta lingkarbatang pada umur empat bulan, bobot rimpang per tanaman, panjang, lebardan diameter rimpang, jumlah rimpang induk serta analisa mutu yangmeliputi kadar air, kadar minyak atsiri dan kurkumin pada umursembilan bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anakan,tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang daun tidak dipengaruhi olehaplikasi pemupukan. Respon tanaman terhadap aplikasi pemupukanberpengaruh terhadap parameter lebar daun dan lingkar batang.Selanjutnya pemupukan berpengaruh nyata terhadap berat rimpang,panjang rimpang, lebar rimpang serta jumlah rimpang induk namuntidak berpengaruh terhadap diameter rimpang. Kandungan kurkuminpaling tinggi diperoleh pada perlakuan tanpa pemupukan.Kata kunci : Temulawak,  Curcuma  xanthorrhiza,  kultur  jaringan,pemupukan, pertumbuhan, produksi, mutu, Jawa BaratABSTRACTResponse of Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)derived from rhizome in vitro of the second generation tofertilizer aplicationThe experiment was conducted to study the response of temulawakderived from rhizome in vitro of the second generation to fertilizerapplication. It was carried out in a farmer field at Sumur Wangi, Bogorfrom October 2002 to September 2003. Plant materials used were obtainedfrom in vitro rhizome of the second generation. Treatments tested werefive level of manure fertilizer and artificial fertilizer : (1) without fertilizer(control), (2) stable manure 1 kg/plant, (3) stable manure 2 kg/plant, (4)stable manure 1 kg/plant + artificial fertilizer i.e urea 2 g/plant, SP-36 1.8g/plant and KCL 2.7 g/plant and (5) stable manure 2 kg/plant + artificialfertilizer i.e urea 2 g/plant, SP-36 1.8 g/plant and KCL 2.7 g/plant. Theexperiment was designed using a randomized block design with threereplications, ten plants per replication. Plant spacing was 60 cm x 60 cm.The parameters observed were growth percentage, number of tillers, plantheight, number of leaves, length and width of leaves, stem coil at fourmonths of age, rhizome weight, length and width, rhizome diameter andnumber of main rhizomes. In addition, quality analysis was also conductedon water, essential, oil and curcumin content, nine months of age. Resultshowed that fertilizer treatment did not significantly increase the numberof tillers, plant height, leaf number, rhizome length and diameter comparedwith without fertilizer, but it significantly increased the leaf width, stemcoil, rhizome weight, length and width and also the number of mainrhizomes. The highest curcumin content was achieved by those withoutfertilizer treatment.Key words : Temulawak, Curcuma xanthorrhiza, tissue culture, fertilizerapplication, growth, yield, quality, West Java
UJI ADAPTASI VARIETAS DAN GALUR KENAF (Hibiscus cannabinus L.) DI LAHAN PASANG SURUT KALIMANTAN TENGAH AMIK KRISMAWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n3.2005.107-111

Abstract

ABSTRAKPotensi lahan pasang surut Kalimantan Tengah cukup luas yaitu 5,5juta hektar dimana sebagian dapat dikembangkan dengan tanaman kenaf.Penelitian uji adaptasi varietas dan galur kenaf dilaksanakan di lahanpasang surut desa Samuda, kecamatan Mentaya Hilir Selatan, KabupatenKotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Perlakuan berupa varietas/galurkenaf yang terdiri dari dua varietas (Hc G-4 dan Cuba 108/II) dan empatgalur hasil persilangan (Hc 85.9.75; Hc 85.9.40. 1; Hc 85.9.42; Hc85.9.66.1), yang diatur dalam rancangan acak kelompok dengan tigaulangan. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman dan diameterbatang pada umur 40, 75 dan 105 hari setelah tanam terhadap 10tanaman acak per petak, bobot segar biomasa, bobot serat per petak, danbobot kering akar adventif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua galurhasil persilangan yaitu Hc 85.9.661 dan Hc 85.9.75 mempunyai adaptasicukup bagus dengan tinggi tanaman akhir masing-masing adalah 265,25cm dan 260, 25 cm serta diameter batang masing-masing adalah 2,17 cmdan 2,10 cm. Hasil serat tertinggi masing-masing sebesar 2,40 dan2,30 ton/ha, sementara varietas Hc G-4 mencapai 2,25 ton/ha.Kata kunci : Kenaf, Hibiscus cannabinus L., varietas, galur, adaptasi,lahan pasang surut, Kalimantan TengahABSTRACTAdaptation test of kenaf (Hibiscus cannabinus L.) varieties and lines attidal swamps land, Central KalimantanThe area of tidal swamps In Central Kalimantan is approximately5.5 million hectare and parts of that area can be developed by kenaf plant.The adaptation test of several kenaf varieties and lines was conducted inSamuda Village, Mentaya Hilir Selatan District, Kotawaringin Timur,Central Kalimantan. The experiment used a randomized block design withthree replications and six treatments consisting of two kenaf varieties (HcG-4 and Cuba 108/II) and four kenaf lines (No 85.9.75; No 85.9.40.1; No85.9.42; No 85.9.66.1). Parameters observed were plant height, stemdiameter at 40, 75 and 105 days after planting, on 10 random plantsperplot, fresh biomass, dried fiber, and dried adventive root weight. Theresults of this experiment showed that two lines, namely Hc 85.9.66.1and Hc 85.9.75 obtained the optimal vegetative growth as their plantheight and stem diameter at harvesting time reached 265.25 cm and260.25 cm, 2.17 cm and 2.10 cm respectively. The fiber yields of the twolines were 2.40 and 2.30 ton/ha respectively, while the control line Hc G-4was only 2.25 ton/ha.Key words : Kenaf, Hibiscus cannabinus L., variety, line, adaptation,tidal swamps land, Central Kalimantan
DAYA GABUNG DAN HETEROSIS KARAKTER VEGETATIF, GENERATIF, DAN DAYA HASIL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) MENGGUNAKAN ANALISIS DIALEL RR. SRI HARTATI; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n1.2015.9-16

Abstract

ABSTRAKPerakitan varietas unggul memerlukan informasi daya gabung tetua,baik umum maupun khusus. Tetua dengan daya gabung umum (DGU)tinggi berpotensi menghasilkan varietas sintetis atau komposit. Sementaraitu, tetua dengan daya gabung khusus (DGK) tinggi berpotensimenghasilkan varietas hibrida. Tujuan penelitian adalah mengetahui dayagabung tetua jarak pagar yang dapat menghasilkan hibrida atau populasikomposit. Sepuluh tetua, yaitu 1 tetua berdaya hasil rendah, 6 menengah,dan 3 tinggi digunakan dalam persilangan dialel lengkap. Evaluasidilaksanakan di Kebun Percobaan Balittri Pakuwon Sukabumi, mulaiAgustus 2008 sampai Juli 2011 menggunakan Rancangan Acak Kelompoktiga ulangan. Karakter yang diamati yaitu tinggi tanaman, lingkar batang,lebar kanopi, umur mulai berbunga, serta jumlah cabang total, cabangproduktif, infloresen, tandan, fruit set, dan buah per tanaman. Analisisdialel menggunakan metode I Griffing. Hasil penelitian menunjukkan ratioragam DGU dan DGK lebih besar daripada satu ( DGU / DGK > 1) padasemua karakter yang dievaluasi. Tetua 3012-1 dan PT 15-1, yang berdayahasil tinggi, memiliki DGU tinggi pada karakter umur mulai berbunga,lebar kanopi, serta jumlah cabang total, cabang produktif, infloresen,tandan, dan buah. Tetua PT 33-2, yang berdaya hasil menengah, memilikiDGU tinggi pada karakter umur mulai berbunga, serta jumlah cabang total,cabang produktif, infloresen, dan buah. Sementara itu, tetua 575-3, yangberdaya hasil rendah, memiliki DGU tinggi pada lingkar batang. Tetua PT33-2, 3012-1, dan PT 15-1 berpotensi sebagai penyusun populasi dasaruntuk pembentukan varietas sintetik yang cepat berbunga dan berdayahasil tinggi. Tetua 575-3 berpotensi untuk dirakit sebagai varietas yangmemiliki lingkar batang besar dan berbunga lambat.Kata kunci: daya gabung umum, daya gabung khusus, gen aditif,komposit, Jatropha curcas L.ABSTRACTGeneral Combining Ability (GCA) and Specific Combining Ability(SCA) are important in creating high yielding varieties. A parent havinghigh GCA is appropriate to produce synthetic or composite varieties, whilehigh SCA is to produce hybrid. The research objective is to find out theinformation of parents combining ability in Jatropha curcas L. Researchwas conducted using diallel analysis. Ten genotypes i.e. 1 low yieldingparent, 6 medium, and 3 high were used to generate F1 arrays with fulldiallel analysis. Evaluation was conducted at Indonesian Spice andIndustrial Crops Research Institute Experimental Station, usingRandomized Block Design from August until July 2011. The observationwere plant height, stem girth, canopy width, days to flowering, andnumber of total branches, productive branches, inflorescences, bunches,fruit set percentages; and fruit per plant. Diallel analysis was usingGriffing Model I. Results showed that general variance, each of GCA andSCA ratio, is more than one ( GCA / SCA > 1) in all evaluated characters.High yielding parents of 3012-1 and PT 15-1 exhibited high GCA on daysto flowering, canopy width, and number of total branches, productivebranches, inflorescences, bunches, and fruits. Medium yielding parents ofPT 33-2 exhibited high GCA for days to flowering, number of totalbranches, productive branches, inflorescences, and fruits. Low yieldinggenotype of 575-3 exhibited high on stem girth. PT 33-2, 3012-1, and PT15-1 could be used for developing early flowering and high yieldingvarieties, while 575-3 was suitable for producing big stem girth and lateflowering varieties.Key word: general combining ability, specific combining ability, additivegen, composite, Jatropha curcas L.

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue