cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
APLIKASI SITOKININ TIPE PURIN DAN UREA PADA MULTIPLIKASI TUNAS ANIS (Pimpinellla anisum L.) IN VITRO OTIH ROSTIANA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n1.2007.1-7

Abstract

ABSTRAKAnis (Pimpinella anisum L.) merupakan tanaman herba tahunanyang termasuk ke dalam famili Umbelliferae. Buahnya diketahuimengandung minyak atsiri yang didominasi senyawa trans-anethol (90%)dan berkhasiat sebagai antiseptik, antispasmodik, antikanker, karminatif,pelega tenggorokan, obat bronkitis, serta digunakan dalam pembuatansabun, parfum, pasta gigi, juga krim kulit. Sebagai tanaman bernilaiekonomi, upaya perbanyakan anis perlu dilakukan. Perbanyakan secara invitro dengan teknik kultur jaringan merupakan salah satu metode alternatifyang dapat digunakan untuk menghasilkan bibit dalam jumlah banyak,seragam dan dalam waktu yang relatif singkat. Dengan penambahansitokinin sintetik tipe urea seperti thidiazuron (TDZ) dan tipe purin sepertibenzil amino purin (BAP) akan memacu inisiasi dan proliferasi tunas.Penelitian ini bertujuan mendapatkan media yang tepat untuk menginduksitunas anis yang optimal dengan penambahan BAP atau TDZ, mengetahuirespon pertumbuhan dan penampakan kultur akibat penambahan berbagaikonsentrasi BAP atau TDZ, serta mempelajari sinergisme yang terjadiantara keduanya. Pada tahap inisiasi, eksplan berupa tunas pucuk diinduksidi dalam media MS padat dengan penambahan BAP (0,1 mg/l; 0,2 mg/l;0,3 mg/l; 1 mg/l; 2 mg/l; 3 mg/l), atau TDZ dengan kisaran konsentrasiyang sama. Tunas terbanyak yang dihasilkan dari dua jenis sitokinin padatahap ini disubkultur ke dalam media yang ditambahkan jenis sitokininyang berbeda (TDZ ke BAP atau BAP ke TDZ) pada konsentrasi 0,3 mg/latau 3 mg/l. Pada media yang ditambahkan TDZ dihasilkan tunas anislebih banyak (3,62-6,28) dibandingkan pada media yang ditambahkanBAP (1,86-2,78), tetapi tunas yang dihasilkan pendek (roset). Sedangkantunas yang dihasilkan dalam media yang ditambahkan BAP beruas lebihtinggi tetapi jumlah tunasnya sedikit. Subkultur tunas anis ke dalam mediayang diperkaya dengan sitokinin yang berbeda meningkatkan jumlah tunasyang berproliferasi dan memperbaiki visual tunas.Kata kunci: Anis, Pimpinellla anisum L. ,  minyak atsiri, multiplikasi tunas,in vitro, TDZ, BAP, Jawa BaratABSTRACTApplication of purine and urea types of cytokinins inshoot multiplication of Anise (Pimpinella anisum L.) invitroPimpinella anisum L. or sweet anise is an annual–herbaceous plantbelongs to the Umbelliferae family. The fruit of anise contains of essentialoil, which is mainly consisted of trans-anethol (90%). Essential oils ofanise is mainly used as an antiseptic, antispasmodic, anticancer,carminative, expectorant and has also been used as component in soap,perfumery, tooth paste, and skin cream productions. Since this crop ismainly cultivated in sub tropical region, anise cultivation in Indonesia hasnot been performed. To obtain sufficient numbers of anise plantingmaterials in vitro propagation was conducted by applying benzyl aminopurine (BAP) and thidiazuron (TDZ). In this research TDZ or BAP wereapplied at various concentrations (0,1 mg/l: 0.2 mg/l; 0.3 mg/l; 1 mg/l; 2mg/l; 3 mg/l), to induce shoots in MS-solid culture media. The highestnumber of shoots obtained in those two type of cytokinins containingmedia from the initiation stage were subcultured into the mediasupplemented with different cytokinins (TDZ to BAP or BAP to TDZ) at0.3 mg/l or 3 mg/l levels. The results showed that medium with theaddition of TDZ resulted in higher numbers of shoot (3,26-6,28) than thatof medium with an addition of BAP (1,86-2,78). However, rosette shootswere dominant in TDZ containing medium. On the other hand, mediumwith an addition of BAP resulted in less numbers of shoots with tallernodes. Subculture of anise into different kinds of cytokinins increased thenumbers of proliferated-shoots and recovered the abnormal shoots.Key words : Anise, Pimpinellla anisum L, essential oils, shootsmultiplication, in vitro, TDZ, BAP, West Java
KARAKTERISTIK FISIOLOGIS ISOLAT Sclerotium sp. ASAL TANAMAN SAMBILOTO HARTATI, SRI YUNI; TAUFIK, E.; SUPRIADI, SUPRIADI; KARYANI, N.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n1.2008.25-29

Abstract

ABSTRAKSclerotium sp. merupakan jamur patogen baru pada tanamansambiloto (Andrographis paniculata Ness.) yang dapat mengakibatkankematian. Penyebaran jamur ini masih terbatas di KP Cimanggu, Bogordan KP Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui  pengaruh  beberapa  faktor  lingkungan  seperti  suhu,kelembaban udara (RH), pH, dan cahaya terhadap pertumbuhan isolatSclerotium sp. asal sambiloto pada media PDA serta kisaran inangnya.Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balai PenelitianTanaman Obat dan Aromatik (Balittro), Tahun 2005. Faktor lingkunganyang diuji yaitu suhu ruangan (20, 28, 35 dan 40) o C, kelembaban udara(RH 55, 75, 85, dan 100)%, pH (4, 5, 6, 7, dan 8) dan kondisi cahaya(terang, gelap, dan terang dan gelap selang 12 jam secara bergantian). Ujikisaran inang dilakukan terhadap 3 varietas jagung (ketan, pematung, dansokong) dan 3 varietas kacang tanah (jerapah, kelinci, dan simpai) sertatanaman sambiloto sebagai pembanding. Inokulasi dilakukan dengan caramenempelkan sclerotia jamur di bagian pangkal batang tanaman uji dekatpermukaan tanah. Pengamatan pertumbuhan jamur pada media agar yangdiperlakukan dan pengamatan intensitas serangan penyakit dilakukansetiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat Sclerotium sp. asaltanaman sambiloto tumbuh baik pada suhu (20-35) 0 C, RH (55-100)%, danpada kisaran pH 4-8 serta pada kondisi terang atau gelap secara terusmenerus maupun bergantian selang 12 jam. Hasil uji kisaran inangmenunjukkan bahwa Sclerotium sp. dapat menyebabkan kematian tidakhanya pada tanaman sambiloto, tetapi juga pada dua varietas kacang tanah(simpai dan jerapah), sedangkan pada jagung tidak menyebabkan kematian(tahan). Hasil penelitian mengindikasikan bahwa isolat Sclerotium sp.yang berasal dari tanaman sambiloto mempunyai kemampuan bertahanhidup dan berkembang pada kondisi lingkungan yang luas (broadspectrum). Ketidakmampuan jamur tersebut menginfeksi tanaman jagungvarietas ketan, pematung, dan sokong dapat digunanakan sebagai salahsatu cara pengendalian patogen dengan sistem tumpangsari dan rotasi.Kata kunci : Sambiloto, Andrographis paniculata Ness, Sclerotium sp.,karakteristik, fisiologis, Jawa BaratABSTRACTPhysiological Characteristics of Sclerotium sp. Isolatedfrom SambilotoSclerotium sp. is a new destructive fungal patogen on sambiloto(Andrographis paniculata Ness.). The distribution of the patogen was stilllimited in Cicurug, Sukabumi and Cimanggu, Bogor, West Java. The aimof this experiment was to observe the growth of Sclerotium sp fromsambiloto under different environmental factors such as temperature,relative humidity, light condition, and pH on PDA medium as well as itshost range. The experiment was conducted in Indonesian Medicinal andAromatic Crops Research Institute (IMACRI) in 2005. The environmentalfactors tested were temperature (20, 28, 35, and 40) o C; relative humidity(55, 75, 85, and 100)%; pH (4-8); and light condition (continuosly on oroff and 12 hours on and off alternatively). The pathogenicity of theSclerotium sp. was tested against 3 varieties of corn (ketan, pematung, andsokong) and 3 varieties of peanut (jerapah, kelinci, and simpai) as well assambiloto as a comparison. Sclerotia of the fungus were inoculated on thestem base of the plant tested. Observation of the growth of the fungusunder different environmental factors and disease intensity on inoculatedplants was conducted everyday. The results showed that the growth ofSclerotium sp. isolate from sambiloto was affected by differentenvironmental factors. The isolate grew well at (20-35) 0 C, relativehumidity ranged from (55-100)%, pH ranged from 4-8, and lightcondition of both continuosly on or off as well as 12 hours on and offalternativelly. The isolate was pathogenic against sambiloto as well asagainst 2 varieties of peanut (simpai and jerapah), however, it was notpathogenic against all the corn varieties tested. The result indicated thatthe isolate of Sclerotium sp. from sambiloto was a broad spectrum fungalpathogen. The resistency of the corn varieties would be of value forcontrolling the disease through mixed cropping or rotation systems.Key words: Sambiloto, Andrographis paniculata Ness, Sclerotium sp.,physiological characteristics, West Java
EVALUASI KERAGAMAN GENETIK PLASMA NUTFAH KELAPA GENJAH DI KEBUN PERCOBAAN MAPANGET BERDASARKAN PENANDA DNA SSRs (Simple Sequence Repeats) KUMAUNANG, JEANETTE; MASKROMO, ISMAIL; MANAROINSONG, ENGELBERT
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n3.2006.116-120

Abstract

ABSTRAKKeragaman genetik sangat penting dalam program pemuliaankelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman genetikplasma nutfah kelapa Genjah yang ditanam secara ex situ di kebun koleksiMapanget, Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain, Manado.Delapan aksesi kelapa Genjah dianalisis keragamannya berdasarkanpenanda DNA SSRs menggunakan 3 primer atau lokus. Hasil analisismenunjukkan bahwa 3 primer SSRs yang digunakan semuanya polimorfikdan menghasilkan 4 - 5 alel per lokus. Kelapa Genjah Salak (GSK)menunjukkan heterozigous pada ke tiga lokus, sedangkan Genjah HijauJombang (GHJ) pada lokus CNZ 51. Dua pohon sampel dari masing-masing aksesi yang dianalisis memiliki kemiripan genetik sebesar 100%kecuali aksesi (GHJ) yang hanya memiliki kemiripan 93 %. Aksesi GSKyang sangat berbeda dengan aksesi lainnya dengan kemiripan hanya 45%.Hal ini menunjukkan bahwa aksesi kelapa GSK dan GHJ memilikibeberapa karakter yang berbeda dan spesifik dibandingkan dengan aksesilainnya, sehingga diperlukan seleksi yang ketat sebelum digunakansebagai materi pemuliaanKata kunci : Kelapa,Cocos nucifera L.,plasma nutfah, keragaman genetik,kelapa Genjah, penanda DNA SSRs, Sulawesi UtaraABSTRACTGenetic diversity evaluation of dwarf coconut germplasmat Mapanget Experimental Garden based on SSRs(Simple Sequence Repeats) markerGenetic diversity is very important in coconut breeding program.The aim of this research was to study genetic diversity of Dwarf Coconutthat have been planted on Mapanget Experimental Garden, IndonesianCoconut and Palmae Research Institute Manado. Eight Dwarf accessionswere analyzed their to find out genetic diversity based on SSRs markerusing three primers or locus. The results showed that three primers SSRswere polymophic and gave 4 -5 allels per locus. Salak Green Dwarf (SGD)showed heterozygous in three loci, while Jombang Green Dwarf (JGD) inlocus CNZ 51. Two sample plants of each accession had genetic similarity100% except JGD only had similarity of 93%. SGD was different withother accessions and only had genetic similarity of 45%. SGD and JGDhad several and specific characters that were different compared to theother accessions and have to be selected before they are used as breedingmaterials.Key words : Coconut, Cocos nucifera L., germplasm, genetic diversitydwarf coconut, marker SSRs
PENGARUH POLATANAM SAMBILOTO - JAGUNG SERTA DOSIS PUPUK ORGANIK DAN ALAM TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees) YUSRON, MUCHAMAD; GUSMAINI, GUSMAINI; M. JANUWATI, M. JANUWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n4.2007.147-154

Abstract

ABSTRAKTuntutan pengguna untuk mendapatkan produk tanaman herbalorganik mendorong upaya untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia danmenggantikannya dengan pupuk organik dan alam. Penelitian lapanguntuk mendapatkan dosis pupuk organik pada pola tanam sambiloto –jagung telah dilaksanakan di KP Cicurug pada bulan Juni – Desember2006. Ukuran plot 3 m x 4 m dengan jarak tanam 30 cm x 40 cm (1tanaman/lubang tanam), ditanam dengan sistem bedengan. Penelitiandilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok yangdisusun secara faktorial. Sebagai faktor pertama adalah polatanam, terdiridari : (1) P0 = monokultur; (2) P1 = polatanam dengan jagung, jarak tanamjagung antar baris 150 cm dan dalam baris 20 cm. Sedangkan sebagaifaktor kedua adalah dosis pupuk per hektar, terdiri dari (a) D1 = 10 tonkompos + 300 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio, (b) D2 = 10 ton kompos+ 300 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio + 300 kg zeolit, (c) D3 = 10 tonkompos + 500 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio, (d) D4 = 10 ton kompos+ 500 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio + 300 kg zeolit, (e) D5 = 20 tonkompos + 300 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio, (f) D6 = 20 ton kompos +300 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio + 300 kg zeolit, (g) D7 = 20 tonkompos + 500 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio, (h) D8 = 20 ton kompos+ 500 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio + 300 kg zeolit, (i) D9 = 10ton pupuk kandang + 200 kg urea + 200 kg SP36 + 100 kg KCl/ha.Perlakuan D9 merupakan dosis pupuk rekomendasi yang dipergunakansebagai pembanding. Dari parameter pertumbuhan yang diamati, hanyajumlah cabang yang dipengaruhi oleh perlakuan polatanam, dosis pupukorganik dan pupuk alam. Polatanam monokultur menghasilkan jumlahcabang lebih banyak dibandingkan pola tumpangsari dengan jagung.Jumlah cabang primer terbanyak 32,92 dicapai pada perlakuan 10 tonkompos + 500 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio. Produksi simplisiasambiloto pada pola monokultur (terbuka) pada panen pertama dan keduaberturut-turut adalah 507,57 kg/ha dan 797,56 kg/ha, lebih tinggi sekitar18% dan 15% dibandingkan dengan produksi simplisia pada polatumpangsari dengan jagung. Produksi jagung pipilan yang diperoleh daripola tumpangsari berkisar antara 3.278 – 4.134 kg/ha. Pada panen pertamaproduksi simplisia sambiloto tertinggi (614,87 kg/ha) diperoleh dariperlakuan dosis pupuk rekomendasi, sedang pada panen kedua (896,63kg/ha) dihasilkan pada dosis 20 ton kompos + 300 kg fosfat alam + 60 kgpupuk bio + 300 kg zeolit. Namun demikian produksi tersebut secarastatistik tidak berbeda nyata dengan produksi pada perlakuan dosis 20 tonkompos + 300 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio + 300 kg zeolit, yaknisebesar 835,10 kg/ha. Semua perlakuan menghasilkan mutu simplisiasambiloto yang memenuhi standar MMI.Kata kunci : Sambiloto, Andrographis paniculata Nees, polatanam,jagung, pupuk organik, pupuk alam, produksi, mutuABSTRACTEffect of Andrographis-corn cropping pattern and dosageof organic and natural fertilizers on yield and quality ofAndrographisAn increase of demand of organic herbal medicinal plantsencourage the effort to change the use of inorganic fertilizers with organicand natural fertilizers. Field experiment on andrographis was conducted atCicurug Research Station from June to December 2006. The aim of thisexperiment was to obtain optimum dose of organic and natural fertilizersof andrographis – corn cropping pattern. The experiment was conductedusing factorial randomized block design and three replications, where theplot size was 3 m x 4 m and planting space was 30 cm x 40 cm. The firstfactor was cropping systems i.e. (1) P0 = monoculture and (2) P1 =intercropping of andrographis and corn (planting space of corn was 150cm x 20 cm), while the second factor was dose of organic and naturalfertilizers per hectare, i.e.: (a) D1 = 10 ton compost + 300 kg rockphosphate + 60 kg biofertilizer, (b) D2 = 10 ton compost + 300 kg rockphosphate + 60 kg biofertilizer + 300 kg zeolite, (c) D3 = 10 ton compost+ 500 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer, (d) D4 = 10 ton compost +500 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer + 300 kg zeolite, (e) D5 = 20ton compost + 300 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer, (f) D6 = 20 toncompost + 300 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer + 300 kg zeolite,(g) D7 = 20 ton compost + 500 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer, (h)D8 = 20 ton compost + 500 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer + 300kg zeolite, (i) D9 = 10 ton manure + 200 kg Urea + 200 kg SP36 + 100 kg.Treatment D9 is a recommended fertilizers dose, which was used as acomparative dose. The result showed that cropping pattern and naturalfertilizers dosage did not affect growth parameters, except number ofbranch. Cropping pattern and natural fertilizers dosage significantlyaffected number of branch. The highest number of branch of 32.92 wasachieved on fertilizers dosage of 10 ton compost + 500 kg rock phosphate+ 60 kg biofertilizer. The treatments significantly affected yield ofsymplicia of andrographis. The yield of symplicia of monoculture systemat the first harvest was 507.07 kg/ha and the second was 797.56 kg/ha,which was 18% and 15% higher than that of intercropped system. Yield ofcorn ranged between 3,278 kg/ha and 4,134 kg/ha. At the first harvest, thehighest symplicia yield (614.87 kg/ha) was achieved at the treatment ofinorganic recommended dosage, while at the second harvest the highestyield of andrographis symplicia (896.63 kg/ha) was obtained from thetreatment of 20 ton compost + 300 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizerdan 300 kg zeolite. This value, however, was not significantly different tothe yield of the treatment of 10 ton compost + 300 kg rock phosphate + 60kg biofertilizer + 300 kg zeolite, which was 835.10 kg/ha. All treatmentsresulted good quality of symplicia which meet MMI standard quality.Key words : Andrographis paniculata Nees, cropping pattern, corn,organic fertilizers, natural fertilizers, yield, quality
HASIL DAN STABILITAS HASIL DUA PULUH GENOTIPE JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) SELAMA SEMBILAN BELAS BULAN BERPRODUKSI EDI WARDIANA; DIBYO PRANOWO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.126-133

Abstract

ABSTRAKPengujian interaksi genotipe dengan lingkungan (GxE) serta analisisstabilitas hasil suatu genotipe merupakan hal yang penting dalam programpemuliaan tanaman. Penelitian dengan tujuan untuk menganalisis hasil danstabilitas hasil 20 genotipe tanaman jarak pagar telah dilakukan di KebunPercobaan Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat, pada ketinggian tempat 450m dpl dengan jenis tanah Latosol dan tipe iklim B mulai bulan Mei 2008sampai Desember 2009. Rancangan yang digunakan adalah acak kelom-pok lengkap dengan 20 perlakuan genotipe tanaman dan tiga ulangan.Peubah yang dianalisis adalah jumlah buah panen selama 19 bulanberproduksi. Analisis ragam dilakukan secara gabungan antara 20 genotipedengan 19 lingkungan (umur tanaman) dan analisis stabilitas hasilmengikuti metode Eberhart dan Russel (1966). Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa berdasarkan pada hasil jumlah buah panen selama 19 bulanberproduksi terdapat enam genotipe jarak pagar yang dapat diklasifikasi-kan ke dalam genotipe yang berdaya hasil tinggi dan stabil, yaitu PT7,PT13, PT14, PT15, PT33, dan 3189. Sedangkan MT7 dan HS49diklasifikasikan ke dalam genotipe berdaya hasil tinggi tetapi tidak stabil.Kata kunci : Jatropha curcas L., interaksi GxE, hasil, stabilitas hasilABSTRACTYield and yield stability of twenty genotypes of physic nut(Jatropha curcas L.) during nineteen months ofproductionGenotype and environment interaction (GxE) and yield stabilityanalysis of the genotypes is more important in plant breeding program.This experiment was carried out from May 2008 until December 2009 atPakuwon Experimental Station, Sukabumi, West Java with altitude about450 m above sea level, Latosol soil type and B climate type. The objectiveof this experiment was to analyze the yield and yield stability of 20genotypes of physic nut. Randomized complete block design with 20treatments of physic nut genotype and three replications was used in thisstudy, and the variabel observed was number of fruit harvested per month.Data were analyzed by combined analysis of variance and stabilityanalysis using Eberhart and Russel (1966) methods. Result showed thatbased on number of fruit harvested during 19 months production the PT7,PT13, PT14, PT15, PT33 and 3189 were classified as high yielding andstable genotypes. While, MT7 and HS49 were classified as high yieldingand unstable genotypes.Key words : Jatropha curcas L., GxE interaction, yield, yield stability.
SINERGISME ANTARA NEMATODA PATOGEN SERANGGA Steinernema sp. DAN MINYAK BIJI JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) TERHADAP MORTALITAS DAN EFEK LANJUTAN LARVA Spodoptera litura F. . Tukimin; Elna Karmawati; Heri Prabowo
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n2.2014.93-100

Abstract

PENGARUH PUPUK KISERIT TERHADAP PERTUMBUHAN KELAPA SAWIT DAN PRODUKTIVITAS TANAH A. KASNO; NURJAYA NURJAYA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n4.2011.133-139

Abstract

ABSTRAKPerluasan lahan perkebunan kelapa sawit lebih diarahkan padalahan-lahan di luar Pulau Jawa. Lahan yang tersedia bersifat marginalseperti pada tanah Ultisols dan Oxisols. Pada lahan tanah tersebut telahmengalami pencucian yang hebat karena curah hujan yang tinggi sehinggakadar hara Mg rendah. Sumber hara Mg yang banyak digunakan adalahpupuk kiserit (Mg dan S), dolomit (Ca dan Mg) dan pupuk majemuk.Penelitian bertujuan untuk mempelajari peranan pupuk kiserit terhadappertumbuhan dan produktivitas tanah. Penelitian dilakukan di kebunpembibitan Cimulang, Kabupaten Bogor (PTP. Nusantara VIII), padaFebruari – Desember 2005. Tanah yang digunakan untuk penelitian adalahUltisols dan Oxisols. Rancangan menggunakan acak kelompok, 5perlakuan, ulangan 9 kali. Satu perlakuan terdiri dari satu tanaman bibitkelapa sawit. Pupuk Mg yang digunakan adalah kiserit powder 2 Pandadan kiserit yang telah beredar di pasaran sebagai standar. Dosis pupukkiserit yang dicoba: 0; 0,5; 1,0; dan 1,5 g/tanaman. Pupuk kiserit danpupuk dasar diberikan setiap 2 minggu sekali atau 12 kali pemberian.Pemupukan pertama diberikan pada umur 1 minggu, mulai pemupukan ke-2 dosis pupuk dikalikan 2, mulai minggu ke 10 dosis pupuk dikalikan 3,dan mulai minggu ke-18 dosis pupuk dikalikan 4. Contoh tanah bulk darilapang dikeringanginkan, diayak dengan saringan 2 mm, ditimbang 20 kgdan dimasukkan ke dalam polybag. Hasil penelitian menunjukkan bahwapemupukan kiserit pada Ultisols dapat meningkatkan tinggi, jumlah daun,diameter batang, bobot kering tanaman bibit kelapa sawit, serta mening-katkan hara Mg dalam tanah dari 1,25 menjadi 3,04 me/100 g dan kadarMg dalam tanaman menjadi 0,31 g/100 g. Pemupukan kiserit pada Oxisolsmeningkatkan tinggi, jumlah daun, diameter batang, bobot kering tanamanbibit kelapa sawit, serta meningkatkan hara Mg dalam tanah dari 0,28menjadi 2,36 me/100 g dan kadar Mg dalam tanaman menjadi 0,34 g/100g.Dosis optimum pupuk kiserit pada Ultisols dan Oxisols sama yaitu 0,80 g/tanaman. Pengaruh pupuk kiserit terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawitdan produktivitas tanah sama dengan kiserit yang telah beredar di pasaransebagai standar.Kata kunci: Elaeis guineensis, pupuk kiserit, status hara Mg, pertumbuhantanaman, produktivitas tanahABSTRACTThe Effect of Kieserite Fertilizer to Oil Palm Growth andSoil ProductivityThe expansion of oil palm plantation is driven to outside JavaIsland. The available lands are marginal such as Ultisols and Oxisols,where intensive bleaching occurs for the high rate of rainfall, and causesthe low content of magnesium in such land. There are three sources used toprovide the Mg nutrient, such as kieserite (Mg and S), dolomite (Ca andMg) and compound fertilizer. The objective of this experiment was tostudy the effect of kieserite fertilizer on plant growth and soil productivity.This research was conducted in the seedling plot of Cimulang Site, BogorDistrict (PTP. Nusantara VIII) in February- December 2005 on Ultisolsand Oxisols using a randomized complete block design with 5 treatmentsand 9 replicates. One oil palm seedling was planted in each treatment. Thisexperiment used kieserite powder 2 Panda to provide Mg and ordinaryKieserite as the standard. The kieserite dosages were 0, 0.5, 1.0, and 1.5g/plant. Fertilizing the plot was done every 2 weeks, using kieserite andbasic fertilizer or fertilizing 12 times, but the first fertilization was donewhen the plants reached 1 week of age. Starting on the second fertilization,the dosage was multiplied 2 times, and starting on the 10 th week, thedosage was multiplied 3 times, and starting on 18 th week the dosage offertilizing is multiplied 4 times. Bulk soil samples were air-dried, sievedpassing 2 mm siever, and put 20 kg into polybags. The research resultshowed that kieserite fertilization on Ultisols increased plant height,number of leaves, stems (leaf midrib) diameter, dry weight of biomass, Mgnutrient content in the soil (from 1.25 to 3.04 me/100 g), and alsoincreased the plant Mg content to become 0.31 g/100 g. In addition,kieserite fertilization on Oxisols increased plant height, number of leaves,stems (leaf midrib) diameter, plant dry weight of oil palm seedling, Mgnutrient content in the soil, (from 0.28 into 2.38 me/100 g), and increasedplant Mg content into 0.34 g/100 g. The optimum kieserite fertilizingdosage on Ultisols and Oxisols was just the same, i.e. 0.80 g/plant. Theeffect of these two kinds of kieserite to the plant growth and soilproductivity was just almost the same.Key words: Elaeis guineensis, kieserite fertilizer, Mg nutrient status, plantgrowth, soil productivity
PENAMBAHAN KLORIDA DAN BAHAN ORGANIK PADA BEBERAPA JENIS TANAH UNTUK PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT A. KASNO; DEDI SOLEH EFFENDI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n2.2013.78-87

Abstract

ABSTRAKKelapa sawit (Elaeis guineensis) berkembang pesat di Indonesiadan  penggunaan  pupuk  meningkat.  Pada  awalnya  pupuk  KClmemperhitungkan hara K, namun diketahui hara Cl juga merupakan haramikro esensial. Penelitian bertujuan mempelajari penambahan Cl danbahan organik terhadap pertumbuhan dan kadar Cl dalam tanaman danakar kelapa sawit. Penelitian dilakukan di rumah kaca Balai PenelitianTanah, Bogor, tahun 2011. Contoh tanah diambil dari Cinangneng, Bogor(Inceptisols), Cigudeg, Bogor (Oxisols), Kentrong, Lebak (Ultisols), danSumatera Selatan (Gambut). Bibit kelapa sawit varietas Avros umur tigabulan ditanam dalam polibag dan dipanen setelah berumur 8 bulan.Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah, dengan petak utamaempat jenis tanah, dan empat anak petak, yaitu (1) Kontrol (-Cl), (2) KCl,(3) NPK, dan (4) KCl + bahan organik. Setiap perlakuan diulang 4 kali.Parameter yang diamati tinggi tanaman, diameter batang, bobot keringtanaman dan akar, analisis Cl dalam tanah, daun, dan akar. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pemberian Cl menurunkan pertumbuhan bibit kelapasawit pada Oxisols, namun meningkatkan pada Inceptisols, Ultisols, danGambut. Pemberian bahan jenis organik nyata meningkatkan pertumbuhankelapa sawit pada ke empat tanah. Pemberian hara Cl tidak meningkatkanbobot kering tanaman kelapa sawit pada Inceptisols, Oxisols, dan Gambut,namun meningkatkan bobot kering tanaman pada Ultisols. Pemberian haraCl meningkatkan bobot kering akar tanaman kelapa sawit pada ke empatjenis tanah, namun meningkatkan kadar Cl dalam akar kelapa sawit,sedangkan pemberian hara Cl tidak meningkatkan kadar Cl dalam daun,kecuali pada Oxisols. Pemberian bahan organik menurunkan kadar Cldalam daun pada Ultisols dan tanah Gambut.Kata kunci: bahan organik, Elaeis guineensis, jenis tanah, klorida,pertumbuhanABSTRACTOil palm (Elaeis guineensis) was growing rapidly in Indonesiaand fertilizers use increased. Initially KCl were calculated as K nutrient,but it is known that Cl is also an essential micronutrients. The researchaimed at studying the Cl and organic matter application on growth and Clcontent in plants and roots of oil palm. The study was conducted in thegreenhouse of Soil Research Institute, Bogor, in 2011. Soil samples weretaken from Cinangneng, Bogor (Inceptisols), Cigudeg, Bogor (Oxisols),Kentrong, Lebak (Ultisols) and South Sumatra (Peat). AVROS varieties ofoil palm seedlings used 3 months being planted in polybags and harvestedafter 8 months. The experiment design used was split plot design, withfour soil types as main plot, and four sub plots e.i. (1) Control (-Cl), (2)KCl, (3) NPK, and (4) KCl + organic matter. Every treatment repeatedfour times. Parameters observed are plant height, stem diameter, plant androot dry weight and Cl analysis in soil, leaves, and roots. The resultshowed that Cl application decreasing oil palm growth in Oxisols. Organicmatter application siqnificant increase of oil palm growth on the fourthsoil. The application of Cl nutrient did not increase the dry weight of plantin Inceptisols, Oxisols, and Peat soil, but increased the dry weight of plantson Ultisols. The application of Cl did not increase root dry weight in thefour soils, but increased Cl content in the roots in the four soil. While theapplication of Cl did not increase of Cl content in leaves, except inOxisols. Organic matter application can reduce the content of Cl in theleaves on the Ultisols and Peat soil.Key words: organic matter, Elaeis guineensis, soil type, chloride, growth
SKRINING KETAHANAN SOMAKLON NILAM TERHADAPP PENYAKIT LAYU BAKTERI (Ralstonia solanacearum) S. Y. HARTATI; E. HADIPOENTYANTI; AMALIA AMALIA; NURSALAM NURSALAM
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n3.2015.131-138

Abstract

ABSTRAKLayu   bakteri  yang   disebabkan   oleh   Ralstonia   solanacearum merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman nilam. Perakitan varietas nilam tahan terhadap penyakit tersebut yang dilakukan melalui induksi keragaman somaklonal telah menghasilkan beberapa somaklon yang tahan terhadap R. solanacearum secara in-vitro. Tujuan penelitian adalah menguji tingkat ketahanan somaklon tersebut terhadap penyakit layu  pada  kondisi  rumah  kaca (in-vivo).  Penelitian  disusun  dalam Rancangan  Acak  Lengkap  dengan 27  perlakuan, 3  ulangan,  dan 10 tanaman/ulangan. Sebagian akar dari somaklon nilam dilukai (dipotong), selanjutnya diinokulasi (disiram) dengan suspensi R. solanacearum dengan berbagai konsentrasi 105, 107, dan 109 cfu/ml, sebanyak 50 ml/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa somaklon yang diinokulasi dengan konsentrasi 105 cfu/ml, 50  ml/tanaman  semuanya  tidak  menunjukkan gejala layu. Somaklon yang diinokulasi dengan konsentrasi 107 dan 109cfu/ml,  50 ml/tanaman, sebagian layu dan mati.  Dari somaklon yang7diinokulasi dengan konsentrasi 10     cfu/ml, 50 ml/tanaman, 8 di antaranyamenunjukkan respon sangat tahan, 4 tahan, dan 5 agak tahan. Ke 17 somaklon tersebut mempunyai intensitas penyakit <50% dan semua lebih tahan dari pada varietas Sidikalang (agak toleran). Dari 17 somaklon yang diinokulasi dengan konsentrasi 109 cfu/ml, 50 ml/tanaman, 2 di antaranya sangat tahan dan 7 somaklon tahan. Teknik skrining ini dapat digunakan sebagai  metode  standar  untuk pengujian  ketahanan  nilam  terhadap penyakit layu.Kata kunci:  Skrining  ketahanan,  somaklon,  nilam,  penyakit  layu,  R. solanacearum. ABSTRACTResistance-Screening of Patchouli Somaclones on Bacterial Wilt Disease (Ralstonia solanacearum) Bacterial wilt caused by Ralstonia solanacearum is one of the most important  diseases  on patchouli.  The  developing patchouli resistance varieties against  wilt  disease  conducted  through the  induction  of somaclonal variation produced resistant patchouli somaclones against R. solanacearum (in-vitro). The aim of this  research was to screen the resistance of those patchouli somaclones against wilt disease under a glass house condition (in-vivo). The research was conducted in a Randomized Completely Design  with 27 treatments, 3  replicates,  and 10  plants/ replicate. Some roots of the patchouli somaclones were wounded (cut), then inoculated (drenched)   with   R.   solanacearum  suspension   in concentration of 105, 107, and 109 cfu/ml; 50 ml/plant. The result showed, that all the patchouli somaclones inoculated with R. solanacearum 105 cfu/ml, 50 ml/plant were not show any wilt sympthom. Whereas, some somaclones inoculated with the higher concentration 107 and 109 cfu/ml, 50 ml/plant were wilted and died. Among the somaclones inoculated with  the concentration of 107  cfu/ml, 50 ml/plant, 8 of them were highly  resistant, 4 were resistant, and 5 were moderately resistant. The disease  intencity of those 17 somaclones were <50% and they were more resistant than  the  Sidikalang  variety  (moderately  tolerant).  Among  those  17 somaclones inoculated with the concentration of 109 cfu/ml, 50 ml/plant, 2 of them were highly resistant and 7 were resistant. This screening method could be used as a standard protocol for patchouli resistance screening against wilt disease.Kata kunci: Screening resistance, somaclone, patchouli, wilt disease, R. solanacearum.
PERUBAHAN BIOLOGIS DAN FISIOLOGIS SEBAGAI INDIKATOR MASAK BENIH KAKAO HIBRIDA BAHARUDIN BAHARUDIN; M.R. SUHARTANTO; S. ILYAS; A. PURWANTARA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n2.2011.41-50

Abstract

ABSTRAKProgram pengembangan dan rehabilitasi tanaman kakao membutuh-kan benih bermutu. Mutu benih antara lain ditentukan oleh saat panenyang tepat, terutama berhubungan dengan masak fisiologis. Beberapaindikator penting yang berkaitan dengan masak fisiologis benih adalahkarakteristik biologis dan fisiologis. Penelitian telah dilaksanakan diKebun Induk Benih Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember,Laboratorium Fisika dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih IPB,serta Rumah Kaca Balai Penelitan Bioteknologi Perkebunan Indonesia,Bogor pada bulan Februari-September 2008. Penelitian ini bertujuan untuk(1) mempelajari perubahan biologis dan fisiologis selama perkembanganbenih kakao hibrida, (2) mengetahui hubungan antar berbagai karakterbiologis dan fisiologis benih yang mencerminkan mutu benih, dan (3)menentukan saat panen yang tepat benih kakao hibrida TSH 858 xSca 6 dan ICS 60 x Sca 6. Benih yang digunakan berasal dari hasilpersilangan buatan antara kakao TSH 858 x Sca 6 dan ICS 60 x Sca 6.Umur panen benih yang digunakan dalam penelitian adalah 120, 135, 150,165, dan 180 hari yang dihitung saat setelah antesis, dan setiappengamatan diulang 4 kali. Analisis data disajikan dalam bentuk grafikdengan data primer ditambah standar deviasi dalam program Excel danuntuk mengetahui hubungan dari masing-masing karakter mutu benihdilakukan ”analisis path” menggunakan SAS dari Windows v 9.1. Hasilpenelitian menunjukkan dua fase perkembangan benih. Fase perkem-bangan hingga masak fisiologis (fase 1) dan fase setelah masak fisiologis(fase 2) kakao hibrida TSH 858 x Sca 6 dan ICS 60 x Sca 6. Masakfisiologis benih kakao hibrida TSH 858 x Sca 6 tercapai pada saat 150HSA dan ICS 60 x Sca 6 pada 165 HSA. Daya kecambah, indeks vigor,K CT -R, T 50 , bobot basah dan bobot kering benih, karotenoid dan antosianinbenih dan buah, jumlah daun, dan tinggi bibit dari benih kakao hibridaTSH 858 x Sca 6 dan ICS 60 x Sca 6 mencapai maksimum pada saatmasak fisiologis dan menurun pada fase kedua. Selama periodeperkembangan benih terjadi penurunan total klorofil benih dan buah,sedangkan warna buah kuning mengalami peningkatan. Karakter yangberhubungan langsung dengan mutu benih pada saat masak fisiologisbenih kakao hibrida TSH 858 x Sca 6 dan ICS 60 x Sca 6 adalah warnabuah kuning, indeks vigor, total klorofil benih dan buah, karotenoid danantosianin benih, T 50 , tinggi bibit, K CT -R, dan bobot kering benih.Kata kunci: Theobroma cacao, biologi benih, fisiologi benih, karakteristikbenih, mutu benihABSTRACTBiological and Physiological Changes as Indicator ofMaturity of Hybrid Cacao SeedThe development and rehabilitation programs of cacao need highquality seeds. The high quality of cacao seeds is influenced by seedsphysiological maturity and harvesting time. Several important indicatorsrelated to the seed physiological maturity are biological and physiologicalcharacters. The research objectives were: (1) to study biological andphysiological changes during of seed development, (2) to study on thecorrelation of various characteristics related with seeds physiology andquality, (3) to determine the most appropriate harvesting time for hybridcacao seed of TSH 858 x Sca 6 and ICS 60 x Sca 6. The research wasconducted at Coffee and Cacao Research Institute of Indonesia(Puslitkoka) in Jember, IPB Biophysics and Seeds and TechnologyLaboratory and Biotechnology Research Institute for Estate CropsIndonesia glass house in Bogor from February to September 2008. Theseeds were originated from hand pollination of TSH 858 vs Sca 6 and ICS60 vs Sca 6 hybrids from Puslitkoka Jember. The seeds for this researchwere harvested on: 120, 135, 150, 165, and 180 days after anthesis (DAA);with four replications each. Data were analyzed and presented as graphs,standard deviation in excel; while the relationship of each character ofseeds quality was determined using path analysis by SAS for Windows v.9.1. The results showed that the seed physiological changed on two phasesduring its development. The first phase started from seeds development upto physiological maturity for TSH 858 x Sca 6 and as well ICS 60 x Sca 6hybrids, and second phases started after physiological maturity. Thephysiological maturity of each seeds is 150 DAA for TSH 858 x Sca 6 and165 DAA for ICS 60 x Sca 6 hybrids. Seed germination percentage, vigorindex, germination rate (K CT -R and T 50 ), wet and dry weight of seed, seedsand fruits carotenoid content, seed and fruit anthocyanin content, numberof leaves, and height of seedling reached maximum when seed achievedphysiological maturity and decreased afterward. During seed development,there was decreasing of seeds and fruits chlorophyll content and increasedfor the yellow color of fruit. The characters which showed directcorrelation with seeds quality during seed development of TSH 858 x Sca6 and ICS 60 x Sca 6 hybrids are: yellow color of fruit, vigor index,chlorophyll content for seeds and fruit, seed carotenoid and anthocyanincontent, germination rate (T 50, K CT -R), seedling height and seed dry weight.Key words: Theobroma cacao, seed biological, seed physiological, seedcharacteristic, seed quality

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue