cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
INDUKSI KALUS DAN REGENERASI DUA VARIETAS TEBU (Saccharum officinarum L.) SECARA IN VITRO SUHESTI, SRI; KHUMAIDA, NURUL; WATTIMENA, G. A.; SYUKUR, MUHAMAD; HUSNI, ALI; HADIPOENTYANTI, ENDANG; HARTATI, RR. SRI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n2.2015.77-88

Abstract

ABSTRAKPerbanyakan tebu umumnya dilakukan secara vegetatif mengguna- kan setek. Teknik ini mempunyai keterbatasan memproduksi jumlah bibit dalam skala besar. Dalam rangka mendukung peningkatan produktivitas, maka perlu pemenuhan bibit tebu dalam skala besar. Kultur jaringan merupakan   teknologi   alternatif   yang   dapat   dikembangkan   untuk pemenuhan bibit dalam jumlah yang banyak. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan formulasi media terbaik untuk induksi kalus dan regenerasi tebu varietas Kidang Kencana dan PSJT 941. Penelitian dilakukan di Laboratorium Unit Pengelola Benih Unggul Pertanian, Pusat Penelitian dan  Pengembangan  Perkebunan,  Bogor  dari  bulan  Februari  sampai September 2012. Penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu induksi kalus, regenerasi tunas dan perakaran, serta aklimatisasi. Bahan tanaman tebu yang digunakan adalah daun muda varietas Kidang Kencana dan PSJT 941 yang masih menggulung. Empat formulasi media digunakan pada tahap induksi kalus. Sementara itu, pada tahap regenerasi tunas dan perakaran menggunakan tujuh formulasi media. Aklimatisasi menggunakan media tanah steril dan kompos (2:1). Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial, terdiri atas dua faktor dan diulang sepuluh kali. Faktor pertama adalah varietas dan kedua adalah formulasi media. Hasil penelitian menunjukkan media induksi kalus terbaik untuk varietas  Kidang  Kencana  adalah 2,4-D 9 µM  +  Picloram  4,5  µM, sedangkan PSJT 941 adalah 2,4-D 13,5 µM. Media regenerasi dapat digunakan untuk menginduksi tunas sekaligus perakaran. Media regenerasi terbaik varietas Kidang Kencana dan PSJT 941 adalah IBA 2,46 µM + BAP 1,33 µM. Kedua varietas dapat diaklimatisasi di rumah kaca dengan tingkat keberhasilan tinggi (80-100%).Kata kunci: Saccharum officinarum, tebu, kultur jaringan, organogenesis,                 perbanyakan Callus Induction and Plant Regeneration of Two Sugarcane Varieties (Saccharum officinarum L.) through In VitroABSTRACTGenerally, sugarcane propagation was done by vegetative cuttings. The technique had limitation of producing seeds in a large scale. In order to increase productivity of sugarcane, it is required to provide sugarcane seeds in large scale. Tissue culture is an alternative technique that can be developed to provide the seeds. The objective of this research was toobtain the best formulations for callus induction and regeneration of Kidang Kencana and PSJT 941 varieties. The study was conducted in the Laboratory of Superior Farm Seeds Management Unit, Indonesian Agency for Agricultural Research and Development, Bogor from February until September 2012. The researches were carried out in three steps, name lycallus induction, regeneration of shoots and roots, and acclimatization. Explant  material  used  was  young  rolled  leaves  collected  from  two sugarcane  varieties (Kidang  Kencana  and  PSJT 941).  Four  media formulations used for callus induction, while seven media formulations used for shoots and roots regeneration. Acclimatization used sterile soil and compost (2:1). The experiment arranged in Factorial Completely Randomized Design with two factors and ten replications. The first factor was varieties and second factor was media formulations. The results showed that the best callus induction media for Kidang Kencana was 2.4- D 9 µM + Picloram 4.5 µM, while for PSJT 941 was 2.4-D 13.5 µM. Regeneration  media  could  induce both  shoots  and  roots.  The  best regeneration media for Kidang Kencana and PSJT 941 were IBA 2.46 µM + BAP 1.33 µM. They could be acclimatized successfully in green house with highly percentage (80-100%).Key words:  Saccharum officinarum,  sugarcane, tissue culture, organo- genesis, multiplication
HUBUNGAN ANTARA KARAKTER VEGETATIF DE NGAN PRODUKSI PATI SAGU BARUQ ELSJE T. TENDA; . MIFTAHORRACHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n4.2014.203-210

Abstract

ABSTRAK Sagu baruq merupakan tanaman sumber karbohidrat yang diambil dari batang. Masalah yang dihadapi adalah seleksi produksi pati pada setiap pohon. Banyak atau sedikitnya produksi pati akan diketahui setelah pohon ditebang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi genetik plasma nutfah sagu baruq, terutama untuk mengetahui korelasi antara  karakter-karakter  vegetatif  dengan  produksi  pati,  yang  dapat dimanfaatkan untuk kegiatan seleksi tetua. Salah satu alat yang bisa digunakan untuk mendapatkan informasi ini adalah metode sidik lintas. Karakter yang diamati adalah tinggi batang, jumlah daun, panjang rachis, panjang dan lebar petiol, panjang, lebar, dan jumlah anak daun, serta berat batang, empulur, dan pati. Pengumpulan data dilakukan dengan mengacu pada metode Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan tahun 2005. Data yang terkumpul dianalisis koefisien korelasinya untuk mengetahui hubungan langsung dan tidak langsung karakter-karakter vegetatif dengan berat  tepung  sebagai  komponen  hasil.  Perhitungan  koefisien  lintas mengacu pada metode matriks oleh Singh dan Chaudari. Hasil yang diperoleh   menunjukkan   terdapat   enam   karakter   yang   berpengaruh langsung terhadap berat tepung dan dapat dijadikan seleksi peningkatan produksi pati sagu baruq di Tabukan Tengah. Sementara itu, di Manganitu, terdapat sembilan karakter yang dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi untuk perbaikan tanaman. Selain pengaruh langsung, dihasilkan juga 12 pengaruh tidak langsung yang dapat dipertimbangkan sebagai kriteria seleksi populasi sagu baruq di Tabukan Tengah dan 10 pengaruh tidak langsung untuk Manganitu.Kata kunci:  Arenga macrocarpha,  hubungan, karakter vegetatif, produksi pati   Relationship Between Vegetative Characters an d SagoBaruq Starch Production From Sangihe District ABSTRACT Baruq sagu is an important source of carbohydrate from the stem, constrain in cultivation was difficulty in selecting high yield plants. The experiment   was   conducted   at   the   District   Tabukan   Tengah   and Manganitu Sangihe Regency, North Sulawesi in May 2012. The purpose of this study was to obtain genetic information for germplasm of sago Baruq,  especially  to  determine  the  correlation  between  vegetative characters  and the production of starch, which  later can be used as the selection of mother palms. One of the tools that can be used to obtain this  information was the method of path analysis. Research methods used  was direct observation in the field. The number of plants observed for  each  site 1 0    trees,  which  were  randomly  selected.  Characters observed were plant height, number of leaves, rachis length, length of petiol, petiol width, length of the leaf,  width of  leaf,  number of leaves, stems weight, pith weight, and weight of starch. The collected data were analyzed  to  determine  the  direct  and  indirect  relationship  between vegetative characters and weight of starch using path analysis. The result showed  that 10  vegetative  characters  of  Baruq  sago  population  in Tabukan  Tengah   District,  Sangihe  regency  produced  six  characters directly influence the character of the starch weight and can be used as selection   criteria   to   increasing   production   of   baruq   sago   starch. Meanwhile, in District Manganitu 9 characters can be used as selection criteria for crop  improvement. In  addition to the direct  effects, 12 indirect effects can be considered as a selection criteria for sago baruq population in District Tabukan Tengah and 10 indirect effects for the population baruq sago in the District Manganitu. Keywords:   Arenga  macrocarpha ,  relationships,  vegetative  character,       starch production
PENGUPASAN KULIT BUAH LADA DENGAN ENZIM PEKTINASE SRI USMIATI; NANAN NURDJANNAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n2.2006.80-86

Abstract

ABSTRAKTahap perendaman dalam pengolahan lada putih secara tradisionalyang biasa memakan waktu lebih dari 8 hari sangat mempengaruhi kualitaslada putih yang dihasilkan. Proses perendaman yang lama dapatmenyebabkan produk berbau busuk dan kemungkinan kontaminasi olehmikroba yang tidak dikehendaki menjadi lebih besar. Dengan demikianproses perendaman perlu dipercepat tetapi kulit buah lada tetap menjadilunak dan mudah dikupas. Salah satu kemungkinannya adalah denganproses enzimatis menggunakan pektinase. Telah ada cara pengolahan ladaputih secara masinal yang dapat meningkatkan mutu lada, namun cara iniperlu perlakuan pelunakan kulit buah lada sebelum pengupasan untukmeningkatkan kapasitasnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahuikemungkinan penggunaan pektinasi untuk melunakkan kulit buah lada danmutu lada putih yang dihasilkannya. Penelitian dilakukan pada bulanAgustus 2005 di Laboratorium Proses Balai Besar Penelitian dan Pengem-bangan Pascapanen Pertanian. Penelitian dirancang menggunakan ran-cangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 2 dengan ulangan 4 kali.Faktor perlakuan terdiri atas: (i) pemberian pektinase (A) yaitu A1 (1%)dan A2 (2%); dan (ii) pemberian asam sitrat (B) yaitu B1 (0%) dan B2(2%). Parameter yang diukur meliputi nilai total mikroba/TPC (Total PlateCount) (CFU/ml), rendemen (%), warna yang dinyatakan dalam derajatkecerahan, kemerahan dan kebiruan, kadar minyak atsiri dan air (%). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pemberian enzim pektinase dapat memper-pendek waktu perendaman sebelum pengupasan menjadi 24 jam dan ladaputih yang diberi perlakuan pektinase 1% dan asam sitrat 2% mempunyaiwarna yang relatif sama dengan yang dihasilkan dengan cara perendamanbiasa/tradisional dengan nilai TPC yang jauh lebih rendah. Hal inimenunjukkan adanya kemungkinan perlakuan dengan pektinase ini dipakaisebagai perlakuan pendahuluan dalam pengupasan lada secara masinal. Disamping itu pemberian pektinase dapat dipertimbangkan untuk memper-cepat proses perendaman dalam proses pengolahan lada putih secaratradisional.Kata kunci: Piper nigrum L., lada putih, mikroba, pektinase, asam sitratABSTRACTPepper skin decorticating process using pectinase enzymeSoaking process as a part of traditional white pepper processingwhich is usually done for more than 8 days influence the quality of whitepepper produced. Long soaking process could produce bad odour andincrease  the  possibility  to  be  contaminated  with  undesirablemicroorganism. For that reason the soaking process duration should beshortened but still could make the pepper skin to be soft enough to bepeeled. Enzimatic process using pectinase enzyme is one of methodswhich can be used. The mechanical process to improve the quality ofwhite pepper is available, but to increase its capacity the softening pepperskin process is needed. The aim of this study was to find out the possibilityof using pectinase to softening the pepper skin in white pepper processingand the quality of white pepper produced. The study was designed asCompletely Randomized Design (CRD) factorially 2x2 with 4 replications.Treatments consisted of: (i) pectinase (A): A1 (1%) and A2 (2%), and (ii)citric acid: B1 (0%) and B2 (2%). Parameters observed were total platecount (CFU/ml), yield (%), colour which was stated as degree of lightness,redness and bluish, essential oil concentration (%) and moisture content(%). The result showed that the use of pectinase could decrease thesoaking period to 24 hours. The colour value of white pepper producedwith 1% pectinase and 2% citric acid treatments was relatively the samewith the one produced by traditional method, with much TPC value. Basedon the above result, pectinase could be consider to be applied in traditionalmethod to decrease the soaking process and it could also use to softenedthe pepper skin before mechanical decorticating process.Key words: Piper nigrum L., white pepper, microbes, pectinase enzyme,citric acid
APLIKASI SITOKININ TIPE PURIN DAN UREA PADA MULTIPLIKASI TUNAS ANIS (Pimpinellla anisum L.) IN VITRO ROSTIANA, OTIH
853-8212
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKAnis (Pimpinella anisum L.) merupakan tanaman herba tahunanyang termasuk ke dalam famili Umbelliferae. Buahnya diketahuimengandung minyak atsiri yang didominasi senyawa trans-anethol (90%)dan berkhasiat sebagai antiseptik, antispasmodik, antikanker, karminatif,pelega tenggorokan, obat bronkitis, serta digunakan dalam pembuatansabun, parfum, pasta gigi, juga krim kulit. Sebagai tanaman bernilaiekonomi, upaya perbanyakan anis perlu dilakukan. Perbanyakan secara invitro dengan teknik kultur jaringan merupakan salah satu metode alternatifyang dapat digunakan untuk menghasilkan bibit dalam jumlah banyak,seragam dan dalam waktu yang relatif singkat. Dengan penambahansitokinin sintetik tipe urea seperti thidiazuron (TDZ) dan tipe purin sepertibenzil amino purin (BAP) akan memacu inisiasi dan proliferasi tunas.Penelitian ini bertujuan mendapatkan media yang tepat untuk menginduksitunas anis yang optimal dengan penambahan BAP atau TDZ, mengetahuirespon pertumbuhan dan penampakan kultur akibat penambahan berbagaikonsentrasi BAP atau TDZ, serta mempelajari sinergisme yang terjadiantara keduanya. Pada tahap inisiasi, eksplan berupa tunas pucuk diinduksidi dalam media MS padat dengan penambahan BAP (0,1 mg/l; 0,2 mg/l;0,3 mg/l; 1 mg/l; 2 mg/l; 3 mg/l), atau TDZ dengan kisaran konsentrasiyang sama. Tunas terbanyak yang dihasilkan dari dua jenis sitokinin padatahap ini disubkultur ke dalam media yang ditambahkan jenis sitokininyang berbeda (TDZ ke BAP atau BAP ke TDZ) pada konsentrasi 0,3 mg/latau 3 mg/l. Pada media yang ditambahkan TDZ dihasilkan tunas anislebih banyak (3,62-6,28) dibandingkan pada media yang ditambahkanBAP (1,86-2,78), tetapi tunas yang dihasilkan pendek (roset). Sedangkantunas yang dihasilkan dalam media yang ditambahkan BAP beruas lebihtinggi tetapi jumlah tunasnya sedikit. Subkultur tunas anis ke dalam mediayang diperkaya dengan sitokinin yang berbeda meningkatkan jumlah tunasyang berproliferasi dan memperbaiki visual tunas.Kata kunci: Anis, Pimpinellla anisum L. ,  minyak atsiri, multiplikasi tunas,in vitro, TDZ, BAP, Jawa BaratABSTRACTApplication of purine and urea types of cytokinins inshoot multiplication of Anise (Pimpinella anisum L.) invitroPimpinella anisum L. or sweet anise is an annual–herbaceous plantbelongs to the Umbelliferae family. The fruit of anise contains of essentialoil, which is mainly consisted of trans-anethol (90%). Essential oils ofanise is mainly used as an antiseptic, antispasmodic, anticancer,carminative, expectorant and has also been used as component in soap,perfumery, tooth paste, and skin cream productions. Since this crop ismainly cultivated in sub tropical region, anise cultivation in Indonesia hasnot been performed. To obtain sufficient numbers of anise plantingmaterials in vitro propagation was conducted by applying benzyl aminopurine (BAP) and thidiazuron (TDZ). In this research TDZ or BAP wereapplied at various concentrations (0,1 mg/l: 0.2 mg/l; 0.3 mg/l; 1 mg/l; 2mg/l; 3 mg/l), to induce shoots in MS-solid culture media. The highestnumber of shoots obtained in those two type of cytokinins containingmedia from the initiation stage were subcultured into the mediasupplemented with different cytokinins (TDZ to BAP or BAP to TDZ) at0.3 mg/l or 3 mg/l levels. The results showed that medium with theaddition of TDZ resulted in higher numbers of shoot (3,26-6,28) than thatof medium with an addition of BAP (1,86-2,78). However, rosette shootswere dominant in TDZ containing medium. On the other hand, mediumwith an addition of BAP resulted in less numbers of shoots with tallernodes. Subculture of anise into different kinds of cytokinins increased thenumbers of proliferated-shoots and recovered the abnormal shoots.Key words : Anise, Pimpinellla anisum L, essential oils, shootsmultiplication, in vitro, TDZ, BAP, West Java
DAMPAK KEBIJAKAN DOMESTIK DAN PERUBAHAN FAKTOR EKSTERNAL TERHADAP INDUSTRI MINYAK GORENG INDONESIA ARDANA, I KETUT; M. SINAGA, BONAR
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n3.2005.112-122

Abstract

ABSTRAKMinyak goreng merupakan salah satu komoditas penting penghasildevisa bagi Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampakkebijakan domestik dan perubahan faktor eksternal terhadap industriminyak goreng Indonesia, dengan pendekatan sistem yang menggunakanmodel ekonometrika dalam bentuk persamaan simultan. Data yangdigunakan adalah data sekunder yang terkait dengan produksi, volume danharga perdagangan domestik, volume dan harga ekspor, dalam bentuk dataderet waktu tahun 1978-2001. Pendugaan parameter dilakukan denganmetode two stage least squares (2SLS). Untuk mengevaluasi dampakkebijakan domestik dan perubahan faktor eksternal, dilakukan simulasimodel untuk periode 1992-1996 yang menggambarkan kondisi sebelumterjadi krisis ekonomi, dan 1998-2001 menggambarkan kondisi saat terjadikrisis ekonomi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan hargaCPO di pasar dunia pada kedua periode menyebabkan peningkatan ekspor.Kebijakan pengenaan pajak ekspor minyak sawit mentah (CPO) danpeningkatan harga minyak goreng sawit domestik cukup efektif menekanekspor. Pada periode 1992-1996 kebijakan pengenaan pajak ekspor CPOmenyebabkan penurunan penerimaan devisa 1,114 persen (Rp 17,092miliar). Peningkatan harga minyak goreng domestik pada periode 1992-1996 menyebabkan penurunan penerimaan devisa 21,458 persen (Rp329,187 miliar) tetapi pada periode 1998-2001 dampak tersebut dinetralisiroleh penurunan nilai tukar rupiah terhadap US$. Implikasi dari kondisidemikian adalah perlunya optimalisasi pajak ekspor. Penetapan pajakekspor pada tingkat yang menyebabkan penurunan penerimaan devisasebaiknya tidak dilakukan. Dampak peningkatan ekspor terhadappenurunan ketersediaan bahan baku minyak goreng domestik dapatdiminimalkan dengan mendorong reorientasi pasar minyak kelapa mentah(CCO) dari ekspor ke pasar domestik. Langkah yang diperlukan adalahmenghidupkan kembali industri kelapa dengan pengembangan industripengolahan lanjut minyak goreng berbahan baku CCO, seperti oleokimia,sehingga meningkatkan nilai tambah dan memberi insentif bagi petani danpelaku industri kelapa.Kata kunci : Minyak goreng, kebijakan domestik, faktor eksternal, modelekonometrika, simulasi kebijakan, penerimaan devisaABSTRACTThe impacts of domestic policy and external factorchanges on Indonesian cooking oil industriesCooking oil is an important commodity in the Indonesian economy,because of its role in foreign exchange revenue. The objective of this studyis to analyze the impacts of domestic policy and external factor changeson trade and foreign exchange revenue of Indonesian cooking oil industry.The study was conducted using a system approach by formulating aneconometric model of cooking oil industry, utilizing secondary data relatedto production, volume and price in domestic trade, export volume andprice, etc, in the time series for the period of 1978 to 2001. Two stageleast squares method was used for estimating the parameters. The result ofthis study showed that increasing world price of CPO would lead toimprove foreign exchange revenue. However, export tax on crude palm oiland increase of cooking oil domestic price effectively decreased theexport. In the period of 1992 to 1996 export tax policy on CPO decreased1,114 percent (Rp 17,092 miliar) of foreign exchange revenue. Increase ofcooking oil domestic price in the period of 1992 to 1996 caused foreignexchange revenue decrease 21,458 percent, but in the period of 1998 to2001 this impact was netralized by exchange rate of US$ to rupiah. Thoseimplicated that export tax must be optimalized. The impact of exportencrease on domestic supply of cooking oil raw material could beminimized by pushing CCO market oriented from export to domesticmarket and developing final process industry of coconut, for exampleoleochemical industry, to improve added value and incentive for thefarmers and for stakeholders.Key words : Cooking oil, domestic policy, external factor, econometricmodel, policy simulation, foreign exchange
PENGARUH UMUR PANEN RIMPANG TERHADAP PERUBAHAN FISIOLOGI DAN VIABILITAS BENIH JAHE PUTIH BESAR SELAMA PENYIMPANAN DEVI RUSMIN; M.R. SUHARTANTO; SATRIYAS ILYAS; DYAH MANOHARA; ENY WIDAJATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n1.2015.17-24

Abstract

ABSTRAKSalah satu faktor yang menentukan daya simpan benih jahe putihbesar (JPB) adalah mutu. Mutu benih sangat ditentukan oleh tingkatkemasakan rimpang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruhumur panen terhadap perubahan fisiologi dan viabilitas benih selamapenyimpanan. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca dan LaboratoriumTeknologi Benih, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat sertaLaboratorium Pascapanen IPB Bogor, mulai bulan Juli 2012 sampaidengan Februari 2013. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap(RAL) dengan lima ulangan. Perlakuan yang diuji adalah tiga tingkat umurpanen benih 7, 8, dan 9 bulan setelah tanam (BST). Pengamatan dilakukanterhadap perubahan fisiologis (penyusutan bobot, persentase rimpangbertunas, tunas, kadar air, dan laju respirasi), serta viabilitas rimpang benih(daya tumbuh, tinggi, dan bobot kering bibit). Hasil penelitianmenunjukkan rimpang benih umur 7 dan 8 BST mempunyai daya simpanterbaik karena menghasilkan masing-masing total angka penyusutan bobotlebih rendah (24,65 dan 25,25%) dan tunas lebih pendek (0,30 dan 1,08cm) dibandingkan dengan umur panen 9 BST (27,13% dan 1,62 cm),selama 4 bulan disimpan. Masa dormansi rimpang benih JPB mulai pecahsetelah mengalami periode simpan 2 bulan. Pertumbuhannya mulaiseragam setelah 3 bulan simpan. Umur panen jahe 7 dan 8 BSTmempunyai derajat dormansi yang lebih tinggi dibanding 9 BST. Rimpangbenih umur panen 7, 8, dan 9 BST mempunyai daya tumbuh tinggi (>95%)dan pertumbuhan bibit seragam setelah 3 bulan disimpan.Kata kunci: Zingiber officinale Rosc., penyimpanan, benih, perubahanfisiologis, viabilitasABSTRACTOne of the factors that determine the storability of seed rhizome ofwhite big ginger (WBG) is quality. The quality is determined by thematurity levels of seed rhizome. The aim of the experiment was to observethe effect of harvesting time on physiological changes and seed viability ofWBG seed rhizomes during the storage. The experiment was conducted atGreen House and Seed Technology Laboratory of Indonesian Spice andMedicinal Crops Research Institute, Bogor and Postharvest Laboratory,IPB, from July 2012 to February 2013. The experiment was arranged in acompletely randomized design with five replications. The treatmentstested were three levels of WBG seed rhizome harvesting time: 7, 8, and 9month after planting (MAP). Variables observed were physiologicalchanges of seed rhizomes during the storage (weight loss, sproutingpercentage, shoot height, respiration rate, and moisture content) andviability (growth ability, height, and dry weight of the seedling). Theresults showed that seed rhizomes at 7 and 8 had the best storability, sinceit was produced each low rate of weight loss (24.65 and 25.25%), andshoots shorter (0.3 and 1.08 cm) than 9 MAP (27.13% and 1.62 cm), for 4months in storage. Dormancy of WBG seed rhizomes has been brokenafter 2 months in storage. Harvesting at 7 and 8 showed a degree ofdormancy higher than the harvesting age 9 MAP. Harvesting time at 7, 8,and 9 MAP had high growth ability (> 95%) and uniform seedling growthafter 3 months in storage.Keywords: Zingiber officinale Rosc., storage, seed, physiologicalchanges, viability
PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAMBU METE DI LOMBOK USMAN DARAS; J. PITONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n1.2006.20-26

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh dosis dankomposisi pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan produksi jambu meteyang ditanam pada tanah regosol cokelat-kelabu di Desa Loloan,Kecamatan Bayan, Lombok Barat, dari tahun 1997 sampai 2000. Faktoryang diuji adalah: (1) komposisi NPK, 2 macam (1:1:1, dan 1:1:2); dan (2)dosis pupuk, 4 taraf (500, 750, 1000 dan 1500 g/pohon/tahun). Perlakuandisusun dalam rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan dan ukuranpetak 4 pohon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman jambu metecukup responsif terhadap pemupukan. Pemberian pupuk menaikkankandungan hara N, P dan K daun. Dosis pupuk yang cukup memadai untukmenunjang pertumbuhan dan produksi jambu mete adalah 500, 750, dan1000 g NPK/pohon/tahun dengan komposisi pupuk NPK 1:1:2, masing-masing untuk umur tanaman 5, 6, dan 7 tahun. Pupuk tersebut diberikandalam 2 kali agihan, yaitu 50% pada awal musim hujan, dan 50% lagimenjelang akhir musim hujan.Kata kunci : Jambu  mete,  Anacardium  occidentale,  pemupukan,pertumbuhan, produksi, Nusa Tenggara BaratABSTRACTEffect of fertilizer application on the growth and yield ofcashew in LombokA field study was conducted on cashew trees grown at grayish-brown regosol soil located at Loloan, Bayan, West Lombok, from 1997 to2000. The objectives of the study were to examine the effect of NPKfertilizer and its composition on growth and yield of cashew. Treatmentsexamined were: (1) composition of NPK (1:1:1, and 1:1:2); and (2)fertilizer dosage (500, 750, 1000 and 1500 g NPK/tree/year). Thetreatments were arranged in a randomized block design with 4 replicationsand plot size of 4 plants. Research results showed that the application offertilizers significantly affected the growth and yield of cashew. Thecontent of N, P and K in cashew leaves improved as the fertilizer dosageincreased. Appropriate amounts of NPK were 500, 750 and 1000 gNPK/tree/year with composition of 1:1:2 for cashew trees of 5, 6 and 7years old, respectively. The fertilizers were applied twice a year (50% inthe beginning of rainy season, and 50% in the end of rainy season).Key words : Cashew, Anacardium occidentale, fertilizer application,growth, yield, West Nusa Tenggara
GALUR HARAPAN TEMBAKAU TEMANGGUNG PRODUKSI TINGGI DAN TAHAN PENYAKIT LINCAT FATKHUR ROCHMAN; SUWARSO SUWARSO; A.S. MURDIYATI A.S. MURDIYATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n2.2007.57-63

Abstract

ABSTRAKMasalah  utama  tembakau  Temanggung  adalah  rendahnyaproduktivitas yang disebabkan oleh mundurnya daya dukung lahan karenaerosi dan endemi penyakit lincat (kompleks nematoda Meloidogyne spp,bakteri Ralstonia solanacearum, dan cendawan Phytophthora nicotianae).Saat ini telah diperoleh enam galur hasil persilangan dari varietas Sindoro1 (moderat tahan terhadap Ralstonia solanacearum tetapi rentan terhadapMeloidogyne spp. dan sangat rentan terhadap Phytophthora nicotianae)dengan tembakau virginia yang tahan terhadap ketiga patogen tersebut.Evaluasi terhadap hasil, indeks mutu, indeks tanaman dan ketahananterhadap ketiga patogen telah dilakukan di 3 lokasi selama tiga tahundengan rancangan acak kelompok tiga ulangan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ada dua galur harapan yaitu (1) Galur A dengan rata-rata produktivitas : 0,880 ton rajangan kering per ha dan indeks mutu40,28 indeks tanaman 35,47 dan kadar nikotin 5,52%. Produktivitas galurA meningkat 48,08%, indeks mutu meningkat 4,87% dan indeks tanamanmeningkat 53,73% serta kadar nikotin menurun 15,06% dibanding varietasstandar. Galur A memiliki sifat moderat tahan terhadap bakteri Ralstoniasolanacearum dan toleran terhadap nematoda Meloidogyne spp. (2) GalurE dengan rata-rata produktivitas : 0,869 ton rajangan kering per ha, indeksmutu 36,01 indeks tanaman 31,87 dan kadar nikotin 6,00%. Produktivitasgalur E meningkat 46,23%, indeks mutu menurun 6,25% dan indekstanaman meningkat 38,12% serta kadar nikotin menurun 2,56% dibandingvarietas standar. Galur E memiliki sifat moderat tahan terhadap bakteriRalstonia solanacearum dan toleran terhadap nematoda Meloidogyne spp.Kata kunci : Tembakau,  Nicotiana  tabacum,  Temanggung, galurharapan, Ralstonia solanacearum, Meloidogyne spp,Phytophthora nicotianae, lahan lincat, Jawa TimurABSTRACTTemanggung tobacco promising lines with high producti-vity and resistant to lincat diseasedThe main problem in Temanggung tobacco cultivation is lowproductivity which is caused by increasing land erosion and invasion ofendemic disease called ‘lincat’. Lincat is a disease caused by a complexinvasion of three pathogens i.e. Meloidogyne spp. (root-knot nematode),Ralstonia solanacearum (bacteria) and Phytophthora nicotianae (fungus).Hybridization between variety Sindoro 1 (moderately resistant to R.solanacearum but susceptible to Meloidogyne spp. and highly susceptibleto P. nicotianae) and virginia tobacco (resistant to these three pathogens)has resulted in six lines. These lines were planted in three locations for 3years and were evaluated for their yield, grade index, crop index, andresistance intensity to these three pathogens, using randomized blockdesign with 3 replications. Two promising lines were resulted from thisevaluation i.e. (1) Line A, that has productivity of tobacco sliced : 0.880ton per hectare, grade index: 40.28 crop index: 35.47 and nicotine content:5.52%. In comparison to standard variety, the productivity, grade index,and crop index of this line increased of 48.08%, 4.87%, and 53.73%,respectively, and nicotine content decreased of 15.06%. Moreover, thisline is moderately resistant to R. solanacearum and tolerant toMeloidogyne spp. (2) Line E, that has productivity of tobacco sliced:0.869 ton per hectare, grade index: 36.01 crop index: 31.87 and nicotinecontent: 6.00%. This line also has increase productivity, and crop index of46.23% 38.12%, respectively, and has decrease grade index and nicotinecontent of 6.25% and 2.56%, respectively compared to standard variety.This line is moderately resistant to R. solanacearum and tolerant toMeloidogyne spp.Key words : Tobacco, Nicotiana tabacum, Temanggung, promising line,Ralstonia solanacearum, Meloidogyne spp., Phytophthoranicotianae, lincat land, East Jav
WAKTU TANAM KAPAS DI JAWA TENGAH RIAJAYA, PRIMA DIARINI; SHOLEH, MOCH.; KADARWATI, F.T.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n2.2005.52-59

Abstract

ABSTRAKCurah hujan merupakan salah satu unsur iklim yang sangatberpengaruh terhadap produksi kapas. Variasi hujan di lahan tadah hujanJawa Tengah sangat tinggi sehingga diperlukan penetapan waktu tanam.Waktu tanam ditetapkan berdasarkan analisis hujan lebih dari 20 tahundari 31 stasiun hujan yang tersebar di Kabupaten Grobogan, Wonogiri,Blora, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Data dianalisis menggunakan metodepeluang Markov Order Pertama dan perhitungan peluang selang keringberturut-turut. Peluang hujan yang dianalisis berupa peluang hujanmingguan lebih dari 10, 20, 30, 40, dan 50 mm. Besar peluang hujanmingguan lebih dari 60% untuk mendapatkan hujan lebih dari 20 mm dan30 mm dipakai dalam penentuan minggu tanam, selanjutnya disesuaikandengan peluang kering berturut-turut. Minggu tanam paling lambat (MPL)di Kabupaten Grobogan dan Wonogiri berkisar minggu I Desember sampaiminggu I Januari. MPL di Kabupaten Blora, Pemalang, Tegal, dan Brebesadalah minggu I-IV Januari. Sebagian besar lahan yang digunakan untukkapas bertekstur liat dengan kandungan liat di atas 60%. Ketersediaan airdari hujan cukup untuk memenuhi kebutuhan air kapas dan didukung olehkemampuan tanah menyimpan air yang tinggi.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum, waktu tanam, periode kering,masa tanam, Jawa TengahABSTRACTCotton planting times in Central JavaClimatic elements particularly rainfall strongly influences successfulprediction of rainfed cotton yield. Rainfall variability varies amongst theseasons. Longterm rainfall data were required for rainfall analysis to getreliable probabilities. The rainfall analysis was done using Markov ChainFirst Order Probability and dryspell probability methods. Initial andconditional probabilities of rainfall for selected amounts (10, 20, 30, 40and 50 mm/week) were analysed. Rainfall probabilities over 60% to have20-30 mm rainfall per week were used to identify cotton planting times.The rainfall data were collected from 31 rainfall stations in Central Java(Grobogan, Wonogiri, Blora, Pemalang, Tegal, and Brebes). The plantingtimes varied from the first week of December to the first week of Januaryfor Grobogan and Wonogiri. The planting times in Blora, Pemalang,Tegal, and Brebes ranged from early to late January. The majority of landused for cotton has high clay content with high water holding capacitywhich is sufficient to meet the cotton water requirement.Key words : Cotton, Gossypium hirsutum, planting time, dryspell,seasonal pattern, Central Java
GALUR-GALUR HARAPAN KAPAS DI LAHAN TADAH HUJAN SUMARTINI, SIWI; ABDURRAKHMAN, ABDURRAKHMAN; SULISTYOWATI, EMY
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n3.2008.87-94

Abstract

ABSTRAKAreal pertanaman kapas di Indonesia tersebar di enam propinsi yaituJawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa TenggaraTimur, dan Sulawesi Selatan. Pengembangan kapas 70% berada di lahantadah hujan dan 30% di lahan sawah sesudah tanaman padi. Di lahan tadahhujan biasanya kapas ditanam setelah jagung, kedelai atau kacang hijaudan selalu mengalami kendala kekurangan air selama pertumbuhannya.Karena kendala tersebut, produksi kapas berbiji ditingkat petani umumnyahanya mencapai 200 – 500 kg per hektar. Penelitian uji multilokasidilaksanakan di Asembagus dan Wongsorejo (Jawa Timur), Bayan (NusaTenggara Barat), dan Bantaeng serta Bulukumba (Sulawesi Selatan), dilahan tadah hujan pada tahun 2004 – 2006. Sebanyak 9 galur dan varietasKanesia 8 disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang 4 kali(tiga ulangan tidak mendapatkan tambahan pengairan setelah tanamanberumur 42 hari atau setelah pemupukan kedua), satu ulangan diberipengairan optimal sampai panen, yang digunakan untuk menghitungIndeks Kepekaan Terhadap Kekeringan. Kapas ditanam secara monokulturpada petak percobaan berukuran 50m 2 dengan jarak tanam 100 cm x 25cm, satu tanaman per lubang. Pengamatan yang dilakukan adalah : hasilkapas berbiji pada kondisi keterbatasan air, hasil kapas berbiji padakondisi pengairan optimal, indeks kerentanan terhadap kekeringan, skorkerusakan daun akibat serangan Amrasca biguttula, dan mutu serat. Padakondisi tidak mendapatkan tambahan pengairan, rata-rata potensi hasilgalur-galur yang diuji tidak berbeda nyata dengan varietas Kanesia 8 sertatoleran terhadap A biguttula dan mutu seratnya memenuhi syarat untukindustri tekstil di Indonesia. Galur-galur yang produktivitasnya mencapailebih dari 1.500 kg kapas berbiji/ha adalah (135x182)(351x268)9,(135x182)(351x268)10, dan (135x182)10. Dilihat dari produktivitas, keta-hanan terhadap A. biguttula, ketahanan terhadap kekeringan dan mutuserat, terdapat dua galur harapan yang dapat dilepas sebagai varietas baruyang sesuai untuk dikembangkan di lahan tadah hujan pada kondisi keter-batasan air yaitu galur {(135x182)(351x268)}9 dan galur (339x448)2.Keunggulan galur {(135x182)(351x268)}9 adalah lebih toleran terhadapkondisi dengan ketersediaan air terbatas dibandingkan dengan Kanesia 8,sedangkan produktivitas, ketahanannya terhadap A biguttula, serta mutuseratnya tidak berbeda. Keunggulan galur (339x448)2 dibandingkandengan Kanesia 8 adalah mutu seratnya lebih tinggi, sedangkan produk-tivitas serta ketahanannya terhadap keterbatasan air dan A. biguttula tidakberbeda.Kata kunci : Kapas, produktivitas, mutu serat, tahan terhadap kekeringanABSTRACTNew cotton lines adaptive to rain-fedCotton growing area in Indonesia extended in six provinces i.e.East Java, Middle Java, Bali, West Nusa Tenggara, East Nusa Tenggaraand South Sulawesi. Cotton area in Indonesia is mostly (70%) in rain-fed, and the rest is on rice-field after paddy (30%). On rain-fed areas,cotton is commonly grown after maize, soybean, or greenbean, that itsuffers from drought. This condition has resulted low yield ranging 200 –500 kg seed cotton per hectare. As a result, farmers income and farmersinterest in cotton cultivation are low . Multilocations trial were conductedin Asembagus and Wongsorejo (East Java), Bayan (West Nusa Tenggara),and Bantaeng as well as Bulukumba (South Sulawesi), on rain-fed area in2004 to 2006. 9 lines of cotton and Kanesia 8 were arranged in randomizedblock design with four replications three replications without irrigation 42days after planting and one replication with optimal irrigation for theestimation of drought susceptibility index. Monoculture cotton was grownin plots sized 50 m 2 with 100 cm x 25 cm plant spacing, one plant perhole. Parameters observed were seed cotton yield on water limitedcondition, seed cotton yield on full irrigation, drought susceptibility index,score of leaf damage caused by Amrasca biguttula, and fibre quality.Means of productivity level of the cotton lines on water limited conditionwere not significantly different to Kanesia 8, all of them were tolerant toA biguttula with fiber quality was suitable for textile industries inIndonesia. There were three lines reached productivity more than 1,500kg/ha i.e. (135x182)(351x268)9, (135x182) (351x268)10, and (135x182)10. From the trials, there were two promising lines i.e. lines(135x182) (351x268) 9 and (339x448) 2 which can be released as newvarieties tolerant to water limited condition. Lines (135x182)(351x268) 9was more tolerant to water limited condition than Kanesia 8, and it was notsignificantly different in productivity, tolerancy to A biguttula, and fibrequality. Lines (339x448)2 was superior on its fiber quality than Kanesia 8and its productivity as well as its tolerancy to water limited condition andA biguttula were not significantly different.

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue