cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
KEEFEKTIFAN FORMULA MINYAK CENGKEH DAN SERAI WANGI TERHADAP Fusarium oxysporum f.sp. vanillae PENYEBAB BUSUK BATANG VANILI MESAK TOMBE; DARMAWAN PANGERAN; TRI SAPTARI HARYANI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n4.2012.143-150

Abstract

ABSTRAKBusuk batang vanili (BBV) yang disebabkan oleh Fusariumoxysporum f.sp. vanillae (Fov) merupakan patogen penting pada vanili danmenyebabkan kerugian besar setiap tahunnya di Indonesia. Jumlahkerugian diperkirakan sebesar 3.000 ton atau sekitar US$ 16 juta.Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Kelti Hama danPenyakit, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor pada bulanFebruari 2010 sampai Agustus 2010. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui pengaruh formula dengan bahan aktif minyak cengkeh danserai wangi terhadap penyakit BBV dan dampaknya terhadap kehidupanmikroorganisme tanah. Dalam pelaksanaannya, kegiatan penelitian dilaku-kan dalam 3 tahap yaitu : (1) uji formula in vitro, (2) uji formula in vivo,dan (3) uji dampak formula terhadap mikroorganisme tanah. Percobaantahap 1, 2, dan 3 masing-masing terdiri atas 10, 6, dan 6 perlakuan,dan.masing-masing disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan3 ulangan. Materi yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) formuladengan bahan aktif minyak cengkeh (formula standar), (2) formula denganbahan aktif minyak cengkeh dan serai wangi (formula baru), dan (3)fungisida sintetis berbahan aktif mankozeb sebagai pembanding. Hasil ujiin vitro menunjukkan bahwa fungisida nabati CS (minyak cengkeh + seraiwangi) pada ke 3 tingkatan konsentrasi (terutama konsentrasi 400 ppm)memperlihatkan efektivitas yang tinggi dalam menghambat pertumbuhanmiselium dan produksi spora patogen Fov.F117 dibandingkan perlakuanlain dan kontrol. Hasil uji in vivo menunjukkan hal yang sama bahwafungisida nabati CS memperlihatkan efektivitas yang tinggi dalammenekan intensitas serangan patogen BBV, terutama pada dosis aplikasi 5ml/l. Dampak perlakuan terhadap kehidupan mikroorganisme tanah (fungidan bakteri) memperlihatkan bahwa penggunaan fungisida sintetismankozeb menghambat kehidupan mikroorganisme tanah 90-100% jikadibandingkan dengan kontrol. Populasi mikroorganisme tanah pada semuaperlakuan fungisida nabati lebih tinggi jika dibandingkan dengan fungisidamankozeb. Populasi mikroorganisme pada aplikasi fungisida nabati padadosis 5 ml/l tidak berbeda nyata dengan kontrol. Penelitian inimenunjukkan bahwa penggunaan fungisida nabati minyak cengkehterutama jika dikombinasikan dengan minyak serai wangi mempunyaiprospek untuk digunakan dalam pengendalian penyakit BBV denganinterval aplikasi 3-4 minggu sekali.Kata kunci : Vanilla planifolia, Fusarium oxysporum f.sp, vanillae, busukbatang vanili, minyak cengkeh, minyak serai wangiABSTRACTVanilla stem rot (VSR) disease caused by Fusarium oxysporum f.sp.vanillae (Fov) is an important disease on vanilla and causes severe lossannually in Indonesia. The total annual loss in production due to the VSRwas estimated to be 3,000 ton or about US$ 16 million. This research wascarried out in the laboratory and green house of Pest and Disease ofResearch Institute for Spices and Medicinal Crops, Bogor from February2010 until August 2010. The objective of this research was to study theeffect of formula using active compounds of clove and citronella oils onthe VSR disease and its impact on the survival of soil microorganisms.The research activities were conducted in three stages, namely (1) in vitroformula test; (2) in vivo formula test, and (3) impact test of formula on thesoil microorganisms. Materials studied in this research were (1) formulawith active compound of clove oil (standard), (2) formula with activecompound of clove and citronella oils (new formula), and (3) syntheticfungicide with mancozeb active ingredient as comparison. Every phase ofthis 3 stage experiment was arranged using completely randomized designwith three replicates. First, second, and third phases of the experimentconsisted of 10, 6, and 6 treatments, respectively. In vitro test resultscarried out in the laboratory indicated that botanical formula CS (clove andcitronella oils of the three concentration levels, especially on the 400 ppm)showed high effectiveness on inhibiting mycelium growth and sporeproduction of Fov.F117 pathogen compared to other treatments andcontrol. In vivo test in the green house indicated the same result thatbotanical fungicide CS (clove dan citronella oils) showed higheffectiveness in suppressing VSR disease infection intensity, especially on5 ml/l dosage. Application of mancozeb synthetic fungicide inhibited 90 –100% soil microorganism livelihood compared to control. However, thesoil microorganism population on all botanical fungicides was higher thanon mancozeb fungicide. The microorganism population on the botanicalfungicide of 5 ml/l dosage was not significantly different from the control(natural soil with no treatment). This research indicates that aplication ofbotanical fungicide (combination between clove and citronella oils) with3 - 4 weeks interval is prospectous to control VSR disease.Key words : Vanilla planifolia, Fusarium oxysporum, f.sp. vanillae,vanilla stem rot, clove oil, citronella oil
PATOGENISITAS Achaea janata GRANULOSIS VIRUS (AjGV) TERHADAP ULAT PEMAKAN DAUN TANAMAN JARAK KEPYAR IGAA. INDRAYANI; HERI PRABOWO; TITIEK YULIANTI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n2.2014.57-64

Abstract

ABSTRAKAchaea janata L. adalah hama penting tanaman jarak kepyar(Ricinus  communis)  yang  hingga  kini  pengendaliannya  masihmenggunakan insektisida kimia secara intensif. Selain tidak efisien,insektisida kimia juga menimbulkan pencemaran lingkungan. Untukmengatasi masalah tersebut, maka perlu cara pengendalian alternatif yangselain efektif dan efisien, juga ramah lingkungan, seperti virus yangdiisolasi dari ulat A. janata (A. janata Granulosis Virus/AjGV). Penelitianpatogenisitas AjGV pada A. janata dilakukan di Laboratorium PatologiSerangga Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) mulaiJanuari - Desember 2012. Perlakuan terdiri atas enam konsentrasi AjGV,yaitu 10 3 , 10 4 , 10 5 , 10 6 , 10 7 , 10 8 occlusion bodies (OB), dan satu kontrol.Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan empat kaliulangan. Ulat A. janata yang digunakan adalah instar II, III, IV, dan Vmasing-masing 90 ekor/perlakuan. Parameter yang diamati adalahmortalitas dan bobot ulat, konsentrasi untuk membunuh 50% ulat (LC 50 ),dan waktu untuk membunuh 50% ulat (LT 50 ). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa AjGV patogenik terhadap A. janata, terutama ulatinstar II dan III dengan mortalitas berturut-turut 90 dan 86,7%. LC 50 AjGVpada ulat instar II dan III masing-masing mencapai 1,0 x 10 3 dan 1,2 x 10 3OB/ml, dengan LT 50 kedua instar sekitar 3,4-4,2 hari. Pengaruh infeksiAjGV pada ulat A. janata efektif menurunkan bobot ulat hidup 57,9 dan57,4% masing-masing pada ulat instar II dan III. Hasil penelitian inimengindikasikan bahwa sasaran yang tepat untuk pengendalian ulat A.janata dengan AjGV di lapangan adalah pada saat instar II dan III.Kata kunci: Achaea janata L, patogenisitas, instar, mortalitasABSTRACTAchaea janata L. is an important insect pest of castor plant (Ricinuscommunis L.) that was intensively controlled by chemical insecticidecaused inefficiency and an environmental polution. To solve the problemsit needs an effective, efficient and environmental friendly of alternativecontrol, especially using Granulosis Virus isolated from A. janata larvae(AjGV). Study on pathogenicity of A. janata virus isolate against castorleaf-eater, A. janata L. was conducted at Insect Pathology Laboratory ofIndonesia Sweetener and Fibre Crops Research Institute in Malang fromJanuary to December 2012. The objective of study is to test thepathogenicity of AjGV against A. janata larvae. Treatment consists of sixconcentrations of AjGV, viz. 10 3 , 10 4 , 10 5 , 10 6 , 10 7 , 10 8 OBs/ml and onecontrol. Four instars of larvae, e.g. second, third, fourth, and fifth wereused in this study. Each treatments was arranged in Randomized BlockDesign with four replications. Parameter recorded were mortality andweight of larvae, LC 50 , and LT 50 . Result showed that AjGV was pathogenicto A. janata larvae, mainly on second and third instar in resulting of 90%and 86.7% of mortality, respectively. The LC 50 of AjGV on the second andthird instar was 1.0 x 10 3 and 1.2 x 10 3 OB/ml, respectively and the LT 50was 3.4 and 4.2 days, respectively. Infection of A. janata virus reducedthe weight of both instar up to 57.9% and 57.4%, respectively. This resultindicated that the second and third was the suitable instars of A. janatalarvae for better control of AjGV in field.Key word: Achaea janata L, pathogenicity, instar, mortality
PENGARUH UMUR EKSPLAN TERHADAP KEBERHASILAN PEMBENTUKAN KALUS EMBRIOGENIK PADA KULTUR MERISTEM JAHE (Zingiber officinale Rosc) MEYNARTI SARI DEWI IBRAHIM; OTIH ROSTIANA; NURUL KHUMAIDA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n1.2010.37-42

Abstract

ABSTRAKKendala dalam pengembangan jahe di Indonesia adalah terbatasnyabenih bermutu. Secara konvensional, budidaya jahe dilakukan denganmenggunakan bibit dari potongan rimpang. Dengan cara ini diperlukanbibit dalam jumlah yang banyak, antara 2-3 t/ha untuk jahe yang dipanentua dan 5-6 t/ha untuk yang dipanen muda. Kendala lain adalah penyakittular benih layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum.Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendapatkan benih jahebebas penyakit adalah perbanyakan melalui kultur jaringan. Penelitianbertujuan untuk mengkaji sumber eksplan dari tingkat umur panenrimpang yang berbeda terhadap kapasitas pembentukan kalus embriogenikpada kultur meristem jahe putih besar. Penelitian dilakukan di BalaiPenelitian Tanaman Obat dan Aromatik dari September 2007 sampaiMaret 2008, menggunakan rancangan acak lengkap dengan 20 kaliulangan. Bahan tanaman yang digunakan adalah meristem jahe putih besaryang diambil dari rimpang panen muda dan tua. Peubah yang diamatimeliputi: histologi jaringan, persentase kalus embriogenik yang terbentuk,bobot segar kalus, diameter kalus, dan morfologi kalus. Hasil penelitianmenunjukkan adanya daerah meristematik pada sayatan eksplan meristemjahe putih besar ukuran ± 0,25 cm. Persentase kalus embriogenik (92,1%)dan diameter kalus (0,59 mm) dari rimpang yang dipanen tua lebih tinggidari yang dipanen muda. Berat kalus (1,18 g) dan jumlah embrio somatikglobular (29,34) asal eksplan panen tua nyata lebih tinggi dari yangdipanen muda. Kalus embriogenik yang berasal dari eksplan rimpang yangdipanen tua mampu berkembang membentuk embrio somatik danberkecambah menghasilkan planlet normal.Kata kunci : Zingiber officinale Rosc., umur rimpang, kalus embriogenik,embriogenesis somatikABSTRACTEffect of explants age on the success of embryogenic calliformation in meristem culture of ginger (Zingiberofficinale Rosc.)Constraint in ginger cultivation in Indonesia is the limited qualityof planting materials. In conventional cultivation, planting materials weretaken from a piece of rhizomes. By this technique, significant amount ofplanting materials is required, between 2-3 tons/ha for fully harvested and5-6 tons/ha for young harvested rhizomes. Another serious constraint isbacterial wilt disease infection caused by Ralstonia solanacearum. Effortfor obtaining free disease planting materials could be performed throughtissue culture mass propagation. In this study, different ages of rhizome asexplants sources was evaluated for their capacity in embryogenic calliformation on the meristem culture of ginger. The experiment wasconducted in Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institutefrom September 2007 to March 2008, using a completely random designwith 20 replicates. Plant material used was white ginger meristem takenfrom the fully and young harvested rhizomes. The observed variables wereexplant histology, percentage embryogenic calli formation (%), freshweight of calli, calli diameter, number of globular embryo, and callimorphology. The results showed a meristematic region at the incisionexplant big-white ginger meristem ± 0.25 cm in size. Percentage ofembryogenic calli formation from the fully harvested rhizome-explant(92.1%) and calli diameter (0.59 mm) were higher than that of the youngerone. Calli weight (1.18 g) and number of globular somatic embryos(29.34) from fully harvested rhizome-explants were significantly higherthan that of the younger one. Embriogenic calli derived from the oldharvested rhizome explants was able to grow well to form somaticembryos and then germinate to produce normal plantlet.Key words : Zingiber officinale Rosc, age of rhizome, embriogeniccalli, somatic embryogenesis
OPTIMASI TEKNIK ISOLASI DAN PURIFIKASI DNA YANG EFISIEN DAN EFEKTIF PADA KEMIRI SUNAN (Reutalis trisperma (Blanco) Airy Shaw) SYAFARUDDIN SYAFARUDDIN; TRI JOKO SANTOSO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n1.2011.11-17

Abstract

ABSTRAKKemiri sunan merupakan salah satu tanaman penghasil biodieseldengan potensi yang sangat besar disamping pemanfaatannya sebagaitanaman konservasi. Minyak kemiri sunan mengandung racun sehinggatidak dapat dikonsumsi. Dikatakan bahwa asam α-eleostearat dengankandungan 50% dalam minyak merupakan senyawa yang mengakibatkanminyak kemiri sunan beracun. Sebagai tanaman yang potensial, makasangat diperlukan informasi lengkap tentang tanaman tersebut, termasukanalisis DNA. Berbagai teknik dapat dilakukan untuk mengisolasi DNAtergantung dari jenis tanaman, organ tanaman, atau jaringan tanaman yangdigunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik isolasi danpurifikasi DNA yang efektif dan efisien, sehingga bisa mengurangi biayadan penghematan waktu dalam pengerjaan di laboratorium. Penelitiandilaksanakan di Laboratorium Biologi Molekuler, Balai Besar Penelitiandan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BBBiogen), Bogor pada bulan Juli-September 2010. Materi genetik yangdigunakan adalah contoh daun muda tanaman kemiri sunan yang diambildari kebun koleksi plasma nutfah dan kebun Agro Widya Wisata,Pakuwon, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri(BALITTRI), Sukabumi. Sedangkan bahan lain adalah paket bahan kimiayang digunakan dalam kegiatan isolasi DNA pada umumnya. Kegiatanmeliputi beberapa tahapan: ekstraksi dan purifikasi DNA, pengukurankonsentrasi dan kemurnian DNA serta amplifikasi DNA. Hasil ekstraksiDNA kemiri sunan dengan menggunakan kombinasi penambahanantioksidan polivinilpolipirolidon (PVPP) dan mercapto-ethanol, namuntanpa penggunaan nitrogen cair, ataupun penyimpanan lebih lama (overnight) dari ekstrak daun yang telah digerus sebelum dilakukan purifikasiseperti yang sering dilakukan untuk tanaman tahunan pada umumnya,memperlihatkan hasil yang sangat memuaskan, dimana DNA mempunyaikualitas dan kuantitas yang sangat baik serta pola pita amplikon DNAterlihat sangat jelas dan tebal, sehingga bisa dikatakan bahwa teknik isolasiDNA yang dipakai dalam kegiatan ini adalah sangat memberikan hasilyang nyata dan memenuhi syarat untuk digunakan dalam ekstraksi DNAkemiri sunan.Kata kunci: Reutalis trisperma, optimasi, isolasi, purifikasi, DNAABSTRACTOptimation of DNA isolation and purification techniques on Reutalistrisperma (Blanco) Airy ShawReutalis trisperma is well known as a potential plant whichproduces biodiesel and to be used for the conservation as well. Thereutalis oil is toxic, therefore it is inedible due to about 50% α-eleostearatacid content in the oil. As a potential plant, its information in more detail isneeded including the DNA analysis. There are many techniques to conductDNA isolation depending on kind of plants, plant organ, or plant tissuethat will be analyzed. The aim of this experiment was to find theeffectiveness and efficiency techniques of DNA isolation and purification,so they can reduce cost and time while working in the laboratory. Theexperiment was conducted at Molecular Biology Laboratory of IndonesianCenter for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Researchand Development (BB BIOGEN), Bogor from July to September 2010.Young leaves of reutelis used as genetic materials were taken fromgermplasms collection at Pakuwon Experimental Station of IndonesianSpice and Industrial Crops Research Institute (ISICRI), Sukabumi. Whilesome chemicals were used as the other material. The activities were asfollows : DNA extraction and purification, measurement of DNAconcentration, and amplification of DNA. Deletion of resistor enzyme-polysacharide, especially for perennial plant. DNA isolation can be doneby breaking down of cell wall, cell membrane, and nuclear membrane. Theresults showed that conscientiousness of DNA isolation and purificationdenoted an important step to obtain clean and contaminant free of DNA, sothe banding patterns were clear. In this technique did not usepolypinilpolypirolidone (PVPP) and mercapto-ethanol such as antioxidant,liquid nitrogen, neither over night storage of leaf extraction before used forpurification which is often used for perennial plant. In addition the resultsshowed that band pattern of DNA was very thick and clear, therefore thistechnique can be applied for DNA isolation on Reutalis trisperma.Key words: Reutalis trisperma, optimization, isolation, purification, DNA
KERAGAMAN GENETIK, HERITABILITAS, DAN KORELASI ANTAR KARAKTER 10 GENOTIPE TERPILIH JARAK PAGAR (JATROPHA CURCAS L.) R r. SRI HARTATI; ASEP SETIAWAN; BAMBANG HELIYANTO; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n2.2012.74-80

Abstract

ABSTRAKUntuk menyusun program pemuliaan jarak pagar berdaya hasiltinggi, diperlukan populasi dasar yang memiliki keragaman genetik yangtinggi terutama pada karakter yang berkaitan dengan daya hasil tanaman.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman genetik,heritabilitas, dan korelasi antar karakter genotipe terpilih. Sepuluhgenotipe dievaluasi di Kebun Percobaan Balai Penelitian TanamanRempah dan Aneka Tanaman Industri Pakuwon, Sukabumi mulai bulanAgustus 2009 - Juli 2010. Rancangan lingkungan adalah acak kelompoklengkap dengan 3 ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas 5 tanamanyang ditanam dalam 1 baris dengan jarak antar baris 2 m dan jarak dalambaris 1 m. Evaluasi dilakukan terhadap karakter vegetatif (meliputi tinggitanaman, lingkar batang, lebar kanopi, dan jumlah cabang total), karaktergeneratif (meliputi jumlah cabang produktif, umur mulai berbunga, jumlahtandan bunga, jumah tandan buah, fruit set), serta komponen hasil yaitujumlah buah per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan 10 genotipe yangdievaluasi memiliki keragaman genetik yang luas pada karakter generatifumur mulai berbunga, jumlah tandan bunga, jumlah tandan buah, danjumlah buah per tanaman dengan nilai koefisien keragaman genetik(KKG) berturut-turut 21,89; 29,77; 32,08; dan 33,75. Karakter-karakter inimemiliki ragam genetik luas dan heritabilitas dalam arti luas yang tinggisehingga dapat dimanfaatkan sebagai kriteria seleksi. Karakter vegetatifjumlah cabang total memiliki keragaman genetik agak luas, heritabilitastinggi, dan berkorelasi positif dengan jumlah tandan bunga, jumlah tandanbuah, dan jumlah buah per tanaman sehingga dapat dipertimbangkansebagai kriteria seleksi.Kata kunci : Jatropha curcas, keragaman fenotipik, koefisien keragaman,ragam genetik, kriteria seleksiABSTRACTGenetic variability, heritability, and correlation amongcharacters of 10 selected genotypes of physic nut(Jatropha curcas L.)To arrange breeding programme of jatropha high yielding varieties,it is required population base having high genetic variabilities, especiallyin yield components. The objectives of this research were to evaluategenetic variability, heritability estimate, and analyze correlation amongcharacters of 10 physic nut genotypes. Ten Jatropha curcas genotypeswere evaluated at Pakuwon Experimental Station of Indonesian Spice andIndustrial Crops Research Institute, Sukabumi, from August 2009 - July2010. A randomized complete block design with 3 replicates was appliedin this experiment. Each experimental unit consisted of five plants grownin a row with 2 m spacing in line and 1 m in row. The observations weremade for vegetative characters (plant height, stem girth, canopy width, andnumber of total branches per plant), generative characters (days toflowering, number of productive branches, inflorescences, fruit bunchesper plant, and fruit set percentages), and yield component : number of fruitper plant. Results of the experiments indicated that the evaluatedgenotypes had wide genetic variability on several generative characters i.e.days to flowering, number of inflorescences, number of fruit bunches, andnumber of fruits per plant with genotypic variability coefficient (GVC)values of 21.89; 29.77; 32.08; and 33.75, respectively. Their geneticvariabilities were broad and high heritability. The total number of branchesas a vegetative character was fairly wide in genetic diversity, highheritability, and positively correlated with number of inflorescences,bunches, and fruits per plant. These characters can be considered asselection criteria.Key words : Jatropha curcas L., phenotypic variability, coefficient ofvariation, genetic variability, selection criterion
IDENTIFIKASI KARAKTER MORFO-FISIOLOGI PENENTU PRODUKTIVITAS JAMBU METE (Anacardium occidentale) IRENG DARWATI; ROSITA S.M.; SETIAWAN SETIAWAN; HERA NURHAYATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n4.2013.186-193

Abstract

ABSTRAKProduktivitas jambu mete di Indonesia masih rendah karenabudidayanya yang masih sederhana dan belum menggunakan bahantanaman unggul. Hasil tanaman ditentukan oleh beberapa karakter morfo-fisiologi seperti luas dan tebal daun, jumlah stomata, laju fotosintesis,kandungan klorofil, relative water content (RWC), dan potential osmotikdaun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfo-fisiologiyang menentukan hasil jambu mete. Penelitian dilaksanakan di KebunPercobaan Cikampek dan Laboratorium, Balittro, Bogor, Jawa Barat, padabulan Januari-Desember 2012. Bahan tanaman yang digunakan adalah duavarietas jambu mete produksi tinggi (B02 dan GG1) dan tiga varietasproduksi rendah (Laode Gani, Laode Kase, dan Laura). Tanamandibedakan dalam tiga kelompok umur (5, 8, dan 17 tahun). Parameter yangdiamati karakter morfologi seperti ketebalan daun (μm), luas daun (cm 2 ),produksi gelondong (kg/tanaman), berat kering daun (g/daun), anatomi(jumlah stomata), dan parameter fisiologi meliputi kandungan klorofil(a+b) (%), laju fotosintesis (μmol CO 2  m -2 s -1 ), karbohidrat daun (%),potensial air daun (bar), dan Relative Water Content (RWC) (%). Untukmengetahui parameter morfo-fisiologi yang berpengaruh nyata terhadapproduksi dilakukan uji komponen penentu hasil, yaitu peubah morfo-fisiologi terhadap produksi gelondong mete. Hasil penelitian menunjukkanpeubah klorofil tanaman jambu mete berpengaruh nyata antar aksesi. Hasilanalisis antar peubah morfo-fisiologi dan komponen hasil menunjukkanhanya peubah klorofil yang berkorelasi positif terhadap hasil gelondongaksesi jambu mete yang berproduktivitas tinggi. Fungsi hasil digambarkandalam formula ln hasil gelondong = 2,01 + 11,0 ln klorofil , sedangkan pada aksesiyang produktivitasnya rendah peubah klorofil tidak berpengaruh nyata.Fungsi ini mengindikasikan apabila kandungan klorofil meningkat 1%maka produksi gelondong akan meningkat 11%.Kata kunci: Anacardium occidentale, karakter morfo-fisiologi, produksiABSTRACTCashew productivity in Indonesia is still low, due to impropercultivation technique and the use of unimproved varieties. Crop yield isdetermined by several morpho-physiological characters such as leaf area,leaf thickness, the number of stomata, the rate of photosynthesis,chlorophyll content, relative water content (RWC), and leaf osmoticpotential. This study aimed to obtain morpho-physiological charactersaffecting cashew production. The research was conducted in the CikampekExperimental Station and in the Laboratory, ISMECRI, Bogor, West Java,from January to December 2012. The plant material used were twoselected high-yielding varieties (B02 and GG1) and three low-yieldingvarieties (Laode Gani, Laode Kase, and Laura). The plants were dividedinto three age groups (5, 8, and 17 years). Parameters measured weremorphological characteristics such as leaf thickness (µm), leaf area (cm 2 ),leaf dry weight (g/leaf), and nut yield (kg/tree), as well as anatomicalcharacteristic such as the number of stomata, and physiological parametersconsisted of chlorophyll content (a+b) (%), photosynthetic rate (µmol CO2m -2 s -1 ), leaf carbohydrate content (%), leaf water potential (bar) andrelative water content (RWC) (%). Data were analysed using componenttest to find morpho-physiological characteristics which was affecting nutyield. The result showed chlorophyll content was significantly affected nutyield among varieties as shown in the following function: ln nut yield = 2.01 +11.0 ln chlorophyll . The result indicated that when the chlorophyll contentincreased 1% the nut yield would increase 11%.Keywords: Anacardium occidentale, morpho-physiological characteris-tic, production
UJI PRODUKTIVITAS DAN MUTU TIGA VARIETAS TEMBAKAU ORIENTAL DI INDONESIA SUWARSO SUWARSO; SAMSURI TIRTOSASTRO; TITIEK YULIANTI; SUHARTO SUHARTO; SUSENO SUSENO; M. YASIN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.112-118

Abstract

ABSTRAKUntuk memperoleh varietas yang sesuai di Indonesia telahdilakukan pengujian tiga varietas tembakau oriental, yaitu Zichna, XanthiYaka dan Izmir di Desa Rejuno, Dero (Kabupaten Ngawi) danMargomulyo (Kabupaten Bojonegoro). Tipe tanah ketiga desa tersebutberturut-turut adalah lempung, liat, dan lempung berdebu. Pengujiandilakukan pada tiga periode tanam tahun 2007 dan 2008. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tipe tanah berpengaruh terhadap hasil dan indekstanaman, yang terbaik adalah tanah lempung seperti di Desa Rejuno.Berdasarkan hasil, indeks tanaman dan penilaian organoleptik, varietasyang terbaik adalah Zichna, hasilnya rata-rata 2,213 t/ha dan indekstanaman 91,66. Varietas tersebut menghasilkan sensasi iritasi dan impakrendah dan aroma sangat baik. Pada urutan berikutnya adalah varietasXanthi Yaka, hasilnya 1,742 t/ha, indeks tanaman 78,27. Berdasarkan hasilpenelitian tersebut maka kedua varietas tembakau oriental tersebut jugasesuai untuk rokok kretek di Indonesia. Keduanya sesuai ditanam pada tipetanah lempung atau tanah yang banyak mengandung kapur dan pasir.Kata kunci: Nicotiana tabacum L., tembakau oriental, varietas, IndonesiaABSTRACTProductivity and quality tests of three oriental tobacco varieties in IndonesiaThree oriental tobacco varieties were tested in villages of Rejuno,Dero (Ngawi regency), and Margomulyo (Bojonegoro regency) to find outsuitable variety to grow in Indonesia. Soil types of the three villages wereloam, clay, and silt loam, respectively. The tests were carried out for threeplanting series in 2007 and 2008. Research result showed that soil typesaffected several agronomic characters as well as yield and crop indices.The most suitable soil was silt loam as in Rejuno village. According toyield, crop index, and organoleptic evaluation, Zichna variety was the bestwith yield potential and crop index of 2.213 t/ha and 91.66.Organoleptically, the variety was low irritation and sensation impact andvery good in aroma. The second best variety was Xanthi Yaka with yieldpotential and crop index of 1.742 t/ha and 78.27. This research revealedthat Zichna and Xanthi Yaka varieties were suitable as raw material forclove cigarette. In addition, these two varieties were also well suited to begrown in Indonesia, especially on loamy and sandy soils with large amountof lime.Key words : Nicotiana tabacum L., oriental tobacco, variety, Indonesia
KERAGAMAN SPESIES PALA (Myristica spp.) MALUKU UTARA BERDASARKAN PENANDA MORFOLOGI DAN AGRONOMI SRI SOENARSIH DAS; SUDARSONO SUDARSONO; H.M.H. BINTORO DJOEFRIE; YUDIWANTI WAHYU E.K
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n1.2012.1-9

Abstract

ABSTRAKPala merupakan tanaman asli Indonesia dan informasi keragaman-nya masih terbatas. Keragaman spesies dan varietas pala penting untuk dievaluasi sebagai dasar tindakan konservasi. Keragaman varietas danspesies pala dapat dievaluasi dengan mengamati keragaman morfologi dan fenotipe di lapangan. Penelitian yang dilakukan bertujuan mengevaluasi keragaman fenotipik di antara aksesi pala dan mengevaluasi pengelompokan intra dan inter spesies pala dari Maluku Utara. Populasi pohon pala yang berumur minimal 15 tahun dari Tidore dan Patani, Halmahera Tengah, Maluku Utara digunakan dalam penelitian. Aksesi yang digunakan terdiri atas spesies Myristica fragrans, Myristica fatua, Myristica argentea, Myristica succedane, dan sejumlah aksesi yang tidak diketahui nama spesiesnya. Hasil evaluasi menunjukkan aksesi pala dari Patani dan Tidore menunjukkan variasi yang tinggi dalam bentuk buah, warna buah tua, dan bentuk biji. Hanya aksesi pala asal Tidore yang menunjukkan variasi dalam bobot fuli. Dendogram yang dibuat berdasarkan karakter fenotipe menjelaskan aksesi pala yang dianalisis ke dalam empat kelompok pada indeks kesamaan 70%. Kelompok pertama terdiri atas dua aksesi M. fatua dan satu aksesi pala yang tidak diketahui spesiesnya dari Tidore serta satu aksesi M. fragrans. Kelompok kedua terdiri atas dua aksesi M. argentea dan dua aksesi pala yang tidak diketahui spesiesnya dari Tidore serta satu aksesi M. succedanea dari Patani. Kelompok ketiga terdiri atas tiga aksesi M. argentea dan enam aksesi pala yang tidak diketahui spesiesnya dari Patani. Kelompok keempat terdiri atas dua aksesi M. fragrans dari Tidore.Kata kunci : Myristica spp., keragaman fenotipik, spesies pala, analisispengelompokan, hubungan kekerabatanABSTRACTNutmeg is native to Indonesia and information about its diversitiesare limited. Species and varietal diversities are important to be evaluatedfor conservation purposes of this crop. Nutmeg species and varietaldiversities could be assessed by observing morphological and phenotypicvariabilities in the field. The objectives of this research were to assessphenotypic variabilities among nutmeg accessions of North Moluccas andevaluate intra and inter specific clustering of nutmeg accessions in theregions. At least fifteen years old provenances of nutmeg population atTidore and Patani, Central Halmahera, North Moluccas were used in thisexperiment. The accessions consisted of Myristica fragrans, Myristicafatua, Myristica argentea, Myristica succedane, and a number of unknownnutmeg species. Nutmeg accessions from Patani and Tidore showed widevariabilities in fruit shape, mature fruit color, and seed shape. While onlynutmeg accessions from Tidore showed variabilities in mace weight.Dendogram constructed based on phenotypic character grouped thenutmeg accessions into four groups at 70% similarity index. The firstgroup consisted of two accessions M. fatua and one unknown nutmegspecies from Tidore and M. fragrans from Patani. The second groupconsisted of two accessions of M. argentea and two unknown nutmegspecies from Tidore and one accessions of M. succedanea from Patani.The third group consisted of only M. argentea and six unknown nutmegspecies from Patani. The fourth group consisted of two M. fragransassessions from Tidore.Key words : Phenotypic diversity, nutmeg species, clustering analysis,kinship relationships, Indonesian nutmeg
DETEKSI SECARA SEROLOGI DAN MOLEKULER BEBERAPA JENIS VIRUS YANG BERASOSIASI DENGAN PENYAKIT MOSAIK TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth) MIFTAKHUROHMAH MIFTAKHUROHMAH; GEDE SUASTIKA; TRI ASMIRA DAMAYANTI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n3.2013.130-138

Abstract

ABSTRAKPenyakit mosaik pada tanaman nilam disebabkan oleh beberapajenis virus, yaitu Potyvirus, Potexvirus, Cucumber mosaic virus (CMV),dan Broad bean wilt virus 2 (BBWV2). Penelitian ini bertujuan untukmengidentifikasi secara serologi dan molekuler virus-virus yangberasosiasi dengan gejala mosaik pada nilam di KP. Manoko, KP. Cicurugdan lahan petani di Cijeruk. Sampel daun nilam baik yang menunjukkangejala mosaik atau pun tidak diambil dari setiap lokasi penanamanmasing–masing sebanyak 30 sampel. Kejadian penyakit ditentukan melaluideteksi serologi dengan Direct-ELISA dan Indirect-ELISA terhadap sampelmenggunakan empat antiserum, yaitu CMV, Cymbidium mosaic virus(CymMV), Potyvirus, dan BBWV2. Deteksi molekuler dengan RT-PCRdilakukan untuk mengonfirmasi virus baru yang ditemukan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa gejala infeksi virus yang ditemukan padanilam bervariasi, yaitu mosaik lemah, mosaik kuning hijau, mosaik denganpenebalan, mosaik dengan malformasi daun, dan bintik kuning. Secaraserologi, kejadian virus pada setiap kebun bervariasi. Di KP Manoko,Potyvirus dan BBWV2 lebih dominan (100%) dibandingkan CymMV. DiKP Cicurug, kejadian Potyvirus dan CMV terlihat lebih dominan (83,3 dan80%) dibandingkan BBWV2 dan CymMV, sedangkan di Cijeruk, BBWV2lebih dominan (90%) dari Potyvirus (50%) dan CMV (13,3%). Hasil RT-PCR dengan primer degenerate BBWV, diidentifikasi BBWV2 padasampel daun nilam dari Manoko, Cicurug, dan Cijeruk, sedangkan denganprimer general Potexvirus, diidentifikasi CymMV hanya dari sampel daunnilam dari asal Manoko. Hasil penelitian ini merupakan laporan pertamatentang BBWV2 dan CymMV pada tanaman nilam di Jawa Barat yangmengindikasikan bahwa virus merupakan kendala utama pada perbenihannilam yang harus segera diatasi.Kata kunci: BBWV2, CymMV, mosaik, Pogostemon cablin Benth, PCRABSTRACTMosaic symptoms on patchouli plant are associated with severalviruses, i.e. Potyvirus, Potexvirus, CMV, and BBWV2. The objective ofthe study was to detect virus(es) associated with mosaic symptoms onpatchouli at the the patchouli seed nurseries, in Manoko, Cicurug, andCijeruk. Thirty leaf samples either showing typical symptomatic mosaic orasymptomatic were taken from each location. Serological testing byDirect-ELISA and Indirect-ELISA using four antisera namely CMV,Cymbidium mosaic virus (CymMV), Potyvirus, and BBWV2 was carriedout to test the incidence of each virus. Molecular detection by RT-PCR wasperformed to confirm the new virus(es). The results showed that symptomsof virus infection were found vary, i.e. weak mosaic, green yellow mosaic,mosaic with thickening, mosaic with leaf malformations, and yellow spot.Based on the serological detection, virus(es) incidence varied at each seednurseries. In Manoko, Potyvirus, and BBWV2 were more dominant(100%) compared with CymMV. In Cicurug, Potyvirus and CMV weremore dominat (83.3 and 80%) compared with BBWV2 and CymMV.While in Cijeruk, BBWV2 was the most dominant (90%) than Potyvirus(50%) and CMV(13.3%). Result of RT-PCR with degenerate primers pairof BBWV was succesfully identified BBWV2 from Manoko, Cicurug, andCijeruk samples, whereas by using Potexvirus general primary, CymMVwas identified only from Manoko samples. BBWV2 and CymMV werefirst reported to infect patchouli in West Java. The result indicate thatvirus(es) are the major constraint on patchouli seed that should bemanaged immediately.Key words: BBWV2, CymMV, mosaic, Pogostemon cablin Benth, PCR
PENGARUH SUHU INKUBASI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN EMBRIO SOMATIK PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.) NUR AJIJAH; IRENG DARWATI; YUDIWANTI YUDIWANTI; ROOSTIKA ROOSTIKA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n2.2010.56-63

Abstract

ABSTRAKPurwoceng (Pimpinella pruatjan Molk. atau P. alpina KDS.) merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia endemik dataran tinggidan pada saat ini dibudidayakan secara terbatas di Dataran Tinggi Dieng.Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk memperluas arealpengembangan tanaman ini adalah melalui perakitan varietas tolerandataran rendah atau menengah, yang antara lain dapat diperoleh melaluipendekatan seleksi ketahanan terhadap suhu tinggi yang dapat dilakukansecara in vitro. Pengaruh cekaman suhu tinggi terhadap pertumbuhan danperkembangan purwoceng secara in vitro sejauh ini belum diketahui.Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu inkubasi terhadappertumbuhan dan perkembangan embrio somatik purwoceng secara invitro. Penelitian dilaksanakan di laboratorium kultur jaringan BalaiPenelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogor mulai Oktober2007 – Maret 2008. Embrio somatik purwoceng diinduksi dari eksplandaun aseptik. Embrio somatik fase globuler yang terbentuk dipergunakansebagai eksplan kemudian diinkubasi pada tiga taraf suhu ruang yaitu 17,3± 0,5ºC (kontrol), 23,3 ± 2,1ºC, dan 32,8 ± 1,7ºC selama 3 bulan dengansub kultur setiap bulan sampai terbentuk planlet/tunas. Pengamatandilakukan terhadap peubah pertumbuhan dan perkembangan eksplanembrio somatik yang meliputi penambahan bobot segar eksplan,persentase eksplan yang membentuk tunas, jumlah tunas yang terbentukper eksplan serta persentase eksplan hidup. Hasil penelitian menunjukkanbahwa suhu inkubasi berpengaruh nyata terhadap semua peubah yangdiamati. Rata-rata  penambahan  bobot  segar,  persentase  eksplanmembentuk tunas, jumlah tunas per eksplan dan persentase eksplan hidupsemakin menurun dengan semakin meningkatnya suhu inkubasi. Suhu 32,8± 1,7ºC memberikan pengaruh penghambatan yang nyata terhadappertumbuhan dan perkembangan embrio somatik purwoceng dibandingkansuhu kontrol dan 23,3 ± 2,1ºC sejak periode inkubasi 1 bulan. Sedangkansuhu 23,3 ± 2,1ºC baru memberikan pengaruh penghambatan yang nyatasetelah periode inkubasi 3 bulan.Kata kunci : Pimpinella pruatjan, embrio somatik, suhu, pertumbuhanABSTRACTEffect of temperature incubation on growth and de-velopment of Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.)somatic embryosPurwoceng (Pimpinella pruatjan Molk., P. alpina KDS.) is one ofIndonesian medicinal plants. It is high altitude endemic species which iscurrently cultivated on a limited areas in the Dieng Plateau. One effort toexpand purwoceng cultivation areas is through the assembly ofpurwoceng varieties tolerant to low or medium altitude, among others, canbe obtained through the approach of selection for high temperaturetolerance that can be done by in vitro selection. How high temperaturestress influencing the growth and development of purwoceng somaticembryos is not known yet. The research aimed at determining theinfluence of incubation temperature on the growth and development ofpurwoceng somatic embryos. The research was conducted at tissue culturelaboratory of Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institute(IMACRI) from October 2007 – March 2008. Purwoceng somaticembryos induced from aseptic leaves incubated at three levels of roomtemperature i.e. 17.3 ± 0.5 º C (control), 23.3 ± 2.1 ºC, and 32.8 ± 1.7 º Cfor 3 months with a subculture every month. Variables observed wereexplants fresh weight increment, percentage of explants forming shoot,number of shoot per explants, and percentage of survive explants. Theresult showed that the average of explants fresh weight increment,percentage of explants forming shoot, number of shoot per explants, andpercentage of survive explants decreased with the increase of temperature.The growth and development of purwoceng somatic embryos weresignificantly inhibited at the temperature of 32.8 ± 1.7ºC since one monthafter incubation, while the inhibition of temperature of 23.3 ± 2.1 ºC wasnot significant except after 3 month of incubation.Key words: Pimpinella pruatjan, somatic embryos, temperature, growth

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue