cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 212 Documents
Optimasi Pemanfaatan Lahan untuk Peningkatan Produksi Padi di Kalimantan Selatan Masganti Masganti; Ani Susilawati; Nurmili Yuliani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v14n2.2020.101-114

Abstract

Abstrak. Masalah penyediaan beras dihadapkan pada ketersediaan, alih fungsi, dan kompetisi pemanfaatan lahan, degradasi kesuburan tanah dan kerusakan infrastruktur pertanian, menurunnya jumlah keluarga tani dan gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), tata ruang pertanian, jumlah penduduk dan kebutuhan konsumsi individu meningkat, dan efisiensi konsumsi. Kalimantan Selatan dalam perberasan nasional menduduki ranking 12 dari 34 provinsi. Meski produksi beras nasional pada tahun 2019 lebih rendah dari tahun 2018, tetapi Kalsel termasuk 8 provinsi yang mengalami kenaikan dan surplus sebesar 306.621 ton atau sekitar 63,37%. Peningkatan produksi padi di Kalimantan Selatan dapat dilakukan melalui optimasi pemanfaatan lahan sawah irigasi, lahan tadah hujan, lahan kering, lahan rawa pasang surut, dan lahan rawa lebak serta lahan yang tidak digunakan. Optimasi pemanfaatan lahan untuk peningkatan produksi padi dan perbaikan ranking Kalsel dalam perberasan nasional melalui peningkatan IP di daerah yang berpotensi ditingkatkan IP-nya dengan persyaratan tertentu, peningkatan produktivitas dengan perlakuan khusus di daerah tertentu, perluasan tanam di daerah-daerah yang potensial untuk dibuka sebagai sawah baru, dan tumpangsari dengan tanaman perkebunan,  yang didukung oleh kebijakan inventarisasi kondisi eksisting lahan pertanian, optimasi dan revitalisasi infrastruktur pengelolaan air, optimasi penggunaan alsintan, pengamanan panen, konsolidasi manajemen pemanfaatan lahan, perbaikan kelembagaan pertanian dan petani, dan penyusunan tata ruang pertanian.Abstact. Problems with rice supply are faced with responsibilities, transfer of functions, and competition for land use, degradation of soil fertility and damage to agricultural infrastructure, number of farming families and policies on excavation of plants), agricultural spatial planning, population and individual consumption needs, and consumption efficiency. South Kalimantan is ranked 12th out of 34 provinces in the national rice stock. Although the national rice production in 2019 is lower than in 2018, South Kalimantan is included in 8 provinces which added and a surplus of 306,621 tons or around 63.37%. Increased rice production in South Kalimantan can be done through the optimization of the use of paddy fields, rainfed land, dry land, tidal swamp land, and swamp land and land that is not used. Improve rankings to increase production and improve South Kalimantan's ranking in national rice through increasing IPs in regions that have improved IPs with special requirements, increasing productivity with special assistance in certain areas, increasing planting in areas that have the potential to be changed as new rice fields, and intercropping with plantation crops, supported by policies inventory of existing conditions of agricultural land, optimization and revitalization of water management infrastructure, optimizing the use of agricultural machinery, securing the harvest, investment in land use management, improving agricultural and farmer safety, and  preparation of agricultural spatial planning.
Pengendalian Degradasi Lahan di DAS Citarum Hulu dan Tengah di Provinsi Jawa Barat Ishak Juarsah
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 3 (2016): (Edisi Khusus)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n3.2016.47-57

Abstract

Abstrak. DAS Citarum hulu berawal dari hulu sungai pada lereng G. Wayang (Danau Cisanti), di wilayah Desa Cibeureum, Kertasari, Kabupaten Bandung sampai ujung waduk Saguling; dan DAS Citarum tengah meliputi wilayah tangkapan air waduk Saguling-Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur. Di kawasan DAS ini, area seluas 14.907 ha (2,6%) telah terdegradasi berat, 49.827 ha (8,6%) terdegradasi sedang, 307.743 ha (52,9%) terdegradasi ringan. Erosi tanah, pencemaran kimia dan residu limbah industri sebagai faktor pemicu terjadinya lahan terdegradasi di DAS Citarum yang akhirnyasebagian lahan berlereng menjadi kritis.Lahan terdegradasi dan lahan kritis bukan saja merupakan lahan yang tidak produktif, tetapi juga dapat menjadi sumber bencana, mulai dari banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Meluasnya lahan terdegradasi akan berakibat terhadap semakin parahnya kerusakan lingkungan, yang mendorong terjadinya bencana alam semakin tinggi dan lahan pertanian menjadi tidak produktif. Upaya perlindungan lahan yang mendesak untuk segera ditangani dalam usaha pemulihan lahan terdegradasi antara lain: pengendalian degradasi lahan di daerah tangkapan hujan (water catchment area); dan pengendalian konversi lahan terutama di kawasan lahan berhutan/tanaman tahunan menjadi lahan pertanian/non pertanian. Lahan pertanian juga perlu dilindungi terhadap pencemaran kimia dan limbah industri. Perlu mendorong dan membantu petani untuk pengendalian erosi tanah seperti pembuatan teras bangku, gulud, strip rumput, mulsa, dan pertanaman lorong. Selain itu perlu mengupayakan implementasi teknik panen hujan dan aliran permukaan secara optimal untuk konservasi tanah air dan meningkatkan kapasitas/daya tampung DAS, sehingga selama musim kemarau tampungan air tersebut dapat digunakan sebagai sumber irigasi ataupun berfungsi untuk mempertahankan kelembaban tanah. Pemulihan tanah yang telah terkena pencemaran bahan kimia dan limbah industri dapat dilakukan dengan aplikasi bahan organik yang bermanfaat untuk meng-imobiliasi logam berat di tanah. Seiring dengan mengemukanya isu lingkungan dan kesehatan, maka pembangunan pertanian berkelanjutan di kawasan DAS hulu dan tengah adalah pembangunan pertanian yang mengkombinasikan teknologi tradisional dengan teknologi modern, yaitu memacu kenaikan produksi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Land Suitability and Direction of Strategic Agricultural Commodities in East Kalimantan to Support the Development of the New Nation’s Capital of Republic of Indonesia Sukarman Sukarman; Erna Suryani; Husnain Husnain
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n1.2021.1-12

Abstract

Abstract. The development of the new nation's capital in East Kalimantan must be supported with sufficient food supply. An Agricultural buffer zone must be provided as production area of food crops, horticulture, plantation, and livestock to suffice the food needs. The planning of landuse arrangement in the area required land suitability assessment for various agricultural commodities. The purpose of this paper is to provide information of land suitability in East Kalimantan Province that support the development plan of the new capital of the Republic of Indonesia. Literature studies of the previous research in East Kalimantan Province are carried out by the Indonesian Center for Agricultural Land Resources Research and Development (ICALRRD), as well as other research institutions. Based on the researches by ICALRRD conducted between year 2016-2019, the land suitable for agriculture is quite extensive (7.7 million ha), mostly for dry land farming. It is classified as suitable (S) mainly for plantation, forage, dry land food, horticulture, and upland rice, especially rainfed paddy. Only a small part is suitable for swamp lowland paddy field or tidal paddy field. The efforts to develop the regions include: (1) the expansion of new areas called as extensification (E), and a little through intensification (I). Extensification is conducted by cultivating superior commodities on new opening land that were previously in the form of shrubs or swampy shrubs, and open area or pasture. The available area for extensification program in East Kalimantan is 2.728 million ha. (2) The intensification program is carried out through the development of commodities in the existing land by strengthening the application of land technology, water management, crops varieties selection and cultivation techniques covering 73.2 thousand ha.Abstrak. Rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur, perlu didukung oleh kawasan penyangga pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan) untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Perencanaan penyusunan kawasan tersebut memerlukan data kesesuaian lahan berbagai komoditas pertanian. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk memberikan informasi data tentang kesesuaian lahan di Provinsi Kalimantan Timur dalam mendukung rencana pembangunan ibukota baru Republik Indonesia. Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi literatur dari hasil penelitian di Provinsi Kalimantan Timur, baik yang dilaksanakan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), maupun lembaga penelitian lain. Berdasarkan data hasil penelitian BBSDLP antara tahun 2016-2019, lahan yang sesuai untuk pertanian cukup luas (7,7 juta ha), terutama untuk pertanian lahan kering. Lahan yang tergolong kelas sesuai (S) sebagian besar untuk tanaman perkebunan, pakan ternak, pertanian tanaman pangan lahan kering, hortikultura, dan padi sawah tadah hujan. Hanya sedikit yang sesuai untuk pertanian padi rawa lebak atau padi pasang surut. Upaya yang dapat ditempuh untuk membangun kawasan ini adalah: (1) melalui perluasan areal baru atau ekstensifikasi (E) tanaman perkebunan, pakan ternak, pertanian tanaman pangan lahan kering, hortikultura, dan padi sawah tadah hujan, pada lahan bukaan baru yang sebelumnya berupa semak belukar atau semak belukar rawa, lahan terbuka atau padang rumput seluas 2,728 juta ha. (2) melalui program intensifikasi (I) dilakukan melalui pengembangan komoditas di lahan sawah eksisting melalui penguatan aplikasi teknologi pengelolaan lahan, pengelolaan air, penggunaan varietas unggul, dan teknik budidaya, seluas 73,2 ribu ha.
Implementasi Teknologi Mendukung Peningkatan Indeks Pertanaman Jagung di Kabupaten Muaro Jambi Suci Primilestari; Hendri Purnama; Rima Purnamayani; Woro Estiningtyas
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n2.2021.75-88

Abstract

Kabupaten Muaro Jambi memiliki potensi lahan dan air untuk peningkatan IP (Indeks Pertanaman) khususnya komoditas jagung dengan potensi lahan kering seluas 85.540 ha.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan inovasi teknologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan indeks pertanaman pada lahan kering.  Tulisan ini bertujuan mengkaji potensi, ketersediaan teknologi, serta tantangan dan solusi dalam upaya meningkatkan IP jagung di lahan kering Kabupaten Muaro Jambi.  Potensi di Muaro Jambi untuk meningkatkan IP yaitu potensi iklim dengan curah hujan yang cukup rendah, potensi  sumberdaya lahan yang sesuai untuk tanaman jagung berdasarkan arahan peta pewilayahan komoditas dan potensi tanam berdasarkan Kalender Tanam (Katam).  Untuk mendukung potensi dan tujuan peningkatan IP Jagung di Kabupaten Muaro Jambi, telah diidentifikasi ketersediaan teknologi diantaranya Varietas Unggul Baru Jagung Hibrida, pengaturan pola dan waktu tanam berdasarkan Sistem Informasi Katam dan teknologi pengelolaan air yang membutuhkan introduksi infrastruktur panen dan hemat air.  Tingkat adopsi teknologi petani merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan IP di Kabupaten Muaro Jambi. Kendala tingkat adopsi oleh petani dalam penerapan teknologi untuk meningkatkan IP, dapat diatasi dengan sosialisasi inovasi teknologi pendukung peningkatan IP, pendekatan sosial budaya kepada petani, penyuluhan dengan berbagai media dan metode diseminasi yang sesuai membangun kelembagaan serta pendampingan implementasi teknologi. Implementasi peningkatan indeks pertanaman harus dilihat secara komprehensif, dengan mempelajari permasalahan yang ada, melihat potensi dan peluang serta  kemudian menyampaikan solusi dan manfaat kepada petani.
BIOCHAR-KOMPOS BERBASIS LIMBAH KELAPA SAWIT: Bahan Amandemen untuk Memperbaiki Kesuburan dan Produktivitas Tanah Di Lahan Rawa Wahida Annisa
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n2.2021.103-116

Abstract

Umumnya untuk mengurangi toksisitad baik Al3+dan Fe2+ di lahan rawa dengan pengapuran, namun ini bukan solusi yang tepat karena tidak untuk jangka Panjang, karena pengapuran hanya menyembuhkan gejalanya saja.  Penambahan bahan amandemen tanah seperti bahan organic dan kompos merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan di lahan rawa.  Pesatnya perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia, mengakibatkan semakin besar juga limbah biomassa yang di hasilkan.  Tandan buah kosong kelapa sawit merupakan limbah terbesar yang dihasilkan dari perkebunan sawit dibandingkan dengan limbah kelapa sawit lainnya seperti cangkang sawit.  Pengelolaan biomassa tandan buah kosong kelapa sawit dalam jumlah besar dengan metode konvensional seperti penimbunan lahan dan pembakaran di pabrik akan menimbulkan masalah dampak lingkungan yang serius.  Pengomposan dan mengubah menjadi biochar menjadi salah satu alternatif untuk pengelolaan limbah yang menghasilkan amandemen tanah untuk memperbaiki kesuburan tanah rawa dan produktivitas serta memulihkan daerah yang terkontaminasi dengan logam yang berpotensi beracun.  Paper ini menggunakan metode sistematik review yang merangkum hasil-hasil penelitian primer.  Tujuan penulisan paper ini adalah: mensintesis seluruh hasil penelitian secara kualitatif untuk menggali potensi biochar dan kompos sebagai bahan amelioran untuk meningkatkan kesuburan dan produktivitas tanah di lahan rawa. Kata Kunci: biomassa kelapa sawit, unsur toksik, dekomposisi, pirolisis, sifat kimia
Pengembangan Teknologi Panen Air untuk Memenuhi Kebutuhan Domestik Nani Heryani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n2.2021.117-129

Abstract

Kelangkaan air secara global terjadi antara lain karena pertumbuhan penduduk yang tinggi, persaingan penggunaan air, dan perubahan iklim global. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini antara lain pemanfaatan sumber air alami berupa air hujan. Teknologi yang sudah ada sejak masa lalu sudah diaplikasikan secara luas di berbagai negara, namun di Indonesia belum diaplikasikan secara luas. Teknologi sederhana ini dapat dilakukan pada wilayah dengan curah hujan rendah sampai tinggi, baik di perkotaan maupun pedesaan. Aplikasi teknologi panen air hujan untuk keperluan domestik semakin bermanfaat jika terjadi anomali iklim (El-Nino) dan pada saat defisit air. Rancangan panen air untuk keperluan domestik harus memperhitungkan kebutuhan dan ketersediaan air serta kemampuan teknis dan keuangan. Peran aktif masyarakat dalam perancangan dan pemeliharaan sangat penting untuk keberlanjutan pengembangan teknologinya.
Cover JSDL No 15 Vol.2 2021 Laelatul Qodaryani, S. Kom
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover JSDL No 15 Vol.2 2021
Environmentally Friendly Agricultural Development Mas Teddy Sutriadi; A. Wihardjaka; E. Srihayu Harsanti; Ali Pramono
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n2.2021.89-102

Abstract

Abstract.  Environmentally friendly agriculture is an agricultural system that manages all resources and inputs of the agricultural system to achieve optimal productivity and economic benefits, but has a low risk of resource and environmental sustainability, as well as global warming/climate change. Environmentally friendly implementation strategies lead to synergy and integration between technologies, optimization of resources and production inputs which are carried out through three approaches, namely: (1) Anticipation, adaptation, and mitigation approaches in the context of global warming and climate change, (2) Mitigation approach, countermeasures, and remediation in the context of edhapik and biological environments, and (3) Land remediation approach in the context of degradation and pollution of land, air and ecosystem resources due to excessive use of agrochemicals. Support for research activities and development of adaptation, mitigation and remediation strategies for the restoration of polluted land is expected to increase the economy while producing healthy agricultural products and environment. Various regulations and policies for implementing a sustainable agricultural environment, socialization and implementation in the field must be supported by an agricultural environment information system that is easily accessed by users.
Strategi Peningkatan Produktivitas Padi melalui Sistem Salibu David Septian Sumanto Marpaung
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 16, No 1 (2022): Akan Terbit Resmi Pada Bulan Juli
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v16n1.2022.1-7

Abstract

Beras merupakan makanan utama bagi masyarakat Indonesia. Kebutuhan akan beras, melalui tanaman padi meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di Indonesia. Namun, ketersediaan lahan untuk bercocok tanam, terus berkurang dari tahun ke tahun. Sistem salibu merupakan salah satu metode yang dapat diterapkan untuk peningkatan produktivitas padi yang efektif dan ramah lingkungan. Berbagai macam strategi untuk mendukung sistem salibu dalam peningkatan nilai produksi tanaman padi telah diterapkan, diantaranya perlakuan waktu pemotongan tunggul, perlakuan tinggi pemotongan tunggul, manajemen air, penggunaan pupuk, dan penggunaan varietas unggul. Melalui tulisan  ini diharapkan  dapat  memberikan  informasi  tentang  sistem salibu padi  dan strategi peningkatan produktivitasnya.
Best Practices Pengelolaan Air Perkebunan Kelapa Sawit di Lahan Gambut Rima Purnamayani; Ai Dariah; Haris Syahbuddin; Suria Darma Tarigan; Sudradjat Sudradjat
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 16, No 1 (2022): Akan Terbit Resmi Pada Bulan Juli
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v16n1.2022.9-21

Abstract

Alih fungsi hutan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit seringkali menimbulkan isu lingkungan.  Budidaya kelapa sawit di lahan gambut membutuhkan drainase untuk menurunkan kedalaman muka air tanah sampai batas tertentu. Tulisan ini ditujukan untuk memberikan informasi dan menelaah best practices pengelolaan air pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut untuk mencapai pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.  Pengelolaan air merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan lahan gambut sehingga diperoleh produktivitas lahan yang optimal, namun mampu mempertahankan kelestarian sumber daya lahan gambut.  Produktivitas kelapa sawit di lahan gambut bervariasi tergantung umur tanaman, kesuburan lahan, dan kedalaman muka air tanah. Best practices pengelolaan air berbasis kearifan lokal menjadi dasar pengelolaan air pada skala lebih luas.  Best practices pengelolaan air di perusahaan perkebunan besar sudah memperhitungkan rancangan drainase secara lebih presisi, menggunakan metode pembendungan menggunakan pagar kayu, tiang pancang, karung berisi pasir dan dinding batu.  Pengelolaan air yang harus diimplementasikan pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut adalah pengelolaan air yang berfungsi ganda, yaitu untuk membuang kelebihan air pada musim hujan dan konservasi air pada musim kemarau. Best practices pengelolaan air pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut harus memperhitungkan aspek berkelanjutan, yaitu dengan memperhatikan aspek ekologi, sosial dan ekonomi.