cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 212 Documents
Manfaat Inovasi Teknologi Sumberdaya Lahan Pertanian Dalam Mendukung Pembangunan Pertanian Mamat H. S.; Sukarman Sukarman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v14n2.2020.115-132

Abstract

Abstrak. Permasalahan pupuk, lahan terdegradasi, dan pencemaran, pengelolaan sumberdaya lahan rawa, dan pengelolaan sumberdaya air yang terbatas di lahan pertanian, merupakan isu atau permasalahan mendesak yang harus dicari pemecahannya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) telah menghasilkan beberapa teknologi yang siap diaplikasikan. Dalam dua tahun terakhir, output hasil penelitian BBSDLP tersebut dalam bentuk produk teknologi dan rekomendasi anjuran teknologi sumberdaya lahan telah diaplikasikan dan dimanfaatkan dalam mendukung program prioritas sektor pertanian. Program prioritas dimaksud, adalah: (1) program selamatkan rawa dan sejahterakan petani disingkat SERASI, (2) program penurunan pencemaran lingkungan, (3) program peningkatan produktivitas pertanian dan (4) program antisipasi perubahan iklim. Terdapat opini yang paradoks, institusi lembaga riset menganggap bahwa banyak teknologi hasil penelitian yang siap diaplikasikan, tetapi menurut sebagian petani sangat terbatas teknologi hasil penelitian yang siap dimanfaatkan petani. Untuk itu perlu analisis secara seksama sehingga memperoleh gambaran yang akurat dan dimana letak permasalahannya serta bagaimana cara mengatasinya agar teknologi hasil penelitian tersebut efektif. Hasil evaluasi awal beberapa teknologi yang dimanfaatkan dalam program prioritas tersebut telah menunjukkan nilai tambah atau nilai indeks efisiensi teknis dalam bentuk meningkatkan produktivitas hasil (sekitar 30%) atau efisiensi penggunaan input produksi (contohnya mengefisiensikan penggunaan pupuk N,P sebesar 20%), walaupun masih perlu kajian lebih lanjut, apakah teknologi tersebut berpotensi memberikan dampak potensial (potential impact). Sebagian besar teknologi unggulan tersebut menunjukkan dampak awal (initial impact) yang positif dalam bentuk penyebaran dan aplikasi teknologi oleh petani di wilayah pengembangan.  Abstract. The problem of fertilizer, degraded land, and pollution, management of swampy land resources, and management of limited water resources on agricultural land, are urgent issues or problems that have to be resolved. To overcome these problems, ICALRD has produced several technologies that have been and are ready to be applied. In the last two years, it has been shown that some of the outputs of research results in the form of technological products and recommendations for land resource technology have been applied and utilized in supporting the priority programs in the agricultural sector. The priority programs referred to are: (1) safe the peat swamp and increased farmer’s welfare program abbreviated as SERASI, (2) environmental pollution reduction program, (3) agricultural productivity improvement program and (4) climate change anticipation program. There is a paradox opinion between beween research institute and farmers; where many technologies have been resulted by research institute and ready for application but according to some farmers only few technologies are available and applicable. For this reason, a careful analysis is needed to assess what the problems are and how to overcome them so that the research technology is more effective. Initial evaluation results of several technologies utilized in the priority program have shown the added values or technical efficiency index values in the form of increasing yield productivity (around 30%) or efficient use of production inputs (eg efficient use of N, P fertilizers up to 20%). However, there is still a need for further study to determine whether the technology is promishing to have a potential impact. Most of the leading technologies show positive initial impacts in the form of technological dissemination and application by farmers in development areas.  
Membuat Peta Tanah dengan Teknik Disagregasi Spasial Yiyi Sulaeman; Husnain Husnain
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n2.2021.59-73

Abstract

Peta tanah merupakan informasi spasial dasar untuk perencanaan dan praktek pengelolaan lahan dan lingkungan. Informasi spasial tanah yang detil, terkini, dan kontekstual diperlukan dalam waktu yang tepat yang dapat disediakan melalui penerapan pendekatan digital soil mapping (DSM) berdasarkan data tanah warisan.  Pemanfaatan teknologi DSM perlu disesaikan dengan kondisi infrastruktur data setempat. Tulisan ini membahas tentang teknik disagregasi spasial untuk membuat peta tanah dan mengevaluasi tantangan penerapannya di Indonesia. DSM merupakan subdisiplin ilmu tanah yang paling aktif menghasilkan produk riset. Salahsatu teknik DSM yang diterapkan diberbagai tempat adalah teknik Disagregasi Spasial. Teknik ini bekerja di wilayah yang mempunyai peta tanah baik meliputi seluruh wilayah atau sebagiannya dan memisahkan sub-sub poligon suatu satuan peta tanah menjadi bagian-bagian yang lebih detil. Aneka algoritma disagregasi spasial sudah banyak dikembangkan dan bemanfaat digunakan di wilayah Indonesia khususnya untuk pendetilan peta, penyelerasan batas peta, dan pembuatan peta di wilayah baru menggunakan hubungan tanah-lanskap dari wilayah lain. Aneka alat bantu dikembangkan yang dapat mempercepat dan mempermudah implementasi disagregasi spasial di lapangan. Kasus-kasus terpilih juga disajikan dan didiskusikan. Dengan meningkatkan kapasitas dan penelitian, implementasi teknik akan menyediakan algotiruma yang lebih jitu yang pada saat bersamaan menambah informasi spasial tanah.  
Polusi Tanah dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Manusia Mirawanty Amin
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n1.2021.36-45

Abstract

Abstrak.  Polusi tanah merupakan masalah lingkungan yang sering dihadapi. Polusi tanah mengacu pada keberadaan bahan kimia atau zat yang hadir dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari batas normal serta memiliki dampak negatif pada makhluk hidup dan lingkungan. Sumber polusi tanah diantaranya berasal dari kegiatan pertambangan, limbah rumah tangga, kegiatan pertanian dan masih banyak lagi. Apabila tidak dilakukan tindakan pencegahan atau remediasi dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, terutama bagi kesehatan manusia. Berbagai macam metode remediasi dapat dilakukan dengan metode berbasis sains, seperti peningkatan aktivitas mikroba (bioremediasi) dan penggunaan vegetasi untuk menghilangkan kontaminan (fitoremediasi). Metode ini dianggap dapat menjadi teknik pengendalian tanah tercemar karena mudah dan ekonomis untuk dilakukan.  Tindakan pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pestisida nabati.  Arang aktif dapat juga digunakan untuk mengatasi masalah polusi tanah akibat residu pestisida. Arang aktif diketahui memiliki daya serap yang tinggi terhadap pencemar residu pestisida.  Diharapkan tulisan ini dapat memberikan informasi tentang polusi tanah dan dampaknya terhadap kesehatan manusia serta tindakan pencegahannya.
Peran Amelioran Tanah Mineral Terhadap Peningkatan Berbagai Unsur Kesuburan Tanah Gambut pada Perkebunan Kelapa Sawit Suratman Suratman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 3 (2016): (Edisi Khusus)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n3.2016.21-32

Abstract

Abstrak. Kesuburan tanah merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan tingkat produktivitas lahan yang mendukung keberhasilan dalam pengelolaan lahan gambut di perkebunan kelapa sawit. Penggunaan lahan gambut di Indonesia akhir-akhir ini berkembang sangat pesat, tidak terkecuali untuk perkebunan kelapa sawit. Hal tersebut dipicu oleh semakin terbatasnya lahan potensial tanah mineral dan cukup luasnya lahan gambut terlantar/terdegradasi. Pengelolaan lahan gambut yang tidak tepat sering menimbulkan permasalahan. Selain isu lingkungan, degradasi lahan gambut merupakan permasalahan yang serius, khususnya terhadap kesuburan tanah. Pengelolaan lahan dengan menggunakan amelioran merupakan salah satu upaya untuk meningkakan produktivitas lahan gambut. Penggunakan amelioran tanah mineral telah dilakukan pada lahan gambut di areal perkebunan kelapa sawit. Berbagai kajian penggunaan amelioran tanah mineral pada lahan gambut dengan cara dihamparkan di sekitar lingkar pohon kelapa sawit dengan jarak 3 m dari pohon menunjukkan bahwa pemberian amelioran dengan dosis 100 kg pohon-1 atau setara dengan 13.600 kg ha-1 dapat meningkatkan kesuburan secara nyata. Semakin dekat ke kanal pemberian bahan amelioran semakin efektif berdampak pada peningkatan kesuburan tanah, pertumbuhan tanaman dan produksinya.
Cover JSDL Vol 14 No. 2 Laelatul Qodaryani, S. Kom
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover
Peran Analisis Neraca Air untuk Perencanaan Pertanian di Kabupaten Konawe Selatan Fathnur fathnur; Thamrin Kunta; Musyadik Musyadik
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n1.2021.46-56

Abstract

Abstract. Water is a natural resource that has various functions for both potable water and economic activities such as industry, agriculture and tourism. The availability of groundwater, which mostly comes from rainfall, is an important limiting factor for increasing plant production. The concept of the environmental hydrological cycle (for example in a watershed) states that the amount of water somewhere on the earth surface is influenced by the amount of water that enters / absorbs (input) and leaves (output) at a certain time. The balance of water input and output at a certain area is known as water balance. Water balance is a method that can be used to see the availability of groundwater for plant at a certain time. One of the procedures for calculating the water balance is based on the Thornthwaite and Mather (1957) method. Water balance calculation needs to be done in every agricultural planning in line with climate change. The purpose of this paper is to examine the use of a general water balance for agricultural planning in Konawe Selatan District, Southeast Sulawesi Province. Abstrak. Air merupakan sumberdaya alam yang memiliki beragam fungsi baik sebagai konsumsi air bersih maupun kegiatan perekonomian seperti industri, pertanian, dan pariwisata. Ketersediaan air tanah yang sebagian besar berasal dari curah hujan merupakan factor pembatas yang penting bagi peningkatan produksi suatu tanaman. Konsep siklus hidrologi lingkungan menyatakan bahwa jumlah air disuatu luasan tertentu di permukaan bumi dipengaruhi oleh besarnya air yang masuk/meresap (input) dan keluar (output) pada jangka waktut ertentu. Neraca  masukan dan keluaran air disuatu tempat dikenal sebagai neraca air (waterbalance). Neraca air merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk melihat ketersediaan air tanah bagi tanaman pada waktut ertentu. Salah satu prosedur perhitungan neraca air adalah berdasarkan metode Thorntwaite dan Mather (1957) dengan satuan tinggi air (mm). Tujuan dari penulisan makalah ini adalah menelaah penggunaan neraca air umum untuk perencanaan pertanian berdasarkan hasilpenelitian di Kecamatan Lamooso Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.   
Pemanfaatan Data Sumberdaya Lahan untuk Pengembangan Komoditas Strategis di Indonesia Anny Mulyani; Erna Suryani; Husnain Husnain
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v14n2.2020.79-89

Abstract

Abstrak. Data sumberdaya lahan untuk 511 kabupaten/kota sudah tersedia mencakup peta tanah, peta kesesuaian lahan, dan peta arahan komoditas pertanian, dilengkapi dengan buku paket rekomendasi pengelolaan lahan. Komoditas yang sudah dievaluasi kesesuaian lahannya mencakup padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabe merah, tebu, pakan ternak, kakao, dan kelapa sawit. Data sumberdaya lahan tersebut  menjadi bagian penting dalam pengembangan komoditas strategis di Indonesia, terbukti dengan banyaknya permintaan data baik dari Direktorat Jenderal Teknis lingkup Kementerian Pertanian, Kementerian/Lembaga terkait, pengusaha swasta, dan para investor dalam dan luar negeri, serta perguruan tinggi. Peta tematik yang banyak diminati adalah peta kesesuaian lahan dan peta sebaran lahan potensial untuk pengembangan berbagai komoditas strategis, baik untuk intensifikasi di lahan eksisting ataupun lahan ekstensifikasi, terutama di lahan semak belukar yang belum dimanfaatkan. Permasalahan utama adalah belum tersedianya peta penggunaan lahan terkini, sehingga kemungkinan penggunaan lahannya sudah berbeda dan yang diduga potensial untuk perluasan komoditas pertanian ternyata sudah dimanfaatkan. Oleh karena itu, perlu upaya penyediaan peta status penguasaan dan penggunaan lahan terbaru, agar para pengguna data yakin bahwa lahan potensial tersebut benar tersedia di lapangan. Abstract. Land resources data for 511 regency/cities is available consisting of soil maps, land suitability maps, and recommended agricultural commodities maps, completed with a land management recommendation package book. Commodities that have been evaluated for land suitability including rice, corn, soybeans, shallots, red chillies, sugar cane, animal feed, cocoa, and palm oil. Land resources data is important in the development of strategic commodities in Indonesia. There has been numerous data requests from the Technical Directorate General of the Ministry of Agriculture, relevant Ministries/Institutions, private entrepreneurs and domestic and foreign investors, and universities.  The most on demand thematic maps are land suitability maps and maps of potential land distribution for developing various strategic commodities both for agricultural intensification and land expansion (extensification). Unfortunately, the up to date landuse map is barely available and the precise area that is potentaly available for agricultural land expansion is hardly defined. Therefore, providing the most recent land status and landuse maps is very important to convince map users that the precise potential area for agricultural land expansion could be axactly defined.
Alternatif Teknik Konservasi Tanah untuk Kawasan Budidaya Sayuran di Lahan Kering Dataran Tinggi Beriklim Basah Umi Haryati
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 3 (2016): (Edisi Khusus)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n3.2016.33-46

Abstract

Abstrak. Kawasan budidaya sayuran di lahan kering dataran tinggi beriklim basah terletak pada ketinggian diatas 700 m dpl, topografi datar-berombak sampai bergunung dengan kemiringan > 25%, curah hujan 2.000 – 4.500 mm tahun-1 dengan jenis tanah Andisol, Inceptisols, Ultisols, Oxisols, dan Entisols. Luas lahan kering beriklim basah ini mencapai 31.715.064 ha atau 21,95% dari luas lahan kering di Indonesia. Kawasan ini pada umumnya diusahakan secara intensif dengan tanaman sayuran bernilai ekonomi tinggi dalam pola tanam monokultur dan atau tumpangsari dengan berbagai macam tanaman sayuran. Pola tanam yang biasa dilakukan petani sangat bervariasi secara spasial maupun temporal. Areal ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sentra produksi sayuran dataran tinggi, namun usahatani sayuran di kawasan ini sangat rawan erosi, sehingga teknik konservasi tanah mutlak diperlukan. Di lain pihak, petani di kawasan ini belum sepenuhnya menerapkan kaidahkaidah konservasi tanah yang baik pada sistem usahataninya. Makalah ini mengemukakan alternatif teknik konservasi tanah dan air yang dapat diterapkan di kawasan budidaya sayuran dataran tinggi beriklim basah berdasarkan: efektivitas teknik pengendalian erosi, hasil tanaman, efisiensi usahatani serta persepsi dan preferensi petani terhadap teknik konservasi tanah di dataran tinggi beriklim basah. Berdasarkan hal tersebut, maka alternatif teknik konservasi tanah yang dapat diimplementasikan pada kawasan budidaya sayuran di lahan kering dataran tinggi beriklim basah adalah : 1) teras bangku, dilengkapi dengan tanaman penguat teras; 2) bedengan searah lereng pada teras bangku miring; 3) bedengan searah kontur pada teras bangku miring; 4) bedengan searah lereng, dipotong gulud per 5 m panjang lereng; 5) bedengan searah lereng, dipotong gulud dan rorak per 5 m panjang lereng; 6) bedengan searah kontur; dan 7) bedengan searah kontur + mulsa plastik/jerami.
Biochar-Materials for Remediation on Swamplands: Mechanisms and Effectiveness Wahida Annisa; Mukhlis Mukhlis; Anna Hairani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n1.2021.13-22

Abstract

Abstract. The purpose of this paper is to synthesize all research results qualitatively to explore the potential of biochar as a remediation agent in swamps, including its mechanism, and effectiveness. The soil in swampland is characterized by the presence of pyrite (FeS2) which results in high acidity (soil pH <3.5). The reduction process in swamps produces high amounts of ferrous iron (Fe2+) which is then released into the environment. The mechanism of iron (Fe) poisoning is indicated by the inhibition of nutrient uptake because the roots are covered with iron. This disturbes the root function as a nutrient absorber. Recent research shows that biochar could be used as an approach to reduce soil pollution in swamps through metal immobilization processes. This review paper uses a qualitative method with meta-aggregation approach based on the Francis-Baldesari method (2006). Principally, the soil remediation mechanism using biochar does not remove metals but accumulate them into hydroxide or carbonate deposits with the help of existing microorganisms. Provision of rice husk Biochar can increase the pH value reaching ≥5.0 and grain yield by 20% in intensively cultivated tidal swamps. Increasing the pH value of the soil will supports the formation of Fe hydroxide deposits which are accumulated on rice roots. Abstrak. Tujuan penulisan paper ini adalah mensintesis seluruh hasil penelitian secara kualitatif untuk menggali potensi biochar sebagai bahan remediasi pada lahan rawa meliputi mekanisme, dan efektivitasnya. Tanah di lahan ini dicirikan oleh keberadaan pirit (FeS2) yang menghasilkan keasaman tinggi (pH tanah <3,5). Proses reduksi di lahan rawa menghasilkan besi ferro (Fe2+) dalam jumlah tinggi dan dilepaskan ke lingkungan. Mekanisme keracunan besi (Fe) ditunjukkan dengan terhambatnya serapan hara karena perakaran diselimuti oleh besi sehingga fungsi akar sebagai penyerap unsur hara terganggu. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemanfaatan biochar sebagai salah satu pendekatan untuk mengurangi pencemaran tanah di lahan rawa melalui proses immobilisasi logam. Paper review ini menggunakan metode kualitatif berdasarkan metode Francis-Baldesari (2006) dengan pendekatan metaagregasi (meta-aggregation). Mekanisme remediasi tanah menggunakan biochar prinsipnya tidak menghilangkan logam tetapi mengakumulasinya menjadi endapan hidroksida maupun karbonat dengan bantuan mikroorganisme yang ada. Pemberian Biochar sekam padi dapat meningkatkan nilai pH mencapai ≥5,0 dan hasil gabah sebesar 20% di lahan rawa pasang surut yang intensif dibudidayakan. Peningkatan nilai pH tanah mendukung pembentukan endapan hidroksida Fe yang diendapkan pada akar padi.
Potensi Ketersediaan Lahan untuk Peningkatan Produksi Padi di Provinsi Riau Nurhayati Nurhayati
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 3 (2016): (Edisi Khusus)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n3.2016.%p

Abstract

Padi merupakan komoditas strategis, ekonomis, bahkan politis yang menjadi barometer kehidupan politik dan ekonomi bagi masyarakat. Kebutuhan beras di Provinsi Riau meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, di sisi lain penciutan luas lahan sawah, penurunan tingkat kesuburan tanah, penurunan kapasitas suplai air irigasi, dan peningkatan serangan OPT. Hingga saat ini Provinsi Riau baru mampu memenuhi sekitar 43% kebutuhan beras dari kebutuhan sebesar 670 ribu ton beras. Produksi padi yang rendah disebabkan pemanfaatan lahan yang belum optimal. Berkaitan dengan ketersediaan lahan, peningkatan produksi padi di provinsi ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan pasang surut, lahan irigasi, lahan kering dan lahan perkebunan kelapa sawit dan karet yang belum menghasilkan dan akan diremajakan melalui intensifikasi tanam dan ekstensifikasi tanam. Optimalisasi pemanfaatan lahan diperkirakan dapat meningkatkan produksi padi Provinsi Riau sebesar 2.514.756 ton gabah atau sekitar 1.559.149 ton beras. Tujuan dari makalah ini adalah memberikan informasi kepada pengambil kebijakan pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi padi di Provinsi Riau mengenai potensi lahan yang tersedia dan perkiraan peningkatan produksi padi.