cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 212 Documents
Reclamation of Ex-Mining Land for Agricultural Extensification AI DARIAH; A. ABDURACHMAN; DJADJA SUBARDJA
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v4n1.2010.%p

Abstract

Utilization of ex-mining land for agricultural extensification is an opportunity to solve the problem of food and environment. This paper discusses prospective utilization of ex-mining land for agricultural extensification. Mining area equipped with a business license for mining in Indonesia is around 2.2 million ha under Coal Concession Agreement, and 2.9 million ha under the Contract of Effort. A part of land is already finished being mined, and be managed properly in order to benefit the community and not damage the environment. The initial steps that need to be done is mapping of mined lands, included a status of ownership (land tenure), so that subsequent use of both for agriculture and other businesses can be sustainable. Land reclamation is necessary to increase capacity and efficiency for biomass production. Determination of land use types, should be based on land tenure, bio-physical conditions of land, and the needs of the community or local government. In the future, mining land management requirements is not enough simply by opening a feasibility study for mining operations, but need to be accompanied also with itsclosure plan (planning of closures), which includes environmental protection and mitigation of socio-economic problems. This needs to be one of the terms of the granting of mining permits.
Perbaikan Tanah untuk Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Pemupukan Berimbang dan Produktivitas Lahan Kering Masam Antonius Kasno
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v13n1.2019.27-40

Abstract

Abstrak. Potensi lahan kering masam tersedia cukup luas untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian, kendala utama tingkat kemasaman yang tinggi, hara makro primer dan sekunder rendah, C-organik rendah, kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa rendah. Kandungan Al dan Fe tinggi, sehingga menghambat ketersediaan hara, dan dapat berkumpul di daerah perakaran serta meracuni tanaman. Tanah masam lahan kering terletak pada kondisi yang berombak sampai bergelombang, sehingga penataan lahan berdasarkan konservasi tanah perlu dilakukan. Perbaikan tanah merupakan tindakan untuk mengurangi pengaruh kemasaman tanah, ketersediaan Al, dan Fe dengan memberikan bahan ameliorant seperti kapur pertanian, dolomit, bahan organik dan biochar. Penataan lahan dapat dilakukan dengan penanaman disesuaikan dengan kemiringan lahan, pembuatan teras, pengaturan saluran pembuangan air, dan perbaikan tanah di daerah perakaran juga perlu dilakukan. Pemupukan berimbang sangat efektif dan efisien dilakukan pada lahan kering masam yang sudah baik, dan kendala kemasaman diminimalis. Pemupukan berimbang dilakukan berdasarkan pada status hara tanah dan kebutuhan hara oleh tanaman. Abstract. The potential for acid upland is enough available to be developed into agricultural land, the main constraints are high acidity, low primary and secondary macro nutrients, low C-organic, cation exchange capacity and low base saturation. Al and Fe content are high, thus inhibiting nutrient availability, and can gather in rooting and poisoning plants. Upland acid soil is in a choppy to undulating condition, so land management based on soil conservation needs to be done. Soil improvement is an action to reduce the effect of soil acidity, availability of Al, and Fe by providing ameliorant materials such as agricultural lime, dolomite, organic matter and biochar. Land use planning can be done by planting in accordance with the slope of the land, making terraces, regulating the drainage system, and repairing the soil in the root zone. Balanced fertilization is very effective and efficient done on acidic upland that is already good, and minimizing acidity constraints. Balanced fertilization is based on soil nutrient status and nutrient requirements of the plant.
Argicultural Land Tidal Swamp and Development Strategy Era of Regional Autonomy ISDJANTO AR RIZA; . ALKASUMA
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v2n2.2008.%p

Abstract

Swamp land is one of natural resources which must be utilized wisely. Swamp land is able to be a growth resource that supports economic development and people welfare. In the autonomy era which has delegated a large authority to the regency administration, however, the tidal swamp land management has to consider the specific of land properties and characteristics. Land use policy should not be performed through a number of activities which can cause dramatically changes that has negative impact to environment qualities in the entire swamp system in the area. Swamp land utilization for agriculture should be recommended for sustainable agriculture that capable to grant the sustainability in terms of production and friendly environment. To approach the sustainability as mention above, it needs several strategies in swamp land management, including: (1) Detail land resources mapping, (2) Land suitability mapping followed by development of suitable commodities, (3) Soil amelioration and improvement of irrigation net work, (4) Specific location technology development, (5) Improvement and empowerment farm community cappabilities, (6) Infrastructure and agribusiness institution development. The implementation of these strategies needs effective work synchronization and coordination starting from planning towards field work among the related institution, in order to effective works in swamp land management can be reached
Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Daya Air untuk Meningkatkan Produksi Pertanian Nono Sutrisno; Adang Hamdani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v13n2.2019.73-88

Abstract

Abstrak. Indonesia memiliki potensi sumber daya air yang sangat besar, tetapi pemanfaatannya masih rendah, yaitu sekitar 20 persen dari potensi yang ada. Terdapat pengaruh negatif bila pemanfaatan air hanya sedikit, yaitu dapat mengakibatkan banjir dan longsor pada saat musim hujan serta kekeringan Musim Kemarau (MK). Tujuan dari penulisan ini adalah menyampaikan hasil kajian optimalisasi pemanfaatan sumber daya air untuk meningkatkan produksi pertanian yang dilakukan melalui  panen air dengan prinsip eco-efficient  agar air tersedia sepanjang tahun dan berkelanjutan. Salah satu pemanfaatan sumberdaya air secara optimal adalah untuk meningkatkan produksi pertanian pada lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan dan lahan kering.  Implementasinya dilakukan dengan jalan meningkatkan ketersediaan air dan menerapkan efisiensi penggunaan air sehingga dapat memperpanjang masa tanam atau meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan ekstensifikasi pertanian. Sampai saat ini, sudah cukup banyak infrastruktur air yakni embung, dam parit, dan long storage yang dibangun oleh Kementerian Pertanian. Disamping itu Kementerian PUPR dalam kurun waktu 2015-2019, telah menargetkan pembangunan 65 bendungan untuk mendukung ketahanan air dan ketahanan pangan. Secara keseluruhan saat ini terdapat 230 bendungan yang mencukupi bagi 11 persen layanan lahan irigasi seluas 7,2 juta ha.  Hal ini berarti, air irigasi dari bendungan dapat mengairi lahan sawah sepanjang tahun. Untuk mendukung optimalisasi sumber daya air, diperlukan ketersediaan air sepanjang tahun dan berkelanjutan. Pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara menyeluruh dari DAS tersebut, baik blue water  maupun green water dan pengelolaannya harus tepat yaitu menerapkan konservasi lahan dan air di hulu dan pendistribusian secara hemat dan adil. Optimalisasi penggunaan sumber daya air untuk pertanian bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan seperti menjaga ekosistem sungai tetap baik, mengantisipasi kerusakan sumber daya air dan memanfaatkan secara efisien tidak berlebihan. Abstract. Indonesia has a huge potential of water resources, but it is untapped efficiently with only around 20 percent utilized. There is a negative effect if only a small amount of water is used, which can result in floods and landslides during the rainy season and dry season dryness. The purpose of this paper is to deliver a study of optimizing the use of water resources to increase agricultural production carried out through water harvesting with the principle of eco-efficient so that water is available throughout the year and is sustainable. One of the optimal utilization of water resources is to use it for agricultural production in irrigated paddy fields, rainfed lowland and dry upland. It is implemented by increasing water availability and using water efficiently which is in turn it can extend the planting period or increase the cropping index and agricultural extensification. Recently, The Ministry of Agriculture has built adequate water management infrastructures such as reservoirs, ditch dams, and long storages. In addition, within the 2015-2019 periods, the Ministry of PUPR targeting the construction of 65 dams to support water and food security. There are currently 230 dams had been built which are sufficient to irrigate  11 percent of irrigated land or 7.2 millions hectares. This means that the water from dams can irrigate paddy fields continouosly throughout the year. To optimize the use of water resources, water availability is sustainably needed throughout the year. Water resources management must be carried out thoroughly within the watershed, both for blue water and green water. It must be precisely excetuted by implementing land and water conservation in upstream followed by distribution in an efficient and equitable manner. Optimizing the use of water resources for agriculture aims to increase agricultural production while still taking into account environmental sustainability such as maintaining a good river ecosystem, anticipating damage to water resources and utilizing efficiently not excessively.
Pestisida Nabati: Prospek Pengendali Hama Ramah Lingkungan Mas Teddy Sutriadi; Elisabeth Srihayu Harsanti; Sri Wahyuni; Anicetus Wihardjaka
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v13n2.2019.89-101

Abstract

Abstrak. Hama tanaman mengancam stabilitas produksi pertanian akibat kehilangan hasil dan penurunan produktivitas tanaman. Penurunannya berkisar antara 20-95%, bahkan bisa menyebabkan gagal panen atau puso pada serangan yang masif. Keberadaan hama dan penyakit dalam budidaya tanaman harus disikapi dengan bijaksana. Organisme pengganggu tanaman (OPT) dikendalikan secara terpadu mengikuti konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Penggunaan pestisida kimiawi merupakan pilihan terakhir dengan memperhatikan kondisi ambang ekonomi di lapangan. Tulisan ini bertujuan menginformasikan penggunaan bahan tumbuhan sebagai pestisida nabati dalam pengendalian hama pada budidaya tanaman  pertanian, khususnya tanaman pangan. Indonesia memiliki berbagai tumbuhan sebagai sumberdaya hayati bahan pengendali hama, baik berupa biji, daun, akar, dan batang. Bahan baku pestisida nabati yang tersedia melimpah di agroekologi lahan sawah tadah hujan adalah daun/biji mimba, biji mahoni, gulma babandotan (Ageratum zonycoides). Bahan-bahan tersebut dapat diekstrak dan dicampur, serta ditambahkan asap cair (produk samping proses pirolisis arang hayati dari limbah pertanian) dan urin sapi. Hasil penelitian yang telah dilakukan Balingtan memperlihatkan bahwa pemberian insektisida nabati meningkatkan hasil gabah kering panen lebih tinggi berturut-turut sebesar 10,8%; 24,8%; dan 48,7% untuk varietas Mekongga, Situ Bagendit, dan Ciherang, dibandingkan tanpa insektisida nabati. Penambahan urin sapi selain sebagai bahan pengendali hama juga berperan dalam memperbaiki ketersediaan hara terutama nitrogen. Abtract. Plant pest threatens the stability of agricultural production due to the yield loss and the decreasing crops productivity. The loss could reach 20-95% or even totally loss when it is massivaly attacked. The existence of pest dan desease on plant cultivation has to be addressed wisely. Plant-disturbing organism is controlled in an integrated way by following the concept of Integrated Pest Management (IPM).  The use of chemical pesticide is the last option with consideration of the economic threshold condition at the field. The objective of this paper is to inform the use of plant as the bassic matterial of botanical insecticide in controling agricultural-plant cultivation, especially for food crop. Indonesia has various resources of plants as biologically pests controller, in the form of seeds, leaves, roots and stems. Raw materials of the botanical insecticide are abundantly available in rainfed rice agroecology, i.e.neem leaves / seeds, mahogany seeds, and ageratum (Ageratum zonycoides) Those materials are extracted and mixed, then is added with the liquid smoke (side product of pyrolysis process of biocharcoal from agricultural waste) and cow urine. The research that was conducted by Indonesian of Agricultural Environment Research Institute shows that the application of botanical insecticide produced higher dried harvesting grain consecutively by 10.8%; 24.8%; and 48.% for Mekongga, Situ Bagendid, and Ciherang variety, compare to those without botanical insecticide. The addition of cow urine also improves the nutrient availability, especially for the nitrogen content.
Pengendalian Keracunan Besi untuk Peningkatan Produktivitas Padi di Lahan Rawa Pasang Surut Bukaan Baru Masganti Masganti; Ani Susilawati; Izhar Khairullah; Khairil Anwar
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v13n2.2019.103-113

Abstract

Abstrak. Kebutuhan beras nasional meningkat dari tahun ke tahun akibat pertambahan penduduk, peningkatan kebutuhan energi harian individu, dan masih rendahnya diversifikasi konsumsi sumber karbohidrat serta keinginan untuk menjadi lumbung pangan dunia (LPD) pada tahun 2045. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi padi nasional adalah melalui perluasan areal tanam dengan memanfaatkan lahan rawa pasang surut yang luasnya mencapai 8,92 juta hektare. Peningkatan luas tanam padi di lahan rawa pasang surut diantaranya dapat dilakukan melalui pembukaan lahan baru, baik dengan memanfaatkan lahan sawah terlantar maupun yang belum dimanfaatkan. Akan tetapi pembukaan lahan baru sering dihadapkan pada keracunan besi, sehingga tanaman padi tidak tumbuh dan berproduksi secara optimal. Keracunan besi dapat menurunkan produksi padi 30-100%, tergantung ketahanan varietas, intensitas keracunan, fase pertumbuhan, dan status kesuburan tanah.  Keracunan besi merupakan penyakit fisiologis tanaman dengan penyebab utama adalah konsentrasi Fe2+ yang tinggi dalam larutan tanah karena kondisi reduktif. Hal itu terkait dengan drainase yang jelek, nilai Eh yang rendah, defisiensi  K, Ca, Mg, P, Zn, dan Mn, dan oksigen tanah yang rendah. Pengendalian keracunan besi untuk meningkatkan produktivitas padi di lahan rawa pasang surut bukaan baru dapat dilakukan melalui teknologi pengelolaan air, ameliorasi, pemupukan, pengaturan waktu tanam, dan penggunaan varietas yang toleran. Abtract. National rice demand is increasing from year to year due to population growth, increasing individual daily energy needs, and the  low diversification of consumption of carbohydrate sources and the desire to become a world food barn (LPD) in 2045. One effort to increase national rice production is through expansion planting area utilizing tidal swamp land which covers an area of 8.92 million hectares. Increasing the area of rice planting in tidal swamps can be done through the opening of new land, either by using abandoned or untapped rice fields. However, new land clearing is often faced with iron poisoning, so that rice plants do not grow and produce optimally. Iron poisoning can reduce rice production by 30-100%, depending on the variety resistance, poisoning intensity, growth phase, and soil fertility status. Iron poisoning is a physiological disease of plants with the main cause being high concentrations of Fe 2+ in soil solutions due to reductive conditions. This is related to poor drainage, low Eh values, deficiency of K, Ca, Mg, P, Zn, and Mn, and low soil oxygen. Control of iron poisoning to increase rice productivity in the new openings tidal swamps can be done through water management technology, amelioration, fertilization, planting time management, and the use of tolerant varieties.
Ragam Konteks Skala Dalam Perspektif Kajian Sumberdaya Lahan Destika Cahyana; Baba Barus; Darmawan Darmawan; Budi Mulyanto; Yiyi Sulaeman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v13n2.2019.115-124

Abstract

Abstrak. Kini isu ‘skala’ menjadi penting kembali dibahas oleh komunitas sumberdaya lahan. Awalnya sumberdaya lahan terbatas dikaji oleh disiplin ilmu tanah, ilmu geografi, dan ilmu kartografi, tetapi sekarang berkembang dikaji oleh disiplin ilmu lingkungan, ilmu iklim, ilmu statistik, serta ilmu teknologi dan informasi. Kajian sumberdaya lahan yang awalnya untuk kepentingan ilmu pertanian kini menghadapi problem yang lebih luas seperti perubahan iklim, krisis energi, keanekaragaman hayati, keseimbangan ekosistem, hingga perkembangan kota. Pada era ini perjumpaan ilmu tanah dengan disiplin ilmu lain tidak dapat dihindarkan karena telah menjadi keniscayaan untuk melayani kepentingan umat manusia yang lebih luas. Berkaitan dengan itu istilah ‘skala’ yang digunakan pada disiplin ilmu tanah, ilmu geografi, dan ilmu kartografi seringkali membingungkan ketika berjumpa dengan istilah ‘skala’ pada kajian sumberdaya lahan kontemporer. Skala dapat dipahami dalam beragam konteks: 1) skala informasi pada peta, 2) skala level pada berbagai proses, dan 3) skala pada angka pengukuran. Tiga konteks skala tersebut belum termasuk skala pada dimensi lain yaitu skala waktu yang tidak akan dibahas pada artikel ini. Abstract. At present the issue of 'scale' becomes important to be rediscussed by scientists in land resources community. Initially, land resources were only studied by the limited disciplines, such as soil science, geography, and cartography, but now it is studied by the disciplines of environmental science, climate science, statistics, and technology and information science.  At the beginning, the study of land resources was to support agricultural science, but at the present the study is to addresss broader problems such as climate change, energy crises, biodiversity, ecosystem balance, and urban development. In this era, the encounter of soil science with other scientific disciplines is inevitable because it has become a necessity to serve the broader of humanity interest. Related to that issue, the term of 'scale' used in the disciplines of soil, geography and cartography is often confusing when meeting to other different disciplines. There are at least 3 different contexts that use the term 'scale' in contemporary land resource studies i.e : 1) scale of information on maps, 2) scale of levels in various processes, and 3) scale of measurement numbers. These three contexts of scale are not included  scale of time another dimensions that will not be discussed in this article.
Cover JSDL Vol 13 No. 2 Laelatul Qodaryani, S. Kom
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover JSDL Vol 13 No. 2
Pemanfaatan Arang Aktif dalam Pengendalian Residu Pestisida di Tanah: Prospek dan Masalahnya Asep Nugraha Ardiwinata
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v14n1.2020.49-62

Abstract

Abstrak. Penggunaan pestisida di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1965, jenis pestisida yang banyak digunakan adalah jenis organoklorin, antara lain Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) dan lindan. Saat ini pestisida yang umum digunakan adalah jenis organofosfat, karbamat dan piretroid. Dari jenis-jenis pestisida tersebut, yang paling toksik dan persisten adalah jenis organoklorin. Dampak dari penggunaan pestisida adalah dapat tertinggalnya pestisida tersebut di dalam tanah bahkan di dalam produk pertanian dalam jangka waktu tertentu (residu pestisida), sehingga berpotensi membahayakan lingkungan dan manusia karena bersifat toksik. Dampak negatif residu pestisida di dalam tanah adalah terbunuhnya biota-biota penting di dalam tanah seperti cacing tanah. Bila residu pestisida di tanah tersebut terbawa air dan masuk ke sungai, maka biota air atau ikan-ikan yang ada terancam mati. Bilamana residu pestisida di tanah tersebut diserap ke dalam produk pertanian, maka manusia sebagai konsumen produk tersebut ditengarai akan terstimulus kanker hingga EDs (terganggunya hormon endokrin). Beberapa peneliti telah melakukan penelitian untuk mengatasi masalah residu di tanah dengan memanfaatkan limbah pertanian seperti tempurung kelapa, bonggol jagung dan sekam padi sebagai bahan dasar pembuatan arang aktif. Arang aktif ini diketahui memiliki kemampuan daya serap yang tinggi terhadap pencemar residu pestisida dan disenangi oleh mikroba pendegradasi sebagai tempat tinggal dan berkembang biak.
Pengelolaan Tanah dan Air Pada Budidaya Padi Gogo dan Palawija di Bawah Tegakan Tanaman Tahunan untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan Nani Heryani; Budi Kartiwa; Adang Hamdani; Nono Sutrisno
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v14n1.2020.1-14

Abstract

Abstrak. Pengembangan padi gogo di lahan kering yang ditunjang oleh teknik pengelolaan tanah dan air yang tepat, berpeluang sebagai salah satu alternatif penyediaan pangan masa depan dan mampu mendukung peningkatan ketahanan pangan nasional. Perluasan areal tanam untuk tanaman padi gogo di lahan kering di bawah tegakan merupakan salah satu strategi dalam menyokong peningkatan produksi padi sawah. Inovasi teknologi pertanian untuk pengembangan padi gogo pada lahan kering di bawah tegakan tanaman tahunan perlu dilaksanakan secara terpadu meliputi: 1) penggunaan varietas toleran naungan, 2) pengembangan teknik konservasi tanah seperti pembuatan teras, guludan, rorak; penggunaan mulsa dan penanaman rumput, 3) pengembangan sistem  integrasi tanaman-ternak, 4) pemanfaatan teknologi panen air melalui embung, dam parit, long storage, dan pemanfaatan air sungai. Pengelolaan air pada pengembangan padi gogo dan palawija di bawah tegakan tanaman tahunan terutama pada musim kemarau merupakan hal yang mutlak dilakukan. Sumber air irigasi dapat berasal dari infrastruktur panen air atau sumber air lainnya.Abstract. The development of upland rice in dry land, which is supported by appropriate soil and water management techniques, has the opportunity as an alternative in future food procurement efforts. It could also support the improvement of national food security. Expansion of the planting area for upland rice in dry land under crops is one of the strategies to support the increasing rice production. Innovations of agricultural technology for the development of upland rice on dry land under estate crops or forestry should  be implemented in an integrated manner, including: 1) the use of shade tolerant varieties, 2) the development of soil conservation techniques such as terraces, mulch and grass planting, 3) development of crop-livestock integration systems, and 4) utilization of water harvesting technology through small reservoir, channel reservoir, long storage, and river utilization. Water management is absolutely necessary in the development of upland rice and secondary crops under annual crops.  The alternatives  water resources for irrigation are water harvesting infrastructure and other water sources.