Articles
302 Documents
PENYAKIT LAYU Ralstonia solanacearum PADA KACANG TANAH DAN STRATEGI PENGENDALIAN RAMAH LINGKUNGAN
Mudji Rahayu
Buletin Palawija No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n24.2012.p69-81
Bacterial wilt caused by Ralstonia solanacearumis an important disease constraint of groundnut(Arachis hypogaea L.) in tropical and subtropical allover the world. It causing yield losses of 15–35%,and may reach over 65% in groundnut susceptiblevarieties. In Indonesia, the disease have been foundin some areas in North and West Sumatra, Lampung,West Java, Central Java, East Java, Bali, North andSouth Sulawesi. The wilt symptoms can be observedthree weeks after sowing. Infection of plants resultsin rapid wilting of stems and foliage, while leavesretain their green color.There is no desirable method for chemical controlof groundnut wilt, although some bactericidesthat effective against R. solanacearum have beenidentified and available commercially. Other controlstrategy by non-chemically include resistant varieties,healthy seeds, healthy cultivation, biologicalcontrol, and botanical control have been reduced thedisease. Other disease control strategies which ereenvironment-friendly are resistant variety, and theuse of bio control agents. Resistance variety is oneof the most effective means of controlling groundnutwilt and effective to control bacterial wilt in endemicarea and this method could be adopted byfarmer easily. Biocontrol agents i.e. antagonisticbacteria Psudomonas fluorescens (Pf) isolated fromlegumes rhizosphere showed inhibited effect againstbacterial wilt R. solanacearum. The plants extractof some plants such as lemon grass and nut sedgeroots, also showed suppressive effect against bacterialwilt of groundnut.
PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA BUDIDAYA KEDELAI
Marwoto Marwoto;
Suharsono Suharsono;
Bedjo Bedjo
Buletin Palawija No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n1.2001.p15-23
Salah satu kendala untuk meningkatkan produksi kedelai adalah karena gangguan hama. Kehilangan hasil akibat serangan hama pada tanaman kedelai dapat mencapai 80%, bahkan puso apabila tidak dilakukan tindakan pengendalian. Usaha pengendalian hingga saat ini masih mengandalkan penggunaan pestisida kimiawi yang aplikainya masih belum memenuhi rekomendasi. Oleh karena itu upaya pengendalian hama harus didasarkan pada program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan mengutamakan usaha peningkatan peran pengendalian alami (iklim, musuh alami dan kompetitor) dapat bekerja secara optimal.Keberhasilan PHT pada tanaman kedelai diperlukan informasi sifat-sifat biologi dan ekologi serta arti ekonomi yang ditimbulkan oleh hama pada tanaman kedelai. Guna memperoleh hasil penerapan PHT yang optimal di tingkat petani maka pemasyarakatannya dapat ditempuh melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT).
Komponen Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Kering
Henny Kuntyastuti;
Abdullah Taufiq
Buletin Palawija No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n16.2008.p1-17
Sebagian besar kedelai di Indonesia diusahakan di lahan sawah. Hingga saat ini produksi kedelai belum bisa mencukupi kebutuhan domestik sehingga diperlukan peningkatan produksi. Perluasan areal ke lahan kering merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan produksi kedelai. Tingkat kesuburan dan karakteristik lahan kering sangat beragam, dan oleh karenanya pengembangan kedelai ke lahan kering dihadapkan pada beragam masalah. Penelitian komponen teknologi budidaya kedelai di lahan kering masih belum seintensif di lahan sawah. Dalam makalah ini dibahas beberapa alternatif peningkatan produktivitas kedelai pada lahan kering dari aspek varietas, pengaturan jarak tanam, dan pengelolaan pemupukan. Informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan penelitian lebih lanjut dan pengelolaan kedelai di lahan kering.
ISOLAT VIRULEN CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Lecanicillium lecanii SEBAGAI BIOINSEKTISIDA UNTUK PENGENDALIAN TELUR KEPIK COKLAT Riptortus linearis (F.) PADA KEDELAI
Yusmani Prayogo
Buletin Palawija No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n21.2011.p39-54
Lecanicillium lecanii (=Verticillium lecanii) (Zimm.) (Viegas) Zare dan Gams merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang efektif untuk mengendalikan kepik coklat Riptortus linearis pada kedelai. Kelebihan cendawan L. lecanii dapat menginfeksi semua stadia serangga kepik coklat, termasuk stadia telur, nimfa maupun imago. Telur kepik coklat yang terinfeksi cendawan L. lecanii akhirnya tidak dapat menetas karena cendawan tersebut bersifat ovisidal. L. lecanii bersifat kosmopolit, mudah ditemukan di berbagai daerah baik tropis maupun sub tropis sehingga mempunyai virulensi yang sangat beragam. Virulensi cendawan dipengaruhi oleh keragaman intraspesies yang memiliki perbedaan karakter fisiologi. Untuk mendapatkan isolat L. lecanii yang memiliki virulensi tinggi dapat eksplorasi dari berbagai sumber, yaitu dari bangkai serangga (cadaver), menggunakan metode pengumpanan serangga dan isolasi dari dalam tanah. Isolat L. lecanii yang virulen tumbuh lebih cepat, karakter koloni wholly, mampu memproduksi konidia lebih banyak, ukuran konidia lebih besar hingga mencapai 6,5 x 2,5 µm, serta memiliki daya kecambah konidia di atas 95% dalam waktu hanya 12 jam. Suhu untuk pertumbuhan vegetatif L. lecanii lebih luas, yaitu 20–27 oC, sedangkan suhu untuk fase generatif pada suhu 27 oC. Isolat yang virulen memiliki kesamaan karakter fisiologi yang sangat dekat dengan derajat kemiripan 98%. Dengan demikian, empat isolat yang virulen memiliki peluang yang sama untuk digunakan sebagai salah satu bioinsektisida yang prospektif dalam pengelolaan hama terpadu (PHT) untuk hama kepik coklat R. linearis pada stadia telur.
ULAT GRAYAK Spodoptera litura Fabricius (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) PADA TANAMAN KEDELAI DAN PENGENDALIANNYA
Wedanimbi Tengkano;
Suharsono Suharsono
Buletin Palawija No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n10.2005.p43-52
Di Indonesia ulat grayak, S. litura, dapat menyerang berbagai jenis tanaman kacang-kacangan. Bioekologi hama ini telah banyak diketahui termasuk arti ekonomi, dan upaya pengendaliannya. Pemahaman bioekologi ulat grayak perlu diketahui untuk dipakai sebagai salah satu pertimbangan guna menentukan strategi pengendalian ulat grayak yang efektif. Penggunaan insektisida untuk mengendalikan ulat grayak pada tanaman kedelai yang intensif telah banyak dilakukan, namun belum sepenuhnya dapat menekan populasi ulat grayak. Atas pertimbangan biaya, keamanan lingkungan, dan strategi pengendalian hama terpadu maka upaya mencari pengendalian alternatif antara lain: penggunaan musuh alami, dan varietas tahan telah dilakukan. Virus penyebab penyakit Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV), pada ulat grayak merupakan entomopathogenic virus yang banyak ditemukan di lapangan dan berpeluang untuk dapat dikembangkan, karena relatif mudah cara penanganannya dibanding dengan penggunaan parasitoid dan predator.
STATUS DAN PROSPEK PENERAPAN ALAT PENGERING DI TINGKAT PENANGKAR BENIH KEDELAI
N.R. Patriyawaty;
I.K. Tastra
Buletin Palawija No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n22.2011.p96-106
Penangkar benih mempunyai nilai strategis dalam memenuhi kebutuhan benih kedelai nasional (33.000– 64.000 ton/tahun) guna mendukung sasaran program swasembada kedelai tahun 2014. Upaya pengadaan benih yang dilakukan penangkar benih adalah dengan cara membeli dari petani kooperator yang menjadi kelompok dari penangkar benih kedelai sistem Jabalsim (Jalur benih antar lapang dan musim). Salah satu kendala penangkar benih kedelai yang aktif dalam sistem Jabalsim adalah adanya sebagian panen kedelai (29,9%) jatuh pada musim hujan, sehingga mutu benihnya rendah akibat keterlambatan pengeringan. Saat ini sistem penjualan jasa pengeringan belum berkembang dibandingkan penjualan jasa perontokan, karena harga mesinnya relatif mahal dibandingkan dengan mesin perontok. Untuk itu perlu inovasi pengeringan yang semakin terjangkau penjual alsintan atau penangkar benih kedelai dan petani koperatornya. Dalam kondisi kecilnya akses teknologi pengeringan bagi petani kedelai skala kecil (pemilikan lahan 0,25–0,5 ha), pengeringan kedelai brangkasan tipe rak yang disinergikan dengan ataupun tanpa unit penjualan jasa energi pengering mempunyai prospek diterapkan di tingkat petani koperator penangkar benih hingga kadar air siap rontok (18–20 % bb). Berdasarkan beberapa pilihan alat pengering yang ada saat ini, alat pengering tipe bak model Balitkabi dengan sumber energi gas LPG lebih prospektif diterapkan di tingkat penangkar benih kedelai. Untuk dapat mengeringkan biji/benih kedelai dari petani koperator dari kadar air 18–20 % bb hingga 11% bb mutu benih yang dihasilkan masih memenuhi standar benih sebar (daya tumbuh minimum 70% bb).
Prospek Pengembangan Sistem Penjualan Jasa Alsintan Pengeringan Kacang Tanah Polong
I Ketut Tastra
Buletin Palawija No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n5-6.2003.p26-35
Salah satu kendala dalam mendukung upaya peningkatan dan keberlanjutan produksi kacang tanah di Indonesia yang memenuhi standar mutu FAO (kandungan aflatoksin maksimum 30 ppb) adalah relatif lambannya adopsi teknologi mekanis (Alsintan) di tingkat petani. Hal ini disebabkan oleh penerapan Alsintan relatif membutuhkan persyaratan yang lebih kompleks dibanding dengan penerapan teknologi prapanen seperti varietas unggul, cara pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Penerapan Alsintan di samping membutuhkan investasi yang relatif mahal juga membutuhkan tingkat kemampuan pengelolaan yang memadai agar pihak penjual jasa Alsintan dan petani pengguna masing-masing mendapatkan keuntungan (nilai tambah) yang wajar. Tanpa adanya pembagian keuntungan yang wajar tersebut, sulit memacu dan menjamin keberlanjutan penerapan Alsintan yang semakin maju. Oleh karenanya strategi yang tepat dalam penerapan penjualan jasa pengeringan kacang tanah polong adalah melalui pendekatan sistem yang mengacu dan mempertimbangkan tolok ukur: (1) Produktivitas, (2) Stabilitas, (3) Keberlanjutan dan (4) Kemerataan. Keempat kriteria pengembangan penerapan Alsintan tersebut dapat dioptimalkan melalui pengembangan sinergi Sistem Penjualan Jasa Alsintan (SIPUJA), yang secara simultan mempertimbangkan aspek perangkat kerasnya (Alsintan yang tepat guna) dan proses pelembagaannya di tingkat petani. Melalui pendekatan ini diharapkan dapat membuka peluang penerapan SIPUJA pengering kacang tanah polong yang hanya mengandalkan keunggulan komparatif (dari aspek substitusi tenaga kerja yang semakin berkurang di sektor pertanian) ke keunggulan kompetitif (dari aspek mutu dan keamanan pangan). Implementasi dari pendekatan ini baru pada tahap rekayasa alat pengering kacang tanah polong dan uji verifikasi selama tiga tahun (tahun 1998–2001) di tingkat pedagang pengumpul kacang tanah. Hasil perhitungan nisbah keuntungan dengan biaya (B/C) dapat mencapai 1,2 bila dioperasikan dalam bentuk penjualan jasa pengeringan kacang tanah polong. Kesimpulannya alat pengering tersebut dapat diterima dan layak penggunaannya untuk mempercepat proses pengeringan kacang tanah polong, dengan mutu yang lebih baik dibandingkan pengeringan cara tradisional. Inovasi ini lulus seleksi program ”Oleh Paten tahun 2001” yang diselenggarakan Menristek untuk didanai pengusulan paten sederhananya (Nomor permohonan Paten S00200100158).
GALUR HARAPAN KEDELAI HITAM BERDAYA HASIL TINGGI DAN BERKARAKTER EKSOTIK
M. Muchlish Adie;
Gatut Wahyu Anggoro Susanto;
Arifin Arifin
Buletin Palawija No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n13.2007.p1-7
Meningkatnya permintaan kedelai hitam oleh industri, menimbulkan kembali minat petani untuk menanam kedelai hitam. Pemerintah baru berhasil melepas dua varietas kedelai hitam berdaya hasil tinggi (selain tiga varietas unggul lama, Otau, No 27 dan Merapi) yakni Cikuray (dilepas tahun 1992) dan Mallika (dilepas 2007). Ciri utama varietas tersebut adalah ukuran bijinya berkriteria sedang yaitu sekitar 10 g/100 biji. Perbaikan potensi hasil kedelai hitam serta ukuran biji dan karakter lainnya, diupayakan melalui pembentukan populasi dengan menggunakan kedelai hitam introduksi berukuran biji besar disilangkan dengan varietas kedelai berdaya hasil tinggi. Seleksi dan uji daya hasil mendapatkan tiga galur kedelai hitam prospektif yakni 9837/K-D-8-185, W/9837-D-6-220; dan 9837/W-D-5-211. Pengujian di 18 sentra produksi membuktikan bahwa galur 9837/K-D-8-185, W/9837-D-6-220; dan 9837/W-D-5-211 berdaya hasil 18% lebih tinggi dibandingkan varietas kedelai hitam Cikuray (2,03 t/ha). Tiga galur kedelai hitam tersebut memiliki karakter unik. Galur 9837/K-D-8-185 memiliki ukuran biji 14,84 g/100 biji, dan akan menjadi kedelai hitam pertama berukuran biji besar sekaligus memiliki kandungan protein tinggi (45,36 %). Galur 9837/W-D-5-211 akan menjadi varietas kedelai hitam dengan kandungan protein tertinggi (45,58 %) dari seluruh varietas kedelai yang ada di Indonesia. Sedangkan keunikan galur W/9837-D-6-220 adalah berkotiledon hijau (green kernel), dan akan menjadi varietas kedelai pertama di Indonesia yang memiliki warna kotiledon hijau. Tiga galur tersebut sudah diusulkan untuk dilepas sebagai varietas unggul.
HAMA BOLENG PADA TANAMAN UBIJALAR DAN PENGENDALIANNYA
Sri Wahyuni Indiati;
Nasir Saleh
Buletin Palawija No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n19.2010.p27-37
Di Indonesia, ubijalar merupakan bahan pangan sumber karbohidrat sesudah beras dan jagung. Sayangnya produktivitas ubijalar hingga saat ini masih tergolong rendah yaitu sekitar 10,78 t/ha. Salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas ubijalar tersebut adalah serangan hama boleng, Cylas formicarius sedangkan petani belum melakukan pengendalian terhadap hama tersebut secara optimal. Pengendalian terpadu menggunakan dua atau lebih komponen pengendalian sangat diperlukan untuk mengatasi serangan hama boleng tersebut. Pengendalian hama boleng terpadu dilakukan dengan memadukan beberapa komponen pengendalian, yaitu: Sanitasi lahan, cara bercocok tanam meliputi penggunaan bibit sehat (stek pucuk), pembumbunan, pengairan, dan pergiliran tanaman; penggunaan varietas/klon toleran terhadap hama boleng seperti Cangkuang dan Genjahrante; penangkapan serangga jantan dengan menggunakan feromon seks sintetik atau C. formicarius virgin sebanyak 5–10 ekor/100 m2; pemanfaatan agensia biologi, jamur B. bassiana; penyemprotan dengan insektisida organik yaitu serbuk biji mimba dengan takaran 20 kg/ha; secara kimiawi dengan perendaman stek ke dalam insektisida dan penyemprotan pertanaman dengan insektisida permetrin, karbosulfan, dan endosulfan, atau insektisida dalam bentuk butiran yaitu karbofuran 3G masing-masing dengan konsentrasi anjuran.
Patologi dan Teknis Pengujian Kesehatan Benih Tanaman Aneka Kacang
Rahayu, Mudji
Buletin Palawija Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v14n2.2016.p78-88
Patologi benih merupakan salah satu bidang ilmu dari penyakit tanaman (fitopatologi), didefinisikan sebagai studi tentang penyakit pada benih untuk mengetahui faktor penyebab penyimpangan fungsi benih. Bidang ilmu ini juga mempelajari hubungan antara patogen dan inangnyayaitu peran biji sebagai sumber penyebaran dan penularan penyakit, serta tindakan yang perlu diambil untuk mengendalikan kerusakan yang diakibatkannya. Diperlukan dukungan pengetahuan lain di antaranya fitopatologi umum, mikrobiologi, dan teknologi benih dalam mempelajaripatologi benih. Benih sehat memiliki arti bahwa biji yang digunakan sebagai benih harus bebas dari infeksi ataupun kontaminasi patogen. Patogen yang menginfeksi benih aneka kacang terdiri atas beberapa jenis jamur, bakteri, dan virus. Berbeda dengan penyakit pada bagianvegetatif tanaman seperti daun dan batang, penyakit benih seringkali tanpa gejala kerusakan sehingga sulit diketahui secara visual. Benih membawa penyakit biasanya dideteksi dengan metode standar dari ISTA (Seed International Seed Testing Association), suatu lembaga resmi di dunia yang menetapkan standar mutu benih termasuk pengujian kesehatan benih. Metode pengujian yang umum dilakukan adalah secara konvensional (pemeriksaan secara visual atau cara kering, cara basah dengan perendaman atau ekstraksi benih, dan inkubasi pada media buatan), deteksi secara serologi dan molekuler, serta metode pertumbuhan benih di rumah kaca. Uji kesehatan benih berperan penting dalam perbaikan mutu benih (seed improvement), perdagangan benih (seedtrade), dan perlindungan tanaman (plant protection). Pelaksana pengujian dapat dilalakukan oleh penangkar namun sebaiknya dilakukan oleh laboratorium terakreditasi yang dikelola secara profesional. Dalam memproduksi benih sehat pada tanaman aneka kacang, perlu upaya pengendalian penyakit pada tanaman di lapangan yang dilakukan sejak periode tanaman mulai tumbuh hingga panen (prapanen) dan pengendalian di tempat penyimpanan atau selama distribusi benih (pascapanen).