Articles
302 Documents
PENYEBARAN VARIETAS DAN PEMANFAATAN KEDELAI SEBAGAI BAHA BAKU INDUSTRI SERTA DAYA SAING KOMODITAS DI JAWA TIMUR
Heriyanto Heriyanto
Buletin Palawija No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n12.2006.p43-51
Di Jawa Timur, benih kedelai yang diminati petani adalah biji kedelai warna kekuningan atau putih-kekuningan, ukuran biji sedang sampai besar, kondisi permukaan biji mengkilat dan daya hasilnya tinggi. Dari sisi penyebaran varietas menunjukkan bahwa varietas lokal dan unggul lama (Galunggung, Malabar, Orba, dan Wilis) masih digemari petani. Sebaran varietas unggul lama (khususnya Wilis) masih relatif tinggi, akan tetapi perkembangannya saat ini juga menunjukkan bahwa varietas unggul kedelai baru dengan ukuran biji besar mulai diadopsi petani. Oleh karena itu varietas unggul baru yang mempunyai karakter biji besar perlu lebih dipromosikan kepada petani. Persyaratan kedelai yang dikehendaki untuk bahan baku tahu dan tempe ternyata memiliki kesamaan dari aspek warna kulit biji, ukuran biji, dan ketebalan kulit biji; dan kedelai yang dikehendaki sebagai bahan baku adalah biji warna kuning atau kuning-kehijauan dan ukuran biji sedang atau besar.Uji coba produk jadi tahu dan tempe, menunjukkan bahwa industri tempe memilih kedelai biji besar sebagai bahan baku dan pilihan jatuh pada varietas unggul Argomulyo dan Burangrang. Sedangkan untuk industri tahu, kedelai biji sedang sampai besar juga diminati. Sementara untuk varietas unggul kedelai biji sedang pilihannya adalah varietas Kaba, Sinabung, dan Wilis. Daya kompetitif kedelai di Jawa Timur rendah, kondisi ini ditunjukkan dengan nilai indeks kompetitifnya kurang dari satu. Estimasi produksi kedelai agar mempunyai keunggulan kompetitif adalah sekitar 2700 kg per ha atau pada tingkat produksi yang dicapai saat ini, maka tingkat harga kedelai seharusnya Rp 4250.
PROSPEK PEMULIAAN KEDELAI TAHAN HAMA LALAT KACANG (Ophiomyia phaseoli Tryon) DAN BERDAYA HASIL TINGGI
Gatut Wahyu Anggoro Susanto
Buletin Palawija No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n23.2012.p44-48
Sebagian besar pertanaman kedelai berada pada musim musim kering (MK), namun justru tingkat serangan hama paling tinggi terjadi pada waktu itu. Salah satu hama penting yang menyerang tanaman kedelai adalah lalat kacang (O phaseoli ). Serangan hama lalat kacang pada tanaman kedelai dapat mengakibatkan kerusakan hingga mencapai 90 %, tergantung tingkat serangannya dan sebagian besar tanaman mengalami kematian. Kedelai yang toleran terhadap lalat kacang diidentifikasi memiliki karakter diameter batang kecil. Varietas unggul tahan hama lalat kacang merupakan cara yang efektif dan efisien untuk dapat menekan serangannya. Untuk merancang varietas kedelai unggul toleran lalat kacang memiliki peluang besar dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber-sumber gen tahan pada tanaman serta memilih metode pemuliaan yang efektif dan efisien.
PEMBERDAYAAN ALFISOL DENGAN ZK-PLUS UNTUK MENINGKATKAN HASIL KACANG TANAH DI INDONESIA
Sudaryono Sudaryono
Buletin Palawija No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n1.2001.p50-58
Alfisol atau Tanah Mediteran merupakan kelompok tanah merah yang menduduki presentase tertinggi sebagai areal kacang tanah. Bahan induk Alfisol umumnya adalah batu kapur sehingga mempunyai pewaris sifat basis yang kuat. Dari analisis dan telaah percobaan lapang pada lahan tegal Alfisol basis ternyata miskin hara P, K, Mg, Fe, Zn, dan Cu serta dapat diemukakan bahwa: (1) Pemakaian ZK-Plus dengan bahan dasar abu produk samping pabrik Etanol mempunyai dampak peningkatan kesuburan hara tanah cukup lengkap, baik hara makro maupun mikro, (2) Peningkatan status hara K tersedia hingga taraf optimum pada tebal solum 10 cm memerlukan 10 t abu ZK-Plus/ha dengan hasil kacang tanah mecapai 2,7 t polong kering/ha dan efek residunya mampu menghasilkan kedelai 1,4 t/ha yang ditanam sesudah kacang tanah, dan (3) Penigkatan status hara K di atas 20% dari K tersedia selain kurang praktis pada aplikasi bahan pupuknya juga berpengaruh kurang baik berupa proses antargonistik antar unsur hara. Penambahan hara berdasarkan status hara dalam tanah dan dihitung menurut massa tanah sebenarnya pendekatan yang realistis. Namun pendekatan sering dianggap mahal secara teknis agronomis dan ekonomis yang mengedepankan gatra budidaya tanaman bermatra satu periode tanam. Implikasi penelitian yang mempunyai target luaran reklamasi dan rehabilitasi kesuburan lahan, pendekatan perbaikan massa tanah (soil basis) akan lebih cocok, sebaliknya untuk penelitian yang mendasarkan pada peningkatan efisien dan bersifat jangka pendek pendekatan berdasarkan pertumbuhan tanaman lebih cocok. Pemanfaatan ZK-Plus pada Alfisol memiliki kelayakan teknik kimiawi tanah sehingga menigkatkan kesuburan tanah. Pemberdayaan Alfisol untuk pengembangan agribisnis kacang memerlukan kajian komprehensis.
POTENSI CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin UNTUK MENGENDALIKAN HAMA BOLENG Cylas formicarius F. PADA TANAMAN UBIJALAR
Tantawizal Tantawizal;
Alfi Inayati;
Yusmani Prayogo
Buletin Palawija No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n29.2015.p46-53
Potensi Cendawan Entomopatogen Beauveria Bassiana (Balsamo) Vuillemin untuk Mengendalikan Hama Boleng Cylas formicarius F. (Coleoptera: Curculionidae) pada tanaman ubijalar. Ubijalar merupakan salah satu tanaman umbi yang memiliki keunggulan sebagai alternatif penghasil karbohidrat. Hama boleng, Cylas formicarius, merupakan salah satu hama penting pada ubijalar yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas umbi antara 10–80%. Cendawan entomopatogen, Beauveria bassiana, berpotensi sebagai salah satu komponen pengendalian hama terpadu (PHT) yang dapat digunakan mengendalikan hama C. formicarius. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa cendawan B. bassiana dapat menyebabkan kematian pada C. formicarius hingga 90% dan efektif mengurangi kehilangan hasil sebesar 5%. Efektivitas cendawan entomopatogen B. bassiana dipengaruhi oleh kerapatan konidia, stadia serangga yang dikendalikan, waktu aplikasi, cara aplikasi serta frekuensi aplikasi. Oleh karena itu, pemanfaatan B. bassiana untuk mengendalikan C. formicarius dengan formulasi yang tepat sertadapat meningkatkan patogenisitas perlu dikaji lebih lanjut.
ANTIXENOSIS MORFOLOGIS SALAH SATU FAKTOR KETAHANAN KEDELAI TERHADAP HAMA PEMAKAN POLONG
Suharsono Suharsono
Buletin Palawija No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n11.2006.p29-34
Antixenosis, anitibiosis, dan toleran adalah perwujudan sifat ketahanan tanaman terhadap hama. Ketiga sistem tersebut dapat bekerja secara bersama-sama atau secara tersendiri tergantung kepada jenis hama dan jenis tanaman. Ketiga sistem tersebut dapat diekspresikan dalam bentuk morfologi misalnya adanya trikoma yang panjang, kaku, rapat dengan struktur yang tidak beraturan, kulit permukaan daun, batang dan polong yang tebal dan keras. Secara kimiawi diwujudkan oleh adanya senyawa yang beracun, atau senyawa yang mempengaruhi perilaku serangga hama untuk menemukan inangnya. Pada tanaman kedelai dapat ditemukan berbagai karakter morfologi yang tersebar di seluruh permukaan daun, batang, dan polong yang beragam menurut varietas atau jenis kedelai. Karakter-karakter tersebut merupakan ciri fenotipik yang dimiliki oleh masing-masing jenis kedelai, dan karakter fenotipik tersebut terbukti mempunyai sumbangan yang sangat berarti bagi sistem pertahanan kedelai terhadap hama pemakan polong kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan kedelai terhadap hama pengisap polong Riptortus linearis dipengaruhi oleh ketebalan kulit polong dan kerapatan trikoma. Trikoma yang rapat dan panjang mengurangi banyaknya luka tusukan stilet pengisap polong. Banyaknya luka tusukan stilet pada biji galur-galur IAC-100, dan IAC-80-596-2 sejumlah 3–6 luka tusukan lebih rendah daripada luka tusukan stilet pada varietas Wilis yang menderita luka tusukan stilet lebih tinggi, yaitu 10–15 luka tusukan. Selain itu karakter trikoma tersebut juga berpengaruh terhadap preferensi peneluran hama penggerek polong Etiella zinckenella. Hubungan antara karakteristik trikoma polong dengan peneluran hama penggerek polong Etiella zinckenella menunjukkan bahwa peletakan telur dipengaruhi oleh adanya trikoma. Pada varietas Wilis dengan kerapatan trikoma 5–11/mm 2 , jumlah telur penggerek polong yang diletakkan/ tanaman mencapai 98,3 butir, sedangkan pada galur IAC-100 dan IAC-80-596-2 dengan kerapatan trikoma 15–20/mm 2 telur yang diletakkan berkisar antara 3–5 telur/tanaman. Hal ini juga tercermin dari kerusakan polong yang ditimbulkan. Berdasarkan hasil serangkaian penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa antixenosis terhadap hama pengisap dan penggerek polong kedelai terdapat pada galur IAC-100 dan IAC-80-596-2, yang selanjutnya dapat dipakai sebagai tetua untuk membentuk varietas tahan terhadap kedua hama tersebut.
EFEKTIVITAS DIFUSI TEKNOLOGI VARIETAS KEDELAI DI TINGKAT PETANI
F. Rozi
Buletin Palawija No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n24.2012.p49-56
Salah satu inovasi teknologi yang mampumeningkatkan produktivitas kedelai adalah varietasunggul. Sejak tahun 1918 sampai 2009, setidaknyaada 72 varietas kedelai yang telah dilepas dan disebarkankepada petani. Bermacam-macam mekanismedifusi telah diterapkan kepada petani, tetapitingkat keberhasilannya masih rendah, sehinggabanyak teknologi kedelai yang dihasilkan tidak terpakaioleh petani alias mubazir. Dominasi penggunaankedelai varietas Wilis sampai saat ini oleh petanisudah berlangsung selama 28 tahun sejak dilepasvarietas tersebut. Setelah berjalan 10 tahun varietasAnjasmoro dikeluarkan yakni tahun 2001, nampakmulai ada kecenderungan varietas tersebut untukmenggeser varietas Wilis di petani. Melihat perkembangnanproses difusi teknologi kedelai VUB belumberjalan efektif tersebut betapa cukup lama waktuyang dibutuhkan teknologi tersebut sampai digunakanpetani. Suatu keberhasilan difusi teknologi tidakhanya diperoleh dari satu kegiatan diseminasi, tetapidari berbagai kegiatan yang saling mendukung(penelitian, perbenihan, promosi) dan memerlukanwaktu untuk memperolehnya. Perlu perubahan paradigmadiseminasi yang tidak hanya bersifat seremonialseperti kunjungan dalam panen raya, pameran/temu lapang dengan menyebarkan brosur/leaflet,memutar film (video) tetapi disertai informasi cukupdalam akses kehadiran fisik atau penyediaan barang/benih yang nyata di tingkat pengguna (petani)
Pemberdayaan Alfisol untuk Pengembangan Sentra Area Tanam dan Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia
Sudaryono Sudaryono
Buletin Palawija No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n4.2002.p84-99
Alfisol atau tanah Mediteran merupakan kelompok tanah merah yang menduduki persentase tertinggi sebagai areal kacang tanah. Bahan induk Alfisol umumnya adalah batu kapur sehingga mempunyai pewaris sifat basis yang kuat. Hasil telaah percobaan di rumah kaca maupun lapangan, lahan Alfisol memiliki potensi persoalan miskin hara P, K, S, Mg, Fe, Zn dan Cu, nir-imbang (inbalance) K/Ca+Mg, dan miskin bahan organik tanah. Sumber daya lahan Alfisol merupakan kimah (asset) yang besar untuk pengembangan agribisnis kacang tanah atau tanaman pangan pada umumnya. Komponen teknologi budidaya kacang tanah pada Alfisol dapat dirakit secara lengkap (utuh). Komponen teknologi pokok budidaya kacang tanah yang perlu mendapat perhatian meliputi : (1) Kebutuhan air optimal kacang tanah adalah 400 mm/musim tanam, (2) Tambahan N untuk pertumbuhan awal kacang tanah adalah 20–35 kg N/ha, (3) Tambahan pupuk P sebesar 50 kg P 2 O 5 /ha. P-alam merupakan sumber alternatif yang efektif dan ekonomis, (4) Tambahan pupuk K sekitar 25–50 kg K 2 O/ha. ZK-Plus merupakan sumber K alternatif yang efektif dan ekonomis, (5) Alfisol basis tanggap terhadap pemupukan S. Takaran 100 kg ZA/ha atau 100 kg S elementer/ha cukup efektif untuk memperbaiki keharaan S dan pH tanah, (6) Ada peluang peningkatan hasil kacang tanah melalui PPC daun dikombinasikan dengan ajuvan (perata dan perekat), dan (7) Pemakaian 20 t pupuk kandang/ha pada Alfisol marginal memiliki pengaruh nyata terhadap peningkatan hasil kacang tanah. Pemanfaatan Alfisol sebagai sentral area tanam kacang tanah memiliki kelayakan teknis dan perspektif agribisnis yang kuat. Agribisnis kacang tanah memiliki spektrum agroindustri hulu yang luas.
Germination and Establishment of Legumes After Rice Under Rainfed Rice Systems: A Review of Literature
Agustina Asri Rahmianna
Buletin Palawija No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n14.2007.p37-46
Crop establishment that occurs during the first three weeks of the growing phase depends on the success of seed germination and seedling emergence. As the first process, germination can be obtained only when the seed absorb water at a sufficiently rapid rate to reach minimum or critical water content, before other biotic factors can prevent its completion. In this regards, high quality of seeds is an ultimate prerequisite. It is recognized that germination and crop establishment are dominated by physical processes and therefore soil physical properties around the seed and the very young seedling govern the success. Strictly speaking, seed germination and early crop establishment are a function of soil physical condition and seed quality. A rainfed rice ecosystem is essentially a rice field with rainfall as the main source of water to flood the field prior to and during the period of paddy rice growth. This ecosystem is characterized by a lack of water control and therefore flooding and drought are potential problems. About 70 to 75% of the rice farms in Asia are rainfed due to inadequate irrigation systems. Since rice has limited success if planted after the wet season without any irrigation, farmers cultivate upland crops in lowland areas after rice that capable of coping with the dry soil during the later part of the growing season as well as to obtain additional income to support their families. Legumes are the most popular dry season crops in rainfed lowland rice-based cropping systems, as farmers expect the crops to rely on stored water left after rice. In reality, the performance of legume crops in rainfed lowland rice-based cropping systems is generally poor. It should be remembered that puddling of the soil in flooded rice fields is an integral part of rice farming in Asia. This results in waterlogged soils and poor soil physical conditions after rice, lead to the compacted and hard soils following drying. These waterlogged conditions and hard soil, together with low seed quality and fungal attack, significantly affect germination and emergence of legume crops. To obtain high crop establishment, farmers manipulate the soil physical conditions using several practices such as soil tillage, build ditches with the various levels of success.
TRIKOMA SEBAGAI FAKTOR KETAHANAN KEDELAI TERHADAP HAMA PENGGEREK POLONG
Kurnia Paramita Sari;
Suharsono .
Buletin Palawija No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n20.2010.p%p
Kerusakan akibat serangan penggerek polong, Etiella zinckenella Treitschke (Lepidoptera: Pyralidae), dapat menurunkan hasil kedelai sebesar 80%. Varietas tahan terhadap E. zinckenella merupakan salah satu upaya untuk menekan kehilangan hasil akibat serangan hama. Keberadaan trikoma pada polong kedelai ikut berperan sebagai faktor ketahanan kedelai terhadap hama penggerek polong. Galur IAC-100 dan IAC-80-586-2 termasuk tahan terhadap penggerek polong karena mempunyai kerapatan trikoma lebih rapat daripada varietas Wilis dengan kisaran kerapatan 10–27/mm2 untuk IAC-100 dan 12,5–30 mm2 untuk IAC-80-586-2 sedangkan varietas Wilis 3,0–20 mm2. Kerapatan trikoma mempengaruhi jumlah peletakan telur E. zinckenella dan intensitas serangan. Intensitas serangan pada galur IAC-100 43,7% pada polong dan 28,3% pada biji dan IAC-80-586-2 55,6% pada polong dan 35,7% pada biji lebih rendah dibandingkan intensitas serangan pada varietas Wilis sebesar masing-masing 78,3% pada polong dan 38,4% pada biji. Disimpulkan bahwa trikoma ikut berperan sebagai faktor ketahanan kedelai terhadap penggerek polong.
PENGARUH KEMASAN DAN HARGA JUAL KERIPIK DAN STIK DARI TEPUNG KOMPOSIT KELADI DAN UBIJALAR TERHADAP PENERIMAAN KONSUMEN
Dian Adi Anggraeni Elisabeth;
Fawzan Sigma Aurum;
Jemmy Rinaldi
Buletin Palawija Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v15n1.2017.p1-7
Introduksi pengolahan produk snack berbahan baku tepung komposit keladi dan ubijalar telah dilaksanakan di Desa Pelaga, Kabupaten Badung, Bali pada tahun 2013 dan 2014 dengan melibatkan KWT “Mekar Sari”. Penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa produk keripik dan stik yang dibuat dari tepung keladi dan tepung ubijalar dengan perbandingan 3:2 dan 4:1 dapat diterima secara organoleptik (hedonik) oleh panelis. Analisis biaya produksi untuk produk keripik dan stik per kemasan 30 g adalah Rp 1.537,90 dan Rp 1.398,60; dengan R/C ratio 1,29 dan 1,17. Umur simpan produk sampai sekitar 34 minggu pada suhu ruang untuk produk stik yang disimpan dalam plastik PE 0,40 mm sebagai kemasan dalam dengan kertas karton sebagai kemasan luar. Produk snack dikemas dengan desain khusus dan diberi label nama “Keripik Labi” dan “Stick Labi” kemudian diperkenalkan kepada konsumen untuk mengetahui penerimaan konsumen terhadap produk. Studi melibatkan 32 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner semi-terbuka dan dianalisis secara deskriptif kualitatif sederhana. 84-97% panelis menyatakan bahwa informasi tanggal kadaluwarsa produk tidak jelas. Beberapa informasi lain juga dianggap masih agak jelas. Informasi pada kemasan yang tidak jelas membuat 10-15% konsumen menganggap produk tidak menarik sehingga mempengaruhi minat beli konsumen. Disamping itu, harga produk yang mahal juga berpengaruh pada minat beli konsumen (25-27%). Harga jual sebesar Rp 3.500,00 dianggap tidak sesuai untuk produk snack kemasan 30 g. Harga jual yang pantas/sesuai menurut mayoritas konsumen (89-90%) adalah kurang dari Rp 3.000,00.Hasil penelitian ini memang masih jauh dari yang diharapkan. Namun, hasil studi dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi petani untuk pengembangan produk secara komersial.