cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT adalah publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Buletin ini memuat hasil penelitian terkait komoditas rempah dan obat yang belum diterbitkan pada media lain.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
EFEKTIVITAS INSEKTISIDA SITRONELLAL, EUGENOL, DAN AZADIRACHTIN TERHADAP HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO Conophomorpa cramerella (Snell.) Mahrita Willis; I Wayan Laba; Rohimatun .
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 1 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v24n1.2013.%p

Abstract

ABSTRAKPenggerek buah kakao (PBK), Conopomorpha cramerella, merupakan salah satu hama utama tanaman kakao di Indonesia. Beberapa cara pengendalian hama tersebut antara lain sanitasi, kondomisasi, dan insektisida. Penggunaan insektisida nabati untuk mengendalikan PBK masih sangat terbatas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengendalian pestisida nabati berbahan dasar minyak serai wangi, minyak cengkeh, dan mimba yang masing-masing mengandung sitronellal, eugenol, dan azadirachtin terhadap PBK. Penelitian dilaksanakan di kebun petani di Ciamis, Jawa Barat, menggunakan rancangan acak kelompok, dengan 10 perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas (1) Sitronellal (S) 34% konsentrasi lima ml l-1; (2) Sitronellal (S) 34% konsentrasi 10 ml l-1; (3) Eugenol (E) 80% konsentrasi lima ml l-1; (4) Eugenol (E) 80% konsentrasi 10 ml l-1; (5) Azadirachtin (A) 0,6% konsentrasi lima ml l-1; (6) Azadirachtin (A) 0,6% konsentrasi 10 ml l-1; (7) Sitronellal (S) 34% + Eugenol (E) 80% + Azadirachtin (A) 0,6% konsentrasi lima ml l-1; (8) Sitronellal (S) 34% + Eugenol (E) 80% + Azadirachtin (A) 0,6% konsentrasi 10 ml l-1; (9) insektisida sintetis sebagai pembanding Alfametrin 15 EC konsentrasi 1,0 ml l-1, dan (10) kontrol (air). Aplikasi dilakukan terhadap buah kakao. Parameter pengamatan antara lain persentase tingkat serangan hama (ringan, sedang, berat) dan persentase kehilangan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan Sitronellal (S) 34% + Eugenol (E) 80% + Azadirachtin (A) 0,6% konsentrasi lima ml l-1 mampu mengurangi tingkat kerusakan buah akibat serangan PBK yang ditunjukkan dengan nilai efektivitas 37,00% pada serangan ringan; 51,62% pada serangan sedang; dan 65,18% pada serangan berat. 
RESPON PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN MUTU HERBA MENIRAN (Phyllantus niruri) Setiawan Setiawan; Mono Rahardjo
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 26, No 1 (2015): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v26n1.2015.25-34

Abstract

Meniran (Phyllantus niruri L.) merupakan tanaman liar berkhasiat obat, bahan bakunya sebagian besar diperoleh secara menambang. Pemupukan pada tanaman meniran dalam rangka meningkatkan produktivitas dan mutu belum banyak dilakukan. Percobaan bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk terhadap pertumbuhan dan mutu herba meniran. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cimanggu dari Januari sampai Juni 2013. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok empat ulangan dengan delapan perlakuan pemupukan. Perlakuan pemupukan terdiri dari (1) kontrol (tanpa pupuk), (2) 20 t ha-1 pupuk kandang, (3) 20 t ha-1 pupuk kandang+25 kg ha-1 Urea+25 kg ha-1 SP-36+25 kg ha-1 KCl, (4) 20 t ha-1 pupuk kandang+50 kg ha-1 Urea+50 kg ha-1 SP-36+50 kg ha-1 KCl, (5) 20 t ha-1 pupuk kandang+75 kg ha-1 +75 kg ha-1 SP-36+75 kg ha-1 KCl, (6) 20 t ha-1 pupuk kandang+100 kg ha-1 Urea+100 kg ha-1 SP-36+100 kg ha-1 KCl, (7) 20 t ha-1 pupuk kandang+125 kg ha-1 Urea+125 kg ha-1 SP-36+125 kg ha-1 KCl, dan (8) 125 kg ha-1 Urea+125 kg ha-1 SP-36+125 kg ha-1 KCl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi simplisia kering tertinggi (265 kg ha-1) diperoleh pada perlakuan pemupukan 20 t ha-1 pupuk kandang+100 kg ha-1 Urea+100 kg ha-1 SP-36+100 kg ha-1 KCl. Mutu simplisia yang dihasilkan telah memenuhi standar MMI, walaupun pemupukan tidak berpengaruh nyata terhadap mutu simplisia. Untuk menghasilkan simplisia kering 265 kg ha-1, diperlukan 5,697 kg ha-1 N, 0.477 kg ha-1 P, dan 11,368 kg ha-1 K. Secara kualitatif, kandungan metabolit sekunder alkaloid, tanin, saponin, flavonoid, fenolik, triterpenoid, dan glikosida simplisia meniran tidak berbeda nyata pada semua perlakuan pemupukan.
RESPON TANAMAN CABE JAWA PRODUKTIF TERHADAP PEMUPUKAN DI SUMENEP MADURA Agus Ruhnayat; Rosita Sri Muljati; Wawan Haryudin
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 22, No 2 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v22n2.2011.%p

Abstract

Cabe jawa (Piper retrofractum) merupakan salah satu jenis tanaman budidaya yang memiliki banyak manfaat dalam pengobat-an. Untuk memperoleh sediaan jamu atau industri farmasi berbahan baku cabe jawa yang terstandar, perlu didukung dengan penyediaan teknologi hulu yang memadai, sehingga simplisia dan ekstrak yang akan digunakan terjamin mutunya. Teknologi budidaya yang dilakukan petani cabe jawa umumnya belum mengacu pada standar good agricultural practice (GAP) untuk mendukung quality, safety, and efficacy (QSE). Produksi dan mutu cabe jawa diduga dapat ditingkatkan melalui pemu-pukan. Penelitian dilakukan untuk menge-tahui respon tanaman cabe jawa produktif terhadap pemupukan organik dan anorga-nik serta komposisinya di sentra produksi Sumenep, Madura. Penelitian mengguna-kan rancangan petak-petak terbagi (split-split plot), dengan 3 ulangan. Sebagai pe-tak utama adalah pupuk kandang sapi (5, 10, 15 kg/phn/th), anak petak adalah dosis pupuk anorganik/urea, SP-36, dan KCl (75 dan 50 g/phn/th), dan sebagai anak anak petak adalah komposisi urea, SP-36, dan KCl (1:1:1, 1:2:2, 2:1:2, dan 2:2:1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pem-berian 5 kg/phn/th pupuk kandang de-ngan 75 g/phn/th pupuk urea+SP-36 +KCl (1:2:2) atau 15 kg/phn/th pupuk kandang dengan 50 g/phn/th pupuk urea+SP-36+KCl (2:1:2) dapat me-ningkatkan pertumbuhan tanaman ca-be jawa. Pemberian pupuk kandang saja sebanyak 15 kg/phn/th secara nyata me-ningkatkan produksi buah segar (7.612,5 g/phn), dan buah kering (2.537,5 g/phn setara dengan produksi 6,344 t/ha). Pe-ningkatan produksi cabe jawa kering mencapai 28,24% dibandingkan dengan rata-rata petani Sumenep. Kadar piperin (1,87%) dan minyak atsiri (0,91%) yang dihasilkan telah memenuhi standar farma-kope herbal Indonesia.
EFEKTIVITAS MINYAK SERAIWANGI DAN FRAKSI SITRONELLAL TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Phytophthora palmivora PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BUAH KAKAO Nurmansyah Nurmansyah
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 21, No 1 (2010): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v21n1.2010.%p

Abstract

Efektivitas minyak seraiwangi (Cymbopogon nardus) dan fraksi sitronellal terhadap pertumbuhan jamur Phytophtho-ra palmivora, penyebab penyakit busuk buah kakao secara in vitro, telah dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit KP Laing Solok Sumatera Barat dari Juni - Desember 2008. Penelitian dilaksanakan dengan 3 metode : (a) penekanan diame-ter koloni menggunakan medium potato dekstrosa agar (PDA) dan perlakuan yang diuji adalah minyak seraiwangi dan fraksi sitronellal dengan beberapa tingkat konsentrasi (0, 100, 250, 500, 750, dan 1.000 ppm), (b) penekanan biomassa koloni menggunakan medium potato dex-trose Broth (PDB), dan perlakuan yang diuji adalah minyak seraiwangi dan fraksi sitronellal dengan 6 tingkat konsentrasi (0; 100; 250; 500; 750 dan 1.000 ppm), dan (c) penekanan diameter koloni oleh senya-wa volatil dari minyak seraiwangi dan fraksi sitronellal dengan 6 dosis uji (0; 0,01; 0,025; 0,05; 0,075; dan 0,1 ml/ cawan petri). Percobaan (a) dan (b) menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 4 ulangan, dan percobaan (c) disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi 750 ppm, minyak seraiwangi mampu menghambat pertumbuhan diame-ter koloni P. palmivora 75,95% dan bio-massa koloni 82,61%. Sedangkan fraksi sitronellal pada konsentrasi yang sama mampu menghambat pertumbuhan diame-ter koloni lebih baik (yakni 78,88%) dan biomassa koloni 88,41%. Pada konsen-trasi 1.000 ppm, minyak seraiwangi mau-pun fraksi sitronellal mampu mengham-bat petumbuhan diameter dan biomassa koloni jamur P. palmivora 100%. Senya-wa volatatil dari minyak seraiwangi pada dosis 0,1 ml dan fraksi sitronellal 0,075 ml/cawan petri mampu menghambat per-tumbuhan diameter jamur P. palmivora 100%. 
ISOLASI SENYAWA BIOAKTIF PENOLAK (REPELLENT) NYAMUK DARI EKSTRAK ASETON BATANG TUMBUHAN LEGUNDI (Vitex trifolia) Mustanir Mustanir; Rosnani Rosnani
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 19, No 2 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v19n2.2008.%p

Abstract

Isolasi senyawa bioaktif penolak nyamuk dari ekstrak aseton batang tumbuhan legundi (Vitex trifolia) telah dilakukan di Jurusan Kimia FMIPA Universitas Syiah Kuala sejak Juni - Nopember 2006. Hasil uji fito-kimia, kelompok metabolit sekunder di dalam batang legundi adalah senyawa : alkaloid, steroid, terpenoid, saponin dan flavonoid. Hasil maserasi sampel sebanyak 2.500 g diperoleh ekstrak metanol kasar sebanyak 169,76 g. Eks-trak tersebut dipartisi dengan pelarut aseton, diperoleh ekstrak aseton sebanyak 50 g, se-dangkan ekstrak metanol (hasil partisi) se-banyak 92,71 g. Hasil kromatografi kolom vakum cair (KKVC) ekstrak aseton diperoleh 4 kelompok fraksi, masing-masing beratnya : 0,01 g; 0,1 g; 0,5 g dan 0,8 g. Selanjutnya eks-trak aseton fraksi 3 dan 4 diuji sifat penolaknya terhadap nyamuk dengan konsentrasi 1, 5, dan 10% terhadap tiga orang relawan selama satu jam. Secara umum dihasilkan bahwa baik eks-trak kasar maupun hasil fraksi aseton aktif sebagai repellen terhadap nyamuk. Berdasar-kan kromatografi gas-spektrum massa (KG-SM), ekstrak aseton mengandung senyawa pestisida antara lain : sekokondifolan dan jasmolin. 
PENGARUH SUHU DAN MEDIA PERKECAMBAHAN TERHADAP VIABILITAS DAN VIGOR BENIH PURWOCENG UNTUK MENENTUKAN METODE PENGUJIAN BENIH Devi Rusmin; Faiza C Suwarno; Ireng Darwati; Satriyas Ilyas
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 25, No 1 (2014): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v25n1.2014.45-51

Abstract

Informasi tentang metode pengujian benih purwoceng (Pimpinella pruatjan) masih terbatas, terutama kebutuhan suhu dan media perkecambahan yang tepat. Percobaan bertujuan untuk mengetahui suhu dan media perkecambahan yang tepat dalam pengujian daya berkecambah benih purwoceng. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor,sejak Maret sampai Mei 2009. Percobaan disusun dalam rancangan petak terbagi dengan tiga ulangan. Sebagai petak utama adalah suhu perkecambahan yang terdiri atasdua taraf (1) 18-200C (T1), dan (2) 23-250C (T2). Sebagai anak petak adalah lima jenis media (1) media kertas stensil/CD (cross-machine direction) (M1), (2) media pasir (M2), (3) media tanah (M3), (4) campuran media tanah dan kompos (1:1) (M4), dan (5) campuran media tanah, pasir dan kompos (1:1:1) (M5), sehingga diperoleh 30 kombinasi perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan suhu perkecambahan 23-250C dengan media kertas stensil merupakan kombinasi perlakuan terbaik untuk metode pengujian viabilitas dan vigor benih purwoceng, berdasarkan nilai daya berkecambah (44%), potensi tumbuh maksimum (45,33%), indeks vigor (23,33%), dan kecepatan tumbuh (0,97% etmal-1).
KARAKTERISTIK AGRONOMI BEBERAPA AKSESI DAN VARIETAS NILAM PADA UMUR PANEN BERBEDA Muhamad Djazuli
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 22, No 1 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v22n1.2011.%p

Abstract

Agronomical Characteristics of Some Patchouli Accessions and Varieties at Several Harvest TimesInternal factor (genetic) and external fac-tor (ecological condition) strongly affect growth and productivity of patchouli. The objective of this study is to find out the agronomical characteristics of some ac-cessions, protoplast fusion, somaclones, and varieties of patchouli at 4, 5, 6 months after planting (MAP). For finding those agronomic characteristics, a pot ex-periment was conducted at Cimanggu Research Station, Bogor from May to De-cember 2009. The experiment was ar-ranged in randomized block design with 3 replicates. 12 accessions/varieties of pat-chouli consist of 4 somaclones, 4 acces-sions of protoplast fusion, 3 high yielding varieties, and 1 local variety were tested in this experiment. Growth and production components, number of oil gland and oil content of leaf were observed at 4, 5, and 6 MAP, while patchouli oil content were observed at 4 MAP. Results showed that protoplats fusion of PS 32 accession reveal the highest growth and biomass compo-nents compared to other accessions and varieties tested. Lower oil content of PS 32. The highest oil production per plant were found at PS 18 and PS 17. There is a linier correlation between oil content and number of oil gland in the leaf from 12 patchouli accessions and varieties tested. Patchouli alcohol content from the six pat-chouli accessions and varieties tested at 4 MAP were higher than 30%, being higher than minimal PA content for export. From those results it is indicated that even-though PS 18 and PS 17 accessions have high oil content, those accessions have some java patchouli genes characters, therefore evaluation of PS 18 and PS 17 to biotic and abiotic stress conditions are needed. 
EVALUASI EFIKASI FORMULA Pseudomonas fluorescens UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU BAKTERI (Ralstonia solanacearum) NILAM NFN Nasrun; NFN Burhanuddin
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 27, No 1 (2016): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v27n1.2016.67-76

Abstract

Penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) merupakan masalah utama tanaman nilam. Pengendalian hayati dengan memanfaatkan Pseudomonas fluorescens untuk mengendalikan penyakit layu bakteri nilam perlu dikembangkan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh masa penyimpanan formula dengan bahan aktif kombinasi P. fluorescens Pf19 dan Pf101 dan efektifitasnya untuk mengendalikan penyakit layu bakteri dan meningkatkan pertumbuhan nilam. Penelitian dilaksanakan di kebun petani di Pasaman Barat Sumatera Barat sejak Maret 2010 sampai Februari 2011. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah lama penyimpanan formula yaitu 0, 30, 60, 90, 120 dan150 hari, dan faktor kedua adalah tingkat umur tanaman yaitu benih, bibit dan tanaman dewasa. Hasil penelitian menunjukkan formula kombinasi P. fluorescens Pf19 dan Pf101 mampu menurunkan perkembangan penyakit layu bakteri dan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Formula kombinasi P. fluorescens Pf19 dan Pf101 yang disimpan selama 30 sampai 120 hari yang diaplikasi pada benih dan bibit tanaman nilam efektif dalam mereduksi penyakit layu bakteri dengan masa inkubasi gejala penyakit 134,10-175,00 hari setelah tanam dengan intensitas penyakit           11,31-24,15%, serta meningkatkan produksi daun nilam dengan berat basah 45,97-55,86 g petak-1 dan berat kering daun 18,82-25,60 g petak-1.
POTENSI BAMBU TALI (Gigantochloa apus J.A. & J.H. Schult. Kurz) SEBAGAI OBAT DI BALI Wawan Sujarwo; Ida Bagus Ketut Arinasa; I Nyoman Peneng
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 21, No 2 (2010): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v21n2.2010.%p

Abstract

Publikasi yang mengungkap tentang peng-gunaan bambu dalam dunia pengobatan masih sedikit sekali bila dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Penelitian ini bertujuan mengangkat kearifan lokal yang ada di Bali tentang penggunaan bambu tali sebagai obat, mengetahui komponen kimia dasar penyusun bambu tali dan mengetahui kandungan senyawa kimia aktif yang berpotensi sebagai obat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara, eksplorasi materi genetik, dan laboratorium (uji proksimat dan GCMS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat belas respon-den (51,85%) menyatakan bahwa bambu tali berpotensi sebagai obat, berdasarkan lontar usada (kitab pengobatan tradisional Bali) dan sudah mempraktekannya secara langsung terhadap pasien. Akar bambu tali dapat mengobati kencing manis, kencing batu, maag, liver (sakit kuning), hipertensi, ginjal, kanker payudara, limpa, kanker darah, dan batuk. Sedangkan batang (buluh) bambu tali dapat digunakan untuk meremajakan kulit bekas luka, memper-lancar persalinan, mengobati luka, dan mengobati panas dalam. Pengujian prok-simat menunjukkan bahwa bambu tali mengandung protein 2,02% (akar)-4,72% (batang), lemak 6,71% (batang)-7,78% (akar), abu 4,05% (batang)-11,21% (akar), air 8,51% (akar)-8,51% (batang), karbohidrat 70,49% (akar)-76% (batang), pati 12,18% (batang)-13,07% (akar), serat 59,21% (batang)-62,67% (akar) dan antioksidan 29,91 ppm (batang)-42,88 ppm (akar). Pengujian gas chromato-graphy mass spectrometry (GCMS) menggunakan pelarut non polar (hexane) menunjukkan bahwa bambu tali mengan-dung asam lemak, baik asam lemak jenuh (palmitic acid, myristic acid, stearic acid, dan lain-lain) maupun asam lemak tidak jenuh (oleic acid dan lain-lain) serta senyawa lainnya (kurkumin, limonen, dan lain-lain). Ditemukan pula senyawa aromatik seperti toluene, naphthalene, dan 1,3,5-trimethyl benzene. 
PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI DAN AGENSIA HAYATI UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK JAMUR AKAR PUTIH PADA JAMBU METE Mesak Tombe
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 19, No 1 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v19n1.2008.%p

Abstract

Penyakit busuk jamur akar putih (JAP) sampai saat ini telah ditetapkan sebagai salah satu OPT utama pada tanaman jambu mete di Indonesia. Penyakit ini dapat menye-babkan kegagalan berproduksi dan kematian tanaman jambu mete. Penelitian penanggulang-an penyakit JAP jambu mete telah dilaksana-kan di desa Kayangan, Kabupaten Lombok Barat NTB dan laboratorium Fitopatologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, pada tahun 2002 – 2004. Komponen teknologi yang digunakan adalah agensia hayati, pupuk or-ganik dan fungisida nabati. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan fungisida nabati (cengkeh dan nimba) disertai pemberian pupuk organik yang telah diperkaya dengan agensia hayati (Bacillus sp., Tricho-derma sp. dan Cytopaga sp.) dapat menekan serangan penyakit antara 47 - 80% dan berbeda nyata dengan kontrol. Perlakuan terbaik adalah fungisida nabati cengkeh (Mitol 20 EC) disertai pemberiaan pupuk organik yang mengandung Bacillus pantotkentikus dan Trichoderma lac-tae. Hasil isolasi mikroorganisme menunjuk-kan bahwa pupuk organik 1 didominasi oleh Trichoderma spp. dan pupuk organik 2 di dominsi oleh Bacillus spp. Kepadatan populasi mikroorganisme dalam setiap perlakuan teruta-ma Bacillus sp., Trichoderma sp. dan Pseu-domonas flourescens sangat erat kaitannya dengan tingkat serangan penyakit busuk akar jamur putih pada jambu mete. 

Page 6 of 55 | Total Record : 544


Filter by Year

1986 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 2 (2021): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 32, No 1 (2021): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 31, No 2 (2020): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 31, No 1 (2020): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 30, No 2 (2019): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 30, No 1 (2019): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 29, No 2 (2018): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 29, No 1 (2018): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 28, No 2 (2017): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 28, No 1 (2017): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 27, No 2 (2016): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 27, No 1 (2016): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 26, No 2 (2015): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 26, No 1 (2015): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 25, No 2 (2014): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 25, No 1 (2014): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 2 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 2 (2013): Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 1 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 1 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 23, No 2 (2012): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 23, No 1 (2012): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 22, No 2 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 22, No 1 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 21, No 2 (2010): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 21, No 1 (2010): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 20, No 2 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 20, No 1 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 19, No 2 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 19, No 1 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 18, No 2 (2007): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 18, No 1 (2007): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 17, No 2 (2006): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 17, No 1 (2006): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 16, No 2 (2005): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 16, No 1 (2005): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 15, No 2 (2004): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 15, No 1 (2004): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 14, No 2 (2003): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 14, No 2 (2003): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 14, No 1 (2003): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 13, No 2 (2002): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 13, No 1 (2002): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 12, No 1 (2001): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 11, No 2 (2000): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 10, No 1 (1999): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 9, No 2 (1994): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 9, No 1 (1994): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 8, No 2 (1993): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 8, No 1 (1993): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 7, No 2 (1992): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 7, No 1 (1992): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 6, No 2 (1991): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 6, No 1 (1991): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 5, No 2 (1990): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 5, No 1 (1990): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 4, No 2 (1989): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 4, No 1 (1989): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 3, No 2 (1988): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 3, No 1 (1988): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 2, No 2 (1987): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 2, No 1 (1987): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 1, No 2 (1986): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Vol 1, No 1 (1986): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat More Issue