cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2017): Oktober 2017" : 5 Documents clear
Potensi Diversifikasi Rosela Herbal (Hibiscus sabdariffa L.) untuk Pangan dan Kesehatan Elda Nurnasari; Ahmad Dhiaul Khuluq
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n2.2017.82-92

Abstract

Tanaman penghasil serat alami dari genus Hibiscus yang cukup populer di Indonesia adalah rosela (Hibiscus sabdariffa L.). Nilai kemanfaatan rosela sangat luas baik untuk pangan dan kesehatan, sehingga potensi diversifikasi rosela cukup besar.  Tujuan penulisan review ini adalah untuk memberikan informasi kandungan fitokimia potensial tanaman rosela herbal yang memiliki efek farmakologis dan fisiologis serta beberapa diversifikasi produk makanan, minuman dan produk kesehatan. Bagian tanaman rosela herbal yang memiliki kandungan fitokimia potensial adalah daun, buah, biji, batang dan akar. Senyawa fitokimia potensial tersebut meliputi kelompok senyawa fenol, alkaloid, tannin, flavonoid, saponin, dan asam organik. Fungsi rosela herbal secara farmakologis dan fisiologis diantaranya memiliki aktivitas antibakteri, antifungal, aktivitas antiinflamasi, antidiabetes, aktivitas antioksidan, dan aktivitas antihipertensi. Diversifikasi produk rosela herbal meliputi nanokapsul ekstrak rosela, pewarna alami, pangan fungsional, obat herbal, feed additive, bahan kosmetik, minyak goreng, cat, dan bahan bakar nabati. Inovasi teknologi proses produksi dalam diversifikasi produk rosela perlu terus dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah dan optimalisasi pemanfaatan komponen bioaktif rosela herbal. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan produksi rosela herbal nasional. Potential Divercification of Herbs Roselle (Hibiscus sabdariffa L.) for Food and HealthPlants of the genus Hibiscus that produce natural fibers are roselle (Hibiscus sabdariffa L.). The benefit value of roselle is very wide for food and health, so the potential of roselle product diversification is quite large. The purpose of this review provides information on potential phytochemical content of herbs roselle plants that have pharmacological and physiological effects as well as some product diversification for food, drink, and health product. The plant part of herbs roselle that has potential phytochemical content is leaves, fruit, seed stem and root. These potential phytochemical compounds include groups compounds of phenol, alkaloids, tannins, flavonoids, saponins, and organic acids. The functions of herbs roselle for pharmacological and physiological include antibacterial, antifungal, anti-inflammatory activity, antidiabetic activity, antioxidant activity, and antihypertensive activity. Products diversification of herbs roselle includes nanocapsul of roselle extract, natural dyes, functional foods, herbal medicines, feed additives, cosmetic ingredients, cooking oil, paints, and biofuels. The innovation technological of production process in the roselle product diversification needs to be continuously done to increase the added value and optimization of bioactive herb component utilization. Therefore it is expected to improve the welfare of farmers and national production of herbs roselle.
Efektivitas Aplikasi Pupuk Majemuk NPK Terhadap Produktivitas dan Pendapatan Petani Tebu Nunik Eka Diana; Sujak Sujak; Djumali Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n2.2017.43-52

Abstract

Peningkatan produktivitas tebu diantaranya dapat dilakukan dengan pemupukan yang tepat. Penggunaan pupuk majemuk masih belum banyak digunakan pada tanaman tebu. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pupuk majemuk NPK terhadap produktivitas tebu dan pendapatan petani dilakukan di Desa Pakiskembar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang pada November 2014 sampai dengan Oktober 2015. Efektivitas aplikasi pupuk majemuk (PM) dilakukan dengan menguji tujuh dosis pupuk yakni (1) PM 1 (100 N + 50 P2O5 + 60 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (40 N) kg/ha, (2) PM 2 (120 N + 60 P2O5 + 72 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (40 N) kg/ha, (3) PM 3(140 N + 70 P2O5 + 84 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (40 N) kg/ha, (4) PM 4 (100 N + 50 P2O5 + 60 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (60 N) kg/ha, (5) PM 5 (120 N + 60 P2O5 + 72 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (60 N) kg/ha, (6) PM 6 (140 N + 70 P2O5 + 84 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (60 N) kg/ha, dan (7) PM 7 (80 N + 40 P2O5 + 48 K2O) + pupuk tunggal (100 N) kg/ha, (8) PM 8 (60 N + 60 P2O5 + 60 K2O) + Pupuk tunggal 120 N kg/ha (pembanding) dan (9) tanpa dipupuk (kontrol).  Pengujian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dan diulang empat kali. Pengamatan dilakukan pada parameter pertumbuhan dan produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk majemuk (140 N + 70 P2O5 + 84 K2O) kg/ha + pupuk tunggal (60 N) kg/ha menghasilkan efektivitas agronomis relatif (RAE) 144,27%, pendapatan bersih Rp.66.720.000,-/ha, nilai R/C ratio 1,84, dan peningkatan produktivitas tebu 36% lebih tinggi dibandingkan dengan aplikasi dosis pupuk pembanding.Effectivity of compound fertilizer application on sugarcane productivity andfarmer’sIncreased productivity of sugarcane can be done through balanced fertilization. In this case, the usage of compound fertilizers is still not use widely on sugarcane crops. The research aims to evaluate the effectiveness of compound fertilizer N20P10K12 on sugarcane productivity and farmer’s income. The research was done in Pakiskembar; subdistrict Pakis, Malang in November 2014 to October 2015. Seven doses of N20P10K12 fertilizers namely (1) 100 N + 50 P + 60 K +40 N single fertilizer kg/ha, (2) 120 N + 60 P + 72 K + 40 N single fertilizer kg/ha, (3) 140 N + 70 P + 84 K + 40 N single fertilizer kg/ha, (4) 100 N + 50 P + 60 K + 60 N single fertilizer kg/ha, (5) 120 N + 60 P + 72 K + 60 N single fertilizer kg/ha, (6) 140 N + 70 P + 84 K + 60 N single fertilizer kg/ha, dan (7) 80 N + 40 P + 48 K + 100 N single fertilizer kg/ha, (8) 60 N + 60 P + 60 K + 120 N single fertilizer kg/ha (a standard fertilizer application) and control (without fertilization) arranged in a randomized block design and replicated four times. Observations were made on parameters of growth and productivity. The results showed that the fertilizer application with dose 140 N + 70 P + 84 K (compound fertilizer) + 60 N single fertilizer kg/ha gave reltive agronomic effectiveness (RAE) 144.27%, net income Rp. 66.72 million/ha, R/C 1.84, and increased productivity of sugarcane 36% higher than that of standard fertilizer application.
Karakteristik Kimia Serat Buah, Serat Batang, dan Serat Daun Elda Nurnasari; Nurindah Nurindah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n2.2017.64-72

Abstract

Serat alam yang berasal dari tanaman non-kayu dikategorikan menjadi tiga kelompok yaitu serat buah, serat batang dan serat daun.  Masing-masing jenis serat alam tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.  Karakter kimia, fisik, maupun dinamik dari serat alam diperlukan untuk pengembangan pemanfaatannya sebagai bahan baku industri strategis berbasis serat.  Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis karakteristik kimia serat buah (kapas), serat batang (abaka), dan serat daun (sisal), serta membahas peluang pemanfaatannya dalam industri berbasis serat alam. Informasi mengenai karakteristik kimia serat diperlukan sebagai dasar untuk pemanfaatan serat sebagai bahan baku dalam industri strategis. Data karakteristik kimia serat alam juga diperlukan sebagai dasar pembuatan produk-produk turunannya (diversifikasi produk) sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi produk tanaman serat. Analisis karakter kimia serat alam dilakukan dengan menggunakan metode Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk mendapatkan informasi tentang kandungan selulosa, hemiselulosa, holoselulosa, lignin, dan pentosan, serta kadar zat ekstraktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serat buah kapas memiliki kandungan selulosa tertinggi (98,06%), serat batang abaka mempunyai kandungan lignin tertinggi (7,63%), sedangkan serat daun sisal mempunyai kandungan hemiselulosa tertinggi (21,97%).  Kadar holoselulosa ketiga jenis serat hampir sama, yaitu antara 93,3–94,7%. Kadar zat ekstraktif (kelarutan alkohol-benzena, air panas dan air dingin) ketiga jenis serat termasuk kecil (<5%) yaitu antara 0,63–4,44%. Informasi tentang karakter kimia serat alam tersebut hendaknya dipadukan dengan informasi karakter fisik dan dinamik serat untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri strategis berbasis serat, misalnya kertas uang, biokomposit untuk industri automotif, biopolymer dan produk yang berbasis nano fiber.Chemical Characteristics of Boll, Bast, and Leaf FibersNon-wood natural fibers are categorized into three groups, viz. boll fiber, bast fiber and leaf fiber.  Those natural fibers have specific characters.  Chemical characters as well as physical and dynamical characters of the fibers are useful for their utilization in natural fiber based industries.  This research aims are to analyse chemical characters of cotton boll fibers, bast fiber of abaca, and leaf fiber of sisal, as well as to discuss the possibility of their use in fiber based industries.   The information of the fibers chemical characters is needed for developing their use as the main materials of strategic industries.  The data are also useful for developing derivates products or product diversification, so that could be an added value of the natural fibers.  The characterization of those fibers used Indonesian National Standard (SNI) methods to analyse the content of cellulose, hemi cellulose, holocellulose, lignin, and pentosan, as well as the extractive compounds.  Result showed that cotton fiber has the highest cellulose content (98.06%), the bast fiber of abaca has the highest lignin content (7.63%), and sisal has the highest hemicellulose content (21.9%).  Holocellulose content of those fibers were around 93.3-94.7%.  The content of extractive compound of the fibers (in term of disolve capacity of fiber in alcohol-benzene, hot and cold water) was catogerized as very low (less than 5%).  These information regarding to the chemical characters of those three fibers when are integrated with the fiber-physical and dynamical characters would be useful for developing the utilization of the fibers into natural-fiber-based industries, such as paper money, biocomposite for automotive industry, biopolymers, and nano fiber products.
Teknik Pematahan Dormansi untuk Meningkatkan Daya Berkecambah Dua Aksesi Benih Yute (Corchorus olitorius L.) Taufiq Hidayat RS; Marjani Marjani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n2.2017.73-81

Abstract

Tanaman yute di Indonesia memiliki prospek dan peluang yang baik untuk dijadikan bahan baku industri karung goni, pulp dan kertas. Benih yute masih memiliki perkecambahan yang rendah karena secara morfologi memiliki kulit biji yang keras dan masa dormansi yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai teknik pematahan dormansi benih untuk meningkatkan daya berkecambah benih yute. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama terdiri atas aksesi benih yute (2005 dan 2006), faktor kedua terdiri atas media perkecambahan (kertas merang dan pasir), dan faktor ketiga terdiri atas perlakuan perendaman benih (tanpa perendaman, perendaman air suhu 80oC selama 1 jam, perendaman air suhu 80oC selama 2 jam, perendaman air suhu 80oC selama 3 jam, perendaman air suhu 27oC selama 12 jam, perendaman air suhu 27oC selama 20 jam dan perendaman air suhu 27oC selama 25 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara aksesi benih, media perkecambahan dan perlakuan benih memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase daya berkecambah, persentase benih keras dan panjang akar. Benih yute 2006 yang direndam air suhu 80ºC sampai dingin selama 3 jam dan dikecambahkan pada media kertas merang memiliki persentase keserempakan tumbuh terbaik (90,5%), daya berkecambah (90,1%), benih keras terendah (8,75%), tinggi plumula (3,88 cm) dan panjang radikula terbaik (3.89 cm). Persentase keserempakan tumbuh, daya berkecambah, persentase benih keras dan tinggi plumula tidak berbeda nyata antara dua aksesi benih yute. Perendaman benih dengan air suhu 80ºC sampai dingin selama 3 jam dan dikecambahkan pada media kertas merang mampu mematahkan dormansi dan meningkatkan daya berkecambah dua aksesi benih yute.The Techniques of Dormancy Breaking to Increase Seed Viability of Jute (Corchorus olitorius L.)Jute plants in Indonesia have prospects and opportunities to be used as raw materials for pulp and paper sack industries. Jute seeds have a low germination because they have hard seed shells and long dormancy periods. This study aims to determine the dormancy seed breaking technique to increase the germination level of jute seeds. The research method used a factorial completely randomized design. The first factor consisted of jute seed harvest in 2006 and 2005, the second factor consisted of germination media (paper and sand), and the third factor consisted of the treatment of seeds soaking (without soaking, soaking in 80oC water for 1 hour, in 80oC water for 2 hours, in 80oC water for 3 hours, in 27oC water for 12 hours, in 27oC water for 20 hours and in 27oC water for 25 hours). The results showed that the interaction between three factors gave a significant effect on the percentage of germination, percentage of hard seed and root length. The jute seed harvest in 2006 were soaked in 80ºC water for 3 hours and were germinated on paper media showed the best simultaneous growth percentage (90%), germination (90%), lowest hard seed (9%), plumula length (3.88 cm) and the longest radical length (3.89 cm). Those parameters were not significantly different between the two jute accessions.  Soaking the seeds in 80oC water for 3 hours and then germinate the seeds on paper could break the seed dormancy and increase the germination.
Pengaruh Rizobakteri dalam Meningkatkan Kandungan Asam Salisilat dan Total Fenol Tanaman terhadap Penekanan Nematoda Puru Akar Kristiana Sri Wijayanti; Bambang Tri Rahardjo; Toto Himawan
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n2.2017.53-62

Abstract

 Penyakit puru akar pada tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L.) yang disebabkan oleh nematoda Meloidogyne spp. mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas serat. Kolonisasi rizobakteri dalam rizosfer berperan sebagai antagonis yang dapat dimanfaatkan dalam ketahanan tanaman terhadap patogen.  Peran rizobakteri sebagai bioprotektan dapat menurunkan populasi nematoda yang akan mempengaruhi perkembangan patogen penyebab penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rizobakteri yang potensial dalam meningkatkan ketahanan tanaman kenaf terhadap infeksi nematoda Meloidogyne spp. melalui pembentukan metabolit sekunder diantaranya kandungan total fenol dan asam salisilat. Aplikasi rizobakteri dengan cara perendaman dan tanpa perendaman baik secara tunggal maupun konsorsium.  Rizobakteri yang digunakan terdiri dari 3 jenis yaitu Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, dan Azotobacter sp. Pengamatan kandungan total fenol dan asam salisilat diamati pada 15 dan 25 hari setelah inokulasi dengan menggunakan alat spektrofotometer. Peningkatan total fenol dan asam salisilat tertinggi diperoleh ketika benih kenaf direndam dengan bakteri P. fluorescens berturut-turut sebesar 513,45% dan 235,99%. Terdapat peningkatan bobot kering tanaman kenaf dengan aplikasi rizobakteri dibandingkan dengan kontrol. Effect of Rhizobacteria  in Content  of Salicylic Acid and Total Phenol of Kenaf Against Nematodes Infections Root knoot disease of kenaf caused by nematodes Meloidogyne spp. is an important disease since it lowers quality and quantity of the fiber. Colonization of rhizobacteria in rhizosphere acts as an antagonist that can be utilized in plant resistance to pathogens. The role of rhizobacteria as a bioprotectan could reduce nematode population, and thus affect development of the disease. This study aimed to evaluate the potency of rhizobacteria in improving kenaf resistance against root knot nematode by inhibiting the production of total phenols and salicylic acid. Application of rhizobacteria was done by soaking or without soaking kenaf seeds either singly or in consortium. There were three rhizobacteria used in this study, i.e: Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, and Azotobacter sp. The content of total phenols and salicylic acid was observed at 15 and 25 days after inoculation using a spectrophotometer. The highest elevation level of total phenols and salicylic acid was obtained when kenaf seeds were soaked in P. fluorescens 513,45% and 235,99% respectively. There is an increase dry weight of kenaf with aplication of rhizobacteria compared with controls.

Page 1 of 1 | Total Record : 5