cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Ketahanan Aksesi Plasma Nutfah Tembakau Cerutu terhadap Penyakit Lanas dan Busuk Batang Berlubang Resistance of Tobacco Germplasms Against Black Shank and Hollow Stalk Yulianti, Titiek
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh aksesi tembakau cerutu yang tahan terhadap penyakit lanas dise-babkan oleh patogen Phytophthora nicotianae vßdH var. nicotianae Waterhouse dan busuk batang berlu-bang yang disebabkan oleh patogen Erwinia carotovora sebagai sumber genetik pada persilangan untuk me-rakit varietas unggul baru. Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan rumah kasa dan semi lapangan pada polybag di Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang, mulai bulan Maret sampai dengan De-sember 2008. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Unit perlaku-an terdiri dari 10 tanaman tembakau cerutu. Parameter pengamatan adalah persentase tanaman sakit. Ino-kulasi Phytophthora nicotianae pada tanaman dilakukan pada 1 bulan setelah tanam dengan cara membuat luka/sayatan pada pangkal batang kemudian diolesi suspensi patogen dan ditutup dengan kapas steril yang dibasahi dengan air steril untuk menjaga kelembapan. Inokulasi E. carotovora dilakukan pada dua minggu setelah tanam (MST) yaitu pada akar yang disayat terlebih dahulu dengan menggunakan pisau cutter seba-gai media masuknya inokulum pada bagian tanaman. Suspensi inokulum yang digunakan 10 ml dengan ke-rapatan 108/ml per polybag. Dari hasil pengujian diperoleh enam aksesi tembakau cerutu tahan terhadap P. nicotianae yaitu: S-2235, S-2272, S-2361, S-2399, S-2400, dan S-2403. Sedangkan aksesi yang tahan ter-hadap E. carotovora adalah: S-2234, S-2236, S-2271, S-2272, S-2298, S-2299, S-2361, S-2399, S-2400, dan S-2401.This study aimed to examine the resistance level of 30 cigar tobacco accessions to Phytophthora nicotianae, the causal agent of black shank, and Erwinia carotovora, the causal agent of hollow stalk. The resistant lines will be used as resistant genetic source in breeding process to construct premium variety (ies). The screen-ing test was conducted in a glass house from March–December 2008 arranging in randomized block design with three replicates. Each unit of tobacco accessions consisted of 10 plants and percentage of wilt/diseased plant assessed to determine the resistant degree. P. nicotianae was inoculated on wounded bottom stem beneath the soil level 1 month after transplanting. Whilst E. carotovora was infested in sterilized soil 10 ml with concentration of 108 per polybag two weeks after tobacco seedlings were transplanted. The root sys-tems were wounded to facilitate the bacterium enter the cells. Results of the test show that 6 of 16 tested accessions were resistant, ie. S-2235, S-2272, S-2361, S-2399, S-2400, and S-2403 to P. nicotianae; and 10 accessions were resistant to E. carotovora ie. S-2234, S-2236, S-2271, S-2272, S-2298, S-2299, S-2361, S-2399, S-2400, and S-2401.
Evaluasi Ketahanan Plasma Nutfah Kenaf terhadap Cekaman Fe pada pH Masam Evaluation of Kenaf Germplasm to High Fe Concentration and Low pH Resistance Purwati, Rully Dyah; Marjani, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi ketahanan plasma nutfah kenaf pada lingkungan konsentrasi Fe yang ekstrim dan pH masam telah dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kaca Pemuliaan Balittas, Malang, mulai bulan Januari–Desember 2008. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan ran-cangan acak kelompok yang diulang 3 kali. Bahan penelitian terdiri dari 100 aksesi kenaf yang diuji di labo-ratorium pada tingkat bibit. Pada setiap ulangan, masing-masing aksesi kenaf diuji sebanyak 20 bibit ber-umur 3–4 hari, yang ditanam pada stereo-foam berlapiskan kasa strimin. Bibit dipelihara pada larutan nu-trien ”Yoshida” dan diberi perlakuan konsentrasi unsur Fe 350 ppm dan pH 4. Sebagai pembanding diguna-kan nutrien yang sama dengan konsentrasi Fe = 0 ppm dan pH netral. Pengamatan dilakukan terhadap pan-jang akar, panjang hipokotil, berat kering akar, dan berat kering hipokotil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan 100 aksesi kenaf yang diuji terhadap kelebihan Fe pada pH masam bervariasi; tetapi ada 8 aksesi yang tergolong tahan, yaitu aksesi nomer 449, 461, 476, 782, 785, 833, 836, dan 839.The objective of this experiment was to find out information of kenaf germplasm resistance to high Fe con-centration and low pH of media. The experiment was conducted in laboratory and green house of plant breeding division, IToFCRI, Malang from January to December 2008. The experiment was designed in ran-domized block design with three replications. One hundred accessions of kenaf seedlings were evaluated in laboratory. Each accession in each replicate consisted of 20 seedlings (3–4 days old) were planted in stereo-foam trays with plastic gauze layer. Seedlings were maintained in “Yoshida” nutrient solution and treated with 350 ppm Fe concentration and pH 4. The same media with 0 ppm Fe and neutral pH was used as a control. The parameters observed were root and hypocotyls length, root and hypocotyls dry weight. Results of this experiment showed that the resistance to excess Fe in low pH of 100 accessions evaluated were va-ried. Out of 100 accessions, eight accessions were categorised as resistant i.e. accession no. 449, 461, 476, 782, 785, 833, 836, and 839.
Konsep dan Implementasi Teknologi Budi Daya Ramah Lingkungan pada Tanaman Tembakau, Serat, dan Minyak Industri Concept and Implementation of Environmentally-Friendly Technologies in Cultivation of Tobacco, Fiber, and Industrial Oil Crops Nurindah, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan teknologi ramah lingkungan budi daya tanaman pada suatu lahan akan dapat mempertahankan kelestarian lingkungan. Penciptaan teknologi budi daya tanaman tembakau, serat, dan minyak industri di-arahkan pada teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas dan mutu hasil, efisiensi biaya usaha tani, dan ramah lingkungan. Teknologi ramah lingkungan difokuskan pada penemuan komponen teknologi prapa-nen yang mempunyai dampak minimal terhadap pencemaran atau perusakan lingkungan, yang meliputi va-rietas-varietas unggul, teknik pengendalian hama dan penyakit, teknik konservasi lahan tembakau. Varietas-varietas unggul tersebut adalah varietas-varietas yang mempunyai ketahanan terhadap hama dan penyakit, yaitu tembakau Prancak 95, Prancak N1, Prancak N2, Kemloko 2, dan Grompol Jatim 1; kapas: Kanesia 11–Kanesia 13; kenaf: Karangploso 14–Karangploso 15; wijen: Sumberrejo 4; dan jarak kepyar: Asembagus 81. Teknik pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan adalah teknologi pengendalian hama yang membatasi atau meniadakan penggunaan insektisida kimia sintetik dan menerapkan teknik pengendalian de-ngan memanfaatkan peran musuh alami serangga hama atau antagonis patogen penyebab penyakit, dan penggunaan pestisida nabati. Teknik konservasi lahan untuk mengendalikan erosi dan penyakit lincat dikem-bangkan pada lahan tembakau temanggung dengan menerapkan penggunaan varietas tahan penyakit, pem-buatan terassering dan penguatnya, pengolahan lahan minimal, dan aplikasi mikroba antagonis. Teknologi ramah lingkungan tersebut telah diterapkan di tingkat petani dan memberikan dampak yang positif terhadap pengembangan komoditas.Technology innovations for tobacco, fibers, and industrial-oil crops are directed to increase production and quality of the products, efficiency, and environmentally-friendly technologies. The efficiency and environ-menttally-friendly technologies are focused on the pre-harvest technology innovations that have minimal im-pacts on environmental damages. The technologies include superior varieties, pest control, and land conser-vation. The superior varieties are those that resistant to either insect pests or diseases, i.e. tobacco: Prancak 95, Prancak N1, Prancak N2, Kemloko 2, and Grompol Jatim 1; cotton: Kanesia 11–Kanesia 13; kenaf: Ka-rangploso 14–Karangploso 15; sesame: Sumberrejo 4; and  castor: Asembagus 81.  Environmentally-friendly pest control is to limit or no use synthetic-chemical pesticides in pest control, but optimally make use the role of natural enemies and antagonists and use biopesticides. Land conservation technique to control erosi-on as well as ”lincat’ disease has been developed in fields of temanggung tobacco by using tobacco variety resistant to the disease, terracering, minimum tillage, and application of antagonist microbes. Those techno-logies has been implemented in the farmers’ fields and has a positive impacts for the commodity develop-ment. 
Pengaruh Komposisi Media dan Sumber Eksplan Terhadap Induksi Kalus, Perkecambahan, dan Pertumbuhan Tunas Embrio Somatik Jarak Pagar Anggraeni, Tantri Dyah Ayu; Sulistyowati, Emy; Purwati, Rully Dyah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman penghasil minyak nabati sebagai bahan baku bio-diesel. Selama ini, kebutuhan bahan tanam diperoleh dari benih dan setek. Teknik mikropropagasi khususnya melalui embriogenesis somatik merupakan alternatif untuk penyediaan bahan tanam dalam jumlah besar dengan waktu relatif lebih singkat. Jenis eksplan, genotipe, dan kondisi fisiologis tanaman donor serta jenis dan kondisi fisik mediummerupakan faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan embriogenesis somatik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui eksplan dan komposisi media yang tepat untuk induksi kalus embriogenesis somatik, perkecambahan embrio somatik dan pertumbuhan tunas hasil embriogenesis somatik. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat mulai bulan April sampai dengan November 2011, meliputi tiga tahap, yaitu 1) menguji komposisi media untuk induksi kalus embriogenesis somatik antara lain M1=MS+0,5 mg/l BAP+0,5 mg 2,4 D; M2= MS+1 mg/l BAP +0,5 mg/l 2,4 D; M3= MS+0,5 mg/l BAP+0,2 mg/l TDZ, dan M4= MS+1 mg/l BAP+0,2 mg/l TDZ; 2) menguji komposisi media untuk induksi perkecambahan embrio somatik antara lain MK1= MS+0,5 mg/l BAP+0,1 mg/l NAA dan MK2= MS+0,5 mg/l BAP+0,4 mg/l IBA; dan 3) menguji komposisi media untuk pertumbuhan tunas embrio somatik antara lain MP1= MS+0,5 mg/l BAP+0,1 mg/l IBA dan MP2= MS+0,5 mg/l BAP+0,1 mg/l IAA. Bahan tanam yang digunakan adalah genotipe IP-3A dan IP-3M dengan sumber eksplan kotiledon dan daun. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi MS+0,5 mg/l BAP+0,2 mg/l TDZ dengan sumber eksplan kotiledon paling sesuai untuk induksi kalus embriogenesis somatik. Genotipe IP-3M memiliki respon yang lebih baik disbanding IP-3A dan stabil dari tahap induksi kalus embriogenis somatik, induksi perkecambahan embrio somatik, dan pertumbuhan tunas embrio somatik. Jatropha (Jatropha curcas L.) is an oil producing plants as source of bio-diesel. Planting materials usually are obtained from seeds and stem-cuttings. Micro-propagation techniques especially through somatic embryo-genesis is an alternative to provide a large number of planting material in a relatively short time. Explant sources, genotype and physicological conditions of donor plants, also composition and physical condition of medium are the main factors affecting the successful of somatic embryogenesis. The study was conducted to determine the most suitable combination of explant and media composition for embryogenic calli induc-tion, somatic embryo germination, and shoots growth derived from somatic embryogenesis. The experiment was conducted in the Tissue Culture Laboratory, of Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Insti-tute from April to November 2011 covering three phases: 1) testing media composition to induce somatic embryogenic calli i.e. M1=MS+0.5 mg/l BAP+0.5 mg 2.4 D; M2 = MS+1 mg/l BAP+0.5 mg/l 2.4 D; M3 = MS+0.5 mg/l BAP+0.2 mg/l TDZ and M4 = MS+1 mg/l BAP+ 0.2 mg/l TDZ; 2) testing media composition to induce somatic embryo germination i.e. MK1 = MS+0.5 mg/l BAP+0.1 mg/l NAA and MK2 = MS+0.5 mg/l BAP+0.4 mg/l IBA; and 3) testing media composition to induce somatic embryo shoot growth i.e. MP1 = MS+0.5 mg/l BAP+0.1 mg/l IBA and MP2= MS+0.5 mg/l BAP+0.1 mg/l IAA. Plant material used are genotype IP-3A and IP-3M with cotyledone and leaf as explant sources. The results showed that combination of MS+0.5 mg/l BAP+0.2 mg/l TDZ and cotyledons as explants source is the most suitable for somatic embryogenic calli. IP-3M genotype showed a better response to IP-3A and stable from induction of somatic embryogenic calli, somatic embryo germination, and somatic embryo shoots growth.
Potensi Galur-Galur Harapan Wijen di Lahan Sawah Sesudah Padi Sudarmo, Hadi; Purwati, Rully Dyah; Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wijen (Sesamum indicum L.) merupakan komoditas yang dapat digunakan sebagai bahan baku aneka indus-tri dan minyak makan. Di Indonesia, wijen dibudidayakan di lahan kering pada musim penghujan dengan pro-duktivitas rata-rata pada tahun 2005 sebesar 420 kg. Peningkatan produksi wijen nasional dapat ditempuh dengan memperluas pengembangan wijen ke lahan sawah sesudah padi. Upaya tersebut perlu didukung dengan perakitan varietas unggul. Dari kombinasi hasil persilangan sudah terpilih 11 galur harapan, selanjutnya untuk mengetahui potensi hasil dan daya adaptasi galur-galur tersebut terhadap lingkungan, dilakukan uji multilokasi di tiga lokasi masing-masing tiga musim tanam. Pengujian menggunakan rancangan acak kelompok diulang tiga kali dengan ukuran petak 6 m x 8 m. Data hasil biji dianalisis ragam gabungan, untuk uji stabilitas mengikuti metode Eberhart dan Russell, dan untuk mengetahui daya adaptasi galur dilakukan ploting data menggunakan metode Finlay dan Wilkinson. Penelitian menghasilkan tiga galur unggul yang berpotensi hasil tinggi yakni 99002/7/3, 99001/9/1, dan 99003/11/10 dengan potensi hasil masing-masing 2.222 kg/ha, 1.933 kg/ha, dan 1.874 kg/ha. Galur 99002/7/3 dan 99001/9/1 beradaptasi umum di semua lingkungan, sedangkan galur 99003/11/10 beradap-tasi khusus pada lingkungan suboptimal. Delapan galur yang lain berpotensi hasil lebih rendah yaitu 99002/7/10 beradaptasi umum di semua lingkungan, sedangkan 99001/15/2, 99001/9/7, 99001/15/4, 99002/7/5, 99001/8/3, 99001/10/9, dan 99003/28/5 tidak mempunyai kemampuan adaptasi terhadap semua lingkungan. Sesame (Sesamum indicum L.) is a potential commodity that has essential as raw material for varying indus-try and edible oil. In Indonesia, sesame is commonly cultivated in dry land during rainy season with the pro-ductivity as much as 420 kg/ha in 2005. Increasing national sesame production can be reached by expand-ing the development area into the paddy fields after rice. To increase productivity, it has to be supported by high yielding varieties. Eleven promising lines had been selected for multilocation trials. This trial aimed to determine yield potential and adaptability of these promising lines on the environment. The multilocation trials were conducted at three locations and each on three seasons. The trials used a randomized block de-sign with three replications plot size was 6 m x 8 m. The yield was observed and analysed using combining analysis, then the stability of each line was further analysed using the method of Eberhart and Russell. To determine the lines adaptability, the data were plotted using the method of Finlay and Wilkinson. Result shows that there are three superior lines i.e. 9002/7/3, 99001/9/1, and 99003/11/10 which have potential produc-tion 2,222 kg/ha, 1,933 kg/ha and 1,874 kg/ha respectively, lines 99002/7/3 and 99001/9/1 common in all environments, whereas line 99003/11/10 was unstable and had a specific adaptability in suboptimal environments. Eight other lines that could potentially yield lower 99002/7/10 common in all environments, while 99001/15/2, 99001/9/7, 99001/15/4, 99002/7/5, 99001/8/3, 99001/10/9, and 99003/28/5 do not have the ability to adapt to all environments.
Hubungan Antara Fenologi Tanaman dengan Hasil dan Mutu Rajangan Kering Tembakau Temanggung Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil dan mutu tembakau temanggung merupakan hasil interaksi antara pengaruh genetik tanaman dan kondisi lingkungan tumbuh. Pada tembakau virginia, fenologi tanaman merupakan salah satu karakter gene-tik tanaman yang mempengaruhi hasil dan mutu, sedangkan pada tembakau temanggung belum banyak di-ketahui. Penelitian yang bertujuan untuk memperoleh informasi fenologi tanaman yang menjadi karakter ge-netik tanaman dan kaitannya dengan hasil dan mutu rajangan kering dilakukan di rumah kaca Balai Peneliti-an Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas), Malang sejak Maret–Agustus 2008. Sembilan kultivar tembakau temanggung disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali. Pengamatan dilakukan pada peubah saat muncul daun, daun berhenti meluas, daun dipanen, muncul bunga, pemangkasan, panen awal, dan panen akhir. Analisis stepwise digunakan untuk mengidentifikasi fenologi tanaman yang mempengaruhi hasil dan mutu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenologi tanaman yang mencakup lama waktu dari mun-cul daun sampai daun berhenti meluas, muncul daun sampai panen, daun berhenti meluas sampai panen, tanam sampai muncul bunga, tanam sampai pemangkasan, tanam sampai panen akhir, muncul bunga sam-pai panen akhir, pemangkasan sampai panen akhir, dan panen awal sampai panen akhir merupakan karak-ter genetik tanaman tembakau temanggung. Karakter fenologi utama yang mempengaruhi hasil rajangan ke-ring berurutan dari yang terbesar adalah lama waktu dari tanam sampai pemangkasan, muncul daun sampai daun berhenti meluas, tanam sampai panen akhir, panen awal sampai panen akhir, dan muncul bunga sam-pai panen akhir dengan total pengaruh sebesar 90,3%. Adapun karakter fenologi utama yang mempenga-ruhi mutu rajangan kering berurutan dari yang terbesar adalah lama waktu dari tanam sampai pemangkas-an, daun berhenti meluas sampai panen, muncul daun sampai daun berhenti meluas, tanam sampai panen akhir, dan panen awal sampai panen akhir dengan total pengaruh sebesar 84,7%. Yield and quality of temanggung tobacco are influenced by plant genetic and growth environmental factors. Plant phenology is one of genetic characters which affects on yield and quality of virginia tobacco. Plant phe-nology of temanggung tobacco is not yet well defined. The research, aimed to find plant phenology as gene-tic characters related to dry sliced yield and quality of temanggung tobacco, was conducted in glass house of Indonesian Tobacco Research and Fibre Crops Institute (IToFCRI) from March to August 2008. Nine cultivars of temanggung tobacco were arranged in randomized block design with three replications. Variables ob-served were leaf initiation, terminal leaf expansion, harvesting period, flowers initiation, and final harvesting. Stepwise analysis used to identify plant phenology which affect on yield and quality. The results showed that the phenology of plants that includes the length of time from leaf initiation to terminal leaf expansion, leaf initiation to harvesting period, terminal leaf expansion to harvesting period, planting to flowers initiation, planting to pruning, planting to final harvesting, flowers initiation to final harvesting, pruning to final har-vesting, and first harvesting to final harvesting were genetic characters of temanggung tobacco. The main phenological characters that affect on dry sliced yield sorted from the largest is the length of time from planting to pruning, leaf initiation to terminal leaf expansion, planting to final harvesting, first harvesting to final harvesting, and flowers initiation to final harvesting with total effect of them was 90.3%. The main phe-nological characters that affect on quality of dry slice sorted from the largest is the length of time from planting to pruning, terminal leaf expansion to harvesting period, leaf initiation to terminal leaf expansion, planting to final harvesting, and first harvesting to final harvesting with total effect of them was 84.7%.
Karakter Agronomi yang Berpengaruh Terhadap Hasil dan Mutu Rajangan Kering Tembakau Temanggung Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil dan mutu tembakau temanggung merupakan hasil interaksi pengaruh genetik tanaman dan kondisi ling-kungan tumbuh. Pada tembakau virginia, peubah-peubah agronomi tanaman merupakan karakter genetik ta-naman yang mempengaruhi hasil dan mutu. Pada tembakau temanggung, hal ini belum diketahui. Penelitian yang bertujuan untuk memperoleh peubah agronomi sebagai karakter genetik tembakau temanggung dan ka-itannya dengan hasil dan mutu rajangan kering dilakukan di rumah kaca Balittas, Malang sejak Maret–Agus-tus 2008. Sembilan kultivar tembakau temanggung disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang ti-ga kali. Pengamatan dilakukan terhadap peubah agronomi yang dimulai pada saat pemangkasan sampai pa-nen akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah agronomi yang meliputi tinggi tanaman, sudut daun, luas daun, jumlah daun, bobot spesifik daun, luas daun per helai, bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar, rasio tajuk/akar, bobot kering batang, bobot kering daun, bobot kering bunga, dan bobot kering tunas samping merupakan karakter genetik tembakau temanggung. Karakter agronomi tersebut mem-pengaruhi hasil dan mutu rajangan kering dengan total pengaruh masing-masing sebesar 92,8% dan 76,7%. Lima karakter agronomi utama yang mempengaruhi hasil rajangan kering adalah luas daun per helai, jumlah daun, bobot spesifik daun, tinggi tanaman, dan bobot kering daun dengan total pengaruh sebesar 89,4%. Adapun lima karakter agronomi utama yang mempengaruhi mutu rajangan kering adalah luas daun, rasio tajuk/akar, bobot kering tanaman, bobot kering bunga, dan tinggi tanaman dengan total pengaruh sebesar 75,7%. The yield and quality of temanggung tobacco are influenced by plant genetic and growth environmental. In virginia tobacco, plant agronomic variables were genetical characteristics determining yield and quality. The effect of agronomical characteristic on yield and quality of temanggung tobacco is not yet well defined. The research which aim to find plant agronomical variables as genetic characters and its relationship on dry slice and quality of temanggung tobacco, was conducted in glass house of IToFCRI, Malang from March–August 2008. Nine cultivars of temanggung tobacco were arranged in randomized block design and three replica-tions. The results showed that agronomic variables i.e. plant height, leaf angle, leaf area, number of leaf, spe-cific leaf weight, leaf area per strand, plant dry weight, shoot dry weight, root dry weight, shoot/root ratio, bast dry weight, leaf dry weight, flower dry weight, and sucker dry weight were genetic characters of temang-gung tobacco, which had effect on yield and quality with total effect of them were 92.8% and 76.7% res-pectively. Leaf area per strand, number of leaf, specific leaf weight, plant height, and leaf dry weight were agronomical characteristics which had significant effect on dry slice yield of 89.4%. Leaf area, shoot/ root ra-tio, plant dry weight, flower dry weight, and plant height were agronomical characteristics which had signi-ficant effect on quality of 75.7%.
Respon Pemberian Paclobutrazol pada Beberapa Varietas Kapas (Gossypium hirsutum L.) di Lahan Sawah Sesudah Padi Santoso, Budi; Kadarwati, Fitriningdyah Tri
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapas (Gossypium hirsutum L.) merupakan penghasil serat alam yang digunakan untuk bahan baku tekstil. Pengembangan kapas diarahkan ke lahan-lahan marginal, walaupun sebagian ada yang ditanam pada sawah sesudah padi. Tingkat produktivitas serat kapas, saat ini masih rendah sekitar 0,8 sampai dengan 1 ton per hektar. Usaha peningkatan produksi kapas antara lain dengan pemberian zat stimulan (paclobutrazol), teruta-ma untuk memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif seperti tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah bu-nga, dan jumlah buah. Kedua komponen tersebut menjadi penentu hasil serat. Paclobutrazol adalah zat stimu-lan bagi tanaman. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sumberrejo, Bojonegoro pada bulan Mei sam-pai dengan Oktober 2010, pada lahan sawah sesudah padi. Perlakuan disusun secara faktorial dengan meng-gunakan rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak empat kali. Sebagai faktor pertama adalah 4 varietas kapas yang terdiri atas 1) Kanesia 8, 2) Kanesia 13, 3) Kanesia 14, dan 4) Kanesia 15. Faktor kedua adalah pemberian paclobutrazol melalui penyemprotan pada tanaman dengan dosis: a) 0; b) 1,50 l/ha diberikan sekali pada umur 60 hari; dan c) 1,50 l/ha diberikan dua kali umur 60 hari dan 75 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapas varietas Kanesia 8 dan 13 yang ditanam di lahan sawah sesudah padi mempunyai pertumbuhan vegetatif dan generatif optimal, kemudian disusul dengan Kanesia 13, Kanesia 14, dan Ka-nesia 15. Paclobutrazol yang disemprotkan pada tanaman kapas, tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan baik vegetatif maupun generatif. Hasil kapas berbiji untuk varietas kapas Kanesia 8 dan Kanesia 13 sama, masing-masing sebesar 1.643 kg/ha dan 1.686 kg/ha. Cotton is a natural fibre crop for some textile raw material. The development of cotton is directed mainly to marginal lands, although few of it is planted in paddy fields after rice harvested. The productivity level of cotton fibre, is still low, about 0.8 to 1 ton per hectare. Effort to increase cotton production is done through the application of growth regulator aiming at enhancing to the growth of plant height, number of branches, number of flower, and boll. These components are fibre determinans. Research conducted at Sumberrejo Ex-perimental Garden, Bojonegoro from May to October 2010, in paddy fields after rice harvested. Factorial treat-ment arranged using randomized block design repeated four times. The first factor consisting of four cotton varieties: 1) Kanesia 8, 2) Kanesia 13, 3) Kanesia 14, and 4) Kanesia 15. The second factor is application of pa-clobutrazol by spraying the plants with usage of: a) 0, b) 1.50 l/ha given once at age 60 days, and c) 1.50 l/ ha given twice at the age of 60 days and 75 days. The research showed that Kanesia 8 and Kanesia 13 varie-ties gave optimum vegetative and generative growth followed with Kanesia 13, Kanesia 14, and Kanesia 15. Paclobutrazol did not contribute significant effect on the growth of both vegetative and generative of cotton. The productivity of seed cotton of Kanesia 8 and Kanesia 13, 1,643 kg/ha and 1,686 kg/ha, respectively.
Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Kapas Ramah Lingkungan Sunarto, Dwi Adi; Murdiyati, Anastasia Siti; Nurindah, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan komponen teknologi pengendalian hama ramah lingkungan dilaksanakan di daerah pengembang-an kapas di Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah di lahan petani seluas ± 5 hektar yang dimiliki oleh 20 petani pada bulan Maret sampai dengan Oktober 2009. Komponen teknologi pengendalian hama ra-mah lingkungan diharapkan menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi masalah serangga hama pada tanam-an kapas dan dapat diterima oleh petani. Pengendalian serangga hama kapas yang diterapkan adalah pengen-dalian serangga hama ramah lingkungan dengan komponen pengendalian yang terdiri atas seed treatment dengan insektisida imidakloprit dan penyemprotan insektisida botani ekstrak biji mimba berdasarkan ambang kendali yang mempertimbangkan keberadaan musuh alami dibandingkan dengan pengendalian serangga ha-ma konvensional (pengendalian hama menggunakan insektisida kimiawi sintetis seperti yang biasa diterap-kan oleh petani). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan komponen teknologi pengendalian hama ra-mah lingkungan yang terdiri atas seed treatment, insektisida botani ekstrak biji mimba, dan ambang kendali dengan mempertimbangkan keberadaan musuh alami, terbukti dapat menekan populasi serangga hama ka-pas selalu di bawah batas ambang kendali dan tidak berbeda dengan pengendalian hama secara konvensio-nal. Pengendalian hama ramah lingkungan lebih aman terhadap musuh alami dengan pendapatan usaha tani kapas Rp621.250,00 lebih tinggi dibanding pengendalian hama secara konvensional. Teknologi pengendalian hama ramah lingkungan dapat diterima oleh petani, kecuali teknologi ambang kendali yang secara konsep da-pat diterima, tetapi petani masih enggan untuk melaksanakannya. Application of environmentally friendly pest control technology is expected to be the best solution to over-come insect pest problem on cotton crops and can be accepted by farmers. The research was conducted in the area of cotton development in Jati District, Blora Regency, Central Java on farmers land area of 5 hectares owned by 20 farmers from March to October 2009. The applied treatments were: application of environmen-tally friendly pest insect control components, ie: seed treatment and botanical neem seed extracts insecticide sprayed based on an action threshold that considers the presence of natural enemies took in to account, compared with conventional pest control (pest control using synthetic chemical insecticides commonly used by the cotton farmers). The results showed that the application of environmentally friendly pest control tech-nology suppressed cotton insect pest population with no negative effect on natural enemies, and retained seed cotton production, increased the income of cotton farming as much as Rp621.250,00. Components of en-vironmentally friendly pest control technology can be accepted by cotton farmers, including the action thres-hold concept. However, the farmers were mind to implement the action threshold as it is too complicated for them.
Evaluasi Ketahanan Aksesi Wijen Terhadap Tungau Daun Polyphagotarsonemus latus (Banks) S.W, Tukimin; Purwati, Rully Dyah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evaluasi ketahanan aksesi wijen terhadap tungau Polyphagotarsonemus latus (Banks) dilakukan di Kebun Percobaan Sumberrejo, Bojonegoro, mulai April sampai Desember 2007.Tujuan penelitian ialah mengetahui tingkat ketahanan aksesi wijen termasuk terhadap keriting daun yang disebabkan oleh P. latus. Perlakuan terdiri atas 25 aksesi wijen disusun dalam rancangan acak kelompok, diulang tiga kali. Pengamatan dilaku-kan mulai 25 hari setelah tanam (hst) dengan interval pengamatan 10 hari sekali sampai 75 hst. Parameter pengamatan meliputi: (1) Skor kerusakan daun (intensitas serangan) pada sepertiga bagian atas tanaman, (2) jumlah telur, larva, nimfa, dan imago P. latus dari daun yang terserang tungau. Pengamatan dilakukan di laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas). Hasil pengujian menun-jukkan bahwa satu aksesi tahan yaitu China Hitam; 17 aksesi termasuk kategori agak tahan: Si 50, Si 51, Si 52, Si 57, Si 58, Si 59, Si 60, Si 61, Si 63, Si 65, Si 66, Si 69, Si 75, Sbr 1, Sbr 2, Sbr 3, dan Sbr 4; dan tujuh aksesi termasuk kategori rentan yaitu Si 45, Si 53, Si 54, Si 55, Si 56, Si 62, dan Si 64. Resistance of sesame germ plasm to mite (Polyphagotarsonemus latus Banks) was evaluated at Sumberrejo Experimental Station, Bojonegoro from April to December 2007. The treatment consisted of 25 accessions which were arranged in randomized block design with three replications. The resistance was observed at 10 days interval from 25 days after planting (dap) to 75 dap. The parameters observed were: (1) Score of leave damage intensity; (2) Microscopic observation on total eggs, larvae, nymph, and adult of mites. The results showed that based on leaves damage intensity at 75 dap, one accession was categorized as resistance (China Black); 17 accessions were moderately resistance (Si 50, Si 51, Si 52, Si 57, Si 58, Si 59, Si 60, Si 61, Si 63, Si 65, Si 66, Si 69, Si 75, Sbr 1, Sbr 2, Sbr 3, and Sbr 4); and 7 accessions were susceptible (Si 45, Si 53, Si 54, Si 55, Si 56, Si 62, and Si 64). Total of egg population, larvae, nymph, and adult of mite was positively correlated to leave damage intensity.

Page 2 of 20 | Total Record : 196