cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Respon Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Terhadap Lima Jenis Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Nurnasari, Elda; Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan tanaman jarak pagar mengalami beberapa kendala, di antaranya produksi biji yang rendah. Hal ini terkait dengan rendahnya jumlah bunga betina yang dihasilkan dalam satu malai. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) terhadap pertumbuhan, pem-bungaan, dan produksi jarak pagar, dilakukan di KP Asembagus pada bulan Januari−Desember 2010. Lima jenis bahan aktif ZPT meliputi paclobutrazol, asam geberelin (GA3), asam naptalin asetik (NAA), mepiquat klorida, dan 2,4-D, serta perlakuan kontrol (tanpa bahan aktif ZPT), diaplikasikan pada tanaman jarak pagar berumur 1 tahun dan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian me-nunjukkan bahwa aplikasi ZPT mempengaruhi jumlah cabang, jumlah bunga jantan, jumlah bunga betina, dan jumlah buah, namun tidak mempengaruhi tinggi tanaman dan lebar kanopi. NAA menghasilkan jumlah buah yang paling banyak (121,4 buah per tanaman) sedangkan GA3 mempercepat pemunculan bunga (8,33 hari setelah aplikasi). Development of physic nut is facing some problems, one of them is low seed production. This is related to the low number of female flowers which are produced in a panicle. The aim of the study is to determine the effect of plant growth regulator (PGR) on growth, flowering, and seed production, it was conducted at Asembagus Experimental Station, Situbondo from January to December 2010. Five kinds of plant growth re-gulator i.e. paclobutrazol, geberelline acid (GA3), naphthalene acetic acid (NAA), mepiquat chloride, and 2,4-D, and control (without PGR) were applied on one-year-old of J. curcas and arranged in a randomized block de-sign with three replications. The results showed that PGR application affects the number of branches, male flower, female flower, and fruit, but not affected plant height and canopy width. NAA gave the highest number of fruit, i.e. 121.4 capsules per plant, and GA3 triggered the earliest flowering, i.e. at 8.33 days after application.
Pengaruh Komposisi Media Terhadap Produksi Konidia Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin Indrayani, I.G.A.A.; Prabowo, Heri
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian pengaruh komposisisi media dan suhu terhadap produksi konidia Beauveria bassiana dilaksanakan di Laboratorium Patologi Serangga Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang mulai Mei sampai dengan November 2009. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan komposisi media terha-dap produksi konidia B. bassiana. Perlakuan yang digunakan adalah: (1) beras, (2) jagung, (3) beras+glu-kosa, (4) beras+yeast, (5) jagung+glukosa, dan (6) jagung+yeast. Setiap perlakuan disusun dalam rancang-an acak lengkap (RAL) dengan enam kali ulangan. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan dan produksi konidia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beras dan jagung berpotensi menjadi media tumbuh yang baik bagi jamur B. bassiana. Proses pembentukan konidia sudah dimulai pada 3 minggu setelah inoku-lasi, lebih cepat dibanding pada media jagung (4,5 minggu). Penambahan yeast lebih nyata meningkatkan produksi konidia B. bassiana pada beras maupun jagung dibanding dengan penambahan glukosa. Rata-rata produksi konidia pada komposisi media beras+yeast dapat mencapai > 4,0 x 109 konidia/g media dan lebih tinggi dibanding produksi konidia pada media lainnya (< 3,0 x 109 konidia/g media). Study on the effects of solid medium composition and temperature on conidia production of B. bassiana was conducted at Insect Pathology Laboratory of Indonesian Tobacco and Fiber Crops Institute (IToFCRI), Malang from May to November 2009. The objective of the study was to find out the effects of different me-dium composition. Treatments used were (1) whole rice, (2) broken maize, (3) whole rice+glucose, (4) whole rice+yeast, (5) broken maize+glucose, and (6) broken maize+yeast. Each treatment was arranged in randomized complete design (RCD) with six replications. Parameters observed were growth rate and conidial production of B. bassiana at room temperature. Results showed that whole rice and broken maize could be used as solid medium for B. bassiana. Conidia production was faster on most of medium based on whole rice than that on broken maize. On whole rice medium conidia of B. bassiana were produced about 10 days earlier than that on broken maize. Yeast and glucose addition into medium was able to speed up the fungi growth and to increase conidia production. Addition of yeast potentialy increased conidia production com-pared with other medium with glucose addition. Average production of conidia on whole rice+yeast was more than 4,0 x 109 conidia/g medium compared with any other medium composition that produced less than 3,0 x 109 conidia/g medium.
Pengolahan Daun Tembakau dan Dampaknya Terhadap Lingkungan Tirtosastro, Samsuri; Murdiyati, A.S.
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tembakau merupakan bahan baku utama industri hasil tembakau seperti rokok keretek, cerutu, tembakau iris, dan lain-lain. Sebelum digunakan, daun tembakau harus melalui proses pengolahan. Pengolahan tembakau pada dasarnya merupakan kegiatan pengeringan, dengan penerapan suhu bertahap atau disebut proses kiu-ring (curing). Dalam proses pengolahan tembakau diperlukan energi, yang selama ini berasal dari panas ma-tahari, udara panas buatan hasil pembakaran kayu, minyak tanah, batu bara, LPG (liquefied petroleum gas), atau limbah pertanian. Penggunaan bahan bakar ini menyebabkan polusi udara, sehingga mencemari ling-kungan dan meracuni pekerja. Tembakau sendiri mengandung bahan berbahaya seperti, debu tembakau, ni-kotin, residu pestisida, TSNA (tobacco spesific nitrosamine), B-a-P (benzo-a-pyrene), dan lain-lain. Petunjuk pengendalian bahan berbahaya dan dampak lingkungan tersebut, selama ini sudah tersedia secara lengkap yang ditetapkan oleh organisasi tembakau dunia Coresta dan diimplementasikan oleh perusahaan-perusaha-an mitra petani. Petani yang sistem produksinya dalam bentuk kemitraan dengan perusahaan-perusahaan tembakau, telah melakukan pengendalian dengan baik. Dampak negatif penggunaan bahan bakar dapat di-tekan dengan sistem pemanasan tidak langsung (flue-curing), sedangkan penggunaan batu bara dilakukan dengan tungku pembakaran gasifikasi. Implementasi selanjutnya, selain diperlukan sistem inspeksi sesuai ketentuan juga perlu didorong terbentuknya kemitraan antara perusahaan tembakau dan petani. Tobacco leaf is the main raw material of tobacco industries such as cigarette, cigar, slices tobacco, etc. Be-fore being used, tobacco leaves have to go through processing. Tobacco processing is basically a drying acti-vity, with the application of temperature or a gradual process called curing. In the processing of tobacco ener-gy needed, which is derived from the hot sun, hot air made by the burning wood, kerosene, coal, LPG (li-quefied petroleum gas), or agricultural waste. The use of these fuels causes air pollution, thus contaminating the environment and poisoning workers. Tobacco itself contain hazardous materials such as tobacco dust, ni-cotine, pesticide residue, TSNA (tobacco specific nitrosamines), B-a-P (benzo-a-pyrene) and others. In-structions on control of hazardous materials and environmental impact, as long as it is available completely de-termined by the organization of the world tobacco Coresta and implemented by partner company of farmers. Farmer production systems in the form of partnership with tobacco companies, has done well control. The ne-gative impact of fuel use could be reduced by an indirect heating system (flue-curing), while the use of coal gasification is done by burning stove. Subsequent implementation, in addition to the required inspection sys-tem according to the provisions, should also be encouraged such as partnerships between tobacco companies and farmers.
Analisis Ekonomi Penggunaan Minyak Biji Kapas (MBK) untuk Bahan Bakar Nabati Basuki, Teger; Hartono, Joko
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara ekonomi efisiensi penggunaan minyak biji kapas sebagai bahan bakar nabati (BBN) untuk kompor Semawar 203. Perlakuan yang diteliti sebanyak lima perlakuan, yaitu (1) 100% minyak biji kapas, (2) 75% minyak biji kapas dicampur 25% kerosin, (3) 50% minyak biji ka-pas dicampur 50% kerosin, (4) 25% minyak biji kapas dicampur 75% kerosin, (5) 100% kerosin. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa dengan menggunakan kompor tekan Semawar tipe 203 dengan bahan bakar campuran antara 50% minyak biji kapas (MBK) dan 50% kerosin menunjukkan efisiensi tertinggi. Dengan biaya sebesar Rp 689,00 mampu untuk mendidihkan 2 liter air dalam waktu 6,20 menit (waktu didihnya pa-ling cepat di antara perlakuan lainnya). Purpose of this study was to analyze the efficiency of cotton seed oil used as a biofuel using Semawar 203 stove. The treatments consist of, i.e.: (1) 100% cotton seed oil, (2) 75% cotton seed oil mixture 25% kero-sene, (3) 50% cotton seed oil mixture 50% kerosene, (4) 25% cotton seed oil mixture 75% kerosene, (5) 100% kerosene. The results showed that by using the stove press Semawar type 203 with a fuel mixture of 50% cotton seed oil and 50% kerosene had the highest efficiency of cost. At a cost of Rp689,00 the mixture was able to boil 2 liters of water in 6.20 minutes (boiling time fastest among other treatments).
Prospek Pengembangan Kapas Organik di Indonesia Yulianti, Titiek
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem pertanian organik pada tanaman pangan mulai diminati masyarakat karena produknya lebih sehat dan pengelolaannya memperhatikan lingkungan, siklus biologi, dan keanekaragaman hayati setempat. Kecende-rungan ini merembet ke tanaman nonpangan, seperti kapas yang menggunakan pestisida dan pupuk sintetis sangat besar. Syarat pengembangan kapas organik cukup ketat karena selain larangan menggunakan bahan kimia sintetis, juga pendokumentasian untuk memperoleh sertifikat organik. Meskipun serat kapas organik harganya lebih tinggi, namun produktivitasnya cenderung rendah. Keuntungan yang paling signifikan dalam pengembangan kapas organik adalah perbaikan lingkungan, mulai dari kesuburan lahan, aktivitas mikroba, dan siklus biologi sampai peningkatan keanekaragaman hayati. Pengembangan kapas di Indonesia masih menghadapi masalah rendahnya produktivitas dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri sehingga pengem-bangan kapas organik belum menjadi prioritas meskipun kelestarian biologi dan lingkungan harus tetap di-perhatikan. Oleh karena itu, sistem pertanian input rendah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan meru-pakan pilihan yang dapat dikembangkan untuk kapas. People are now paying more interest on healthy products from organic agriculture especially for food crops. Organic agriculture system based on ecological concern which enhances biodiversity, biological cycles of the land. This interest is now moving to nonfood crops, such as cotton that need high concentration of pesticide and fertilizer for its production. Developing organic cotton requires strictly standard and condition, such as no synthetic chemical fertilizers and pesticides, or detail documents to get organic sertificate. Although, price of organic cotton fiber is higher, but its production is lower compared to conventional one. However, there are still significant advantages in developing organic cotton, i.e. environmental improvements: from soil ferti-lities, microbial activities, biological cycles to promoting biodiversity. At the moment, the need of cotton fiber is mainly from import, on the other side organic cotton productivity tends to low. Hence, development of or-ganic cotton is not priority, yet biological and environmental sustainability ask for attention. Another alterna-tive choice which more practicable to develop cotton in Indonesia is a sustainable and ecofriendly with low input agricultural system.
Toleransi Beberapa Galur Unggul Kapas pada Tumpang Sari dengan Kacang Hijau Riajaya, Prima Diarini; Kadarwati, Fitriningdyah Tri
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 5, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman kapas dalam program pengembangan selalu ditanam secara tumpang sari dengan palawija. Pera-kitan varietas kapas untuk mendapatkan galur yang mempunyai toleransi tinggi terhadap sistem tumpang sari dengan palawija perlu/penting dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji galur-galur unggul ka-pas yang mempunyai toleransi tinggi terhadap sistem tumpang sari dengan kacang hijau. Pengujian dilakukan di Asembagus mulai bulan Februari sampai Juli 2009. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali. Perlakuan terdiri atas enam galur unggul kapas: 99022/1, 99002/2, 99023/5, 98037, 98045/40/11, 98050/9/2/4 dan dua varietas pembanding: Kanesia 13 dan Kanesia 14. Galur-galur kapas tersebut merupa-kan hasil persilangan yang mempunyai keunggulan dalam produktivitas dan mutu serat, serta ketahanan terha-dap hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur kapas yang toleran terhadap sistem tumpang sari de-ngan kacang hijau adalah galur 98050/9/2/4, dengan hasil kapas berbiji 1.940 kg/ha dan hasil kacang hijau 276 kg/ha, peningkatan hasil kapas berbiji sebesar 10,9% pada sistem tumpang sari dengan kacang hijau dibanding pada sistem monokultur dengan persentase terhadap potensi hasil 92% dan nilai kesetaraan lahan (NKL) ter-tinggi (1,57). Galur 98050/9/2/4 menunjukkan keragaan yang lebih unggul daripada Kanesia 13 dan Kanesia 14. Cotton is mainly grown under intercropping system with secondary food crops. Cotton breeding program to get high tolerance under multiple cropping with secondary crop should be conducted. Research of cotton in-tercropped with mungbean was done in Asembagus Experimental Station from February to July 2009. The field trial was lay out in a randomized block design with three replications. Monoculture of cotton and mung-bean were sown to calculate land equivalent ratio (LER). The treatments were 6 cotton lines (99022/1, 99002/2, 99023/5, 98037, 98045/40/11, 98050/9/2/4) and 2 cotton varieties (Kanesia 13 and Kanesia 14) as control varieties. The cotton lines tested were yields of cross breeding that had advantages in improving yield, lint quality, and resistance to pest. Results showed that cotton lines 6 (98050/9/2/4) was tolerant to intercropping system with mungbean yielded seed cotton and mungbean 1,940 kg/ha and 276 kg/ha, increased by 10.9% than solecrop with percentage to yield potential 92% and the highest LER (1.57). Cotton line 98050/9/2/4 had higher yield performance under intercropping than Kanesia 13 and Kanesia 14.
Pengaruh Infeksi Cucumber Mosaic Virus (CMV) Terhadap Morfologi, Anatomi, dan Kadar Klorofil Daun Tembakau Cerutu Hamida, Ruly; Suhara, Cece
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 5, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit virus pada tembakau cerutu menyebabkan kerugian yang cukup besar, yaitu dapat mengurangi produksi sekitar 7–30%. Secara morfologi, daun tembakau yang terserang virus pada umumnya menunjuk-kan gejala mosaik, berkerut atau menggulung, ukurannya menjadi lebih kecil, rapuh, elastisitas dan daya bakarnya menurun. Informasi tentang Cucumber Mosaic Virus (CMV) dalam bidang anatomi dan fisiologi ma-sih sangat sedikit, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menambah informasi tentang pengaruh infeksi CMV terhadap karakter morfologi, anatomi dan fisiologi daun tembakau cerutu. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-November 2011, di Kebun Percobaan Karangploso dan Laboratorium Fitopatologi Balittas, Ma-lang, menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Inokulum CMV diambil dari tanaman sakit di lapang dan diperbanyak pada tanaman indikator. Inokulasi dilakukan pada tanaman tembakau cerutu varietas H-382 menggunakan sprayer duco type Sagola pada tekanan kompresor 4,5 kg/cm2. Pengamatan dilakukan pada 3 bulan setelah tanam terhadap parameter morfologi, anatomi tanaman dan kadar klorofil daun tembakau pada skor 0–5. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara tanaman yang sehat dengan tanaman yang diinfeksi CMV. Makin tinggi tingkat infeksinya, makin besar penurunan luas daun dan kadar klorofil total tanaman tembakau. Penurunan rasio klorofil a/b daun lebih tinggi pada skor 4 dibandingkan skor 5, yaitu sebesar 74%, tetapi kerusakan morfologi paling parah terjadi pada skor 5, dimana terjadi perubahan bentuk dan secara anatomi terdapat bentukan kranz (spot-spot hitam) pada berkas pembuluh. Virus disease on cigar tobacco causes significant losses on yield, due to reduction on productivity 7–30%. Morphologicaly, tobacco leaf infected by virus generally shows symptoms of mosaic, wrinkled or curled, its size becomes smaller, fragile, elasticity, and burn down. Information about cucumber mosaic virus (CMV) in anatomy and physiology was still slightly, so objective of this study was to determine the effect of cucumber mosaic virus (CMV) infection to the character of the morphology, anatomy, and physiology of cigar tobacco leaves. The experiment was conducted in August–November 2011, at the Karangploso Experimental Station and Phytopathology Laboratory of ISFCRI, Malang, using a randomized block design with three replications. CMV was inoculated from diseased plants in the field and propagated on indicator plants. Inoculation was done on cigar tobacco H-382 varieties employing Sagola duco sprayer at a pressure of 4.5 kg/cm2 compressor. Observations were made at 3 months after planting for identifiying morphological and physiological parameters and leaf chlorophyl content of tobacco using score under 0–5. The results showed that there were significant differences between healthy plants and plants infected with CMV. The reduction in leaf area and total chlorophyl content of tobacco plants were greater as the rate of infection was higher.Decreasing in the ratio of chlorophyl a/b leaves was higher on plant with the score index of 4 than the score of 5 by 74%, but the most severe morphological damage occurs in plant with score of 5, indicating by change of shape and kranz formations (black spots) on the vascular bundle.
Uji Daya Hasil Beberapa Aksesi Jarak Pagar Berpotensi Produksi dan Berkadar Minyak Tinggi pada Lahan Kering di Asembagus Sudarmo, Hadi; Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 5, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan tanaman jarak pagar banyak diarahkan ke lahan kering iklim kering di wilayah Timur Indo-nesia, sehingga masalah utama yang dihadapi adalah kekurangan air. Oleh karena itu, perlu dicari bahan tanaman yang sesuai untuk lahan kering dengan produktivitas tinggi. Salah satu cara untuk memperoleh ba-han tanaman tersebut ditempuh melalui seleksi genotipe. Hasil evaluasi produksi terhadap 421 aksesi plasma nutfah di Asembagus sampai umur satu tahun telah diperoleh 26 aksesi potensial yang berproduktivitas tinggi. Untuk menindaklanjuti hasil tersebut dilaksanakan penelitian uji daya hasil terhadap 26 aksesi potensial jarak pagar dengan kontrol IP-3A, bertujuan untuk mendapatkan beberapa aksesi yang berpotensi produksi dan berkadar minyak tinggi. Penelitian dilaksanakan di KP Asembagus mulai Desember 2009 hingga Novem-ber 2010. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok diulang tiga kali. Parameter yang diamati me-liputi tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah tandan, jumlah kapsul/tanaman, hasil biji kering, berat 100 biji, dan kadar minyak, serta data curah hujan selama penelitian berlangsung. Analisis data menggunakan ana-lisis ragam dengan pembandingan Tukey taraf 5%. Hasil penelitian terpilih tiga aksesi jarak pagar yang da-lam kondisi tanpa pengairan di musim kemarau memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan IP-3A dan berkadar minyak lebih dari 35%. Tiga aksesi tersebut yaitu SM-100/NTB, HS-48/NTT, dan SP-88/ Sulsel, masing-masing sampai dengan umur 12 bulan menghasilkan biji kering sebesar 827,8 kg; 824,2 kg; dan 818,0 kg/ha dengan kadar minyak 39,5%; 41,2%; dan 39,3%. Development of physic nut (Jatropha curcas L.) is directed to dry climate in Eastern Indonesia, so the main problem encountered is the lack of water. Therefore, it is necessary to find a suitable plant material to dry land with high productivity. One way to obtain plant material was taken through genotype selection. Evalua-tion of the production of 421 germplasm accessions in Asembagus until the age of one year, has gained 26 accession of high potential productivity. To follow up on this results, another research was conducted on 26 accessions of physic nut potential to control IP-3A, aiming to get some potential accession production and high oil yield. Research conducted at Asembagus Experimental Station from December 2009 until November 2010. Treatment arranged in a randomized block design, repeated three times. Parameters observed were plant height, number of branches, number of bunches, number of capsules per plant, weight of 100 dried seed, and oil content, as well as rainfall data during the study. Analysis of data using various analysis with Tukeys comparison level of 5%. The results showed that selected three accessions (SM-100/NTB, HS-48/NTT, and SP-88/Sulsel) in the absence of irrigation in the dry season up to the age of 12 months had higher productivity than the IP-3A and oil yield over 35%, viz. yield of dry beans 827.8 kg, 824.2 kg, and 818.0 kg per hectare with oil content of 39.5%, 41.2%, and 39.3%, respectively.
Pengaruh Pupuk Organik dan Anorganik Terhadap Produksi dan Kandungan Minyak Wijen Serta Kelayakan Usaha Tani di Lahan Pasir Pantai Nurhayati, Dewi Ratna; Sarwono, Aris Eddy; Hariyono, Budi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 5, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wijen (Sesamum indicum L.) adalah komoditas perkebunan rakyat potensial sebagai sumber minyak pangan yang banyak dibutuhkan, dan mempunyai potensi agroindustri cerah untuk bahan pangan dan bahan dasar produk farmasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan terhadap produksi dan kandungan minyak wijen serta kelayakan usaha tani di lahan pasir pantai. Penelitian dilaksanakan di Purworejo, Jawa Tengah, bulan Juni hingga Desember 2011. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah pemupukan, yakni kontrol, pupuk kandang sapi 10 ton/ha, NPK rekomendasi (100:100:50), pupuk kandang sapi 7,5 ton/ha + 25% NPK, pupuk kandang sapi 5 ton/ha + 50% NPK, dan pupuk kandang sapi 2,5 ton/ha + 75% NPK. Faktor kedua adalah varietas, yakni Sumberrejo-1, Sumberrejo-2, dan Lokal hitam. Variabel yang diamati meliputi: tinggi tanaman, umur berbunga, umur panen, berat biji per tanaman, berat 1.000 biji, dan kadar minyak. Parameter kelayakan usaha meliputi internal rate of return (IRR), benefit and cost ratio (B/C ratio), dan payback period (PP). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh interaksi perlakuan pemupukan dan varietas. Umur berbunga tercepat 45 hari pada perlakuan kontrol. Umur panen hampir sama, yakni 105 hari. Kadar minyak total tertinggi 51,73% pada perlakuan pemupukan organik (pupuk kandang sapi) 10 ton/ha. Varietas unggul wijen Sumberrejo-1 dan Sumberrejo-2 memberikan produksi dan kadar minyak yang lebih tinggi dibandingkan varietas lokal. Budi daya wijen di lahan pasir pantai dengan menerapkan pemupukan organik memberikan kelayakan eko-nomi yang prospektif dan efisien, khususnya pada perlakuan pupuk kandang sapi 10 ton/ha dengan varietas Sumberrejo-2, dengan B/C Ratio 1,91, IRR 48%, dan PP 0,5. Sesame (Sesamum indicum L.) is a potential commodities as source of food oil, and has a high potential for agro-food industry and pharmaceutical products. This study was aimed to evaluate the effect of fertilizer on the production and seed oil content of sesame and the feasibility of cultivation in the sandy coastal land. This study conducted in Purworejo, Central Java, from June to December 2011. The experiment was arranged in factorial randomized block design with two factors, repeated three times. The first factor is fertilization: control, cow manure 10 ton/ha, NPK 100:100:50, cow manure 7.5 ton/ha + 25% NPK, cow manure 5 ton/ha + 50% NPK, and cow manure 2.5 ton/ha + 75% NPK. The second factor is the variety: Sumberrejo-1, Sumberrejo-2, and local black sesame. Variables observed were: plant height, days to flowering, day of harvest, seed weight, weight of 1,000 seeds, and seed oil content, as well as economic indicators (B/C ratio, IRR, and payback period). The result of study showed that no interaction effect between fertilization and variety. The fastest flowering (45 days) was on the control treatment. The age of harvest was almost the same, 105 days. Highest total seed oil content, 51.73%, obtained in the treatment of organic fertilizer 10 ton/ha. Sumberrejo-1 and Sumberrejo-2 provide production and seed oil content higher than those local varieties. Sesame cultivation in sandy coastal land provides prospective economic feasibiility and efficience, especially by applying organic fertilizer on Sumberrejo-2, with the achievements of B/C Ratio 1.91; IRR of 48%, and payback period of 0.5.
Pemanfaatan Endofit Sebagai Agensia Pengendali Hayati Hama dan Penyakit Tanaman Yulianti, Titiek
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 5, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Endofit merupakan mikroorganisme (bakteri, jamur, atau aktinomisetes) yang hidup dan berkoloni di dalam jaringan inang tanpa menimbulkan efek negatif, bahkan banyak memberi keuntungan terhadap inangnya. Salah satu keuntungannya adalah sebagai agensia pengendali hayati baik untuk serangga hama maupun pa-togen penyebab penyakit tanaman. Sebagai agensia hayati, endofit dapat mengurangi kerusakan tanaman oleh serangga, nematoda, atau patogen penyebab penyakit melalui induksi ketahanan tanaman. Selain itu endofit juga dapat berfungsi sebagai agensia hayati melalui interaksi antagonis dan kompetisi. Dalam artikel ini akan dibahas kemampuan endofit sebagai agensia hayati serangga hama dan patogen; mekanisme yang berlang-sung; serta aplikasi endofit dalam dunia pertanian, khususnya tanaman perkebunan. Endophytes are recognized as microorganisms (bacteria, fungi, or actinomycetes), living and colonizing within host tissues without causing any harm, but giving many benefits to their host. One of the advantages is their role as biocontrol agents for insect pest or plant pathogen. As biocontol agents, endophytes could re-duce plant damage by insects, nematodes, and pathogens through induction for plant resistant mechanisms. Endophytes can also act as biocontrol agents through antagonistic and competition interactions. This article reviews the ability of endophytes as biocontrol agents for insect pest and plant pathogen, the mechanism, and application of endophytes in agriculture, particularly in estate crops.

Page 4 of 20 | Total Record : 196