cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Peningkatan Mutu Fisiologis Benih Kenaf (Hibiscus cannabinus L) dengan Penerapan Teknologi Seed Priming Taufiq Hidayat RS; Marjani Marjani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n2.2020.67-77

Abstract

Benih kenaf memiliki karakter kulit keras sehingga benih mengalami dormansi fisik yang mempengaruhi perkecambahan dan mutu benih. Salah satu teknik untuk meningkatkan mutu benih kenaf dapat dilakukan melalui perlakuan seed priming (perendaman benih). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh teknologi seed priming terhadap peningkatan mutu fisiologis benih kenaf. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Benih Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada bulan Januari – Maret 2020. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor Pertama yaitu perlakuan seed priming yang terdiri atas 8 taraf yaitu aquades; KNO3 0,1%; KNO3 0,2%; KNO3 0,3%; GA3 50 ppm; GA3 100 ppm; GA3 150 ppm dan GA3 200 ppm. Faktor kedua adalah lama perendaman benih yang terdiri atas 3 taraf yaitu 3 jam, 6 jam dan 9 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan seed priming dengan lama perendaman benih untuk parameter persentase daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, bobot kering kecambah normal, indeks vigor, kecepatan tumbuh dan keserempakan tumbuh. Perendaman benih dengan GA3 50 ppm selama 3 jam menunjukkan hasil terbaik untuk parameter persentase daya bercambah (99%), potensi tumbuh maksimum (100%), bobot kering kecambah normal (0,63 g), indeks vigor (86,5%), kecepatan tumbuh (45%KN/etmal) dan keserempakan tumbuh (98%) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Perlakuan seed priming dengan GA3 50 ppm selama 3 jam dapat meningkatkan mutu fisiologis benih kenaf. The Increasing Seed Physiological Quality of Kenaf (Hibiscus cannabinus L) by Seed Priming Technology ApplicationThe Increasing Seed Physiological Quality of Kenaf (Hibiscus cannabinus L) by Seed Priming Technology Application ABSTRACT The Kenaf seeds have a hard skin character so the seeds have a physical dormancy that affects the germination and quality of the seed. One technique for improving the quality of kenaf seeds can be done through seed priming treatment. The purpose of this study was to evaluate the effect of seed priming on increasing of the physiological quality of kenaf seeds. The research was conducted in the seed laboratory of The Indonesian Sweeteners and Fiber Crops Research Institute during January to March 2020. The research method used factorial in completely randomized design. The first factor was the seed priming treatment consisted of 8 treatments, namely aquades; KNO3 0.1%; KNO3 0.2%; KNO3 0.3%; GA3 50 ppm; GA3 100 ppm; GA3 150 ppm and GA3 200 ppm. The second factor was the time of seed priming consisted of 3 treatments, namely 3 hours; 6 hours and 9 hours. The results showed that the interaction between seed priming treatment with seed soaking time for the parameters of the percentage of germination, maximum growth potential, dry weight of normal seedling, vigor index, growth simultaneous and growth speed. The treatment of GA3 50 ppm for 3 hours showed the best result for the percentage of germination (99%), maximum growth potential (100%), dry weight of normal seedling (0.63 g), vigor index (86.5%), growth speed (45 %KN/etmal) and growth simultaneous compared to other treatments (98%) compare to other treatments. Seed priming treatment with GA3 50 ppm for 3 hours can increase the seed physiological quality of kenaf.
Analisis Tanggapan Petani Terhadap Introduksi Varietas Unggul Baru Tembakau Madura Lia Verona; Nunik Eka Diana; Djajadi Djajadi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol.13 No. 1 (2021) April 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v13n1.2021.%p

Abstract

Tembakau Madura tergolong tembakau semi aromatis yang dibutuhkan oleh industri rokok keretek. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku rokok keretek yang produknya terus berkembang, maka telah dirilis empat varietas baru tembakau Madura, yaitu: Varietas Prancak T1 Agribun, Prancak T2 Agribun, Prancak S1 Agribun, dan Prancak S2 Agribun. Varietas-varietas unggul baru tersebut perlu didesiminasikan ke petani melalui kegiatan akselarasi tranfer teknologi pada tahun 2018.  Tujuannya adalah untuk mengetahui respon petani terhadap empat varietas unggul baru tersebut. Kegiatan dilakukan di Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep dengan melibatkan 26 petani responden. Masing-masing ke empat varietas baru tersebut di tanam seluas satu hektar di lahan petani yang berlokasi di Desa Lebbek dan Desa Klompang Barat Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan dan di Desa Bakeong dan Desa Por Dapor Kecamatan Guluk Guluk Kabupaten Sumenep. Sebagai pembandingnya adalah Varietas Prancak 95. Parameter yang diamati adalah biaya produksi, hasil panen, dan hasil jual tembakau. Selain itu dilakukan survei respon petani dengan metode wawancara berdasarkan kuisioner terstruktur. Petani responden yang disurvei sebanyak 26 orang, 11 orang di Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan dan 15 orang di Kecamatan Guluk Guluk Kabupaten Sumenep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas varietas Prancak S1 Agribun sebesar 724,60 kg/ha lebih tinggi daripada produktivitas varietas pembanding Prancak 95 yang mencapai 594 kg/ha. Petani berminat untuk mengembangkan varietas unggul baru tersebut karena mempunyai harga jual tertinggi (Rp 56.000/kg rajangan kering). Harga ini lebih tinggi dibandingkan dengan harga Prancak 95 (Rp 50.000/kg rajangan kering). Harga jual mutu tembakau varietas unggul baru lebih mahal karena penilaian grader tembakau varietas unggul baru mempunyai warna, aroma, dan pegangan tembakau rajangan kering yang lebih baik daripada varietas Prancak 95.
Tanggapan Galur-galur Harapan Tembakau Cerutu Besuki Na Oogst Terhadap Pemupukan Nitrogen dan Pengaruhnya Terhadap Mutu Daun Supriyadi Supriyadi; Sesanti Basuki; Nunik Eka Diana
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 13, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v13n2.2021.%p

Abstract

Tembakau besuki NO (besNO) adalah tembakau cerutu yang dibudidayakan di Jember, dan merupakan komoditas ekspor. Selama lebih dari 50 tahun galur tembakau besNO yang dibudidayakan untuk tujuan komersial adalah H 382. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi tanggap galur harapan tembakau cerutu besNO terhadap pemupukan nitrogen dan mutu yang dihasilkan.  Penelitian dilaksanakan di lahan tegal, jenis tanah Alluvial berdebu, di Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember pada bulan Januari-Desember 2019.  Penelitian ini didesain menggunakan rancangan petak terbagi yang diulang 4 kali.  Petak utama adalah 4 galur harapan tembakau cerutu besNO yaitu galur T2, T4, T6, T9, dan sebagai pembanding adalah varietas H 382; anak petak terdiri atas 3 perlakuan dosis pupuk Nitrogen yaitu: 1) 100 kg N/ha, 2) 140 kg N/ha (dosis rekomendasi), 3) 180 kg N/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur-galur harapan tembakau cerutu besNO pada umumnya memiliki penampilan tanaman yang lebih tinggi, jumlah daun yang lebih banyak, serta indeks mutu yang lebih tinggi dari varietas pembanding, walaupun produksi daun kaki dan tengah tidak berbeda dari varietas H 382.  Peningkatan dosis pupuk Nitrogen lebih dari 100 kg/ha tidak berpengaruh terhadap peningkatan ukuran dan jumlah daun, juga terhadap produksi daun kaki dan tengah, dan terhadap indek mutu dan indek tanaman.  Nilai jual daun dari galur-galur harapan tembakau cerutu besNO (kecuali galur T2) lebih tinggi 7,6 – 22,5 % dibandingkan dengan varietas H 382, sehingga diperoleh peningkatan penerimaan sebesar Rp11.516.535,00 hingga Rp41.210.685,00. Kata kunci: tembakau cerutu besuki NO, pupuk N, galur harapan, nilai jual  Response of Besuki Na Oogst's Promising Lines to Nitrogen Fertilization and Its Effect on the Leaf Quality ABSTRACT             Besuki Na Oogst tobacco (besNO) as an export commodity is a cigar tobacco cultivated in Jember. For more than 50 years, H382 is the besNO cultivated line for commercial use. The promising lines are ready for release as new superior varieties, need a technology to support for their development. One of the technologies needed is fertilization technology. The purpose of this study was to evaluate the responsiveness of the besNO tobacco promising lines to nitrogen fertilization and the leaves’ quality. The research was conducted in Wuluhan District, Jember Regency in January-December 2019. This research was designed using a divided plot design with 4 replicates. The main plots were 4 promising lines of besNO tobacco, namely: T2 line, T4 line, T6 line, T9 line, and H 382 cultivated line as a control; subplots consisted of 3 doses of nitrogen fertilizer, namely: 1) 100 kg N/ha, 2) 140 kg N/ha (recommended dose), and 3) 180 kg N/ha. The results demonstrated that the increasing the dose of nitrogen fertilizer more than 100 kg/ha does not  affect on the increasing in leaf size and number, the production of KAK and TNG leaves, and also on the quality and crop indexes. The selling value of the leaves from the besNO tobacco promising lines (except the T2 line) was 7.6 - 22.5% higher than that of the variety H 382, so that higher profits were obtained ranging from IDR 11,516,535.00 to IDR 41,210,685.00. besuki NO cigar tobacco, nitrogen fertilizer, promising lines, selling value
Peta Sebaran pH Tanah, Bahan Organik Tanah, Dan Kapasitas Pertukaran Kation Sebagai Dasar Rekomendasi Aplikasi Bahan Organik Dan Dolomit Pada Lahan Tebu Basuki Basuki; Sugeng Winarso
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 13, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v13n2.2021.76-92

Abstract

ABSTRAK Program revitalisasi perkebunan tebu meliputi bagian pabrik dan lahan. Revitalisasi di lahan salah satunya adalah perbaikan kualitas tanah melalui perbaikan pH tanah dan bahan organik tanah. Tujuan penelitian yaitu menganalisis sebaran pH tanah, bahan organik, kapasitas tukar kation sebagai dasar rekomendasi pemberian bahan organik, dan dolomit di lahan tebu. Kegiatan penelitian dilakukan di Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember pada bulan Agustus sampai Desember 2020, dengan tiga tahap kegiatan.  Tahap pertama adalah menentukan titik pengambilan sampel dengan melakukan analisis overlay peta iklim, peta tanah, dan peta topografi. Selanjutnya dilakukan pengambilan sampel pada titik-titik yang telah ditentukan, dan analisis pH tanah dengan metode gravimetri, C-Organik tanah dengan metode walkey and Black, kapasitas pertukaran kation (KPK) tanah dengan metode ekstrak ammonium asetat pH 7. Hasil analisis digunakan untuk menetapkan rekomendasi penambahan bahan organik dan dolomit pada lahan tebu.  Rekomendasi penambahan bahan organik dengan dosis < 1 ton/ ha seluas 3227,61 ha; dosis 1,0-2,17 ton/ha seluas 1246,81 ha; dan dosis > 2,17 ton/ha seluas 280,86 ha.  Rekomendasi kebutuhan pupuk untuk dolomit dengan dosis < 1 ton/ha seluas 3134,89 ha; dosis 1,0-1,5 ton/ha seluas 1458,38 ha; sdosis > 1,5 ton/ha seluas 162,01 ha.ABSTRACT Map of Soil pH Distribution, Soil Organic Matter, and Cation Exchange Capacity as the Basic Recommendations for Application of Organic Materials and Dolomite in Sugarcane Lands The sugarcane plantation revitalization program includes part of the factory and land. One of the ways to revitalize land is to improve soil quality through improving soil pH and soil organik matter. The research objective was to analyze the distribution of soil pH, organik matter, cation exchange capacity as the basis for recommendations for providing organik matter, and dolomite in sugarcane fields. This research activity was carried out in Semboro District, Jember Regency from August to December 2020, with three stages of activity. The first stage is to determine the sampling point by analyzing the climate map overlay, soil map, and topographic map. Furthermore, sampling was carried out at predetermined points, and analysis of soil pH using the gravimetric method, soil C-organik using the Walkey and Black method, soil cation exchange capacity (KPK) using the ammonium acetate extract pH 7 recommendations for the addition of organik matter and dolomite to sugarcane fields. Recommendations for adding organik matter at a dose <1 ton / ha covering an area of 3227.61 ha; doses of 1.0-2.17 tonnes / ha covering an area of 1246.81 ha; and dosages> 2.17 tonnes / ha covering an area of 280.86 ha. Recommended fertilizer requirements for dolomite with a dose of <1 ton / ha covering an area of 3134.89 ha; doses of 1.0-1.5 tonnes / ha covering 1458.38 ha; dosage> 1.5 tons / ha covering an area of 162.01 ha.
Multifungsi Biochar dalam Budi Daya Tebu Budi Hariyono
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 13, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v13n2.2021.%p

Abstract

Biochar (biomassa charcoal) adalah bahan padat kaya karbon (C), berasal dari biomassa yang dipanaskan dengan suhu <700oC dalam kondisi tanpa atau sedikit oksigen, bertujuan menyimpan karbon dalam tanah dan memperbaiki kualitas tanah. Biomassa dikonversi menjadi biochar dengan pirolisis atau dengan pengarangan sederhana. Biochar memiliki sifat fisika-kimia yang dapat berfungsi memperbaiki kualitas tanah. Sifat fisik biochar yang penting adalah luas permukaan yang besar dan adanya pori mikro, yang membuatnya memiliki kemampuan menyerap sangat tinggi. Sifat kimia biochar yang penting adalah permukaannya yang memiliki gugus fungsional yang dapat bersifat hidrofilik dan hidrofobik, asam dan basa, sehingga dapat bereaksi dengan larutan di sekitarnya.  Kualitas tanah sebagai media tumbuh tanaman tebu ditentukan oleh kandungan bahan organik (C-organik). Umumnya kadar C-organik lahan pengembangan tebu rendah – sangat rendah. Upaya perbaikan status C-organik (kualitas tanah) dengan biochar lebih efisien dibanding aplikasi bahan organik lainnya, karena tahan terhadap degradasi sehingga karbon lebih stabil di dalam tanah. Aplikasi biochar menyebabkan perubahan sifat fisika tanah, yakni: struktur, porositas, distribusi ukuran pori tanah, agregasi, sehingga dapat memperbaiki aerasi tanah, kapasitas menyimpan air. Aplikasi biochar memperbaiki sifat kimia tanah: meningkatkan kapasitas tukar kation, memegang hara, mengurangi pencucian hara, bioremediasi kontaminan logam berat dan pestisida serta mendukung aktivitas mikrobia di rizosfir. Perbaikan sifat fisika dan kimia tanah akibat aplikasi biochar sangat mendukung budidaya tebu. Limbah biomassa tebu sebaiknya tidak dibakar terbuka, melainkan dikonversi menjadi biochar untuk dikembalikan ke dalam tanah, dengan demikian kualitas (karbon) tanah dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.Biochar Multifunction in Sugarcane Cultivation ABSTRACTBiochar is a solid carbon (C)-rich material, derived from a heated biomass with a <700oC temperature without or slightly oxygen condition, aimed carbon sequestration and improving the soil quality. Biomass is converted to biochar with pyrolysis. The physical properties of the biochar are large surface areas and the presence of micro pores makes them very high absorbing capability. Biochar chemical properties in the form of a functional group on its surface make it can be hydrophilic-hydrophobic, acid-base, so as to react with the surrounding solution.  Soil quality is determined by the content of organic matter (organic-C). Generally organic-C level of sugarcane land is low to very low. The application of biochar is more efficient than other organic material in the improvement of organic-C status, because biochar is resistant to degradation so that carbon is more stable in soil. The application of biochar changed the soil physical properties (structure, porosity, distribution of soil pore size, aggregation), so that it can improve soil aeration and water holding capacity. The application of biochar improved soil chemical properties: increased cation exchange capacity, hold nutrients, reduce nutrient leaching, bioremediation of heavy metal and pesticide contaminants and support microbial activity in Rhizosphere. The improvement of soil physical and chemical properties due to biochar application strongly supports sugarcane cultivation. The waste of sugarcane biomass should not be burned, it should be converted into biochar and returned to soil, so that the soil quality can be maintained even improved.
Klon Unggul Lokal Abaka Di Kabupaten Kepulauan Talaud Mala Murianingrum; Untung Setyo-Budi; Marjani Marjani; Rully Dyah Purwati; Martje Evelin Rumouw; Spener S.M. Ipu; Yanes Kristina Wando
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 13, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v13n2.2021.%p

Abstract

ABSTRAKAbaka (Musa textilis Nee.) adalah tanaman sejenis pisang yang menghasilkan serat bernilai ekonomis tinggi. Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan wilayah pengembangan abaka di Indonesia dengan sumber daya genetik abaka yang luas, sehingga perlu dilakukan observasi dengan tujuan untuk mengevaluasi potensi hasil dan mutu serat genotipe abaka yang potensial dikembangkan sebagai varietas unggul lokal. Observasi dilakukan di lahan petani, meliputi tiga Kecamatan: Esang, Beo Utara dan Rainis yang terletak di Pulau Karakelang, Kabupaten Kepulauan Talaud pada 2017 – 2019. Pengambilan contoh tanaman dilakukan pada populasi pertanaman di tiga wilayah dengan kondisi agroklimat berbeda. Untuk masing-masing klon pada setiap wilayah diamati 10 rumpun tanaman.  Pengamatan dilakukan saat panen, mulai panen pertama hingga keempat selama dua tahun yaitu pada karakter panjang batang, lingkar batang, bobot segar batang, bobot serat kering, rendemen dan mutu serat. Hasil observasi diperoleh empat klon unggul abaka yang memiliki potensi pertumbuhan dan produksi serat tinggi. Keempat klon tersebut adalah Rote EH, Rote EMT, Rote EM dan Rote BHJ, masing-masing dengan produktivitas dan kekuatan serat secara berurutan (6,24 ton/ha/tahun dan 32,69 g/tex), (5,91 ton/ha/tahun dan 28,25 g/tex), (5,66 ton/ha/tahun dan 38,96 g/tex), dan (4,37 ton/ha/tahun dan 24,18 g/tex). Klon-klon tersebut berpotensi sebagai varietas unggul abaka dan menjadi asset daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan abaka.  ABSTRACTSuperior Abaka Local Clones in Talaud Islands Regency  Abaka (Musa textilis Nee.) produces high economic value of natural fiber. Talaud island District is one region in Indonesia that has developed abaca.  This region also has enormous abaca genetic resources. Therefore, it is required to evaluate the yield potential and fiber quality of the abaca genotypes that has the potential to be developed as a superior variety in supporting abaca development .Observations were carried out on farmers' plantation in three sub-districts: Esang, Beo Utara and Rainis on Karakelang Island, Talaud Islands, in 2017 – 2019. Samplings of observational plants were carried out on abaca populations in three different agro-climatic areas. In each region, 10 clumps of the same morphological characters of abaca plant were observed. Observations were made at harvest time, four times during two years. Observations consisted of: stem length, stem circumference, stem fresh weight, dry fiber weight, and fiber quality. Out of 25 clones observed, four superior abaka clones had very high growth potential and fiber production, namely Rote EMT, Rote EH, Rote EM and Rote BHJ. The potential fibre production and quality for each clone are Rote EH 6.24 tons/ha/yr, Rote EMT 5.91 tons/ha/yr, Rote EM 5.66 tons/ha/yr and Rote BHJ 4.37 tons/ha/yr. These clones have the potential to become superior varieties of abaca and become regional assets in improving community welfare through the development of abaca plantation.