cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Analisis Serapan Hara pada Tembakau Burley Murdiyati, A.S.
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola serapan hara dan tingkat efisiensi dosis pemupukan N pada tembakau burley. Penelitian ini terdiri atas dua unit percobaan, yaitu: (1) Percobaan di rumah kaca, meng-gunakan varietas Ky 17 ditanam pada 100 pot dengan dosis pemupukan standar. Pengamatan secara perio-dik meliputi kadar N, P, K, Mg, dan berat kering daun, batang, akar, dan total; (2) Percobaan lapangan dila-kukan di Lumajang pada tipe tanah Entisol, dengan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Perla-kuan adalah dosis pemupukan N, yaitu 0, 75, 150, 225, dan 300 kg N/ha. Pengamatan meliputi: akumulasi bahan kering, serapan N, P, K, dan Mg total; hasil kerosok, indeks mutu, dan indeks tanaman. Hasil peneliti-an menunjukkan bahwa tembakau burley mulai memasuki pertumbuhan cepat pada 5 minggu setelah ta-nam, sejalan dengan peningkatan akumulasi bahan kering, N, P, K, dan Mg. Semakin tinggi dosis N, efisiensi pemupukan semakin menurun. Efisiensi serapan N tertinggi (51,56%) diperoleh pada dosis 150 kg N/ha, yang memberikan hasil kerosok 1,77 ton/ha; indeks mutu 59,55; dan indeks tanaman 105,51. Serapan P to-tal 14,26 kg/ha; 36,56% dari pupuk yang diberikan. Serapan K total 140,98 kg K/ha, 53,00% berasal dari K tanah, dan serapan Mg total 54,43 kg Mg/ha. Two experiments were conducted to study nutrient absorption pattern and efficiency of nitrogen utilization of burley tobacco. The first was conducted in screen house. Burley tobacco variety Ky 17 was planted in 100 pots with based recommended fertilization. The data of N, P, K, and Mg concentration and dry matter accu-mulation of leaf, stalk, root, and total were periodically collected. The second experiment was conducted in Pasirian, Lumajang, on Entisol soil, using randomized block design with three replications. The rate of 0, 75, 150, 225, and 300 kg N/ha were applied. The observation parameters were total dry matter, N, P, K, and Mg accumulation; yield, grade index, and crops index. Results showed rapid growth rate of burley tobacco began on 5 weeks after transplanting, related to rapid nutrient accumulation rate. Higher N rate resulted in lower efficiency of N fertilization. The highest N fertilizer absorption efficiency (51.56%) was achieved at 150 kg N/ha that produced 1.77 ton/ha dried leaves, grade index 59.55, and crops index 105.51. Absorption of total P was 14.26 kg/ha or equivalent to 36.56% of P fertilization. Total K absorbed was 140.98 kg K/ha, 53% from the soil, and total Mg absorbed was 54.43 kg Mg/ha.
Kesesuaian Galur Harapan Kapas pada Sistem Tumpang Sari dengan Palawija Riajaya, Prima Diarini; Kadarwati, Fitriningdyah Tri
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman kapas selalu ditumpangsarikan dengan palawija, sehingga varietas harapan yang telah dirakit hen-daknya mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap persaingan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengevaluasi toleransi galur-galur harapan kapas tahan A. biguttula terhadap persaingan dengan kedelai dan jagung. Penelitian dilaksanakan di lahan petani Desa Sumber Soka, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamo-ngan pada bulan Maret sampai dengan Oktober 2008. Kegiatan penelitian disusun dalam rancangan petak terbagi dengan dua faktor yang diulang empat kali. Petak utama adalah galur unggul, yaitu: 99022/1 (G1); 99001/2 (G2); dan 199023/5 (G3). Anak petak adalah jenis tanaman tumpang sari, yaitu kedelai (Kd) dan jagung (J). Untuk menghitung nilai kesetaraan lahan (NKL) dilakukan penanaman monokultur kapas dari ke-tiga galur unggul, kedelai, dan jagung. Untuk masing-masing jenis tanaman monokultur diulang 2 kali. Peng-amatan dilakukan terhadap komponen pertumbuhan tanaman (vegetatif dan generatif), perkembangan po-pulasi A. biguttula, produksi kapas berbiji, jagung, dan kedelai, serta NKL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran kanopi tanaman, jumlah cabang vegetatif dan generatif yang terbentuk pada tumpang sari dengan jagung lebih besar dibanding tumpang sari dengan kedelai. Galur G1 membentuk square lebih ba-nyak dibanding galur yang lain jika ditumpangsarikan dengan jagung yaitu 10 square/tanaman pada 82 hst dan membentuk buah lebih banyak (9 buah/tanaman) pada 122 hst; galur G3 membentuk square lebih ba-nyak pada tumpang sari dengan kedelai yaitu 8 square/tanaman pada umur yang sama dan membentuk bu-ah yang lebih banyak (11 buah/tanaman). Persentase kerusakan square tertinggi terjadi pada galur G3 yang ditumpangsarikan dengan jagung (28%) dan galur G1 yang ditumpangsarikan dengan kedelai (15%). NKL dari galur-galur yang diuji tumpang sari dengan kedelai lebih tinggi (1,31,8) dibandingkan dengan tumpang sari dengan jagung (0,981,42). NKL tertinggi (1,8) ditunjukkan oleh galur G3 tumpang sari dengan kedelai. As a cash crop, cotton is intercropped with secondary food crops in Indonesia. Therefore, the promising lines of such cotton varieties should have a high tolerant to a competitions, so that their potential production would be less affected in intercropping system. The aim of this research was to evaluate the tolerance of promising-cotton lines resistant to A. biguttula in intercropping with soybean and maize. The research was conducted in farmer’s land at Sumber Soka Village, Mantup, Lamongan from March up to October 2008. The research used split plot design with two factors and four replicates. The main plots were the promising lines: 99022/1 (G1); 99001/2 (G2); and 199023/5 (G3) and sub-plots were the secondary crop species: soybean (Kd) and maize (J). For calculating land equivalent ratio (LER) we planted the cotton lines, soybean, and maize in monoculture, each of them with two replicates. Observations were made for plant growth compo-nents (vegetative and generative), development of A. biguttula population, productions of seed cotton, maize and soybean, LER, as well as a simple-partial farming analysis. In intercropping with maize, the canointercropped with soybean. Line G1 showed the highest number in forming squares in intercropping with maize (10 square/plant at 82 dap) and formed bolls more (9 bolls/plant) than the other lines; and so did line G3 in intercropping with soybean (8 square/plant) and formed 11 bolls/plant. However, square damage was also the highest occurrence in these two promising lines (1528%). LER of lines intercropped with soybean were higher (1.31.8) than that of lines intercropped with maize (0.981.42). Line G3 gives the highest LER (1.8) when intercropped with soybean. Cotton lines intercropping with soybean resulted in a better added income over monoculture system compare to that of maize intercropping.
Skrining Provenan Jarak Pagar Terpilih di Beberapa Agroekosistem Sudarmo, Hadi; Mahfud, Moch.; Djumali, .; Pranowo, Dibyo; S.W., Tukimin
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan jarak pagar sebagai bahan bakar nabati (BBN) memerlukan bahan tanam yang unggul. Se-leksi rekuren sederhana terhadap populasi hasil eksplorasi dari beberapa daerah telah menghasilkan tiga po-pulasi unggul, yaitu IP-1A, IP-1M, dan IP-1P yang diprediksi mempunyai potensi produksi 45 ton per ha/ta-hun mulai tahun ke-4. Namun demikian populasi terpilih tersebut apabila dibudidayakan oleh petani secara sederhana, nilai ekonomis hasilnya belum menguntungkan. Penelitian skrining provenan ini dalam rangka mendukung pengembangan varietas unggul jarak pagar berproduktivitas tinggi dan berkadar minyak tinggi. Penelitian ini diawali pada tahun 2007, berlokasi di 3 tempat yaitu Kebun Percobaan (KP) Asembagus, KP Muktiharjo, dan KP Pakuwon. Genotipe yang diskrining sebanyak 20 provenan terdiri atas 17 genotipe yang berasal dari provenan terpilih yaitu HS-49/NTT, SP-16/Sulsel, SP-8/Susel, NTB-2555, NTB-554, NTB-3189, NTB-3052, NTB-575, Puncu/Jatim, PT-3/Lampung, PT-7/Lampung, PT-13/Lampung, PT-14/Lampung, PT-15/Lampung, PT-18/Lampung, PT-26/Banten, PT-33/Lampung, dan 3 populasi terpilih hasil seleksi masa ya-itu IP-1A, IP-1M, IP-1P, yang digunakan sebagai pembanding. Perlakuan disusun dalam rancangan acak ke-lompok dengan ulangan 3 kali. Setiap perlakuan ditanam dalam petak berukuran 10 m x 8 m dengan jarak tanam 2 m x 2 m. Hasil skrining provenan terpilih jarak pagar di Asembagus, Muktiharjo, dan Pakuwon ada-lah tiga provenan yang berpotensi produksi dan berkadar minyak tinggi, yaitu HS-49, NTB-3189, dan PT-7/Lampung. Ketiganya memiliki potensi produksi pada tahun 2009 masing-masing 1.150,70 kg; 1.113,30 kg; 1.064,60 kg/ha/th dan kadar minyak 37,66%; 35,39%; dan 35,84%. The main problem in developing physic nut as a source of biofuel is unavailability of the superior plant mate-rials. Recurent selection of collected physic nut population found three superior provenances i.e., IP-1A, IP-1M, and IP-1P which have been predicted to have production potency of 45 tones/ha/year in fourth year onwards. However, if selected provenances are cultivated with a simple crop management it would not give economically profitable. Therefore, it needs to develop high yield and oil varieties. Screening of selected pro-venances was started 2007 in three Research Stations (RS) Asembagus, Muktiharjo, and Pakuwon, with dif-ferent agroecosystem. The screened genotypes were: HS-49/NTT, SP-16/Sulsel, SP-8/Susel, NTB-2555, NTB-554, NTB-3189, NTB-3052, NTB-575, Puncu/Jatim, PT-3/Lampung, PT-7/Lampung, PT-13/Lampung, PT-14/Lampung, PT-15/Lampung, PT-18/Lampung, PT-26/Banten, PT-33/Lampung, and three of mass se-lected: IP-1A, IP-1M, IP-1P as comparison. This research used randomized block design with three replica-tions. Results showed that three provenances: HS-49, NTB-3189, and PT-7/Lampung have superior potential production and oil content in those three locations. The potential production and oil content of HS-49, NTB-3189, and PT-7/Lampung in 2009 were 1,150.70 kg; 1,113.30 kg; 1,064.60 kg/ha/year; and 37.66%; 35.39%; 35,84% respectively.
Bahan Organik: Perannya dalam Pengelolaan Kesehatan Tanah dan Pengendalian Patogen Tular Tanah Menuju Pertanian Tembakau Organik Yulianti, Titiek
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompleksnya masalah lingkungan pada usaha tani tembakau akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang kurang bijaksana mendorong keluarnya kebijakan Good Agricultural Practices (GAP) untuk tanaman tembakau yang disponsori oleh perusahaan-perusahaan tembakau dunia. Salah satu syarat terciptanya GAP adalah pengelolaan tanah dengan benar secara ramah lingkungan dengan menggunakan sumber daya alam yang ada, antara lain dengan penambahan bahan organik ke dalam tanah. Cara tersebut selain meningkat-kan kesuburan tanah dan memperbaiki struktur fisik tanah, juga berfungsi mengembalikan keseimbangan mikrobiologi dalam tanah. Pada kondisi tertentu cara tersebut bahkan mampu mengendalikan penyakit ta-naman, terutama jika agensia hayati ditambahkan ke dalamnya. Makalah ini membahas peran bahan organik dalam memperbaiki fungsi kimia, fisik, dan biologi tanah agar menjadi sehat dan produktif sebagai persiapan menuju usaha tani tembakau yang memenuhi standar GAP dan organik. Environmental problems on tobacco farm created by excessive use of pesticide and inorganic fertilizers has issued Good Agricultural Practices (GAP) sponsored by world tobacco companies. One key factor of the suc-cess of GAP is environmentally friendly soil management through the use of natural resources in the vicinity, such as organic amendment. Soil organic matter enhances soil fertility, improves soil physical properties, and restores soil microbiological equilibrium. It also provides longterm control to soilborne pathogens, especially when a biological control agent is added. This paper discusses the role of organic matter on enhancement chemical, physical, and biological soil properties. This conditions will improve soil health and fertility toward GAP tobacco production and organic tobacco.
Kandungan Kimia Tembakau dan Rokok Tirtosastro, Samsuri; Murdiyati, A.S.
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan kimia tembakau yang sudah teridentifikasi jumlahnya mencapai 2.500 komponen. Dari jumlah tersebut sekitar 1.100 komponen diturunkan menjadi komponen asap secara langsung dan 1.400 lainnya mengalami dekomposisi atau terpecah, bereaksi dengan komponen lain dan membentuk komponen baru. Di dalam asap sendiri terdapat 4.800 macam komponen kimia yang telah teridentifikasi. Telah diidentifikasi komponen kimia rokok yang berbahaya bagi kesehatan, yaitu: tar, nikotin, gas CO, dan NO yang berasal dari tembakau. Selain itu juga bahan-bahan berbahaya yang terbentuk saat penanaman, pengolahan, dan penyajian dalam perdagangan, yaitu residu pupuk dan pestisida, TSNA (tobacco spesific nitrosamine), B-a-P (benzo-a-pyrene), dan NTRM (non-tobacco related material). Pengendalian tar, nikotin, gas CO dan NO da-pat dilakukan dalam proses pembuatan rokok dengan penggunaan filter, kertas rokok yang berpori-pori, dan lain-lain. Sedangkan residu pupuk dan pestisida, TSNA, B-a-P, dan NTRM dapat dikendalikan melalui sistem produksi tembakau yang benar yang mengacu pada usaha menekan bahan berbahaya. The amount of 2,500 of tobacco chemical compounds had been identified. From this amount, 1,100 com-pounds were directly derived to be smoke component, while the 1,400 compound would break into other compounds, react to other compound and built up new compounds. From the smoke, 4,800 compounds had been identified. The hazardous component of cigarette for human health had been identified, i.e. tar, nico-tine, and CO and NO gases those come from tobacco. Besides, other hazardous component were built up along of tobacco planting, processing, and marketing, i.e. fertilizer and pesticide residues, TSNA (tobacco specific nitrosamine), B-a-P (benzo-a-pyrene), and NTRM (non-tobacco related material). To control tar, ni-cotine, and CO and NO gases could be done by using filter, porous cigarette’s paper etc. While fertilizer and pesticide residues, TSNA, B-a-P, and NTRM could be controlled by good agricultural practices that concern to pressure the hazardous component.
Karakter Tanaman Tembakau Temanggung yang Berpengaruh Terhadap Hasil dan Mutu Rajangan Kering Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan hasil dan mutu rajangan kering tembakau temanggung dapat dilakukan bila telah diketahui ka-rakter tanaman yang berpengaruh terhadap hasil dan mutu rajangan kering. Penelitian yang bertujuan untuk menentukan karakter utama tembakau temanggung yang berpengaruh terhadap hasil dan mutu rajangan kering dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang pada Oktober−Desember 2010. Lima karakter fisiologis utama, lima karakter fenologis utama, dan lima karakter pertumbuhan tanaman uta-ma, hasil, dan mutu rajangan diambil dari data base penelitian tahun 2008. Analisis regresi linier berganda langkah mundur dilakukan untuk menentukan karakter utama yang mempengaruhi hasil dan mutu rajangan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 karakter utama tembakau temanggung yang mem-pengaruhi hasil rajangan kering dan 8 karakter utama yang mempengaruhi mutu rajangan kering. Keenam karakter utama yang mempengaruhi hasil rajangan kering mulai dari yang paling besar pengaruhnya secara verturut-turut adalah partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 0−30 hst, bobot kering daun, jum-lah satuan panas dari daun muncul−daun berhenti meluas, jumlah satuan panas dari panen pertama−pa-nen akhir, jumlah satuan panas dari berbunga−panen akhir, dan tinggi tanaman. Dari keenam karakter uta-ma tersebut, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 0−30 hst, jumlah satuan panas dari panen pertama−panen akhir, dan jumlah satuan panas dari berbunga−panen akhir berpengaruh negatif terhadap hasil rajangan kering, sedangkan yang lainnya berpengaruh positif. Adapun kedelapan karakter utama yang mempengaruhi mutu rajangan kering mulai dari yang paling besar pengaruhnya secara berturut-turut adalah partisi karbohidrat untuk pembentukan nikotin dan pertumbuhan tajuk pada 60 hst−panen akhir, partisi kar-bohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 30−45 hst, jumlah satuan panas dari tanam−pemangkasan, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan daun pada 0−30 hst, jumlah satuan panas dari daun berhenti meluas−daun dipanen, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan bunga, dan tinggi tanaman. Dari kedelapan karakter utama tersebut, partisi karbohidrat untuk pembentukan nikotin pada 60 hst−panen akhir dan untuk tajuk pada 30− 45 hst serta jumlah satuan panas dari daun berhenti meluas−daun dipanen berpengaruh positif terhadap mutu rajangan kering, sedangkan yang lainnya berpengaruh negatif. Yield and quality of dry sliced temanggung tobacco could increase when the plant characters which affect them have been identified. The aim of the research was to identify the important plant characters which affect yield and quality of dry sliced temanggung tobacco. The experiment was conducted at Indonesian To-bacco and Fiber Crops Research Institute (IToFCRI), Malang from October to December 2010. A data base of the research result in 2008 was used as data source for five physiological characters, five phenological characters, five plant growth characters, dry sliced yield, and quality. Backward stepwise analysis was used to determine the important plant characters wich affect the dry sliced yield and quality. The results showed that the were six important characters that affected dry sliced yield and eight main characters affected dry sliced quality. The six characters that affected dry sliced yield sorted from the largest were carbohydrate partitioning for shoot growth in 0−30 dap, leaf dry weight, total heat unit from leaf initiation to harvesting period, total heat unit from first harvesting to final harvesting, total heat unit from flowers initiation to final harvesting, and plant height. The carbohydrate partitioning for shoot growth in 0−30 dap, total heat unit from first harvesting to final harvesting, and total heat unit from flowers initiation to final harvesting had ne-gative effect on dry sliced yield, and the others had positive effects. The eight characters that affected dry sliced quality sorted from the largest were carbohydrate partitioning for nicotine formation and the shoot growth from 60 dap−final harvesting, carbohydrate partitioning for shoot growth in 30−45 dap, total heat unit from planting to topping, carbohydrate partitioning for leaf growth in 0−30 dap, total heat unit from ter-minal leaf expansion to harvesting period, carbohydrate partitioning for the flower growth, and plant height. The carbohydrate partitioning for nicotine formation from 60 dap−final harvesting, carbohydrate partitioning for shoot growth in 30−45 dap, and total heat unit from terminal leaves expansion to leaf harvest had posi-tive effect on dry sliced quality and the others had negative effect.
Pengaruh Kondisi Ketinggian Tempat Terhadap Produksi dan Mutu Tembakau Temanggung Nurnasari, Elda; Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tembakau temanggung banyak dibudidayakan pada daerah pegunungan, terutama di lereng Gunung Sum-bing dan Gunung Sindoro. Untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap produksi dan mutu tem-bakau temanggung maka dilakukan percobaan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap pro-duksi dan mutu tembakau temanggung. Percobaan pot dilakukan di Kabupaten Temanggung-Jawa Tengah, pada bulan Maret–Agustus 2008 dengan 3 perlakuan lokasi tumbuh yang mempunyai perbedaan elevasi tempat, yakni (1) Desa Tlilir berelevasi 1395 m dpl, (2) Desa Wonotirto berelevasi 1245 m dpl, dan (3) Desa Sunggingsari berelevasi 880 m dpl dengan media tanah yang sama (seri Wonotirto). Perlakuan disusun da-lam rancangan tersarang dengan 9 ulangan, dimana ulangan tersarang dalam perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa lokasi tumbuh mempengaruhi produksi dan kadar nikotin tembakau yang dihasilkan. Produksi rajangan kering tertinggi (28,3 g/tanaman) diperoleh dari tembakau yang ditanam di Desa Wono-tirto sedangkan kadar nikotin tertinggi (6,24%) diperoleh Desa Tlilir. Perbedaan lokasi tumbuh diikuti oleh perbedaan unsur-unsur lingkungan (temperatur udara, kelembapan udara relatif, curah hujan, dan jumlah hari hujan) selama masa hidup tanaman. Unsur lingkungan yang mempengaruhi produksi adalah temperatur udara, kelembapan relatif, curah hujan, dan jumlah hari hujan. Adapun unsur lingkungan yang mempenga-ruhi kadar nikotin adalah elevasi tempat, temperatur udara, dan kelembapan relatif. Temanggung tobacco is cultivated in highly areas, especially at Sumbing and Sindoro mountainside. To de-termine the effect of land elevation on yield and quality of temanggung tobacco, experiment had been con-ducted at different land elevation. Pot experiment was conducted in the Temanggung Regency-Central Java, on March–August 2008 with 3 treatments of growth location which has different site altitude, that is (1) Tlilir with site altitude 1395 m above sea level (asl), (2) Wonotirto with site altitude 1245 m asl, and (3) Sung-gingsari with site altitude 880 m asl with the same soil (Wonotirto series). The treatments were arranged in nested design with nine replications, which the replications were nested in the treatment. Result showed that growth location affect on yield and nicotine content. The highest production of dried sliced (28.3 g/ plant) was obtained in Wonotirto while the highest nicotine content (6.24%) was obtained in Tlilir. Differences in growth location followed by the difference of the environmental elements (air temperature, relative humi-dity, rainfall, and number of rainy days) during the lifetime of the plant. Environmental element that affect the production is the air temperature, relative humidity, rainfall, and number of rainy days. The environmen-tal elements that affect the nicotine content is the site altitude, air temperature, and relative humidity.
Tembakau Temanggung: Fotosintesis, Respirasi, Partisi Karbohidrat, Serta Keterkaitannya dengan Hasil dan Mutu Rajangan Kering Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan hasil dan mutu tembakau temanggung dapat dilakukan bila sudah diketahui karakter tanaman serta keterkaitan antara karakter fisiologi dengan hasil dan mutu tersebut. Karakter fisiologi tanaman temba-kau temanggung (termasuk fotosintesis, respirasi, dan partisi karbohidrat) serta keterkaitan karakter terse-but dengan hasil dan mutu belum banyak diketahui. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi foto-sintesis, respirasi, partisi karbohidrat, serta kaitannya dengan hasil dan mutu rajangan kering dilakukan di rumah kaca Balittas, Malang pada Maret–Agustus 2008. Sembilan kultivar tembakau temanggung disusun dalam rancangan acak kelompok dan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis pada berbagai umur pengamatan bervariasi 0,6660,787 mg CO2/cm2/detik, sedangkan laju respirasi berva-riasi (0,040–0,238) x 10-2 mg CO2/g/det. Partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada berbagai umur pengamatan bervariasi 65,4–78,7% dari karbohidrat untuk pertumbuhan tanaman. Adapun untuk daun ber-variasi 34,8–78,3%, batang bervariasi 23,2–53,3%, bunga bervariasi 11,7–37,4%, dan tunas samping ber-variasi 10,6–27,5% dari karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk. Partisi untuk pembentukan nikotin bervariasi 1,8–9,4% dari karbohidrat untuk pertumbuhan akar. Karakter partisi untuk tajuk dan akar pada 030 hst, partisi untuk nikotin dan jaringan akar pada > 60 hst, serta laju respirasi pada 45 hst mempunyai pengaruh sebesar 92,3% terhadap hasil tembakau temanggung. Adapun karakter partisi untuk nikotin dan tajuk pada > 60 hst, partisi untuk tajuk pada 30–45 hst, partisi untuk daun pada 0–30 hst, partisi untuk bunga, dan laju respirasi pada 45 hst mempunyai pengaruh sebesar 90,8% terhadap mutu tembakau temanggung. Yield and quality temanggung tobacco could be increased if plant characteristics and the relationship be-tween plant physiology characteristic and yield quality had been identified in which such relationship has not yet been defined clearly. An experiment to find several information of photosynthesis, respiration, carbo-hydrate partitioning and its relationship with yield and quality was conducted in glasshouse IToFCRI, Malang since March–August 2008. Nine cultivars of temanggung tobacco were arranged in randomized block design with three replications. The results showed that the photosynthetic rates at different ages observations va-ried from 0.666 to 0.787 mg CO2/cm2/sec, while the respiration rate varied (0.040 to 0.238) x 10-2 mg CO2/ g/sec. Carbohydrate partitioning for shoot growth at various ages observations varied from 65.4 to 78.7% from carbohydrates for plant growth. As for the leaves varied from 34.8 to 78.3%, varying 23.2 to 53.3% for stems, flowers vary 11.7 to 37.4%, and suckers varied 10.6 to 27.5% from carbohydrates for shoot growth. Carbohydrate partitioning to the formation of nicotine varied from 1.8 to 9.4% from carbohydrates for root growth. Carbohydrate partitioning for shoot and root at 0–30 dap, the partition to nicotine and root tissue at > 60 dap, and respiration rate at 45 dap have influence 92.3% on yield temanggung tobacco. Carbohydrate partitioning for nicotine forming and shoot at > 60 dap, the partition for shoot at 30–45 dap, partitioning to leaves at 030 dap, the partition to flower, and respiration rate at 45 days having the effect of 90.8% for the quality temanggung tobacco.
Pengaruh Waktu Inokulasi dan Jumlah Inokulum Terhadap Patogenisitas Phytophthora nicotianae pada Bibit Tembakau Hidayah, Nurul; Yulianti, Titiek
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waktu inokulasi yang tepat serta jumlah inokulum yang digunakan merupakan salah satu faktor yang me-nentukan keberhasilan inokulasi buatan yang lazim dilakukan dalam pengujian ketahanan suatu varietas ter-hadap patogen tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu inokulasi dan jumlah inokulum Phytophthora nicotianae yang paling efektif untuk dapat menimbulkan gejala penyakit lanas pada bibit tembakau. Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan rumah kasa Fitopatologi Balittas, Malang pada bulan Juli Oktober 2006. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, yaitu umur bibit saat inokulasi (faktor I), terdiri dari tiga tingkat yaitu: 1) bibit berumur 5 minggu setelah se-mai (mss), 2) bibit berumur 6 mss dan 3) bibit berumur 7 mss dan jumlah inokulum (faktor II), terdiri dari 4 tingkat yaitu: 1) tanpa inokulum (kontrol), 2) 1.3502.400 zoospora/bibit, 2) 2.7004.800 zoospora/bibit, dan 4) 5.4009.600 zoospora/bibit. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Pengamatan dilaku-kan pada masa inkubasi dan kejadian penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit dipengaruhi oleh umur bibit saat inokulasi. Bibit yang lebih muda mempunyai masa inkubasi lebih cepat yak-ni 4,5 hari dibandingkan dengan bibit yang lebih tua. Kejadian penyakit tertinggi yaitu sebesar 56,9% terjadi pada saat bibit diinokulasi berumur 5 mss dengan jumlah inokulum 1.3502.400 zoospora/bibit. Suitable time of inoculation and inoculum density are factors to determine the success of artificial inoculation to evaluate of resistant level of plant variety to pathogen. The aim of this research was to study the appro-priate time of inoculation and inoculum density of Phytophthora nicotianae, the causal agent of black shank and damping off on tobacco seedling. The research was conducted in Phytopathology laboratory and screen house of IToFCRI Malang from July-October 2006. This research was arranged in complete randomized de-sign which consisted two factors and three replicates. The first factor was comprised of three times of ino-culation, and the second was the density of P. nicotianae inoculum. The parameters observed were incuba-tion period and disease incidence. The result showed that the incubation period was affected by the age of seedling when it was inoculated. The younger seedling was more susceptible than the older one. The high disease incidence (56.9%) was reached when the seedling five weeks old and inoculated by inoculum con-tained of 1,3502,400 zoospores/seedling.
Seleksi dan Pengujian Potensi Bakteri Indigenous Air Rendaman Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Sebagai Bakteri Selulolitik, Pektinolitik, dan Lignolitik Rahayu, Farida; Sudjindro, .; Budi, Untung Setyo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serat sintetik yang selama ini banyak digunakan, dipandang tidak ramah lingkungan karena berpotensi men-jadi pencemar. Untuk itulah, inovasi untuk mendapatkan bahan yang lebih ringan, murah, dan ramah ling-kungan dikembangkan. Pemanfaatan bahan mentah berupa serat tanaman untuk bahan selain tekstil khu-susnya serat kenaf (Hibiscus cannabinus) banyak mendapat perhatian khusus dari berbagai kalangan. Tuju-an dari penelitian ini adalah untuk menyeleksi dan menguji potensi bakteri selulolitik, pektinolitik, dan lignoli-tik indigenous dari air rendaman kenaf sebagai sumber inokulum pada proses retting kenaf. Eksplorasi dila-kukan dengan mengambil sampel air rendaman kenaf di Asembagus. Isolasi bakteri dilakukan dalam media Nutrient Broth (NB) dan Nutrient Agar (NA) yang merupakan media umum untuk bakteri. Isolat bakteri ke-mudian dikulturkan dan dipelihara dalam medium selektif mengandung carboxyl metylcellulase (CMC), pek-tin, atau lignin. Waktu optimal pertumbuhan sel dan nilai indeks selulolitik, pektinolitik, dan lignolitik ditentu-kan berdasarkan nisbah antara diameter zona bening di sekitar koloni dengan diameter koloni bakteri. Hasil eksplorasi didapat 8 isolat bakteri yang berpotensi sebagai bakteri selulolitik, pektinolitik, dan lignolitik; 1 iso-lat berpotensi sebagai bakteri selulolitik dan lignolitik; dan 2 isolat berpotensi sebagai bakteri pektinolitik; ser-ta 1 isolat berpotensi sebagai bakteri selulolitik. Hampir semua isolat memiliki waktu optimal pertumbuhan pa-da jam ke-12–18 dengan jumlah sel 21,9–267 juta sel/ml pada suhu 37oC. Synthetic fiber has been widely used and considered as an environmentally unfriendly product because its po-tency as a contaminant. For this reason, innovation to get lighter, cheaper, and environmentally friendly ma-terials is developed. Utilization of plant fibers for raw materials other than textiles especially kenaf fiber (Hi-biscus cannabinus) has received special attention from various communities. The aim of this research was to isolate indigenous cellulolytic, pectinolytic, and lignolytic bacteria from water retting of kenaf for inoculum sources in retting process of kenaf. Exploration of bacteria was done in Asembagus by collecting retting wa-ter of kenaf. Isolate was done in common media for bacteria, i.e Nutrient Broth (NB) and Nutrient Agar (NA), then the isolate bacteria were selected in a selective medium contained carboxyl metylcellulase (CMC), pectin, or lignin. Determination of optimal time of cell growth and value of index cellulolytic, pectinolytic, and lignolytic activity based on the ratio between the diameter of clear zone around the colony and diameter of the bacterial colony. The isolates collected from this study were 12 numbers, consist of 8 isolates of bacteria with cellulolytic, pectinolytic, and lignolytic ability; 1 isolate of bacteria with cellulolytic and lignolytic ability; 2 isolates of pectinolytic bacterium; and 1 isolate as cellulolytic bacterium. Almost all isolates have optimal time of growth at 12th18th hour with number of cells between 21,9267 million cell/ml at 37oC.

Page 3 of 20 | Total Record : 196