cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Forum Penelitian Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164361     EISSN : 25802674     DOI : -
Forum penelitian Agro Ekonomi (FAE) adalah media ilmiah komunikasi penelitian yang berisi review, gagasan, dan konsepsi orisinal bidang sosial ekonomi pertanian, mencakup sumber daya, agribisnis, ketahanan pangan, sosiologi, kelembagaan, perdagangan, dan ekonomi makro.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
Perspektif Global Penelitian untuk Pembangunan: Antisipasi Lingkungan Strategis dan Agenda R&D Pertanian I Wayan Rusastra
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v30n1.2012.49-58

Abstract

EnglishIn the globalization context the perspective contribution and redefinition of agricultural sector are changing. The multifunctional roles and inclusiveness of agriculture become stronger with their ultimate goals as a source of growth and employment, food security enhancement and poverty alleviation, as well as sustaining natural resources and agricultural development. Two fundamental global trends to take into account are inter-temporal strategic environment and anticipative agricultural R&D for development. Global strategic environment consists of biofuel development, climate change, sustainable agriculture, gender mainstreaming, and food-fuel-financial crises. On the other hand, the anticipative agricultural R&D global to get more attention is international trade transparency, technology role and food demand, incentive and investment reformation, structural transformation, and the harmonization of food security and food sovereignty development. Both aspects should be adapted and synergized in the thematic program planning and priority setting of agricultural research for development. The end target is the relevancy and effectiveness of agricultural research and achievement of agricultural development. IndonesianDalam perspektif global, telah terjadi pergeseran kontribusi dan redifinisi peran multifungsi sektor pertanian. Urgensi tentang multifungsi dan inklusifitas peran sektor pertanian semakin menguat, dengan sasaran sebagai sumber pertumbuhan dan kesempatan kerja, ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan, pelestarian sumberdaya dan keberlanjutan pembangunan pertanian. Dua perkembangan fundamental global yang perlu dipertimbangkan adalah dinamika lingkungan strategis dan R&D pertanian untuk pembangunan. Dinamika lingkungan strategis global mencakup pengembangan biofuel, perubahan iklim, pertanian berkelanjutan, pengarusutamaan gender, serta krisis energi, pangan, dan finansial global. Sementara itu antisipasi R&D pertanian global yang perlu dipertimbangkan adalah transparansi perdagangan, peran iptek dan kebutuhan pangan, reformasi insentif dan investasi, transformasi struktural, serta harmonisasi ketahanan pangan dan kedaulatan pangan. Kedua aspek tersebut perlu diadaptasikan dan disinergikan dalam perumusan program tematik dan penetapan skala prioritas R&D pertanian untuk pembangunan. Sasaran akhirnya adalah relevansi dan efektifitas R&D dan keberhasilan pembangunan pertanian nasional.
Penawaran, Permintaan dan Konsumsi Produk Peternakan di Indonesia Tjeppy D. Soedjana
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 15, No 1-2 (1997): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v15n1-2.1997.17-34

Abstract

Supply of livestock products from 1969 to 1994 indicated that meat has been the most dominating commodity than milk and eggs due to its variability of meat producing species and of the accessibility product by consumers. However, beef and steers imports increases each year from 12,000 head in 1991 by more than 90 percent per year. Egg production from all poultry species also increasing each year that its target in production has been achieved, hence, it is indicating that national poultry industry has been successfully implemented through commercial poultry industry as well as intensification programs for both native chickens and ducks particularly in the Presidential Instruction (Inpres) program for village improvements that directly created new investments for poultry in the villages. Milk production has been contributing no more than 35 percent to the total national milk demand, even the domestic milk productivity increases and hence milk imports continues to increase in volumes. The demand  for beef and foultry meat imply is elasticity to price change paricularly for low income group and those of rural consumers. Broiler meat tends to have substitute roles with beef and complementer in nature with milk and milk products. Percapita consumption of livestock product alwalys related with consumer's income and historically the per capita consumption of meat, milk and eggs are improved  every yar and for some reasons, certain species have been achieved beyond the target. During 1998 - 2003 it is estimated that meat production may bae able to grow by 5.37 percent per year from 1.7 milion tons in 1998 to 2,5 milion tons in 2003, compared to Pelita VI (1994-1998) which grew by 5,5 percent. Eggs production is expected to grow by 3.4 percent per year from 0.7 milion tons in 1998 to 0.9 percent in 2003 while in Pelita VI it wasa able to grow by 5.4 percent. Domestic milk production which was growing by 5.7 percent in Pelita VI, is projected to grow only by 2.5 percent per year, from 0.7 milion tons in 1998 to 0.56 million tons in 2003. Only meat production will be able to meat the demand using low economic growth of 3 percent annually, and that with assumption of hight economic grow of 6 percent per year there will be no supply or production of livestock commodities are able to meets its respective demans by the consumers. Therefor, efforts to ward improving local species in terms of their productivity in the long run have to be critically anticipated due to growing population and increasing welfare and income of Indonesian people.
Prakiraan produksi dan kebutuhan produk pangan ternak di Indonesia I Wayan Rusastra
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 5, No 1-2 (1987): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v5n1-2.1987.15-21

Abstract

IndonesianPertumbuhan ekonomi telah menggeser pola konsumsi dengan penyediaan produk pangan ternak yang lebih besar. Dalam kajian ini prakiraan kebutuhan didasarkan atas perbedaan elastisitas dan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Prakiraan produksi dibedakan berdasarkan perkembangan selama sepuluh tahun terakhir dan rencana pengembangan dalam Repelita IV. Ditinjau dari aspek produksi, daging unggas dan telur ayam ras mempunyai prospek pengembangan yang cukup baik di masa depan. Aspek konsumsi menunjukkan bahwa untuk mencapai norma gizi 5 gram protein asal ternak per kapita per hari, komoditi telur dapat diandalkan untuk mensubstitusi kebutuhan akan daging asal ternak (daging sapi dan kerbau). Di masa depan rencana peningkatan produksi telur hendaknya dibuat minimal sama dengan laju kebutuhan terahdap komoditi ini. Perkembangan komoditi susu hendaknya dibatasi sampai pada taraf kecukupan dan menjelang tahun 1995 pekembangan produksinya perlu disesuaikan dengan laju kebutuhan di dalam negeri.
Perspective of Agri-Environmental Service Incentives in Indonesia, Developing Countries and OECD Members Muhammad Iqbal; Gelar Satya Budhi
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v26n1.2008.1-16

Abstract

IndonesianPeran sektor pertanian di Indonesia memiliki multi fungsi terkait dengan lingkungan, ketahanan pangan, sosial ekonomi, dan budaya. Strategi utama dalam menjaga multi fungsi pertanian adalah: (a) meningkatkan kesadaran terhadap pertanian dan masyarakat pedesaan; (b) mendukung kebijakan harga pertanian; (c) meningkatkan apresiasi terhadap multi fungsi pertanian; (d) meningkatkan upaya konservasi tanah; dan (e) menentukan langkah penataan lahan sesuai dengan program revitalisasi pertanian. Kendati lahan pertanian memberikan jasa pelayanan lingkungan kepada masyarakat, namun petani tidak memperoleh insentif yang memadai dalam hal jaminan berusahatani, subsidi input, pengawasan kualitas pasokan pertanian, dan dukungan akses pasar. Oleh karena itu, gagasan insentif jasa lingkungan pertanian patut diimplementasikan. Akan tetapi, untuk kelancaran implementasi insentif jasa lingkungan pertanian tersebut perlu dilakukan terlebih dahulu analisis pemangku kepentingan diiringi dengan proyek percontohan. Dengan kata lain, beberapa langkah strategis seperti sosialisasi dan uji coba kegiatan perlu disiapkan. Modifikasi pembayaran jasa lingkungan dapat direkomendasi-kan dalam implementasi insentif jasa lingkungan pertanian di Indonesia.     EnglishIndonesian agriculture has been admitted for its multifunctionality which encompasses environmental, food security, socioeconomic, and cultural roles. The main strategies to maintain the multifunctionality of agriculture are as follows: (a) improving the awareness on the agriculture and rural community; (b) providing the favorable price policy of agriculture; (c) enhancing the appreciation on the multifunctionality of agriculture; (d) improving soil conservation efforts; and (e) delineating the prime agriculture land in accordance with revitalization of agriculture, fisheries, and forestry program. Agricultural land provides environmental services to community; however, farmers deserve incentives such as secure tenure, subsidized inputs, quality control of agricultural supplies, and better market access. Hence, the notion of agri-environmental service incentives is essentially implemented. However, for better implementation, it should be initiated employing stakeholder’s analysis through a pilot project activity. In other words, there is a need that a road map strategy is implemented, including its socialization and implementation. Modified mechanism model of payment for environmental services is recommended in implementing agri-environmental service incentives in Indonesia.
Keterkaitan jenis sumberdaya lahan dengan besar dan jenis pengeluaran rumah tangga di pedesaan Lampung Aladin Nasution
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 9, No 2-1 (1992): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v9n2-1.1992.40-46

Abstract

IndonesianSecara umum tingkat pendapatan dapat mempengaruhi pola konsumsi suatu rumahtangga. Pada tingkat tertentu, yakni apabila kebutuhan pokok telah terpenuhi, maka pola konsumsi akan bergeser kepada barang-barang sekunder. Mengingat semakin meningkatnya pendapatan masyarakat di pedesaan, timbul kekhawatiran akan terjadinya pergeseran pola pikir kearah negatif, seperti timbulnya sifat boros masyarakat pada barang-barang yang tidak produktif. Bertitik tolak dari permasalahan diatas tulisan ini melihat keterkaitan jenis sumberdaya lahan dengan besar dan jenis pengeluaran rumahtangga, baik setelah kebutuhan pokoknya terlampaui.
Sistem Komoditi Protein Hewani Aladin Nasution
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 2, No 2 (1983): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v2n2.1983.29-42

Abstract

IndonesianGambaran umum di Indonesia dengan taraf pendapatan yang masih rendah menunjukkan permasalahan pangsa yang berorientasi kuat pada komoditi-komoditi makanan pokok. Dewasa ini kelompok bahan makanan yang termasuk padi-padian (beras, jagung dan gandum) menyumbangkan lebih dari duapertiga dari jumlah kalori dan protein dan protein yang dikonsumsi secara nasional. Sedangkan konsumsi protein yang secara rata-rata sebesar 44.5 gram per kapita per hari, hanya 10 persen yang berasal dari hewani (daging, telur, susu dan ikan). Studi Sistem Komoditi Protein Hewani ini bertujuan untuk pendiskripsian sistem yang bersifat holistik yang meliputi identifikasi fungsi tujuan dan peubah-peubah sistem dari sistem komoditi protein hewani dengan komponen-komponen utama produksi, distribusi dan konsumsi. Dari hasil studi diperoleh kesimpulan bahwa, permintaan akan komoditi protein hewani mempunyai korelasi dengan pertambahan penduduk dan pendapatan. Protein hewani yang berasal dari ternak mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dimana seperti daging sapi mempunyai kecenderungan kuat merupakan komoditi yang mewah sedang daging ayam dan telur cenderung dikonsumsi secara meluas. Produksi ternak unggas telah mengalami perubahan yang cukup nyata dengan mengaplikasikan teknologi modern seperti bibit unggul, formula ransum yang ilmiah dan teknik pencegahan dan pengobatan yang modern.
Pembangunan Pertanian dengan Pendekatan Komunitas : Kasus Rancangan Program Prima Tani nFN Syahyuti
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v23n2.2005.102-115

Abstract

EnglishDevelopment concept explained in the mid of 20th century keeps improving. One of the concept improvements is application of “community-based development” concept.  This concept criticizes the relatively unsuccessful rural development based on individuals and households. One of actual community-based development types is implemented in the Prima Tani Program planning. The Program planning consists of (i) the program is located at the rural areas as the smallest units, (ii) action plan was applied using participatory rural appraisal, (iii) encouraging self reliance, and (iv) uses of local institutional resources. The paper is a literature study based on the documents of Prima Tani Program planning and the writer’s involvement in filed activities of the Program planning in West Nusa Tenggara Province. The assessment shows that it is necessary to well measure communal degree of the community. This is the basis for overall program implementation.IndonesianKonsep pembangunan yang dijelaskan pada pertengahan abad ke 20 terus mengalami perbaikan. Salah satu bentuk perbaikan konsep adalah diterapkannya konsep  “pembangunan berbasiskan komunitas”. Konsep ini dapat dipandang sebagai kritik konsep pembangunan pedesaan selama ini yang berlandaskan kepada pendekatan individual dan rumah tangga yang dinilai kurang berhasil. Salah satu bentuk konkrit pembangunan berbasiskan komunitas diterapkan dalam rancangan program Prima Tani.  Hal ini setidaknya terlihat dari empat aspek yaitu: penetapan lokasi program pada desa sebagai unit terkecil, penerapan PRA dalam penyusunan rencana aksi yang dilakukan secara partisipatif, upaya meningkatkan kemandirian, serta penggunaan sumberdaya kelembagaan setempat. Tulisan ini merupakan studi literatur yang didasarkan atas dokumen-dokumen rancangan Prima Tani serta keterlibatan penulis dalam melakukan kegiatan lapang Prima Tani di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hasil penelaahan membuktikan perlunya perhatian untuk mengukur derajat komunalitas warga secara baik. Hal ini merupakan titik tolak dalam pengimplementasian program secara keseluruhan.
Dimensi perdagangan kelapa dan kopra rakyat di Sulawesi Utara Budiman Hutabarat; Tri Pranadji; Aladin Nasution
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1993): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v11n2.1993.24-36

Abstract

IndonesianPengembangan produksi kelapa di Sulawesi Utara sangat terkait dengan perilaku pasar hasil antara atau hasil akhirnya dan keadaan industri yang mengolahnya. Fenomena-fenomena ini tidak sepenuhnya terjadi di Sulawesi Utara saja, tetapi dapat berada di wilayah lain atau di luar negeri melalui jalur perdagangan. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan keragaan perdagangan kelapa rakyat dan menyelidiki bentuk dan perilaku pasarnya, dengan melakukan pengamatan pada bulan Agustus - Oktober 1989. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini antara lain adalah : i) petani kelapa berada pada kedudukan yang paling lemah dalam sistem perdagangan kelapa; ii) persaingan diantara pedagang atau pengolah sebetulnya ada, tetapi tidak efektif karena mahalnya biaya angkutan per satuan volume, dan malahan menyebabkan persaingan yang tidak sehat, sehingga sistem pemasaran agak didominasi oleh bermodal kuat; dan akhirnya iii) industri pengolah hasil kelapa juga merupakan pedagang yang mengantar-pulaukan atau mengekspornya.
Menuju Ketahanan Pangan Indonesia Berkelanjutan 2025: Tantangan dan Penanganannya Achmad Suryana
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v32n2.2014.123-135

Abstract

EnglishProblems and challenges in achieving sustainable Indonesian food security are multi-dimensional including economic, social, political, and environmental aspects. Identification of those problems and challenges can be approached through food supply and demand analysis. From supply side, those challenges, among others, are a stiff competition in the use of natural resources, impacts of global climate change, and the dominance of small-scale farmers in food farming. From demand side, several challenges are the existence of high population growth and its dynamic characteristics, change in food consumers' preference, and competition in demand for food commodities as human consumption, feed, and energy uses. This paper aims to review current condition of Indonesian food security, to analyze challenges faced by this country, and to formulate policy alternatives in achieving sustainable Indonesian food security toward 2025. This analysis found out that in the last five years Indonesia was able to provide enough food to fulfill its people’s need, however quality of food consumption of an average Indonesian was under standard dietary pattern recommended by nutritionists. Challenges to achieve sustainable Indonesian food security toward 2025 will be more difficult. To response to the challenges, this article recommends some adjustment on policy direction of food security development, especially related to defining goals, choosing means and ways in achieving the goals, and setting targets of food security development. IndonesianPermasalahan dan tantangan untuk mewujudkan ketahanan pangan Indonesia berkelanjutan bersifat multidimensi, mencakup aspek ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan. Indentifikasi permasalahan dan tantangan tersebut dapat dilakukan melalui analisis penawaran dan permintaan pangan. Dari sisi penawaran, tantangan tersebut diantaranya berupa persaingan pemanfaatan sumber daya alam, dampak perubahan iklim global, dan dominasi usahatani skala kecil. Dari sisi permintaan, diantara tantangan tersebut adalah pertumbuhan penduduk yang tinggi beserta dinamika karakteristik demografisnya, perubahan selera konsumen, dan persaingan permintaan komoditas pangan untuk konsumsi manusia, pakan, dan bahan baku energi. Penulisan artikel ini bertujuan untuk menganalisis kondisi ketahanan pangan Indonesia saat ini, mengkaji tantangan 10 tahun yang akan datang, dan merumuskan alternatif kebijakan untuk mewujudkan ketahanan pangan Indonesia berkelanjutan menuju 2025. Dari hasil kajian ini dapat disimpulkan bahwa selama lima tahun terakhir secara makro Indonesia mampu menyediakan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan warganya, namun kualitas konsumsi pangan rata-rata masyarakat Indonesia masih di bawah rekomendasi para ahli gizi. Tantangan menuju ketahanan pangan Indonesia berkelanjutan tahun 2025 akan semakin berat. Untuk mengatasi tantangan tersebut, dalam artikel ini disarankan perlunya dilakukan penyesuaian arah kebijakan pembangunan ketahanan pangan, khususnya dalam menetapkan tujuan, memilih cara mencapai tujuan, dan menentukan sasaran ketahanan pangan nasional.
Prospek Pengembangan Agribisnis Ayam Buras Sebagai Usaha Ekonomi di Pedesaan Rosmijati Sayuti
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v20n1.2002.40-49

Abstract

EnglishThe population of native chicken in Indonesia is around 200 millions, but its remarkable potential is not yet exploitate properly. The reviews study is based on related report and reference of native chicken conducted in Indonesia. The focus of the study is to determine whether the intensive native chicken farming could be able to develop as a source of employment and income generating activities. The question is based on the inferior economic performance of native chicken compared to layer or broiler. The study results indicate that intensive native chicken farming can be considered as promising economic activity, therefore the active role of government is needed to enhance the said industry for improving employment and income in rural area. IndonesianIndonesia mempunyai kurang lebih 200 juta ayam buras. Potensi yang sangat besar ini ternyata belum diusahakan secara intensif.Tulisan ini merupakan tinjauan tentang ayam beras di Indonesia berdasarkan hasil-hasil penelitian yang sudah dilakukan tinjauan khususnya diarahkan apakah usaha ayam beras secara intensif memungkinkan untuk dikembangkan sebagai sumber lapangan kerja dan pendapatan? Pertanyaan ini muncul karena sifat-sifat ekonomi ayam buras relatif lebih rendah dibandingkan ayam ras,tetapi nilai ekonomi produksi ayam buras relatif jauh lebih tinggi terutama karena bebas residu kimia dan antibiotika. Hasil studi menunjukan bahwa ayam buras dapat diusahakan sebagai usaha ekonomi,sehingga peran aktif pemerintah sangat diperlukan dalam mendorong keberhasilan industri ayam buras dalam meningkatkan lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat pedesaan

Filter by Year

1982 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Forum penelitian Agro Ekonomi : In Press Vol 39, No 1 (2021): Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 18, No 1-2 (2000): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1999): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1999): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 16, No 2 (1998): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 16, No 1 (1998): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 15, No 1-2 (1997): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1996): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1996): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1995): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1995): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1994): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1994): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 10, No 2-1 (1993): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1993): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 9, No 2-1 (1992): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1991): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 8, No 1-2 (1990): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1989): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1989): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 6, No 2 (1988): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 6, No 1 (1988): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 5, No 1-2 (1987): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1986): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1984): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 2, No 2 (1983): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1983): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1983): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1982): Forum Penelitian Agro Ekonomi More Issue