cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 203 Documents
Status Helicoverpa armigera (Hiibner) dan Peran Musuh Alaminya pada Ekosistem Kapas di Indonesia NURINDAH, nFN
Perspektif Vol 2, No 1 (2003): Juni 2003
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v2n1.2003.11-19

Abstract

Helicoverpa armigera merupakan herbivora polifag. Pada petanaman kapas, serangga hama ini dianggap sebagai hama utama, terutama pada awal pengembangan Intensifikasi Kapas Rakyat. Usaha pengendalian hama ditujukan untuk hama ini dengan mengandalkan insektisida kimia yang disemprotkan secara berjadwal. Dalam pengembangan sistem PHT kapas, teknik pengendalian ditekankan pada pengendalian non-kimiawL Penelitian pengendalian H. armigera dengan teknik pengendalian non-kimiawi telah banyak dilakukan, meliputi pemanfaatan musuh alami yang potensial (pelepasan parasitoid telur dan penyemprotan patogen serangga), penggunaan insekisida botani (serbuk biji mimba), dan penggunaan tanaman perangkap. Penggunaan varietas tahan wereng kapas, yang merupakan salah satu komponen PHT, merupakan kunci dari keberhasilan pengendalian H. armigera. Penggunaan varietas tahan wereng mengakibatkan pertanaman kapas terhindar dari aplikasi insektisida kimia pada awal petumbuhan, sehingga populasi musuh alami yang mempunyai peran penting sebagai faktor mortalitas biotik bagi H. armigera dapat berkembang dan menjaga populasi penggerek buah ini selalu di bawah ambang kendali. Opimalisasi pean musuh alami melalui konservasi merupakan salah satu penyebab perubahan status H. armigera dai hama utama menjadi hama potensial. Perubahan status ini berdampak positif terhadap pengembangan kapas di Indonesia. Dampak tersebut melipui aspek institusi, ekonomi dan ekologi. Aspek insitusi, perlu pemikiian adanya suatu insitusi yang bertanggung jawab dalam penyediaan benih vaietas tahan wereng yang bermutu dan dalam jumlah yang cukup. Aspek ekonomi, adanya pengurangan penyediaan dana untuk insektisida, sehingga mengurangi biaya input yang berakibat meningkatnya daya saing komoditas. Aspek ekologi, adanya pengurangan pencemaran lingkungan sebagai akibat berkurangnya penggunaan insektisida Semua dampak tersebut akhirnya memungkinkan dapat berkembangnya sistem petanian yang berkelanjutan.Kata kunci: Helicoverpa armigera, Gossypium hirsutum, konservasi, status hama.
Prospect of Natural Fiber as Source of Currency Paper SUDJINDRO, .
Perspektif Vol 10, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v10n2.2011.%p

Abstract

Several types of plants producing natural fiber, such as fruit fiber (cotton), stems (kenaf, roselle, yute, flax, linum), and leaf (abaca, agave) have long been cultivated in Indonesia. They have even a solid status as raw material for industry nationally and internationally, such as cotton, kenaf, abaca, and flax. Plants of these natural fibers are potential for use as raw material for pulp and paper, and other industrial raw materials. Each year, Indonesia imports about 1.7 reem of currency paper worth of ± US$ 50 million or equivalent to ± Rp475 billion. High quality raw materials for currency paper are from cotton fibers (linters) mixed with other natural fibers, such as abaca, ramie, kenaf, and linum in a particular composition. Local natural fibers have great potential to be utilized as an alternative to meeting the needs of the domestic currency paper material. Balai Besar Pulp dan Kertas has carried out many research on the currency paper materials. Bank of Indonesia in collaboration with LIPI, Balittas, ITS, and the Ministry of Industry and Trade (Kemperindag) has considered that the genetic material of plants, land and human resources are already highly supportive to conduct the business of natural fibers plantation. If the business can maximally be empowered domestic sources, it may be able to improve farmers’ welfare through agribusiness of natural fiber commodities. This business in turn may reduce the imports of currency paper and save foreign exchange, as well. Empowerment of flooded and acidic lands outside Java, by planting high yielding varieties, is a positive effort to improve farmers’ welfare on these marginal lands.Keywords : Raw material, currency paper, natural fibers, pulp and paper, farmers’ prosperity.
PENGELOLAAN KOMUNITAS SERANGGA HAMA DAN SERANGGA BERGUNA UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS JAMBU METE Management of Pest and Benefit Insects For Increasing Cashew Productivity Siswanto, Siswanto; Rizal, Molide
Perspektif Vol 17, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n1.2018.01-14

Abstract

ABSTRAKJambu mete (Anacardium occidentale L) merupakan komoditas perkebunan yang cukup potensial sebagai komoditas ekspor Indonesia. Tanaman jambu mete  adaptif pada kondisi lahan kering dengan curah hujan rendah dan telah dikembangkan secara luas di Indonesia, terutama di kawasan Timur. Tahun 2015  luas tanaman jambu mete di Indonesia tercatat seluas 522.863  ha dengan produksi 137.580  ton dan produktivitas sekitar 431 kg/ha/th. Produktivitas lahan pertanaman jambu mete tersebut tergolong masih rendah dibandingkan dengan potensinya yang bisa mencapai 800-1000 ton gelondong/ha/th. Salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di Indonesia  berasal dari  komunitas serangga yang berasosiasi pada tanaman jambu mete antara lain  serangga hama, serangga penyerbuk dan serangga musuh alami. Tercatat lebih dari 100 jenis serangga berasosiasi dengan pertanaman jambu mete terutama pada musim pembungaan, meliputi serangga hama, serangga musuh alami, serangga penyerbuk, serangga vektor penyakit,dan serangga berguna lainnya yang mempengaruhi produktivitas dan perkembangan jambu mete. Kenyataan tersebut menunjukkan komunitas serangga jambu mete cukup berperan terhadap perkembangan dan produktivitas jambu mete. Berkaitan dengan keberadaan serangga tersebut perlu upaya pengelolaan habitat atau lingkungan yang tepat dan sesuai untuk pengendalian serangga hama dan peningkatan produktivitas jambu mete.Cashew (Anacardium occidentale L) is a potential plantation commodity as an Indonesian export commodity. Cashew nut plants are adaptive to dry land conditions with low rainfall and have been widely developed in Indonesia, especially in Eastern part of Indonesia. In 2015, the area of cashew nut plant in Indonesia is 522,863 ha with production of 137,580 tons and productivity around 431 kg / ha / year. The productivity of cashew plantation is relatively low compared to the potential that can reach 800 - 1000 tons of nut / ha / yr. One of the factors causing the low productivity of cashew in Indonesia, comes from insect communities associated with cashew plants such as insect pest attacks, pollinating insects and natural enemy insects. It was recorded more than 100 species of insects associated with cashew crops, especially during the flowering season, including insect pests, natural enemy insects, pollinating insects, disease vector insects, and other useful insects which affect the cashew production and growth. This fact shows cashew insects community contribute to the development and productivity of cashew nuts in a positive or negative sense. In relation to the presence of these insects, it is necessary an effort to manage appropriates habitat / environment to control insect pests and increase the productivity of cashew.  
Potensi Buah Kelapa Muda Untuk Kesehatan dan Pengolahannya BARLINA, RINDENGAN
Perspektif Vol 3, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v3n2.2004.46-60

Abstract

Buah kelapa muda merupakan salah satu produk pertanian yang bernilai ekonomi tinggi. Air kelapa mengandung bermacam-macam vitamin dan mineral dan gula sehingga dapat dikategorikan sebagai minuman ringan yang bergizi. Pemanfaatan buah kelapa muda harus diikuti dengan penanganan setelah panen, seperti pengawetan, pengemasan dan penyimpanan karena buah mudah rusak. Beberapa hasil penelitian untuk mempertahankan mutu buah kelapa muda, baik dalam bentuk buah utuh atau sebagian sabut dikupas, serta pengolahan daging dan air buah kelapa menjadi berbagai produk, telah dilaporkan. Disamping untuk mempertahankan mutu, diharapkan dengan diolah menjadi produk baru, dapat diperoleh nilai tambah untuk menunjang peningkatan pendapatan petani. Hasil-hasil penelitian yang sudah diperoleh diharapkan mudah diaplikasikan kepada petani ataupun industri rumah tangga yang memanfaatkan bahan baku kelapa. Peluang dalam pengembangannya, tentu saja dipengaruhi oleh ketersediaan sumber bahan baku yang bermutu, modal, pemasaran, dan SDM. Faktor-faktor tersebut sangat menentukan dalam upaya mencapai dampak yang diharapkan seperti terciptanya lapangan kerja, peningkatan pendapatan petani, peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucivera L., kelapa muda, nilai gizi, kesehatan, pengolahan ABSTRACT Potency of tender coconut for health and its processingTender coconut fruit is an agricultural product which has high value. Coconut water contains various kinds of vitamins, minerals, and sugar, so that it can be classified as nutritious soft drink. Since the fruit is easily decayed, picking up the young fruits should be followed by post harvest management, such as preservation, packing and storage. Some research activities have been conducted to maintain tender coconut quality either in the whole fruit or in the fruit with some parts of the husk peeled; and processing tender coconut meat and coconut water into various kinds of products. Beside that, processing tender coconut to new product will improve the farmers’ income. The techniques are expected to be easily applied by the farmers or home industry using coconut as raw material. The opportunity for developing them was affected by the availability of qualified raw materials, capital, market and skill. These factors strongly influenced the expected impacts like creating job opportunity, improving farmers’ income, improving nutrition and public health.Key words : Coconut, Cocos nucifera L., tender coconut, potency, nutrition, health, processing
STRATEGIES AND IMPLEMENTATION OF DEVELOPMENT OF FUTURE COCONUT PRODUCTS LAY, ABNER; PASANG, PATRIK M.
Perspektif Vol 11, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v11n1.2012.%p

Abstract

In line with problems, alternative solutions, and issues on national coconut, as well as the determinants factors on development, it is required practical strategy that can be implemented to gain success in future coconut product development. The development strategy may consist of the direction, goals, objectives, priorities, and development phases. Implementation includes the optimalization of farming, development and marketing products. Improvement of coconut products, that can be executed massively to the farmers group level and industry for local/domestic market, are young coconut products, coconut coktail, coconut jam, baby food supplements, soft drinks, nata de coco, coconut water sauce, coconut flour, virgin coconut oil, coconut shell charcoal, charcoal briquette, liquid smoke of coconut shell, coconut wood, and organic fertilizer. While the exporting goods are such as copra, white copra, raw coconut oil, coconut cake, desiccated coconut, and active charcoal.   Key words:  Coconut, farm business, industry, product diversification, farmers group
PENGANGKATAN AIR TANAH OLEH JAMBU METE DAN PROSPEK PEMANFAATANNYA / Hydraulic Lift on Cashew and Its Utilization Prospect Pitono, Joko
Perspektif Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n1.2017.%p

Abstract

ABSTRAK Jambu mete dikembangkan secara luas di wilayah berlahan kering dan beriklim kering karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik pada kondisi kekeringan, khususnya di wilayah timur Indonesia. Nilai ekonomi jambu mete utamanya diperoleh dari produk kacang mete, buah semu, dan CNSL dari cangkang biji mete. Namun praktek budidaya yang dilakukan masyarakat umumnya terbatas dalam pemberian input produksi khususnya pupuk yang menyebabkan penampilan produktivitas jambu mete di wilayah tersebut masih tergolong rendah. Agar pengembangan jambu mete tetap menarik, maka selain memberikan nilai ekonomi dari kacang mete dan produk ikutannya, diharapkan juga bisa memberikan nilai tambah untuk konservasi ekologi pada lahan kering. Sebagaimana hasil dari beberapa studi ekologi pada beberapa spesies tanaman hutan dan gurun tertentu yang terbukti dapat mengkonservasi lengas tanah di sekitar titik tumbuhnya. Kemampuan menyeimbangkan defisit lengas tanah yang hilang pada siang hari akibat evapotranspirasi yang tinggi, diketahui berasal dari proses hydraulic lift, yaitu proses jaringan akar yang mampu membasahi kembali partikel tanah di lapisan atas saat potensial air di jaringan akar tinggi dan laju transpirasi pada periode malam hari sangat rendah. Hasil dari beberapa studi terakhir menunjukkan bahwa tanaman jambu mete juga berindikasi memiliki kemampuan hydraulic lift, baik pada uji skala rumah kaca maupun skala lapangan. Tentunya, adanya kemampuan fungsi ekologis yang demikian memberikan nilai yang lebih strategis bagi tanaman jambu mete untuk mendukung pengembangan pertanian lebih lanjut di lahan kering beriklim kering. Tulisan ini mengulas perkembangan terkini hasil evaluasi fungsi ekologis pada tanaman jambu mete, terutama yang terkait dengan kemampuan hydraulic lift dan perspektif potensi pemanfaatannya bagi pengembangan pertanian lahan kering ke depan. ABSTRACT Cashew is widely cultivated in dry land with dry climates, especially in eastern Indonesia, due to its good adaptability to drought conditions. The economic value of cashew nuts is primarily from kernel, apple fruits, and CNSL from nut shells. However, the cultivation practices commonly done by the farmers rarely apply input production, especially fertilizer, resulting in low cashew productivity in the region. Thus, to maintain cashew nut development, in addition to improving the economic value of cashew nuts and its products, is also expected to provide ecological conservation in the dry land.  Several studies on certain species of forest and desert plants indicated their ability to conserve moisture around the growing point. The ability to balance the soil moisture deficit lost during the day due to high evapotranspiration is identified as the result of the hydraulic lift process.  Hydraulic lift process occurs when the root tissue is capable to moisten the soil particles in the upper layer because the water potential in the root tissue is high while the transpiration rate at night is very low. Recent studies at greenhouse and field trial also indicated the capabilities of hydraulic lift on cashew.  This particular ecological function capability improves strategic value of cashew trees to support the further development of agriculture in dry land with dry climates. This paper reviewed the latest developments in the evaluation of ecological functions of cashew trees, especially related to its hydraulic lift capability and the perspectives of its potential utilization to develop agriculture in the dry land in the future.
Patchouli Seeds Production and Handling to Provide Good Quality of Seed SUKARMAN, .; WAHYUNI, SRI
Perspektif Vol 12, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v12n1.2013.%p

Abstract

Patchouli (Pogostemon cablin Benth.) is a primary essential oil plant of Indonesia.  It produces patchouli oil, and provides almost 90 % of world essential oil.  To  maintain the stability of market demand, it is necessary to develop sustainable production system of patchouli plantation. For the purpose, providing high quality seeds supply is required.  In order to meet the seed standard, some requirement should be considered e.q. superior variety used,  the suitability of land and climate for production area, cultivation technique, diseases and pest management control. Plant materials are developed by cuttings.  The storage of cuttings are very limited, but they are voluminous and voluminous characters.  Distributing the seeds need high cost due to packaging system and has limited time to keep the high seed viability.    Packaging technique to keep cuttings remain fresh should be developed.  To overcome the avaibility of seed supply at patchouli area development,  in the seed production should be developed in the same area.   Further more, high seed quality should be guaranted by certification process. This paper aims to inform  technology production and handling system in order to get the high quality of patchouli. Key word: Pogostemon cablin,  patchouli, seed production, seed handling.
POTENSI JAMUR Metarhizium anisopliae (METSCH.) SOROKIN UNTUK PENGENDALIAN SECARA HAYATI HAMA URET TEBU Lepidiota stigma (COLEOPTERA:SCARABAEIDAE)/Potency of Metarhizium anisopliae (Metsch.) Sorokin for biocontrol of sugarcane white grub, Lepidiota stigma Indrayani, I Gusti Agung Ayu
Perspektif Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n1.2017.24-32

Abstract

ABSTRAK Tebu (Saccharum officinarum L) adalah komoditas penting di Indonesia yang beberapa tahun terakhir mengalami penurunan produktivitas, yang disebabkan oleh cara-cara budi daya yang tidak sesuai prosedur dan adanya serangan hama uret, Lepidiota stigma. Hama uret berkembang sangat cepat dan stadia yang paling merusak adalah instar 3. Serangan yang terjadi pada tanaman tebu muda mengakibatkan tanaman layu kemudian mati. Hama uret sulit dikendalikan karena sebagian besar hidupnya (stadia larva) ada di dalam tanah. Umumnya hama uret dikendalikan secara intensif dengan pestisida kimia yang diaplikasikan ke dalam tanah dan berpotensi mengakibatkan pencemaran, sehingga diperlukan alternatif pengendalian yang ramah lingkungan. Uret tebu dapat dikendalikan dengan musuh alami, yaitu jamur Metarhizium anisopliae. Jamur M. anisopliae efektif mengendalikan berbagai spesies serangga hama yang hidup di atas dan di bawah permukaan tanah. Satu isolat unggul jamur M. anisopliae (JTMa-2) telah diperoleh melalui isolasi sampel tanah dari pertanaman tebu di Jawa Timur. Setelah melalui pengujian di laboratorium dan rumah kasa selama dua tahun berturut-turut, terbukti bahwa isolat JTMa-2 sangat patogenik terhadap hama uret. Upaya pengembangan JTMa-2 menjadi biopestisida di masa depan memerlukan dukungan teknik perbanyakan massal yang mudah dan efisien, serta perlu disempurnakan dengan teknik formulasi yang tepat, sehingga dapat melindungi bahan aktif inokulum jamur dari pengaruh radiasi ultraviolet ketika diaplikasikan di lapangan. Untuk mengoptimalkan potensi jamur M. anisopliae dalam pengendalian uret diperlukan pula kajian mengenai sinergisme dengan cara-cara pengendalian yang lain, terutama penggunaan varietas tahan dan musuh alami (parasitoid dan predator). Kata kunci: Tebu, uret, isolat, patogen serangga, inokulum ABSTRACT Sugarcane is an important crop in Indonesia, however its productivity is decrease currently due to insect pests mainly white grub, Lepidiota stigma.  The white grub is one of the pests limiting the production of sugarcane. The grub grows rapidly and the third instar is very destructive when feeding the root of the plant. The root damage can be very severe when grub feeding on younger plants of sugarcane that cause the plant die.  White grub is difficult to control because they live in soil. The control method of this grub is usually by using chemical pesticides applied into soil that harm the soil environment due to insecticides residues. Therefore, an alternative control method should be found.  Sugarcane white grub can be controlled biologically using their natural enemies, including entomopathogenic fungi Metarhizium anisopliae. The most pathogenic isolate of M. anisopliae (JTMa-2) has been isolated from soil collected in sugarcane plantation in East Java. Through laboratory and screen house studies this isolate showed highly pathogenic against L. stigma. Based on those studies, the most pathogenic isolate of M. anisopliae is promising to be a biological control agents against sugarcane white grub. To develop the most promising isolate to become a biopesticide, it can be massively produced easily using local materials for low cost and support by an appropriate formulation method in order to maintain its virulence against the insect host when applied in the field. To optimize the potential of this entomopathogenic fungi, its synergism with other control methods, especially resistant varieties of sugar cane and natural enemies, e.g. parasitoids or predators need to be studied. Key words: Sugar cane, white grub, isolate, entomopathogen, inoculum
Polemik Kapas-Bt di Indonesia HASNAM, nFN
Perspektif Vol 1, No 1 (2002): Juni 2002
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v1n1.2002.1-8

Abstract

Dalam makalah ini disajikan informasi ilmiah dengan adanya perdebatan mengenai manfaat dan risiko penanaman kapas-Bt di Sulawesi Selatan. Masyarakat mempertanyakan isiko kapas-Bt terhadap kesehatan tnanusia dan keaneka ragaman hayati dengan pelepasan tanaman hasil konstruksi yang mengandung bahan-bahan geneik dari bakteria, virus serta parasit-parasit lainnya. Bukti-bukti menunjukkan bahwa kapas-Bt tidak berpotensi menyebabkan allergi atau menghasilkan bahan beracun, demikian juga penggunaan gen penanda yang menyebabkan ketahanan terhadap antibiotik tidak perlu dikuatirkan. Efeknya terhadap parasit-parasit, predator-predator dan mikroba tanah sangat kecil. Gen-gen penghasil toksin tersebut idak tersebar melalui tepung sari, karena gen-gen plastid hanya dapat diwariskan melalui tetua beina. Manfaat utama penggunaan kapas-Bt di Amerika Serikat adalah pengurangan pemakaian insekisida dan peningkatan produkivitas. Berkembangnya resistensi serangga terhadap protein yang dihasilkan gen Cry IA(c), akan menggagalkan manfaat tersebut di atas. Untuk itu perlu pengaturan dan pemantauan untuk menjaga keberlanjutan penggunaan kapas-Bt. Menghadapi keidakpasian ilmiah dalam pemanfaatan tanaman transgenik, pemerintah Indonesia menganut prinsip kehati-haian yang mensyaratkan dilakukannya penilaian dan pengeIolaan risiko sebelum penggunaan tanaman transgenik.Kata kunci : Bacillus thuringiensis, kapas, Gossypium hirsutum, transformasi, penilaian risiko, ketahanan serangga hama
Allelopathy on estates crops and its control techniques and utilization prospects DJAZULI, MUHAMAD
Perspektif Vol 10, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v10n1.2011.%p

Abstract

Soil fertility is an important factor of abiotic growth environment on growth and production. Soil fertility it self is influenced by macro and micronutrient status and toxic compound in the soil. Once of toxic compound released by plant and it can affect other plant growth and their growth it self. Information of allelopathy in estate crps are limited. Allelopathyc compounds are released from the plant as root exudate, vapour from leaf in a gas form through stomata, foliar leacheate, decomposition product of dead plant parts, and microorganism tranformation. For example, a significantly decreased of ginger and patchouli productivity at second cultivation at fertile soil and no pest attack, indicated that ginger and patchouli released autotoxic allelopathy compound. Arabica coffee released 1.3.7-trimethylxanthin com-pound that is potentially inhibit lettuce germination and also produce autotoxic allelopathy compound of caffeine. It was found some alleloptathy compounds produced by patchouli such as coumaric acid, hydroxi benzoic acid, adific acid, and sinapic acid. Application of liming, active carbon, Salicilic acid, MgSO.7 H2O, soil micoorganism, and rotation system using aromatic plant especialy, mint, basil, sage and oregano were able to reduce allelopathy compound and improved productivity of land and plant. It was reported that some allelopathic compounds can be utilized as a potentially organic herbicide. Key words: Allelopathy, estate crops, management, growth inhibitor, organic herbicide