cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 203 Documents
Pemupukan Rasional dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Kapas FITRININGDYAH TRI KADARWATI
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKPemupukan merupakan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam budidaya kapas karena kondisi lahan yang diperuntukkan tanaman kapas biasanya tidak subur bahkan cenderung marginal. Konsep pemupukan berimbang yang dipopulerkan tahun 1987 merupakan   upaya   untuk   menentukan   kebutuhan pupuk  dengan tepat. Pendekatan tersebut sebenarnya baik, tetapi dengan berjalannya waktu, konsep tersebut banyak   disalahartikan   menjadi   pemupukan   yang lengkap  jenisnya  dengan  jumlah  tertentu  sehingga dalam prakteknya sering berlebihan unsur tertentu dan ada  unsur lain yang tidak dipenuhi. Upaya untuk menentukan    pemupukan    yang    tepat    agar produktivitas tanaman tetap optimal dan pemborosan pupuk   dapat   dihindari,   diperkenalkan   konsep pemupukan   rasional.   Pemupukan   rasional   adalah memberikan   jenis   hara   yang   kurang   melalui pemupukan  dalam  dosis  yang    sesuai    dengan kebutuhan  tanaman dan  sesuai  dengan kemampuan tanah   menyediakan   unsur   hara   bagi   tanaman. Rekomendasi   pemupukan   kapas   pada   awalnya didekati melalui  percobaan-percobaan pemupukan lapang di lokasi pengembangan kapas yang hasilnya bersifat sangat spesifik sehingga kurang tepat untuk diekstrapolasikan. Dengan selalu berpindah-pindahnya lokasi pengembangan kapas maka metode tersebut menjadi kurang relevan.  Status hara tanah yang   diperoleh   dari   hasil   analisis   tanah,   dapat menggambarkan tingkat kemampuan tanah menyediakan hara  sehingga  dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan kebutuhan pupuk tanaman kapas yang rasional. Pemupukan rasional pada kapas adalah  untuk Nitrogen berdasarkan kadar  N-NO3tanah   dengan   batas   kritis20-25 ppm, untuk pemupukan P berdasarkan P tersedia dalam tanah (P-Olsen) dengan batas kritis 20 ppm P, sedangkan untuk pemupukan K berdasarkan pada K tersedia dalam tanah (K-dd) dengan batas kritis 150 ppm K.  Pupuk kandang, bokashi dan limbah pabrik (sipramin) dapat digunakan  sebagai  pupuk  organik  alternatif  pada tanaman kapas dan dapat meningkatkan kesuburan tanah.Kata Kunci: Kapas, Gossypium hirsutum, pemupukan, analisis tanah, pupuk anorganik,  pupuk organik ABSTRACT Rational fertilization to increase Cotton productivityAs cotton is mainly grown on marginal land or less fertile soil, farmers need to apply fertilizer. Balanced fertilization   principle   was   initiated   in 1987   and adopted as a method  to determine the dosage of fertilization.  In fact, this methode tends to exessive use in a certain element and less for others.  Rational use in fertilizer  is  needed  to  avoid  the  exessive  use  of fertilizer. This principle implies that it is necessary to supply nutrient based on crop nutrient requirement and soil’s ability to supply nutrients. Recommendation on   fertilization   is   determined   through   several experiments on different sites which is difficult to be extrapolated to other sites. This recommendation is no longer used as cotton areas did not  concentrate in a certaint part for a long period of time.  Nutrient condition in the soil indicates the status of soil fertility that   can   be   used   for   determination   of   nutrien requirement. Rational use in Nitrogen for cotton is determined based on Soil N-NO3  with critical level 20-25 ppm, critical level for soil phosphorus is ppm P; and critical  level  for  soil  potassium 150  is    K.    The application  of  farm  manure,  bokashi,  and  sugar industry waste could increase soil fertility and cotton production.Key Words: Cotton, Gossypium hirsutum, fertilization, soil analysis, unorganic fertilizer, organicfertilizer.
Prospek dan Kendala Pengembangan Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Sebagai Bahan Bakar Nabati di Indonesia M. SYAKIR
Perspektif Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v9n2.2010.%p

Abstract

ABSTRAKSalah satu komoditas pertanian yang potensial saat ini untuk dijadikan bahan bakar nabati diantaranya jarak pagar. Untuk produksi biodiesel tanaman jarak pagar dapat   dipilih   karena   tanaman  ini   tidak   bersaing dengan  tanaman  penghasil  pangan,  tidak  dimakan binatang   karena   beracun,   mudah   beradaptasi   di lapangan,   berpotensi   menjadi   bisnis   baru   untuk masyarakat  dan  kegiatan  produksinya  dapat  lebih terdesentralisasi.                   Ketersediaan     lahan      untuk pengembangan jarak pagar di Indonesia yang sangat sesuai mencapai 14,2 juta hektar dengan ketersediaan saat   ini   sekitar       5   juta   hektar.   Dalam   rangka mendukung    penyediaan    benih    unggul    untuk pengembangan jarak pagar seluas 2,4 juta ha tahun 2025, telah diperoleh tanaman superior dari aksesi-aksesi yang dikoleksi. Budidaya tanaman jarak pagar relatif masih baru dan teknologi budidayanya terus dikembangkan  seperti  halnya,  komponen  teknologi pengendalian    hama    dan    penyakit,    polatanam, pemupukan serta teknologi pengolahannya. Saat ini total  produksi  biji  jarak  seluruh  Indonesia  masih sangat rendah hanya sebesar 7.852 ton pada tahun 2007 dari luas areal 68.200 ha, meningkat menjadi 7.925 ton tahun 2008 dari areal 69.221 ha dan tahun 2009 menjadi 8.013 dari luas areal 69.315 ha. Masalah utama dalam membantu  percepatan  pengembangan  jarak  pagar selain  pengembangan  komponen taknologi  budidya adalah mencari terobosan baru untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Hal ini bisa ditempuh melalui bioteknologi  dan  rekayasa  genetika  serta  mencari sumber  keragaman  baru  genetika  dari negara asal, termasuk dari negara-negara Amerika Latin.Kata  kunci:  Prospek,  problem,  jarak  pagar,  bahan bakar   nabati,   produktivitas,   rekayasa genetika. ABSTRACTProspects and Problems of Jatropha curcas Development as Biodiesel Energy in IndonesiaOne of potential commodities to be used as bio fuel in Indonesia  is  Jatropha  curcas.    This  plant  is  chosen because it does not compete with food crops, while animal do not like it because it is poisonous. Moreover, this plant is adaptable in different climate conditions and  may  become  a  new  business  opportunity  for farmers,   since   fuel   production   activities   can   be decentralized. There are 14.2 million hectares of land suitable for growing the plant, whereas currently only 5 million hectares are available. Indonesian Centre for Estate Crops Research and Development nowadays has superior varieties that can be used to support expansion   of     2.4   million   hectares   of   jatropha plantations in 2025. However, agriculture technologies still have to be improved in term of, for instance, pest and disease control strategies, planting patterns, as well   as   fertilizing,   and   cultivation   technologies. Moreover, current seed production of jatropha is still low i.e. only 7.582 tonnes in 2007 of 68.200 hectares which becoming 7.925 tonnes in 2008 of 69.221 ha, and 8.013  tonnes  in  2009  of  69.315  hectares.  The  main strategy to accelerate jatropha plantation areas is to find new strategy especially related to how to improve plant  production.  This  approach  may  be  achieved through biotechnology and plant genetic engineering as  well  as  finding  new  genetic  varieties  from  its country of origin, including countries in Latin America.Keywords: Prospect, problem, Jatropha curcas L., bio-  fuel, productivity, genetic engineering
Prospek dan Strategi Pengembangan Pala di Maluku SJAHRUL BUSTAMAN
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

ABSTRAKPala Banda (Myristica fragrans Houtt) adalah komoditas utama pada program revitalisasi perkebunan Provinsi Maluku dan merupakan tanaman asli daerah. Di tahun 2005 produksi pala rakyat 1998 ton pada luas lahan 1948 Ha, sedangkan perusahaan perkebunan menghasilkan 2357 ton dari luas areal 10.128 Ha, dengan harga biji pada kualitas terbaik Rp 30.000/kg dan fuli Rp 50.000/kg. Dari hasil kajian Agro Ekologi Zona (AEZ) Maluku, luas lahan   yang   masih   tersedia   untuk   pengembangan tanaman perkebunan termasuk pala sebesar 871.656 Ha yang tersebar pada lima kabupaten. Tanaman pala yang ada saat ini bibitnya berasal dari biji sehingga masalah sex ratio untuk menghasilkan buah masih ditemukan. Komposisi tanaman pala rakyat terdiri dari (1) Tanaman  Belum   Menghasilkan (TBM)   sebanyak 27,85%; (2) Tanaman  Menghasilkan  (TM)  44,74%  dan  Tanaman Tua/Rusak (TTR)27,40%. Dalam usaha pengembangan pala,  ketersediaan  teknologi  budidaya  tanaman  dan pasca panen telah ada  di Badan Litbang Pertanian, sedangkan dukungan dana dan kebijakan diharapkan dari  pemerintah  daerah  guna  memulihkan  kondisi tanaman. Di sektor hulu, kebijakan lebih diarahkan kepada peningkatan produktivitas, mutu biji dan fuli pala   melalui   kegiatan   ekstensifikasi,   intensifikasi, rehabilitasi, peremajaan, serta pengendalian hama dan penyakit pala. Sedangkan di sektor hilir, kebijakan lebih  diarahkan  kepada  peningkatan  nilai  tambah dalam   bentuk   hasil   olahan   untuk   industri   dan panganan.   Propinsi   Maluku   terdiri   dari   wilayah kepulauan,  sehingga  strategi  pengembangan  usaha pala untuk kegiatan agribisnis dibagi atas wilayah pengembangan I, II dan III.Kata kunci:  Pala,  Myristica  fragrant,  pengembangan, Maluku. ABSTRACTProspect and Development Strategy of Nutmeg Development In MalukuBanda’s Nutmeg (Myristica fragrant Houtt) is the main commodity of the estate crop revitalization program in Maluku Province, which is native to the region. In year 2005 the total area of the small holder nutmeg crop is about 1948 ha with the total production of about 1998 tons. While the total estate nutmeg crop covers about 10.128 ha with the total production of about 2357 tons. The price of nutmeg seed is about Rp 30.000 / kg and the price of fuli is Rp.50.000 /kg. According to the survey carried out by the BPTP Maluku, the total land which is still available for the development of estate crop including nutmeg is around 871.656 ha, spread over five Regencies (Kabupaten). The existing nutmeg plants is generally come from seedlings, therefore the sex ratio in producing nutmeg fruits is still a major constraint. The composition of small holder nutmeg plantation consists of; (i) Not yet producing (young plants) counts about 27,85% (ii) Productive plants of about 44,74% and (iii) Old plants of about 27,40%. Both cultivation and post harvest technology for nutmeg plantation are available in the Agency for Agriculture Research and Development (Badan Litbang Pertanian). The  regional  authority  should  be  convinced  the necessity of supporting plant rehabilitation in order to produce good quality nutmeg and in turn as the regional income source. In the cultivation sector, the policy is to increase productivity of fruit and fuli quality which is implemented through rehabilitation, intensification, replantation, pests and disease control. In the upstream sector, the policy is directed to improve the added value of post harvest in terms of products for industrial materials and food production. The province of Maluku consists of  several islands, therefore  the  strategy  of  the  nutmeg  agribusiness development is divided into  regional development I, II and III.Key words: Nutmeg, Myristica fragrans, development, Maluku
FENOMENA PENGANGKATAN AIR DAN PROSPEK PENGEMBANGAN BIOIRIGASI PADA PERTANIAN LAHAN KERING DI INDONESIA JOKO PITONO
Perspektif Vol 13, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v13n2.2014.%p

Abstract

ABSTRAKDiperkirakan   pertanian   nasional   ke   depan   akan semakin bertumpu pada lahan suboptimal, mengingat alih fungsi lahan produktif ke sektor di luar pertanian semakin   tidak   terkendali   dengan   laju   konversi mencapai ± 132 ribu ha per tahun. Dari 91,9 juta ha lahan suboptimal nasional sekitar 76,6% berupa lahan kering.  Keterbatasan  air  merupakan  kendala  utama pada pertanian lahan kering, dan kurangnya investasi irigasi  teknis  menyebabkan  sebagian  besar  lahan kering masih menggantungkan pada sumber air hujan. Bioirigasi merupakan alternatif pengelolaan air lahan kering dengan memanfaatkan kemampuan hydraulic lift tanaman tertentu untuk mengangkat air tanah dari lapisan dalam yang lebih lembab dan mengisi ulang air tanah pada lapisan dangkal yang kering. Selanjutnya air  tanah  hasil  pengisian  ulang  di  lapisan  dangkal tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan transpirasi  dan  pertumbuhan,  baik  untuk  tanaman yang melakukan hydraulic lift maupun tanaman sela (cash crops) lain yang ditanam di sekitarnya. Kajian hydraulic lift hingga saat ini masih terbatas pada tataran ekologi, dan untuk menuju langkah implementasinya mendukung   bioirigasi   di   sektor   pertanian   perlu mempertimbangan   aspek   teknis   seperti   pemilihan kombinasi   jenis   tanaman,   arsitektur   pertanaman, keberadaan  air  tanah  dalam,  sifat  fisik  tanah,  dan komponen  penguatan  fungsi  hydraulic  lift.  Tujuan review ini adalah memberikan perspektif penelitian dan   pengembangan   bioirigasi   sebagai   alternatif pengelolaan  air  dan  prospek  pemanfaatannya  pada pertanian lahan kering di Indonesia.Kata kunci: lahan kering, air tanah, bioirigasi, tanaman hydraulic lift  Hydraulic Lift Phenomenon and Prospects of Bioirrigation Development in Dryland Farming in Indonesia ABSTRACTIt  is  estimated  that  the  national  agriculture  in  the future will increasingly rely on suboptimal land, given the  productive  land  conversion  to  non-agricultural sector is increasingly out of control with the conversion rate to ± 132 thousand hectares per year. Of the 91.9 million ha of national suboptimal around 76.6% in the form  of  dry  land.  Limitations  of  water  is a  major constraint on the dry land agriculture, and lack of technical irrigation investments led to most of the dry land still dependent on rain water source. Bioirrigation is  an  alternative  dry  land  water  management  by utilizing the ability of certain plant hydraulic lift to lift water from the soil layers in the more humid and recharge    groundwater    at    dry    shallow    layer. Furthermore, the results of recharging groundwater in the shallow layers can be used to meet the needs of transpiration  and  growth,  both  for  plants  that  do hydraulic lifts and intercrops (cash crops) that planted in the vicinity. Study of hydraulic lift is still limited at the   level   of   ecology,   and   for   leading   the implementation  in  the  agricultural  sector  need  to consider the technical aspects such as the selection of a combination of the type of crop, crop architecture, the presence of water in the soil, soil physical properties, and  strengthening  the  function  of  hydraulic  lift components. The purpose of this review is to provide an alternative perspective of research and development on bioirrigation as water management and utilization prospects in dryland farming in Indonesia.Key word: dry land, soil water, bioirrigation, hydraulic lift crops
Rekomendasi Waktu Tanam Kapas di Lahan Tadah Hujan PRIMA DIARINI RIAJAYA
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKPenanaman kapas di lahan tadah hujan membutuhkan perkiraan  waktu  tanam  yang  tepat  agar  tanaman mendapatkan   suplai   air   yang   cukup   selama pertumbuhannya.  Rekomendasi waktu tanam kapas di daerah tadah hujan Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, dan Nusa Tenggara Barat telah ditetapkan berdasarkan analisis data curah hujan lebih dari 20 tahun dengan metode peluang Markov Order Pertama   dan   perhitungan   peluang   selang   kering berturut-turut.    Rekomendasi  waktu  tanam  dalam minggu  tanam  paling  lambat (MPL)  di  Sulawesi Selatan yaitu di Kabupaten Jeneponto, Takalar dan sebagian besar Gowa berkisar minggu I-IV Desember. Sedangkan di Kabupaten Soppeng dan Wajo berkisar minggu III Februari sampai minggu III Maret.  Di Bone dan  Bulukumba  MPL  berkisar  minggu  III  Maret sampai minggu III April.  MPL di Jawa Timur yaitu di Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Jember dan Banyuwangi berkisar minggu I-IV Desember, dan di kabupaten Lumajang berkisar minggu I Januari, kemudian di Kabupaten Lamongan, Mojokerto dan Tuban berkisar minggu II Desember sampai minggu I Januari.  MPL di Jawa Tengah meliputi Kabupaten Grobogan dan Wonogiri berkisar minggu I Desember sampai   minggu   I   Januari   sedangkan   di   Blora, Pemalang,  Tegal  dan  Brebes  adalah  minggu  I-IV Januari.    MPL  di  Nusa  Tenggara  Barat  yaitu  di sebagian   besar   Lombok   dan   Sumbawa   berkisar minggu I-II Desember.  Tipe iklim di wilayah tersebut didominasi oleh tipe iklim D dan E dengan musim hujan hanya 3-4 bulan sehingga mempunyai resiko tinggi   terhadap   kekeringan.   Untuk   meningkatkan produktivitas kapas di lahan kering maka tambahan air   irigasi   mutlak   diperlukan   untuk   mengatasi kekurangan air atau kekeringan.Kata kunci: Gossypium hirsutum, waktu tanam, periode kering ABSTRACTRecommendation on Rainfed Cotton Planting TimesRecommendation on cotton planting time is needed as cotton is mostly grown under rainfed condition.  The right   planting   times   were   determined   for   South Sulawesi, East Java, Central Java, DIY, and West Nusa Tenggara. The rainfall analysis was done based on more than 20 years daily rainfall data using Markov Chain First Order Probability and dry spell probability method. The planting times in South Sulawesi varied from the first week to the forth week of December for Jeneponto, Takalar and Mostly Gowa. The planting times in Soppeng and Wajo were ranged from the third week  of  February  to  the  third  week  of  March. Moreover,   cotton   planting   times   in   Bone   and Bulukumba were ranged from the third week of March to the third week of April. The planting times in East Java varied from the first week to the forth week of December   for   Pasuruan,   Probolinggo,   Situbondo, Jember   and   Banyuwangi.   The   planting   times   in Lumajang, Lamongan, Mojokerto and Tuban ranged from mid December to early January.  The planting times in Central Java varied from the first week of December to the first week of January for Grobogan and Wonogiri.  The planting times in Blora, Pemalang, Tegal and Brebes  were ranged from early to late January. The planting times in West Nusa Tenggara varied from the first week to the second week of December for most areas of Lombok and Sumbawa. Lack of water or drought in  rainfed cotton growing areas  is  a  regular  phenomenon  since  cotton  is developed in the dry areas (climate classification D and E) to which rainfall only lasts three to four months. Irrigation water is highly needed in rainfed areas to meet the crop water need especially when lack of water or drought occurs.Key words: Gossypium hirsutum, planting time, dry spell
Budidaya Peremajaan Tebang Bertahap pada Usahatani Polikultur Kelapa MALIANGKAY RONNY BENHDARD
Perspektif Vol 4, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v4n1.2005.%p

Abstract

ABSTRAKLuas pertanaman dan produksi kelapa Indonesia tercatat 3,7 juta ha dengan produktivitas yang masih rendah yaitu 1,1 ton kopra/ha/tahun. Tingkat produktivitas kelapa yang rendah tersebut merupakan akibat dari 50% tanaman kelapa telah berumur diatas 50 tahun.  Selain itu, sebagian besar tanaman kelapa diusahakan dengan pola monokultur dan bersifat subsisten. Berdasarkan kondisi tersebut, telah dilaksanakan penelitian metode peremajaan kelapa secara terencana di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman  Kelapa  dan  Palma Lain,  Sulawesi Utara. Pada tahun 1978 dilakukan penelitian metode peremajaan kelapa tebang bertahap (pola monokultur). Hasil   penelitian   menunjukkan   bahwa   peremajaan dengan penebangan kelapa tua sebesar 20% tiap tahun adalah cara yang terbaik.  Kemudian mulai tahun 1985, 1988 dan 1995 dilakukan berbagai penelitian perema-jaan dengan pola campuran dan merubah jarak dan sistem tanam kelapa yang biasa digunakan.  Dari hasil-hasil yang diperoleh ternyata pilihan yang paling baik adalah peremajaan tebang bertahap 20% tiap tahun dengan pola usahatani  campuran  dan  jarak tanam kelapa pengganti menjadi 6 x 16 m.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucifera, polikultur, pene- bangan  bertahap,  tanaman  sela,  jarak tanam. ABSTRACTGradual cutting technigue on polyculture coconut farming systemThe coconut area in Indonesia is around 3,7 million ha, but the productivity is low 1,1 tons of copra equivalent per ha per year.  The low productivity is  caused by the coconut palm age, more than 50% of coconut palms are above 50 years old and the planting system is still monoculture.  To solve this problem a good planning of coconut  replanting  method  was  implemented  in ICOPRI   experimental   garden.   Coconut   replanting method through gradual cutting of old coconut palms in monoculture planting system was done in 1978.  The result showed that coconut replanting through annual cutting of 20% of old coconut palms was the best.  The improvement of coconut replanting method with other planting system by considering the planting space and polyculture system were conducted in 1985, 1988 and 1995. Research results indicated that coconut replanting method through annual cutting of 20% of old coconut palms, polyculture farming system, and planting space 6 x 16 m was technically the best choice.Key  word  :  Coconut,  Cocos  nucifera,  polyculture, gradual  cutting, intercrops,  plant spacing.
Ekstrak Biji Mimba Sebagai Pestisida Nabati: Potensi, Kendala, dan Strategi Pengembangannya SUBIYAKTO SUBIYAKTO
Perspektif Vol 8, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v8n2.2009.%p

Abstract

ABSTRAKMahalnya harga pestisida kimia dan dampak negatif penggunaan pestisida kimia  merupakan masalah penting dalam pengendalian hama tanaman. Oleh karena itu perlu dicari pestisida alternatif untuk mensubstiusi pestisida kimia. Pestisida alternatif tersebut harus efektif, mengurangi pencemaran lingkungan, dan harganya relatif murah. Pestisida nabati  seperti Ekstrak Biji Mimba (EBM) dapat digunakan sebagai  alternatif.  EBM dapat berperan sebagai larvisida dan ovisida, menghambat perkembangan  larva,  memperpendek  umur  imago, dan mengurangi fekunditas. EBM sudah dicobakan antara lain untuk mengendalikan hama pada tanaman kapas, tembakau, kedelai, jeruk, dan sayuran. EBM menyebabkan kematian pada ulat jarak Achaea janata 78,9-100%. EBM yang dikombinasikan dengan biopestisida Helicovera armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV) untuk mengendalikan  ulat  kapas Helicoverpa sp dapat mengurangi biaya pengendalian hama sampai 63,4%. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan EBM adalah daya bunuhnya lambat, berbeda dengan pestisida    kimia.    Strategi pengembangan pestisida nabati ke depan adalah perlu sosialisasi penggunaan pestisida nabati EBM kepada petani melalui Sekolah Lapang.Kata kunci: Azadirachta indica L., ekstrak biji mimba, pestisida nabati, poten-si, kendala, strategi pengembangan. ABSTRACTNeem  Seed  Extract  as  a  Botanicals  Pesticide: Potency, Problem, and Strategy for  Its Develop-mentA hight cost  of pesticide and effect of chemical pesticide are the main problems  in pest control. Alternative pesticide should be found to substitute chemical pesticide. It is should be effective, reducing polution, and economic. The use of botanicals pesticide with a extraction method for production might be an alternative method. Based on this study, Neem Seed Extract (NSE) can be used as botanicals pesticide. NSE acted as a larvicide and an ovicide. NSE acted as a larvicide that delayed larval development, shorthened adult longivity, and decreased fecundity. NSE acted as an ovicide that decreased precentage of eggs hatching. NSE caused motality for castor oil worm Achaea janata 78.9-100%.  NSE  can  be  combined  with  Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV) and  can reduce cost of pest control until 63.4%.  NSE had been used by stakeholders and they interested to using it. The strategy of botanicals pestiscide development can be done by Farmer Field School.Key words: Azadirachta indica L., Neem Seed Extract, botanicals pesticide, potency, problem, strategic for development
Upaya Pengendalian Hama Sexava spp. Secara Terpadu MICHELLIA DARWIS
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKSexava   spp  (Orthoptera:  Tettigonidae)  terdiri  dari beberapa   spesies,   merupakan   hama   utama   pada tanaman   kelapa.   Serangan   berat   hama   Sexava menyebabkan  pelepah  daun  menjadi  gundul  dan mematikan kelapa. Masalah hama Sexava spp kembali menarik perhatian melalui berita di media masa yang menyatakan   outbreak   serangan   Sexava   spp   pada Triwulan I tahun 2004  menimbulkan 13.000 ha areal kelapa   rusak   berat   di   Kabupaten   Sangihe   dan Kabupaten  Talaud.  Produktivitas  kelapa  menurun drastis 50%   lebih   dengan   rataan 0,4 -0,5   ton kopra/ha/th.  Teknologi pengendalian sudah cukup tersedia,  dan  secara  teoritis  peluang  hidup  hama Sexava spp hanya 14%, sisanya 86% sudah terkendali dengan   sendirinya.   Masih   terjadinya   outbreak serangan hama Sexava spp memberi gambaran bahwa keseimbangan   padat   populasi   dengan   berbagai komponen   pengendalian   belum   dapat   mengatasi serangan Sexava spp. Komponen pengendalian yang dapat   dilakukan   adalah   kultur   teknis,   mekanis, penggunaan   tanaman   sela,   pemanfaatan   agensia hayati, peraturan karantina, dan insektisida. Upaya pengendalian yang relatif baru dikembangkan adalah pemanfaatan agensia hayati cendawan entomophatogen ‘’Metabron’’ (Metarrhizium yang diisolasi dari Brontispa). Salah satu keuntungan agensia hayati adalah  dapat  berkembang  biak  dengan  sendirinya, persisten  dalam  waktu  yang  lama  pada  keadaan lingkungan yang kondusif. Diharapkan peranannya bukan hanya sebagai ‘’biological control’’ tetapi juga menjadi senjata biologi atau ‘’biological weapons’’, yang dapat   mencegah   outbreak   serangan Sexava  spp. Tingkat mortalitas yang disebabkan oleh Metabron sangat tinggi, dengan konsentrasi 5 x 105 konidia/µl efektif menyebabkan mortalitas sebesar 90,25% nimfa, dan   86,26% imago Sexava spp. Dalam upaya pengendalian hama Sexava spp, sebaiknya memanfaatkan semua komponen teknologi yang tersedia dan mengacu  pada  sistem  pengendalian hama  secara terpadu. Hasil kerja sama Balitka dengan COGENT, tiga  komponen teknologi yaitu; pemanfaatan benih unggul,   diversifikasi   produk, serta   pemanfaatan tanaman   sela   dan   ternak,  dapat meningkatkan pendapatan  dan  kesejahteraan  petani.  Untuk  mencegah outbreak hama Sexava spp., ketiga  komponen pengendalian  tersebut  dapat  diintegrasikan  dengan komponen pengendalian lainnya yang sudah tersedia, melalui  kerjasama dengan instansi lainnya.Kata Kunci: Kelapa, Cocos nucifera, hama, Sexava spp, outbreak, pengendalian terpadu. ABSTRACTControlling Sexava spp through integrated pest managementSexava spp consists of several species, is a major pest of coconut palm. Heavy infestation of this pest may cause serious damage on coconut leaves, and may kill the trees. It was reported that in the districts of Sangihe and Talaud, North Sulawesi, on the first quarter of 2004, approximately 13.000 ha of coconut farms were seriously attacked by Sexava spp. The productivity of small holders coconut farm decreased up to 0.4 - 0.5 ton  copra/ha/year.  Several  programs  to  control Sexava  were  carried out and the technology to control Sexava is available. Theoritically the life probability of Sexava spp  is only 14%, approximately 86% can be controlled automatically. To control Sexava spp., six methods have been introduced, namely : cultivation technology,    mechanical    system,    intercropping, biological control, quarantine system and insecticide application. The newest inovation on biological control was    using    entomophatogen    fungus    called; ‘’Metabron’’ (Metarrhizium isolated from Bronstispa). It is effective to control Sexava spp on coconut. One of the benefits   of   this   biological   agent   was   it   could automatically   and   continuously   grow   in   a   long periode,   in   a   good   treatment   and   condusive circumstance. Hopefully, the role of  Metabron was not only  as  biological  control,  but  also  as  biological weapon against Sexava spp pest. The mortality caused by Metabron was very high. At the concentration of 5 X 105  conidium/µl, effective  it was effective to cause 90,25% nymph mortality and 86,25% imago mortality. On the program of Sexava spp management all of technology   components   should   be   practiced   and suitable with integrated pest management system. In the joint program between Coconut Research Institute and  COGENT,  three  component  technologies  were applied, namely the use of resistant variety, product diversification, and intercrops plus animal husbandry. It was found that the treatments were able to increase farmers’ income and prosperity significantly. To solve the problem of Sexava spp in small holder coconut farms in Sangihe and Talaud, those three components should   be   integrated   with   other   components mentioned above. The intensive coordination amongst related institutions  are needed to make the program effetive and useful.Key Word: Coconut, Cocos nucifera L., pest,  Sexava spp, outbreak, integrated pest management.
Pengelolaan Perbenihan Nilam Untuk Mencegah Penyebaran Penyakit Budok (Synchytrium pogostemonis) WAHYUNO WAHYUNO
Perspektif Vol 9, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v9n1.2010.%p

Abstract

ABSTRAKTanaman nilam (Pogostemon cablin) adalah tanaman penghasil minyak patchouli yang banyak diperlukan dalam industri parfum. Indonesia merupakan negara penghasil minyak nilam terbesar di dunia.  Tanaman nilam telah tersebar luas di 12 propinsi di Indonesia, dengan  penghasil  utama  propinsi  Nanggroe  Aceh Darusalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tanaman nilam bukan tanaman asli Indonesia, jarang membentuk bunga, dan keragaman genetik yang ada di Indonesia sempit.  Perbanyakan secara vegetatif dengan menggunakan setek pucuk atau setek batang merupakan cara perbanyakan nilam yang utama di Indonesia.  Kekeringan dan gangguan OPT merupakan kendala  yang  banyak  dijumpai  di  sentra  produksi nilam. Akhir-akhir ini penyakit budok yang disebabkan oleh cendawan Synchytrium pogostemonis banyak ditemukan di sentra produksi  nilam di Indonesia. Usaha untuk mengembangkan teknologi pengendalian terhadap S. pogostemonis sedang dilakukan dalam dua tahun terakhir ini. Karakteristik S.  pogostemonis  yang  mempunyai  struktur  bertahan yang kuat dan mudah tersebar melalui benih nilam menjadi perhatian dalam usaha menekan kehilangan hasil  akibat  serangan  S. pogostemonis. Pengelolaan perbenihan yang tepat merupakan cara yang paling efektif untuk menekan penyebaran S. pogostemonis  dan pencemaran  ke  daerah  penanaman  nilam  lainnya, diikuti dengan sertifikasi perbenihan dan pemantauan lalulintas benih.Kata kunci: Penyakit budok, Pogostemon cablin,Synchytrium pogostemonis, perbenihan, penyebaran ABSTRACTNursery Management of Patchouli for Inhibit Synchytrium pogostemonis DistributionPatchouli (Pogostemon cablin) is important patchouli oil producing  plant  that  mostly  needed  for  parfume industries. Indonesia is the bigest patcholi oil producing country. The plant is widely cultivated in Indonesia over 12 provincies, with the main producer areas  mainly  in  Nanggroe  Aceh  Darusalam,  North Sumatera, West Sumatera, Bengkulu, West Java and Central Java.  The patchouli is not Indonesia origin, and sexual reproduction structure is rarely formed in Indonesia.   Therefore   the   genetic   diversity   of   the patchouli in Indonesia is narrow. Young vein cutting and  stem  cutting  are  common  mass  propagation method for this plant in Indonesia. Drought and the occurennce of insect pests and diseases are the main constraint   in   patchouli   cultivation   in   Indonesia. Recently,   a   disease   namely   budok   caused   by Synchytrium  pogostemonis  an  obligate  plant  parasite fungus  is  reported  widely  distributed  in  patchouli cultivation centre areas in Indonesia. Attempts to find effective control measures of the disease has just been conducted in the last two years. Thus only limited informations on the fungus has been obtained up to present. The fungus has winter spore state that leads the fungus organ persist in the soil, and still viable for a long period. The existence of the winter spore should be  main  focus  in  reducing  yield  lost  due  to  S. pogostemonis infection. Proper in seedling preparation and handling are considered the best way to inhibit S. pogostemonis  distribution  and  contaminating  budok disease   free   areas.   Improvement   in   pogostemon seedling   preparation   procedure,   and   statutory   in seedlings transportation are considered the best way to delimit of budok disease impact in the present time; then  followed  by  seedling  certification,  and  stricly quarantine monitoring also supose to be intensively carried out immediately.Keywords:  Wart  disease,  Pogostemon  cablin,  Synchy-trium pogostemonis, nursery, spreading
Bahan Bakar Nabati Asal Tanaman Perkebunan Sebagai Alternatif Pengganti Minyak Tanah Untuk Rumah Tangga BAMBANG PRASTOWO
Perspektif Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n1.2007.%p

Abstract

RINGKASANDi  antara  masalah  yang  berkenaan  dengan  energi nasional antara lain adanya kecenderungan konsumsi energi fosil yang semakin besar, energi mix yang masih timpang,  dan  harga  minyak dunia yang tidak menentu. Ketimpangan energi mix adalah terjadinya penggunaan  salah  satu  jenis  energi  yang  terlalu dominan, yaitu penggunaan minyak bumi sebesar 54,4 %. Ketimpangan energi mix dan penggunaan energi yang  masih  boros  mengakibatkan  beban  nasional semakin berat. Khusus untuk minyak tanah, subsidi pemerintah  khusus  masih  mencapai  sekitar 34,51 triliun rupiah. Oleh karena itu, perlu upaya-upaya lain, di  antaranya adalah penggunaan bahan bakar nabati (BBN), untuk mengurangi subsidi, sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat bawah berupa pengganti minyak tanah. Bahan bakar nabati (BBN) adalah semua bahan bakar yang berasal dari minyak nabati, dan dapat berupa biodiesel, bioetanol, bio-oil (minyak  nabati  murni).  Minyak murni umumnya dapat digunakan untuk pengganti minyak tanah dan sejenisnya, melalui peralatan atau kompor khusus. Penggunaan langsung minyak murni maksudnya adalah penggunaan minyak hasil tanaman (pure plant oil atau crude oil) tanpa perlu proses transesterifikasi yang memerlukan tambahan bahan dan biaya. Jika tujuannya adalah membantu masyarakat kelas rendah pengguna minyak tanah, maka minyak murni menjadi pilihan. Menurut sifatnya, maka minyak murni harus dalam bentuk kabut atau uap agar dapat terbakar secara baik, sehuingga harus mendapat tekanan yang cukup   sebelum   pembakaran,   dan   minyak   dapat terbakar secara baik. Hal ini memerlukan kompor yang memiliki tabung bertekanan cukup (sekitar 2 - 3 bar). Kompor semacam ini sudah banyak digunakan oleh para penjual jajanan atau kaki lima, tetapi biasanya menggunakan minyak tanah, dan masih harus dimodifikasi agar dapat digunakan untuk BBN dalam bentuk minyak murni. Uji coba awal jenis baru kompor bertekanan di Indonesia maupun di beberapa negara lain  terbukti berhasil baik sehingga perlu segera dituntaskan penelitiannya dan diformulasikan, agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Fabrikasi kompor tersebut di daerah-daerah dengan menggunakan bahan lokal akan membuka kesempatan kerja serta kesempatan berusaha bagi masyarakat di daerah.  Tanaman  kelapa  dan  jarak  pagar  sebagai tanaman penghasil bahan bakar nabati, potensinya lebih baik dibandingkan jenis tanaman perkebunan lainnya, terutama penggunaan minyak murninya sebagai pengganti minyak tanah dengan memanfaatkan kompor bertekanan yang sesuai.Kata kunci : Bahan bakar nabati, pengganti minyak tanah rumah tangga, kompor bertekanan ABSTRACTEstate Crops Origin Of Biological Fuel As An Alternative Of Kerosene For Household Amongst the problems of national energy, are the trend of increasing fossil energy consumption, unbalance of mix energy, and uncertaint world oil price. Unbalance of mix energy and the wasteful use of energy  consumption,  caused  national  responsibility increased. Especially for kerosene, government subsidy reach to 34.51 trillion rupiahs. To reduce government subsidy and to fulfil necessity of low community at once, therefore, another efforts are needed. Biological fuel  is  all  fuel  that  originated  from  botanical  oil, namely  biodiesel,  bioetanol  or  bio-oil (pure  oil). Generally, pure oil can be used as an alternative of kerosene or others through special equipment (special stove). Direct use of pure oil is the use of crude oil (pure plat oil), without any transesterification proses and additional budget. In order to get proper ignition, pure plant oil must be in the form of mist or vapour. The equipment (stove) with enough pressure (approx. 2-3 bar), therefore is needed. In Indonesia and other countries, the experiment of stove with pressure were successful, and need to be formulated to be used by community.  Stove fabrication in the district (territory areas) by using of local material, will open a job opportunity, as well as the opportunity of community to do a business in the districs. As fuel producing plants, coconut (Cococ nucifera) and Jatropha curcas  are more potential than those of other estate crops.Key words : Biological fuel, kerosene, pure plant oil, stove pressured

Page 3 of 21 | Total Record : 203