cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 5,629 Documents
URGENSI RАTIFIKАSI PROTOKOL MONTREАL 2014 TENTАNG PELАNGGАRАN DАN TINDАKАN LАINNYА YАNG DILАKUKАN DI PESАWАT UDАRА BАGI PENERBАNGАN INDONESIА Sandy Isbriantono
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2019
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sаndy Isbriаntono, Hukum Internаsionаl, Fаkultаs Hukum Universitаs Brаwijаyа, Dr. Аdi Kusumаningrum, SH, MH., Dony Аdityа Prаsetyo, SH, M.H. Unruly pаssаnger ( penumpаng destruktif ) аdаlаh istilаh yаng digunаkаn untuk penumpаng yаng melаkukаn pelаnggаrаn di pesаwаt udаrа meliputi : аncаmаn аtаu serаngаn fisik аtаu ketidаkpаtuhаn terhаdаp intruksi dаlаm penerbаngаn, tindаkаn tersebut mempunyаi dаmpаk yаng proposionаl terhаdаp kenyаmаnаn, keаmаnаn dаn keselаmаtаn penerbаngаn. Pelаnggаrаn ini аwаlnyа diаtur dаlаm konvensi tokyo 1963 tentаng pelаnggаrаn dаn tindаkаn lаinnyа yаng dilаkukаn di pesаwаt udаrа. Dewаsа ini terdаpаt mаsаlаh pаdа penerаpаn аturаn tersebut, khususnyа dаlаm hаl yurisdiksi. Untuk itu pаdа tаnggаl 4 аpril 2014 telаh disepаkаti Protokol Montreаl 2014 sebаgаi аmаndemen Konvensi Tokyo 1963. Penelitiаn ini аkаn fokus pаdа urgensi rаtifikаsi Protokol Montreаl 2014 tentаng pelаnggаrаn dаn tindаkаn lаinnyа yаng dilаkukаn di pesаwаt udаrа. Hаl ini dilаtаr belаkаngi oleh bаnyаknyа kаsus Unruly Pаssаnger di Indonesiа yаng diаntаrаnyа tidаk terselesаikаn kаrenа mаsаlаh yurisdiksi. Skripsi ini mengаngkаt rumusаn mаsаlаh sebаgаi berikut : (1) Аpа isi аmаndemen konvensi tokyo tentаng pelаnggаrаn dаn tindаkаn lаinnyа yаng dilаkukаn di pesаwаt udаrа menjаdi protokol montreаl 2014. (2) Аpаkаh urgensi rаtifikаsi protokol montreаl 2014 tentаng Pelаnggаrаn dаn Tindаkаn lаinnyа yаng dilаkukаn di pesаwаt bаgi penerbаngаn indonesiа. Аnаlisis skripsi ini, menggunаkаn metode yuridis normаtif dengаn pendekаtаn perаturаn hukum tertulis (stаtute аpproаch), dаn pendekаtаn kаsus (cаse аpproаch). Bаhаn hukum primer, bаhаn hukum sekunder dаn bаhаn hukum tersier penulis аnаlisis menggunаkаn metode interpretаsi grаmаtikаl yаitu, dengаn cаrа mengаnаlisа inti dаri konvensi-konvensi internаsionаl. Hаsil dаri penelitiаn penulis menemukаn bаhwа jаwаbаn аtаs keduа rumusаn mаsаlаh аdаlаh, Аmаndemen dаri konvensi tokyo 1963 menjаdi protokol montreаl 2014 merubаh beberаpа ketentuаn tentаng Unruly Pаssаnger sehinggа selаnjutnyа penumpаng destruktif tidаk dаpаt bebаs dаri jerаt hukum terutаmа dаlаm hаl yurisdiksi dаn rаtifikаsi Protokol Montreаl 2014 bаgi penerbаngаn Indonesiа sаngаt penting gunа menutup mаsаlаh yurisdiksi dаlаm penerаpаn Konvensi Tokyo 1963 yаng mаnа negаrа indonesiа mаsih berpedomаn pаdа аturаn Konvensi Tokyo 1963. KATA KUNCI : Ratifikasi Protokol Montreal 2014 Unruly passenger is the term to describe a passenger breaking the rule on aircraft, involving threat and physical assault or disobedience to flight instruction given, all of which threaten the comfort, security, and safety on board. Those offenses were formerly regulated in Tokyo Convention 1963 concerning offenses and other acts committed on board the plane, and there has been an issue over the implementation of the regulation, especially in terms of jurisdiction. Therefore, Montreal Protocol 2014 was agreed and approved as an amendment of Tokyo Convention 1963. This research is mainly focused on the urgency to ratification of Montreal Protocol 2014 concerning offenses and other forms of act committed on board the plane. This research departs from growing number of cases over unruly passengers in Indonesia in which most of the cases remain unsettled due to jurisdictional issues. The research problems presented involve: (1) what is the substance of Tokyo Convention concerning violation and other acts committed on board the plan amended to Montreal Protocol 2014, (2) what is the urgency to ratification of Montreal Protocol 2014 concerning violation and other acts committed on board the plane for aviation in Indonesia. The analysis in this research was based on normative juridical method along with statute and case approaches, while the data taken involved primary, secondary, and tertiary legal materials through grammatical interpretation in which the gist of the international convention was analysed. In reference to the second research problem, the amendment from Tokyo Convention 1963 to Montreal Protocol 2014 has also brought changes in the provisions of the term Unruly Passenger, implying that the passengers violating regulation must be punished in terms of jurisdiction, and the ratification of Montreal Protocol 2014 for aviation in Indonesia is essential to settle jurisdictional issues regarding the implementation of Tokyo Convention 1963 as Indonesia still complies with Tokyo Convection 1963. KEYWORDS : Ratification of Montreal Protocol 2014 
PERAN BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DALAM PENGAWASAN PELAKSANAAN DANA DESA (Studi di Desa Dawuhan Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang ) Sapta Imtinan Akmal
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2019
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sapta Imtinan Akmal, Dr. Aan Eko Widiarto SH.MHum dan Ibnu Sam Widodo, SH.MH ABSTRAK Badan Permusyawaratan Desa merupakan salah satu amanah dari hadirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.Salah satu fungsi dari lembaga ini adalah mengawasi kinerja pemerintahan desa. Terlebih lagi, dengan hadirnya rezim dana desa, peran Badan Pengawasan Desa  dalam pengawasan dana desa pun bisa dibilang merupakan sesuatu yang sangat perlu, mengingat semakin gencarnya kasus korupsi dana desa yang melibatkan kepala desa. Peran BPD dalam pengawasan dana desa pun juga dapat mendatangkan stimulus yang bagus bagi perkembangan desa, salah satunya adalah Desa Dawuhan, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang mana berkat peran BPD terhadap pengawasan dana desa yang bagus, membuat desa ini meninggalkan status tertinggal menjadi desa yang berkembang. Kata Kunci:Badan Permusyawaratan Desa, Dana Desa, Otonomi Desa, Desa ABSTRACT Village Representatives council was formed as mandated in Act Number 6 of 2014 concerning Village, in which the council is aimed to supervise the performance of village government staff. More importantly, with the existence of village budget regime, the supervisory role of the council is considered highly important, recalling that the corruption cases involving village heads are on the rise. The role of the council also positively stimulates villages to develop for the better. Dawuhan village in the District of Poncokusumo, the Regency of Malang, for example, has successfully switched from underdeveloped village to developed one due to the interference of village Representatives Council on supervision of village budget allocation. Keywords: village representatives council, village budget, village autonomy, village
EFEKTIVITAS PENGAWASAN TERHADAP KEPEMILIKAN IKAN BERBAHAYA (Studi di Dinas Perikanan Kabupaten Malang) Stefani Tri Destyanti
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2019
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stefani Tri Destyanti, Lutfi Effendi, SH.,M.Hum, Nurdin, SH,M.HUm Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya Malang Jalan MT.Haryono No.169 Malang, Jawa Timur Email : stefanidestyanti@gmail.com   Abstract Releasing Arapaima, categorised as dangerous fish, into rivers scattered in East Java could give negative impact to the environment. At this level, the interference of the government is required to avoid it from happening again. This research was conducted based on empirical juridical method, leading to a result emphasising that people are less cooperative in this case. Moreover, lack of understanding about related regulation, no regulation that regulates permit regarding possession of dangerous fish, and lengthy and sluggish supervisory process for too wide an area of Malang Regency are also taken as hampering factors in the supervision. Keywords: Effectiviness, supervision, dangerous fish Abstrak Maraknya kasus pelepasliaran Jenis Ikan berbahaya seperti halnya Ikan Arapaima di Sungai-sungai yang berada di Jawa Timur, tentu hal ini berakibat dan berdampak negatef bagi lingkungan khususnya perairan sungai.Pengawasan oleh Pemerintah Daerah sangat  diperlukan untuk mencegah kasus serupa terjadi kembali. Penulisan Penelitian Skripsi ini menggunakan metode yuridis  empiris. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Masyarakat yang kurang ingin berkerjasama, Ketidaktahuan Masyarakat tentang adanya peraturan terkait, Belum adanya pengaturan megenai izin kepemilikan jenis-jenis ikan berbahaya, dan Proses Pengawasan berjalan lama dikarenakan wilayah kabupaten malang sangat luas, dan juga mencakup kota Malang. Kata kunci : Efektivitas, pengawasan, ikan berbahaya
PANCASILA SEBAGAI SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM (Analisis Sejarah Hukum Atas Rezim Reformasi) Aliet Arvitto Putra
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2019
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aliet Arvitto Putra, Dr. Tunggul Anshari S. N. S.H., M.H., Herlin Wijayati S.H.,M.H. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya alietarvittoputra@gmail.com   ABSTRAK Doktrin Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum saat ini dapat ditemukan dalam Pasal 2 UU No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Penjelasan Pasal tersebut menyatakan bahwa penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinea keempat. Doktrin tersebut itu juga bisa ditemukan dalam UU No 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, TAP MPR No III Tahun 2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan, dan TAP MPRS No XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR Mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan Republik Indonesia. Jika Pancasila dinyatakan sebagai sumber dari segala sumber hukum, maka sudah sepatutnya sistem hukum nasional dibangun sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Meskipun secara formal Pancasila diterima sebagai sumber dari segala sumber hukum, bentuk kognisi tentang Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum bisa senantiasa berbeda dalam konteks sosial-politik tertentu. Penelitian ini berupaya menawarkan pembacaan alternatif atas narasi sejarah hukum doktrin Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dalam wacana membangun tertib hukum bercorak nasional yang presedennya mulai ditetapkan pada rezim pemerintahan Orde Baru (1966–1998) dan relevansinya pada rezim Reformasi (1998-2004) dengan menekankan pada aspek penalaran hukum tertentu. Penelitian ihwal sejarah perkembangan hukum di Indonesia ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan undang-undang, pendekatan sejarah, dan pendekatan konseptual. Bahan hukum yang berhubungan dengan masalah yang diteliti diperoleh melalui penulusuran kepustakaan yang mengandung pendapat para ahli. Bahan-bahan hukum yang telah diperoleh disajikan dalam penulisan narasi sesuai dengan lini masa sejarah guna menjawab isu hukum yang telah dirumuskan secara sistematis. Kata Kunci: Pancasila, sumber hukum, rezim Reformasi   ABSTRACT The doctrine highlighting that Indonesian Five Principles (Pancasila) as the sources of all legal sources is stated in Article 2 of Act Number 12 of 2011 concerning Formation of Legislation. Pancasilaas the sources of all legal sources is relevant to the Preambule of 1945 Constitution of Indonesia Paragraph 4. This doctrine can also be found in Act Number 10 of 2004 concerning Formation of Regulations and Laws, Decree of People’s Consultative Assembly Numner 3 of 2000 concerning Legal Source and Order of Regulations and Laws of Indonesia. When Pancasilais said to be the source of all legal sources, it is the standard that the system of national law is established based on values of Pancasila. Despite the fact that Pancasila is accepted as the core referensi for all legal sources, the form of cognition of Pancasila as the core source of law can be varied in particular socio-political contexts. This reseach is aimed to offer an option over history of law in the doctrine of Pancasila as the core source of law in Indonesia concerning projection of building national legal order whose precedence was implemented in the regime of New Order Government (1966-1998) and its relevance in the regime of reform (1998-2004) by emphasizing particular aspect of law. The research on history of development of law in Indonesia was based on normative legal method supported by statute, historical. And conceptual approaches. The legal materials needed for the answer to the legal issue that was systematically formulated. Keywords: Pancasila, legal sources, Reforms regime
AKIBAT HUKUM ATAS PERBEDAAN JANGKA WAKTU DALAM PEROLEHAN LISENSI MARCHANDISE KARAKTER ANIMASI SEBAGAI OBJEK PERLINDUNGAN HAK CIPTA (Studi Perbandingan Hukum Hak Cipta Indonesia dan Hukum Hak Cipta Amerika) Nina Jenira Sinthya
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2019
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nina Jenira Sinthya, Afifah Kusumadara,S.H.L.LM.SJD., Diah Pawestri Maharani, S.H., M.H. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ninajeniraa@gmail.com   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akibat hukum terhadap pencipta atau pemegang hak cipta yang ciptaannya dikomersialisasikan di negara lain yang berbeda jangka waktu perlindungan hak ciptanya serta mengetahui bagaimana perolehan lisensi animasi sebagai objek perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Meskipun karakter animasi telah diakui dan dilindungi oleh perjanjian internasional, namun dalam kenyataan nya masih terdapat beberapa kendala dalam perbedaan jangka waktu perlindungan terhadap karakter animasi hak cipta. Jenis penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, meggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan perbandingan. Penelusuran bahan hukum digunakan dengan studi kepustakaan dan akses internet. Kemudian dianalisis dengan menggunakan metode penelitian yang bersifat analisa deskriptif menggunakan interpretasi gramatikal dan analisis untuk menjawab permasalahan yang menjadi fokus penelitian. Teknik analisis data deskriptif yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian, sehingga dapat menganalisa permasalahan di masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa akibat hukum yang terjadi apabila terdapat perbedaan jangka waktu perlindungan antara negara pemegang Hak Cipta karakter animasi dengan negara produsen merchandise adalah pengalihan lisensi dan royalty. seperti melakukan pengawasan terhadap objek lisensi, atau memperjanjikan unsur anti-kompetisi pada penggunaan tokoh karakter animasi. Kata Kunci: Lisensi, Karakter Animasi, Hak Cipta, Akibat Hukum   ABSTRACT This study aims to determine the legal consequences of the creator or copyright holder whose creation was commercialized in other countries with different periods of copyright protection and to know how to obtain animation licenses as objects of protection of Intellectual Property Rights. Although the character of animation has been recognized and protected by international agreements, in reality there are still some obstacles in the different periods of protection of the copyrighted character animation. The type of research used is normative juridical, using a legislative approach and a comparative approach. Legal material search is used with library studies and internet access. Then analyzed using research methods that are descriptive analysis using grammatical interpretation and analysis to answer the problems that are the focus of research. Descriptive data analysis techniques are used to analyze research data, so they can analyze problems in the community. Based on the results of the study, it is known that the legal consequences that occur when there is a difference in the period of protection between the copyright holders of the animation character and the state of the merchandise producer are the transfer of licenses and royalties. such as supervising license objects, or promising anti-competition elements in the use of animated character figures. Keywords: Licenses, Animated Characters, Copyright, Legal Effects
AKIBAT HUKUM ATAS PERBEDAAN JANGKA WAKTU DALAM PEROLEHAN LISENSI MARCHANDISE KARAKTER ANIMASI SEBAGAI OBJEK PERLINDUNGAN HAK CIPTA (Studi Perbandingan Hukum Hak Cipta Indonesia dan Hukum Hak Cipta Amerika) Nina Jenira Sinthya
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2019
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nina Jenira Sinthya Afifah Kusumadara,S.H.L.LM.SJD., Diah Pawestri Maharani, S.H., M.H. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ninajeniraa@gmail.com   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akibat hukum terhadap pencipta atau pemegang hak cipta yang ciptaannya dikomersialisasikan di negara lain yang berbeda jangka waktu perlindungan hak ciptanya serta mengetahui bagaimana perolehan lisensi animasi sebagai objek perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Meskipun karakter animasi telah diakui dan dilindungi oleh perjanjian internasional, namun dalam kenyataan nya masih terdapat beberapa kendala dalam perbedaan jangka waktu perlindungan terhadap karakter animasi hak cipta. Jenis penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, meggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan perbandingan. Penelusuran bahan hukum digunakan dengan studi kepustakaan dan akses internet. Kemudian dianalisis dengan menggunakan metode penelitian yang bersifat analisa deskriptif menggunakan interpretasi gramatikal dan analisis untuk menjawab permasalahan yang menjadi fokus penelitian. Teknik analisis data deskriptif yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian, sehingga dapat menganalisa permasalahan di masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa akibat hukum yang terjadi apabila terdapat perbedaan jangka waktu perlindungan antara negara pemegang Hak Cipta karakter animasi dengan negara produsen merchandise adalah pengalihan lisensi dan royalty. seperti melakukan pengawasan terhadap objek lisensi, atau memperjanjikan unsur anti-kompetisi pada penggunaan tokoh karakter animasi. Kata Kunci: Lisensi, Karakter Animasi, Hak Cipta, Akibat Hukum   ABSTRACT This study aims to determine the legal consequences of the creator or copyright holder whose creation was commercialized in other countries with different periods of copyright protection and to know how to obtain animation licenses as objects of protection of Intellectual Property Rights. Although the character of animation has been recognized and protected by international agreements, in reality there are still some obstacles in the different periods of protection of the copyrighted character animation. The type of research used is normative juridical, using a legislative approach and a comparative approach. Legal material search is used with library studies and internet access. Then analyzed using research methods that are descriptive analysis using grammatical interpretation and analysis to answer the problems that are the focus of research. Descriptive data analysis techniques are used to analyze research data, so they can analyze problems in the community. Based on the results of the study, it is known that the legal consequences that occur when there is a difference in the period of protection between the copyright holders of the animation character and the state of the merchandise producer are the transfer of licenses and royalties. such as supervising license objects, or promising anti-competition elements in the use of animated character figures. Keywords: Licenses, Animated Characters, Copyright, Legal Effects
PENERAPAN PASAL 190 AYAT (4) PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG MANAJEMEN PEGAWAI NEGERI SIPIL DITINJAU DARI ASAS PROFESIONALITAS (Studi Di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Lumajang) Iga Puspita Weni
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2019
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iga Puspita Weni, Luthfi Effendi SH,M.Hum, Dr. Dewi Cahyandari SH,M.H. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Jl. Mt Haryono 169 Malang 65145, Telp. (0341)553898, Fax (0341)566505 Email : iga.puspitaweni08@gmail.com   ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai Penerapan Pasal 190 Ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil Ditinjau Dari Asas Profesionalitas Di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Lumajang. Penerapan peraturan ini dijalankan oleh Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Lumajang dalam melakukan mutasi Pegawai Negeri Sipil yang sesuai dengan kompetensinya serta kendala dan solusi di dalam penerapannya. Ada beberapa tahapan, tentang prosedur mutasi Pegawai Negeri Sipil yang dalam penerapannya terkadang tidak sesuai dengan peraturan yang diterapkan dan tidak sesuai dengan kompetensi Pegawai Negeri Sipil yang dimilikinya, hal ini tentu akan mempengaruhi hasil dari penerapan. Oleh karena itu, saran untuk Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Lumajang berupaya untuk melakukan uji kompetensi tetapi juga belum maksimal. Maka harus adanya pelatihan bagi Pegawai Negeri Sipil yang sudah di mutasi tersebut. Kata Kunci: Mutasi, Kompetensi, Pegawai Negeri Sipil.   ABSTRACT This research discusses the implementation of Article 190 Paragraph (4) of Government Regulation Number 11 of 2017 concerning Civil Servant Management from the Perspective of Professionalism in Local Employment Service in the Regency of Lumajang. The regulation is implemented by the service agency in terms of transferring civil servants along with competence, hampering factors and solution in the implementation. There are several steps of the procedure of staff transfer, and those steps are not always in line with the applied regulation and the competence of the civil servants, and this lack affects the implementation. Therefore, it is essential that the employment service in the Regency of Lumajang hold competence test, where it has been performed but not optimally. When this is the case, training needs to be proposed for the civil servants already transferred. Keywords: transfer, competence, civil servants
PERLUASAN MAKNA PAJAK PENGHASILAN TERHADAP TRANSAKSI JUAL-BELI ONLINE DI MEDIA SOSIAL Widya Jazilatul Faiqoh
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2019
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Widya Jazilatul Faiqoh, Lutfi Effendi, SH., M.Hum., Dr. Tunggul Anshari SN. S.H.M.H. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Widyajazil0@gmail.com  ABSTRAK Pajak merupakan salah satu penerimaan Negara yang sangat penting bagi pelaksanaan dan pembangunan nasional serta bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Perkembangan teknologi informasi sangat beragam, seperti jasa di bidang teknologi informasi dan komunikasi dengan fasilitasnya, dalam ini internet merupakan bagian dari kemajuan teknologi informasi tersebut. Internet dapat memberikan kemudahan dalam berinteraksi tanpa harus berhadapan secara langsung satu sama lain. Sistem penjualan yang mudah saat ini adalah sistem yang berbasiskan pada jaringan internet atau sering disebut dengan Transaksi Online. Bagi para penjual, menerapkan sistem seperti ini berarti memangkas biaya toko bahkan modal pengeluaran yang biasa dikeluarkan, sedangkan bagi para konsumen sistem ini sangatlah membantu sebab konsumen tidak perlu datang langsung ke lokasi untuk membeli barang yang diinginkan, karena barang yang diinginkan akan sampai sendiri di depan pintu pembeli. Dewasa ini, paraktik Bisnis online atau transaksi jual-beli secara online tidak hanya dapat dilakukan melalui Toko online (e-commerce) yang memiliki fasilitas Platform yang disediakan oleh Penyedia Platform Marketplace untuk melakukan perdagangan melalui sistem elektronik (e-commerce), namun dapat pula dilakukan melalui Media Sosial. Bila ditinjau lebih jauh terkait penerapan pajak penghasilan dalam media sosial, terdapat permasalahan hukum yaitu kekosongan regulasi (vacuum of norm) yang mengatur secara khusus terkait penerapan pajak penghasilan dalam media sosial. Pengaturan terkait perpajakan e-commerce khususnya yaitu UU PPh dan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 210/PMK.010/2018 Tentang Perlakuan Perpajakan Atas Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (E-Commerce), sama sekali belum mengakomodir keberadaan pajak penghasilan bagi penjual selaku user di media sosial. Dari latar belakang tersebut penulis menganalisis penerapan pajak penghasilan terhadap transaksi jual-beli di media sosial pada saat ini.Selain menganalisis penerapan pajak penghasilan terhadap transaksi jual-beli di media social penulis bertujuan menemukan batasan pengertian penghasilan dari transaksi jual-beli di media sosial agar dapat menjadi sebuah objek dari pajak penghasilan sesuai dengan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana yang diubah terakhir kali dengan Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Metode penelitian yang penulis gunakan yaitu yuridis normatif, Kajian terhadap pemungutan pajak penghasilan terhadap transaksi jual-beli melalui media sosial untuk objek penelitiannya adalah penghasilan dari penjual selaku user yang melakukan transaksi jual-beli online melalui media sosial. Kata Kunci: Pengaturan, Penerapan Pasal, Pajak Penghasilan, Bisnis Online.   ABSTRACT Tax is state revenue essential for national development and is intended for the welfare and prosperity of the people. Along with the development of information and communication technology, the Internet has given easy access allowing its users to hold transactions. Online transactions have become more common than ever before. It is beneficial for vendors since operational cost is cut and consumers no longer need to pick for the products they buy, but, instead, the goods are delivered right to their doors. These days, online businesses or transactions are no longer restricted to platform given by providers to allow any e-commerce activities, but social media seem to come as an alternative. From the implementation of income tax in social media, there seems to be vacuum of norm that should aimed to specifically regulate implementation of income tax collected from social media. Regulations regarding e-commerce taxation especially Act concerning Income Tax and Regulation of Finance Minister of Indonesia Number 210/PMK.010/2018 concerning Tax collected from Electronic-based System (E-Commerce) do not accommodate the presence of income tax from users of social media. This research is aimed to analyse imposition of income tax on transactions occurring in social media. Moreover, in terms of the tax imposed, the author aims to find out the scope of definition regarding transactions on social media in order to put this as taxable object that complies with Act Number 7 of 1983 concerning Income Tax, amended to Act Number 36 of 2008 concerning Fourth Amendment to Act Number 7 of 1983 concerning Income Tax. Normative juridical method was employed in this research to further study the income earned by vendors as social media users in their online transactions on the media. Keywords: implementation, Article implementation, income tax, online business
PENERAPAN PASAL 22 POJK NO. 19/POJK.03/2014 TENTANG LAYANAN KEUANGAN TANPA KANTOR DALAM RANGKA KEUANGAN INKLUSIF MENGENAI BRANCHLESS BANKING MELALUI SISTEM AGEN DENGAN LAYANAN E-WARUNG KUBE (Studi di E-Warung KUBE PT. BNI46 Cab. Malang Riska Kartika Sari
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2019
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riska Kartika Sari, M. Hamidi Masykur, SH, M.Kn., Dr. Reka Dewantara, SH, M.H. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya kartikasariska@gmail.com  ABSTRAK Pada penelitian ini, penulis mengangkat permasalahan tentang, Penerapan Pasal 22 POJK No. 19/POJK.03/2014 Tentang Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif Mengenai Branchless Banking Melalui Sistem Agen Dengan Layanan E-Warung KUBE. Branchless banking adalah layanan perbankan yang dilakukan di luar kantor bank lewat kerja sama dengan pihak ketiga yang bertindak mewakili bank melalui penggunaan sarana teknologi. Pelaksanaan Branchless Banking yang masih terbilang baru menimbulkan beberapa persoalan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hambatan dan penerapan Pasal 22 POJK Nomor 19/POJK.03/2014 Tentang Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif. Penelitian ini menggunakan beberapa konsep, yaitu branchless banking, BNI, dan E-warung KUBE. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah empiris yuridis dengan menggunakan pendekatan yuridis sosiologis dan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara BNI 46 dengan Agen46 terjadi hubungan kerja sama yang baik sesuai dengan ketentuan Pasal 22 POJK No. 19/03,POJK/2014. Dalam pelaksanaan operasionalnya e-warung KUBE Toko Mulyani juga mengalami beberapa hambatan seperti biaya yang mahal dinilai memberatkan masyarakat. Solusi mengenai hambatan yang terjadi saat keberlangsungan branchless banking diharapkan dapat mewujudkan sistem keuangan inklusif, seperti yang diharapkan Pemerintah. Kata Kunci :Penerapan, Pelaksanaan Pasal, Branchless Banking, E-Warung KUBE   ABSTRACT Branchless banking is part of banking service where related activities take place outside bank office through partnership with third party that acts as a representative of the bank with the assistance of technology. The implementation of branchless banking is still considered new and it still comes with several issues. This research is aimed to describe impeding factors and the implementation of Article 22 of Regulation of Financial Services Authority Number 19/POJK.03/2014 concerning branchless financial services to support the program of inclusive finance. This research involved several the concept of branchless banking, BNI, and E-warung KUBE, while the research method was based on juridical empirical supported with socio-juridical approach. The data obtained was analysed with descriptive qualitative method.  The research result reveals that there is a positive partnership between BNI 46 and Agen46 as in accordance with the provisions of Article 22 of Regulation of Financial Services Authority Number 19/03, POJK/2014. During the operation, e-warung KUBE owned by Mulyani also faced several difficulties like the high cost and this seems to give burden to the people involved. Solution to the issues that hamper the continuity of branchless banking should be given, and this should be able to achieve the system of inclusive finance as what government expects. Keywords : Implementation, Article implementation, Branchless Banking, E-Warung Cube
KAJIAN YURIDIS FRASA “MERUMAHKAN PEKERJA” SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Mansurotun Nisa’ul Farida
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2019
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mansurotun Nisa’ul Farida, Dr. Budi Santoso, Sh., LLM, Syahrul Sajidin, SH., MH. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya mansurotunnisa@gmail.com  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui batasan merumahkan pekerja dalam mencapai keadilan substantif dan keadilan prosedural dalam hubungan kerja. Jenis Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan studi kasus. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan tersier. Teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan melalui studi kepustakaan dan melalui akses internet. Analisis bahan hukum yang digunakan oleh penulis memakai memakai interpretasi sistematis dan interpretasi gramatikal. Berdasarkan hasil penelitian ini maka akan dapat diketahui bahwa pengaturan mengenai batasan merumahkan pekerja haruslah memenuhi aspek keadilan substantif dan keadilan prosedural. Keadilan substantif meliputi adanya penurunan pemasukan atau kesulitan keuangan yang dialami oleh pengusaha dan dapat membawa pengaruh terhadap ketenagakerjaan. Batasan keadilan prosedural meliputi adanya upaya-upaya yang seharusnya dilakukan oleh Pengusaha dan Pekerja mulai dari melakukan segala upaya agar tidak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja, melakukan perundingan bipatrit hingga penyelesaian perselisihan untuk dapat melakukan tindakan merumahkan sehingga dapat menjamin kelangsungan perusahaan serta kelangsungan pekerjaan. Kata Kunci : Merumahkan Pekerja, Pemutusan Hubungan Kerja   ABSTRACT This research is aimed to find out the scope of the term lay-off to achieve substantive and procedural justice in work relationship, which employed normative juridical method along with statute, conceptual, and case approaches. Primary, secondary, and tertiary materials were employed, all of which were obtained from literature review and data from the Internet. The data was then analysed with both systematic and grammatical interpretation. The research result concludes that the scope of the term lay-off should meet the substantive and procedural justice, where the former involves reduced income or financial hurdle experienced by an employer and it can affect employment. The latter, however, involves measures that are supposed to be taken by the employer and an employee, including all measures aimed to avoid any chance of employment termination, bipartite negotiation, and dispute settlement regarding the lay off to sustain the business actor and the job per se. Keywords: lay off, termination of employment

Filter by Year

2012 2023


Filter By Issues
All Issue Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2023 Sarjana Ilmu Hukum, April 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2023 Sarjana Ilmu Hukum, September 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2023 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2023 Sarjana Ilmu Hukum, April 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2022 Sarjana Ilmu Hukum, September 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2022 Sarjana Ilmu Hukum, November 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2022 Sarjana ilmu Hukum, Januari 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2022 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2021 Sarjana Ilmu Hukum, April 2021 Sarjana ilmu Hukum, Desember 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2021 Sarjana ilmu Hukum, Oktober 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2021 Sarjana ilmu Hukum, November 2021 Sarjana ilmu Hukum, September 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2021 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2020 Sarjana Ilmu Hukum, November 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2020 Sarjana Ilmu Hukum, April 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2020 Sarjana Ilmu Hukum, September 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2020 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2019 Sarjana Ilmu Hukum, November 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2019 Sarjana Ilmu Hukum, September 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2019 Sarjana Ilmu Hukum, April 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2019 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2018 Sarjana Ilmu Hukum, September 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2018 Sarjana Ilmu Hukum, November 2018 Sarjana Ilmu Hukum, April 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2018 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2017 Sarjana Ilmu Hukum, April 2017 Sarjana Ilmu Hukum, September 2017 MAGISTER ILMU HUKUM DAN KENOTARIATAN, 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2017 Sarjana Ilmu Hukum, November 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2017 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2017 Sarjana Ilmu Hukum, November 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2016 Sarjana Ilmu Hukum, April 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2016 Periode II Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2016 Periode I Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2016 MAGISTER ILMU HUKUM DAN KENOTARIATAN, 2016 Sarjana Ilmu Hukum,September 2016 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2015 Sarjana Ilmu Hukum, November 2015 Sarjana Ilmu Hukum, April 2015 MAGISTER ILMU HUKUM DAN KENOTARIATAN, 2015 Sarjana Ilmu Hukum, September 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2015 MAGISTER ILMU HUKUM DAN KENOTARIATAN, 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2015 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2015 Sarjana Ilmu Hukum, April 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2014 Sarjana Ilmu Hukum, September 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2014 Magister Ilmu Hukum dan Kenotariatan, 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2014 Sarjana Ilmu Hukum, November 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2014 Magister Ilmu Hukum dan Kenotariatan, 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2014 Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2013 Sarjana Ilmu Hukum, September 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Juni 2013 Magister Ilmu Hukum dan Kenotariatan 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Januari 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Mei 2013 Doktor Ilmu Hukum 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2013 Magister Ilmu Hukum dan Kenotariatan 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Februari 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2013 Sarjana Ilmu Hukum, April 2013 Doktor Ilmu Hukum 2013 Sarjana Ilmu Hukum, Agustus 2012 Sarjana Ilmu Hukum, September 2012 Sarjana Ilmu Hukum, Oktober 2012 Sarjana Ilmu Hukum, Desember 2012 Sarjana Ilmu Hukum, November 2012 More Issue