cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2020)" : 26 Documents clear
PRIORITAS ELEMEN PERMUKIMAN TANGGUH BENCANA LONGSOR KELURAHAN TEMAS KOTA BATU BERDASARKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS Ramadhan Mayzer Saputra; Sri Utami
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   Temas Kota Batu Urban Village is an area with high landslide threat, moderate social vulnerability and high economic vulnerability. In this settlement there are vulnerable buildings that stand on the banks of the river with steep slopes. The obstacle in the development of these settlements to be resilient is that the systemic handling and prevention of disasters have not become a priority. The purpose of this study was to determine the priority of landslide resilient elements in the Temas Kota Batu urban area based on the Analytical Hierarchy Process. The method used in this study is a quantitative method using a paired comparison questionnaire as a data collection method, and Analytical Hierarchy Process (AHP) as a data analysis method to determine the weights of each variable contained in the elements of settlements and sort their priorities based on the weights obtained. The results of the study state that the most important variable in the building element is the building foundation, while in the network element the most important variable is environmental drainage.   Keywords: elements of settlement, landslide, AHP   ABSTRAK   Kelurahan Temas Kota Batu merupakan kawasan dengan ancaman bencana longsor yang tinggi, kerentanan sosial sedang dan kerentanan ekonomi tinggi. Upaya pengurangan kerentanan sebagai proses pengembangan menjadi desa tangguh bencana pada permukiman ini terkendala upaya penanganan yang tidak sistemik dan pencegahan terhadap bencana belum menjadi prioritas utama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prioritas elemen permukiman tangguh bencana longsor kawasan Kelurahan Temas Kota Batu berdasarkan Analytical Hierarchy Process. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode Kuantitatif dengan menggunakan kuesioner perbandingan berpasangan sebagai metode pengumpulan data, dan Analytical Hierarchy Process (AHP) sebagai metode analisis data untuk mengetahui bobot dari masing-masing variabel yang terdapat pada elemen permukiman dan mengurutkan prioritasnya berdasarkan bobot yang didapatkan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa variabel paling penting pada elemen bangunan dalam upaya menanggapi ancaman longsor yaitu pondasi bangunan sedangkan pada elemen jaringan, variabel paling penting dalam upaya menanggapi ancaman longsor yaitu drainase lingkungan.   Kata kunci: Elemen Permukiman, Bencana Longsor, AHP  
SIGNIFIKANSI VISUAL FASADE BANGUNAN KAFE PADA KOTA LAMA SEMARANG BERDASARKAN PERSEPSI PENGUNJUNG Tatania Lintang Alviani; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Semarang merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki peninggalan kawasan kolonial. Pada saat ini, kawasan tersebut dikenal sebagai kawasan pariwisata dengan nama Kawasan Kota Lama Semarang. Restorasi pada Kawasan Kota Lama Semarang merupakan upaya pemerintah setempat dalam melakukan konservasi dan pengembangan kawasan. Selanjutnya, Pemerintah Kota Semarang melakukan pengembangan dengan mengajukan kawasan tersebut sebagai World Heritage The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2020. Konservasi pada Kawasan Kota Lama Semarang diperkuat dengan dilakukannya kajian terhadap signifikansi visual terhadap fasade bangunan bersejarah, terutama bangunan dengan fungsi kafe. Fasade bangunan merupakan faktor penting dalam upaya konservasi, dimana hal tersebut merupakan upaya yang dapat dilakukan pada Kawasan Kota Lama Semarang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif-kuantitatif melalui penyebaran kuesioner pada pengunjung di empat Kafe sepanjang koridor Jalan Letjen Suprapto, Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pengunjung Kota Lama Semarang terhadap signifikansi elemen visual fasade bangunan kolonial dengan fungsi kafe di Koridor Jalan Letjen Suprapto, Semarang. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa setiap elemen visual fasade bangunan kafe memiliki tingkat pengaruh signifikansi yang berbeda. Elemen gaya arsitektur memiliki pengaruh 63,8% pada kafe Spiegel Bar & Bistro, sedangkan elemen jendela memiliki pengaruh sebesar 69,1% pada Tekodeko Koffiehuis. Semarang City is one of the cities in Indonesia which has a colonial heritage. At this time, the area was known as a tourism area by the name of the Old City Region of Semarang. Restoration of the Old Semarang City Area is an effort of the local government to conserve and develop the area. Subsequently, the Semarang City Government undertook the development by proposing the area as the World Heritage of the United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) in 2020. Conservation in the Semarang Old Town Region was strengthened by conducting a study of the visual significance of the facade of historic buildings, especially building with cafe function. The building facade is an important factor in conservation efforts, where it is an effort that can be done in the Old City Region of Semarang. The method used in this research is descriptive-quantitative through the distribution of questionnaires to visitors in four cafes along the corridor of Jalan Letjen Suprapto, Semarang. This study aims to determine the perception of visitors of Semarang Old City to the significance of the visual elements of the colonial building facade with the function of a café in the Letjen Suprapto Corridor, Semarang. The results of this study stated that each visual element of the cafe building facade has a different level of significance. Architectural style elements have a 63.8% influence on the Spiegel Bar & Bistro, while window elements have a 69.1% influence on Tekodeko Koffiehuis. 
Strategi Pendinginan Pasif untuk Menurunkan Suhu pada Ruang Kelas SMP Islam dan MI Tahdzibul Fuad Jenu Tuban choirul ifan ardianto; Andika Citraningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di kecamatan Jenu kabupaten Tubanterdapat dua sekolah yang berada di satu yayasan swasta, antara lain MI Tahdzibul Fuad dan SMP Islam. Kecamatan Jenu memiliki cuaca yang panas mencapai 37oC. Hal tersebut berpengaruh terhadap kenyamanan termal di dalam bangunan sekolah. Bukaan-bukaan yang ada pada setiap sisi ruang kelas belum mampu menjadi solusi untuk menurunkan suhu yang tinggi yang terjadi di dalam ruang kelas, sehingga diperlukan rekomendasi untuk menurunkan suhu pada setiap ruang kelas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi kondisi termal dan menghasilkan rekomendasi desain yang berfokus pada pendinginan pasif guna menurunkan suhu udara pada ruang kelas SMP Islam dan MI Tahdzibul Fuad Jenu Tuban. Metode yang digunakan dalam penelitianini adalah metode kuantitatif yang didahului dengan pengukuran di lapangan, meliputi pengukurantemperatur udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin. Setelah didapatkan data lapangan dilakukan proses analisis dan dibandingkan dengan studi literatur (SNI) mengenai standar kenyamanan termal. Dari hasil analisis didapatkan data danselanjutnya dibuatlah alternatif rekomendasi desain mengenaisistem pendinginan pasif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menurunkan suhu pada ruang kelas dapat dilakukan dengan merencanakan sistem pendinginan pasif yang lebih terstruktur dengan mengikuti standar-standar yang ada.
Pengaruh Tata Lanskap Terhadap Kondisi Lingkungan Termal Lapangan Banteng Jakarta Dimas Pramana Putra; Jono Wardoyo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi termal dari suatu taman kota merupakan hal penting yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kualitas taman kota karena mampu` mempengaruhi kenyamanan pengunjung dalam beraktivitas. Lapangan Banteng Kota Jakarta merupakan taman di pusat Kota Jakarta kota yang ramai dikunjungi, sehingga kondisi termalnya perlu diperhatikan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kondisi lingkungan termal beserta pengaruh dari tata lanskap yang membentuk taman ini. Metode yang digunakan untuk mengetahui tingkat kondisi lingkungan termal ialah metode Temperature Humidity Index (THI). Hasil perhitungan nilai THI pada Lapangan Banteng berada pada kisaran 29,5 sampai 31,2 dengan rata-rata nilai THI 30,4 yang berarti termasuk dalam rentang tidak nyaman. Pada area dengan vegetasi peneduh merupakan area paling nyaman di Lapangan Banteng, sedangkan area yang paling tidak nyaman tidak memiliki vegetasi peneduh. Salah satu elemen pembentuk taman yang paling baik untuk meningkatkan kondisi termal yaitu vegetasi sebagai peneduh, dengan karakteristik pohon yang memiliki dimensi kanopi besar serta konfigurasi jarak antara pohon dalam kisaran bayangan pohon maka mampu menciptakan area teduh.
Aksesibilitas Disabilitas Tunanetra di SDLB II Purworejo Kota Pasuruan Agustin Cahyawidya Ningrum; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AksesibilitasDisabilitas Tunanetra di SDLB II Purworejo Kota Pasuruan Agustin Cahyawidya Ningrum1 dan HerrySantosa2 1MahasiswaProgram Studi Sarjana Arsitektur, Jurusan Arsitektur FakultasTeknik,Universitas Brawijaya2DosenJurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas BrawijayaAlamatEmail Penulis : agustincahya@gmail.com ; herrysantosa@ub.ac.id ABSTRAKPada penerapan pembelajaran di sekolah, hendaknya tidak hanyaberfokus pada kurikulum dan pembelajaran yang khusus digunakan bagi anakdisabilitas, melainkan juga memperhatikan fasilitas yang digunakan sebagaipenunjang ketika mereka berada di sekolah. Bangunan Sekolah Dasar Luar Biasahendaknya memiliki fasilitas yang memadai bagi penyandang disabilitas untukmendukung tingkat kemudahan yang dicapai oleh seseorang terhadap suatu objek dilingkungannya. Penerapan aksesibilitas dalam sekolah luar biasa ditujukan untukmemberikan suasana yang aman dan nyaman bagi anak dalam proses pembelajaranmaupun ketika berada di lingkungan sekolah. Penelitian ini melakukan evaluasiterhadap aksesibilitas pada fasilitas di SDLB II Purworejo Kota Pasuruankhususnya penyandang disabilitas tunanetra dengan standar yang berlaku yaituPERMEN PUPR Nomor 14 Tahun 2017 mengenai Pedoman Teknis Fasilitas danAksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Metode penelitian yangdigunakan pada penelitian ini ialah metode deskriptif kuantitatif denganmelakukan evaluasi kondisi di lapangan terhadap standar yang berlaku.Penelitian ini menghasilkan tingkat pemenuhan aksesibilitas pada fasilitas SDLBII Purworejo bagi siswa disabilitas Tunanetra, yang teridentifikasi padafasilitas ruang kelas sebesar 92,5%, pintu kelas sebesar 78%, sirkulasi ramsebesar 70%, serta fasilitas toilet sebesar 24,75%. Secara keseluruhanmengindikasikan tingkat pemenuhan asas aksesibilitas sebesar 87,5%.Katakunci :aksesibilitas, deskriptif kuantitatif , fasilitaspendidikan, sekolah dasar luar biasa, tunanetraABSTRACTIn the application of learning in schools, it should not onlyfocus on curriculum and learning specifically used for children withdisabilities, but also pay attention to the facilities that are used as supportwhen they are in school. Extraordinary Elementary School Buildings should haveadequate facilities for persons with disabilities to support the level of convenience achieved by someone of an object intheir environment. Implementation of accessibility in special schools is intendedto provide a safe and comfortable atmosphere for children in the learningprocess and when in the school environment. This study describes theaccessibility of facilities in SDLB II Purworejo Pasuruan, especially personswith visual impairments with applicable standards namely PUPR PERMEN No. 14 of2017 concerning Technical Guidelines for Facilities and Accessibility inBuildings and Environment. The research method used in this study is aquantitative descriptive method by evaluating conditions in the field againstthe applicable standards. The results of this study are in the form of a guidelane variable at SDLB II Purworejo that meets the accessibility principle of87.5%. The blind classroom variable fulfills the accessibility principle of92.5%. Class door variables meet the principle of accessibility by 78%. Ramvariable fulfills the principle of accessibilityby 70%. Variable toilet rooms meet the accessibility principle of 24.75%. Wordkey: accessibility, descriptive quantitative, educational facilities, extraordinary elementary school, visuallyimpaired
OPTIMASI SELUBUNG BANGUNAN BERDASARKAN NILAI OTTV PADA FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN, UNIVERSITAS NEGERI MALANG Sekar Ayu Dyah Larasati; Ary Deddy Putranto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang merupakan bangunan yang menggunakan material dominan kaca pada tiap sisi bangunan dan belum memiliki shading device yang memadai. Dengan luasan material kaca yang cukup luas dan shading device yang minim akan berpengaruh terhadap tingginya suhu dalam ruang dan akan mengakibatkan penggunaan energi dan konsumsi listrik yang besar. Selain berdampak pada biaya operasional, konsumsi energi listrik yang besar juga dapat berdampak pada energi bangunan itu sendiri dan menjadi ancaman krisis energi di Indonesia. Dalam upaya membatasi beban energi bangunan, Badan Standarisasi Nasional Indonesia memuat aturan dalam SNI 03-6389-2011, dimana menetapkan batasan Overall Thermal Transfer Value (OTTV) maksimal sebesar 35 Watt/m2. Penelitian ini bertujuan menghasilkan desain rekomendasi selubung bangunan yang memiliki nilai OTTV terendah dan sesuai dengan SNI6389-2011.  Penelitian dengan metode eksperimental dengan pendekatan kuantitatif. Hasil yang diperoleh adalah bangunan eksisting belum memiliki nilai OTTV sesuai standar dengan nilai OTTV sebesar 47,36 W/m2. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai, modifikasi selubung bangunan diperlukan dengan mengganti beberapa variabel perhitungan OTTV. Setelah melewati proses modifikasi selubung, diperoleh desain modifikasi selubung mampu menurunkan beban panas bangunan sebesar 32,77% dengan menurunkan nilai OTTV menjadi 31,84 W/m2.

Page 3 of 3 | Total Record : 26