cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 554 Documents
ATTRACTION OF ARTHROPODS IN REFUGIA BLOCKS (Ageratum conyzoides L., Capsicum frustecens L., and Tagetes erecta L.) WITH THE APPLICATION OF LIQUID ORGANIC FERTILIZER AND BIOPESTICIDE IN APPLE CROPS IN PONCOKUSUMO Tria Irma Muhibah; Amin Setyo Leksono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of this research was to know the community structure of arthropods and to know visiting patterns of arthropods in refugia blocks. The method used in this research was Visual Encounter in fruiting season and flowering season. The observation was held four times in each season and four times a day. The observation was held on the refugia blocks that were applied a liquid organic fertilizer and biopesticide (POCB) and Control. Measurement of abiotic factors was done including temperature, humidity and light intensity. The result was analyzed using important value (INP) and Shannon-Wienner Index (HI). Overall the total abundance of arthropods was 32 family in flowering season and 33 family in fruiting season. All of the refugia blocks were dominated by family Muscidae in flowering season and dominated by family Apidae in fruiting season. The Diversity of arthropods in flowering season and fruiting season is quite high with the value was ranged from 3 to 4. Arthropods visiting patterns on the refugia block showed an increase in the abundance of arthropods in period 2 that was during 9:00 to 10:30 am.   Key word : Arthropods, Biopesticide, Flowering Season, Fruiting Season, Liquid Organic Fertilizer, Refugia Blocks, Visual Encounter
the growth and productivity Anak Agung Ayu Putri Indra Pratiwi; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to determine the growth and productivity of several local hydromacrophytes such as Acorus calamus L.,
Kerapatan dan Bentuk Kristal Kalsium Oksalat Umbi Porang (Amorphophallus Muelleri Blume) Hasil Penanaman dengan Perlakuan Pupuk P dan K pada Fase Pertengahan Pertumbuhan meilisa dwi ayu novita; Serafinah Indriyani
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kristal kalsium oksalat yang ditemukan, pengaruh dari pupuk P dan K terhadap kerapatan kristal kalsium oksalat pada bagian tepi dan tengah umbi porang, dan mengetahui dosis pemberian pupuk P dan K yang dapat menurunkan kerapatan total kristal kalsium oksalat. Penelitian dilakukan dengan RAK pola faktorial 4x4 menggunakan 3x ulangan. Pemberian level pupuk P dan K masing-masing yaitu 0; 2,16; 4,32; dan 6,36 g/12 kg tanah,. Pengamatan kristal kalsium oksalat dilakukan dengan membuat preparat semi permanen, kemudian dilanjutkan dengan pengamatan mikroskopis kerapatan kristal kalsium oksalat yang meliputi bagian tepi dan tengah umbi. Data dianalisis statistik menggunakan ANOVA dengan α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan empat bentuk kristal kalsium oksalat yaitu rafida kecil, rafida besar, druse, dan X1. Perlakuan kombinasi pupuk P dan K tidak mempengaruhi  kerapatan total kristal kalsium oksalat. Perlakuan dengan dosis pupuk P tunggal yang menghasilkan kerapatan total kristal kalsium oksalat paling rendah adalah dosis 4,32 g/12 kg tanah, sedangkan perlakuan tanpa pemberian pupuk P atau dosis 0 g/12 kg tanah memiliki kerapatan total kalsium oksalat paling tinggi. Perlakuan dengan pupuk K  tunggal pada dosis 6,36 g/12 kg tanah memiliki kerapatan total kristal kalsium oksalat paling rendah, sedangkan kerapatan kristal kalsium oksalat paling tinggi terjadi pada perlakuan dengan dosis pupuk K 4,32 g/12 kg tanah. Perlakuan P secara tunggal memiliki pengaruh yang lebih baik untuk menurunkan kerapatan total kristal kalsium oksalat umbi porang pada fase pertengahan dibandingkan dengan pemberian pupuk K secara tunggal. Kata kunci : kerapatan kristal kalsium oksalat, kristal kalsium oksalat, porang , unsur K, unsur P
Struktur Embrio Porang (Amorphophallus muelleri Blume) dari Berbagai Variasi Ukuran Biji Dita Fitriana Kusuma Dewi; Rodiyati Azrianingsih; Serafinah Indriyani
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi dan penyebaran embrio pada berbagai ukuran biji porang, mengetahui pengaruh ukuran (kriteria) biji terhadap ukuran embrio, dan mengetahui ukuran biji yang paling baik sebagai bibit porang. Metode yang dilakukan meliputi, pengambilan sampel biji porang dari tongkol yang berasal dari lapang (Desa Rejosari Kecamatan Bantur) berumur 32 minggu, pengukuran berat biji porang, pengamatan anatomi embrio biji porang, pengukuran panjang dan lebar embrio porang, dan analisis data. Biji porang diklasifikasikan menjadi tiga kriteria, yakni besar (0,2 < x ≤ 0,3 g), sedang (0,1 < x ≤ 0,2 g), dan kecil (0,01 < x ≤ 0,1 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa embrio porang pada berbagai ukuran biji berada pada posisi atau bagian proksimal dari biji porang, bukan pada bagian distal dari biji porang. Uji ANOVA yang dilakukan menunjukkan bahwa ukuran biji tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap ukuran embrio (panjang x lebar). Biji berukuran besar mempunyai rata-rata panjang embrio tertinggi, yakni sebesar 1,0±0,8 mm sedangkan biji berukuran sedang mempunyai rata-rata lebar embrio tertinggi, yakni sebesar 0,7±0,4 mm. Biji poliembrio menunjukkan persentase sebesar 17,65±1,64 % dengan penyebaran embrio secara mengelompok atau berdekatan antara embrio satu dengan embrio lainnya. Biji berukuran sedang mempunyai potensi viabilitas tertinggi dalam perkecambahan karena menunjukkan biji poliembrio sebesar 38,46±17,55 % dan tidak ada biji yang tidak mengandung embrio (00,00±00,00 %).  Kata kunci: Anatomi, biji porang, embrio, porang
Eksplorasi Jenis-Jenis Amfibi di Kawasan OWA Cangar dan Air Terjun Watu Ondo, Gunung Welirang, TAHURA R.Soerjo Qothrun Izza; Nia Kurniawan
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis amfibi yang dapat ditemukan di kawasan OWA Cangar dan Air Terjun Watu Ondo, TAHURA R.Soerjo, mengetahui karakter habitatnya, serta mengetahui jenis yang berpotensi sebagai bioindikator. Pengambilan data mulai November 2013 hingga Maret 2014 menggunakan metode  Visual Encounter Survey (VES), total usaha 13 jam, 3 pengamat. Lokasi pengambilan data pada ketinggian 1400-1700 mdpl. Faktor abiotik yang diukur meliputi  pH air, suhu (udara & air), dan kelembapan udara. Ditemukan lima jenis amfibi yang seluruhnya tergabung dalam ordo Anura dari lima famili berbeda, yakni katak pohon emas (Philautus aurifasciatus Schlegel, 1837), katak serasah (Leptobrachium hasseltii Tschudi, 1838), bangkong kerdil (Limnonectes microdiscus Boettger, 1892), kongkang jeram (Huia masonii Boulenger, 1884), dan kodok buduk (Duttaphrynus melanostictus Schneider, 1799). Tidak ditemukan satupun spesies dari ordo Caudata maupun Gymnophiona. P. aurifasciatus kerapkali ditemukan pada tumbuhan Psychotria sp., Dypsis lutescens, dan Ficus sp.. L. microdiscus mempunyai habitat daerah hutan dari dataran rendah hingga tinggi. Habitat H. masonii selalu terkait dengan sungai berbatu yang berarus deras dan air jernih. L. hasseltii dapat ditemukan di daerah tinggi di antara serasah hutan. D. melanostictus mempunyai habitat di dekat hunian manusia atau wilayah terganggu. Spesies yang berpotensi besar sebagai bioindikator adalah P. aurifasciatus, H. masonii sebagai indikator perairan jernih, dan D. melanostictus sebagai indikator wilayah terganggu. Kata kunci : Amfibi, Cangar, ketinggian, VES 
Pengaruh Bioenkapsulasi Artemia salina Terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Eko Suyanto; Yasir Saifur Rahman; Murwantoko Murwantoko
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.02.5

Abstract

Permintaan ikan nila (Oreochromis niloticus) semakin meningkat dari tahun ke tahun namun terkendala dalam ketersediaan benih karena tingginya resiko serangan penyakit streptococcosis yang menurunkan kelangsungan hidup (sintasan) benih. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan bioenkapsulasi Artemia salina dengan Spirulina platensis terhadap sintasan benih ikan nila yang telah diinjeksi bakteri Streptococcus sp. dalam upaya mencegah penyakit streptococcosis. Bioenkapsulasi dilakukan dengan cara kultur A. salina diberi pakan tepung S. platensis ukuran 37 mikron selama 5 jam lalu dipanen dan disimpan pada suhu 4oC. Bioenkapsulan dianalisis proksimat meliputi kadar air, kadar protein total, kadar lemak, kadar abu, kadar serat kasar dan kadar karbohidrat sedangkan analisis kadar asam lemak dianalisis menggunakan Gas chromatography. Perlakuan pakan benih ikan nila yaitu bioenkapsulan dan pellet ikan dengan perbandingan variasi 25%:75% (BASP1), 50%:50% (BASP2), 75%:25% (BASP3), 100%:0% (BASP4) dan 0%:100% (K) lalu diuji tantang dengan bakteri Streptococcus sp konsentrasi 106 CFU/mL secara rendaman. Pakan bioenkapsulasi A. salina dengan S. platensis memberikan pengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila. Peningkatan kelangsungan hidup terbaik diperoleh pada hari ke-7 sebesar 26,7%. Pemberian pakan bioenkapsulan dengan konsentrasi 50-75% cukup efektif diberikan hingga hari ke-14 untuk meningkatkan sintasan benih ikan nila dalam usaha pencegahan penyakit streptococcosis. Semakin tinggi konsentrasi pakan bioenkapsulan akan meningkatkan resiko kematian benih ikan nila. 
Profil Protein Yogurt Susu Kambing PE dengan Kultur Tunggal Pada 30-60 kDa dengan SDS-PAGE Miggy Uri Karitas; Fatchiyah Fatchiyah
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kambing perah merupakan salah satu komoditas ternak yang berpotensi untuk dikembangkan. Di Indonesia kambing perah yang banyak dikembangkan adalah kambing Peranakan Etawa (PE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil protein spesifik pada berat molekul 30-60 kDa pada yogurt susu kambing PE dengan kultur tunggal dengan menggunakan metode SDS-PAGE. Tahapan dalam penelitian ini adalah pembuatan kurva pertumbuhan, pembuatan starter kultur tunggal, pembuatan yogurt, isolasi protein, separasi protein dan penghitungan berat molekul. Pembuatan yogurt dilakukan dengan tiga ulangan. Kultur bakteri yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lactobacillus acidophillus, Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus. Hasil separasi protein menunjukkan yogurt dengan kultur LA memiliki protein dengan berat molekul sebesar 31,59 kDa, 48,36 kDa dan 48,94 kDa. Yogurt kultur LB memiliki protein dengan berat molekul sebesar 30 kDa, 37,83 kDa, 50,22 kDa dan 57,12 kDa. Protein yang terlihat pada yogurt kultur ST adalah pada berat molekul 30,02 kDa, 38,67 kDa, 46,18 kDa dan 55, 15 kDa. Kemungkinan protein dari yogurt fermentasi tunggal mempunyai fungsi yang berbeda sebagai anti-hipertensi atau immunomodulator. Kata kunci: Protein, SDS-PAGE, fermentasi tunggal ABSTRACT Dairy goat farm is one of commodity that has potential to be developed. In Indonesia, the most developed dairy goat is PE. The aim of this study is to determine specific protein at 30-60 kDa molecular weights in single culture PE goat’s yoghurt with SDS-PAGE method. Steps of this research are determination of growth curve, making single culture yoghurt starter and yoghurt, protein isolation, protein separation and molecular weight counting. Yoghurt manufactured with triplicates. Bacterial culture used in this study was Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus bulgaricus and Streptococcus thermophillus. Protein separation show that yoghurt with culture LA, LB and ST has molecular weight  31,59 kDa, 37,83 kDa and 38,64 kDa. This protein with molecular weight between 30-38 kDa is thought to α-S1 casein or whey protein. We suggest that the protein of yogurt with single fermentation has specific function as anti-hypertension or immunomodulation. Keywords: Protein, SDS-PAGE, single fermentation
Etnobotani Jagung (Zea mays L.) Pada Mayarakat Lokal di Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Fithriyah Wulandari; Jati Batoro
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengetahuan masyarakat, sistem pengelolaan, keanekaragaman kultivar, dan pemanfaatan tanaman jagung di Desa Pandansari. Penelitian dilaksanakan di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara bebas, mendalam dan metode wawancara semi-terstruktur. Data kuantitatif diperoleh dengan menggunakan metode pendekatan nilai penting (Use Value, UVs). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Pandansari memiliki pengetahuan cukup baik mengenai tanaman jagung. Hasil identifikasi tanaman jagung meliputi empat kultivar, yaitu jagung lokal, jagung manis, jagung hibrida, dan jagung putih. Dari keempat kultivar jagung tersebut yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Pandansari adalah jagung lokal. Nilai UVs tertinggi bagian tanaman jagung yaitu bagian buah dan biji jagung sebesar 2,9. Nilai UVs pemanfaatan keseluruhan organ tanaman jagung tertinggi yaitu sebagai bahan pakan ternak (4,65). Selain itu tanaman jagung di Desa Pandansari dimanfaatkan sebagai bahan makan (gerit), kayu bakar, pupuk, dan pembungkus rokok.
Karakteristik Vegetasi Riparian dan Interaksinya dengan Kualitas Air Mata Air Sumber Awan Serta Salurannya di Kecamatan Singosari Malang Ekki Totilisa Rachmawati; Catur Retnaningdyah
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aims of this research are to know the characteristics of riparian vegetation based on QBR (Qualitat del Bosc de Ribera) analysis and profile of water quality (pH, DO, temperature, conductivity, turbidity) as well as to know the interaction between biotic index of the riparian vegetation and water quality in Sumber Awan Spring and its channel. Observations of riparian vegetation and water quality were conducted at seven stations. The correlation between quality of riparian vegetation and water quality was determined by Pearson correlation analysis using SPSS v.16. The results of this study indicate that the quality of riparian vegetation in the spring (station one) was the best from all downstream stations. This is indicated by the highest value of QBR (60), species richness (27 species) and species diversity index (>3). Downstream from the spring, especially five and six stations (residential area) showed lowest riparian quality, indicated by decreasing of diversity and QBR index value.The pH and DO value had fulfilled the standard for class I and class II respectivelybased on Indonesia Governmental Regulation No. 82/2001. When shrubs and tree species are high, the low value of turbidity was occurs in the water. Therefore, when the QBR score was high, the conductivity value will low in the water. Then, when pH was low, the richness of shrubs, tree species, and QBR score will high. According to QBR and water quality, Sumber Awan ecosystem was degraded. Keywords : riparian vegetation, Sumber Awan spring water, water quality
Skrining Bakteri Asam Laktat asal Susu Kambing Peranakan Etawa sebagai Penghasil Bakteriosin Indah Nur Fitria; Tri Ardyati
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakteri asam laktat (BAL) merupakan mikroorganisme yang tergolong GRAS (Generally Recognized as Safe). Sebagian besar  BAL memiliki potensi sebagai penghasil bakteriosin. Bakteriosin merupakan senyawa protein yang disintesis oleh ribosom dan mampu menghambat pertumbuhan bakteri lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh BAL penghasil bakteriosin dan mempelajari daya hambat bakteriosin terhadap Staphylococcus aureus dan Salmonella thypimurium. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan. Tahapan dilakukan dengan isolasi BAL asal susu kambing Peranakan Etawa (PE) pada media MRS ditambah dengan CaCO3 1%, karakterisasi isolat BAL, deteksi penghambatan  kultur BAL terhadap bakteri uji, uji aktivitas penghambatan bakteriosin (CFS) terhadap bakteri uji, uji sensitivitas bakteriosin terhadap enzim proteolitik, serta identifikasi BAL dengan menggunakan API 50 CHL test kit. Dua belas isolat diperoleh dari isolasi, namun hanya 6 isolat (SKE5, SKE7, SKE8, SKE9, SKE10, dan SKE11) diduga mampu menghasilkan bakteriosin. Bakteriosin yang diproduksi oleh keenam isolat tersebut dapat terdegradasi oleh enzim Proteinase K (1 mg/ml). Isolat SKE9 teridentifikasi sebagai Lactobacillus curvatus merupakan kandidat isolat BAL terbaik karena menghasilkan  bakteriosin dan menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Salmonella thypimurium dengan indeks penghambatan masing-masing sebesar 2,94 ± 0,59 dan 2,89 ± 0,89. Kata kunci : Bakteri asam laktat, Bakteriosin, Susu kambing Peranakan Etawa