cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 554 Documents
Analisis Single Nucleotide Polymorphism (SNP) -217 Gen Human Angiotensinogen (hAGT) pada Penderita Hipertensi di Rumah Sakit Syaiful Anwar secara PCR-Sekuensing Siti Fatiyatur Rahmah; Nashi Widodo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia. Polimorfisme RAS (Renin Angiotensin System) dikatakan sebagai penentu hipertensi dan beberapa kerusakan organ target. Angiotensinogen merupakan protein awal dalam RAS yang memicu timbulnya hipertensi. Diketahui bahwa populasi skala besar ras Amerika dan Afrika yang terkena hipertensi, terjadi polimorfisme pada daerah 5’untranslated region di titik -217 A/G. Variasi basa pada titik -217 guanine atau adenine meningkatkan laju ekspresi gen angiotensinogen. Peningkatan ini terjadi akibat dari interaksi kuat antara faktor transkripsi GR dan C/EBP-β yang berikatan dengan daerah enhanser kemudian mempengaruhi laju transkripsi RNA polimerase III di daerah promoter gen angiotensinogen. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui adanya single nucleotide polymorphism (SNP) -217 gen human Angiotensinogen (hAGT) pada penderita hipertensi di Rumah Sakit Syaiful Anwar secara PCR-Sekuensing. Metode yang digunakan yaitu isolasi whole genome (QIAamp DNA Blood Mini Kit) dari 14 sampel darah pasien hipertensi, gen hAGT di amplifikasi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan disekuensing untuk mengetahui adanya SNP        -217. Analisis yang dilakukan yaitu menggunakan software AB sequence Scanner, Bioedit dan BLAST NCBI. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya SNP -217 gen hAGT pada sampel pasien. Namun terdapat varian -6A pada gen tersebut yang juga mampu memicu terjadinya hipertensi. Kata Kunci : angiotensinogen, gen hAGT, hipertensi, SNP -217 A/G
Kajian Kerapatan Tanam dengan Berbagai Arah Baris pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sorgum Manis (Sorghum Bicolor (l.) Moench) Andi Cakra Yusuf; Roedy Soelistyono; Sudiarso Sudiarso
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2017.005.03.5

Abstract

Perbaikan faktor lingkungan dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum manis, salah satu alternatif yang dapat ditempuh dengan memanfaatkan suberdaya yang telah tersedia. Diantaranya adalah energi radiasi matahari yang berperan dalam proses fotosintesis. Arah baris dan kerapatan populasi tanaman mempengaruhi besarnya energi matahari yang diterima. Sehingga, perlu adanya pengaturan arah baris dan jarak tanam yang tepat agar penerimaan energi radiasi oleh tanaman lebih efisien. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Petak Terbagi (RPT). Penelitian terdiri dari 2 (dua) faktor perlakuan dan 4 (empat) ulangan. Faktor pertama adalah Arah baris timut-barat (TB) dan utara-selatan (US) Sedangkan faktor kedua adalah jarak tanam (JT15, JT30 dan JT45). Hasil penelitian menunjukkan arah baris utara-selatan meningkatkan bobot kering total tanaman umur 53 hst sebesar 36,71% apabila dibandingkan dengan arah baris timur-barat. Jarak tanam secara nyata meningkatkan komponen pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum manis. Pemberian jarak tanam JT45 memberikan bobot segar total tanaman umur 67 hst dan 81 hst sebesar 35,25%, namun tidak berbeda nyata dengan JT30. Pemberian jarak tanam JT45 memberikan bobot kering total tanaman umur 81 hst sebesar 11,30%, apabila dibandingkan dengan perlakuan tanam 75 x 30 cm dan peningkatan rata-rata sebesar 40,84% apabila dibandingkan dengan perlakuan jarak tanam 75 x 15 cm. Hasil panen biji kering jarak tanam 75 x 15 cm menunjukkan hasil yang lebih tinggi, dimana rata-rata hasil panen biji kering sebesar 3,84 ton h-1
Uji Daya Tumbuh Porang (Amorphophallus muelleri Blume) dari Berbagai Variasi Potongan Biji Turhadi Turhadi; Serafinah Indriyani
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budidaya porang dapat dilakukan dengan metode perkecambahan poliembrioni yaitu pada satu biji dilakukan pembelahan untuk memisahkan bagian embrio yang ada di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan jumlah tunas, persentase tumbuh bagian biji bertunas, biji yang bertunas secara monoembrio dan poliembrio, serta bagian biji yang non-viable dari berbagai variasi potongan biji porang. Biji dengan berat 0,17±0,017 gram dipotong dengan berbagai variasi potongan yaitu biji dipotong tiga (P1) dan dua (P2) membujur, dipotong tiga (P3) dan dua (P4) melintang, dan biji utuh (P5), kemudian dikecambahkan selama tujuh minggu. Biji bertunas difiksasi dalam larutan alkohol 70 %untuk pengamatan lebih lanjut. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dan tiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan uji Tukey (α = 0,05) menggunakan program SPSS 16.0. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jumlah tunas paling banyak terdapat pada perlakuan biji yang dibelah tiga melintang. Tunas yang muncul semuanya berasal dari bagian proksimal biji. Persentase tumbuh bagian biji bertunas paling tinggi terdapat pada perlakuan biji utuh (70,00±21,60 %). Biji porang yang bertunas secara poliembrio paling tinggi terdapat pada perlakuan biji porang utuh (35,00±10,00 %). Perlakuan pembelahan biji secara statistik tidak berpengaruh nyata dalam menghasilkan bibit porang poliembrio. Kata kunci: biji, poliembrio, porang, potongan, tunas
Analisa Flow Cytometry pada Subpopulasi Sel T-Limfosit Bursa Fabricius Ayam Pedaging Pasca Infeksi Salmonella typhimurium dan Pemberian Pakan Tambahan Polyscias obtusa septi utami dewi; Mochammad Sasmito Djati; Muhaimin Rifa'i
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 5 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian  ini adalah mengetahui adanya aktivitas imunomodulator daun Polyscias obtusa pada organ bursa fabricius ayam  pedaging  yang terinfeksi bakteri Salmonella typhimurium, serta mengetahui dosis optimum penambahan daun Polyscias obtusa dalam mempengaruhi jumlah subpopulasi T-limfosit pada organ bursa fabricius ayam pedaging yang terinfeksi Salmonella typhimurium. Prosedur kerja yang dilakukan adalah konfirmasi isolat bakteri Salmonella typhimurium, pemberian daun Polyscias obtusa, infeksi bakteri Salmonella typhimurium, pembedahan, isolasi sel, analisis Flow Cytometri, analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberian pakan alami dengan tambahan daun Polyscias obtusa dengan variasi dosis 0,08%, 0,16%, tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah relatif CD8+ dan B220+ pada Bursa fabricius. Sehingga, tidak ada perbedaan yang signifikan antara pakan pabrik dan pakan alami dengan tambahan daun Polyscias obtusa.. Namun, pada dosis 0,26 % fase finisher terlihat peningkatan jumlah relatif sel CD4+ yang siginifikan dibandingkan fase starter. Dapat disimpulkan bahwa, dosis 0,26% merupakan dosis optimum dalam meningkatkan proses proliferasi jumlah sel CD4+ sebagai agen imunomodulator pada bursa fabricius ayam pedaging.   Kata kunci :  Ayam pedaging, bursa fabricius, flow cytometry,   Polyscias obtusa, Salmonella typhimurium typhymurium
Inventarization Epiphytic Mosses in Hutan Lumut Area “Dataran Tinggi Yang”, Wildlife Preserve Argopuro Mountain Galen Rahardian; Gayut Widya Prakosa; Aswar Anas; Alhabsy Hidayatullah; Ahmad Zainul Hasan
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2017.005.03.10

Abstract

Mosses are group of non-vascular plant, small size, and able to growth in many substrates. Epiphytes are organism witch growth at wood surface of living plant. Epiphytic mosses has some advantages, there are out of   range from terestial organism and to get more optimaly sun light. One of place which has suitable conditions for this research is in Wildlife Preserve “Dataran Tinggi Yang”, Argopuro Mountain. This research purpose to get known about species of epiphyte mosses and morphological characteristic each species of epiphytic mosses in Wildlife Preserve “Dataran Tinggi Yang”, Argopuro Mountain. The result of identification and characterization obtained 17 families and 25 species of epiphytic mosses. The main characteristic of mosses are leaf position, leaf form,  and leaf costa.
Regenerasi Tanaman dari Eksplan Kalus Bawang Putih (Allium sativum L.) secara In Vitro Arbaul Fauziah; Wahyu Widoretno
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin terhadap induksi kalus dan regenerasi tanaman bawang putih (Allium sativum L.) secara in vitro. Medium Murashige and Skoog (MS) dengan penambahan kombinasi 2,4-D dan kinetin digunakan untuk induksi kalus dari eksplan meristem basal,  sedangkan NAA dan BAP digunakan untuk regenerasi planlet dari eksplan kalus. Pertumbuhan kalus pada medium kultur yang mengandung 2,4-D dan kinetin pada konsentrasi rendah lebih baik daripada konsentrasi tinggi. Kalus yang dikulturkan pada medium kultur yang mengandung NAA 0.1 ppm dikombinasikan dengan BAP 0.5-2 ppm mampu membentuk tunas. Jumlah tunas meningkat seiring dengan peningkatan konsentrai BAP. Di antara berbagai macam konsentrasi NAA dan BAP, jumlah tunas terbanyak diperoleh pada medium kultur yang mengandung NAA 0.1 ppm dan BAP 2 ppm. Tunas-tunas dipindahkan ke medium kultur dengan penambahan BAP 10 ppm untuk menginduksi pemanjangan tunas. Planlet bawang putih dihasilkan dari tunas yang dikulturkan pada medium kultur dengan penambahan IBA 2 ppm. Kata kunci: bawang putih, kalus, meristem basal, regenerasi in vitro
ANALISIS KADAR GLUKOMANAN PADA UMBI PORANG (Amorphophallus muelleri Blume) MENGGUNAKAN REFLUKS KONDENSOR Yustino Armend Wigoeno; Rodiyati Azrianingsih; Anna Roosdiana
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 5 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Porang (Amorphophallus muelleri Blume) merupakan tanaman yang termasuk dalam familia Araceae. Tumbuhan ini dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku berbagai industri karena memiliki kandungan glukomanan yang cukup tinggi. Analisis kadar glukomanan pada umbi porang dengan menggunakan refluks kondensor ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas metode analisis glukomanan dengan menggunakan refluks kondensor dengan mengadopsi metode Ohtsuki (1967). Sampel umbi porang yang digunakan adalah umbi siap panen yang diambil dari Kabupaten Madiun, Jawa Timur dengan kisaran berat 780-870 g, keliling 44-48,5 cm dan diameter 14-15,44 cm. Setelah umbi dibuat tepung, tepung umbi porang ini dihidrolisis dengan menggunakan refluks  kondensor. Untuk menentukan kadar glukomanan pada porang digunakan fenilhidrazin hidroklorida yang berfungsi sebagai pengikat manosa.  Rata-rata kadar glukomanan pada umbi porang yang dihasilkan melalui metode refluks kondensor berkisar antara 50,84-70,70 %. Hal ini menunjukkan bahwa analisis kadar glukomanan menggunakan refluks kondensor cukup efektif dan mampu mengukur glukomanan lebih banyak dibanding metode-metode sebelumnya. Kata kunci : Glukomanan, Porang (Amorphophallus muelleri Blume), Refluks kondensor
Isolation, Identification and Ethanol Production of Indigenous Yeast of Toddy Palm (Borassus Flabellifer L.) Juice From Tuban, East Java, Indonesia Ekwan Nofa Wiratno; Novi Soleman Rupilu
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2018.006.01.2

Abstract

This study aimed to obtain and identify the indigenous yeasts isolated from Borassus flabellifer L. juice and its potency in ethanol production. Steps of this study included isolation, enumeration, characterization, identification and ethanol production and measurement of ethanol concentrations and medium acidity during fermentation. The yeast total isolated from Borassus flabellifer L. juice was 5.06 x 105 CFU/mL and the isolate U2 was phenotypically identified as Candida tropicalis (95.7% ID and T = 1). The pH level of medium decreased during the ethanol fermentation. Yeast isolate U2 was able to produce ethanol by 140.1 g/L using 50 g/L of glucose and it was not significantly different with ethanol yield fermented by Saccharomyces cerevisiae (148.6 g/L).
STUDI KELAYAKAN KUALITAS AIR MINUM DELAPAN MATA AIR DI KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG Rani Rahmawati; Catur Retnaningdyah
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk melakukan evaluasi terhadap kualitas delapan mata air berdasarkan sifat fisik dan kimia air. Penelitian dilakukan di mata air Ngenep, PraNyolo, Umbulan, Langgar, Balittas, Lowoksari, Leses dan Soko yang terletak di Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Pada  masing–masing  mata air  tersebut  dilakukan  pengambilan sampel air  pada dua titik sebagai ulangan. Parameter  yang diukur meliputi suhu, pH, DO, konduktivitas, turbiditas, BOD, nitrat, ortofosfat, alkalinitas, TDS, TSS, TOM dan debit. Perbedaan kualitas fisikokimia air antar mata air ditentukan dengan uji Anova yang dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range test, analisis cluster dan PCA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan mata air yang dipantau sudah tidak layak digunakan sebagai bahan baku air minum. Parameter yang sudah tidak memenuhi  baku mutu  berdasarkan  PP No 82 tahun 2001 tentang  Pengelolaan  Kualitas  Air dan  Pengendalian Pencemaran Air adalah nilai DO (semua mata air), BOD (mata air  PraNyolo), Nitrat (mata air  Langgar, Balittas, Lowoksari, Leses, Soko).   Kata kunci: Indeks Kualitas air Prati’s, Karangploso, kualitas air,  mata air
Uji Kemampuan Antioksidan Ekstrak Etanol dan Kloroform Rumput Laut Gracilaria verrucosa melalui Penghambatan Peroksidasi Lipid Homogenat Hepar Mencit (Mus musculus) Cholilia Abadiatul Masruroh; Sri Widyarti
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 6 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumput laut Gracilaria verrucosa merupakan tumbuhan dengan kandungan polifenol yang tinggi seperti rumput laut jenis yang lain sebagai salah satu sumber antioksidan alami untuk menangkap, menghambat dan mencegah aktivitas radikal bebas berlebih di dalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kemampuan antioksidan ekstrak ethanol dan kloroform rumput laut Gracillaria verrucosa. Penentuan kadar fenolik dilakukan menggunakan reagen Folin-Cioceltau. Analisis kemampuan antioksidan melalui penghambatan peroksidasi lipid secara in vitro pada homogenat hepar menggunakan uji TBA. Kemampuan antioksidan ekstrak G. verrucosa dibandingkan dengan antioksidan sintetik asam askorbat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolik pada ekstrak ethanol dan ekstrak kloroform G. verrucosa yaitu 155,94 dan 146,95 ppm. Kemampuan penghambatan peroksidasi lipid oleh ekstrak etanol dan ekstrak kloroform yaitu 13,59 % dan 12,54 %, sedangkan asam askorbat yatiu 32,54 %.   Kata kunci: Gracilaria verrucosa, peroksidasi lipid, TBA