cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 554 Documents
Peran Komunitas Moluska dalam Mendukung Fungsi Kawasan Mangrove di Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten Nur Rohmatin Isnaningsih; Mufti P. Patria
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2018.006.02.01

Abstract

Kemampuan ekosistem mangrove untuk memberikan jasa lingkungan tidak terlepas dari peran berbagai fauna akuatik termasuk moluska. Penelitian di hutan mangrove Tanjung Lesung bertujuan untuk mengetahui peran komunitas moluska dalam mendukung fungsi hutan mangrove melalui penghitungan data-data penyusun struktur komunitas moluska, serta memberikan gambaran awal mengenai peluang moluska sebagai agen penyimpan karbon. Pengambilan sampel moluska dilakukan pada enam stasiun yang berbeda dengan metode petak contoh. Struktur komunitas moluska diketahui dengan menghitung nilai frekuensi, kepadatan, keanekaragaman, kemerataan, serta dominansi. Kandungan karbon pada cangkang diukur dengan menggunakan alat C-N analyzer. Komunitas moluska di hutan mangrove Tanjung Lesung terdiri dari delapan spesies. Tiga spesies dengan nilai kepadatan (Ki) dan Indek Nilai Penting (INP) tertinggi adalah Cerithidea cingulata (Ki=187 ind/m2; INP=76,71%), Clithon squarrosus (Ki=99 ind/m2; INP=39,95%) dan Terebralia palustris (Ki=42 ind/m2; INP=24,75%). Spesies T. palustris dan Telescopium telescopium merupakan moluska asli hutan mangrove sehingga kedua spesies tersebut memegang peran penting terutama sebagai pengurai serasah. Kandungan karbon dalam cangkang T. palustris dan T. Telescopium terukur berturut-turut sebesar 10,92 ± 2,33 dan 10,32 ± 0,63% berat kering. Namun, potensi kedua spesies moluska sebagai penyimpanan karbon masih membutuhkan evaluasi dan penelitian lebih lanjut
Profile of T cells after dexamethasone treatment in BABL/c mice Iga Dwi Januarisasi; Muhaimin Rifa'i
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Regulation of homeostatic mechanisms and the development of T lymphocytes is influenced by several things, one of them is glucocorticoids. Dexamethasone is a synthetic glucocorticoid drugs used in the treatment for several diseases acted as an anti-inflammatory. The aim of this experiment was to confirm the effect of dexamethasone at normal dose and high dose on T cell profile and also to know the quantity of T cells after dexamethasone injection in each dose. This experiment we applied 18 mice in the age of 2 week and divided into 3 treatment groups with six replication i.e. control, dexamethasone injection with normal dose (0.5 mg/kg BW) and high dose (10 mg/kg BW), then observed on day-7 after injection. T cells were isolated from the spleen and analyzed by flow cytometry. Data analysis was confirmed with the ANOVA test followed by Turkey test with significance different (α) of 0.05. The result showed that dexamethasone act as immunosuppressant agent on high dose (10 mg/kgBB). Dexamethasone injection with normal dose on healthy mice showed no significant different in total number of CD4+, CD8+, CD4+CD62L, and CD8+CD62L compared to control. But, dexamethasone injections with high dose showed that the total number of CD4+, CD8+, CD4+CD62L, and CD8+CD62L were decreased significantly. Key words: Dexamethasone, Flowcyto metry, Glucocorticoid, Immunosuppressant, T lymphocyte.
Efek Refugia pada Populasi Herbivora di Sawah Padi Merah Organik Desa Sengguruh, Kepanjen, Malang Ria Pravita Sari; Bagyo Yanuwiadi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Hama tanaman mengakibatkan hasil produksi padi di Indonesia menurun. Untuk itu diperlukan suatu upaya pengendalian hama tanpa merusak kestabilan lingkungan yaitu dengan memanfaatkan blok refugia. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kelimpahan, diversitas, famili yang mendominasi pada lahan sawah dan blok refugia di setiap fase pertumbuhan padi serta untuk mengetahui efek blok refugia  terhadap hebivora di sawah Kepanjen. Metode koleksi data tentang kunjungan herbivora yang dipakai dalam penelitian ini adalah visual control. Pada pelaksanaannya, pengamatan herbivora dilakukan pada 5 plot yang dibuat di sawah  dan 1 plot blok refugia di pematang sawah tersebut. Jarak pengamat dari plot sawah maupun blok refugia adalah 2 meter dan pengamatan tentang kunjungan herbivora dilakukan selama 15 menit untuk setiap plotnya. Pengamatan dilakukan 3 periode (pukul 08.00-10.00, 12.00-14.00, dan 15.00-17.00) untuk setiap fase pertumbuhan padi dan masing-masing diulang 2 kali. Pengukuran faktor abiotik meliputi suhu, kelembaban udara dan intensitas cahaya. Nilai penting dan indeks diversitas (Shannon-Wienner) dihitung untuk mengetahui analisis struktur komunitas herbivora. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan herbivora keseluruhan berjumlah 521 individu yang terdiri dari 5 ordo dengan 13 famili. Famili yang memiliki kelimpahan tertinggi di sawah maupun blok refugia yaitu Acrididae. Diversitas herbivora di sawah maupun blok refugia tergolong rendah hingga sedang. Diversitas herbivora tertinggi di sawah yaitu pada pukul 12.00-14.00 WIB sedangkan di blok refugia diversitas tertinggi terjadi pada pukul 08.00-10.00 WIB. Famili yang mendominasi di sawah maupun blok refugia yaitu Acrididae ditandai dengan tingginya INP.   Kata kunci: Herbivora, organik, pengendalian hayati, refugia   ABSTRACT Pests of plants causes  decreasing of rice production in Indonesia. That’s why it required an effort to control pests without harming the environment stability by using refugia. The objectives of this research were to know the abundance, diversity and family that dominate in the crops and in the refugia block in every stage of rice growth and to determine the effects of refugia block to the herbivore population in Kepanjen rice field. The method used to collect the information of herbivore visited both padi plots and refugia plots in this research was visual control. For those purposes, visual control were conducted on 5 plots in rice field and 1 plot in refugia plots. The distance of the observer to each plot was 2 meters and it were conducted for 15 minutes for each plot. Those observations were made in 3 period (08.00 to 10.00, 12.00 to 14.00, and 15.00 to 17.00) for every stage of rice growth and it were repeated 2 times. The measurement of abiotic factors include temperature, air relative humidity and light intensity. The analysis of herbivore community structure was obtained by counting the important value and Shannon–Wienner diversity index). Total abundance of herbivores was 521 individuals consist of 5 orders with 13 families. Families which had the highest abundance in the fields and refugia was Acrididae. Herbivore diversity in the fields and refugia was low to moderate. The highest of herbivore diversity in rice fields was at 12.00 to 14.00 pm while the highest diversity in refugia was at 8.00 to 10.00 pm. Families that dominate in the fields and refugia was Acrididae with high INP value.   Keywords : Biological control,  herbivore, organic, refugia
Pengaruh Desinfektan dan Lama Perendaman pada Sterilisasi Eksplan Daun Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson ex. F.A Zorn) Fosberg) Nur Asni Setiani; Fitri Nurwinda; Dewi Astriany
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2018.006.03.01

Abstract

Daun sukun (Artocarpus altilis) merupakan herbal yang banyak dimanfaatkan untuk pengobatan. Kultur jaringan menjadi alternatif dalam meningkatkan produktivitas daun sukun dan metabolit sekunder yang dihasilkannya. Tahap pertama yang menentukan keberhasilan perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan adalah teknik sterilisasi. Penelitian ini bertujuan mendapatkan metode sterilisasi terbaik dengan melihat pengaruh penggunaan natrium hipoklorit 5,25% dan alkohol 70% serta waktu perendaman terhadap penurunan kontaminasi. Pada penelitian ini terdapat 10 kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol positif, kontrol negatif, perendaman dengan alkohol 70% selama 5 menit dan 10 menit, perendaman dengan natrium hipoklorit 5,25% selama 5 menit dan 10 menit, serta kombinasi natrium hipoklorit 5,25% dan alkohol 70% selama 5 menit dan 10 menit.  Parameter pengamatan meliputi waktu pertama kontaminasi, persentase kontaminasi jamur dan bakteri, dan penampilan eksplan yang diamati selama 40 hari. Hasil penelitian pada penggunaan masing-masing desinfektan, baik alkohol 70% maupun natrium hipoklorit 5,25% dengan waktu perendaman 10 menit menunjukkan tidak adanya kontaminasi jamur dan bakteri, tetapi pada perlakuan natrium hipoklorit 5,25% terjadi perubahan warna eksplan menjadi kecoklatan. Kombinasi dari kedua desinfektan menunjukkan adanya kontaminasi jamur dan bakteri serta adanya perubahan warna eksplan. Sterilisasi eksplan daun sukun yang terbaik dapat dilakukan dengan cara perendaman menggunakan alkohol 70% selama 10 menit.
Isolasi Khamir dari Ampas Kasar Kecap dan Potensinya sebagai Starter Pembuatan Etanol Wulan Sari Eko Putri; Tri Ardyati
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ISOLASI KHAMIR DARI AMPAS KASAR KECAP DAN POTENSINYA SEBAGAI STARTER PEMBUATAN ETANOLWulan Sari Eko Putri dan Tri ArdyatiJurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas BrawijayaABSTRAKAmpas kecap sebagai limbah agro-industri mengandung gula reduksi yang berpotensi sebagai habitat khamir dan bahan dasar pembuatan etanol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan isolat khamir lokal dari ampas kasar kecap yang selanjutnya digunakan untuk fermentasi etanol. Sampel ampas kecap dilakukan pengayaan pada media Yeast Malt (YM) cair dan diinkunbasi pada suhu 30 oC selama 48 jam, kemudian dilakukan pengenceran berseri dan ditumbuhkan pada media YM agar diinkubasi pada suhu 30 oC selama 48 jam. Isolat yang tumbuh dikarakterisasi morfologi koloni dan sel. Identifikasi isolat dilakukan menggunakan API 20 C Aux. Uji toleransi etanol dilakukan pada media YM cair dengan penambahan etanol absolut 0, 5, 10, 15, dan 20 %. Produksi etanol oleh masing-masing isolat dan kontrol (S. cerevisiae) dilakukan pada media filtrat ampas kasar kecap 20 Brix inkubasi pada suhu 30 oC, agitasi 120 rpm selama 3 hari. Parameter yang diamati adalah kadar etanol, pH, temperatur, gula reduksi, oksigen terlarut, dan jumlah sel. Kadar etanol diukur dengan Kromatografi Gas. Dua isolat didapatkan dari ampas kasar kecap yaitu I2YP5K1 dan I2YP5K2 dengan toleransi terhadap etanol sampai 10 %. Hasil identifikasi menggunakan API 20 C Aux menunjukkan isolat I2YP5K2 termasuk Candida krusei. Produksi etanol paling tinggi didapatkan dari perlakuan I2YP5K1 sebesar 1,52  % diikuti C. krusei sebesar 0,84 % pada hari ke-3. Ampas kasar kecap memiliki potensi menghasilkan kadar etanol dengan kadar 4,07 %.Kata kunci : ampas kasar kecap, etanol, khamir
Daya Repelensi Biopestisida Terhadap Walang Sangit (Leptocorisa oratorius, Fabricus) di Laboratorium Maic Audo Eybi Mayer Sihombing; Setijono Samino
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biopestisida adalah pestisida organik yang dipakai untuk mengendalikan populasi hama di bawah batas ambang ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi efektif biopestisida yang dapat mengusir walang sangit dewasa, baik pada kondisi gravid dan non gravid (kondisi campur) dan non gravid. Walang sangit dewasa diaklimatisasi selama satu minggu di laboratorium. Konsentrasi biopestisida yang digunakan adalah 0 %, 1,79 %, 3,57 %, 7,14 %, 14,29 %, dan 50 %. Uji repelensi dilakukan dengan menggunakan olfaktometer empat lengan yang dimodifikasi menjadi binary choice. Data dianalisis dengan uji T tidak berpasangan, SPSS 16 untuk Windows. Seluruh konsentrasi biopestisida efektif untuk mengusir walang sangit dewasa dalam kondisi campur (P>0,05) dengan daya repelensi berkisar antara 70-90 %. Konsentrasi efektif biopestisida untuk mengusir walang sangit dewasa dengan kondisi non gravid yaitu 14,29 % dan 50 % dengan daya repelensi berturut-turut yaitu 83,33 % dan 90,91 %. Durasi waktu yang dibutuhkan oleh walang sangit dewasa kondisi campur bervariasi untuk setiap konsentrasi efektif (50 % : 23,13 detik;   14,29 % : 27,67 detik; 7,14 % : 27,11 detik; 3,57 % : 23,50 detik;  1,79% : 45,70 detik). Durasi waktu yang dibutuhkan oleh walang sangit dengan kondisi non gravid pada konsentrasi efektif yaitu 13,91 detik dan 18,70 detik. Kata kunci: Biopestisida, Leptocorisa oratorius, Fabricus, Olfaktometer Binary Choice, Repelensi
Promosi Pelestarian Suweg dan Pemanfaatan Kembali Bekatul Padi Organik Melalui Olahan Mie Hitam pada Beberapa Ibu Guru Kota Malang Purfita Asmaranti; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suweg (Amorphophallus campanulatus Blume) dan bekatul mulai jarang dikenal masyarakat. Keterbatasan pengolahan, menjadi faktor utama rendahnya minat pelestarian umbi suweg dan pemanfaatan bekatul oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terutama ibu-ibu dalam pendidikan konservasi umbi suweg dan pemanfaatan bekatul melalui kegiatan promosi. Evaluasi keberhasilan promosi ditentukan dengan teknik wawancara menggunakan lembar kuisioner kepada 10 ibu guru dari masing-masing SD tengah dan SD pinggiran Kota Malang. Alat (tool)  promosi yang digunakan meliputi mie hitam non terigu dari umbi suweg dan bekatul, serta bibit suweg. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Wilcoxon dengan membandingkan pemahaman ibu-ibu sebelum dan sesudah promosi. Hasil analisis menunjukkan bahwa promosi yang dilakukan dengan membagikan mie hitam dan bibit suweg dapat  meningkatkan pemahaman ibu-ibu tentang suweg dan bekatul. Demikian pula, kesediaan ibu-ibu untuk menanam suweg meningkat 20% sesudah promosi.  Selain itu, mie hitam potensial sebagai makanan fungsional serta efisien sebagai alat promosi pelestarian suweg dan pemanfaatan bekatul.
Identifikasi Padi Lokal Jawa Timur Berdasarkan Gen BADH2 yang Berpotensi sebagai Padi Beraroma Kurniawan Setia Putra; Dwi Listyorini; Suharti Suharti
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2018.006.03.04

Abstract

Padi lokal merupakan padi liar yang telah dibudidayakan oleh petani Indonesia. Potensi padi lokal dapat digunakan sebagai plasma nutfah yang memiliki berbagai gen dalam mengendalikan sifat tertentu. Beberapa beras di Indonesia memiliki potensi sebagai beras aromatik. Berbagai varietas padi aromatik berpotensi meningkatkan kualitas beras di Indonesia. Aroma beras dikendalikan oleh gen betain aldehid dehidrogenase (BADH). Gen ini terdiri dari dua alel yaitu BADH1 dan BADH2, mengkodekan enzim yang bertanggung jawab untuk mengkatalisis sintesis senyawa 2-acetyl-1-pyrroline (2-AP). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi aroma varietas Berlian. Gen BADH2 diisolasi dari daun pada ketiga varietas tersebut dan diamplifikasi menggunakan primer forward 5'-TTGTTTGGCTCTTGCTGATG -3' dan primer reverse 5'CATAGGAGCAGCTGAAATATATACC-3'. Fragmen gen BADH2 berhasil diamplifikasi dengan ukuran 258 bp (varietas Berlian). Sekuen BADH2 varietas Berlian menunjukkan kemiripan 100% dengan sekuen BADH2 padi tidak beraroma dan tidak memiliki kemiripan dengan sekuen BADH2 varietas padi beraroma. Analisis potensi padi beraroma menunjukkan bahwa varietas Berlian tidak berpotensi sebagai padi beraroma.
Struktur Komunitas Moluska dan Kualitas Perairan di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus Carita, Pandeglang, Banten Berti Priska Gea; Budi Rahayu; Silfi Faizatuluhmi; Ratna Komala
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.01.03

Abstract

Moluska adalah salah satu bioindikator pencemaran lingkungan yang sebagian besar spesiesnya di Indonesia belum banyak diungkap sehingga menarik untuk dipelajari lebih dalam. Moluska dapat ditemukan di perairan laut dan tawar di Pantai Carita, Pandeglang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari struktur komunitas Moluska di perairan laut dan tawar serta penentuan kualitas perairan. Penelitian dilaksanakan di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK), Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Sampel Moluska dikumpulkan dari tiga kuadran dengan masing-masing ukuran 1  1 m2 berdasarkan garis transek. Identifikasi dan analisis data dilakukan berdasarkan kelimpahan, indeks keanekaragaman dan dominansi. Sampel yang teridentifikasi didominasi oleh Gastropoda dibandingkan Bivalvia. Indeks keanekaragaman Moluska di perairan laut adalah 0,37, 0,36, dan 0,32, sementara di perairan tawar adalah 0.36, 0.36, dan 0.37. Indeks dominansi Moluska di perairan tawar adalah 0.12, 0.21, dan 0.04 sedangkan di perairan tawar adalah 0.08, 0.10, dan 0.17. Spesies melimpah di perairan laut adalah Laevipilina cachuchensis, Rhinoclavis vergatus, Mactra grandis, Trachycardium subrugosum, dan Morula margariticola sedangkan spesies dominan di perairan tawar adalah Thiara Scabra. Kualitas dari perairan tawar maupun laut termasuk kategori baik untuk mendukung kehidupan Moluska.
Respon Beberapa Galur Sorgum [Sorghum bicolor (L.) Moench] terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia sorghi Schw.) yuspamella chusnul novemprirenta; Serafinah Indriyani
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penyakit karat daun yang disebabkan jamur Puccinia sorghi merupakan salah satu kendala dalam usaha peningkatan produksi sorgum. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon beberapa galur sorgum terhadap penyakit karat daun Puccinia sorghi. Penelitian ini dilakukan di rumah kasa Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI), Malang, mulai dari bulan September hingga Desember 2012. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), tiap perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enam dari 13 galur sorgum yang diuji menunjukkan gejala infeksi penyakit karat, enam galur tersebut yaitu G1, G2, G5, G7, G9 dan G11. Masa inkubasi terpendek terjadi pada galur G1 dan G9, sedangkan intensitas penyakit penyakit karat yang terendah terjadi pada galur G5 dan G11. Penyakit karat berpengaruh langsung terhadap komponen hasil tanaman sorgum. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa galur sorgum yang direkomendasikan untuk usaha pemuliaan tanaman guna meningkatkan toleransi tanaman terhadap infeksi penyakit karat adalah galur sorgum G3, G4, G6, G8, G10, G12 and G13. Kata kunci : intensitas penyakit, masa inkubasi, Puccinia sorghi, sorgum