cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 34 Documents
Search results for , issue " 2003" : 34 Documents clear
HENTIKAN RUU SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.017 KB)

Abstract

       Rasanya sungguh sangat sedih demi membaca naskah terbaru (?) Rancangan Undang-Undang (RUU)  Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) edisi 3 Februari 2003.  Betapa tidak; di tengah-tengah adanya keinginan masyarakat untuk segera  memiliki UU pendidikan yang baru dan di tengah-tengah keinginan pemerintah untuk dapat segera mensahkan RUU Sisdiknas menjadi undang-undang ternyata kualitas naskah RUU sendiri  masih jauh dari memuaskan. Secara filosofis RUU Sisdiknas sangat lemah; dan secara teknis-substansial  RUU Sisdiknas sangat payah.          Perbincangan tentang RUU Sisdiknas akhir-akhir ini memang semakin semarak saja. Itu pertanda baik karena hal itu menandakan besarnya perhatian masyarakat  terhadap pendidikan nasional. Me-mang begitulah seharusnya; karena secara tak langsung pendidikan itu akan menentukan nasib suatu bangsa di masa depan.          Apabila kita mau belajar dari sejarah;  bangsa yang maju itu hanyalah bangsa yang pandai menjalankan roda pendidikan. Hampir tidak pernah ada dalam catatan sejarah  bangsa yang menelantarkan pendidikan menjadi bangsa yang maju dan disegani oleh masyarakat dunia pada umumnya.  Amerika Serikat (AS) dan Jerman di belahan barat serta Jepang dan Korea Selatan di belahan timur, merupakan  contoh dari sekian bangsa yang maju karena pendidikannya.          Mengembangkan undang-undang pendidikan yang baik adalah wujud dari perhatian terhadap pendidikan itu sendiri;  meski tidak ada garansi secuil pun bahwa undang-undang pendidikan itu secara otomatis akan membawa kemajuan bangsa.  Tidak pernah ada yang otomatis dalam hal ini.
BUKU DAN KEHORMATAN BANGSA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

       “Tidak ilmu suluh padam”, demikianlah bunyi pepatah lama bangsa Indonesia yang kira-kira artinya ialah, tanpa memiliki ilmu atau kepandaian yang cukup maka kehormatan kita di mata masyarakat akan sirna. Dengan kata lain, kalau kita memiliki ilmu atau kepandaian secara memadai maka hidup kita akan terhormat di mata masyarakat, sebaliknya kalau kita tidak memiliki ilmu atau kepandaian secara memadai maka hidup kita tidak akan terhormat di mata masyarakat.          Kalau kita kemudian bersafari ke negara tetangga Malaysia dan Brunei Darussalam, ternyata kedua bangsa serumpun ini pun memiliki pepatah yang hampir sama artinya. “Hitam-hitam bendi, putih-putih sadah”, begi-tulah bunyi pepatah yang dimaksud. Adapun artinya, orang yang berilmu akan dihormati sekalipun berwajah buruk, sedangkan orang yang tidak berilmu akan ditindas sekalipun berwajah elok. Sementara bangsa Arab memiliki pepatah kuno, “al ngilmu shoidun, walkitaabahu khoiduh(u)”, yang artinya ilmu itu seperti binatang buruan atau liar dan buku itu sebagai tali pengikatnya.          Arti dan makna peribahasa tersebut kiranya bersifat universal, dalam hal ini tidak hanya berlaku bagi bangsa Indonesia, Malaysia dan Arab saja akan tetapi berlaku bagi seluruh bangsa di dunia ini. Orang yang berilmu atau pandai, apalagi kepribadiannya baik, pasti dihormati oleh orang lain; sebaliknya kalau ada orang yang berilmu atau pandai tetapi kepribadiannya buruk sehingga tidak dihormati oleh orang lain maka faktor penyebab ketidakhormatan tersebut bukan pada ilmu akan tetapi pada keburukan atas kepribadiannya.  
MELAMBUNGKAN USAHA DENGAN BERBUAT MULIA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak pengusaha atau perusahaan ketika dalam keadaan resesi atau dalam kesulitan yang dilakukan dengan memPHK karyawan, bahkan BUMN milik pemerintahpun yang berfungsi menyediakan lapangan kerja sebagai tanggungjawab terhadap pelaksaan Undang-Undang Dasar, misalnya PT. Dirgantara Indonesia lebih memilih memPHK karyawan. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh perusahaan pakaian terkenal Levi Strauss.  Levi Strauss datang dari Bavaria. Ia tiba di New York pada 1847 dan bekerja sama dengan saudara tirinya dalam bisnis barang-barang yang dikeringkan. Pada 1853 Strauss pergi ke San Francisco untuk membangun bisnisnya sendiri. Kesempatan datang ketika salah seorang pelanggannya, penjahit Nevada bernama Jacob Davis, memperlihatkan sebuah ide dalam mengubah celana panjang pria. Hasilnya celana panjang yang kuat dan tahan lama, cocok dipakai bila Anda seorang penambang emas ataupun petani. Davis membutuhkan $68 untuk mendaftarkan hak paten desain itu. Pada 1873 Strauss dan Davis mempatenkan celana panjang tersebut, atau “waist-high overall” sebutannya ketika itu. Perusahaan semakin makmur dan ketika ia meninggal, perusahaan Levi Strauss mempunyai kekayaan $6 juta.  Tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan terjadi pada 1906, yaitu ketika terjadi gempa bumi diikuti kebakaran yang menghancurkan kantor pusat perusahaan dan dua pabriknya. Tindakan yang dilakukan Levi Strauss memberikan kredit pada pelanggan grosirnya sehingga mereka dapat bangun dan  kembali berbisnis. Perusahaan tetap membayar pegawai-pegawainya dan sebuah kantor sementara serta showroom terbuka untuk memberi mereka sesuatu untuk dilakukan, sementara kantor pusat baru dan sebuah pabrik dibangun. Pada saat depresi besar, ketika itu CEO Walter Haas Sr. Tetap mempekerjakan karyawan-karyawannya dengan menyuruh mereka membangun lantai baru di pabrik perusahaan di Valencia Street di San francisco  dan bukannya memberhentikan mereka. Ia beragumentasi bahwa tenaga kerja yang diberi kuasa, orang-orang yang berbagi nilai-nilai dan aspirasi yang sama dengan perusahaan seperti manajer-manajer dan pemilik, akan membuat perusahaan menjadi pemimpin pasar. “Anda tak dapat membuat orang bersemangat atau mendapatkan dukungan mereka kecuali organisasi tersebut memiliki jiwa “kata Haas. Kemudian memberikan kesempatan yang sama bagi orang Afrika-Amerika untuk bekerja di pabrik pabriknya pada 1950-an dan 1960-an, ketika mereka mengembangkan bisnisnya ke negara-negara selatan. Sejalan dengan perkembangan bisnisnya, komunitas masyarakat yang menganut tradisi mereka berkembang bersamaan. Levi-Strauss sekarang mendapatkan 40 persen keuntungannya dari bisnis internasional dan produk pabrik di lebih dari 50 negara seluruh dunia. Seperempat pegawainya bekerja di luar Amerika Serikat. Levi Strauss memilih berbuat mulia untuk melambungkan usahanya dengan tetap memperkerjakan karyawannya ketika perusahaan dalam kesulitan. Dengan berbuat mulia barangkali Tuhan ikut membantu. Kita berharap PT. Dirgantara Indonesia melakukan hal yang serupa.
KOLABORASI PENDIDIKAN ANTARNEGARA PASIFIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.748 KB)

Abstract

Negara-negara di pinggiran laut Pasifik (Pacific Rim), untuk selanjutnya disebut negara-negara Pasifik, khususnya anggota Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE),  sekarang tengah berada di dalam era global-industrial. Pada satu sisi konteks global tertandai dengan  terjadinya keterjangkauan akses informasi hampir di seluruh bidang kehidupan,  sedangkan di sisi yang lain konteks industrial  tertandai dengan terjadinya transformasi  pada berbagai  konsentrasi sumber investasi.          Keterjangkauan informasi tersebut di atas telah menimbulkan kompetisi global.  Setiap menit bahkan setiap detik kita menghadapi persaingan serta perpaduan budaya antarbangsa  (cultural contact) yang tidak mungkin dihindari.  Setiap detik kita dituntun oleh alam dan didorong  oleh teknologi untuk melibatkan diri ke dalam arus perubahan. Di sisi lainnya, masyarakat negara-negara Pasifik yang mulanya  masih meletakkan konsentrasi sumber investasi pada tanah pertanian (preindustrial society)  secara perlahan-lahan tetapi pasti mengubahnya ke permesinan dan jasa (industrial society). Sekelompok kecil diantaranya  bahkan telah mengubahnya ke ilmu pengetahuan dan teknologi (post industrial society).           Salah satu metoda untuk mensiasati kompetisi global tersebut  ialah dengan menjaring kolaborasi antarnegara pada masalah-masalah tertentu  yang dianggap penting (important) dan/atau genting (ur-gent) oleh sekelompok negara.  Pendidikan merupakan salah satu masalah yang memenuhi kedua kriteria tersebut.  Itu berarti bahwa kolaborasi pendidikan antarnegara Pasifik sangat diperlukan sebagaimana  pernah saya kemukakan  dalam seminar internasional PAPE di Manila Filipina beberapa waktu yang lalu.
MEMPERTAHANKAN YOGYAKARTA SEBAGAI KOTA PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.637 KB)

Abstract

Dulu, beberapa dasa warsa yang lalu, Yogyakarta pernah menjadi Kota Pendidikan terkemuka di negara kita. Banyak orang menganggap bahwa Yogyakarta adalah penghasil manusia-manusia cerdas dan berbudi pekerti luhur; penghasil pemimpin dan calon-calon pemimpin negeri; serta pelahir konsep-konsep yang jitu untuk membangun negeri. Yogyakarta sering dii-baratkanseperti mata air yang menjadi sumber kehidupan yang memberikan harapan masa depan.          Dalam perkembangannya, apakah predikat Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan masih disandang? Dalam persaingan yang ketat antardaerah di dalam mengoptimalkan pembangunan pendidikannya apakah Yogyakarta masih layak menyandang predikat sebagai Kota Pendidikan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kiranya sekarang sangat relevan untuk didiskusikan dan diklarifikasi.  
HDI DAN MUTU MANUSIA INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.073 KB)

Abstract

Seperti telah banyak diberitakan oleh mass media, baru-baru ini United Nations Development Programme (UNDP) telah mempublikasi laporannya, "Human Development Report 2003".  Dalam laporan mutakhirnya itu disebutkan bahwa Human Development Index (HDI) Indonesia  berada pada peringkat 112 dari 175 negara.  Lebih jauh lagi dikatakan bahwa indeks Indonesia memburuk karena turun dari 0,684 (Tahun 2002) menjadi 0,682 (Tahun 2003).          Informasi peringkat HDI Indonesia tersebut segera saja men-jadi buah bibir  di kalangan intelektual dan birokrasi pemerintahan kita;  memburuknya indeks diyakini  sebagai memburuknya kualitas manusia Indonesia itu sendiri dalam satuan bangsa.          Karena HDI itu dibangun  atas indikator-indikator kesehatan dan kependudukan, pendidikan, serta ekonomi  maka memburuknya indeks tersebut  diyakini mencerminkan memburuknya mutu manusia Indonesia  bila dilihat dari sisi kesehatan dan kependudukan, pen-didikan, serta ekonomi.          Itu semua menjadikan  sebagian dari intelektual dan birokrat kita terus sibuk mencari penyebabnya. Apakah pengelolaan masalah kesehatan dan kependudukan kita  memang belum memadai, apakah pembangunan pendidikan kita belum berhasil secara membanggakan, serta apakah penanganan ekonomi kita memang mengecewakan. Atau hal itu semua  disebabkan karena hasil pembangunan keempat indikator tersebut secara komulatif memang belum menjanjikan?  Hal ini penting untuk diklarifikasi,  agar kita tahu apa dan prioritas mana yang harus dilakukan  untuk membangun manusia Indonesia supaya hasilnya lebih baik.
MEMULAI USAHA TANPA UANG TUNAI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selain dengan membuka usaha tanpa uang tunai dengan pembayaran di belakang, dapat pula Anda membuka usaha dengan pembayaran di muka.  Gabungan antara memulai usaha dengan pembayaran di belakang dan pembayaran di muka merupakan yang paling ideal. Gedung atau kantor, iklan, brosur dapat kita peroleh dengan pembayaran di belakang, sedangkan pelanggan kita menggunakan pembayaran di muka. Usaha berupa kursus, lembaga pendidikan kejuruan dan bahkan pendidikan tinggipun dapat dilakukan dengan strategi pembayaran di muka.             Pada saat kami membuka cabang Pusat Pendidikan Komputer dan Manajemen IMKI di jalan Abubakar Ali nomor 20 Kotabaru Yogyakarta, setelah beriklan di Harian Kedaulatan Rakyat yang dapat dibayar di belakang, akhirnya mendapat 35 siswa. Kemudian diberikan kuliah umum yang berisi penjelasan teantang materi yang akan diajarkan selama satu tahun. Dimulai dari materi Achievement Motivation Training sampai System Analysis. Tiba-tiba mereka bertanya ?Pak komputernya mana kok tidak ada??. ?Coba perhatikan dalam iklan bunyinya bagaimana?.?, saya balik bertanya. ?Pendikan Komputer dilengkapi pendidikan manajemen praktis dan kewirausahaan,? jawab mereka. ?Anda benar. Dalam satu bulan pertama ini Anda akan mendapatkan pendidikan manajemen praktis dan kewirausahaan, kemudian baru dilanjutkan pelajaran komputer? jawab saya sambil berkata dalam hati ?tetapi kamu juga harus membayar?. Setelah satu bulan mereka puas, akhirnya membayar. Dari uang siswa tersebut saya kreditkan komputer dapat 12 komputer. ?Itu komputernya? kata saya. ?Oh komputernya sudah ada ya Pak? kata mereka. Saya tersenyum sambil berkata dalam hati ?sesungguhnya itu juga uang Anda?. Maka kita dapat mengoperasikan usaha dengan pembayaran di muka, yaitu pembayaran dari pelanggan kita.                         Bahkan ketika saya bersama-sama dengan kawan-kawan dari Totalwin Institute of Management bekerjasama dengan Warnbrough University, Inggris.  membuka Program MBA  (ketika itu belum dilarang), cukup menyediakan hotel bintang lima yang dapat dibayar di belakang, kemudian para mahasiswa membayar di muka. Pertama kali, calon mahasiswa dikumpulkan di salah satu hotel berbintang diberikan penjelasan tentang Program MBA dari Warnbrough University. Termasuk berapa biaya, kalau harus kuliah di Inggris. Kalau kuliah di Indonesia dapat menggunakan pengantar Bahasa Indonesia. Tesisnya saja dalam Bahasa Inggris di supervisi oleh Perwakilan Warnbrough University dari Australia. Setelah selesai kuliah umum, bagi yang berminat dapat memberikan uang muka Rp. 1.000.000,-. Dari uang tersebut dapat digunakan untuk sewa ruangan beserta perlengkapan lainnya, sehingga pengelola tidak mengeluarkan biaya. Setelah minimal 15 mahasiswa mendaftar, kuliah segera di mulai. Dengan demikian hotel beserta fasilitas lainnya dapat dipenuhi dengan pembayaran dimuka dari mahasiswa. Dari hasil Program MBA tersebut akhirnya dapat digunakan untuk mendirikan Program MM STIE ?ABI? Surabaya. Barangkali Program Magister Manajemen yang paling laris di Indonesia, karena mempunyai mahasiswa sekita 1000 orang.
DENGARLAH ISTRI ANDA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Walt Elias Disney lahir pada 5 Desember 1901 di Chicago, Illinois. Ia mulai mencintai menggambar dan mengatur mempekerjaan seninya pada saat berusia 7 tahun.  Ia juga sangat tertarik pada fotografi.  Sebagai remaja ia pergi kesekolah pada siang harinya dan pergi ke Akademi Seni pada malam harinya. Ketika pecah perang dunia I, ia mencoba untuk bergabung dengan tentara, tetapi masih terlalu muda. Maka ia diletakkan di Palang Merah, karena usianya dan dikirim ke luar negeri dengan menaiki ambulan yang dihiasi dengan karakter kartun. Setelah selesai perang, Walt Elias Disney mengadu nasib ke  Hollywood dengan bekal kemampuan menggambar dan uang $40. Ia memulai bisnis dengan saudara laki-lakinya membuat film animasi dan menjadi terkenal dengan cepat di Hollywood. Di 1920, Disney pindah ke Kansas City, ia bekerja sebagai animator UB Iwerks. Perusahaan tempat ia bekerja, yaitu Laugh O Gram Company bangkrut. Di 1923, ia meninggalkan Kansas City menuju Los Angeles untuk mencari pekerjaan di bisnis perfilman. Pada awalnya tidak sukses, kemudian ia tetap gigih tinggal di Los Angeles menyewa kamera, membangun stan animasi dan membuat studio di garasi pamannya. Ia memulai bisnis bersama kakaknya Roy. Film pertamanya Alice tidak membuat perusahaan bertambah maju, demikian juga film keduanya Oswald the Rabbit yang diluncurkan pad 1927. Kegagalan itu berubah menjadi kesuksesan setelah Tikus itu di buat dengan mendengarkan nasehat istrinya.             ?Saya berharap tidak pernah mengabaikan bahwa semuanya ini berawal dari seekor tikus?, kata Walt Disney di tahun-tahun akhir hidupnya. Diceritakan suatu ketika di awal karirnya, Disney berteman dengan satu keluarga tikus di kantornya. Seringnya tikus-tikus itu muncul di atas papan gambarnya menghasilkan inspirasi. Sebuah cerita yang mengesankan. Kenyataannya tikus yang menjadi pertanyaan itu memulai kehidupannya sebagai Mortimer Mouse. Istri Walt Disney, Lilly tidak setuju dengan nama itu dan mengusulkan Micky sebagai gantinya.  Walt mendengarnya. Apakah sekedar hanya untuk menyenangkan istrinya atau dalam hatinya Walt Disney juga mengakui bahwa Micky adalah nama yang ideal untuk meluncurkan sebuah kekaisaran bisnis, tidak ada yang tahu. Nama Micky merupakan nama yang lebih bersahabat dan lebih informal, yang mempunyai hubungan dengan orang biasa. Pada1928, Mickey Mouse diciptakan dan dibuat pemunculan dalam dunia kartun untuk pertama kali menggunakan suara.. Pada 21 Desember,1937, animasi dengan musik istimewa yang pertama, Snow White and the Seven Dwarfs, diperkenalkan di Los Angeles. Itu dibuat dengan biaya di atas satu juta dolar, yang merupakan uang yang banyak. Selama lima tahun kemudian,Walt Disney memproduksi, animasi klasik seperti Pinocchio, Fantasia, Dumbo dan Bambi.
MERATAKAN MUTU PENDIDIKAN NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.659 KB)

Abstract

         Bapak Pendidikan Nasional kita Ki Hadjar Dewantara pernah membuat pernyataan mengenai kekuatan bangsa sbb:  "Oleh karena pengajaran yang hanya terdapat pada sebagian kecil rakyat kita itu  tidak berfaedah untuk bangsa maka haruslah golongan rakyat yang besar  mendapatkan pengajaran secukupnya.  Kekuatan bangsa dan negara itu merupakan jumlah kekuatan orang-orangnya.  Karena itu lebih baik memajukan pengajaran bagi rakyat umum dari pada mem-pertinggi pengajaran kalau usaha mempertinggi pengajaran itu akan mengurangi tersebarnya pengajaran".         Apa yang dinyatakan oleh Ki Hadjar tersebut menggambarkan pentingnya pemerataan kekuatan orang-orang sebagai anggota suatu bangsa, dalam hal ini bangsa Indonesia. Bila orang-orang kita kuat maka secara sinergis akan menjadikan bangsa kita kuat; sebaliknya bila orang-orang tidak kuat maka bangsa kita tidak akan kuat.          Agar supaya orang-orang yang membangun bangsa Indonesia ini memiliki kekuatan yang memadai  maka pendidikan (pengajaran) harus disebarkan ke seluruh orang (rakyat) secara merata. Usaha mempertinggi pengajaran, yang maksudnya ialah meningkatkan mutu pendidikan, diakui Ki Hadjar sebagai sesuatu yang sangat penting; namun demikian usaha peningkatan mutu pendidikan  jangan sampai menghambat usaha-usaha pemerataan pendidikan itu sendiri.         Jelas sekali Ki Hadjar memandang pentingnya meratakan mutu pendidikan bagi segenap rakyat dan jangan sampai pendidikan yang bermutu itu dimiliki oleh sekelompok orang saja.
PENDIDIKAN TINGGI PUSAT KEUNGGULAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.209 KB)

Abstract

       Setiap Selasa Wage, menurut perhitungan hari dan pasaran Jawa, Sri Sultan Hamengku Buwono X menguraikan gagasan dan pemikiran beliau melalui  SKH Kedaulatan Rakyat dalam rubrik tetapnya ?Sabda Sri Sultan Hamengku Buwono X?. Beliau menulis gagasan dan pemikirannya tidak dalam satu bidang saja akan tetapi dalam banyak bidang sekaligus; sosial, politik, seni, budaya, pendidikan, kemasyarakatan, pariwisata, sains dan teknologi, dan sebagainya.          Saya cukup bangga mendapatkan kesempatan memberikan tanggapan atas tulisan-tulisan Sri Sultan bukan karena hari Selasa Wage bertepatan dengan hari dan pasaran lahir (weton) saya (saja); tetapi tulisan-tulisan Sri Sultan memang pantas mendapat respon dari masyarakat luas.          Dalam konotasi Jawa, sabda artinya pernyataan, uraian, pesan, atau terkadang diartikan sebagai perintah dari orang yang memiliki kedudukan sosial tinggi kepada orang lain yang kedudukan sosialnya lebih rendah. Medhar sabda artinya memberi pernyataan, uraian, pesan dan/atau perintah yang sifatnya monologis; sedangkan wawan sabda artinya saling memberi pernyataan, pesan dan/atau perintah atau yang bahasa sekarangnya adalah berkomunikasi secara dialogis.  

Page 3 of 4 | Total Record : 34


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue