Articles
25 Documents
Search results for
, issue
"1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT"
:
25 Documents
clear
BERGAUL DENGAN MASYARAKAT MAJEMUK BERKAT SENIORITAS DAN KUALITAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (103.929 KB)
      Besok tanggal 27 Spetember 1985 KR, Kedaulatan Rakyat, genap berusia "panca windu" atau empat puluh tahun. Suatu usia yang hanya terpaut beberapa minggu, atau tepatnya terpaut empat puluh satu hari dengan kemerdekaan bangsa Indonesia.       Dengan usia kemerdekaan yang 40 tahun, telah banyak yang dapat diperbuat oleh negara kita, baik dalam hal pembangunan fisik maupun pembangunan mental spiritual guna menghantarkan rakyatnya kejenjang kehidupan yang lebih tinggi. Demikian pula halnya dengan KR, dalam usianya yang telah mencapai "panca windu" tentu sudah banyak yang dikerjakan, khususnya dalam hal pembangunan informasi .       Seperti kita ketahui televisi, radio dan surat kabar ialah merupakan "trisaka" atau tiga pilar utama bagi sebuah operasi penerangan, ialah suatu proses untuk mengkomunikasikan informasi dari pemerintah kepada masyarakat serta dari masyarakat kepada pemerintah. Lebih dari itu termasuk juga di dalamnya informasi antar anggota masyarakat.       Efektivitas penyajian pada ketiga jenis media informasi tersebut akan berkaitan erat dengan intensitas pemahaman informasi bagi audience nya (pirsawan, pendengar atau pembacanya). Oleh karena itu dapat dimaklumi bila efektivitas penyajian selalu menjadi topic aktual bagi kalangan televisi, radio maupun surat khabar.
KEBIJAKSANAAN DALAM SIPENMARU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (101.639 KB)
      Menjelang diselenggarakannya Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) tahun ini, Depdikbud yang dalam hal ini melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengetangahkan beberapa kebijaksanaannya.      Baru-baru ini Dirjen Dikti, Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo menegaskan bahwa lulusan SMTA tahun 1982 dan sebelumnya tidak diizinkan lagi untuk mengikuti Sipenmaru. Mereka yang diperbolehkan adalah lulusan SMTA Umum tahun 1985, 1984 dan lulusan tahun 1983. Sedangkan bagi lulusan SMTA tahun 1982 dan sebelumnya dapat mengikuti pendidikan (tentunya kalau segala persyaratannya memenuhi) pada Universitas Terbuka (UT).      Lebih lanjut dikatakan bahwa lulusan SMTA 1982 sebenarnya sudah diberi kesempatan sebanyak 3 (tiga) kali untuk mengikuti testing masuk perguruan tinggi. Kesempatan sebanyak 3 kali tsb, dan gagal (tidak diterima pada Perguruan Tinggi Negeri) dapat dipandang telah memberikan indikator bahwa jalan yang ditempuh harus lain.      Disisi yang lain terdapat pula kebijaksanaan dalam kaitannya dengan hasil Ebtanas SMTA 1984/1985. Bagi lulusan SMTA 1984/ 1985 yang memiliki Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang gemilang, dengan nilai rata-rata delapan keatas, dengan cepat akan memperoleh bonus dalam penentuan ranking hasil testing Sipenmaru.
MERINDUKAN DESISI AKADEMIS YANG MANTAB
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (106.214 KB)
      Marilah sejenak menengok sejarah kita, sebuah romantika akademis yang terdokumentasi secara memorial.       Pada thn 1984 terjadilah peristiwa akademis yang sangat penting dalam dunia pendidikan kita, ialah direalisasikannya pelaksanaan kurikulum baru pada SMA. Formulasi kurikulum baru ini selanjutnya yang dikenal dengan "Kurikulum 1984 SMA". Perlu diingat pula bahwa pada saat itu yang (kebetulan) menjadi Mendikbud adalah Prof. Dr. Nugroho Notosoesanto .       Konstruksi kurikulum ini terdiri dari dua program utama, masing-masing adalah program-A dan program-B . Program A (A1, A2, A3 dst) bertugas mempersiapkan para lulusannya untuk melanjutkan studi kejenjang pendidikan formal yang lebih tinggi, sedangkan program-B bertugas mempersiapkan lulusannya untuk bekerja.       Seperti sediakala, setiap Depdikbud mengeluarkan keputusan-keputusan atau "desisi akademis" yang baru pasti akan mengundang reaksi dari masyarakat, positif atau tidak positif (ini membuktikan bahwa di negara kita telah tercipta "demokrasi akademis").
KEBIJAKSANAAN NONKATROLAN, MUNGKINKAH?!
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (102.722 KB)
      TOPIK pembicaraan yang paling hangat saat ini, khususnya dikalangan guru, siswa dan orang tua siswa tiada lain adalah Ebtanas. Betapa tidak, peristiwa besar ini disamping menentukan nasib para siswa (peserta Ebtanas) secara langsung juga akan menyangkut nama baik guru, orang tua/wali, sekolah dan bahkan sampai kepada pemerintah kita sendiri.      Keberhasilan penyelenggaraan Ebtanas, baik dari segi jumlah peserta yang lulus maupun suasana dan kerapian selama momen ini berlangsung bukan saja mengantarkan kebanggaan bagi para siswa melainkan juga bagi para pembina dan penyelenggaranya.      Kita semua tentu berharap agar Ebtanas yang dijadikan sarana peningkatan dan penyeragaman mutu lembaga pendidikan dapat berakhir dengan sukses. Syukur tanpa cela.      Namun sebelum cita-cita itu tercapai kini muncul berbagai kekhawatiran dan kesangsian. Kekhawatiran yang paling mendalam adalah rontoknya para peserta Ebtanas itu sendiri apabila aturan-aturan yang telah dicanangkan terutama yang menyangkut evaluasi dan kriteria kelulusan dijalankan dengan kepala dingin tanpa datangnya kebijaksanaan dari atas.
PERLU ATURAN DAN KESERAGAMAN NOMINAL PEMBAYARAN PADA PTS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.269 KB)
      Jumlah nominal pembayaran pada PTS, Perguruan Tinggi Swasta, atau besarnya tarikan uang oleh PTS selalu saja menjadi bahan pembicaraan yang hangat untuk setiap pergantian tahun akademik, lebih-lebih pada saat masyarakat kecewa karena putera-puterinya gagal menempuh Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) pada PTN, Perguruan Tinggi Negeri.        Pada saat-saat yang demikian, sesaat setelah putera-puterinya gagal menempuh Sipenmaru PTN, biasanya sebagian besar anggota masyarakat mulai berpaling dan berkepentingan langsung pada PTS.       Masih relatif sedikit anggota masyarakat yang mengadakan kontak langsung dengan PTS sebelum Sipenmaru PTN diumumkan secara resmi oleh pemerintah. Hal ini kiranya wajar dan bisa dimaklumi mengingat strategi masuk perguruan tinggi yang dipunyai, khususnya para calon mahasiswa baru itu sendiri, masih sangat terbatas. Disamping itu masih ada masalah lain yang sangat berperan, ialah masalah nominal dana pendidikan bagi perguruan tinggi penyelenggara .       Masalah nominal dana pendidikan  ini bergerak dalam dua jalur, masing-masing adalah selisih pembayaran yang tinggi antara PTN dan PTS serta bervareasinya nominal pembayaran pada PTS itu sendiri.
JANGAN MENCIPTA KETERGANTUNGAN !
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.817 KB)
      Dalam minggu-minggu ini mulai diselenggarakan kegiatan "tutorial perdana" kepada mahasiswa Universitas Terbuka (UT) untuk semester gasal, ialah semester pertama dan tiga (Smt-I dan Smt-III). Kegiatan tutorial disini dimaksudkan sebagai pertemuan langsung antara mahasiswa UT dengan para tutor dalam rangka membantu belajar mahasiswa, misalnya dengan memperdalam materi kuliah, memecahkan soal-soal, dan sebagainya.       Seorang mahasiswa UT yang pernah berjumpa dengan saya beberapa waktu yang lalu sempat mengutarakan kegembiraan yang menyedihkan.        Pertama sekali mahasiswa tersebut menceriterakan bahwa dirinya termasuk mahasiswa yang rajin (tentu saja subyektif! ), oleh karena dia selalu mengikuti dan mengerjakan program-program yang dicanangkan oleh universitas. Misal selalu membaca modul, mengerjakan soal-soal mengikuti program audio-visual yang disiarkan melalui TVRI, dan sebagainya.       Meskipun demikian diakuinya bahwa tidak seluruh materi dapat "ditangkap" untuk distrukturkan dan diorganisir dalam benaknya.  Fifty-fifty , demikian kalau dapat dikomputasikan dengan bilangan, artinya separoh materi program dapat "ditangkap" sedangkan separoh lainnya pada "lari". Itulah sebabnya maka kegiatan tutorial disambut dengan rasa kegembiraan yang berlimpah, oleh karena dengan tutorial maka beberapa materi yang lari dapat ditangkap kembali.
KOMERSIALISASI TUTORIAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.497 KB)
Tahun demi tahun problematika pendidikan di negara kita tidak semakin berkurang, tapi sebaliknya justru semakin membengkak dan kompleks, baik yang berupa problematika warisan maupun problematika baru yang senantiasa muncul dan tidak kalah menggigit.      Depdikbud, khususnya para pengelola Universitas Terbuka (UT) akan mendapat giliran lagi. Pada saat sibuk-sibuknya mereka mengadakan penataan struktur organisasi, pemilihan alternatif dan model penyajian program yang paling effektiv sampai pada persiapan penyelenggaraan evaluasi semesteran, yang mana kini mereka disodori problematika baru, tutorial swasta.      Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 4 Januari 1985 koran ibu kota terbesar dinegeri ini memuat berita bahwa salah satu PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di Yogyakarta akan mengadakan program tutorial bagi mahasiswa UT untuk membantu mereka yang menemui kesulitan dalam memahami teks dan soal-soal.      Selanjutnya berita itu juga menyebutkan bahwa para mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini akan ditarik bayaran, bila lebih banyak pesertanya akan lebih murah. Disediakan sekian orang pengajar (tutor) yang semuanya merupakan staf pengajar UGM dan sejak dibuka pendaftaran setiap pagi ratusan mahasiswa UT mendatangi tempat pendaftaran. (Ini berita apa publikasi terselubung koq datanya komplit sekali, sedangkan koran lokal malah tidak mempublikasikannya. Ah, kita singkirkan saja dulu kecurigaan dan praduga tidak baik tersebut).
RESPONSI HEROIK KEBANGKITAN NASIONAL INSPIRASI BAGI OPTIMALISASI PEMBANGUNAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (104.764 KB)
      Kemajuan dan kewibawaan sebuah negara banyak tergantung pada perkembangan ekonomi dan pendidikan negara yang bersangkutan. Teori klasik ini masih sangat relevan dan selalu eksis meskipun telah bertahun-tahun, bahkan berabad-abad telah dilanda oleh berputarnya roda-roda jaman.      Bagi bangsa Indonesia hal ini bukan lagi merupakan hipotesis yang masih harus diuji kebenarannya, akan tetapi sudah menjadi konklusi dasar yang telah teruji melalui statistik alam yang berupa tahapan-tahapan pengalaman pahit, khususnya pada masa sebelum kemerdekaan.      Pejajahan yang berpuluh-puluh tahun diatas bumi ini,baik yang bersifat penjajahan fisik maupun non-fisik (ideologis,ekonomis, filosofis, kultural dsb) telah menghantarkan manusia-manusia Indonesia untuk berbangsa dan bernegara. Penjajahan berarti terobek-robeknya harkat martabat manusia serta terkoyaknya eksistensi diri yang menimbulkan kesengsaraan, kebengisan, pertengkaran, perpecahan, ketidak-adilan serta ketidakharmonisan.      Kemelaratan dan kebodohan bangsa Indonesia adalah merupakan desisi-politis kaum penjajah untuk menajamkan daya cengkeramnya.
MENGHILANGKAN KESAN MAHASISWA SAMPINGAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (133.615 KB)
Sekitar satu tahun yang lampau, tepatnya pada tgl 4 September 1984 dalam acara pembukaan Universitas Terbuka secara resmi, Presiden Soeharto menegaskan bahwa Universitas Terbuka adalah merupakan jawaban yang tepat untuk meratakan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi dalam kondisi dan situasi kehidupan masyarakat dewasa ini, terutama karena wilayah kepulauan negeri ini yang sangat luas.        Apa yang ditegaskan oleh bapak presiden kiranya sangat tepat dan relevan, mengingat tujuan utama pembukaan UT adalah meningkatkan daya tampung pendidikan tinggi sehingga kebutuhan lulusan pendidikan tinggi untuk pembangunan bangsa dan negara dapat dipenuhi.      Latar belakang didirikannya UT adalah ditemuinya kenyataan bahwa setiap tahun jumlah permintaan untuk menjadi mahasiswa selalu lebih besar dari peningkatan daya tampung perguruan tinggi, sekalipun pemerintah bersama-sama dengan lembaga pendidikan swasta telah berusaha keras untuk meningkatkan daya tampung.      Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar didunia memiliki sekitar 13.677 pulau dengan jumlah penduduk 150 juta (kala itu). Dari jumlah tersebut 18 juta diantaranya berusia 18 - 24 tahun, yaitu kelompok umur yang dapat mengikuti pendidikan tinggi. Sedangkan tingkat partisipasi pendidikan tinggi hingga pada akhir Pelita III adalah 5%. Disisi lain untuk Pelita IV penye- rapan sumber daya manusia memerlukan sekitar 8,2% dari kelompok umur tersebut yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi pada bidang-bidang tertentu.
PENGANGKATAN KEMBALI GURU YANG PENSIUN PERLU PERHATIKAN REGENERASI STRUKTURAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (101.975 KB)
      Pada jaman Belanda dulu apabila kita mendengar istilah pensiun maka interpretasi kita akan lari kepada seorang yang berusia lewat setengah baya bekas ambtenaar, duduk di kursi goyang, memakai kaca-mata "putih dengan memegang sebuah buku ditangan kanannya. Tidak ketinggalan, disampingnya terdapat meja "pendek" lengkap dengan kopi manisnya.       Itulah gambaran kenikmatan orang yang telah pensiun pada waktu itu. Orang yang mulai pensiun berarti orang yang mulai merasakan hidup nikmat, atau orang yang membuka "tabungan". Seolah-olah segala jerih payah dan kepahitan hidup telah diselesaikannya dengan sempurna.       Sekarang, terutama dari dimensi ekonomis material, keadaan tersebut terasa telah berubah hampir 180 derajad.       Seorang yang mulai menjalani masa pensiun dapat dikatakan mulai membuka hidup prihatin (tentu tidak untuk semua orang). Dengan penghasilan yang menjadi sangat pas-pasan, untuk tidak dikatakan kurang, disertai vareasi berbagai tanggungan maka lengkaplah keprihatinan hidup. Hal ini barangkali sangat terasa bagi para "pensiunan" guru yang biasanya dulu kurang sempat "menabung".