Articles
12 Documents
Search results for
, issue
"1987: HARIAN SURYA POS"
:
12 Documents
clear
MENGAMATI SKEMA TENAGA KERJA KITA REFUNGSIONALISASI SEKOLAH KEJURUAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (143.641 KB)
      Problematika ketenagakerjaan di negara kita makin lama ternyata semakin kompleks: bukan saja menyangkut kuantitas serta distribusi tenaga kerja menurut proporsi potensi kerja yang tersedia, akan tetapi juga menyangkut kualitas tenaga kerja itu sendiri.      Tingkat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi secara otomatis telah berakibat pada pertumbuhan angkatan kerja yang tinggi pula.      Sebuah deretan angka dapat dipresentasikan; pada tahun 1961 jumlah angkatan kerja kita menunjukkan angka 34,8 juta orang, yang sepuluh tahun kemudian (thn 1971) berubah menjadi 40,4 juta orang. Pada tahun 1980 terjadi lagi peningkatan jumlah angkatan kerja menjadi 53,3 juta orang. Dengan demikian pertumbuhan angkatan kerja rata-rata per tahun pada dasawarsa 1961-1971 sebesar 1,5% dan pada dasawarsa 1971-1980 naik menjadi 3,1%, atau lipat dua kali lebih. Bisa dipastikan pada dasawarsa 1980-1990 ini angkanya tentu semakin meninggi.      Masalah lain yang ikut "meramaikan" problematika ketenagakerjaan kita adalah tingkat pendayagunaan tenaga kerja yang masih sangat rendah, adanya ketidakseimbangan distribusi tenaga kerja diantara pulau-pulau atau daerah yang berpotensi, belum efektifnya pasar kerja dalam hal penyaluran tenaga kerja secara optimal, serta masalah-masalah lain yang sejenis.
MEREALISIR EMPAT JALUR DISTINGTIF IKIP
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (140.821 KB)
          Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Fuad Hassan dalam merespon kritik dan sinyalemen tentang menurunnya kualitas pendidikan di negara kita secara "gentlemen" pernah mengkomunikasikan bahwa masalah fenomena menurunnya mutu pendidikan sepenuhnya adalah menjadi tanggung jawab Depdikbud.          "Statement" seperti tersebut di atas selanjutnya diterima oleh sebagian anggota masyarakat sebagai sebuah "pembenaran" terhadap fenomena merosotnya kualitas pendidikan sebagaimana banyak dipolemikkan akhir-akhir ini. Akibatnya mereka kemudian mencoba mencari-cari "siapa" atau "lembaga apa" diantara komponen Depdikbud yang dianggap paling banyak menanamkan andil terhadap fenomena "dekadensi kualitas" ini.          Tidak pelak lagi IKIP sebagai lembaga pendidikan tinggi pencetak guru akhirnya mendapatkan "tuduhan" atau semacam keharusan untuk ikut bertanggung jawab terhadap    gejala kemerosotan kualitas.          Garis logikanya adalah cukup sederhana, dan rasional pula. Salah satu faktor yang dipandang cukup dominan terhadap fenomena kemerosotan kualitas pendidikan menengah adalah rendahnya kualitas tenaga pendidik. Karena tenaga pendidik merupakan hasil produksi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK); SPG, SGO, SGPLB, IKIP, FKIP, dsb, maka lembaga ini sudah selayaknya untuk ikut    menanggung "dosa".Â
AWAS, PROSTITUSI ADALAH TRANSITO AIDS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (139.682 KB)
 Pada tanggal 21 Juni yang lalu, di Yogyakarta telah diselenggarakan Seminar tentang AIDS dan Prostitusi, yang diusahakan oleh Yayasan Studi dan Kerja Nyata Indonesia dengan mengundang pemrasaran-pemrasaran antara lain dari UGM-Yogya, UNS-Solo, Undip-Semarang. Penulis, yang bertindak sebagai salah seorang ketua Panitia, meringkas beberapa makalah untuk disajikan kepada para pembaca.      Belakangan ini di dunia dikejutkan dengan munculnya jenis penyakit baru yang benar-benar sangat mencemaskan dan menakutkan, Acquired Immune Deficiency Syndrome atau yang lebih populer dengan sebutan AIDS.      Penyakit ini termasuk cukup ganas, baik dari segi penurunan kekebalan tubuh manusia yang diserangnya maupun dari segi penyebarannya ke berbagai wilayah penjuru dunia. Guna mengatasi menurunkan kekebalan tubuh manusia maka sampai saat ini belum ditemukan "terapi" atau cara-cara pengobatan dan pencegahan yang memuaskan.      Sedangkan dari segi penyebarannya juga tergolong cukup dahsyat. Penyakit yang baru ditemukan pada tahun 1981 (ada yang melaporkan pada tahun 1979) ini setidak-tidaknya kini telah "menyerang" lebih dari 40 negar di seluruh benua; dari Amerika sampai Asia. Lama atau tidak penyakit ini pada akhirnya juga akan sampai di negara kita bila tidak diadakan tindakan-tindakan yang bersifat preventif sedini mungkin. Yang jelas kita pernah mendapat kunjungan turis yang membawa AIDS sampai meninggal.
KEISTIMEWAAN DALAM SIPENMARU 1987
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.708 KB)
      SIPENMARU, Seleksi Penerimaan Mahasiwa Baru versi perguruan tinggi negeri bagi lulusan sekolah menengah (SMTA) pada khususnya dan bagi masyarakat pada umumnya sampai saat ini masih dipercayai sebagai peristiwa yang sangat penting dan monumental.       Sementara orang bahkan percaya bahwa dalam peristiwa rutin tahunan inilah nasib dan masa depan seseorang akan ditentukan. Seorang peserta yang dinyatakan "lulus" testing berarti mempunyai hak untuk menggapai sebuah kursi emas di perguruan tinggi, ini sama artinya dia mempu-nyai kesempatan yang lebar untuk menyelesaikan studinya di perguruan tinggi yang kelak akan menghantarkan diri-nya untuk menjadi "orang". Sebaliknya bagi yang ditolak sama artinya telah mendapat isarat agar lebih keras berjuang untuk mengarungi hidup yang "sulit" ini.      Memang agak berlebihan pendapat tersebut diatas, akan tetapi harus diakui pula bahwa dalam skala tertentu tesis tersebut memang dapat dibuktikan kebenarannya. Un-tuk itulah maka bagi yang berkepentingan langsung terhadap Sipenmaru segala sesuatunya telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya.      Pelaksanaan ujian tulis Sipenmaru untuk thn 1987 ini oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdikbud direncanakan akan diselenggarakan pada tanggal 23 dan 24 Juni 1987 secara serentak di seluruh wilayah tanah air.
SIPENMARU: TAMATLAH RIWAYATMU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (134.126 KB)
      Ini bukan berita sensasional, namun konsepsional! Dari rapat kerja nasional (rakernas) Depdikbud yang melibatkan para top manager dalam dunia pendidikan di negara kita yang berlangsung di Jakarta baru-baru ini diperoleh khabar bahwa sistem penerimaan mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang selama ini berbentuk seleksi, baik yang berupa ujian tulis maupun non-tulis secara bertahap akan diganti dengan sistem ujian masuk yang kriterianya ditentukan oleh masing-masing lembaga pendidik-an penerima calon yang bersangkutan.      Kalimat tersebut di atas berarti bahwa Sipenmaru, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru tidak lama lagi akan segera tamat ri-wayatnya.      Seperti diketahui, dalam beberapa tahun terakhir ini sistem penerimaan mahaiswa baru di PTN menggunakan dua macam model atau pola seleksi; masing-masing adalah pola seleksi ujian tulis Sipenmaru serta pola seleksi panduan/pembinaan PMDK, Penelusuran Minat dan Kemampuan.      Sipenmaru memang terasa lebih "bergaung" apabila diban-dingkan dengan PMDK; bukan saja karena calon yang diterima melalui Sipenmaru ini jumlahnya mencapai angka tigakali lipat dari seluruh mahasiswa baru yang diterima melalui jalur PMDK, tetapi calon mahaiswa yang terlibat dalam kompetisi tahunan Sipenmaru selalu berlipat ganda bila dibandingkan dengan daya tampung PTN itu sendiri.
UNIVERSITAS TERBUKA SEBAIKNYA "TERTUTUP"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (123.771 KB)
          Akhir-akhir ini banyak sekali kritik dan keluhan masyarakat yang ditujukan kepada para pengelola Universitas Terbuka (UT). Kritik dan keluhan ini biasanya berada di sekitar masalah-masalah yang sebenarnya masih sangat elementer: misalnya pengiriman modul yang sangat sering terlambat, kekeliruan pengiriman modul, mekanisme registrasi, pelaksanaan tutorial, dan sebagainya.          Banyaknya kritik dan keluhan yang ditujukan pada UT: baik yang dikomunikasikan lewat koran, surat maupun melalui media lainnya, telah memberikan kesan belum sempurnanya pelayanan pendidikan yang diberikan oleh para pengelola UT.          Barangkali dikarenakan begitu banyaknya kritik    dan keluhan yang masuk maka baru-baru ini pucuk pimpinan UT, Prof. Dr. Setijadi, M.A., "bercanda" bahwa Universitas Terbuka tidak mungkin ditutup, akan tetapi bila rector atau pimpinannya dipecat itu mungkin saja kalau memang mereka dianggap tidak becus menangani UT. Lebih lanjut dilukiskan, di negeri Belanda sistem yang digunakan universitas terbukanya sering berganti-ganti, apalagi UT di    negara kita yang usianya baru tiga tahun ini.          Artinya, berangkat dari kalimat tersebut iatas, cukup wajarlah kalau UT di negara kita yang baru "seumur jagung" masih banyak mengalami masalah dan hambatan.
KOMPLEKSITAS PENELITIAN PENDIDIKAN KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.744 KB)
      Ketika penulis diminta menjadi pemrasaran dalam suatu seminar tentang penelitian pendidikan di Indonesia oleh ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) Yogyakarta beberapa waktu yang lalu ada seorang peserta seminar yang bertanya, kenapa gaung penelitian pendidikan kita terasa lemah bunyinya?      Pertanyaan tersebut sangatlah menarik, si penanya kiranya pantas diberi "pujian" karena pertanyaannya tersebut menandakan bahwa dia mampu menangkap fenomena yang ada di sekelilingnya.      Dewasa ini penelitian pendidikan (educational research) di negara kita memang terasa kurang bergaung. Boleh dikatakan penelitian pendidikan jarang sekali menghasilkan penemuan-penemuan ilmiah yang kualitatif dan aplikatif bagi kepentingan masyarakat luas pada umumnya; kalaupun ada jumlahnya relatif sangat sedikit.       Penelitian-penelitian pendidikan yang dilakukan oleh para peneliti kita, baik dari kalangan akademik maupun dari kalangan non-akademik juga hampir tidak pernah menghasilkan "kejutan ilmiah" yang berarti. Mengapa hal ini bisa terjadi? Marilah kita mencoba menganalisisnya!
TANTANGAN TVRI : PENDIDIKAN !
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (139.717 KB)
Usaha pentrapan aspek-aspek inovasi ini bukan hanya sekedar merupakan konsekuensi logis dari pendidikan yang berorientasikan pada kemajuan jaman, tetapi juga karena approach tradisional dan konvensional tidak mungkin lagi bisa menanggulangi masalah yang bertambah lama bertambah rumit.Salah satu di antara aspek-aspek inovasi itu ialah penggunaan siaran (broadcasting) dalam pendidikan. Telah lama diidentifikasikan bahwa broadcasting memiliki potensi yang hebat jika penggunaannya dapat teratur dan terarah. (Menteri P & K: 2 Jan 1972) Seperempat abad yang silam, tepatnya pada tanggal 24 Agustus 1962 terjadilah peristiwa yang cukup bersifat monumental bagi dunia pertelevisian di Indonesia, ialah berdirinya Televisi Republik Indonesia (TVRI). Apabila dibandingkan dengan usia Radio Republik In-donesia (RRI) maka TVRI lebih muda tujuh belas tahun. Meskipun demikian bukan berarti TVRI kalah "menggigit" dalam menciptakan sejarah pengabdiannya. Bahkan dalam beberapa tahun tera-khir ini semakin nampak nyata betapa besarnya ketergantungan masyarakat terhadap informasi yang diberikan oleh TVRI. Kehadiran TVRI sendiri ditengah-tengah pemirsanya paling tidak mengemban empat misi; masing-masing adalah misi penerang-an, pendidikan, kebudayaan dan hiburan. Dan diantara keempat misi ini maka misi pendidikan saat ini kiranya menjadi tantangan yang sangat dan paling menarik bagi TVRI.
SD BELUM PERLU DIBERI "MUATAN LOKAL"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (129.457 KB)
Mulai awal tahun Pelita kelima nanti potensi daerah akan dikembangkan melalui "muatan lokal" yang terintegrasi kan dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah. Demikian dikemukakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hassan, seusai melantik Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) beberapa hari yang lalu. Yang dimaksud dengan "muatan lokal" ialah merupakan kelompok mata pelajaran dalam struktur kerikulum yang oleh suatu daerah dianggap sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat. Dengan demikian para pelajar dari masing-masing daerah akan mempunyai kesempatan yang terstruktur serta terorganisir dalam mempelajari potensi daerahnya. Berangkat dari konsep Mendikbud tersebut maka sekolah-sekolah yang berlokasi di daerah pertanian akan diberi kelompok pelajaran "kepertanian"; sekolah yang berlokasi di daerah pantai diberi kelompok pelajaran "kepariwisataan"; dsb. Ini semua merupakan manifestasi po-tensi daerah yang dikembangkan melalui "muatan lokal" yang terintegrasikan dalam kurikulum. Lebih lanjut direncanakan porsi dari "muatan lokal" ini nantinya sekitar 25% dari beban kurikulum secara keseluruhan.
SENTRALISASI DAN DESENTRALISASI EBTANAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (123.411 KB)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, Prof. Dr. Fuad Hassan baru-baru ini mengemukakan bahwa kemungkinan diselenggarakannya desentralisasi Ebtanas untu tahun-tahun yang akan datang akan segera dikaji dan diteliti. Bahkan Bapak Presiden Soeharto sendiri sudah memberikan lampu hijau terhadap rencana pengkajian dan penelitian tentang kemungkinan penyelenggaraan ebtanas yang tidak terpusat ini. Mendikbud selanjutnya memberikan penjelasan bahwa peng-kajian dan penelitian tentang penyelenggaraan Ebtanas secara desentralisasi akan segera dilakukan karena banyaknya keluhan masyarakat tentang pelaksanaan Ebtanas seperti yang selama ini diselenggarakan oleh pemerintah, dalam hal ini Depdikbud. Ebtanas yang diselenggarakan sejak beberapa tahun yang lalu antara lain dimaksudkan untuk meningkatkan dan menyamakan kualitas pendidikan. Dengan Ebtanas diketahui seberapa besar kemampuan masing-masing siswa dan sekolah di seluruh wilayah Nusantara ini dalam proses pendidikan yang kurikulumnya telah ditetapkan dan disamakan sebelumnya dari pusat. Permasalahan kemudian muncul setiap hasil Ebtanas akan di-umumkan, dimana pada umumnya hasil Ebtanas adalah "jelek" (baca: kurang memuaskan). Baik secara langsung maupun tidak langsung hal ini telah menunjukkan demikian terbatasnya kemampuan siswa serta kualitas sekolah pada umumnya.