Articles
18 Documents
Search results for
, issue
"1991: HARIAN BALI POS"
:
18 Documents
clear
ISU AKTUAL PENDIDIKAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.842 KB)
Perguruan tinggi sebagai manifestasi dari lembaga pendidikan tinggi di manapun tak pernah lepas dari isu; demikian halnya dengan perguruan tinggi di Indonesia. Di kalangan masyarakat (kampus) kita akhir-akhir ini sedang berkembang berbagai isu aktual tentang pendidikan tinggi, terutama yang menyangkut perguruan tinggi (PTN dan PTS), sebagai akibat diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) No:30/1990 tentang pendidikan tinggi.
Secara material PP No:30/1990 tersebut memang me-miliki berbagai kelebihan, akan tetapi ada dua kelebihan yang paling mendasar; masing-masing adalah tercerminnya kesungguhan pemerintah untuk mengembangkan dan sekaligus meningkatkan mutu pendidikan tinggi, serta dihapuskannya garis dikhotomi antara PTN dengan PTS.
Makna dihapuskannya garis dikhotomi antara PTN de ngan PTS ialah mendekatkan realisasi dari cita-cita pola tunggal PTN-PTS yang pernah dicetuskan sejak tahun 70-an di samping secara otomatis membawa konsekuensi diberlaku samakannya berbagai ketentuan pada PTN dan PTS; misalnya saja dalam hal penyusunan kurikulum, penilaian hasil be-lajar, kebebasan akademik, otonomi keilmuan, sampai pada masalah akreditasi perguruan tinggi.
BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ILMIAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.684 KB)
Untuk mengawali artikel mengenai Bahasa Indonesia ini saya sengaja mengutip sebagian kalimat dalam "Surat Pembaca" sebuah majalah internasional yang justru bukan berbahasa Indonesia; yaitu TIME No:40 edisi Oktober 1991. Surat pembaca tersebut ditulis oleh seorang pembaca yang beralamatkan di Scarborough, Canada.
Dua hal penting yang ditulisnya adalah sbb: per-tama, Inggris dan China merupakan dua bahasa (dan kebuda yaan) yang merajai dunia saat ini, termasuk di dalamnya negara-negara di ASEAN. Lebih lanjut dia menunjuk Hong Kong dan Singapura sebagai dua tempat yang mendemontrasi kan dengan baik keterpaduan dan dominansi dua bahasa ter sebut. Kedua, Bahasa Inggris lebih unggul dalam bidang kematematikaan dan penerapan komunikasi elektronik, se-dangkan Bahasa China lebih unggul dalam hal-hal yang ber sifat artistik (seni) dan filosofis.
Sedikit penjelasan yang diberikan oleh Emil dalam tulisannya tersebut adalah bahwa tidak dapat dipungkiri kalau sekarang ini sistem komunikasi surat-menyurat le-bih banyak menggunakan Bahasa Inggris, sebaliknya sistem komunikasi gambar, lukisan, tulisan seni (pictorial characters) lebih banyak menggunakan "Bahasa" China.
UNSUR KRIMINAL PERKELAHIAN PELAJAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (93.584 KB)
Perkelahian pelajar kambuh lagi! Setelah Jakarta dibikin "geger" oleh perkelahian pelajar yang melibatkan puluhan bahkan ratusan siswa; kemudian menyusullah kasus serupa di berbagai tempat, di Gresik, Surabaya, Semarang, dan entah di mana lagi. Di Jakarta para pelajar yang saling berantem tersebut sepertinya sudah tidak mau menghormati aparat keamanan; terbukti beberapa polisi yang akan mendamaikan suasana tidak luput dari lemparan batu.        Bagaimana yang di Gresik? Sekelompok pelajar SMTA "bertandang" ke sekolah adiknya yang masih SMTP. Maksud-nya? Berkelahi karena merasa dikecewakan gara-gara soal goda-menggoda wanita. Di kota lain? Macam-macamlah ceri-tanya; akan tetapi berintikan sama yaitu sekitar masalah perkelahian pelajar sebagai ekspresi kenakalan remaja.        Menanggapi peristiwa-peristiwa tersebut Mendikbud Fuad Hassan menyatakan bahwa perkelahian pelajar terlalu dibesar-besarkan oleh pihak-pihak tertentu. Barangkali pernyataan Mendikbud ada benarnya, tetapi lepas dari itu yang jelas Presiden Soeharto sendiri sempat menyatakan keprihatinannya atas berbagai kasus tersebut.
BEAYA STUDI PTS MAHAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.736 KB)
Pembicaraan mengenai biaya studi perguruan tinggi tak pernah lepas dari kehidupan masyarakat, apalagi pada awal tahun akademik baru seperti sekarang ini. Apabila ada sementara orang tua yang mengeluh karena beaya studi pada PTN untuk tahun ini mengalami kenaikan yang berarti maka akan dijumpai lebih banyak orang tua yang mengeluh tentang tingginya beaya studi pada PTS.
Di negara mana pun yang namanya PTS, private uni-versity, memang menarik beaya studi yang relatif tinggi dari mahasiswanya. Di Harvard (private) University misal nya; untuk belajar pada PTS di Amerika Serikat yang sa-ngat terkenal itu konon seorang mahasiswa harus bersedia mengeluarkan beaya studi mencapai US$ 7.500 s/d 15.000 setiap tahunnya. Itu berarti, apabila seorang mahasiswa memerlukan waktu penyelesaian belajar selama lima tahun maka mahasiswa tersebut harus bersedia mengeluarkan bea-ya studi sebanyak US$ 37.500 s/d 75.000 dari sakunya.
Beaya studi pada PTS di Jepang lebih "murah" lagi yaitu sekitar US$ 3.000 s/d 4.000 setiap mahasiswa untuk tiap tahunnya. Jadi untuk lima tahun masa studi "hanya" memerlukan beaya sekitar US$ 15.000 s/d 20.000. Benarkah beaya studi PTS di Jepang tersebut relatif murah? Kira-nya tidak juga; beaya studi yang bernilai 27 s/d 40 juta rupiah tersebut tentunya tergolong tinggi bagi rata-rata penghasilan penduduk Indonesia; bahkan untuk rata-rata penghasilan penduduk Jepang itu sendiri.
SIARAN PENDIDIKAN RADIO KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.81 KB)
Di hadapan para peserta "Lokakarya Siaran Radio Pendidikan" yang diselenggarakan sekitar sembilan belas tahun yang silam, atau tepatnya tanggal 3 Januari 1972, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menganjurkan untuk mempertimbangkan rekomendasi pakar media Wilbur Schramm di dalam salah satu karyanya yang bertitel "The New Media : Memo to Educational Planners", (1970). Di dalam karyanya tersebut Schramm, yang selama ini dikenal sebagai "bapak media" karena kepakarannya pada bidang permediaan, mengemukakan tentang kemungkinan dilaksanakannya inovasi pendidikan dengan memanfaatkan jasa media, termasuk pula di antaranya media radio.
Untuk mendukung anjurannya tersebut menteri kita menegaskan bahwa dengan munculnya berbagai problematika pendidikan di Indonesia yang makin lama semakin kompleks maka inovasi pendidikan tidak mungkin lagi hanya dilak- sanakan secara tradisional dan konvensional; oleh karena itu usaha-usaha nonkonvensional perlu ditangani secara lebih serius.
Akhirnya pada kesempatan tersebut di atas menteri mengharapkan agar segera dirumuskan masalah-masalah yang berhubungan dengan program penerapan broadcasting dalam pendidikan, untuk selanjutnya disusun suatu pola rencana umum untuk mengintegrasikan broadcasting (yang dimaksud adalah siaran radio) dalam pendidikan secara pragmatis dan realistis.
AKTUALISASI KONSEP KI HADJAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.499 KB)
Jauh hari sejak sebelum dilaksanakan maka Kongres Kebudayaan 1991 sempat mengundang berbagai opini masyarakat; dari yang positif sampai yang negatif. Opini yang positif sangat banyak bermunculan, dan sangat wajar adanya; akan tetapi di sisi yang lain ada opini masyarakat yang mengandung kritik dan sinisme, antara lain menyebut bahwa Kongres Kebudayaan 1991 lebih merupakan rapat kerja Depdikbud. Barangkali berangkat dari sinisme inilah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hassan, sampai harus menjelaskan kepada masyarakat bahwa Depdikbud sekedar berperan sebagai inisiator dan fasilitator.
Namanya juga orang banyak; apapun jenis aktivitas yang dilakukan biasanya selalu mengundang opini masyara-kat, baik positif maupun negatif. Hal itu biasa terjadi di negara demokrasi; baik demokrasi liberal maupun demo-krasi yang lainnya, nonliberal. Apapun opini masyarakat maka secara jujur harus diakui bahwa Kongres Kebudayaan 1991 merupakan peristiwa kebudayaan besar dan monumental bagi bangsa Indonesia. Peristiwa sejarah kebudayaan masa lalu, kini, dan mendatang kiranya akan terlihat dan ter-diskusikan dalam peristiwa ini; meskipun secara makro.
MENGGUGAT IKIP MENGGUGAT KARYA ILMIAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.667 KB)
      Apabila perjalanan pendidikan pada tahun 1991 ini telah dibuka secara mantap dengan diresmikannya "lembaga pendidikan" yang baru, yaitu Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) ternyata dalam perkembangan selanjutnya justru terjadi fenomena penggugatan terhadap eksistensi lembaga pendidikan yang sudah ada. Pada tahun 1991 ini IKIP lah yang terkena sasaran penggugatan tersebut.        Berbagai media massa di negara kita sempat memberitakan perihal akan diakhirinya masa hidup IKIP; konon sebanyak 10 IKIP Negeri akan segera "dibubarkan" dengan cara diubah statusnya menjadi universitas. Meski sempat dibantah oleh yang bersangkutan konon berita klasik yang diaktualisasi ini justru bersumber dari Direktur Jendral Dikti Depdikbud, Soekadji Ranoewihardjo. Sebenarnya berita mengenai gugatan terhadap eksistensi IKIP itu sen-diri bukanlah merupakan berita yang baru; tetapi berita tersebut menjadi sangat menarik perhatian dikarenakan (konon) sumbernya adalah orang nomer satu dalam urusan pendidikan tinggi di negeri ini.        Lepas dari mana sumber berita tersebut maka sebe-lum terekspose secara massa sesungguhnya gosip mengenai akan segera di-"KO"-nya IKIP memang sudah beredar secara terbatas di kalangan kampus, terutama di kalangan penge-lola IKIP; ada yang menyebutkan bahwa IKIP akan digabung ke universitas sebagai FKIP, ada yang menyebutkan IKIP akan dikurangi populasinya, bahkan ada yang menyebutkan IKIP akan ditutup sama sekali.Â
SENI MENGGAET PROFESOR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
      Profesor alias guru besar menjadi rebutan! Inilah fenomena akademis yang akhir-akhir ini berkembang dengan pesatnya. Terlebih-lebih lagi bagi sang guru besar yang akan mengakhiri masa purna tugasnya di PTN maka berbagai tawaran pekerjaan, dengan berbagai fasilitas tentu saja, akan segera datang padanya. Tawaran ini umumnya datang dari PTS. Itulah sebabnya lalu muncul sebuah "joke" yang menyebutkan bahwa sekarang ini guru besar telah menjadi komoditi yang paling menggiurkan.        Mengapa hal itu bisa terjadi? Terjadinya disbalan si antara supply dan demand telah menyebabkannya. Dengan kata lain terbatasnya jumlah guru besar kalau dibanding dengan kebutuhannya telah menjadikan guru besar sebagai "barang" yang pantas diperebutkan.        Peraturan Pemerintah (PP) No:30/1990 tentang pen-didikan tinggi secara implisit memang mengamanatkan agar perguruan tinggi di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), baik PTN maupun PTS, lebih mampu meningkatkan profesionalitas manajerialnya agar sanggup menghasilkan lulusan yang benar-benar berkualitas.
MUTU DOSEN PERGURUAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kemajuan dalam sistem pembinaan dan pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia telah terealisasi, meski belum optimal; hal ini ditandai dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) No:30/1990 tentang pendidikan tinggi sebagai penjabaran operasional dari Undang-Undang RI No:2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Butir terpenting yang terkandung dalam PP No:30/ 1990 adalah tercerminnya kesungguhan pemerintah di dalam upaya membina dan mengembangkan pendidikan tinggi di ne-gara kita. Butir terpenting lainnya ialah dihilangkannya garis dikhotomi di antara perguruan tinggi negeri (PTN) yang diselenggarakan langsung oleh pemerintah dengan per guruan tinggi swasta (PTS) yang diselenggarakan langsung oleh masyarakat. PP No:30/1990 tersebut sekaligus mendekatkan rea-lisasi dari cita-cita pola tunggal PTN-PTS yang pernah dicetuskan sejak tahun 70-an. Pada sisi yang lain hilang nya garis dikhotomi ini secara otomatis membawa konseku-ensi diberlaku-samakannya berbagai ketentuan antara PTN dengan PTS; misalnya saja dalam hal penyusunan kurikulum, penilaian hasil belajar, kebebasan akademik, otonomi keilmuan, sampai pada masalah akreditasi perguruan tinggi.
EKSISTENSI IKIP DIPERSOALKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (56.313 KB)
Membaca berita bahwa sebanyak 10 IKIP Negeri akan segera "dibubarkan" dengan cara diubah statusnya menjadi universitas, kalangan IKIP ada yang menanggapinya dengan agak surprise; tetapi banyak pula yang menanggapinya secara dingin-dingin saja. Meskipun berita tersebut konon bersumber dari Direktur Jenderal Dikti Depdikbud, Soekadji Ranoewihardjo, tetapi berita semacam itu sepertinya sudah menjadi santapan sehari-hari bagi warga IKIP.Sebelum berita tersebut muncul di permukaan maka gosip bahwa IKIP akan segera di-KO memang sudah beredar secara terbatas; ada yang menyebutkan IKIP akan digabung ke universitas sebagai FKIP, ada yang menyebutkan IKIP akan dikurangi populasinya, bahkan ada yang menyebutkan IKIP akan ditutup sama sekali. Jadi, mendengar berita bahwa IKIP akan diubah statusnya menjadi universitas maka berita tersebut dianggap biasa-biasa saja; yang agak tidak biasa ialah berita tersebut -konon- sumbernya lang sung dari birokrat yang punya "power" dan otorita untuk menentukan masa depan IKIP. Apabila yang didengar selama ini sekedar gosip yang tak jelas asal-muasalnya maka berita pengubahan status ini mungkin sedikit agak lain.Entahlah; tetapi justru yang kemudian "mengagetkan" ialah adanya statement Pak Soekadji yang menyatakan tidak benar bahwa 10 IKIP Negeri akan diubah statusnya menjadi universitas, yang benar adalah akan segera dibenahinya lagi kurikulum IKIP. Sebagaimana dengan berita terdahulu yang dipublikasikan oleh berbagai media lokal dan ibu kota, maka berita "pembatalan" pengubahan status IKIP pun juga dipublikasi secara massa.