Articles
24 Documents
Search results for
, issue
"1992: HARIAN BALI POS"
:
24 Documents
clear
ANGGARAN PENDIDIKAN NAIK, TAHUN 1992 "DEMAM MBA"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (193.485 KB)
Perjalanan pendidikan tahun 1992 sebenarnya telah dibuka dengan peristiwa yang cukup bagus, yaitu naiknya anggaran untuk sektor pendidikan. Hal ini dapat diikuti dari pidato Presiden RI Soeharto pada waktu menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 1992/1993 di depan sidang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada tanggal 6 Januari 1992. Dalam bagian pidatonya yang memperoleh perhatian dari banyak pengamat itu Presiden RI Soeharto mengemuka-kan bahwa sektor pendidikan masih mendapatkan prioritas. Hal ini memang benar,dan sejak beberapa tahun sebelumnya sektor pendidikan juga selalu mendapatkna prioritas. Se-jak tahun 1989/1990 s/d 1991/1992 RAPBN kita senantiasa menempatkan sektor pendidikan pada kelompok "the best three" dalam hal jumlah dana. Pada RAPBN 1992/1993 maka sektor pendidikan dengan alokasi dana lebih dari Rp 3,0 trilyun kembali masuk dalam kelompok tersebut. Apabila dibandingkan dengan besarnya alokasi dana untuk sektor pendidikan pada RAPBN 1991/1992, atau RAPBN satu tahun sebelumnya yang jumlahnya "hanya" sekitar Rp 2,50 trilyun saja, maka RAPBN tahun ini memang tergolong naik dalam nilai yang sangat berarti. Kenaikan rencana anggaran untuk sektor pendidikan ini bukan saja mening-katkan nilai rupiah untuk melaksanakan pembangunan pendidikan, tetapi lebih dari itu kenaikan ini membuktikan betapa besarnya perhatian pemerintah terhadap pembangun-an di bidang pendidikan.
EFEKTIVITAS PEMAKAIAN NILAI EBTANAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.297 KB)
Berbicara tentang instrumen untuk menyeleksi para kandidat mahasiswa perguruan tinggi berarti kita tengah berbicara mengenai tes prediksi (prediction test) yang moment pelaksanaannya dilakukan awal terminal. Sementara itu secara ideal yang didasarkan pada argumentasi akademik maka pembuatan atau penyusunannya disarankan memakai pendekatan prediksi (prediction approach). Mengapa pendekatan prediksi perlu digunakan dalam menyusun instrumen atau materi tes masuk perguruan tinggi? Jawabnya jelas, karena melalui pendekatan ini maka prestasi atau hasil belajar mahasiswa dapat dideteksi seawal mungkin. Sementara itu "treatment" yang perlu dilakukan oleh lembaga untuk menaikkan prestasi mahasiswanya pun dapat dilaksanakan secara efektif, karena akan lebih tepat sasarannya. Semua itu sangat argumentatif untuk dilaksanakan karena apabila dibandingkan dengan hasil tes prestasi maka hasil tes prediksi lebih mencerminkan kemampuan dasar para calon mahasiswa untuk mengikuti proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
KUALITAS SEKOLAH KEJURUAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (211.112 KB)
Melalui media ini saya pernah menyampaikan sebuah opini mengenai masalah-masalah yang tengah dan akan dihadapi dalam pengembangan pendidikan kejuruan di negara kita (Supriyoko, "Problematika Pendidikan Kejuruan", Bali Post: 9/3/92). Dalam artikel ini saya mencoba membuat pencandraan mengenai perbandingan kualitas sekolah kejuruan di negara kita dengan negara-negara manca, terutama dengan kualitas sekolah kejuruan di negara maju. Berangkat dari peristiwa di Jawa; baru-baru ini Kakanwil Depdikbud Jawa Tengah menyatakan bahwa sekolah kejuruan di Jawa Tengah mutunya tidak kalah dari sekolah kejuruan di Eropa. Hal ini dinyatakan dalam acara serah terima hasil pelaksanaan proyek pada Proyek Peningkatan SLTA Kejuruan dan Teknologi di gedung baru Sekolah Mene-ngah Teknik (SMT) Grafika, Banyumanik, Jawa Tengah. Persoalan yang menggelitik saya adalah mengenai perbandingan mutu sekolah kejuruan itu sendiri. Apabila pernyataan tersebut ditarik dalam skala yang lebih luas, katakanlah skala nasional, maka akan "asyik"-lah membuat pencandraan mengenai perbandingan sekolah kejuruan di In donesia dengan di negara-negara lainnya.
AGENDA PENELITIAN DALAM KTT-GNB
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.653 KB)
Judul artikel ini menimbulkan pertanyaan mengenai apakah masalah penelitian memang akan dibahas secara khusus di dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok (KTT-GNB) yang cukup bergengsi tersebut? Pertanyaan ini menjadi lebih "mendesak" karena adanya harapan para utusan atau delegasi dari negara-negara GNB yang sangat menginginkan adanya program pertukaran informasi, teknologi, dan penelitian. Saya sendiri tidak yakin kalau masalah penelitian akan dibahas secara khusus dalam forum KTT yang sekarang ini tengah berlangsung; meskipun demikian bukan berarti bahwa masalah penelitian tidak penting untuk diagenda. Kenapa artikel ini memilih judul seperti itu? Ya, hal ini berkaitan erat dengan pernyataan Mendikbud Fuad Hassan yang akan memanfaatkan kesempatan KTT-GNB terse-but untuk membuat dan/atau mengefektifkan kerja sama di antara anggota GNB dalam bidang pendidikan, khususnya di bidang pendidikan tinggi,dan lebih khusus lagi di bidang penelitian (research).
LIPI DAN PERSOALAN PENELITI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (211.423 KB)
Hampir di semua negara, terutama di negara-negara maju, memiliki lembaga pemerintah dan/atau nonpemerintah yang diberi tugas untuk mengkoordinasi pengembangan ilmu dan pengetahuan guna memajukan masyarakat di negara yang bersangkutan. Di Indonesia, lembaga semacam itu disebut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Apakah dengan demikian LIPI menjadi satu-satunya lembaga yang diberi tugas untuk mengkoordinasi pengem-bangan ilmu dan pengetahuan? Tidak, karena di luar LIPI masih banyak lembaga yang bertugas mengkoordinasi pengembangan ilmu dan pengetahuan tersebut, di antaranya ialah perguruan tinggi yang di negara kita jumlahnya mencapai 1.000-an lembaga. Meskipun demikian mengangkat LIPI se-bagai lembaga nasional yang berdiri di depan dalam hal pengembangan ilmu dan pengetahuan di Indonesia nampaknya memang tidak terlalu salah. Selama ini masyarakat kita memang banyak berharap kepada LIPI untuk memajukan masyarakat Indonesia melalui jalur ilmu dan pengetahuan. Oleh karenanya tidak jarang lembaga ini menjadi "pusat bertanya" bagi pengembangan ilmu-ilmu dan pengetahuan-pengetahuan baru yang belum di kenal secara familiar oleh masyarakat pada umumnya.
PROBLEMATIKA TENAGA KERJA INDONESIA PENDIDIKAN ALTERNATIF SEBAGAI SOLUSI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (259.876 KB)
"Sejalan dengan laju pembangunan, kita makin memiliki angkatan kerja yang lebih terdidik dan lebih sehat. Dengan meluasnya lapangan usaha dan kesempatan kerja, maka angkatan kerja tadi merupakan kekuatan dinamis dan potensi produktif yang besar bagi gerak pembangunan kita selanjutnya. Di lain pihak kita menyadari bahwa masalah pengangguran tetap merupakan masalah yang besar, yang belum sepenuhnya dapat kita atasi". ( Presiden Soeharto, 16 Agustus 1991 ) Seorang pengamat ekonomi dunia dari University of Brunel yang menjadi konsultan ahli UNESCO, John Vaizey, pernah menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara merupakan akibat dari banyak faktor yang cukup kompleks; adapun dua faktor di antaranya yang paling dominan ialah faktor akumulasi modal dan tenaga kerja. Tetapi, negara yang hanya mengandalkan faktor modal saja tidak akan me-nikmati laju pertumbuhan ekonomi yang signifikan apabila tidak berusaha meningkatkan mutu tenaga kerjanya (baca: "Education in The Modern World", 1987). Secara ekonomik hipotetis tersebut di atas sangat relevan dengan apa yang pernah dikemukakan oleh senior-nya, William Bowen, yang secara tegas menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi negara sama sekali tidak dapat dian-dalkan semata-mata pada modal. "Dengan demikian jelaslah bagi kita, akumulasi modal semata-mata tidak akan memain kan peranan yang dominan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara, baik negara maju maupun negara berkembang" (baca: "Economic Aspects of Education", 1969).
KEBANGGAAN MAHASISWA UT
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (211.614 KB)
Baru-baru ini saya diminta memberikan presentasi di dalam diskusi kecil mengenai Universitas Terbuka (UT) yang mengambil topik "Prospek Universitas Terbuka di Masa Depan". Diskusi ini sangat menarik karena pembicaraan yang berkembang bukan saja sekedar menyangkut harapan serta masa depan UT itu sendiri, akan tetapi diskusi ini juga membahas bagaimana upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk lebih menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap UT itu sendiri sebagai lembaga pendidikan tinggi nonkonvensional di negeri ini. Kalau kita mengingat peristiwa penting di sekitar enam setengah tahun yang lalu, tepatnya 4 September 1984, ketika UT dinyatakan eksistensinya; maka berbagai harap-an masyarakat menumpuk padanya, terutama harapan tentang makin meratanya pelayanan pendidikan tinggi. Barangkali kita masih ingat apa yang dikemukakan Presiden Soeharto ketika itu; didirikannya UT merupakan jawaban tepat untuk meratakan kesempatan memperoleh pe-layanan pendidikan tinggi dalam kondisi dan situasi peri kehidupan masyarakat sekarang ini, terutama dikarenakan wilayah kepulauan negeri ini yang sangat luas.
POSISI SEKOLAH SWASTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.35 KB)
Salah satu pertanyaan yang terlontar dari seorang peserta kuliah umum di University of Malaya (UM), Kuala Lumpur, Malaysia, ketika saya diminta memberi presentasi dalam forum yang diikuti oleh 450-an mahasiswa baru-baru ini adalah berkisar pada posisi sekolah nonpemerintah atau sekolah swasta (private school) di negara-negara berkembang pada umumnya dan di Malaysia pada khususnya. Permasalahan sekolah swasta di Indonesia kiranya memang bukan merupakan hal yang baru meskipun senantiasa menarik untuk dicermati; akan tetapi banyak negara ber-kembang (developing country) yang kini tengah mengalami dilema dalam hal pengembangan sekolah swasta, khususnya di jenjang pendidikan tingginya. Salah satu negara yang tengah mengalami permasalahan tersebut adalah Malaysia; meski eksistensi sekolah swasta di negeri ini sebenarnya juga bukan hal yang baru lagi. Untuk mendasari jawaban atas pertanyaan tersebut saya menyodorkan sebuah fenomena yang mengiringi proses modernisasi pada berbagai negara akhir-akhir ini; yaitu terdapatnya hubungan positif (positively relationship) antara modernisasi dengan swastanisasi. Keadaan ini bisa dilihat pada berbagai negara bahwa kemajuan yang dicapai oleh negara yang bersangkutan hampir selalu dibersamai dengan semakin berperannya sektor swasta di berbagai bi-dang; baik bidang produksi maupun bidang jasa dan bidang layanan masyarakat yang lainnya.
MINAT MAHASISWA MENJADI GURU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.925 KB)
Di tengah-tengah lalu lalangnya kritik tajam yang dialamatkan kepada IKIP (dan STKIP/FKIP/dsb) akhir-akhir ini barangkali ada manfaatnya kalau saya sajikan temuan empirik mengenai mahasiswa IKIP itu sendiri. Akhir-akhir ini lembaga pendidikan tinggi tenaga kependidikan, IKIP, banyak dikritik masyarakat; terutama berkaitan dengan mutu lulusannya. Oleh sementara orang lulusan IKIP dianggap kurang bermutu karena tidak menguasai materi bidang studi (subject matter) yang harus diajarkannya di sekolah. Ilustrasinya: lulusan Pendidikan Matematika dianggap kurang menguasai materi kematematikaannya, lulusan Pendidikan Sejarah dianggap kurang menguasai materi kesejarahannya, dan sebagainya. Sebagai jawaban atas kritik itu beberapa IKIP telah melakukan pembenahan ke "dalam", antara lain dengan memperbaiki kurikulum dan silabus, meningkatkan kemampuan dosen, menyediakan fasilitas belajar mengajar secara lebih memadai, dsb. Beberapa IKIP bahkan mulai menerima dosen baru lulusan lembaga pendidikan tinggi nonkependidikan. Itu semua dimaksudkan agar kualitas lulusan yang dihasilkan dapat ditingkatkan. Meski begitu usaha-usaha ini rasanya belum mencapai hasil maksimal.
MBA: MAKIN BINGUNG AJA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (210.59 KB)
Judul artikel ini memang ditulis dengan nada joke tanpa dikonotasi "olok-olok" sehingga jangan diinterpretasi secara keliru, khususnya oleh teman-teman mahasiswa dan lulusan program MBA, Master of Business Administration. Kiranya hal ini juga berlaku bagi para pengelola program MBA maupun siapa saja yang memiliki hubungan dan kepentingan dengan program MBA. Kalau dalam dunia tulis menulis ada yang menganggap bahwa judul tulisan akan mencerminkan pemahaman dan kebijakan penulisnya, the title is insightfull; judul artikel ini pun semoga demikian. Tumbuhnya program MBA akhir-akhir ini bak cenda-wan di musim hujan; di setiap kota besar muncul lembaga pendidikan yang menjanjikan paket-paket "gelar" MBA yang bisa ditempuh dalam waktu pendek. Bayangkan hanya dengan lama pendidikan kurang dari dua, atau bahkan kurang dari satu setengah tahun gelar MBA dapat dikantongi; tentunyadengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhinya. Masyarakat kita pun nampaknya cukup "respect" a-tas kehadiran program MBA; akan tetapi bersamaan dengan itu muncul isu akan ditertibkannya program master terse-but karena dipandang ada hal-hal yang "mengganjal" kalau dihubungkan dengan aturan main yang berlaku, katakanlah dengan PP No:30/1990 tentang Pendidikan Tinggi misalnya. Berlakunya SK Mendikbud No:0686/U/1991 tentang Pedoman Pendirian Perguruan Tinggi menjadikan perbincangan menge nai program MBA lebih semarak lagi; namun demikian dalam realitanya ada sekelompok masyarakat yang justru "makin bingung aja" untuk mengikuti perbincangan tersebut dika-renakan ketidak-mampuannya dalam menarik konklusi.