Articles
1,592 Documents
PERAN SENTRAL GURU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (182.773 KB)
Masih tentang peran sentral! Ini komentar pendek mengenai topik klasik tetapi aktual yang dibicarakan se-cara resmi maupun tak resmi dalam Kongres XVII Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Jakarta dari tanggal 4 s/d 9 Juli 1994. Seperti yang kita ketahui bersama acara kongres ini telah dibuka langsung oleh Presiden Soeharto atas nama segenap bangsa Indonesia yang menaruh simpati serta hormat atas pengabdian para guru sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa". Ada yang "hebat" di dalam acara tersebut. Kongres PGRI kali ini diikuti oleh sekitar 11.000 orang; terdiri dari para guru, pengamat, maupun tamu dari negara-negara lain di kawasan ASEAN dan dari organisasi guru ditingkat internasional. Barangkali baru kali ini suatu organisasi profesi mampu mengumpulkan anggotanya sedemikian banyak; organisasi profesi lain seperti Persatuan Insinyur Indo-nesia (PII),Ikatan Dokter Indonesia (IDI),Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI),dsb, rasanya belum pernah mampu melakukannya. Bahkan, Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) yang juga baru saja mengadakan kongres tak mampu mengumpulkan peserta lebih dari seribu orang. Itulah PGRI, organisasi "raksasa" yang sering di-lupakan orang. Barangkali kita memang termasuk kaya akan guru. Apabila di negara kita jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) hampir mencapai 4 juta orang maka sekitar 1,8 juta atau hampir separoh di antaranya berprofesi guru. Itulah sebabnya maka organisasi guru dapat meraksasa.
INOVASI TEKNOLOGI KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (411.485 KB)
Suatu tradisi yang konstruktif telah dikembangkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa tahun yang terakhir ini; yaitu diadakannya lomba inovasi teknologi bagi mahasiswa PTN/PTS. Kegiatan ini dimaksudkan untuk merangsang para intelektual muda kita, dalam hal ini mahasiswa, agar me-ngembangkan daya nalarnya guna membuat inovasi di bidang teknologi; baik teknologi yang bersifat terapan (appro-priate technology) maupun teknologi yang masih harus di-kembangkan lebih lanjut (developed technology). Mengevaluasi pelaksanaan lomba inovasi teknologi dari tahun ke tahun, tahun ini adalah tahun yang keenam, ternyata ditemukan kemajuan yang cukup berarti; hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta, bidang studi yang di-lombakan maupun variasi inovasi yang ditawarkan. Kalau dilihat dari almamater atau asal mahasiswa sebagai peserta lomba pun ditemukan kemajuan yang sangat berarti pula. Mulanya lomba inovasi teknologi ini hanya didominasi oleh mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi tertentu yang di dalam hal ini adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) saja; akan tetapi sekarang ini peserta lebih terdistribusi ke berbagai PTN/PTS. Bahkan, tahun ini ada PTS "kecil" yang tidak mau ketinggalan untuk ber partisipasi di dalamnya; dan terbukti inovasi teknologi yang ditawarkan berhasil masuk final.
JANGAN BERHARAP KENAIKAN GAJI GURU AKAN BESAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (414.179 KB)
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) diam-diam dapat juga "unjuk gigi". Konon baru-baru ini pengurus PGRI telah mengusulkan agar supaya pemerintah memberlakukan sistem yang tersendiri bagi penggajian para guru; hal ini seiring dengan usaha kita meningkatkan kualitas sumber daya manusia mengingat pendidikan merupakan kunci utama. Dan, tentunya karena guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam dunia pendidikan kita. Dalam dengar pendapat dengan Komisi IX DPR RI maka Ketua Umum Basyuni Suriamihardja menyatakan bahwa PGRI telah mengusulkan agar guru golongan II diberi tunjangan pendidikan sebesar Rp 50.000,-, golongan III sebesar Rp 75.000,-, dan golongan III sebesar Rp 100.000,-. Lebih lanjut Basyuni menyatakan bahwa para guru pendidikan dasar dan menengah saat ini sangat mengharapkan dapat direalisasi-kannya usulan mengenai tunjangan pendidikan tersebut. Apabila hal ini dapat terpenuhi maka akan makin pendek kesenjangan yang terjadi antara guru pendidikan dasar dan menengah dengan dosen perguruan tinggi dalam hal "tunjang-menunjang" pendidikan.
SBY PUN GAGAL MERAIH NOBEL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.288 KB)
Habislah sudah! Harapan agar supaya putera terbaik bangsa Indonesia menerima penghargaan Nobel tidak mungkin terwujud, setidak-tidaknya untuk tahun 2006 ini. Dengan diumumkannya para pemenang penghargaan nobel untuk berbagai bidang kemanusiaan, khususnya bidang perdamaian, maka harapan untuk mendapatkan penghargaan nobel bagi putra Indonesia telah tertutup. Seperti kita ketahui, panitya penghargaan nobel telah mengumumkan para pemenang di bidangnya masing-masing. Untuk bidang Fisika akan diterimakan kepada dua fisikawan AS, John C. Mather dan George F. Smoot untuk penemuannya atas bentuk badan hitam (black body) dan anisotropi radiasi latar gelombang mikro kosmik (CMB, cosmic microwave background radiation). Untuk bidang Kimia pun dimenangkan kimiawan AS, Roger D. Kornberg, atas temuannya tentang cara sel mendapatkan informasi dari gen untuk memproduksi protein. Sementara itu untuk bidang fisiologi alias kedokteran pun juga dimenangkan oleh warga AS, Andrew Z. Fire dan Craig C. Mello. Untuk bidang sastra penghargaan nobel tahun ini dimenangkan novelis berkebangsaan Turki, Orhan Pamuk, yang berhasil menemukan simbol baru bagi perbedaan dan jalinan kebudayaan. Khusus untuk bidang ekonomi, meski banyak orang ?menentang? pamakaian kata Nobel untuk bidang ini karena tidak diwasiatkan oleh Alfred Nobel, lagi-lagi diraih oleh warga AS, Edmund Phelps, untuk temuannya mengenai intertemporal tradeoff dalam kebijakan ekonomi makro.
MANAJEMEN BARU KEUANGAN PTN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.361 KB)
Otonomisasi keuangan pada perguruan tinggi negeri (PTN) sedang menjadi topik pembicaraan yang cukup aktual di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan. Masalah ini menjadi semakin meningkat aktualitasnya manakala mulai tahun ini secara bersama-sama hampir seluruh PTN di negeri ini menaikkan "pungutan"nya dari mahasiswa (baru) sampai batas yang sangat berarti. Seperti kita ketahui bersama pada tahun akademik 1991/1992 ini hampir seluruh PTN di negeri ini menaikkan tarifnya. Memang, kenaikan tarif PTN tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan beaya pendidikan pada PTS umum-nya, akan tetapi menjadi sangat berarti kalau dibanding-kan dengan beaya pendidikan pada PTN di tahun-tahun yang sebelumya. Dan yang perlu diperhatikan, nampaknya PTN mulai bersaing dengan PTS dalam soal "pungut-memungut" dana pendidikan dari masyarakat. Dari kenyataan tersebut maka isu otonomisasi keu-angan pada PTN menjadi berkembang dengan suburnya; dalam era mendatang, konon, PTN akan mengembangan manajemen keuangannya secara lebih "bebas" sebagai manifestasi a-tas otonomi yang dimilikinya.
MENYELAMATKAN PTS INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.946 KB)
Keluhan paling signifikan di kalangan para pengelola Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia pada umumnya sekarang ini menyangkut relatif sedikitnya mahasiswa baru, meskipun proses penerimaan mahasiswa baru masih berlangsung di banyak PTS. Konon berbagai upaya telah ditempuh tetapi tetap saja kandidat mahasiswa yang masuk relatif sedikit, setidaknya lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa program studi pada PTS bahkan nyaris tidak ada kandidat ?penghuni? yang datang. Bagaimana mungkin sebuah program studi hanya diminati oleh sepuluh, atau bahkan kurang, kandidat mahasiswa baru. Keluhan lanjutan pengelola PTS menyangkut ?keselamatan? lembaga; makin sedikit jumlah mahasiswa makin sedikit pula dana pendidikan yang dikumpulkan dari intelektual muda tersebut. Kalau biaya ?overhead? yang dikeluarkan adalah tetap, apalagi makin besar, khususnya yang menyangkut biaya tetap (fix cost) maka kebangkrutan finansial telah mengancam. Kebangkrutan finansial ini bisa menyebabkan ditutupnya program studi pada PTS; bahkan bukan tidak mungkin ditutupnya PTS itu sendiri.
PRIORITAS ANGGARAN PENDIDIKAN KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (106.369 KB)
Suatu tradisi politis pidato presiden pada setiap awal tahun untuk menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) senantiasa mendapat perhatian dari banyak kalangan; baik kalangan dalam maupun luar negeri. Hal ini juga berlaku pada pidato Presiden Soeharto yang disampaikannya tanggal 6 Januari 1997 lalu untuk menghantarkan nota keuangan dan RAPBN Tahun 1997/1998 di depan Sidang Paripurna DPR kita. Hadir dalam acara yang penting ini Wakil Presiden, Try Soetrisno, dan para pejabat tinggi negara. Bagi banyak kalangan, RAPBN 1997/1998 mendapat tanggapan yang positif. Tercerminnya upaya-upaya mengurangi ketergantungan dari pihak "luar" dan naiknya nominal anggaran merupakan dua point penting yang secara akumulatif akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan negara kita di masa mendatang; setidak-tidaknya dalam periode tahun anggaran 1997/1998. Berkurangnya ketergantungan ter-hadap pihak luar tentu akan menaikkan kredibilitas pembangunan; sedangkan naiknya anggaran diharapkan mampu mempertinggi kuantitas pembangunan, dan sudah barang tentu dengan kualitasnya. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bila dibandingkan dengan APBN 1996/1997 yang sedang berjalan ini, yaitu sebesar 90,62 tril-yun rupiah, maka RAPBN 1997/1998 yang nilainya mencapai angka 101,09 trilyun rupiah, mengalami kenaikan yang sangat berarti; yaitu mencapai 11 persen lebih. Apabila kita bandingkan dengan tahun lalu maka angka kenaikan tersebut relatif bagus. Tahun lalu RAPBN 1996/1997 mencapai 90,62 trilyun rupiah, yang berarti mengalami kenaikan lebih dari 16 persen bila dibandingkan dengan APBN 1995/1996 yang sedang berjalan saat itu yang besarnya 78,02 trilyun rupiah. Sebagaimana dengan tahun yang lalu maka kenaikan anggaran tahun ini pun sudah banyak diprediksi oleh para pengamat ekonomi kita.
LEBARAN DALAM DIMENSI MULTI AKULTURASI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (110.153 KB)
Beberapa tahun yang lampau saya pernah mengalami "lebaran" di negeri orang, tepatnya di Eropa. Setelah selesai menjalani ibadah puasa wajib selama satu bulan, disuatu pagi yang telah ditentukan kita berkumpul di tanah lapang atau di masjid-masjid (ada beberapa masjid yang dibangun oleh orang-orang Turki, Arab, dsb). Bersama-sama kita melaksanakan sholat ied, Idul Fitri. Selesai sholat ied kita saling bersalam-salaman, dan langsung menuju ke kediaman Duta Besar menghadiri undangannya untuk beramah-tamah. Makan-makan, minum-minum ala kadarnya dan "kangen-kangenan" terus pulang. Tidak ada upacara resmi, seremonial protokoler, seremonial religius dan sejenisnya. Keadaan serupa juga dialami oleh umat Islam dari bangsa lain, Arab, Mesir, Turki, Malaysia, dsb. Setelah selesai menjalankan sholat ied biasanya terus pulang dan bekerja seperti biasanya. Kalaupun toh beristirahat pada umumnya tak lebih dari satu hari, hari itu. Tidak ada persiapan khusus menyambut "lembaran". Tidak ada "hura-hura" untuk mudik atau acara pulang kampung. Tidak ada acara masak besar. Dan tidak ada "paket lebaran". Tidak ada acara "sungkeman" dan "ngabekten" serta kumpul keluarga. Bahkan ... tidak ada lebaran!
MENGGALI POTENSI WANITA INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (112.089 KB)
Ketika dahulu Ibu Kartini ingin mulai menjalankan roda-roda emansipasinya barangkali menemukan pertanyaan klasik yang cukup menggelitik: "Benarkah kaum wanita itu tidak memiliki kelebihan apapun dibandingkan dengan kaum pria?". Atau bahkan justru berangkat dari pertanyaan inilah roda emansipasi tersebut mulai diputar. Roda emansipasi pun akhirnya berjalan beriringan dengan adanya keinginan untuk membuktikan bahwa wanita memiliki berbagai kelebihan tertentu dibandingkan pria. Dan benar ..., ketika emansipasi tengah berjalan seperti sekarang ini maka pertanyaan tersebut di atas justru berobah konotasinya menjadi: "Benarkah kaum wanita itu banyak kelebihannya dibanding pria?". Jawabnya yang paling tepat adalah sepotong kata "ya", meskipun disertai dengan catatan di sana-sini. Itu berarti bahwa kaum wanita memang mempunyai berbagai kelebihan dibanding kaum pria.
DARI BANDUNG UNTUK INDONESIA
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.435 KB)
Kiranya tidak banyak orang yang menyangka kalau Indonesia berhasil memasukkan 39 nama perguruan tinggi berkelas dunia, world class univer-sity (WCU), dalam daftar 6.000 perguruan tinggi berkelas dunia yang baru saja atau tepatnya 30 Juli 2009 lalu dipublikasi oleh Consejo Superior de Investigaciones Cientificas (CSIC). Di dalam publikasinya, ?Ranking Web of World Universities?, CSIC menorehkan 39 nama perguruan tinggi Indonesia yang terdiri dari 22 PTN dan 17 PTS. Angka ini cukup fantastis karena dalam publikasi satu setengah tahun sebelumnya, edisi 29 Januari 2008, Indonesia hanya berhasil mema-sukkan 17 nama perguruan tinggi. Diakui atau tidak, ke-39 perguruan tinggi tersebut telah mengangkat nama baik Indonesia di mata masyarakat dunia karena nama yang belakang-nya diikuti dengan inisial Indonesia telah dibaca oleh ratusan juta manusia di dunia. Di samping Times di Inggris dan Shanghai Jiao Tong University di Cina, CSIC yang bermarkas di Spanyol diakui kredibel oleh masyarakat dunia dalam hal perankingan perguruan tinggi. Publikasinya selalu diikuti oleh ratusan juta orang.