cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
ANALISA PENGARUH ELEMEN-ELEMEN PELENGKAP JALUR PEDESTRIAN TERHADAP KENYAMANAN PEJALAN KAKI STUDI KASUS: PEDESTRIAN ORCHARD ROAD SINGAPURA Ashadi, Ashadi; Houtrina, Rifka; Setiawan, Nana
Nalars Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kebutuhan akan pedestrian sebagai ruang terbuka publik semakin dirasakan saat ini, terlebih keterbatasan ruang untuk bersosialisasi tidak banyak yang difungsikan secara optimal. Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan dan perancangan pedestrian adalah penyediaan elemen-elemen pelengkap yang justru akan memberikan kenyamanan bagi para penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mendefinisikan elemen-elemen apa sajakah yang terdapat pada pedestrian sebagai ruang publik terbuka. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengedepankan data-data primer sebagai data utama dengan survei ke lokasi dan membandingkannya dengan teori yang ada.  Kata kunci: elemen-elemen, pedestrian, Orchard Road ABSTRACT. The need of pedestrian as a public open space has been increased nowaday, partifularly there is a limitation of space for socialization has been not functioned optimally. There is one thing that should be concerned in planning and designing a pedestrian, there should provide elements within area of pedestrian to give comfort for the user. This research is aimed to explore and define what are elements which have been provided within area of pedestrian as a public open space. The research method that have been conducted is a qualitatif descriptive method.   Keywords: elements, pedestrian, Orchard Road
KOSMOLOGI RUANG KELUARGA RUMAH TRADISIONAL MELAYU PONTIANAK DITINJAU DARI PERSPEKTIF KEPRIBADIAN DAN KEBUDAYAAN Zain, Zairin
Nalars Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kegiatan penyebaran agama Islam di Indonesia merupakan hal yang sangat penting bagi sejarah pertumbuhan kota dan kebudayaan Melayu Pontianak. Pengamatan terhadap rumah tradisional Melayu Pontianak, terlihat bahwa masyarakat memberikan perhatian yang besar terhadap ruang keluarga baik mengenai luas maupun hal-hal khusus untuk memberikan kenyamanan yang dikaitkan dengan agama Islam yang mereka anut. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran sebuah ruang keluarga bagi masyarakat Melayu Pontianak ditinjau dari perspektif kepribadian dan kebudayaan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya serta hubungan keduanya terhadap tinjauan teori kosmologi.  Dari hasil pembahasan diketahui bahwa adat istiadat dan pandangan hidup Melayu Pontianak dipengaruhi hukum syara’ Islam, hal ini juga mempengaruhi kehidupan sosial-budaya, cara hidup dan aktivitas masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk ruang. Norma-norma Islam sebagai wujud kebudayaan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia (Hablumminannas) dan hubungan manusia dengan Sang Khalik (Hablumminallah) melekat sebagai kepribadian menjadi acuan segala tindak-tanduk Masyarakat Melayu Pontianak diterapkan dalam pengunaan ruang di rumah tradisional Melayu Pontianak agar aktivitas yang dilakukan tidak melanggar norma sehingga terjadi keseimbangan antara dunia dan akhirat. Kata Kunci :  Ruang Keluarga, Rumah Tradisional Melayu Pontianak, Kosmologi, Norma Islam
ANALISIS KERUSAKAN DINDING SIMPAI BERDASARKAN TINJAUAN STRUKTURAL Kasus: Rumah –Rumah di Pontianak, Kalimantan Barat Lestari, Lestari
Nalars Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK . Analisis Kerusakan Dinding Simpai Berdasarkan Tinjauan Struktural (Lestari) ANALISIS KERUSAKAN DINDING SIMPAI BERDASARKAN TINJAUAN STRUKTURAL Kasus: Rumah –Rumah di Pontianak, Kalimantan Barat Lestari Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Jalan Ahmad Yani Pontianak 78124 Kalimantan Barat email: lest_tazkiya@yahoo.com Dinding simpai merupakan istilah yang dikenal oleh masyarakat khususnya di Kalimantan Barat untuk dinding plesteran semen dengan perkuatan kawat/ plat baja. Metode membangun dinding ini banyak digunakan pada rumah tinggal dan khusus digunakan pada struktur rangka kayu. Rangka kayu sekaligus sebagai rangka dinding, sehingga dinding sangat erat kaitannya dengan struktur yang digunakan. Dinding simpai ada yang kuat dan bertahan lama namun ada pula yang mengalami kerusakan hanya beberapa tahun setelah pembangunan. Kerusakan umumnya muncul seiring dengan kerusakan struktural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerusakan pada dinding simpai khususnya akibat pengaruh struktural dengan mengidentifikasi karakteristik kerusakan. Dinding yang diteliti adalah dinding simpai yang digunakan sebagai selubung bangunan atau dinding luar. Metode observasi digunakan dalam pengumpulan data penelitian. Hasil analisis dapat diketahui bahwa kerusakan dinding simpai sangat erat kaitannya dengan kerusakan pada struktur yang digunakan. Kata kunci: kerusakan, dinding simpai, struktur ABSTRACT. Plester wall with reinforcement or as well known as simpai has long been known to build the wall of houses in West Kalimantan. This method is used particularly to build a wall on a wood frame structure. Wooden frame used as a framework of the wall. This cause the walls are related to the structure used. There are simpai walls durable for a long time but there are also have significant damage just a few years after construction. The damages generally occur as well as the structural damages. This study is aimed to analyze the characteristics damages of the simpai walls based on structural stability perspective. The study will focus on simpai that used as the building envelope. An observation is used as collecting data method. As the result, it had been examided that the simpai damage is strongly influenced by the stability of the structures. Keywords: damage, simpai wall, structure 
KAJIAN BEHAVIOR SETTING DI PASAR TUGU SIMPANG LIMA GUMUL KEDIRI Fajarwati, Anisah Nur
Nalars Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis behavior setting di Pasar Tugu Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri. Untuk mengkaji behavior setting, dilakukan behavioral mapping atau pemetaan perilaku. Analisis yang digunakan dalam studi ini terdiri dari dua langkah. Pertama, analisis dilakukan dengan tinjauan teori behavior setting Roger Barker. Kedua, untuk menganalisis data yang ditemukan di lapangan, dilakukan behavioral mapping dengan metode person centered map. Lokasi pengamatan yang ditentukan adalah di segmen barat Pasar Tugu. Behavior setting yang terjadi di setiap tenda dagangan memiliki ciri tersendiri sesuai dengan barang yang diperdagangkan. Peletakkan dan penataan tenda didasarkan pada jenis barang dagangan, setiap tenda untuk satu penyewa. Hubungan antara aktivitas perilaku pengguna (standing patterns of behavior) dan lay out ruang lingkungan pengguna (milieu) sangat sesuai dan terpenuhi dengan baik (synomorphic). Kata kunci: behavior setting, pemetaan perilaku ABSTRACT. This study is aimed to identify and analyze behavior setting within  Pasar Tugu Simpang Lima Gumul (SLG), Kediri. To explore behavior setting, behavioral mapping had been conducted. Analysis method that had been used in this research consisted two steps. Firstly, analysis was carried out by using a theory review of behavior setting by Roger Baker. Secondly, to analyze data on the field, behavioral mapping was carried out with person centered map method. The designated location of this research was in the west segmen of Pasar Tugu. Behavior setting which had been happened in every stand had its own character depend on the commercial’s goods. The placement and the layout of the stands were based on the commercial’s goods of the every stands for every tenants. The relation between behavior activity of the stand’s users and the users’ environment layout is well organized and appropriated. Keyword: behavior setting, behavioral mapping 
PENATAAN KOTA BERMUATAN ANTISIPASI BENCANA Priatmodjo, Danang
Nalars Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT. Many types of disasters are resulted from natural phenomenon that cannot be avoided. What should we do is reducing the risks of the disasters. Here human safety is placed in the first priority. Each type of natural disaster brings specific hazard. Learning from previous disasters and scientific data of an area (or a city), we can analyze the potential of hazards, vulnerability, and strategy of mitigation for each threat of disaster. In reducing the risks of natural disasters, a city should be equipped with integrated plan for anticipating disasters. Follow are steps that should be needed: (1) Identifying disaster potentials; (2) Setting-up spatial plan that contains disaster-preparedness; and (3) Building institutions and tools of disaster management. Keywords: natural disaster, risk reduction, disaster preparedness ABSTRAK. Banyak jenis bencana yang dihasilkan dari fenomena alam yang tidak dapat dihindari. Apa yang harus kita lakukan adalah mengurangi resiko bencana. Disini keselamatan manusia ditempatkan dalam prioritas pertama. Setiap jenis bencana alam membawa bahaya tertentu. Belajar dari bencana sebelumnya dan data ilmiah dari suatu daerah (atau kota), kita dapat menganalisis potensi bahaya, kerentanan, dan strategi mitigasi untuk setiap ancaman bencana. Dalam mengurangi risiko bencana alam, sebuah kota harus dilengkapi dengan rencana terintegrasi untuk mengantisipasi bencana. Diantara langkah yang diperlukan adalah: (1) Mengidentifikasi potensi bencana; (2) Pengaturan rencana tata ruang yang berisi kesiapan bencana, dan (3) Membangun institusi dan alat-alat manajemen bencana. Kata Kunci: bencana alam, pengurangan risiko, kesiapsiagaan bencana
SISTEM PEMERINTAHAN KERAJAAN PENGARUHNYA TERHADAP ARSITEKTUR BALI Budihardjo, Rachmat
Nalars Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Membicarakan sistem pemerintahan kerajaan di Bali, tidak bisa dilepaskan oleh adanya pengaruh agama Hindu. Konsep Negara Klasik di Indonesia dipengaruhi oleh dua pusat peradaban yaitu India dan Cina, khususnya mengenai masalah kosmis-magis, angka-angka, benda keramat, para pemimpin, geografi, posisi dan lain-lain. Sistem pemerintahan kerajaan di Bali berawal dari sejak zaman Bali Kuno sampai dengan zaman Awal Kemerdekaan. Puncak kejayaannya terjadi pada zaman Majapahit atau setelah adanya ekspedisi patih Gajah Mada berhasil menaklukkan Bali. Pengaruh agama Hindu, terutama setelah kedatangan Pendeta dari Jawa Timur : Empu Kuturan dan Dang Hyang Nirartha / Dang Hyang Dwijendra sangat mendominasi pada perkembangan dan perbaikan segi-segi kehidupan dan sistem pemerintahan kerajaan di Bali, termasuk perkembangan arsitekturnya baik pada jenis bangunan Parahyangan, Pawongan ataupun Palemahan. Pada mulanya keraton di Bali disebut dengan “Pura” seperti : Linggarsa Pura (Samprangan, Gianyar), Sweca Pura (Gelgel) dan Semara Pura (Klungkung), setelah beberapa generasi kekuasaan di Klungkung dilakukanlah perubahan sebutan : Pura untuk fungsi bangunan Kahyangan / Suci dan Puri untuk fungsi bangunan Pawongan / Keraton.  Kata Kunci: sistem pemerintahan, kerajaan, arsitektur Bali ABSTRACT.  Talking about the royal government system in Bali, it cannot be separated  by the influence of Hindu religion. The concept of classic country in Indonesia had been affected by the two centers of civilization, namely Indian and China, particularly on the issue of cosmic-magical, numbers and figures, sacred objects, leaders, geography, and other positions. System of royal government in Bali had began from the days of the Ancient Bali to Early Independence era. The peak of the victory had occured at the era of Majapahit  after the expedition of Gajah Mada in conquering Bali. Influence of Hindu religion, especially after the arrival of Reverend from East Java: Empu Kuturan and Dang Hyang Nirartha / Dang Hyang Dwijendra was very dominating on the development and improvement of aspect of life and system of royal government in Bali. The influence also affected the development of architecture in both building types Parahyangan, Pawongan or Palemahan. At early time, mostly palaces in Bali have called "Pura" such as: Linggarsa Pura (Samprangan, Gianyar), Sweca Pura (Gelgel) and Semara Pura (Klungkung), after several generations of power in Klungkung have undertaken designation change: Pura for building which has a function as a sacred place/ Kahyangan and  Puri for building which has function for Pawongan building/ palace. Keywords: system of government, royal, architecture of Bali
PENGUDARAAN SILANG PADA PENGEMBANGAN RUMAH SEDERHANA Hakim, Luqmanul
Nalars Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. ”Rumahku adalah surgaku”, begitulah Sabda Nabi Muhammad SAW. Perkataan ini mempunyai makna yang sangat dalam dan berlapis, bahwa kita harus memulai dan membangun sebuah kebaikan itu dari lingkungan yang terkecil, yaitu hunian atau rumah tinggal. Untuk mencapai falsafah tersebut, dibutuhkan perencanaan yang didasari oleh pemahaman yang baik dan manusiawi. Sebuah kawasan perumahan dapat mempengaruhi iklim sekitarnya, sehingga dibutuhkan perencanaan unit rumah tinggal yang tanggap terhadap iklim setempat. Perencanaan pengudaraan silang, baik horizontal maupun vertical pada rumah tinggal sederhana adalah sikap bijak pada lingkungan untuk menghasilkan kenyamaman ruang dengan memanfaatkan iklim setempat. Kata kunci: ventilasi silang ABSTRACT. The prophet of Muhammad SAW said ”My home is my heaven: Rumahku adalah surgaku”. This statement has a powerful and very deep meaning, it said that we have to start and develop a wisdom from the smallest environment, home or house or place for living. To fulfil the statement, it will need a plan based on well undertanding and humanly. The existence of housing area could affect the surrounding climate, thus it will be needed a good plan of house unit which sustain with local climate. Cross ventilation within house either horizontal or vertical is a perfect act for environment to produce room’s comfort by using local climate. Keyword: cross ventilation 
’KARSTEN’ DALAM PERENCANAAN KOTA DAN PEMUKIMAN DI KOTA MALANG Suryorini, Ana Christalina Siuriwati
Nalars Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT. The industrial revolution in Europe make an impact on the development of big cities in Indonesia especially producing region for industrial raw materials in Europe. Political ethics reciprocation by the Netherlands to the Indonesian nation manifested in urban planning, among others, improvement of quality and environmental management due to the increase of the Dutch people who go to big cities and towns in the Netherlands Indies plantation. Malang City as the region surrounded by plantations developed quite rapidly in 1917 as a residential area planned by Ir. Herman Thomas Karsten Dutch city planners. This study uses data exploration methods using observational study of literature and documentation. In the first stage described the concept of town owned by Ir. Thomas Karsten. In the second phase, analysis of case planning by the city of Malang, Ir. Herman Thomas Karsten. This research has produced: the concept of "Indiese Stedebouw" that can be drawn into the three red lines as follows: the macro-scale planning (satellite town), messo (neighboorhod) and micro (house lots). In principle, the concept is a concept Indiese Stedebouw to plan the town follow the town master plan that is comprehensive as controller. Malang City as one of the city planned by Karsten planned to live in unity together with great harmony. Keywords: Indiese Stedebouw, Karsten, kota Malang ABSTRAK. Revolusi industri di Eropa memberikan dampak pada perkembangan kota-kota besar di Indonesia khususnya daerah penghasil bahan baku mentah industri di Eropa. Pengaruh politik dari bangsa Belanda terhadap bangsa Indonesia juga mempengaruhi perencanaan kota satu dengan lainnya, peningkatan kualitas dan juga manajemen lingkungan terhadap meningkatnya orang-orang Belanda yang tinggal di kota-kota besar di perkebunan Hindia Belanda. Kota Malang sebagai daerah yang dikelilingi oleh perkebunan, berkembang secara pesat pada tahun 1917 sebagai daerah permukiman yang direncanakan oleh Ir. Herman Thomas Karsten, perencana kota berwarga negara Belanda. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi data yang menggunakan studi observasi dengan literatur maupun dokumentasi. Pada tahap pertama menggambarkan konsep kota yang dikenalkan oleh Ir. Thomas Karsten. Sementara di tahap kedua, analisa dari studi kasus perencanaan kota malang oleh Ir. Herman Thomas Karsten. Penelitian ini menghasilkan: konsep dari Indiese Stedebouw yang dapat dijabarkan kedalam 3 hal penting yaitu perencanaan skala makro (kota satelit), skala menengah (lingkungan/ kawasan kecil), dan skala mikro (perumahan). Secara prinsip, konsepnya adalah konsep Indiese Stedebouw yang merencanakan kota mengikuti masterplan kota secara komprehensif sebagai pengontrol. Kota malang adalah salah satu kota yang direncanakan oleh Karsten, yang direncanakan bagi masyarakatnya untuk hidup bersama secara harmonis. Kata Kunci: Indiese Stedebouw, Karsten, Kota Malang 
ARTOWARDS THE HEALTHY CITY : A REFLECTION ON PLANNING FOR HEALTH Whittingham, Neil
Nalars Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT. Health, in a sense, can be considered an intensely personal matter, strongly governed by behavioural choices and genetics. However, indicators show that at the level of the community or the city, marked disparities exist in morbidity and mortality throughout the world. Clearly, politics, economics and geography also have a bearing on health outcomes, and not just in environments that are obviously extremely hazardous. Health problems can in part be due to a failure to reconcile the impact of the layout and design of urban form with the needs of individuals and communities for space to achieve a healthy existence. This article seeks a greater understanding of how the planning, design and management of cities have a bearing on sustainable development and the health of their citizens. It seeks such an understanding through a consideration of the social and environmental determinants of health and the influence that urban policy has upon the quality or liveability of cities. Lessons are sought from development theory and the move towards more collaborative approaches to health, looking particularly at the WHO Healthy Cities Project, to identify challenges and recommendations for future policy. Key words: health, wellbeing, sustainable development, urban planning, collaboration, WHO Healthy Cities Project.  ABSTRAK. Kesehatan dapat dikatakan sebagai masalah pribadi, yang biasanya merupakan akibat genetika ataupun pilihan kebiasaan. Namun, indicator-indikator memperlihatkan bahwa pada tingkat masyarakat atau kota tertentu, terdapat kesenjangan dalam morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Jelasnya, politik, ekomoni dan geografi juga memiliki pengaruh pada luaran kesehatan, tidak hanya pada lingkungan tertentu yang sangat jelas berbahaya. Masalah kesehatan sebagian disebabkan karena adanya kegagalan dari akibat tata ruang dan disain dari “urban form” disesuaikan dengan kebutuhan individu dan komunitas akan ruang untuk mencapai kehidupan yang lebih sehat. Artikel ini bertujuan untuk mencari pemahaman yang lebih besar dari bagaimana perencanaan, disain dan pengelolaan sebuah kota yang memiliki pengaruh pada pembangunan berkelanjutan dan masyarakat yang sehat. Selain itu juga untuk mencari pemahaman seperti melalui pertimbangan faktor penentu sosial dan lingkungan kesehatan dan pengaruh bahwa kebijakan perkotaan ditentukan oleh kualitas atau kelayakan sebuah  kota. Pelajaran dicari dari teori pengembangan dan pergerakan menuju pendekatan yang lebih kolaboratif untuk kesehatan, terutama dengan melihat Proyek Kota Sehat dari WHO, untuk mengidentifikasikan tantangan dan rekomendasi bagi kebijakan masa depan.      Kata kunci: kesehatan, pengembangan berkelanjutan, perencanaan kota, kolaborasi, Proyek Kota Sehat WHO 
TRANSFORMASI MUSIK DALAM BENTUK ARSITEKTUR Purwantiasning, Ari Widyati; Djuha, Ahmad Mubarak
Nalars Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Saat berbicara tentang musik dan arsitektur, satu yang dapat didefinisikan pada keduanya, yaitu bahwa keduanya merupakan karya seni. Sebuah karya seni tentunya muncul tidak dengan sendirinya, pengaruh beberapa aspek tentunya menjadi sangat penting dalam proses terbentuknya suatu karya seni. Pengaruh tersebut tidak hanya internal namun juga eksternal. Faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi proses terbentuknya suatu karya seni diantaranya adalah manusia, ruang dan waktu. Kedua karya seni musik dan arsitektur sangat dipengaruhi oleh ketiga faktor eksternal tersebut dalam proses perencanaan, perancangan dan implementasi idenya. Keterkaitan musik dan arsitektur sudah banyak diperbincangkan sejak lama, bagaimana dan aspek apa saja yang dapat mengkaitkan keduanya juga sudah lama diperdebatkan. Tulisan ini akan mengkaji tentang benang merah antara musik dan arsitektur, terutama elemen-elemen yang saling terkait di dalamnya, kemudian bagaimana mendiskripsikan dan menganalisis transformasi sebuah musik dalam bentuk arsitektur. Pembahasan masalah ini akan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan deduktif yaitu mengambil sebuah studi kasus dan dianalisa secara umum kemudian dikaitkan secara khusus sesuai dengan teori yang berkaitan dengan musik dan arsitektur. Kata Kunci: transformasi, musik, bentuk, arsitektur  ABSTRACT. When we discuss about music and architecture, there is a significant thing that should be underlined about it, both of them are artworks. An artwork will not performed by itself, there are some aspects that would become important in the process of artworks’ formation. Those aspects were not just an internal aspect but also external one. Some external factors which would effect the process of artworks’ formation are human as doer, space and time.  Both artworks either music or architecture have been affected by those three external factors in the process of planning, designing and implementing the idea. The relation between music and architecture had been talked since years ago, how and what kind of aspects which will connected both of those artworks had been debated as well. This paper will review about the relation between music and architecture, particularly the elements of each artwork, then how to describe and analyze the transformation of music into architectural form. The discussion of this paper will conduct a descriptive method using deductive approach by taking a case study and analyse generally then will be connected in particular referring to the appropriate theory about music and architecture.     Keywords: transformation, music, form, architecture

Page 9 of 35 | Total Record : 349


Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue