cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
PAWIYATAN
Published by IKIP Veteran Semarang
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
TINJAUAN YURIDIS PERLINDUNGAN MEREK YANG BELUM TERDAFTAR DI INDONESIA Sayekti, Sri
PAWIYATAN Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Merek sebagai salah satu karya intelektual perlu mendapatkan perlindungan hukum dalam penggunaannya. Merek sangat diperlukan dalam kegiatangan perdagangan baik barang maupun jasa ,hal ini karena peranan merek sebagai identitas suatu barang  maupun jasa yang menunjukkan asal barang dan jasa tersebut dari produsen atau pengusaha tertentu. Peniruan dibidang merek marak terjadi utamanya pada Usaha-usaha Mikro Kecil dan Menengah, oleh karena itu perlindungannya perlu diperhatikan agar didapat iklim yang kondusif dalam kegiatan perdagangan baik barang maupun jasa. Perubahan system perlindungan merek dari deklaratif ke konstitutif telah mengakibatkan diwajibkannya pendaftaran sebagai syarat untuk mendapatkan perlindungan hak atas merek. Sehingga mengakibatkan timbulnya istilah Merek  Terdaftar dan Merek yang Belum Terdaftar. Hal ini menyebabkan adanya Merek yang terlindungi dan Merek yang tidak terlindungi. Pendaftaran Merek sebagai syarat untuk mendapatkan perlindungan tidak sesuai dengan konsepsi Hak Kekayaan Intelektual itu sendiri yaitu untuk melindungi setiap karya intelektual yang beretikat baik. Lamanya proses pendaftaran dan mahalnya biaya pendaftaran serta kesadaran hukum yang rendah menyebabkan UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek tidak efektif sehingga diperlukan suatu sitem perlindungan yang menyeluruh guna melindungi penggunaan Merek di Indonesia sesuai dengan prinsip keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Seharusnya titik berat perlindungan Merek bukan pada pendaftaran melainkan pada penggunaannya dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa. Pendaftaran merek tidak seharusnya menghapus hak pemilik merek untuk mendapatkan perlindungan hukum.                                                           Kata Kunci: Perlindungan,  Merek yang Belum Terdaftar, Tinjauan Yuridis
PANDUAN PENULISAN KARYA ILMIAH Eko Heri Widiastuti, Y. Soeharso
PAWIYATAN Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya ilmiah atau tulisan ilmiah adalah karya seorang ilmuan yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diperolehnya melalui kepustakaan, kumpulan pengalaman, penelitian dan pengetahuan orang lain. Dalam literatur lain, disebutkan bahwa karya tulis ilmiah adalah serangkaian kegiatan penulisan yang didasar-kan pada pengkajian atau penelitian ilmiah yang ditulis secara sistematis menggunakan bahasa prinsip-prinsip ilmiah. Atau ada juga yang menyatakan bahwa karya tulis ilmiah merupakan karya tulis yang disusun berdasarkan kriteria ilmiah. Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Karya ilmiah  ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan, maka sudah selayaknyalah, jika tulisan ilmiah sering meng-angkat tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang lain. Jika pun tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang sama, tujuannya adalah sebagai upaya pengem-bangan dari tema terdahulu, yang disebut juga sebagai  penelitian lanjutan. Kata Kunci : Penulisan, Karya Ilmiah
MENGEMBANGKAN NEUROLOGI ANAK USIA DINI DENGAN PEMBELAJARAN BERMAIN WARNA MENGGUNAKAN MEDIA KELERENG Fitriyani, R. Soelistijanto
PAWIYATAN Vol 22 No 2 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Childhood is important phase on Human Life Growth. Child is pure personality that is the beginning of Growth Personality by  Learn Which is Play, Sing a song, and Try. So it means that Chilhood need finest education for make them have a good Growth Personality.Every Education is begin with Pray to Allah.  Education for Chilhood must be consist of  Cognitive, Afective, Psikomotorik and Pracsis of these. Neorologi is important for Chilhood. It could help Child for thinking, feels and emerge ability. It is good to practive colour playing with use (kelereng).  It will help Child to Recognize the Colour and make different of the colour, count the colour and feel that colour is beauty. Students Research which is Tittled  Upaya Meningkatkan Kognitif Anak Melalui Kegiatan Mencampur Warna Dengan Menggunakan Media Kelereng Pada Anak Kelompok B TK Pertiwi Sumberrejo Kabupaten Magelang, had been shown that Colour Playing is Good for Cognitive Emerge even than Brain Abillity Emerge and sense of research by creativeness stimuluss. Key Words: Education,  Colour Playing, Neurologi, creativeness, sense of research
Permainan Kreatif Untuk Perkembangan Fisik Motorik Anak (Kajian Integratif Berbasis APE) Huda, Nurul
PAWIYATAN Vol 22 No 3 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsepsi dasar permainan kreatif adalah permainan tersebut edukatif, transformatif, sekaligus aman bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini tentu saja secara langsung menemukan titik aksentuasinya dengan apa yan disebut sebagai Alat Peraga Edukatif (APE). Oleh karena itu, maka sebuah sebuah permainan kreatif mutlak dibutuhkan dalam pembelajaran di tingkat pendidikan anak usia dini. Aktivitas-aktivitas pembelajaran seyogianya bisa diejawantahkan dalam permainan. Pada titik ini, orangtua dan pendidik atau guru memiliki kewajiban untuk memberikan permainan yang baik, aman, dan edukatif. Melalui permainan ini, anak akan bisa mendapatkan ransuman nilai dan pengetahuan, dan pada saat yang sama, tetap dalam wilayah keamanan yang terjaga. Begitu pula dengan alat peraga, sebab alat peraga tersebut bisa menjadi bagian dari permainan, atau permainan tersebut bisa dikemas dalam alat peraga yang sedang digunakan. Muara dari kombinasi menarik-unik adalah terciptanya dunia yang begitu menyenangkan bagi anak. Anak pun mampu mendapat berjibun kebaikan dan nilai-nilai positif, baik dari alat peraga yang digunakan maupun dari permainan yang sedang ditampilkan atau dilakukan. Apabila diarahkan ke dalam kajian permainan kreatif, maka hal ini pun akan menemukan titik konfirmasinya. Istilah permainan kreatif sebenarnya tidak mengacu pada tipe permainan, tetapi pada pendekatan pembelajaran yang digunakan. Pendekatan permainan kreatif digunakan sebgai dasar untuk meracang sebuah kurikulum yang disebut dengan model kurikulum permiana kreatif. Model ini awalnya dikembangkan di Universitas Tenesse, Knoxville pada tahun 1985. Secara teoretis model ini berbijak pada teori perkembangan Jean Piaget, model pembelajaran konstruktif dan praktik pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan (developmentally appropriate practise) anak usia dini yang dikeluarkan oleh NAEYC. Pendekatan permainan kreatif juga berhubungan erat dengan potensi kreatif yang dimiliki tiap anak. menurut Tegano (1991) seperti  yang dikutip oleh Catron dan Allen dalam bukanya, Early Curicullum a Creative Play, model potensi kreatif anak dapat dilihat dari 2 sisi yaitu karakteristik kognitif dan kepribadian. Berdasarkan beberapa analisis di atas, maka kajian ini menitikberatkan pada internalisasi permainan kreatif tersebut pada perkembangan fisik motoric anak, khususnya dalam hal pembelajaran yang dilaluinya, sekaligus berpijak pada analisis APE atau Alat Peraga Edukatif yang ada atau yang bisa dibuat oleh guru atau pendidik. Kata Kunci: permainan kreatif, kurikulum, perkembangan, fisik morotik anak.
Persepsi Guru-Guru Sma Semarang Terhadap Implementasi Kurikulum 2013 Kasidi, Kasidi
PAWIYATAN Vol 22 No 3 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persepsi Guru-Guru SMA Terhadap Implementasi Kurikulum 2013. penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya usaha pemerintah untuk menyempurnakan kurikulum 2006 dengan kurikulum 2013 dengan persiapan waktu yang sangat pendek. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Adapun yang menjadi subjek penelitian adalah guru-guru SMAN 1 dan SMAN 3 Semarang yang pada tahun pelajaran 2013/2014 mengajar di kelas X. Total guru yang dijadikan responden sebanyak 38 orang guru. Pengambilan data dilakukan dengan mendistribusikan angket kepada guru-guru yang dijadikan responden secara langsung. Analisa data dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung persentase jawaban responden untuk setiap alternatif jawaban kemudian dijabarkan ke dalam bentuk kalimat-kalimat yang bisa memperjelas maksut. Hasil penelitian memberikan kesimpulan bahwa kurikulum 2013 akan dapat dilaksanakan dengan baik jika didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten, sarana dan prasarana yang memadai dan akuntabilitas pengelolaan pembelajaran. Key Word: Persepsi Guru, Kurikulum 2013.
The Use Of Face Book As An Interactive Multimedia For Teaching Basic Writing To The First Graders In Educational Program Of Kidergarten Teacher IKIP Veteran Semarang Ratno, Ratno
PAWIYATAN Vol 22 No 3 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 This research was conducted to describe the use of face book to improve the simple writing skill to the first graders in Educational Program of Kindergarten Teacher IKIP Veteran Semarang in academic year of 2014/2015 and to find out the result of applying face book for teaching simple writing. The data source of my study was the first graders in Educational Program of Kindergarten Teacher IKIP Veteran Semarang in academic year of 2014/2015 which consists of 35 students. The instruments consist of a free writing test. It means that the student were free to choose any topic of their experience because it is in the form of a simple writing text. This study is an action research. There were four steps in conducting an action research: Planning. Action, Observation, and Reflection. This action research was done in two cycles. The teaching of simple structure through face book contributes significantly to the students’ improvement. There were 63.31 on pre test and 78.60 on post test of improvements of writing text. Based on this result, I could draw conclusion that the use of face book can improve the student’s writing skill. Keywords: Face book, Improve, Interactive Multimedia, Writing skill.
MENGATASI KECEMASAN SISWA MENGHADAPI UJIAN NASIONAL MELALUI STRATEGI INTERVENSI KONSELING Gitayati, Prih
PAWIYATAN Vol 24 No 2 (2017)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecemasan merupakan reaksi emosional yang ditimbulkan oleh sebab  yang tidak spesifik yang dapat menimbulkan perasaan khawatir, tidak nyaman dan merasa terancam. Timbulnya kecemasan biasanya didahului oleh faktor-faktor tertentu, misalnya meghadapi ujian nasional. Demikian pula kecemasan yang di alami oleh para siswa  di SMA Negeri 4 Semarang yang berakibat pada pesimistik setiap kegiatan yang dilakukan. Sebab-sebab kecemasan ini bisa berupa kurangnya kepercayaan diri, adanya putus asa, frustasi, tidak dapat bertindak secara efektif, dan bahkan hingga sampai pada kegagalan dalam berprestasi. Oleh sebab itu tindakan intervensi konseling model ini dirasa mampu mengurangi dan bahkan menghilangkan rasa kecemasan yang ada pada diri siswa dalam menghadapi ujian nasional tersebut. Tujuan penelitian ini adalah: (1) membandingkan tingkat kecemasan siswa sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dan strategi konseling berupa Cognitif Restructing (CR) dan Systematic Desensitisasi (SD), dan (2)  membandingkan keefektifan intervensi dan strategi konseling berupa Cognitif Restructing (CR) dan Systematic Desensitisasi (SD) yang dikombinasikan dengan  tanpa dikombinasikan keduanya untuk menangani kecemasan siswa. Jenis penelitian ini adalah eksperiman   dengan menggunakan model pretest-postest control group, yaitu untuk membandingkan antara kedua konseling tersebut.  Sedangkan sampel penelitian dipilih secara purposive random sampling pada siswa kelas XII yang akan menghadapi ujian nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah dilakukan Strategi Intervensi Konseling (SIK), dan (2) SIK mampu mengatasi  kecemasan pada siswa dalam menghadapi ujian nasional.
PROSES PEMBENTUKAN KELEKATAN PADA BAYI Hardiyanti, Dwi
PAWIYATAN Vol 24 No 2 (2017)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelekatan merupakan sebuah ikatan emosional antara anak dan orang tuanya yang terjalin sejak dini. Kelekatan ini bukan hanya sebatas ikatan emosional melainkan juga dasar bagi perkembangan sosial emosi anak ke depannya. Anak membangun kelekatan ini dengan figur lekatnya yang dapat saja berupa ibu, ayah, pengasuh atau anggota keluarga lainnya. Kelekatan pasti terbentuk pada anak, hanya ada anak yang mengembangkan bentuk kelekatan aman sedangkan yang lainnya mengembangkan bentuk kelekatan yang tidak aman. Kelekatan yang aman akan membawa dampak positif bagi perkembangan anak sedangkan kelekatan yang tidak aman akan membawa dampak negatif bagi perkembangan anak. Dampak negatif ini dapat berupa permasalahan perilaku, sosial atau emosi yang akan sulit tertangani karena letak permasalahannya ada pada hubungan orang tua dan anak yang tidak berjalan harmonis. Dampak positif yang muncul pada anak dengan kelekatan yang aman adalah anak akan menjadi individu yang mandiri, berani dan percaya diri walaupun berada di lingkungan baru serta kemampuan adaptasinya baik yang akan membuat anak ini menjadi individu yang menyenangkan. Kesimpulannya adalah sangat penting membentuk kelekatan yang aman pada anak agar perkembangan sosial emosionalnya menjadi lebih optimal.
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH Zusrotin, Zusrotin
PAWIYATAN Vol 24 No 2 (2017)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Negara-bangsa Indonesia memiliki keberagaman, baik suku bangsa, agama, budaya, ethnis, ras, kewilayahan, dan sebagainya.  Nilai-nilai  multikultural (multicultural values) untuk dimasukkan ke dalam kurikulum merupakan kebutuhan yang   sangat urgen, setidaknya di “titipkan” pada mata pelajaran lain yang relevan, seperti: PKn, Sejarah, dan  Agama.  Pendidikan multikultural mencakup seluruh peserta didik tanpa membedakan kelompok, seperti: gender, etnik, ras, suku bangsa, budaya, strata sosial, kewilayahan, dan agama, yang telah menjadi tuntutan dan keharusan  dalam membangun Indonsia baru. Namun perlu disadari,  pendidikan multikultural memerlukan kajian yang mendalam tentang konsep dan praksis pelaksanaannya, bahkan  hingga saat ini konsep pendidikan multikultural belum dikaji secara serius dalam dunia pendidikan. Namun bila ditilik secara yuridis, sebetulnya Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah memberi peluang untuk menjabarkan lebih lanjut terhadap konsep pendidikan multikultural, melalui lembaga  pendidikan yang mempertimbangkan nilai-nilai kultural masyarakat dan suku bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika
PENINGKATAN KREATIVITAS SENI RUPA KOLASE DENGAN MEDIA DAUN PADA ANAK KELOMPOK B TK KEMALA BHAYANGKARI 03 BANYUMANIK SEMARANG novi, widya; Widyaningsih, Chatur
PAWIYATAN Vol 24 No 2 (2017)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui peningkatan kreativitas membuat kolase pada anak kelompok B. Subyek penelitian ini adalah Siswa dan Guru TK Kemala Bhayangkari 03 kelompok B kelas B2 berjumlah 25 siswa. Penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas dengan melakukan kegiatan perbaikan pembelajaran sebanyak 2 siklus Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masing-masing siklus I pertemuan 1 mencapai peningkatan kreativitas 59,7%, pertemuan ke 2 mencapai 66,1% dan 3 mencapai 69,9%. Pada siklus II pertemuan 1 peningkatan kreativitas mencapai 73,9%, pertemuan ke 2 mencapai 75,7% dan siklus II pertemuan 3 mencapai 83,7%. Dapat dilihat bahwa pembelajaran siklus I dan II yang menekankan pada kegiatan kolase dengan media daun dapat meningkatkan kreatifitas anak sehingga perkembangan kreativitas seni rupa anakpun meningkat.  Kesimpulan yang dapat diambil adalah dengan kegiatan pembelajaran membuat kolase dengan media daun dapat meningkatkan kreativitas seni rupa anak.