cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
PAWIYATAN
Published by IKIP Veteran Semarang
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
STUDI KOMPARASI HEAT TREATMENT TERHADAP SIFAT-SIFAT MEKANIS MATERIAL RING PISTON BARU DAN BEKAS Abdillah, Fuad
PAWIYATAN Vol 20 No 1 (2013)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akhir-akhir ini  banyak beredar berbagai macam produk pin piston mulai dari produk orisinil (buatan jepang)  yang biasanya berharga mahal, hingga produk – produk non orisinil yang harganya relatif lebih murah. Harga produk orisinil saat ini sekitar sepuluh kali lipat dari harga produk tiruan. Kualitas produk non orisinil memang perlu dipertanyakan, melihat perbedaan harga yang cukup besar ini. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas dari sifat-sifat mekanis antara material ring piston baru yang berkualitas  original  dengan ring piston bekas pada sepeda motor Honda  supra X yang telah mengalami perlakuan panas dengan proses holding time 1,2, dan 3 jam. Proses heat treatmen dilakukan pada material ring piston sepeda motor honda supra X pada suhu dibawah titik lebur yaitu 900oC kemudian di quenching dengan air garam atau biasa disebut proses austenisasi, yang dilanjutkan dengan proses tempering pada suhu 400oC dengan variasi holding time tersebut diatas.  Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah angka kekerasan ring piston baru 39,94 HRC sementara harga kekerasan yang paling tinggi terjadi pada ring piston bekas  pada holding time 3 jam yaitu 38, 66 HRC sementara dari komposisi kimia terjadi perubahan yang tinggi pada unsur Fe yaitu 92,45 pada ring piston supra X baru dan 93,02 pada ring piston bekas. Kata Kunci : Ring piston, Heat treatment, sifat mekanis
EVALUASI STANDAR SARANA PRASARANA DI SMP NEGERI I BANGUNTAPAN BANTUL YOGYAKARTA Risky Setiawan, Eka Nur’aini
PAWIYATAN Vol 22 No 1 (2015)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SMP Negeri 1 Banguntapan Bantul merupakan salah satu SMP di Yogyakarta yang berstandar nasional dan sedang mempersiapkan diri menjadi SMP rintisan bertaraf internasional. Berdasarkan hasil ujian nasional pada tahun 20014/2015, SMP ini termasuk salah satu SMP yang tingkat kelulusannya belum mencapai 100%. Masih rendahnya tingkat kelulusan SMP tersebut menu njukkan bahwa masih belum tercapainya standar minimum yang telah ditetapkan dalam PPRI Nomor 19 Tahun 2005, salah satunya standar sarana prasarana. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelengkapan, pemanfaatan, dan pemeliharaan atau perawatan sarana prasarana di SMP Negeri I Banguntapan Bantul. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian evaluasi dengan model evaluasi Tyler (Goal Oriented Evaluation Model). Berdasarkan hasil observasi, secara keseluruhan kelengkapan sarana prasarana SMP Negeri I Banguntapan Bantul Yogyakarta dikatagorikan sangat baik dengan pencapaian skor 3,633. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh bahwa secara keseluruhan pemanfaatan prasarana dikatagorikan baik dengan pencapaian skor 2,72. Artinya, prasarana SMP Negeri I Banguntapan Bantul telah dimanfaatkankan sebagai penunjang proses belajar mengajar dan kegiatan kesiswaan, namun ada beberapa prasarana dan saran yang pemanfaatannya kuang optimal serta kondisinya kurang terawat. Hasil observasi menunjukkan bahwa ada beberapa prasarana dan sarana yang kondisi dan keterawatannya kurang baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Kelengkapan sarana prasarana SMP Negeri I Banguntapan Bantul Yogyakarta dikatagorikan sangat baik dengan pencapaian skor 3,633. (2) Pemanfaatan prasarana dikatagorikan baik dengan pencapaian skor 2,72, namun ada beberapa prasarana yang pemanfaatannya kurang baik, yaitu ruang laboratorium IPA dan ruang laboratorium bahasa. Sedangkan pemanfaaatan sarana dikatagorikan cukup baik dengan pencapain skor 2. (3) Sarana prasarana yang memiliki kondisi dan perawatan yang baik adalah ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang konseling, tempat ibadah, ruang organisasi kesiswaan, UKS, jamban, gudang, Ruang Tata Boga, Ruang seni musik (band), dan kantin, sedangkan sarana prasarana yang memiliki kondisi dan perawatan yang kurang baik adalah perpustakaan, ruang laboratorium IPA, ruang guru, ruang tata usaha, ruang sirkulasi, dan ruang karawitan.Kata kunci : evaluasi, saran prasarana
PENANAMAN NILAI-NILAI MULTIKULTURAL DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH slamet, slamet
PAWIYATAN Vol 24 No 2 (2017)
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia penuh dengan keberagaman, baik suku bangsa, agama, budaya, ethnis, ras, kewilayahan, dan sebagainya. Dalam memiliki kesamaan persepsi terhadap keberagaman suatu bangsa-negara Indonesia, pendidikan multikultural  sudah menjadi suatu keharusan.  Pendidikan multikultural (multicultural education) dimasukkan kedalam ke dalam kurikulum adalah sangat urgen, setidaknya di “titipkan” pada mata pelajaran lain yang relevan, seperti: PKn, Sejarah, dan  Agama. Pendidikan multikultural merupakan respons terhadap perkembangan keberagaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap warga negara. Dimensi lain, pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurikulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang-orang non-Eropa. Pendidikan multikultural mencakup seluruh peserta didik tanpa membedakan kelompok, seperti: gender, ethnik, ras, budaya, strata sosial, kewilayahan, dan agama, yang telah menjadi tuntutan dan keharusan  dalam membangun Indonsia baru. Namun perlu disadari,  pendidikan multikultural memerlukan kajian yang mendalam tentang konsep dan praksis pelaksanaannya, bahkan  hingga saat ini konsep pendidikan multikultural belum dikaji secara serius dalam dunia pendidikan. Namun bila ditilik secara yuridis, sebetulnya Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) telah memberi peluang untuk menjabarkan lebih lanjut terhadap konsep pendidikan multikultural, utamanya pada Pasal 4 ayat (1) yang mengatur tentang penyelenggaraan pendidikan yang mempertimbangkan nilai-nilai kultural masyarakat yang sangat beragam.
PKM HOME INDUSTRI JENANG DI KABUPATEN KUDUS setiawan, risky setiawan
PAWIYATAN Vol 25 No 2 (2018): PAWIYATAN
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jenang adalah salah satu makanan khas daerah yang telah memasyarakat baik dalam skala Nasional maupun Internasional. Dalam pelaksanaannya sentra industri jenang dominan di Kabupaten Kudus. Terdapat lebih dari dua puluh sentra industri pembuatan jenang di Kabupaten Kudus. Untuk jumlah pendapatan hanya beberapa pabrik jenang yang telaah terkualifikasi baik dari segi kualitas maupun jumlah produksi. Masih banyak sentra industri jenang yang memproduksi jenangnya dengan sistem manual. Dalam proses pembuatannya, jenang yang dibuat menggunakan mesin akan lebih baik kualitas kelenturannya serta tingkat kandungan tepung yang melekat juga akan lebih baik. Disamping itu, sistem pemasaran dan pendistribusian masih cenderung dilakukan hanya promosi dari mulut kemulut (Word of Mouth Marketing). Hal ini tentunya hanya terbatas untuk kalangan tertentu. Sumber daya manusia (SDM) Pemilik home industri Dua Keris dan Sinar Fadhil jenang sudah bagus. ilmu tata boga baik didapat dalam bangku sekolah maupun otodidak, tetapi belum bisa mengatasi permasalahan terutama pada efisiensi dan optimalisasi kualitas jenang yang diproduksi. Selain itu, mereka tidak punya ilmu tentang manajemen dan pemasaran produk yang menjadi salah satu suksesnya usaha. Penerepan Iptek khususnya dalam penerapan Program Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi home industri. Dengan menerapkan hasil riset yang sudah dilakukan IKIP Veteran Semarang yang akan diaplikasikan ke mitra akan meringankan dan memecah permasalahan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan, memaksimalkan kualitas produk jenang, menjual hasil produk dan memudahkan memanajemen usaha jenang. Metode yang dipakai pada program PKM adalah: 1) Memberi pelatihan pembuatan alat pengaduk jenang menggunakan bahan bakar listrik dan pemanas gas LPG (liquid petroleum gas) pada mitra “dua keris” dan masyarakat RT.01 Rw.03. 2) Memberi pengetahuan promosi jasa usaha jenang dan pemasaran melalui internet atau e-Commerce, Pelatihan Manajeman usaha dan pemasaran produk yang akan di jual, dan Pengetahuan manajemen dan informasi mengakses bantuan usaha baik pemerintah maupun bank.. Luaran program PKM yaitu Terwujudnya alat pengaduk jenang tenaga listrik, Menciptakan metode baru peningkatan tingkat kelenturan jenang dan kandungan tepung pada produk, Meningkatkan Iptek dan skill para mitra untuk mengembangkan SDM dan kemajuan jenang, Terbangun website e-Commerce untuk promosi produk jenang dan penjualan produk jenang melalui internet, Menambah pengetahuan manajemen dan pemasaran produk, Informasi mengakses bantuan usaha, Sertifikat kegiatan Program Kemitraan Masyarakat, Laporan kegiatan, seminar nasional dan Publikasi nasional hasil kegiatan program PKM.
MUSEUM SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH nuryanti, nuryanti nur
PAWIYATAN Vol 25 No 2 (2018): PAWIYATAN
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Museum sebagai sumber belajar dapat menjadi program pendidikan yang  mendorong kompetensi, belajar menilai, berpikir kritis dan selanjutnya mendorong peserta didik berani/mahasiswa untuk memberikan sebuah  tanggapan serta komentar terhadap sebuah peristiwa sejarah yang telah terjadi, sehingga proses pembelajaran  terpusat pada peserta didik/mahasiswa.     Permasalahan penelitian adalah: 1) bagaimana dukungan penggunaan koleksi museum  dalam penerapan media pembelajaran sejarah?; 2) bagaimana langkah penggunaan museum   sebagai media pembelajaran sejarah?; dan 3) kendala apa yang ditemui penerapan museum  sebagai media pembelajaran sejarah dan bagaimana solusi pemecahannya? Hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa  penggunaan  museum   sebagai media pembelajaran sejarah  masih  kurang  optimal,   karena kurangnya publikasi  dari pihak pengambil kebijakan serta berbagai  kendala yang ditemukan.  Hal  ini berdampak pada tradisi lama guru/dosen dalam mengajar mengunakan metode konvensional, sehingga peserta didik/mahasiswa merasa bosan dan menganggap pelajaran sejarah sebagai pelajaran yang menghafal urutan peristiwa atau waktu.
Persepsi Masyarakat Kampung Nelayan Pantura Kabupaten Kendal Tentang Pentingnya Pendidikan sh, sri sayekti
PAWIYATAN Vol 25 No 2 (2018): PAWIYATAN
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan menduduki posisi sentral dalam pembangunan karena sasarannya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, oleh sebab itu pendidikan juga merupakan alur tengah dari seluruh sektor pembangunan. Dalam Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia sebenarnya telah disebutkan dan diakui bahwa anak-anak pada hakikatnya berhak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan mereka seyogianya tidak terlibat dalam aktivitas ekonomi secara dini. Tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mendiskripsikan persepsi masyarakat kampung nelayan pantura Kabupaten Kendal tentang pentingnya pendidikan bagi anak; Untuk mendiskripsikan faktor pendukung persepsi orang tua terhadap pendidikan anak-anak nelayan pantura Kabupaten Kendal. Jenis penelitian di sini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Lokasi penelitian ini dilakukan di kampung nelayan Kabupaten Kendal. Sedangkan sumber data/informan yang digunakan adalah nelayan di Kabupaten Kendal. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan persepsi orang tua terhadap pendidikan anak adalah orang tua mempunyai keinginan atau harapan yang tinggi terhadap pendidikan formal untuk anak-anaknya atau orang tua mempunyai persepsi yang positif terhadap pendidikan formal, dengan harapan orang tua setelah anak selesai menempuh pendidikan adalah anak  dapat melanjutkan sekolah yang lebih tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang baik atau layak, dan dapat membantu orang tuanya. Faktor pendukung persepsi orang tua terhadap pendidikan anak adalah adanya informasi tentang pendidikan di berbagai media, motivasi atau dorongan keluarga  yang tinggi untuk menyekolahkan anak, adanya minat pribadi anak yang tinggi untuk belajar maupun untuk sekolah, dan adanya kedekatan yang baik antara orang tua dengan anak sehingga hubungan orang tua dan anak baik, dan yang menjadi faktor penghambat persepsi orang tua terhadap pendidikan adalah kurangnya minat atau kemauan anak untuk sekolah dan anak sering malas untuk belajar, terbatasnya ekonomi dengan penghasilan yang pas-pasan sehingga orang tua tidak bisa menyekolahkan anak sampai jenjang yang lebih tinggi.
Kearifan Lokal Dalam Pembelajaran Sejarah widiastuti, eko heri
PAWIYATAN Vol 25 No 2 (2018): PAWIYATAN
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kearifan Lokal sebagai suatu modal sosial suatu kelompok masyarakat yang berisi berbagai budaya yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat penuh dengan nilai-nilai yang berkaitan dengan tata kehidupan kelompok tersebut. Makna-makna yang terkandung sangat penting untuk dipahami oleh setiap anggota kelompok. Usia  remaja (atau usia anak SMP atau SMA) merupakan usia yang rawan, karena mereka berusaha untuk menemukan identitas atau jati dirinya. Agar mereka dapat menemukan identitas atau jati dirinya secara tepat dan sesuai dengan lingkungannya, maka mereka juga harus memahami kearifan lokal lingkungannya. Pendidikan di sekolah merupakan salah satu cara untuk menanamkan pemahaman kearifan lokal ini, sehingga dalam setiap proses pembelajaran seorang guru hendaknya menyinggung nilai-nilai ini. Mata Pelajaran Sejarah merupakan salah satu Mata Pelajaran yang dapat dijadikan pintu masuknya penyampaian kearifan lokal, sebab sejarah dapat dijadikan sarana untuk menemukan jati diri suatu bangsa. Oleh karenanya dalam pengembangan materi pembelajarannya sebaiknya disisipkan nilai-nilai kearifan lokal.
Kepekaan Orang Tua Terhadap Perkembangan Seksualitas Anak geografi, khasanah mpd
PAWIYATAN Vol 25 No 2 (2018): PAWIYATAN
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini sering kali terjadi kasus penyimpangan seksual di masyarakat, baik kekerasan seksual maupun kelainan seksual dan free sex. Banyaknya kejadian amoral, asusila pada anak usia remaja yang sangat penting dan perlu digaris bawahi adalah kurang perhatian orang tua terhadap pendidikan seks pada anak-anaknya. Artikel konseptual ini dibuat dengan tujuan agar orang tua dapat mengetahui tentang pendidikan seks, tetapi juga dimaksudkan agar mereka mengerti permasalahan seks saat ini dan dampak melakukan hubungan seksual di luar menikah dan selain itu dapat memposisikan anak untuk  bersikap sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku serta dapat menghargai dirinya sendiri. Berdasarkan hasil dari pembahasan pendidikan seks dilakukan secara bertahap sesuai tahapan umur, dan perkembangan anak baik secara biologis, psikologis, ataupun sosialnya. Dalam hal ini orang tua harus bisa berkomunikasi secara suportif, sehingga terjalin kedekatan dan keterbukaan anak dengan orang tua dalam segala hal.  
Posisi Tawar Ukm/Umkm Dalam Era Ekonomi Digital kasidi, kasidi -
PAWIYATAN Vol 25 No 2 (2018): PAWIYATAN
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengkaji secara teoritis tentang Usaha Kecil Menengah (UKM) ataupun Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia. Usaha Kecil Menengah ataupun Usaha Mikro Kecil Menengah merupakan usaha yang dimiliki orang perseorangan dan atau badan usaha perseorangan. UKM/UMKM diperkirakan mampu menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) tidak kurang dari 50 persen dan ekspor sekitar 10 persen. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis posisi tawar UKM/UMKM di era ekonomi digital. Posisi tawar UKM/UMKM di pasar global pada kenyataannya masih lemah disebabkan promosi, pemasaran dan penjualan produk-produk yang dihasilkan masih menggunakan cara-cara konvensional. Dari hasil analisis tersebut direkomendasikan di era digital seperti sekarang  UKM/UMKM tidak cukup hanya mengandalkan cara-cara  yang konvensional tetapi secara pelan dan pasti harus beralih ke cara-cara dengan memanfaatkan media elektronik, yaitu internet. Dengan menggunakan media internet maka promosi, pemasaran, dan penjualan dapat dilakukan secara cepat, tepat, aman, murah, dan nyaman dengan jangkauan pasar ke seluruh dunia.
Pendidikan Karakter Sebagai Transformasi Nilai-Nilai Luhur Bangsa susuiatik, titik
PAWIYATAN Vol 25 No 2 (2018): PAWIYATAN
Publisher : PAWIYATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter di sekolah merupakan penanaman sikap dan kepribadian kepada peserta didik untuk investasi kehidupan kelak dalam bermasyarakat. Karakter dibentuk melalui penanaman dalam berbagai metode dan media yang dikembangkan berdasarkan kearifan lokal dan  perubahan sosial yang terjadi. Pendidikan karakter kearifan lokal adalah pendidikan karakter yang dikembangkan berdasarkan produk kebudayaan masyarakat pendukungnya,  yang  mencakup filosofi, nilai-nilai, norma, etika, folklore, ritual, kepercayaan, kebiasaan, dan adat-istiadat. Salah satu wujud kearifan lokal di Jawa adalah “Kasusastran”. Sastra Jawa Klasik  yang merupakan puncak kearifan Jawa pada masanya dapat dijadikan sumber muatan isi (content) dan media melalui proses transformasi sesuai dengan perkembangan jaman. Pendidikan karakter tidak dapat diajarkan melalui proses kognitif, melainkan melalui pengembangan pembiasaan dan penanaman nilai secara inklusif yang terintegrasi dengan semua piranti pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Untuk menjawab relevansi materi dengan perubahan sosial sekarang adalah melalui usaha-usaha transformasi. Persoalan utama yang perlu dikembangkan terlebih dahulu adalah pengembangan “content” atau muatan isi sebagai dasar kebutuhan pendidikan karakter. Oleh sebab itulah pendekatan pedagogi kritis akan digunakan dalam menganalisis, memberi argumen, dan menjelaskan transformasi nilai-nilai luhur Sastra Jawa Klasik  sebagai pengembang muatan isi pendidikan karakter kearifan lokal di sekolah. Pedagogi kritis sebagai pendidikan penyadaran kontekstual diterapkan dalam mentransformasikan nilai-nilai luhur  Sastra Jawa Klasik Jawa melalui muatan lokal berisi: 1) hakikat hidup dan keseimbangan spiritual; 2)  hakikat berkarya dan pengembangan potensi diri peserta didik melalui berkarya; 3) hakikat kedudukan diri pribadi di tengah masyarakat yang sesuai dengan ruang dan waktu; dan 4)  hakikat hidup dan keseimbangan hidup dengan lingkungan alam  dan relasi-relasi sosial.