cover
Contact Name
Fajar Rosyidi
Contact Email
konselingreligi@stainkudus.ac.id
Phone
+6285729901256
Journal Mail Official
konselingreligi@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Jl. Conge Ngembalrejo Bae Kudus Po Box. 51
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
KONSELING RELIGI
ISSN : 19077238     EISSN : 24772100     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/kr
KONSELING RELIGI Jurnal Bimbingan Konseling Islam(ISSN 1907-7238; E-ISSN 2477-2100) accredited B Ministry of Research, Technology and Higher Education No. 36a / E / KPT / 2016 dated 23 May 2016, is an academic journal that emphasizes on actual issues related to Islamic guidance and counseling. Journal of Counseling Religi Journal of Islamic Counseling Guidance is published twice a year (once every six months, issued in June and December) by the Program Studi Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus. SK ISSN was published on July 31, 2006 and is valid since the first Journal of Vol.1, No 1, June 2010. The editors receive contributions from experts to submit their thoughts related to da'wah, guidance, counseling.
Articles 470 Documents
“Crying For Healing” Formulation in The Frame of Sufistic Counseling
KONSELING RELIGI Vol 9, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v9i2.4659

Abstract

Crying for healing formulation in the frame of sufistic counseling. This study discusses cry formulations for healing various problems, both physical and psychic health disorders that are wrapped in a frame of sufistic counseling. The object of this research is all forms and benefits of crying taken from literature, both literature books and research journals related to healing crying through Sufism. The purpose of this study is to produce crying for healing various problems that interfere with physical and psychological health through Sufism. The method used is descriptive qualitative method with content analysis techniques. The results of his research concluded that the crying for healing formulation in the frame of sufistic counseling included the types, benefits and the correct crying process to cure various problems. The Crying for Healing formulation in the frame of sufistic counseling is a cry accompanied by three things, namely tazkiyah an nafs (cleansing of the soul), riyadhah an nafs (mental training through worship), and taqarrub ila Allah (approaching Allah). The first thing that is done by a problematic individual if using this formulation for sufistic healing therapy is to "seek" God first. Allah is the right place to return. Only He is the source of all solutions and that gives medicine for all diseases.
KEDUDUKAN PENYULUHAN DAN KONSELOR DALAM KONSELING ISLAM
KONSELING RELIGI Vol 5, No 2 (2014): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v5i2.1047

Abstract

Persimpangan antara  instruktur  dan  penasihat  adalah  dua studi aspek biasanya muncul dalam studi Dakwah. Label da’i di mubaligh kesatuan Dakwah digunakan untuk menjadi annunciated studi sebagai penasihat ajaib. Kenyataan ini tidak setuju dengan terminologi Dakwah sebagai subyek untuk mengirim pesan dari prinsip-prinsip Islam untuk menciptakan ketenangan bagi pihak- pihak berkuasa. Sementara itu, terminologi ini telah disertakan dalam kesatuan istilah  dari instruktur.  Untuk akibat dari dua paradigma,  semua penentuan adalah menyimpang dari unsur publik. Dalam istilah-istilah itu instruktur dihantui menyebabkan kehilangan trendi dari istilah-istilah penasihat.kata kunci: Instruktur, Penasihat, prinsip-prinsip IslamBASIS  OF   EPISTEMOLOGY DISSEMINATORS ISLAM (SUPERVISE THE DETERMINATION OF CONTRADICTORY BETWEEN ELIMINATION AND  COUNSELORS). The intersection between instructor and counselor is two aspect studies usually appear in Dakwah  study. The label of da’i missionary in the unity of Dakwah study  used to be annunciated  as counselor. The  reality  was disagreed with the terminology of Dakwah  as subject to send the message of Islamic  principles to create the tranquility  for publics. Meanwhile, this terminology was included in the unity term of instructor.  For the consequence of two paradigms, all determination  is deviates from public constituent. The terminology of instructor was shadowed cause lost trendy than terminology of counselor. Key Words: Instructor, Counselor, Islamic Principles
KETERAMPILAN KOMUNIKASI KONSELING BERBASIS AYAT ALQUR’AN DALAM LAYANAN KONSELING SUFISTIK
KONSELING RELIGI Vol 8, No 1 (2017): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v8i1.2236

Abstract

Tulisan ini akan membahas tentang keterampilan komunikasi konseling berbasis ayat Alqur’an sebagai solusi alternatif praktis dalam konseling sufistik. Selama ini dalam proses konseling terjadi hambatan komunikasi karena adanya kecemasan komunikasi disebabkan moral judgment antara konselor dengan konseli yang ditengarai karena adanya konseli menghindari memberi informasi yang bisa menimbulkan kritik, atau penilaian buruk terhadap pribadinya. Khusus tentang pelaksanaan konseling melalui pendekatan Islam dapat dilakukan dengan menggunakan ayat Alqur’an sebagai dasar pelaksanaan komunikasi konseling sufistik. Hasil dari pembahasan ini adalah sebagai berikut: 1) Gambaran dimensi ‘al-maqamat’ dan ‘al-ahwal’ dalam proses konseling merupakan dimensi manusia mencapai fitrah yang terdiri dari taubat, wara,’zuhud, sabar, qana’ah, ridha, tawakal, ikhlas, muqarabah, muraqabah, khawf dan rajā,’maḥabbah dan ma’rifah. Melalui pisau bedah analisis menggunakan model Skilled Helper yang digagas oleh Gerad Egan pada tataran tertentu dapat digunakan sebagai proses keterampilan komunikasi konseling berdimensi ‘al-maqamat’ dan ‘al-ahwal.’ 2) Keterampilan komunikasi konseling yang digunakan berdasarkan ayat Alqur’an  keterampilan komunikasi konseling sufistik untuk mencapai ‘al-maqamat’ dan ‘al-ahwal’ adalah surah Al-Furqaan ayat 63, An-Nisa ayat 46, Al-Baqarah ayat 155, An-Nahl ayat 125 dan Ali Imran ayat 159.
MEMAHAMI PERBEDAAN BUDAYA SEBAGAI SARANA KONSELING LINTAS BUDAYA
KONSELING RELIGI Vol 7, No 1 (2016): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v7i1.1697

Abstract

AbstrakManusia dalam ajaran agama diciptakan terdiri dari beragam suku dan bangsa yang kesemuanya itu ditujukan untuk saling mengenal budaya, adat istiadat, cara beribadah, cara bermuamalah dan sebagainya. Di Indonesia saja terdiri atas beragam suku yang mendiami pulau-pulau yang bertebaran di seluruh pelosok Indonesia. Belum lagi penduduk dunia yang dihuni milyaran manusia juga terdiri dari berbagai suku, bangsa, agama, dan bahasa. Kesemuanya memiliki cara pandang dan cara hidup yang berbeda antara satu dengan lainnya. Namun, tidak selamanya keragaman budaya, agama, dan bahasa dapat berjalan beriringan, adakalanya terjadi gesekan-gesekan kecil maupun besar yang apabila tidak diselesaikan akan menjadi masalah yang lebih besar. Maka dari itu konseling dibutuhkan sebagai solusi atas permasalahan yang timbul. Terlebih lagi yang dihadapi konselor terdiri dari manusia yang berbeda latar belakang budayanya. Karenanya, konselor lintas budaya harus memiliki karakteristik tertentu yakni, pertama: konselor lintas  budaya harus sadar terhadap nilai-nilai pribadi yang dimilikinya, kedua, konselor lintas budaya harus sadar terhadap karakteristik konseling secara umum, ketiga, konselor lintas budaya harus mengetahui pengaruh kesukuan, dan mereka harus mempunyai perhatian terhadap lingkungannya, keempat, konselor lintas budaya tidak boleh mendorong seseorang klien untuk memahami budayanya (nilai-nilai yang dimiliki konselor), dan kelima, konselor lintas budaya dalam melaksanakan konseling harus mempergunakan pendekatan eklektik. AbstractUNDERSTAND THE DIFFERENCE AS A MEANS OF CROSS-CULTURAL COUNSELING. Man in the teachings of the religion created consists of various tribes and nations all of which aimed to get to know one another culture, customs, how to serve, how to scribe and etc. In Indonesia only consists of various tribes inhabiting the islands are scattered all across Indonesia. Yet the population of the world is inhabited by billions of people also consists of various tribes, nations, religion and the Bible. All of them have perspective and a different way of life with one another. But not forever cultural diversity, religion and language can walk hand in hand, rarely happened friction-swipe was big and small that when not completed will become the bigger problem. So the counseling needed as solutions to the problems that arise. Moreover faced counselors consist of people of different cultural background. Therefore, cross-cultural counselor must have certain characteristics i.e. first: cross-cultural counselor must be aware of the personal values which possesses, second, cross-cultural counselor must be aware of the characteristics of counseling in general, third, cross-cultural counselor must be aware of the influence of ethnicity and they must have attention to their surroundings, fourth, cross-cultural counselor could not encourage one client to understand the culture (The values owned counselors), and fifth cross-cultural counselor in implementing counseling must use eclectic approach. 
Mengikis Prasangka Terhadap Agama, Suku Dan Etnis Dengan Konsep Model Konseling Psikologi Islam
KONSELING RELIGI Vol 9, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v9i1.3083

Abstract

Problematika keagamaan dan sosial saat ini semakin kompleks, seperti  adanya prasangka terhadap agama, suku dan etnis di masyarakat. Hal ini akan menjadi bom waktu (konflik) yang dapat meledak. Artikel ini bermaksud mendeskripsikan hasil penelitan mengenai fenomena prasangka di kalangan pelajar guna menyusun model konseling Mengikis Prasangka Berbasis Psikologi Islam (model konseling MEPRASGI). Dalam penelitian ini digunakan teknik random sampling dengan mengikutkan sebanyak 230 siswa SMA dari Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Nasional di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Digunakan dua alat penelitian berupa skala jarak sosial dan skala stereotip untuk mengungkap prasangka secara kognitif dan afektif terhadap agama, suku dan etnis di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian mendapatkan adanya fenomena prasangka, yaitu pada aspek kognisi terdapat kecenderungan agama tertentu mempunyai jarak sosial yang dekat terhadap suku dan etnis tertentu dan sebaliknya. Pada aspek afeksi, didapatkan orang Sulawesi Selatan secara umum  mempunyai sifat positif berupa pemberani dan semangat dalam bekerja, sedangkan sifat negatif yang dominan adalah banyak bicara. Berdasar temuan itu, maka disusun konsep model konseling MEPRASGI yang dirancang untuk mengikis prasangka pada aspek psikologis terdiri dari  kognitif, afektif dan psikomotor. Bukan itu saja, prasangka dapat dihilangkan dengan cara melakukan terapi tazkiyatunnufus di pusat fungsi psikis yaitu qalbu.
PERAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM DALAM MEMBANGUN KEBERAGAMAAN ANAK JALANAN
KONSELING RELIGI Vol 4, No 1 (2013): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v4i1.1074

Abstract

Islam memandang bahwa pada  hakikatnya manusia adalah makhluk Tuhan  yang diciptakan sebagai khalifah di  muka bumi untuk mengabdi kepada-Nya.  Tulisan ini,  memaparkan bagaimana peran konselor Islam dalam membantu anak jalanan mengembalikan  fitrohnya sebagai hamba Allah yang taat. Hal tersebut tentunya tidak mudah, perlu beberapa metode yang digunakan para konselor. Ada tiga metode yang ditawarkan yaitu: al-hikmah, mauidhah hasanah dan mujadalah yang nantinya mampu membantu konseli (anak jalanan) kembali kepada fitroh beragamanya. Tipologi bagi sebutan anak jalanan mengacu pada tiga karakter anak jalanan, yaitu anak-anak yang turun ke jalanan, anak-anak yang ada di jalanan dan anak-anak dari keluarga yang ada di jalanan. Kesemuanya membutuhkan perhatian dari konselor Islam agar bisa mengenali lagi fitrahnya sebagai hamba Allah swt.Kata Kunci: Konselor, Anak Jalanan, Fitrah.THE ROLE OF GUIDANCE COUNSELING  ISLAM IN THE BUILDING OF RELIGIOSITY  OF STREET CHILDREN. Islam sees that on the fact of the matter is that man is the living God who created as a vicegerent on earth to serve Him. This article explained how the role of the counselor for Islam in the help of street children restore fitrohnya  as obedient  servant  of Allah. It is  certainly  not easy, need  to some of the  methods  used the  counselors. There are three  methods that offered:  al-hikmah,  mauidhah hasanah and mujadalah which later able to help konseli (street children) return to fitroh beragamanya.  Typology for the pronunciation of the street children refers to the three characters of street children, namely  children that go down  to the streets,  children who are in the streets and the children from the family is in the streets. All need attention from the counselor for Islam in order to identify again by nature as a servant of Allah swt.Keywords: Counselor, Street Children, Fitrah.
The Implementation of Islamic Reality Group Counseling through Humor For Student`s Game Online Addiction At Bright Private Learning
KONSELING RELIGI Vol 12, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v12i2.12743

Abstract

Online game addiction behavior is a phenomenon that occurs as one of the impacts of the rapid development of technology and information. This study aims to prove the use of humor techniques in reality approach counseling for students in Bright's tutoring. Group counseling is carried out based on a comprehensive Islamic model. The reality group counseling approach in this study emphasizes responsible behavior for learning choices and playing online games. The methodology used is Quasi Experimental with a pre-post test model with five students as the subject of Bright tutoring. Data analysis was carried out by fulfilling the results of the validity of the instrument analysis and compliance with the stages of research implementation. Data analysis usedNon-parametric statistical analysis using the Wilcoxon's Signed Rank Test. The results obtained an average significant increase between 30-40% in the low to high category. Through these results, it can be studied that the reality approach with humor techniques in group counseling services can reduce the frequency of student addiction exponentially. In addition, efforts to eliminate an unwanted behavior are automatically able to bring up positive behavior which in this case is an increase in student learning motivation.
Being a Good Multicultural Counselor for Persons with Disabilities
KONSELING RELIGI Vol 11, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v11i1.6954

Abstract

This study aims to find out how to be a good multicultural counselor for persons with disabilities. This study uses qualitative methods and educational psychology approaches. The subjects of the study were three counselors at the state extraordinary school in Pemalang. This research lasted for three months. Based on extensive interviews and observations at the research location as the main tool for data collection, this study produced several findings. First, a multicultural counselor who is good for person with disabilities has several characteristics, they are empathy, familiarizing "greetings" and "say hello", listening wholeheartedly, having insight into cultural values of manners and the ethics of patience when interacting at person with disabilities, and mastering techniques in counseling. Second, these characteristics are able to increase and develop the career potential of person with disabilities and very helpful for person with disabilities through difficult times when facing life’s problems.
MENGATASI KESULITAN BELAJAR MELALUI KLINIK PEMBELAJARAN (STUDI ANALISIS PADA MATA PELAJARAN FISIKA)
KONSELING RELIGI Vol 4, No 2 (2013): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v4i2.1007

Abstract

Dalam   kegiatan   belajar    di    sekolah,    guru   berhadapan dengan jumlah ciri-ciri  untuk beragam siswa.  Ada siswa yang dapat mengambil kegiatan belajar mereka mulus dan berhasil tanpa kesulitan, tetapi pada sisi lain tidak beberapa siswa yang benar-benar mengalami kesulitan dalam belajar. Kesulitan belajar siswa yang ditunjukkan  oleh kehadiran hambatan tertentu untuk mencapai hasil pembelajaran,  dan dapat psikologis, sosiologis, dan  psikologis, yang  pada  gilirannya   dapat  menyebabkan mencapai prestasi belajar di bawah yang baik. Kesulitan belajar siswa meliputi luas, termasuk: (a) gangguan belajar, (b) learning disfungsi ereksi; (c) underachiever (d) peserta lambat, dan (e) dalam belajar. Dalam keadaan tertentu, karya ini mengangkat tema kesulitan belajar fisika. Pemilihan  tema ini mempertimbangkan subjek fisika yang masih dianggap sebagai sebuah cemeti sebagian besar siswa. Gambar  ”sulit” untuk belajar fisika yang telah dipasang pada persepsi awal siswa. Berdasarkan latar belakang pernyataan di atas, karya ini bertujuan untuk mendiskusikan masalah yang berhubungan  dengan  diagnosis kesulitan belajar.   Masalah- masalah ini termasuk:  masalah-masalah kesulitan belajar Fisika, alternatif untuk mengatasi  masalah  fisika belajar melalui klinik mengajar. Justru itu, lingkup diskusi fokus pada kesulitan dalam pembelajaran,  pengajaran tersebut, model  pembelajaran  yang dapat diterapkan dan cara mengatasi masalah kesulitan dalam fisika belajar melalui klinik mengajar.Kata Kunci: Klinik Pembelajaran, Fisika.\In learning activities in schools, teachers are faced with number of characteristics to diverse students.  There are students  who can take their learning activities smoothly and successfully without  difficulty, but on the other hand not a few students who actually experience difficulties in learning. Student  learning difficulties indicated by the presence of certain  barriers to achieve learning  outcomes, and can be psychological,  sociological, and physiological, which in turn can lead to learning achievement reached under proper. Student  learning difficulties  covers  a broad sense,  including :  (a)  learning  disorder, (b) learning disfunction;  (c) underachiever  (d)  slow  learner,  and (e) learning disabilities. In particular, this paper raised the theme of learning difficulties physics. The selection of this theme considering the subjects of physics that’s still regarded as a scourge of most students. Image ”difficult” to learn physics is attached to the initial perception of students. Based on the background of the above statement, this paper aims to discuss issues related to the diagnosis of learning difficulties. These problems include: the problems of learning difficulties physics, an alternative to overcome the problem of learning physics through teaching clinic. Thus the scope of the discussion focused on difficulties in learning , tutoring , learning models  that can be applied and how to overcome the problem of difficulties in learning physics through teaching clinic.Keyword: Learning ,  Fhyisics
DAKWAH MELALUI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
KONSELING RELIGI Vol 5, No 1 (2014): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v5i1.1057

Abstract

Tulisan ini mengenai deskripsi tentang dakwah melalui bimbingan konseling islam yang bertujuan untuk memberikan solusi islami terhadap berbagai masalah dalam kehidupan. Adapun metode yang penulis gunakan dalam riset ini adalah metode analisis deskriptif, dimana penulis memaparkan data dari beberapa pendapat yang relevan dari berbagai sumber kemudian menganalisisnya, sehingga menghasilkan sebuah alternatif  yang lebih efektif dan relatif baru dalam dakwah, yaitu melalui bimbingan  konseling islam. Maka dakwah harus dikemas dalam metode yang tepat, yaitu aktual, faktual, dan kontekstual. Aktual dalam arti memecahkan masalah kekinian dalam masyarakat, faktual dalam arti nyata (tidak sekedar teori), serta kontekstual dalam arti relevan dan menyangkut problem yang dihadapi masyarakat. Salah satu pendekatan untuk menyampaikan pesan dakwah tersebut adalah melalui kegiatan bimbingan dan konseling Islam. Dakwah melalui bimbingan dan konseling Islam memiliki beberapa karakteristik, yakni terjalinnya hubungan personal antara pembimbing dengan yang dibimbing, berorientasi pada pemecahan masalah, penyampaian pesan yang sudah terprogram, dan adanya target yang ditetapkan. Selain itu, dakwah melalui bimbingan dan konseling Islam juga memiliki karakteristik lain, yakni mencoba menumbuhkan  kesadaran untuk menginternalisasikan nilai-nilai/ajaran Islam di kalangan tertentu yang sangat spesifik dan bersifat individual. kata kunci : Dakwah, Bimbingan, Konseling Islam. DAKWA THROUGH GUIDANCE AND COUNSELLING ISLAM. This study is a description of the dakwa through guidance counseling islam yang aims to provide Islamic solutions to problems in the life. Now the method that I will use in this study is a descriptive analysis method where the author depicts the data from some relevant opinions from various sources and then analyze it, to produce an alternative that is more effective and relatively new in dakwa, namely through  guidance counseling Islam.  Then dakwa  must be packed in the proper method of actual, faktual, and contextual  learning. In the actual meaning of troubleshooting  cotemporary  in society,  factual in the sense of a real (not just a theory), and contextual learning in the meaning of relevant and related to the  problem faced by the community. One of the approaches to convey a message of dakwa is through  the guidance  and counseling activities  of Islam.  Dakwa through guidance and counselling Islam has some characteristics of the establishment of personal relations between the leaders and the LED, oriented on the troubleshooting , delivering the message that has been programd and the existence of the specified target. In addition, Dakwa through guidance and counselling Islam also have other characteristics, trying to raise awareness  to internalise values/Islamic teachings in certain circles that  very specific and individual.Keywords : Dakwa, Guidance and Counselling Islam