cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN" : 12 Documents clear
DUKUNGAN KELUARGA, PERAN GENDER, EFIKASI DIRI PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR, DAN PENGHARAPAN AKAN HASIL TERHADAP CAREER INDECISION SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI KOTA MADIUN Ali, Muhammad; Mukhibat, Mukhibat
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.2054

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung antara peran gender, dukungan keluarga, efikasi diri pengambilan keputusan karir, dan harapan hasil  terhadap career indecision siswa SMA. Data dikumpulkan dengan kuesioner yang disebarkan kepada 280 siswa dan dianalisis dengan SEM (Structural Equation Modeling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga, efikasi diri pengambilan keputusan karir, dan harapan hasil berpengaru langsung yang signifikan dan negatif terhadap career indecision, sementara peran gender berpengaruh signifikan dan positif terhadap carer indecision. Dukungan keluarga melalui efikasi diri pengambilan keputusan karir dan harapan hasil, peran gender melalui efikasi diri pengambilan keputusan karir dan harapan hasil, dan efikasi diri pengambilan keputusan karir melalui harapan hasil berpengaruh signifikan dan negatif terhadap career indecision. Peran gender ditemukan tidak berpengaruh pada harapan hasil dan career indecision melalui harapan hasil. Direkomendasikan bagi konselor untuk melakukan layanan konsultasi bagi orang tua dalam rangka mengurangi tingkat career indecision siswa.
Menyoal Pemulihan Anak Korban Kekerasan di Indonesia Hasyim, Nur
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.2049

Abstract

Kekerasan terhadap anak menjadi salah satu masalah serius yang dihadapi Indonesia saat ini yang menuntut langkah-langkah terstruktur untuk mencegahnya. Perlindungan anak dari tindak kekerasan sangat penting karena menyangkut masa depan bangsa ini sekaligus merupakan tanggungjawab negara sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan instrumen hak asasi manusia internasional khususnya Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Paper ini menilai pemulihan adalah hak bagi anak korban kekerasan dan negara melalui pemerintah berkewajiban untuk melakukan dan mengupayakan hasil pemenuhan hak pemulihan tersebut. Patut dihargai bahwa pemerintah telah melakukan langkah-langkah legislasi serta membangun mekanisme pemulihan dengan membangun lembaga-lambaga penyedia layanan untuk anak korban kekerasan, namun berbagai tantangan masih harus dihadapi oleh pemerintah dan berbagai pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pemulihan ini. Paper ini mengidentifikasi tantangan-tantangan sekaligus menawarkan rekomendasi yang harus dilakukan oleh berbagai pihak terkait pemulihan untuk anak korban kekerasan di Indonesia. 
MEWASPADAI KEKERASAN SIMBOLIK DALAM RELASI ORANG TUA DAN ANAK Ulya, Ulya
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.2050

Abstract

Kekerasan simbolik merupakan istilah Pierre Bourdieu. Dia menunjuk pada kekerasan yang sifatnya laten, tidak disadari, juga tidak dirasakan, baik  oleh pelaku maupun korbannya. Kekerasan semacam ini tersebar di mana-mana, termasuk dalam keluarga, seperti antara orang tua dan anak. Dengan dalih mendidik, mendisiplinkan, mengarahkan kepada kebaikan, dan seterusnya, biasanya orang tua, melalui tutur katanya,  menggiring anak-anaknya menuju ruang tunggal. Tanpa disadari orang tua telah memaksa anak untuk berpendapat, bersikap atau berperilaku tertentu. Mereka tak diberi kesempatan bersuara, tidak diberi alternatif pilihan-pilihan lain.  Akhirnya entah itu dengan perasaan  tidak suka, jengkel, merasa terpaksa, mereka cenderung mengikuti tuturan orang tua dengan alasan ketaatan dan takut dicap durhaka. Dalam relasi seperti inilah, baik orang tua maupun anak tidak merasa dalam lingkaran kekerasan. Keduanya memandang relasi yang demikian itu  bersifat taken for granted dan seharusnya memang seperti itu.  Kekerasan simbolik perlu diwaspadai karena menjadi pintu gerbang yang melahirkan kekerasan-kekerasan lain yang sifatnya lebih nyata.This article  explore the symbolic violence in the education of children by parents in their family. Symbolic violence is a latent violence, unconscious, which is not perceived by the perpetrators and the victims. By using critical approach and critical theory of Bourdieu’s symbolic violence, this article find that  the parents usually let their children towards a single space to think, to act or behave in certain ways without opportunity to speak or choose another options. Children tend to follow their parents by reason of obedience and fear of being labeled as insubordinate one. In this kind of relationship, both parents and children do not feel a circle of violence. Both looked at the relationship as -taken for granted- thing and should be like that. Symbolic violence should be woried about as a gateway that spawns other kinds of more real violence.
EKOLOGI BIMBINGAN KARAKTER ISLAMI RAMAH ANAK DI TK KHAS DAARUT TAUHIID BANDUNG Ulyani, Farida
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.2018

Abstract

Berbagai kebobrokan moral dan kekerasan terhadap anak yang terjadi akhir-akhir ini menuntut strategi terobosan dari bimbingan karakter yang ramah anak.  Riset ini membahas profil ideal ekologi bimbingan karakter Islami yang ramah anak di TK Khas Daarut Tauhiid Bandung.  Penelitian ini menggunakan metode studi kasus karena keunikannya. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian adalaha bahwa kondisi lingkungan sekolah tersebut cukup mengakomodasi dalam mengembangkan nilai-nilai moral yang meliputi: akhlak kepada Allah Swt, Rasulullah Saw, sesama manusia dan lingkungan. Penguatan ekologi Islami dilakukan dengan pengkondisian pada struktur ruang fisik dan sosial.  Sementara para guru melakukan pengauatan tiga struktur yang saling terkait yaitu: (a) Struktur peluang; diwujudkan dalam bentuk perangkat tugas, jenis dan berbagai bentuk kegiatan yang selaras dengan kebutuhan anak; (b) Struktur pendukung; perangkat sumber (resources) dan pengkondisian konteks yang sejalan dengan nilai-nilai karakter Islami; (c) Struktur penghargaan sesuai psikologi anak.Various moral depravity and violence against children happened lately demanded breakthrough strategy of a character guidance child-friendly. This research discusses the ideal ecological profile for Islamic character guidance in friendly child in TK Khas Daarut Tauhiid Bandung. This study uses a case study method because of its uniqueness. In collecting data using the method of observation, interviews and documentation methods. The results are: the ecological condition of  TK Khas Daarut Tauhiid has accommodated for Islamic character development at least in four aspect: character to Allah, the Prophet, human and environmental relations. In Strengthening of Islamic ecology  done by conditioning the physical space and social structure. Meanwhile the teacher made three interconnected structures conditioning, namely: (a) The structure of opportunities; embodied in the form of tasks, kinds and various forms of activities that are consistent with the needs of the child; (b) a supporting structure; device resources and conditioning context in line with the values of the Islamic character; (c) Structure of the award appropriate child psychology.
Fenomena Pernikahan Sikum dan Di Bawah Umur Di Dukuh Ploso Kerep, Desa Prawoto, Kecamatan Sukoilo, Kabupaten Pati Dewi, Siti Malaiha
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.2442

Abstract

Tulisan ini diawali ketertarikan penulis terhadap fenomena banyaknya pernikahan dini yang terjadi di dusun Ploso Kerep salah satu wilayah Desa Prawoto yang berbeda dari daerah lain, antara lain soal motif dan dampak. Jika di tempat lain umumnya disebabkan factor ekonomi, di sana tidak. Jika di tempat lain pernikahan dini berkorelasi dengan tingginya tingkat perceraian, dan terganggunya fungsi reproduksi perempuan, di sana pun tidak terjadi hal yang demikian. Motif pernikahan dini di sana adalah: 1) Kebanggaan orang tua jika anaknya menikah di usia belia; 2) Kemauan sendiri anak untuk menikah sebab menganggap kebahagiaan hidup adalah dengan berkeluarga; 3) Pemahaman terhadap satu prinsip “menolak mafsadat lebih utama daripada mengambil maslahat”, maka menikah dini lebih utama bagi mereka sebagai pencegah terjadinya zina; dan 4) Telah hamil duluan. Pernikahan di bawah umur dilaksanakan dengan dua model, yaitu: 1) system sikum atau pernikahan yang tidak tercatat di KUA; 2) Pernikahan di bawah umur tercatat di KUA melalui pengajuan dispensasi nikah ke pengadilan. 
MANAJEMEN PENGASUHAN ANAK BERBASIS SOFT SKILL (Studi Kasus Di Panti Darul Hadlonah Demak) Utaminingsih, Sri; Hidayati, Richma
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.1812

Abstract

AbstrakTujuan penelitian yaitu 1).  untuk  mendiskripsikan pengasuhan  anak pada Panti Asuhan Darul Hadlonah Demak; 2) mendiskripsikan soft skill yang dikembangkan  di Panti Asuhan  Darul Hadlonah Demak. Pendekatan Penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara dengan peneliti sebagai instrumen utama. Keabsahan data melalui triangulasi  metode dan sumber. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, mulai dari display, reduksi. dan pengambilan kesimpulan.  Sumber data sebagai informan dipilih terdiri dari: pengurus yayasana, pimpinan panti, pengasuh, serta anak-anak panti berjumlah 42  anak. Hasil penelitian  menunjukan bahwa  dalam pengelolaan panti mempunyai  struktur organisasi yang jelas,  visi, misi, program kerja dan  koordinasi dan evaluasi setip bulan dan akhir tahun. Pola  pengasuhan anak menggunakan sistim grup dan pola kakak adik, dalam kegiatan sehari –hari anak senoir diberi tanggungjawab pada anak yunior, sedangkan pola asuh pendidikan, anak diwajibkan menempuh pendidikan  formal berbasis  tanggungjawab  yaitu anak diberi kebebasan memilih pendidikan  SD sampai perguruan tinggi. Dalam pengasuhan dikembangkan  soft skill yaitu kemampuan bersikap amanah, tanggung jawab, kerjasama, komunikasi yang memperkokoh nilai jujur dan mandiri berdasarkan  nilai-nilai relegius.  Kata Kunci:  manajemen, pengasuhan, anak, soft skill
MEWASPADAI KEKERASAN SIMBOLIK DALAM RELASI ORANG TUA DAN ANAK Ulya Ulya
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.2050

Abstract

Kekerasan simbolik merupakan istilah Pierre Bourdieu. Dia menunjuk pada kekerasan yang sifatnya laten, tidak disadari, juga tidak dirasakan, baik  oleh pelaku maupun korbannya. Kekerasan semacam ini tersebar di mana-mana, termasuk dalam keluarga, seperti antara orang tua dan anak. Dengan dalih mendidik, mendisiplinkan, mengarahkan kepada kebaikan, dan seterusnya, biasanya orang tua, melalui tutur katanya,  menggiring anak-anaknya menuju ruang tunggal. Tanpa disadari orang tua telah memaksa anak untuk berpendapat, bersikap atau berperilaku tertentu. Mereka tak diberi kesempatan bersuara, tidak diberi alternatif pilihan-pilihan lain.  Akhirnya entah itu dengan perasaan  tidak suka, jengkel, merasa terpaksa, mereka cenderung mengikuti tuturan orang tua dengan alasan ketaatan dan takut dicap durhaka. Dalam relasi seperti inilah, baik orang tua maupun anak tidak merasa dalam lingkaran kekerasan. Keduanya memandang relasi yang demikian itu  bersifat taken for granted dan seharusnya memang seperti itu.  Kekerasan simbolik perlu diwaspadai karena menjadi pintu gerbang yang melahirkan kekerasan-kekerasan lain yang sifatnya lebih nyata.This article  explore the symbolic violence in the education of children by parents in their family. Symbolic violence is a latent violence, unconscious, which is not perceived by the perpetrators and the victims. By using critical approach and critical theory of Bourdieu’s symbolic violence, this article find that  the parents usually let their children towards a single space to think, to act or behave in certain ways without opportunity to speak or choose another options. Children tend to follow their parents by reason of obedience and fear of being labeled as insubordinate one. In this kind of relationship, both parents and children do not feel a circle of violence. Both looked at the relationship as -taken for granted- thing and should be like that. Symbolic violence should be woried about as a gateway that spawns other kinds of more real violence.
Menyoal Pemulihan Anak Korban Kekerasan di Indonesia Nur Hasyim
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.2049

Abstract

Kekerasan terhadap anak menjadi salah satu masalah serius yang dihadapi Indonesia saat ini yang menuntut langkah-langkah terstruktur untuk mencegahnya. Perlindungan anak dari tindak kekerasan sangat penting karena menyangkut masa depan bangsa ini sekaligus merupakan tanggungjawab negara sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan instrumen hak asasi manusia internasional khususnya Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Paper ini menilai pemulihan adalah hak bagi anak korban kekerasan dan negara melalui pemerintah berkewajiban untuk melakukan dan mengupayakan hasil pemenuhan hak pemulihan tersebut. Patut dihargai bahwa pemerintah telah melakukan langkah-langkah legislasi serta membangun mekanisme pemulihan dengan membangun lembaga-lambaga penyedia layanan untuk anak korban kekerasan, namun berbagai tantangan masih harus dihadapi oleh pemerintah dan berbagai pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pemulihan ini. Paper ini mengidentifikasi tantangan-tantangan sekaligus menawarkan rekomendasi yang harus dilakukan oleh berbagai pihak terkait pemulihan untuk anak korban kekerasan di Indonesia. 
EKOLOGI BIMBINGAN KARAKTER ISLAMI RAMAH ANAK DI TK KHAS DAARUT TAUHIID BANDUNG Farida Ulyani
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.2018

Abstract

Berbagai kebobrokan moral dan kekerasan terhadap anak yang terjadi akhir-akhir ini menuntut strategi terobosan dari bimbingan karakter yang ramah anak.  Riset ini membahas profil ideal ekologi bimbingan karakter Islami yang ramah anak di TK Khas Daarut Tauhiid Bandung.  Penelitian ini menggunakan metode studi kasus karena keunikannya. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian adalaha bahwa kondisi lingkungan sekolah tersebut cukup mengakomodasi dalam mengembangkan nilai-nilai moral yang meliputi: akhlak kepada Allah Swt, Rasulullah Saw, sesama manusia dan lingkungan. Penguatan ekologi Islami dilakukan dengan pengkondisian pada struktur ruang fisik dan sosial.  Sementara para guru melakukan pengauatan tiga struktur yang saling terkait yaitu: (a) Struktur peluang; diwujudkan dalam bentuk perangkat tugas, jenis dan berbagai bentuk kegiatan yang selaras dengan kebutuhan anak; (b) Struktur pendukung; perangkat sumber (resources) dan pengkondisian konteks yang sejalan dengan nilai-nilai karakter Islami; (c) Struktur penghargaan sesuai psikologi anak.Various moral depravity and violence against children happened lately demanded breakthrough strategy of a character guidance child-friendly. This research discusses the ideal ecological profile for Islamic character guidance in friendly child in TK Khas Daarut Tauhiid Bandung. This study uses a case study method because of its uniqueness. In collecting data using the method of observation, interviews and documentation methods. The results are: the ecological condition of  TK Khas Daarut Tauhiid has accommodated for Islamic character development at least in four aspect: character to Allah, the Prophet, human and environmental relations. In Strengthening of Islamic ecology  done by conditioning the physical space and social structure. Meanwhile the teacher made three interconnected structures conditioning, namely: (a) The structure of opportunities; embodied in the form of tasks, kinds and various forms of activities that are consistent with the needs of the child; (b) a supporting structure; device resources and conditioning context in line with the values of the Islamic character; (c) Structure of the award appropriate child psychology.
MANAJEMEN PENGASUHAN ANAK BERBASIS SOFT SKILL (Studi Kasus Di Panti Darul Hadlonah Demak) Sri Utaminingsih; Richma Hidayati
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.1812

Abstract

AbstrakTujuan penelitian yaitu 1).  untuk  mendiskripsikan pengasuhan  anak pada Panti Asuhan Darul Hadlonah Demak; 2) mendiskripsikan soft skill yang dikembangkan  di Panti Asuhan  Darul Hadlonah Demak. Pendekatan Penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara dengan peneliti sebagai instrumen utama. Keabsahan data melalui triangulasi  metode dan sumber. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, mulai dari display, reduksi. dan pengambilan kesimpulan.  Sumber data sebagai informan dipilih terdiri dari: pengurus yayasana, pimpinan panti, pengasuh, serta anak-anak panti berjumlah 42  anak. Hasil penelitian  menunjukan bahwa  dalam pengelolaan panti mempunyai  struktur organisasi yang jelas,  visi, misi, program kerja dan  koordinasi dan evaluasi setip bulan dan akhir tahun. Pola  pengasuhan anak menggunakan sistim grup dan pola kakak adik, dalam kegiatan sehari –hari anak senoir diberi tanggungjawab pada anak yunior, sedangkan pola asuh pendidikan, anak diwajibkan menempuh pendidikan  formal berbasis  tanggungjawab  yaitu anak diberi kebebasan memilih pendidikan  SD sampai perguruan tinggi. Dalam pengasuhan dikembangkan  soft skill yaitu kemampuan bersikap amanah, tanggung jawab, kerjasama, komunikasi yang memperkokoh nilai jujur dan mandiri berdasarkan  nilai-nilai relegius.  Kata Kunci:  manajemen, pengasuhan, anak, soft skill

Page 1 of 2 | Total Record : 12