cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 2 (2012): Oktober 2012" : 6 Documents clear
Konsep Teater Epik Brecht dalam Film Dogville Hari Wibowo, Philipus Nugroho
Journal of Urban Societys Arts Vol 12, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film yang menggunakan panggung sebagai tempat kejadian (setting) masih jarangditemukan di Indonesia. Kalaupun ada film-film tersebut hanyalah mengisahkankehidupan orang-orang teater dengan segala aktivitas kesehariannya, ataumentransformasikan naskah-naskah panggung menjadi sebuah film. Film Dogvillekarya sineas Denmark, Lars von Trier, menggunakan konsep pemanggunganteater dalam penggarapan filmnya.Dalam film tersebut, setting sebuah kota hanyadihadirkan disebuah studio besar (panggung) dengan garis-garis kapur yangdianggap mewakili berbagai macam benda ataupun dinding yang memisahkan satutempat dengan tempat lainnya. Furnitur yang dihadirkan sangat minimalis, hanyabeberapa benda saja yang dihadirkan yang dianggap cukup mengidentifikasikantempat tersebut. Background yang dipakai hanya layar hitam dan putih untukmembedakan adegan malam dan adegan siang. Berdasarkan kesamaan strukturpembentuk yang terdapat dalam film (narasi) dan teater, yaitu tema, alur,penokohan, dan setting yang dipaparkan secara deskriptif, dapat dibuktikan bahwaKonsep Teater Epik Brecht yang selama ini diterapkan dalam panggung bisaditerapkan dalam film Dogville. Brecht’s Concept of EpicTheaterin Dogville Film. Films using the stage as the scene(setting) are still rare in Indonesia, even if there are only films that tell us about the lifeof the theatre (stage) with all activities of daily life, or transforming the manuscripts stage(theater) into a movie. LarsvonTrier, Dannish film maker, made Dogville – it uses theconcept of theatrical staging in the process of the film making. In the film, a city settingis just presented in a large studio (stage) with the chalk lines are considered to representa wide range of objects or wall that separate sone place to another one. Presenting veryminimalist furniture, only a few objects are presented and sufficient to identify the place.Background screens use only black and white to distinguish the scenes and the scenesduring the night. Based on the similarity of structure formation contained in the film(narrative) and the theatre, the themes, Alur, characterizations and settings are presenteddescriptively.Then it can be proved that the Brecht’s concept of epic theater which hasalready been applied lately on the stage can be applied in Dogville film.
Transformasi Budaya dalam Kesenian Lengger Temanggung Perkotaan Sisworo, Budi
Journal of Urban Societys Arts Vol 12, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lengger merupakan sebuah kesenian tari tradisional yang berkembang di daerah JawaTengah dan sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami fenomenatransformasi yang terjadi pada tari Lengger yang berkembang di wilayah perkotaanTemanggung. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa kesenian ini memilikiberbagai varian dalam baik dari sisi tarian, bentuk penyajian, dan mitologiyang berkembang di masyarakat. Hal ini terjadi karena kesenian kerakyatan lebihbersifat sebagai manifestasi pola pikir dan interpretasi dari gejala-gejala yang munculdari kehidupan masyarakat pendukungnya, bahkan perkembangannya pun sangatdipengaruhi oleh perkembangan dan perubahan kehidupan masyarakatnya. Fungsidan peranan kesenian tradisi dalam masyarakat juga akan berubah dan berkembangmengikuti pola kehidupan masyarakatnya. Cultural Transformation in Lengger Temanggung Art. Culture constitutes aninseparable aspect of a human civilization. Culture has a variety of meanings stored ina system of civilization with thousands of virtue in it. Cultural change as the beginningof the transformation of culture is the basis of change in the culture of certain groups dueto the openness of people to accept emerging new cultural elements. Lengger dance is atraditional art developed in Central Java and the surrounding areas. Like jathilan andjaran kepang, Lengger art has differences in terms of dance, forms of presentation, andmythology developed in the community. This happens because the art is more popularthan a manifestation of the mindset and interpretation of the symptoms that arise fromsupporting community life, even its existence is strongly influenced by the developmentsand changes in people’s lives. In addition, the function and role of traditional arts in thecommunity will also change and evolve to follow the patterns of community life.
Lakon sebagai Media Transformasi Penyampaian Pesan Sosial dalam Pertunjukan Wayang Orang Wicaksono, Andi
Journal of Urban Societys Arts Vol 12, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan transformasi isu aktual dalam manyarakattentang ide dan gagasan dalam pe-nyanggit-an lakon. Penelitian dilakukan dengancara pembacaan pertunjukan lakon “Sêsaji Raja Suya” sajian Paguyuban WayangOrang Panca Budaya menggunakan teori bangunan lakon wayang. Sanggit lakonyang ditemukan dikaitkan dengan konteks masyarakat saat ini untuk menunjukkantransformasi isu aktual di masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanggit lakon yang disajikan berbeda dengan sanggit lakon pada umumnya. Dalamsanggit tersebut terdapat pesan sosial tentang wacana pemilu. Sanggit beserta bentukpertunjukannya merupakan sebuah bentuk kreatif seniman dalam menangkap gejalagejaladan perubahan sosiokultural agar pertunjukannya diterima oleh masyarakat.Dalam menyikapi selera seni masyarakat sekarang, pertunjukan ini menunjukkanadanya pencarian format pertunjukan yang sesuai, namun tidak meninggalkankonsep tradisi di dalamnya. Hadirnya Paguyuban Wayang Orang Panca Budayayang tergolong baru menunjukkan geliat perkembangan wayang orang dalam upayamenghidupkan kembali kesenian tersebut. Study of Lakon as the Transformation Media of Conveying Social Message inthe Current Wayang Orang Show. The purpose of this research is to explain how thecurrent popular issues within society become the insight and idea in creating a lakon, andgiving information about the current development in wayang orang shows. The researchis carried out by the method of reading the show of lakon “Sêsaji Raja Suya” brought byPaguyuban Wayang Orang Panca Budaya, using the structural theory of lakon wayang.After the sanggit lakon acquired, it is then being related to the context of the currentsociety to show the transformation of today’s social issues in the society. The research resultshows that the sanggit lakon presented is different from the sanggit lakon generally. Thesanggit and the form of the show itself are the creative-form of the artist to capture thesocio-cultural signals and changes to make the show well-received by the society as theaudience. In response to the current society’s trends of art, the show indicates that there is asearch for the appropriate format of show without leaving the traditional concept within.The existence of the newly-established Paguyuban Wayang Orang Panca Budaya indicatesthe rising development of wayang orang in the hope of reviving the art form.
Kontinuitas dan Perubahan Sawer Panganten dalam Upacara Perkawinan Adat Sunda Kontemporer Irawan, Cepi
Journal of Urban Societys Arts Vol 12, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami peristiwa saweran yang terjadi dalammasyarakat Sunda kontemporer. Penelitian dilakukan dengan pengamatan terlibatpada upacara perkawinan yang berlangsung dalam masyarakat Sunda yang tinggaldi kota. Peristiwa nyawer atau sawer dilaksanakan pada waktu upacara perkawinanadat Sunda setelah akad nikah. Upacara ini dilengkapi dengan benda-benda simbolikyang mempunyai nilai ritual seperti mantera atau rajah. Sawer yang bentukaktivitasnya berupa penyampaian nasihat kepada mempelai melalui lagu-lagu yangdinyanyikan oleh juru sawer dengan seni mamaos sebagai sarananya. Sawer ataunyawer mempunyai arti air jatuh memercik, sesuai dengan praktek juru sawer yangmenabur-naburkan perlengkapan nyawer seolah-olah memercikkan air kepadamempelai serta kepada semua yang hadir dan ikut menyaksikan di sekelilingnya.Acara seperti ini disebut nyawer karena dilakukan di panyaweran atau taweuranatau cucuran atap. berdasarkan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa pada saatini telah terjadi perubahan-perubahan, baik dari segi tempat pertunjukan, waktupelaksanaan, materi lagu yang dibawakan, dan juru sawer yang melaksanakannya.Meskipun demikian, acara sawer ini sampai sekarang masih terus dilaksanakan olehmasyarakat Sunda kontemporer. Continuity and Change of Sawer Art in the Sundanese Tradition WeddingCeremony. The sawer art is a kind of song that has a free meter, accompanied by themusical instruments of kacapi (both the kacapi indung and the kacapi rincik) and eitherthe flute or the rebab (a two-stringed musical instrument). One of the functions of thisart is to become a part of the ceremonial activities in the Sundanese wedding ceremony.It is performed after the marriage ceremony. In this case, the sawer art is carried out byusing a technique served with beverage refreshment (ditambul) or songs sung withoutany musical accompaniments. Marriage is considered to be sunnah (optional) and it isdetermined by human beings based on the spiritual and physical needs. The marriageceremony is the most vital part in the process. After the marriage ceremony is over,there are other ceremonies to be carried out. These extra ceremonies do not belong tothe religious rule, instead they are parts of the old Sundanese customs which exist untilthe present time and perpetuated by many Sundanese people. They include the saweror nyawerthrough which an activity is done by giving a message to the newly-marriedcouple through songs presented by the jurusawer. From time to time, the sawer art stillexists with its strong tradition and it spreads throughout West Java, especially Priangan. Some people have this art as their profession. There have been some changes in theSundanese wedding tradition, i.e. those concerning time, place, equipment and thepeople organizing it.
Distro’: Independent Creativity for Independent Industr Wulandari, Wiwik Sri
Journal of Urban Societys Arts Vol 12, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

To shortened this introduction, ‘Distro’ is one of cultural phenomenon in theyoung generation nowadays. The word of ‘Distro’ is the shortened of DistributionOutlet. The phenomenon of ‘Distro’ has been some kind of new trends inproducing and distributing creative design products of goods amongst theyoungsters independently, in an independence industry that open for challengingand competitiveness for everyone. This field research has been done in the city ofYogyakarta, reknown as the second city in creative design products after the cityof Bandung. Yogyakarta is welknown as the students’ city as well as the capital cityof culture of Indonesia. As a students’ city it is normal that Yogyakarta is growingin numbers of young people who pursued to study here and enriched the cultureof the city to become more multicultural and the varieties of pluralism as well.This sociocultural phenomenon not only brought some dynamic changing tosociety, economy and cultural life of the city, but also social problems that needsto be overcome. My first research question then is about how the existence of‘Distro’ in Yogyakarta can be a positive answer for social problems that may arisesfrom the hegemony of globalization markets domestically? My second questionis how the creative product designs are being made and distributed creatively inindependent industry? Lastly, my third question is dealling with the genres ofthe design products and how it can be a new trend in art expression? ‘Distro’ is aproduct of culture and it is also creating cultural change in some aspects of the lifeof the youngsters who are ‘Distro’ enthusiasts. ‘Distro’ phenomenon basically is anoffensive to the hegemony of internationally branded product design which turnsto become more over-dominated to the domestic markets and industry and thus,‘Distro’ has the spirit of survival whilts at the same time producing opportunity ofenterpreneurship. ‘Distro’: Kreativitas Independen untuk Industri Independen. Distro (DistributionOutlet) adalah salah satu fenomena yang terjadi pada generasi muda dewasa ini.Distro telah menjadi sebuah tren baru dalam memproduksi dan mendistribusikanbarang-barang dengan desain yang kreatif. Kaum muda melakukannya secaraindependen di dalam sebuah industri yang independen di mana siapapun ditantanguntuk terlibat dalam persaingan. Penelitian ini dilakukan di Yogyakarta, kota kreatifkedua setelah Bandung. Kota ini dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya.Sejumlah besar pemuda datang dari seluruh Indonesia ke kota ini untuk belajar. Halini menyebabkan munculnya multikulturalitas dan pluralitas. Fenomena sosiokulturalini tidak saja menghadirkan dinamika dalam bidang ekonomi dan budaya, namunjuga masalah-masalah sosial yang harus dipecahkan. Masalah-masalah penelitian yang akan dijawab dengan penelitian ini adalah: pertama, bagaimana keberadaan Distro diYogyakarta dapat menjawab masalah-masalah social yang muncul karena hegemono pasarglobal?; kedua, bagaimana produk-produk dengan desain kreatif dibuat dan didistribusikansecara kreatif di dalam industri independen?; ketiga, apa saja genre desain produk yangdihasilkan dan bagaimana genre tersebut bisa menjadi sebuah tren baru dalam ekspresi seni?Distro adalah sebuah produk budaya yang juga menimbulkan perubahan budaya di kalanganpendukungnya. Fenomena Distro pada dasarnya adalah sebuah serangan terhadap hegemonidesain produk dengan merk internasional yang semakin lama semakin mendominasi pasardan industri domestic sehingga dengan demikian, Distro memancarkan semangat untukbertahandan pada saat yang sama menciptakan peluang-peluang kewirausahaan.
Orkes Simfoni Jakarta dalam Perspektif Habitus Bourdieu Susilo, Y. Edhi
Journal of Urban Societys Arts Vol 12, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas habitus orkes simfoni dan pelaku orkes simfoni menurutperspektif habitus Bourdieu. Orkes simfoni sebagai sebuah habitus sudahberlangsung di Indonesia.Perjalanannya diwarnai dengan perubahan-perubahanpada kondisi yang melingkupinya dan para pelaku orkestra yang mendukungnya.Tulisan ini akanmenguraikan keberadaan orkes simfoni sejak tahun 1950-anhingga kondisi saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah danperkembangan orkes simfoni di Indonesia. Teori yang digunakan adalah teori sosialPierre Bourdieu mengenai ”habitus” dan ”pembentukan kelas”. Jakarta Symphony Orchestra on Bourdieu’s Habitus Perspective. This articlemainly discusses the habitus of symphony orchestra and the players according toBourdieu’s habitus perspective. The symphony orchestra as a habitus has already takenplace in Indonesia. The journey was influenced by the changes in the surroundingconditions and the supporting orchestra players. This articlewill describe the existenceof the symphony orchestra since the 1950s to its condition lately. Moreover, this studyisaimed to determine the history and development of the symphony orchestra in Indonesia.The theory used in the study is the social theory of Pierre Bourdieu on “habitus” and“class formation”.

Page 1 of 1 | Total Record : 6