cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 171 Documents
Seni Hias Wuwung Gerabah Kasongan: Makna Simbolik, Orientasi Perubahan, dan Pergeseran Budaya Suharson, Arif
Journal of Urban Societys Arts Vol 13, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni hias wuwung gerabah sangat menarik dikaji karena seni hias wuwung gerabahberisi muatan filosofis yang penuh makna. Dalam visualisasinya seni hias wuwunggerabah di berbagai daerah di Jawa sangat bervariatif. Dalam eksistensinya, senihias wuwung gerabah Desa Kasongan mengalami dinamika perkembangan danperubahan dalam beberapa aspek, seperti makna, struktur, fungsi, dan gaya, yangakhirnya berimplikasi terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.Seni hias wuwung gerabah Kasongan merupakan hasil sen tradisional yang patutdilestarikan oleh masyarakat Jawa sebagai kekayaan local genius. Diharapkan hasilpenelitian ini mampu menggugah masyarakat untuk menghargai dan memerhatikannilai-nilai luhur yang terkandung dalam sebuah karya wuwung gerabah sehinggamenumbuhkan satu perubahan sikap yang terimplementasi dengan munculnya rasamemiliki akan kebudayaan tradisi yang luhur sebagai kekayaan budaya nasionaldan sebagai pemicu ekonomi kreatif yang berguna bagi peningkatan kesejahteraanmasyarakat. The Decorative of Wuwung Gerabah Kasongan: a Symbolic Meaning,Orientation Changes, and a Cultural Shift. The decorative of wuwung gerabahKasongan is a part of Javanese traditional houses. It is interesting to analyze this artbecause it contains various philosophical meanings. Therefore, wuwung gerabah takesvarious visual shapes in different regions in Java. It has a very dynamic developmentand transformation in some aspects such as a meaning, structure, function, and stylethat in turn has the implications toward social, economic, and cultural condition of thesociety. The decorative of wuwung gerabah Kasongan is a traditional art that has to bereserved by the Javanese people because it is also as the riches of local genius. It is expectedthat the result of this study can make the people aware and appreciate very noble valuesmanifested in the wuwung gerabah. In turn, people will have a better sense of belongingto the traditional culture as one of the national cultural assets and as a creative economicstimulant to improve people’s welfare.
Tari Galombang di Minangkabau Menuju Industri Pariwisata Adnan, Nerosti
Journal of Urban Societys Arts Vol 13, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Galombang merupakan tari tradisional Minangkabau yang selaludipersembahkan sebagai tarian penyambutan tamu dalam berbagai upacara adatMinangkabau, seperti penobatan Penghulu (kepala suku), pernikahan, turun mandi,dan alek nagari. Semula ditarikan oleh puluhan laki-laki dengan bergaya pencaksilatyang disebut juga silek galombang. Dalam perkembangannya, Tari Galombangdominan ditarikan oleh perempuan dengan bermacam-macam kreativitas sehinggamemunculkan satu koreografi baru, baik dari aspek penari, gerak, pola lantai, musik,properti, dan kostum serta rias, namun masih tetap menampilkan simbol-simbolestetika adat Minangkabau. Perubahan dari segi teks dan konteksnya merupakandampak pariwisata sejalan dengan teori Maquet (1980) yang mengategorikan duabentuk produksi seni, yaitu art by destination dan art by metamorfosis. Kajian inimembahas kedua konsep tersebut dengan merujuk pada kriteria yang dikemukakanoleh Soedarsono (1994) bahwa produk seni yang sesuai dengan kondisi pariwisataadalah: bentuk miniatur, tiruan, penuh variasi, tidak sakral, dan singkat durasipelaksanaannya. Bentuk tari demikian sekarang berlangsung dalam masyarakatMinangkabau di kota Padang. Galombang Dance in Minangkabau Goes to Tourism Industry. GalombangDance is a traditional dance of Minangkabau which is always offered as a welcome dancein a variety of Minangkabau traditional ceremonies, such as the coronation of headman(chieftain), marriage, turun mandi, and alek nagari. Originally, it was danced bydozens of men with pencak silat style which was also called Silek galombang. During itsdevelopment, the galombang dance is performed by women with a variety of creativitiesperforming a new choreography - both from the dancers, movement, floor patterns,music, properties, and costumes and makeup - but still displays symbols of Minangkabautraditional aesthetics. The changes on text and its context, in terms of the impact oftourism which is in line with the theory of Maquet (1980), categorize the two forms ofart production, such as art by destination and art by metamorphosis. This study discussesboth these concepts by referring to the criteria proposed by Soedarsono (1994) that the artproducts which are tailored for tourism are: miniature, imitation, full of varieties, notsacred, and short duration of its implementation. Thus, these dance forms are taken placerecently in Minangkabau society in Padang
Etnografi Dampak Bom Bali terhadap Atraksi Wisata Teater Sekaa Tetekan Calonarang di Desa Kelating, Tabanan, Bali -, Purwanto
Journal of Urban Societys Arts Vol 13, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak pariwisata di Bali juga mulai merembet ke pedesaan, yaitu DesaKerambitan, Tabanan 30 km dari Denpasar. Kajian dampak pariwisata inidiulas dengan metode etnografi terhadap Sekaa Tetekan Calonarang di Kelating,yang dipentaskan sebagai atraksi wisata di Puri Agung Kerambitan menyajikanatraksi wisata teater Tetekan Calonarang dengan prosesi dan atribut ritual(sakral). Meskipun untuk tujuan ataraksi wisata, semua orang yang terlibat padapertunjukan harus dalam keadaan suci dan ikhlas. Upacara persiapan pertunjukanjuga dilakukan sebagaimana pertunjukan ritual, hanya dikurangi jumlah sesajinya.Ketika Bom Bali I terjadi (2002) terasa dampak pariwisata hingga 2004, SekaaTetekan Calonarang tidak dipentaskan sehingga Barong diminta untuk dipentaskan. The Etnography of Bali Bomb Impact on the Attraction of Theatrical Tourismof Calonarang Tetekan Sekaa In Kelating, Tabanan, Bali. The impact of tourismin Bali also begins pervading to rural district that is Kerambitan village, Tabanan,30 km from Denpasar. The study of the tourism impact is analyzed by the method ofethnography towards the group of Tetekan Calonarang at Kelating which performancedin an attraction of tour at Puri Agung Kerambitan and presented the theaterperformance, Tetekan Calonarang, accompanied by the sacred of procession and ritualattribute. Although it was for the purpose of performing tour, every person who wasinvolved in the show must be in a state of purity and honesty. The ceremony of pre-showwas also done as a ritual show but a reducing number of ritual offerings. When BalineseBomb I (2002) happened, gave the impact to tourism until 2004, the group of TetekanCalonarang did not perform for Puri Kerambitan so that Barong was asked to do so.
Koreografi Lingkungan’ Masyarakat Plempoh, Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta Martono, Hendro; Pujiastuti, Susanti; Pratiwi, Eka; Chrysandi, Georgie
Journal of Urban Societys Arts Vol 13, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Plempoh, yang berada di wilayah Prambanan Daerah Istimewa Yogyakarta,diharapkan sebagai penyangga pariwisata situs purbakala candi Boko. Akan tetapi,kenyataannya desa yang terletak di lereng bukit Boko menjelang masuk area candi,tidak menampilkan wujud sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu, penulisdan sekaligus koreografer menawarkan alternatif solusi yang dapat memenuhikepentingan masyarakat. Masyarakat diberdayakan dalam pelatihan seni tari,nyanyi, dan teater. Metode yang digunakan adalah ‘Koreografi Lingkungan’,yaitu sebuah proses kreatif bekerja bersama antara tim perancangan seni denganmasyarakat untuk mewujudkan sebuah tari rakyat yang mengangkat legendasetempat, yaitu Jonggrang. Koreografinya mengungkapkan kearifan lokal denganpendekatan masa kini dan menggunakan versi rakyat yang membedakannya dengansendratari Rara Jonggrang yang sudah seringkali ditampilkan selama ini. Environmental Choreography of Plempoh society, Prambanan, Yogyakarta.Plempoh village, located in the region of Prambanan Yogyakarta, is expected as a bufferof Boko temple archaeological tourism sites. However, the fact that the village is locatedon the hillside of the entrance of the temple area, does not display the form as it isexpected. Therefore, the writer, also a choreographer, offers an alternative solution to meetthe interests of the community. The people of this society were empowered by the trainingsof dancing, singing, and theater. The method used in the research was ‘EnvironmentalChoreography’ which was a creative process of group working between the design teamand the society to create a public art with a folk dance which raised the local legend,Jonggrang. The choreography revealed the local wisdom with the present approach, andused the version distinguishing people with Rara Jonggrang ballet that has often beenshown lately.
Ikonografi Karya Sudjojono “Di Depan Kelamboe Terboeka” Zuliati Zuliati
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i1.784

Abstract

Tinjauan Ikonografi dalam Karya Sudjojono “Di Depan Kelamboe Terboeka”.Penelitian ini mengupas lukisan “Di Balik Kelamboe Terboeka” karya Sudjojonosecara ikonografi. Sebagai cabang ilmu sejarah seni, Ikonografi mempelajarimakna dari sebuah karya seni melalui kajian aspek internal dan eksternal. Aspekinternal sebuah karya seni seperti subject matter, gaya, dan aliran, sedangkan aspekeksternal berkaitan dengan situasi sosiohistoris yang melingkupi ketika karyaseni tersebut dibuat. Maka dengan menggunakan pendekatan ikonografi akandiperoleh pemaknaan yang lebih luas dari sebuah karya seni. Berdasarkan penelitiandapat disimpulkan bahwa “Di Depan Kelamboe Terbuka” menggambarkan jiwanasionalisme sebagai pemberontak estetika Mooi Indie yang telah mapan dalamkultur kolonial feodal. Karya tersebut menunjukkan pergulatan pemikiran dalamsuatu situasi sosial yang didominasi konsep estetika tertentu. Sudjojono mampumerumuskan konsep seni yang berasal dari kejujuran dan kepekaan dalam melihatrealitas sosial dan dikenal dengan kredo jiwa ketok. The Iconographic Study of Sudjono’s ‘Di Depan Kelamboe Terboeka’. Thisstudy discusses the iconography of ‘Di Depan Kelamboe Terboeka’, a painting createdby an influential painter in modern visual art of Indonesia, Sindudarsono Sudjono.Iconography as a branch of Art History learns the meaning of an artwork through thestudy of its internal and external aspects. The internal aspects include the items containedin an artwork such as a subject matter, style, and genre, whereas the external ones arerelated to the socio-historical situation in which the work of art is created. Iconographyprovides a broader understanding of a work of art. Based on this study, ‘Di DepanKelamboe Terboeka’ is one of Sudjono’s achievements depicting the spirit of nationalismas a rebel of the settle Mooi Indie aesthetics in the feudal-colonial culture. This paintingreflects the creator’s inner conflict in dealing with a certain social situation dominatedby a particular aesthetical concept. Sudjono was successful in formulizing an art conceptoriginated from his honesty and sensitiveness in witnessing the social reality known witha credo ‘jiwa kethok’.
Kajian Aspek Ketidaksadaran dalam Karya Seni Rupa Indonesia Periode 2000-2011 Irma Damajanti; Setiawan Sabana; Ira Adriati
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i1.785

Abstract

Pada era seni rupa kontemporer, pembacaan karya tidak lagi hanya terbatas padahasil analisis dan interpretasi unsur-unsur formal, namun juga mempertimbangkanketerkaitannya dengan psikobiografi seniman sehingga dapat memberikan gambaranyang lebih lengkap tentang karakter seni rupa yang multifaset. Penelitian inidirancang untuk mengidentifikasi representasi aspek ketidaksadaran dalam karya senirupa Indonesia dan menginterpretasikan simbol-simbolnya. Seniman yang karyanyadipilih sebagai studi kasus dalam penelitian ini adalah I Gusti Ayu Kadek Murniasih,Entang Wiharso, dan Ugo Untoro. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatanmultidisiplin (psikologi seni dan semiotika. Berdasarkan hasil analisis, aspekketidaksadaran yang direpresentasikan melalui simbol-simbol visual yang khas dalamkarya ketiga seniman cenderung lahir dari pengalaman traumatik yang melahirkanketakutan, kesakitan, dan agresi. Melukis bagi ketiganya adalah proses katarsis,media untuk mensublimasikan/memperhalus dorongan-dorongan naluri ketakutan,kesakitan, dan agresi ke dalam bentuk karya yang dapat diterima dan diapresiasidengan baik oleh masyarakat. A Study on Unconsciousness Aspect in the 2000-2011 Works of Indonesia VisualArt. In the era of contemporary visual art, the works of art cannot be read merelylimited to the analysis and interpretation of the formal elements but have to include theconsideration about the artist’s psychobiography so that there will be a more completepicture about the multifaceted visual arts. This research is carried out to identify therepresentation of the unconsciousness aspect in the works of visual arts and then interpretthe symbols. The selected samples are the works of I Gusti Ayu Kadek Murniasih,Entang Wiharso, and Ugo Untoro. The multidisciplinary (art psychology and semiotics)approach is applied within the qualitative method used. Based on the analysis result,the unconsciousness aspect represented in unique visual symbols in the works of thethree artists is originated in their traumatic experiences which generate fear, pain, andaggression. For them, painting is their catharsis process, the media to sublime/smoothentheir impulse of fear, pain, and aggression so that the society can accept and appreciatetheir works.
Instrumen Musik Barat dan Gamelan Jawa dalam Iringan Tari Keraton Yogyakarta R.M. Surtihadi
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i1.786

Abstract

Perpaduan instrumen musik Barat dengan instrumen gamelan Jawa untukmengiringi tari di Keraton Yogyakarta sudah berlangsung sejak lampau. Hingga saatini perpaduan tersebut masih dapat dijumpai. Bermula dari peristiwa kontak budayaBarat dan Timur, instrumen musik Barat telah menjadi bagian dari kelengkapanupacara protokoler Keraton Yogyakarta. Tujuan penulisan ini untuk membuat kajianhistoris perpaduan gamelan Jawa dengan seperangkat instrumen musik orkestraBarat untuk mengiringi pertunjukan tari putri pada bagian kapang-kapang Bedhaya,Srimpi, dan tari putra Lawung Ageng Keraton Yogyakarta. Beberapa instrumenmusik Barat seperti instrumen genderang, tambur (percussion section), instrumengesek (string sections), instrumen tiup kayu (woodwind sections) dan tiup logam (brasssections) digunakan dalam mengiringi tarian-tarian tersebut di atas. Metode kualitatifanalisis data dipakai untuk mengupas masalah ini. Namun, pendekatan sosial-politikjuga akan dipakai dalam mengulas permasalahan yang terkait. Berdasarkan penelitianini dapat disimpulkan bahwa dampak peristiwa intrik politik yang terjadi di keratonterbukti telah memengaruhi kehidupan keseniannya. Kebutuhan upacara protokoleryang merupakan kegiatan rutin pada saat itu dilengkapi dengan berbagai macamsajian pertunjukan musik untuk menambah hidup suasana pesta dansa dengandiiringi musik berirama waltz. Blend of Western Musical Instruments and Javanese Gamelan in DanceAccompaniment and Protocol Ceremonies of Keraton Yogyakarta. Westernmusical intruments have been combined with the Javanese gamelan instruments toaccompany dances performed in Keraton Yogyakarta (the Yogyakarta Palace). It startedwith the coming of the Western culture which then ‘interacting’ with the East. Sincethen, the Western musical instruments have completed the protocol ceremonies held byKeraton Yogyakarta. The objective to be obtained with this research is to historicallystudy the blend of the Javanese gamelan with the Western orchestra musical instrumentsin accompanying the female dance performances, which are the kapang-kapang partof Bedhaya and Srimpi, and the male one i.e. Lawung Ageng. Some Western musicalinstruments like, drums (percussion sections), strings instruments (string sections),woodwind instruments (woodwind sections) and brass (brass sections) are used in thosedances shows. The data are analyzed utilizing the qualitative method. The problem willalso be approached socio-politically. It can be concluded that the political intrigue in thepalace has brought about some impacts on the art living in it. Waltz dance is performed toenliven the dance parties and complements the protocol ceremonies as the routine events.
Aspek Olah Vokal Musik Klasik Barat pada Musik Populer A. Gathut Bintarto
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i1.787

Abstract

Setiap medium musik mempunyai keistimewaan yang bisa dikaji seperti halnyapada musik klasik Barat dan musik populer. Norma daya tarik musik populeryang ringan dan mudah dinikmati tidak seperti pada musik klasik Barat atauyang sering disebut sebagai musik seni, namun demikian bukan berarti bahwamemainkannya tidak ada syarat artistik. Bervariasinya musik dan banyaknya pelakumusik mengakibatkan standar yang tinggi dan menuntut pemahaman terhadapdetail musik. Musik populer bertolak dari kebiasaan orang dan musisinya inginmemenuhi kebutuhan tersebut. Gambaran emosional yang muncul pada teksmenyebabkan kecenderungan naturalistik dalam bernyanyi. Melalui penelusuranasal-usul musik populer dan penelitian studi kasus di lapangan ditemukan bahwamusik populer beraliran soul serta R&B (rhythm and blues) mempunyai kesamaanunsur dengan teknik dan gaya bernyanyi klasik pada penerapan suara yang ratadalam rentang ambitus (even scale technique), penggunaan imajinasi dengan iramabebas, nada-nada hiasan, teknik vibrato, dan bahkan gaya bernyanyi Gregorianmurni dengan iringan ritmis yang dianggap sebagai suatu kebaruan dalam musikpopuler. The Overview on the Aspect of Western Classical Singing on Popular Music.Every music medium such as Western classical and popular music has its own practicalspecification due to the observation of each characteristic and uniqueness. The potentialattractiveness of popular music is different from the Western classical music in its easylistening characteristics, but it does not mean that the music does not have the artisticcharacter at all. More performers and more variations in the popular music mayaffect the higher standard and require the demand in every aspect of the details. Thepopular music is derived from the daily habit and that is the way the musician shoulddo to make this kind of music. The emotional characteristics in their lyrics cause thenaturalistic singing tendency. Through the observation of the popular music origin andthe field research study, it is founded that soul and R&B music have the similarities. Interms of the classical music, both use the typical scale technique, imagination with thefree rhythm, ornamentation, vibrato technique and even pure Gregorian singing styleused in some popular songs accompanied by rhythmical music served as a new idea inpopular music.
Dialektita Estetika Seni Rupa Kontemporer Bali Melalui Karya Upadana dan Valasara I Gede Arya Sucitra
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i1.788

Abstract

Penelitian ini membahas estetika karya seni yang tergelar dalam pameran seni rupaSensuous Objects melalui pendekatan kritik seni rupa. Dua perupa asal Bali yangdikaji merupakan perupa yang berkembang pada era seni rupa kontemporer melaluipenciptaan karya melalui spirit lokalitas Bali dengan pendekatan postmodern.Karya yang dihasilkan transmedia dan dengan cita rasa lokal-global. Pendekatankritik seni melalui empat tahapan analisisnya serta tiga pertimbangan penilaian yangakan menempatkan materi tulisan ini untuk berbincang, berdialog dengan karyaseni serta senimannya, sehingga akan ditemukan terjadinya proses transformasiestetis meliputi tema, gaya, fungsi, makna, hingga konsep berkeseniannya. Kritikseni rupa modern pada dasarnya adalah perbincangan mengenai seni (rupa), “artcriticism talks about art”. Tujuan dari kritik seni adalah pemahaman (understanding),supaya orang memperoleh informasi dan pemahaman yang berkaitan dengan mutusuatu karya seni. Dengan demikian, melalui kritik seni ini pembacaan terhadapkarya dua perupa Bali ini akan menemukan muaranya pada pemaparan karakterkarya dan konsepsi seni yang dihasilkannya. Penulis mengklasifikasikan karya seniperupa Sensuous Objects ke dalam tiga struktur media penciptaan, yakni media duadimensional, tiga dimensional, dan seni instalasi. Berbicara tentang karya seni akantidak utuh jika tidak menyinggung ihwal yang menyangkut medium karena hanyalewat medium itulah, karya seni itu akan memperoleh wujudnya yang konkretlahiriah. Aesthetic Dialectics of Balinese Contemporary Arts through Upadana andValasara’s Artworks. This article examines the aesthetic reading of artworks in an artexhibition called “Sensuous Objects” using an art criticism approach. Two artists fromBali are examined as growing artists in the era of contemporary art through the creationof works in the spirit of locality with a postmodern approach in Bali. The resulting workis the trans-media and the local-global flavor. An approach to art criticism throughthe four stages of analysis and assessment of three considerations will put this writingmaterial in the context of conversation, dialogue with the artwork and the artist, so thereis an aesthetic transformation process including the theme, style, function, meaning, andthe concept of art. Critics of modern art basically talk about art (visual), “art criticismtalks about art”. The purpose of art criticism is to understand that people acquireinformation and understanding pertinent to the quality of artwork. Thus, throughthe reading of artworks, two Balinese artists find out the exposure to the character andconception of artworks produced. The author classifies the artwork of artists calledSensuous Objects into three structures of media creation such as the two-dimensionalmedia, three-dimensional media, and installation art. Speaking of the artwork will not be complete if it does not mention particulars related to the media because only throughthat medium, works of art will acquire its concrete-outward form.
Citra Budaya Melalui Kajian Historis dan Identitas : Perubahan Budaya Pariwisata Bali Melalui Karya Seni Lukis Willy Himawan
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i1.789

Abstract

Bali adalah sebuah wilayah unik dengan realita sosial yang berada dalam tarikmenarikantara warisan tradisi yang masih hidup di dalam masyarakat dan budayamodern yang masuk melalui pariwisata. Imaji stereotype pariwisata menjadisimulakra realita yang diyakini benar dan pariwisata yang tadinya berdasar padaekonomi pun menjadi pariwisata budaya. Dalam situasi seperti ini munculfenomena mempertanyakan identitas kultural sebagai akibat tarik-menarik danperbenturan nilai-nilai tradisi dan modern yang sering kali bertentangan satu danyang lain. Karya seni adalah gambaran akan realita, namun tidak semata-matasebagai tiruan realita (mimesis). Persoalan identitas yang mengemuka dalam seniera post-modern lebih mengacu pada fenomena mempertanyakan seni dalam eramodernisme dengan menggunakan isu-isu identitas kultural sebagai lawan dari seniyang otonomi dalam era modernisme. Identitas tidak tercermin utuh dalam karyaseni sebab karya seni hanya menggunakan jejak-jejaknya. The Culture Image Trough Historical and Identity Study: Change of BaliTourism Culture By Means of Paintings. Bali is a unique place with a social realityin which the inherited tradition practiced by the society and the modern culture broughtby tourism drag one another. The image of tourism stereotype becomes a simulacrumof reality which is believed to be true and the tourism which was economically basedcurrently has been shifted into the culture tourism. Within this kind of situation, aquestion about cultural identity arises due to the contact and conflict between thetraditional values and the modern ones. Works of art are the depictions of the reality yetare not merely the imitation of it (mimesis). Identity problems raised in the post-modernera tends to ask art in the modernism age using cultural identity issues opposed to theautonomous art within that time. Identity is not fully illustrated in works of art becausethey only use the traces of it..

Page 3 of 18 | Total Record : 171