cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 171 Documents
Strange Encounter: Depicting An “Other” Reality for Young Readers YOU Chengcheng
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i1.1267

Abstract

This article explores fantastic encounters between humans and non-humans inChinese and Japanese Children’s literature. Naoko Awa’s collection of short storiesThe Fox’s Window and Other Stories is closely read to elucidate narrative features ofwhat I call as “strange encounter”, the magic realistic human-animal encounter inChinese and Japanese cultural context. Chinese supernatural literature and culturaltradition of yaoguai, which have been assimilated into Japanese culture (Japaneseyōkai), are referred to throughout my discussion.  Todorov’s approach to thefantastic, Judith Zeitlin’s study of Strange Tales of Liaozhai Studio, and RosemaryJackson’s study of fantasy are drawn upon to illuminate the meaning of encountersbetween men and animals. I argue that magic realism as a relatively new genrefor young readers, not only reflects the author’s individual creative experienceof the fantastic but also partakes in the sense of an “other” reality that resonatesthroughout a cultural community.Perjumpaan Ganjil: Gambaran suatu Realitas “Liyan” bagi Pembaca Muda.Artikel ini membahas perjumpaan fantastis antara ‘manusia’ dan ‘non-manusia’ didalam sastra anak Cina dan Jepang. Antologi cerita pendek karangan Naoko Awa TheFox’s Window and Other Stories akan dikupas untuk memaparkan fitur naratif yangdisebut sebagai ‘perjumpaan aneh’ (strange encounter), perjumpaan magis-realis antaramanusia dengan binatang dalam konteks kebudayaan Cina dan Jepang. Karya sastrasupernatural Cina dan keberadaan yaoguai yang telah diasimilasi dalam kebudayaanJepang (disebut youkai) menjadi sebuah referensi penting dalam artikel ini. Pendekatanfantasi dari Todorov, studi Judith Zeitlin tentang Strange Tales of Liaozhai Studio,dan studi fantasi dari Rosemary Jackson digunakan untuk memperjelas arti dariperjumpaan antara manusia dan binatang. Magis-realis sebagai sesuatu yang baru bagi pembaca muda tidak hanya merefleksikan pengalaman kreatif pribadi sang pengarang akan fantasi, tetapi juga berperan dalam pembentukan realitas “liyan” dalam sebuahkomunitas budaya.
Mengapa Selalu Harus Perempuan: Suatu Konstruksi Urban Pemenjaraan Seksual Hingga Hegemoni Maskulinitas dalam Film Soekarno Bambang Aris Kartika
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i1.1268

Abstract

Film Soekarno karya Hanung Bramantyo menghadirkan suatu deksripsi tentangfakta-fakta historis terkait dengan perempuan Indonesia yang dikomodifikasimenjadi teks-teks naratif dan visual film. Wujud representasi dari komodifikasifakta historis perempuan Indonesia, ditampilkan dalam konstruk urban mengenaivisualisasi ketidakadilan gender dalam praktik-praktik politik seksual, kekerasanseksual, kekerasan psikis, hingga pemenjaraan seksual yang diakibatkan olehhegemoni kolonialisme fasisme Jepang melalui praktik perbudakan seksual (jugunianfu) dan tokoh Soekarno terhadap diri tokoh Inggit Ganarsih. Makna-maknasimbolik dari unsur naratif dan visualisasi yang dihadirkan dalam film Soekarnomerupakan suatu strategi kebudayaan dan politik media untuk menjadikan filmsebagai media historical memory dan collective memory bagi masyarakat Indonesiauntuk melawan lupa dari deskripsi narasi besar sejarah bangsa dan negara Indonesia,khususnya terhadap sejarah perempuan Indonesia.Why Women Should Always Be: From the Sexual Restraint to the Hegemony ofMasculinity in the Soekarno Film. Soekarno Film presented by Hanung Bramantyois a description of historical facts which are related to Indonesian women and whichare then commodified into texts and visual narrative films. The representation formof the commodification of historical facts of Indonesian women is showed in thevisualization of gender inequality through the practices of sexual politics, sexual violence,and psychological violence until sexual restraint caused by the hegemony of Japanesecolonialism through the practice of sexual slavery (jugun ianfu), and the attitude ofSoekarno figure which appears to Inggit Ganarsih figure. The symbolic meanings of thenarrative and visualization elements which are presented in the film of Soekarno arethe strategy of culture and media politics to make the film as the medium of historicalmemory and collective memory for the Indonesian people to fight against the forgetting ofa narrative description of the history of Indonesia, especially to the history of Indonesianwomen.
Suita Zodiak: Komposisi Musik untuk String Kuartet dan Trio Woodwind Ovan Bagus Jatmika
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i1.1472

Abstract

Zodiak adalah rasi bintang di sepanjang garis ekliptika yang terdiri atas 12 bagian, yaitu Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces. Ke-12 zodiak tersebut memiliki karakter yang berbeda karena dibedakan oleh modus (cardinal, fixed, mutable) dan elemen (api, tanah, udara, air) yang menyusunnya. Fenomena ini, dalam konteks komposisi musik, merupakan hal-hal ekstra musikal. Hal-hal ekstra musikal inilah yang akan diangkat ke dalam komposisi musik programa dengan judul “Suita Zodiak”. Komposisi ini disusun dalam 12 gerakan dan disusun dalam 12 tonalitas yang berbeda. Masing-masing gerakan menggambarkan karakter 12 zodiak dari Aries hingga Pisces. Karakter dari ketiga modus yang menyusun zodiak ditransformasi ke musik melalui pembedaan tekstur, sedangkan karakter dari keempat elemen yang menyusun zodiak ditransformasi ke musik melalui pembedaan karakter melodi, suasana musikal, dan pembedaan tempo. Pemaknaan tentang karakter 12 zodiak kemudian dijadikan batasan dalam penciptaan “Suita Zodiak” bersifat arbitrer. Hal ini mengacu pada beberapa karya yang pernah diciptakan sebelumnya, yang sebagian besar menghubungkan karya musik dengan unsur ekstra musikalnya secara arbitrer. Karya ini digarap dalam format string kuartet dan trio woodwind dengan mengembangkan beberapa konsep melodi yang diambil dari thesaurus of scales and melodic pattern. Zodiac Suite: Music Composition for String Quaertet and Trio Woodwind. Zodiac is the constellations along the ecliptic line consisting of 12 parts, namely Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, and Pisces. The 12 zodiacs have different characters because they are distinguished by the mode (cardinal, fixed, mutable) and elements (fire, earth, air, water) that are arranged them. This phenomenon, in the context of musical composition, is extra-musical things. These extra-musical things will be lifted into musical composition program entitled “Suita Zodiak”. This music composition has been worked out in 12 movements and arranged in 12 different tones. Each movement describes the character of the 12 zodiacs from Aries to Pisces. The characters of the three modes setting up the zodiac will be transformed into music through texture distinction; meanwhile the characters of four elements that are creating the zodiac have been transformed into music through the distinction of the melodic character, musical atmosphere, as well as difference in tempo. The meaning of 12 zodiac characters are then used as constraints in the creation of the arbitrary Zodiac Suite. This refers to several masterpieces that had been previously created, most of which relate to musical masterpiece with arbitrary extra-musical element. This artistry has been created in the quartet string and trio woodwind format by developing several melody concepts that are taken from thesaurus of scales and melodic pattern.
Pengaruh Pariwisata pada Keberagaman Seni Rupa sebagai Modal Kultural Bali: Studi pada Komunitas dan Perhelatan Seni Rupa di Wilayah Denpasar, Klungkung, dan Singaraja Willy Himawan; Setiawan Sabana; A. Rikrik Kusmara
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 2 (2016): October 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i2.1478

Abstract

Pulau Bali terkenal sebagai salah satu tujuan wisata terbesar di dunia yang berkaitan erat dengan budaya Bali. Perkembangan seni rupa modern tidak dapat dipisahkan dari sejarah kolonialisme pada tahun 1900-an melalui pengembangan awal pariwisata yang memengaruhi perkembangan praktik seni Bali dan wacananya. Studi kualitatif ini akan melihat Bali sebagai kawasan-kawasan yang berbeda dalam spektrum perkembangan seni rupa yang dipengaruhi oleh konteks perkembangan pariwisata di tiap wilayah. Metode yang digunakan adalah aksi partipatoris di lapangan dengan pendekatan hermeneutik untuk memahami konteks, makna, dan nilai estetik yang terbangun dalam kegiatan-kegiatan seni rupa di Klungkung dalam kegiatan komunitas Batu Belah dalam acara Global Change Art Climate 2015, di Denpasar dan sekitarnya dalam kegiatan komunitas Sprites Art 2015, dan di Buleleng dalam kegiatan komunitas Segara Lor pada Buleleng Festival 2013. Perbedaan dalam konteks pengembangan pariwisata di daerah-daerah tertentu di Bali telah memengaruhi perkembangan dan perbedaan makna dan nilai estetika karya seni di sana. The Tourism Influence on Art Diversity as a Cultural Capital of Bali: Study on the Community and Art Events in Denpasar, Klungkung dan Singaraja. The island of Bali is famous as one of the largest tourist destination in the world. The development of modern art cannot be separated from the history of colonialism in the 1900s through the early development of Balinese art activities and their studies. This qualitative study sees Bali as different regions in the spectrum of the development of art which influenced by the context of the development of tourism in each region. The method used in this study is the action partipatoris field (participatory action field research) with a hermeneutic approachto understand the context, meaning, and aesthetic value that are built in the activities of art in Klungkung by among others are Batu Belah community in “The Global Change Art Climate 2015”, in Denpasar “Sprites activities Art” in 2015, and in Buleleng in activities “Segara Lor in Buleleng Festival 2013”. Differences in the context of the development of tourism in certain areas in Bali have influenced the development and meaning differences, and the aesthetic value of the works of art there.
Transformasi Sinkretisma Indonesia dan Karya Seni Islam I Gede Arya Sucitra
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i2.1446

Abstract

Tulisan ini membahas aspek sosio-historis dan pencapaian kebudayaan pada masa peradaban seni (rupa) Hindu dan Islam di Indonesia, perkembangan terkini seni rupa kontemporer Islami, dan karya seni KH. M. Fuad Riyadi, seniman dan Kyai Kontemporer yang aktif sebagai pelaku kesenian dalam seni sastra, musik dan seni rupa. Karya seni selalu merupakan cerminan pengamatan serta perasaan dan pikiran pembuatnya. Karya seni terlahir dari proses pergulatan panjang yang kompleks atas berbagai unsur kebudayaan yang saling mempengaruhi. Pada tahapan ini terjadilah transformasi budaya melalui proses sinkretisasi yang membentuk tradisi seni di Indonesia sesuai dengan peranan unsur budaya terutama persentuhan dengan agama yang datang dari luar. Tulisan ini dikaji melalui studi sejarah, transformasi budaya dan estetika. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa karya seni yang diciptakan seniman tidak berdiri sendiri atas nafas tunggal konsep dan dogtrin agama namun sudah dielaborasi dengan kebutuhan budaya setempat serta local genius masyarakat yang ditempati. This paper is intended to discuss the socio-historical aspect and the cultural achievement of the civilization of Hinduism and Islamic fine art in Indonesia, the updated development of Islamic contemporary fine art, and the artwork of KH. M. Fuad Riyadi, artists and contemporary mufti who are active as art doers of literary art, music, and fine art. The artwork is always a reflection of the observations and feelings and thoughts of the author. The artwork was born by the long struggle of complex processes on various cultural elements which influenced to each other. At this stage there was a cultural transformation through the process of syncretization which formed a tradition of art in Indonesia in accordance with the role of cultural elements, especially the contiguity with the religion coming from the outside. This paper was analyzed through the historical study, cultural and aesthetics transformation. Based on the research it can be concluded that the artworks created by the artist do not stand alone based on the single breath of concept and religion doctrine but the ones which have been elaborated with the needs of the local culture and the local genius of that intended society.
Bahasa Visual dalam Sinetron Indonesia Lucia Ratnaningdyah Setyowati
Journal of Urban Society's Arts Vol 4, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v4i1.1491

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan dan menganalisis kekurangefektektivan penerapan bahasa visual sinetron Indonesia. Permasalahan utama yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana efektivitas penerapan bahasa visual dalam sinetron Indonesia.  Sampel penelitian ini adalah dua episode dari setiap judul sinetron yang tayang di semua stasiun TV swasta selama dua minggu antara tanggal 26 September 2016 sampai dengan 10 Oktober 2016. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan bahasa visual dalam sinetron masih belum efektif. Bentuk ketidakefektifan ini antara lain masih lebih banyaknya penggunaan bahasa verbal baik dalam penyampaian pikiran tokoh maupun penguatan action yang seharusnya bisa lebih berbahasa visual. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi para penulis scenario untuk meningkatkan kualitas program cerita televisi Indonesia. The Visual Language on Indonesian TV Series. This study aims to give a discourse and analysis on the ineffectiveness of the visual language application of Indonesian TV series. The main problem that becomes the focus of this research is how the effectiveness of the visual language application on Indonesian TV series. The samples of this study are two episodes of each title of the TV series that are broadcasted on all private TV stations for two weeks between September 26, 2016 until October 10, 2016. Based on the research, it can be concluded that the application of visual language on TV series is still not effective. A sample of this ineffectiveness is seen when there is still more verbal language usage both in the delivery of characters’ thoughts and the strengthening of the action figures in which it should be focusing more on the language visually. The result of this study is expected to be the input for the scenario writers to improve the quality of the programs of Indonesian television story.
Kelompok Pita Maha: Gerak Menuju Seni Lukis Modern Bali Zuliati Zuliati
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i1.1479

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan memahami perubahan yang terjadi dalam seni lukis Bali sejak adanya Kelompok Pita Maha. Konsep mengenai seni lukis modern di Indonesia mempunyai perbedaan sejarah, baik dalam bentuk maupun isi, dengan wacana seni lukis modern di Barat yang monolinier-universalis-rasionalis. Wacana seni lukis modern yang menggejala di Indonesia (termasuk Bali) hadir melalui intervensi asing (penjajahan). Wacana seni lukis modern secara bersamaan telah meminggirkan seni-seni lain yang tidak memenuhi kriteria-kriteria “modern”. Seni di luar kriteria modern kemudian disebut sebagai seni tradisi yang mempersempit dan mengecilkan keberadaannya. Sejarah perkembangan seni lukis di Bali menarik untuk dikaji karena terdapat pola yang khas karena warisan-warisan seni pada masa lalu masih terus hadir dalam seni lumkis masa kini. Tulisan ini tidak akan mempertentangkan antara seni lukis tradisi dengan seni lukis modern. Tulisan ini membahas pengaruh Kelompok Pita Maha terhadap modernisasi dalam seni lukis Bali. Data dikaji secara secara deskriptif-analitis dengan pendekatan sosio-historis mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam seni lukis Bali dari tatanan seni lukis prakolonial menjadi tatanan seni lukis Bali masa kini. Pita Maha Group: The Motion Towards the Balinese Modern Paintings. The concept of modern painting in Indonesia has different histories, both in the form and content, with the discourse of modern painting in the West which is monolinier-universal-rationale. The discourse of modern painting implicated in Indonesia (including Bali) presents through colonization. Modern art at the same time has marginalized other arts that do not fullfill modern criteria. Art, outside the criteria of modern art is called as an traditional art that narrowed and lowered its existence. It is interesting to make a research about the development of painting history in Bali because there is a unique pattern showing the artistic legacy of the past which still presents in nowadays art. This paper will not focus on polarizing between traditional and modern painting. It is interesting to discuss it more descriptive-analytically with the social-historis approach on how the changes happened in Balinese painting of pre-colonial art to modern Balinese paintings of which the other one is the presence of the Pita Maha.
Transformasi Naskah Lakon Macbeth (1603-1607) Karya William Shakespeare Ke Film Throne of Blood atau Kumonosu-Jo (1957) Karya Akira Kurosawa Arinta Agustina
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i1.1471

Abstract

Karya sastra (naskah drama) yang ditransformasi ke film sudah tidak asing lagi bagi penontonnya. Film pada sat ditayangkan maka baik penulis karya sastra yang ditransformasi maupun pembacanya akan menemui banyak perbedaan. Perbedaan tersebut juga ditemukan dalam transformasi naskah Macbeth karya William Shakespeare ke film Throne of Blood atau Kumonosu-Jo karya Akira Kurosawa yang menjadi objek material penelitian ini. Kreativitas film terhadap karya sastra aslinya disebabkan adanya perbedaan yang mendasar antara karya sastra dan film, yakni medium. Karya sastra dalam hal ini menggunakan medium bahasa, sedangkan film menggunakan medium gambar dan suara. Terdapat suatu peristiwa tertentu yang dapat dimunculkan dengan baik pada karya sastra, tetapi tidak dapat dimunculkan dalam film, atau sebaliknya. Penelitian ini membatasi pada perbedaan kernel dan satelit film terhadap karya sastra aslinya sehingga terlihat perbedaan alur film terhadap karya sastra aslinya. Perubahan fungsi yang menyebabkan perbedaan alur tersebut dianalisis dengan menggunakan teori intertekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kernel dan satelit film lebih sedikit dibandingkan film karena tuntutan durasi. Film banyak memberikan variasi setting waktu dan tempat ataupun perubahan berupa penambahan tokoh dan alur sekaligus mengadakan penghilangan tokoh ataupun alur yang tidak memberikan peran penting dalam perkembangan penceritaan. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya perubahan fungsi yang menghasilkan perbedaan alur antara karya sastra dan film. The Text of the Play Macbeth Transformation (1603-1607) by William Shakespeare into Film Throne of Blood or Kumonosu-Jo (1957) by Akira Kuroswa. Transformation from play to film is one of the common literary works. The writer of the play and the readers of the literary, however, face many differences in the film as the result of transformation process. These differences are also found at both; a play Macbeth by William Shakespeare while the film Throne of Blood by Akira Kurosawa. These two literary works are the object of material in this research. The basic differences between a play and film are that each has its own medium. The medium of film is pictures and music’s. Meanwhile, the medium of novel is language. Thus, there could be a certain plot appeared in film but not in novel or vice versa. Furthermore; this research is merely limited on the differences of kernel and satellite between play and film. Eventually, the various changes of the function lead to the differences in plot. These changes of the function lead to the differences are analyzed by making use of intertextuality theory. The result of this research indicates that the number of kernel and satellite of film is fewer than the one of literary. It happens because of the limited duration of the time. Eventually, there are many variations of setting of time, of place, and of participants. Next, the final result of this research is that there are several changes of function which lead to the differences both in literary and film.
Nilai Budaya Tradisi Dieng Culture Festival sebagai Kearifan Lokal untuk Membangun Karakter Bangsa Yuni Harmawati; Aim Abdulkarim; Rahmat -
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 2 (2016): October 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i2.1477

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai budaya tradisi Dieng Culture Festival yang berperan sebagai kearifan lokal dalam upaya untuk membangun karakter bangsa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi masyarakat terhadap transformasi nilai budaya tradisi Dieng Culture Festival secara turun-temurun tanpa mengubah makna sebenarnya; (2) adanya relevansi antara kearifan lokal terhadap pembangunan karakter bangsa karena nilai kearifan lokal bukan sebagai hal yang menghambat pada era globalisasi, melainkan menjadi kekuatan besar dalam membangun karakter bangsa. Cultural Value of “Dieng Culture Festival” Tradition as a Local Wisdom for Building the Nation Character: Case Study at Dieng Plateau. This study aims to know the value of cultural tradition of Dieng Culture Festival which serves as the local wisdom in an effort to build the national character. The research is qualitative with the case study method. The data collection techniques used by researchers include: observation, interviews and documentation. The analysis technique used in this study include: triangulation of sources and triangulation techniques. The results show that: (1) the perception of community about transformation of Dieng Culture Festival without changing the actual meaning; (2) the relevance of local wisdom with the character of the nation.
Eksistensi Gula Gending di dalam Dinamika Budaya Lombok I Nyoman Triyanuartha
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i2.1445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap eksistensi gula gending di dalam dinamika budaya yang terjadi di Lombok. Gula gending merupakan sebuah pertunjukan musik yang dimainkan ketika pedagang harum manis mepromosikan barang dagangannya untuk menarik perhatian calon pembeli. Seiring dengan perjalanan waktu, pertunjukan musik ini menjadi langka dan jarang ditemukan di dalam masyarakat. Kini gula gending muncul kembali dengan beberapa perkembangan yang menyertainya. Analisis dilakukan terhadap fakta musikal yang meliputi dimensi sonorik, dimensi visual dan dimensi kinestetik. Untuk membahas mengenai penyebab dan hasil dari perkembangan akan digunakan konsep music and cutural dynamic. This research aims to gasp the exsistence of gula gending in cultural dynamic which occurs in Lombok. Gula gending was a music performance played when the arbanat seller was promoting their goods to attract the customers’ attention. As the time goes by, this music performance becomes rare, so we seldom find its existence in society. In spite of the fact, nowdays gula gending reappears along with few following developments. An analysis has been done to the musical facts which may include among athers are sonoric dimention, visual dimention, and kinesthetic dimention. To gain the explanation about the causes and results of the development, music and cultural dynamic concepts are conducted.

Page 5 of 18 | Total Record : 171