cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 171 Documents
Male Gaze dan Pengaruhnya Terhadap Representasi Perempuan dalam Lukisan “Realis Surealis” Karya Zaenal Arifin Evan Sapentri
Journal of Urban Society's Arts Vol 4, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v4i1.1692

Abstract

Penelitian ini melihat kecenderungan dan pengaruh male gaze dalam konstruksi citraan dan seksualitas dalam lukisan, dan cara si pelukis melihat atau merepresentasikan perempuan dalam lukisannya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan di Tahunmas Art Room Yogyakarta, wawancara mendalam dengan pelukis, serta didukung dengan kajian pustaka. Analisis lukisan realis surealis karya Arifin dilakukan melalui empat tahap yaitu: deskripsi, analisis, interpretasi, dan penilaian. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa lukisan menjadi salah satu media ungkap dan ekspresi diri sang seniman dalam menyampaikan dan menyematkan setiap ide dan gagasannya secara artistik. Namun, ketika perempuan dijadikan objek dalam lukisan dan diwujudkan dengan memberikan kesan yang mengarah pada pencitraan gender, tentu ini menarik untuk ditafsirkan. Male Gaze and It’s Influence towards the Female Representation on a Painting of "Realistic Surrealist" by Zaenal Arifin. This study observes the trend and effect of male gaze in the construction of imagery and sexuality in a painting, and the ways the painter sees or represents the woman in his paintings. Data collection was done by doing the field observation in Tahunmas Art Room Yogyakarta, in-depth interview with painters, and supported by literature review. The analysis of Arifin's surrealist realist painting is done through four stages: description, analysis, interpretation, and assessment. Based on the research, it can be concluded that the painting becomes one of the expression media and self-expression of the artist in conveying and embedding every idea and thoughts artistically. However, when a woman becomes the object in the painting and is embodied by giving an impression that leads to gender imaging, this is certainly interesting to interpret.
Representasi Identitas Bali Pada Koleksi Tetap Museum Neka Willy Himawan; Setiawan Sabana; A. Rikrik Kusmara
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i1.1475

Abstract

Pulau Bali memiliki budaya yang unik dengan berbagai artefak. Representasi artefak budaya ditampilkan di museum. Salah satu museum yang memiliki kunjungan wisatawan tertinggi di Bali adalah Museum Neka. Museum sebagai lembaga permanen memiliki koleksi karya seni yang dipilih sesuai dengan kepentingan pemilik institusi, termasuk Museum Neka. Penelitian ini mengamati dan mengkaji representasi visual dari koleksi permanen Museum Neka dan hubungannya dengan identitas Bali. Karya-karya seni yang dikaji dibatasi untuk karya seni rupa khususnya lukisan karena Museum Neka memiliki koleksi terbesar dari lukisan, yaitu lebih dari 300 lukisan. Neka Museum juga memfokuskan pada lukisan dalam koleksi permanennya. Lukisan-lukisan tersebut dilihat melalui metode pengamatan visual, dan analisis konten visual yang menggambarkan konstruksi identitas Bali. Pendekatan hermeneutik digunakan untuk memahami makna keseluruhan presentasi. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memetakan kecenderungan museum untuk membangun identitas budaya. The Representation of Balinese Identity in the Permanent Collection of Neka Museum. The island of Bali has a unique culture with various artifacts. The representation of cultural artifacts is showed in the museum. One of the museums that has the highest rate of tourist visit in Bali is the Neka Museum. The museum as a permanent institution has a collection of art works in accordance with the institution’s interest, as well as the Neka Museum. Through the works of a permanent collection, this study observes and reviews the visual representation of the permanent collection of Neka Museum and its relation with the balinese identity. The art works of that are examined are restricted to works of fine art and devoted to the paintings because of Neka Museum has the largest collection of paintings for more than 300 paintings. Neka Museum also exhibits a permanent collection focuses on paintings. In addition, the paintings can be seen through visual observation methods, the analysis of visual content that describes the construction of balinese identity. Hermeneutic approach is used to understand the overall meaning of the presentation. The results of this study can be used to map the tendency of museums to build a cultural identity.  
Museum Ullen Sentalu dalam Perspektif Seni Budaya Doro Daniwati
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i2.1449

Abstract

Museum merupakan tempat yang sering tidak bisa dilewatkan oleh wisatawan guna memuaskan rasa ingin tahu tentang keunikan dari sebuah kota tujuan wisata. Museum juga sering dikunjungi oleh baik para ilmuwan maupun para akademisi yang melakukan studi/riset/kajian tentang hal-hal yang memiliki nilai-nilai keunikan historis, arkeologis, estetis dan termasuk semua hal yang bernuansa memorabilia dan nostalgia. Ullen Sentalu merupakan museum yang agak unik karena di samping lokasinya yang agak jauh dari hingar bingar kesibukan kota, namun keberadaannya merupakan kebutuhan seni budaya perkotaan. Keunikan dari museum ini terletak pada nilai koleksi artefak-artefaknya yang menghadirkan khusus tentang benda-benda kewanitaan yang bernuansa warisan budaya monarki Mataram Lama yang berbeda dengan koleksi museum lainnya di tanah air. Museum is a place where tourists are unable to easily neglect for satisfying their curiousity about the uniqueness found in the tourism destination cities.The museum is also commonly visited by artists, academicians, and scientists for their research and studies of variety subjects which discuss the values of historical, archeological, and aesthetic uniqueness, and any subjects that are concerned with those of memorabilia and nostalgic evidence. Ullen Sentalu museum is rather unique when we see the location in the ’remote’ area which is far from the frenetic bustle of the city yet its existence constitutes the needs of urban culture. The uniqueness of this museum lies on the value of artefacts collections which particularly bring the feminine objects nuenced the cultural heritage of the Old Mataram monarchy which are completely different from other museum collections in the country.
Perwujudan Naskah Drama Anusapati Karya S.H. Mintardja dalam Pementasan Teater Trias Untung Kurniawan
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 2 (2016): October 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i2.1476

Abstract

Seorang sutradara menentukan kualitas sebuah pementasan teater. Ia dituntut memiliki kepekaan dramatik sehingga dapat menerjemahkan sebuah naskah lakon menjadi pengalaman pentas yang berarti. Naskah lakon menjadi hal yang sangat penting dalam menghasilkan pementasan teater yang berkualitas. Penulis memilih naskah lakon Anusapati karya S.H. Mintardja untuk diwujudkan dalam sebuah pementasan teater. Lakon Anusapati adalah lakon yang tragis, bermula dari kesalahan yang dilakukan Ken Arok untuk mencapai keinginannya merebut kekuasaan. Kesalahan ini mengakibatkankarma yang tidak dapat ditolak oleh Ken Arok dan tujuh keturunannya. Naskah lakon Anusapati akan diwujudkan dalam sebuah pementasan dengan pendekatan ketoprak. Dengan mengawinkan konsep teater modern terhadap perkembangan ketoprak dengan memosisikan sutradara sebagai pusat kontrol atas segala aspek pemanggungan dengan tetap memberi ruang kepada para pemain untuk mengembangkan permainan secara maksimal. Dalam mewujudkan lakon menjadi sebuah pementasan membutuhkan konsep pemanggungan yang dapat dijadikan sebagai arah dalam menjalankan proses kreatif. Konsep pemanggungan memuat pokok-pokok gagasan yang akan diwujudkan dalam pementasan. Garis-garis permainan, desain artistik, dan musik pendukung dirancang untuk memenuhi terwujudnya gagasan. Sutaradara mengorganisasi seluruh aspek pemanggungan yang dikelola oleh beberapa staf artistik, seperti penata pentas, penata busana, penata rias, dan penata artistik sehingga menghasilkan pementasan yang menarik, berkualitas, dan layak untuk ditonton.  The Embodiment of the Anusapati Script by S.H. Mintardja in Theatrical Staging with the Ketoprak Approach. Director determines the quality of a theatrical production. The Director is required to have dramatic sensibility (sense of dramatic) so that he can translate a script of the play being performed that may experience meaning. The script of the play becomes the thing that is very important in producing the quality of theatrical staging. The script of the play that becomes the choice of the author in a theatrical staging is the Anusapati by SH Mintardja. The Anusapati is a tragic screenplay, it starts from the mistakes done by Ken Arok in accomplishing his desire in seizing power. The mistakes result in karma that cannot be denied by Ken Arok and seven offspring. The script of Anusapati would be performed in a theatrical staging with the ketoprak approach. It is done by combining the concepts on modern theater and the development of ketoprak by positioning the director as the central of controlling over all aspects of staging by keeping on giving the space to the players to develop their performance to the maximum. In realizing the play becomes a staging, it needs the concept of staging that can serve as the creative process in the running direction. The concept of staging contains ideas which will be embodied in the idea of staging. Rules of play, artistic design, and music accompaniment are designed to meet the realization of the idea. The director organizes all aspects of staging that is maintained by some of the artistic staffs, such as a stage manager, a fashion stylist, a make-up stylist, and an artistic director and finally produce an interesting and qualified staging, and worthy to watch.
Empat Koreografer Minangkabau: Dibaca dalam Teks Matrilineal dan Patrilineal Surheni Surheni
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i2.1444

Abstract

Artikel ini membahas empat koreografer Minangkabau yaitu Gusmiati Suid, Huriah Adam, Syofyani Bustamam, dan Syahril dari perspektif matrilineal dan patrilineal. Teks matrilineal tidak hanya dipandang dari sisi genealogis, tetapi juga dari sudut pandang budaya. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa partisipasi perempuan di luar wilayah domestiknya terbias dalam seni tari. Perempuan tidak dinantikan hanya untuk menyemarakkan dengan tebaran pesona keindahan ragawi. Ia mampu menjadi sumber ide dan tema, pelaku, pencipta, pengatur, dan penyelenggara, atau sarana mobilitas seni pertunjukan. Keempat koreografer lahir dan dibesarkan di Minangkabau akan tetapi berkiprah di tiga wilayah yang berbeda. Gusmiati Suid di Jakarta, Huriah Adam di Sumatera Barat, Syofyani di Padang, dan Syahril di Padangpanjang. Sebagai koreografer yang lahir dan dibesarkan dalam kultur Minangkabau tentu keempat koreografer ini ikut merasakan betapa dilematis posisi perempuan dalam masyarakat Minangkabau. This article discusses about four choreographers of Minangkabau, among others are Gusmiati Suid, Huriah Adam, Syoyani Bustamam, and Syahril seen from the perspective of matrilineal and Patrilineal. The matrilineal text cannot only be seen from the genealogical side but it can be viewed from the cultural standpoint. Based on the research result it can be concluded that women participation outside their domestic area is also biased in dance performing arts. Women are not only expected to embellish with their scattering of physical enchanting beauty. They can be the source of ideas and themes, the actress,the creator,the manager, and the event organizer, or the mean of performing arts mobility. These four choreographers were born and grown up in Minangkabau, however, they have actively expanded their career in three different places. Gusmiati Suid’ s career is in Jakarta, Huriah Adam is in West Sumatra , Syoyani is in Padang, and Syahril is in Padangpanjang. As the choreographers born and grown up in Minangkabau’s culture, they definitely feel the dilemmatic sense of women position in Minangkabau society.
Imaji Pop Surealisme Figur Gendut Dalam Lukisan Wahyuddin Nafilah Dias Prabu
Journal of Urban Society's Arts Vol 4, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v4i1.1489

Abstract

Tulisan ini mengangkat figur gendut sebagai ide dasar penciptaan seni lukis dengan menggunakan gaya pop surealisme. Penggabungan antara daya imajinasi tentang figur gendut dengan berbagai permasalahan yang bisa diangkat dari figur merupakan sebuah jalan dalam menciptakan karya-karya yang unik, terkadang satir, serta jenaka. Bentuk-bentuk kartunal yang digunakan dalam membuat figur gendut dan figur-figur lainnya merupakan satu tujuan khusus agar karya yang disampaikan memiliki unsur yang informatif terhadap para apresian. Menjadi gendut bagi setiap manusia yang mengalaminya sebenarnya bukan sebuah keinginan. Melalui berbagai perjalanan masa atau era yang bergulir hingga saat ini, persoalan tentang tubuh telah menuju pada bentuk yang indah dan ideal. Kecantikan dan ketampanan pada saat ini juga diukur pada orang-orang yang memiliki bentuk tubuh yang “normal” dan ramping. Bagi orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan, tentunya jika diukur pada hal tersebut sangatlah tidak cocok. Figur gendut saat ini seperti diposisikan pada ruang yang sulit untuk mengeluarkan rasa percaya dirinya dalam menampik tentang apa yang diungkapkan di atas. Faktor kaum kapitalis dalam mendorong hadirnya pemikiran baru untuk hidup sehat tanpa menjadi gendut, juga semakin mengecilkan semangat orang-orang yang bertubuh gendut. Jika dilihat dari segi kesehatan, mungkin gendut terkesan seperti orang yang suka tidur, malas bekerja, dan sebagainya. Gendut berbeda dengan obesitas, karena obesitas merupakan penyakit kelebihan lemak di atas rata-rata yang membuat tubuh tak mampu mencerna makanan dalam berskala besar serta asupan makanan yang dikonsumsinya memiliki kalori yang sangat besar, sedangkan gendut merupakan kelebihan berat badan. Di sisi lain gendut memiliki banyak kelebihan yang berguna dalam memajukan hidupnya dan mewujudkan cita-citanya. The Images of Pop Surealism: Fat Figures on Painting. This paper elevates the fat figures as the basic idea of painting creation by using pop surrealism style. The merging of the imagination of the fat figure with the various problems that can be lifted from the figure is a way to create unique works, sometimes satire, and funny. The cartoonous forms used in making fat figures and other figures are a special purpose for the work being delivered to have an informative element on the apresians. Being overweight for every human being is absolutely not anyone’s desires. Through a variety of era of the rolling period to the present time, a matter of the body shape has led to a beautiful and ideal shape. Nowdays, beauty and good looks are a standard measured for people with "normal" and slim body. For people who are overweight, of course, this standard is not suitable. The current fat figure is positioned in a space where it is difficult to expend his confidence in dismissing what is described above. The capitalist factor encourages the emergence of new ideas for healthy living without becoming fat, also further discourages the people of the fat body. Being viewed in terms of health, the obese people seem like those who like to sleep, lazy to work, and so forth. Fat is different from obesity, because obesity is a disease of excess fat above the average that makes the body is unable to digest food in a large scale and intake of food has a very large calories, while the fat is overweight. On the other hand, fat has many useful advantages in advancing his life and realize his ideals.
Memaknai Nilai Kesenian Kuda Renggong dalam Upaya Melestarikan Budaya Daerah di Kabupten Sumedang Pratiwi Wulan Gustianingrum; Idrus Affandi
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i1.1474

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaknai nilai kesenian Kuda Renggong dalam upaya melestarikan budaya daerah di Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian Kuda Renggong antara lain: spiritual/religius, interaksi antar makhluk Tuhan, teatrikal, estetika, kerja sama, kekompakan dan ketertiban, kerja keras dan ketekunan, dan sosial. Kesenian ini secara tidak langsung membentuk karakter manusia/masyarakat menjadi lebih baik. Hal ini ditunjukkan lewat tindakan kerja bersama, saling menghargai satu dan yang lain, kebersamaan, ketekunan, ketertiban, dan semangat religius yang tinggi sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pelestarian kesenian ini didukung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, seniman, dan masyarakat. Interpreting the Art Value of Kuda Renggong in Preserving the Local Culture in Kabupten Sumedang. The research aims to interpret the art value of Kuda Renggong in preserving the the local culture in Sumedang. The research uses qualitative approach with a case study as the research method. The subject of research covers the Local Government of Sumedang, PASKURES and society. The data collection techniques use the observation, interviews, and documentation. Kuda Renggong contains some values such as: spiritual/ religious values, the value of the interaction among the God’s creatures, theatrical value, universal value, aesthetic value, cooperative value, cohesiveness and order value, hard work and perseverance value, and social value. Kuda Renggong indirectly forms human or social character better. It can be shown through out the team-work action, mutual appreciation,to getherness, perseverance, discipline, and high religious spirit as the expression to thank to God the almighty. The preservation of Kuda Renggong is supported by the government of Sumedang Regency, artists, and the society.
Potret Diri Digital dalam Seni dan Budaya Visual Kusrini Kusrini
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i2.1448

Abstract

Selfie merupakan bentuk tidak resmi (slang) dari potret diri digital (digital self-portraits). Keberadaannya semakin berkembang. National #Selfie Gallery di London pada 2013 menunjukkan bahwa jenis foto ini memiliki kelayakan untuk masuk galeri dan disebut sebagai karya seni. Sejumlah 19 seniman berfoto selfie dan hasilnya dipamerkan dalam bentuk video berdurasi singkat, masing-masing sekitar 30 detik. Untuk sampai di ruang pamer galeri, foto-foto selfie tersebut melalui tahap kurasi oleh kurator. Terdapat seleksi teknik dengan perangkat yang ada di dunia seni. Pada tahap selanjutnya, foto-foto selfie tersebut masuk galeri. Saat lolos seleksi dan dipamerkan di ruang galeri, serta dinikmati audiens seni, digital self-portraits menjadi sebuah karya seni dengan nilai isi makna seni, termasuk nilai estetis, serta nominal tertentu saat dibeli oleh kolektor. Jenis foto yang mengelilingi masyarakat kota tidak hanya selfie dan potret diri, namun semakin beragam. Di mana pun bertemu dengan foto, hingga dalam pengambilan keputusan maupun tindakan, berdasarkan pada apa yang dilihat. Di ranah ini, foto sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat membentuk budaya visual. Dari budaya visual ini, bidang-bidang kehidupan lain ikut terpengaruh. Ketika foto menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan ataupun cara hidup masyarakat, bidang lain seperti ekonomi dan sosial turut larut di dalamnya. Perekonomian menjadikan dunia visual sebagai lahan bisnis yang menjanjikan. Dari sisi sosial, masyarakat menggantikan interaksi dan komunikasi langsung dengan media digital. Melihat dan mengukur seseorang dari relasi dari di media sosial, dan menilainya dari visual yang tertampil di jejaring sosial tersebut Selfie is a slang form of digital self-portrait. Now, its development has been increasing. National #Selfie Gallery in London in 2013 showed the eligibility of this type to enter the gallery and called it as a work of art. There were 19 artists taking their selfie and displayed the works in the form of short videos, each was about 30 seconds. Being displayed in the gallery, these photos of selfie had been through stages of curation by curators before they were displayed in the gallery. There was a technique of selection with the existing devices in the art world. When photographs passed the selection and were exhibited in the gallery space, and were enjoyed by the audiences, the digital self-portraits become a work of art which contain the art values in content, including aesthetics, and certain nominal when purchased by collectors. The types of photo surrounding the urban community are not only selfie and self-portrait, but more various upon them. Wherever photos are found, and when taking the decision and action in society, they are much influenced on what are seen. Based upon this realm, they have already become a part of community art which forms the visual culture. From this visual culture, other areas of life are affected. When photos become the inseparable part of life or community way of life, other areas like economic and social are fused within them. The economics makes the visual area becoming the prospective business area. From the social side, the community replaces the interaction and direct communication with the digital media. By having this understanding, we are able to see and measure a person by looking at his/her social relation through the social media, and giving the showed value as being found in its social networking.
Membaca Pasar Film Indie Lewat Film “SITI” Karya Edi Cahyono Arinta Agustina
Journal of Urban Society's Arts Vol 4, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v4i1.1486

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi pemasaran film independen. Sebagai studi kasus dipilih pemasaran film produksi Fourcolors Yogyakarta. Perkembangan  film independen  di  Indonesia, khususnya di Yogyakarta tidak terlepas dari pergerakan dan perkembangan komunitas-komunitas film dan sekolah-sekolah film. Fourcolors yang kali pertama berangkat sebagai sebuah komunitas film independen, lewat film “Siti” karya sutradara Edi Cahyono mencoba memberikan warna baru dalam peta perfilman independen di tanah air. Sebagai sebuah film yang tumbuh dari berbagai festival, baik nasional maupun internasional, film “Siti” akhirnya mampu menembus pasar film mainstream lewat prestasinya sebagai pemenang Festival Film Indonesia. Hal ini menjadi sebuah kejutan dan mematahkan sekian banyak mitos bahwa film independen sulit untuk menembus pasar mainstream. Ketepatan memilih jalur distribusi melalui festival memiliki peran yang cukup penting dalam menentukan target penonton dan kualitas yang akan dicapai. Reviewing the Market of Indie Film through the Film of “SITI” by Edi Cahyono. This study aims to understand the strategy of  independent film marketing. The marketing of film production of Fourcolors Yogyakarta is chosen as a case study of this study. The development of independent films in Indonesia, especially in Yogyakarta is inseparable from the movement and development of film communities and film schools. Fourcolors that firstly sets out as an independent film community, through the film of "Siti" by director Edi Cahyono tries to give new colors in the map of independent film in this country. As a film that grows from various festivals, both nationally and internationally, the film of "Siti" is finally able to break through the mainstream film market through its achievements as the winner of the Indonesian Film Festival. It comes to a surprise and breaks the myths that the independent films are difficult to penetrate the mainstream market. The accuracy of choosing the distribution channels through the festival has a significant role in determining the target audiences and the quality to be achieved.
Pelestarian Nilai-Nilai Civic Culture dalam Memperkuat Identitas Budaya Masyarakat: Makna Simbolik Ulos dalam Pelaksanaan Perkawinan Masyarakat Batak Toba di Sitorang Lopiana Margaretha Panjaitan; Dadang Sundawa
Journal of Urban Society's Arts Vol 3, No 2 (2016): October 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v3i2.1481

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami pelestarian nilai-nilai civic culture dalam memperkuat identitas budaya masyarakat Batak Toba melalui makna simbolik ulos dalam pelaksanaan upacara perkawinan. Fokus penelitian ini adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dalam melestarikan nilai-nilai civic culture, dan mengapa masyarakat Batak Toba perlu untuk melestarikan nilai-nilai civic culture tersebut. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dokumentasi, dan partisipasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ulos tidak bisa lepas dari kehidupann orang Batak Toba karena merupakan warisan nenek moyang sejak dahulu kala, ulos juga sebagai simbol kasih sayang di antara keluarga, yaitu antara orang tua dan anak, dan juga antar sesama anggota masyarakat; (2) upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah dalam melestarikan nilai-nilai civic culture tersebut adalah dengan cara memberikan pemahaman dan penjelasan kepada generasi muda dan membangun sebuah cagar budaya; (3) alasan mengapa masyarakat Batak Toba perlu melestarikan nilai-nilai civic culture tersebut adalah agar warisan nenek moyang tetap terjaga karena di dalam makna simbolik ulos tersebut terdapat nilai-nilai luhur Pancasila, seperti nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.  Preservation of The Value of Civic Culture in Strengthening The Cultural Identity of The Community: Case Study on The Symbolic Meaning of Marriage of Ulos in The Implementation of Batak Toba Society in Sitorang). This reseach aims to understand the preservation the value of civic culture in strengthening the cultural identity of Batak Toba society through the symbolic meaning of ulos in the implementation of the marriage. This research focuses to have the efforts made by the community in preserving the value of civic culture, and to find out why the people of Batak Toba need to preserve the value of the civic culture. The study uses a qualitative case study method. The techniques of data collection are done through interviews, observation, documentation, and direct participation. The reseach results show that: (1) Ulos is not separated from the life of Batak Toba, because it is a heritage since a very long time ago, ulos is also as a symbol of affection among family,between parents and children, as well as among members of society; (2) The effort made by the public and the government in prevising the value of the civic culture is to provide an understanding and explanation to the younger generation and build a cultural heritage; (3) Reasons why people of Batak Toba need to preserve the value of the civic culture is that the heritage is maintained, because the noble values of Pancasila can be found in the symbolic meanings of ulos, as the value of divinity, humanity, unity, democracy, and justice.

Page 6 of 18 | Total Record : 171