cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 2 (2022)" : 6 Documents clear
Konstruksi Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Perspektif Filsafat Agama Theguh Saumantri
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.14854

Abstract

Abstract: Indonesia has a variety of ethnicities, cultures and religions so that it can be called a multicultural country. As a result of these differences, Indonesian society is vulnerable to friction between religious groups. This study aims to describe the idea of the philosophy of religion as the basis for logical thinking and understanding religion universally and comprehensively. The method used in this research is library research, to explore and examine data or information regarding the research discussion. This study concludes that an understanding of religion needs to be based on moderate values as an effort to create harmony between religious communities. Philosophy of religion can be a means of constructive thinking in understanding religion rationally, logically, critically, and deeply so as to create a moderate perspective. The construction of religious moderation values aims to realize a way of thinking that chooses the middle way to realize social harmony and balance, not to behave and think in a radical way in understanding things.Abstrak: Indonesia dengan segala kekayaan yang dimilikinya, mulai dari beragam suku, budaya dan agama menjadikannya negara yang multikultural. Namun Sebagai negara yang memiliki masyarakat yang plural dengan berbagai pemahaman, akan selalu ada gesekan antar kelompok beragama jika kebenaran didikte pada satu kebenaran tunggal atas kelompoknya masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gagasan filsafat agama sebagai landasan berpikir logis dan memahami agama secara mendalam, universal dan komprehensif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepustakaan (library research), yang memiliki tujuan yakni menelusuri dan menelaah suatu data atau informasi mengenai bahasan penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa pemahaman tentang agama perlu dilandasi oleh nilai-nilai moderat hal ini sebagai upaya menciptakan keharmonisan antar umat beragama. Filsafat agama dapat menjadi sarana berpikir konstruktif dalam memahami agama  secara  rasional,  logis,  kritis, dan mendalam sehingga dapat menciptakan perilaku moderat. Konstruksi nilai-nilai moderasi beragama bertujuan sebagai upaya sikap moderasi dalam beragama dengan sikap memilih jalan pertengahan untuk mewujudkan harmoni sosial dan keseimbangan hidup, tidak berperilaku ekstrim dalam berpikir maupun bertindak
Manusia Pontifical dalam Diskursus Modernitas: Studi Komparasi Pemikiran S.H. Nasr dan Carl G. Jung Mahmudi Mahmudi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.14431

Abstract

Abstract: This article analyzes Nasr’s thoughts concerning human spirituality and compares Jung’s perspective on the Human soul in the modern era. This article uses a comparative study with a hermeneutical approach to the understanding meaning of spirituality in the contemporary era. The method of this study is library research focusing on Man and Nature and Modern Man in Search of the Soul written by Nasr and Jung. The author uses content analysis to understand the book written by Nasr and Jung. This article concludes that spirituality is critical in modern era as a discourse on religion and humanity.Abstrak: Artikel ini menganalisis pemikiran S.H. Nasr tentang spiritualitas manusia dan hendak mengkomparasikan dengan pandangan Carl G. Jung akan jiwa manusia pada era modern. Artikel ini menggunakan studi komparatif dengan pendekatan hermeneutika dalam memahami makna spiritualitas pada era modern. Metode dalam artikel ini adalah studi pustaka dengan fokus kepada buku Man and Nature Spiritual Crisis of Modern Man yang ditulis oleh S.H. Nasr dan Modern Man in Search of the Soul yang digarap oleh Carl G. Jung. Penulis juga menggunakan analisis isi untuk memahami buku yang ditulis baik oleh Nasr maupun Jung. Artikel ini menyimpulkan bahwa spiritualitas adalang sangat penting dalam era modern sebagai diskursus dalam agama dan kemanusiaan.
Antitesis Stereotip Terorisme pada Islam: Analisis QS. Al-Isra’: 33 dan HR. Al-Bukhari: 983 Muhammad Torieq Abdillah; Dinda Shofi Innayah
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.14439

Abstract

Abtract:  This paper aims to prove the antithesis of the stereotipe of terrorism in Islam due to the many terrorism groups that use Islamic attributes in their actions by tracing the background of the formation of the stereotipe that Islam is a religion of terrorism and the antithesis of that stereotipe through Q.S. Al-Isra':33 and HR. al-Bukhari: 983. This research method is descriptive qualitative with the type of library research. The results of this study indicate that the stereotipe of Islam as a religion of terrorism actually does not need to be created because Islamic teachings themselves do not recommend committing violence, especially acts of terror, this can be seen in Q.S. al-Isra':33 and HR. Al-Bukhari: 978. However, due to misinterpretation in understanding the meaning of jihad in Islam, this stereotipe emerges. Until finally, the stereotipe has continued until now, exacerbated by the existence of many political interest groups who act in the name of Islam to carry out jihad.Abstrak:  Tulisan ini bertujuan untuk membuktikan antitesis stereotip terorisme pada Islam akibat banyaknya kelompok terorisme yang menggunakan atribut Islam dalam aksinya dengan menelusuri latar belakang terbentuknya stereotip bahwa Islam sebagai agama terorisme dan antitesis stereotip tersebut melalui analisis Q.S. al-Isra’: 17: 33 dan H.R. al-Bukhari: 983. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka (library research). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa stereotip Islam sebagai agama terorisme sebenarnya tidak perlu diperbesar sebab Islam sendiri tidak pernah mengajarkan kekerasan, terlebih pertumpahan darah yang berujung pada kematian, terlebih melalui analisis QS. Al-Isra’: 33 dan HR. Al-Bukhari: 978. Namun, akibat misinterpretasi dalam memahami makna jihad dalam Islam, maka muncul stereotip tersebut. Hingga akhirnya stereotip tersebut terus berlanjut hingga sekarang dengan diperparah adanya banyak kelompok kepentingan politik yang mengatasnamakan Islam dengan alasan jihad
Akulturasi Islam dan Budaya Mistik Kampung Keramat Bekasi dalam Perspektif Sejarah Yusril Fahmi Adam
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.15069

Abstract

Abstract: This article is a historical research that aims to analyze the phenomenon of acculturation of Islam and mystical culture in the Keramat Village, Bekasi. This article uses historical methods, anthropological approaches, and acculturation theories of culture. This article is not only narrative-descriptive, but also analytical-descriptive. The findings in this article indicate that there are problems in the religious aspect that intersect with the local culture that develops in the community of Kampung Keramat Bekasi. Local people believe in mystical things, such as worship on petilasan and objects that are considered to have supernatural powers. Therefore, there are efforts from Muslims including the initiative of local scholars to eliminate these mystical beliefs with an Islamic acculturation approach. In the end, the mystical culture that is similar to animism-dynamism slowly fades and even disappears in the current contemporary era, on the other hand, the people around Kampung Keramat Bekasi also have the awareness to implement Islamic law based on the Qur'an and HadithAbstrak: Artikel ini merupakan penelitian sejarah yang bertujuan untuk menganalisis fenomena akulturasi Islam dan budaya mistik yang berada di Kampung Keramat Bekasi. Di dalam analisisnya, artikel ini menggunakan metode sejarah, pendekatan antropologi, serta teori akulturasi budaya. Dengan metodologi yang digunakan, artikel ini tidak hanya bersifat naratif-deskriptif, melainkan lebih kepada analitis-deskriptif. Temuan dalam artikel ini adalah terdapatnya permasalahan di dalam aspek keagamaan yang beririsan dengan budaya lokal yang berkembang di dalam masyarakat Kampung Keramat Bekasi. Budaya lokal yang melekat di dalam masyarakat setempat adalah adanya kepercayaan terhadap hal-hal mistis, seperti pemujaan di atas petilasan serta benda-benda yang dinilai memiliki kekuatan ghaib. Oleh karena itu, terdapat upaya dari umat Islam atas inisiatif ulama setempat untuk menghilangkan kepercayaan mistik tersebut dengan pendekatan akulturasi Islam. Pada akhirnya, budaya mistik yang serupa dengan animisme-dinamisme tersebut perlahan memudar bahkan menghilang di era kontemporer saat ini, dan juga masyarakat sekitar Kampung Keramat Bekasi telah memiliki kesadaran akan pentingnya syariat Islam berdasarkan al-Qur’an dan Hadits
Etos Kerja dalam Tafsir Mafatih Al-Ghayb: Suatu Kajian Tafsir Ahkam Muamalah Fauzi Fauzi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.14617

Abstract

Abtract: A Muslim must include aspects of spirituality and morality in each of his works, but many of human activities do not refer to these values, resulting in an output that is not optimal and has less value for human life. This study describes the work ethic to encourage human productivity to be useful for human life by referring to the Tafsir Mafatih al-Ghayb. This interpretation is one of the studies of in-depth understanding of the Qur'an with the background of the exegetes who are broad-minded not only in the field of kalam, philosophy of logic, and even linguistics. This research is qualitative with data collection techniques through a literature review, this research also uses a tahlili (synthesis) approach. The results of this study indicate that, first, the Qur'an encourages people to work. Second, the Qur'an emphasizes the work ethic aspect that is rooted in the syakilah, namely the soul, spiritual values and character as well as habits in life. Another aspect of work is to increase obedience and obedience to Allah.Abstrak:  Seorang muslim harus mengedepankan aspek-aspek spiritualitas dan moralitas dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan untuk mencapai hasil yang maksimal. Kenyataanya banyak aktivitas manusia yang tidak merujuk pada nilai-nilai tersebut sehingga terjadi output yang tidak maksimal dan kurang memiliki nilai manfaat bagi kehidupan manusia. Penelitian ini menguraikan tentang etos kerja untuk mendorong produktivitas manusia agar berguna bagi kehidupan manusia dengan merujuk pada Tafsir Mafatih al-Ghayb. Tafsir ini termasuk salah satu kajian pemahaman Alquran mendalam dengan background mufassirnya yang berwawasan luas tidak hanya dalam bidang ilmu kalam, filsafat logika bahkan ilmu bahasa. Penelitian bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kajian literatur, penelitian ini juga menggunakan pendekatan tahlili (sintesis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama, Alquran mendorong manusia untuk bekerja. Kedua, Alquran menekankan aspek etos kerja yang bersumber pada syakilah yaitu jiwa, nilai spiritual dan tabiat serta kebiasaan-kebiasaan dalam hidup. Aspek lain dalam bekerja adalah untuk meningkatkan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah
Model Penafsiran Quraish Shihab terhadap Pemaknaan dan Pemahaman Al-Quran dalam Chanel Youtube Najwa Shihab Mahbub Ghozali; Alfi Ifadatul Umami
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v24i2.14457

Abstract

Abstract: The meaning of the Qur'an made on social media can occur in the form of an oral and more dialectical explanation. Quraish Shihab interprets the Qur'an on Najwa Shihab's Youtube Channel by responding to people's understanding of the Qur'an. This study aims to analyze the cultural structure of understanding and meaning depicted on Najwa Shihab's Youtube Channel. This study uses qualitative methods and content analysis as a data analysis tool. Meanwhile, the achievement of cultural analysis in language uses a structuralist anthropological approach introduced by Levi-Strauss. This study concludes that the explanation of meaning is carried out through two mechanisms; delegitimization as a critique of understanding and figurative as a meaning mechanism that is relevant to the understanding of new issues that exist. The delegitimization and figurative mechanisms used represent the actual cultural structure of meaning in Quraish Shihab and the puritanical and modernist-quasi-objective culture of understanding. The culture that is represented in the structure of meaning on social media shows another function of the representation of the Qur'an on Youtube as a medium of "storage" of culture that can be recognized through its explanation mechanism.Abstrak:  Pemaknaan terhadap al-Qur’an yang berlangsung di media sosial hadir dalam bentuk penjelasan secara oral dan lebih dialektis. Quraish Shihab menghadirkan penafsiran terhadap al-Qur’an di Channel Youtube Najwa Shihab dengan memberikan respon terhadap pemahaman masyarakat terhadap al-Qur’an yang berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur budaya pemahaman dan pemaknaan yang tergambar pada Channel Youtube Najwa Shihab. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan content analysis sebagai perangkat analisa data. Sedangkan pencapaian analisa budaya dalam bahasa menggunakan pendekatan antropologi strukturalis yang dikenalkan Levi-Strauss. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penjelasan terhadap makna dilakukan melalui dua mekanisme; delegitimasi sebagai kritik atas pemahaman dan figuratif sebagai mekanisme pemaknaan yang relevan dengan pemahaman isu baru yang berkembang. Mekanisme delegitimasi dan figuratif yang digunakan merepresentasikan struktur budaya pemaknaan yang aktual pada diri Quraish Shihab dan budaya pemahaman yang puritan dan modernis-quasi-objektif. Penampakan budaya dalam struktur pemaknaan di media sosial menunjukkan fungsi lain dari representasi al-Qur’an di Youtube sebagai media penyimpanan budaya yang dapat dikenali melalui mekanisme penjelasannya.

Page 1 of 1 | Total Record : 6