cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ketahanan Nasional
ISSN : 08539340     EISSN : 25279688     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 2 (2019)" : 7 Documents clear
Indeks Ketahanan Ideologi Pancasila Septiana Dwiputri maharani; Surono surono; Ahmad Zubaidi; Hadi Sutarmanto
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.31823

Abstract

ABSTRACTThe Resilience of Pancasila Ideology had ups and downs conditions. Its could not be separated from the efforts and phenomenon in the society. That phenomenon caused the relisilience of Pancasila ideology be strengthened or weakened. Moreover, the condition of Indonesia was experiencing ideological problems right now. This paper decribed about the importance of the resilience of Pancasila ideology in supporting to national resilience, what were the factors that weakened and strengthened the resilience of Pancasila ideology, and what efforts should be made to strengthened the resilience of Pancasila ideology. The methods used in this research were field research and library research, namely interview, FGD, survey, and literature review. This research also briefly described about the instrument of Pancasila Ideology Index (IKIP). The main aspects measured in IKIP were divinity, humanity, unity, popularness, and social justice. The indicators of IKIP were politics, nationality, social, cultural, religious and economic. This article was written and based on research for two years (2017-2018) conducted in nine provinces in Indonesia. Namely: Manokwari (West Papua), Ambon (Maluku), Kupang (East Nusa Tenggara), Denpasar (Bali), Makassar (South Sulawesi), Medan (North Sumatra), Pontianak (West Kalimantan), Yogyakarta (Yogyakarta Special Region), and Jakarta. The location was chosen and based on the level of heterogeneity (religion, ethnicity, and culture). Sampling method used multi-stage random sampling.This article also described the portrait of resilience of Pancasila ideology in the nine (9) cities of IndonesiaABSTRAKKetahanan Ideologi Pancasila mengalami pasang surut. Hal ini tidak terlepas dari adanya upaya dan kejadian dalam masyarakat yang membuat ketahanan ideologi Pancasila menguat atau melemah, baik secara sengaja maupun di luar kesengajaan. Terkait dengan kondisi Indonesia saat ini yang tengah mengalami problematika ideologis, 278 Jurnal Ketahanan Nasional, Vol. 25, No. 2, Agustus 2019: 277-294 penelitian ini sangat diperlukan untuk mengkaji pentingnya ketahanan ideologi Pancasila dalam mendukung ketahanan nasional; apa saja faktor yang memperkuat dan memperlemah ketahanan ideologi Pancasila; serta upaya apa saja yang bisa dilakukan untuk meningkatkan ketahanan ideologi Pancasila. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan dan pustaka, di antaranya wawancara, FGD, survei, dan kajian pustaka. Penelitian ini juga menjelaskan secara ringkas instrument Indeks Ideologi (IKIP). Aspek utama yang diukur dalam IKIP ini adalah ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Pada setiap aspek dikategorsasikan lagi ke dalam indikator-indikator yaitu yaitu politik, kenegaraan-kebangsaan, sosial, kebudayaan, keagamaan, dan ekonomi. Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian selama dua tahun (2017-2018) pada sembilan provinsi di Indonesia, yaitu Manokwari (Papua Barat), Ambon (Maluku), Kupang (NTT), Denpasar (Bali), Makassar ( Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat), Yogyakarta (DIY), Jakarta (DKI Jakarta), dan Medan (Sumatera Utara). Pemilihan lokasi berdasarkan tingkat heterogenitas agama, suku, dan budaya. Metode penentuan lokasi survei menggunakan multi-stage random sampling. Pada akhir artikel ini juga dipaparkan hasil pengukuran tingkat ketahanan ideologi Pancasila pada sembilan lokasi tersebut. 
Potensi Wanita Dalam Mendukung Pemasaran Biji Kakao Untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Rumah Tangga (Studi Di Dusun Nglengkong, Desa Giripurwo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Jawa Tengah) Ratih Ineke Wati; Alia Bihrajihant Raya; Ani Widiastuti; Fatkhiyah Rohmah; Desi Utami
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.43700

Abstract

 ABSTRACTCacao was the mainfarmcommodity cultivated by farmers in Nglengkong Hamlet since 1980s. So far, farming activities of cacao, including cultivation till marketing, were conducted dominanly by male farmer. The research aimed to dug the potency of women in supporting the cacao beans marketing in order to realized the food resilience of farm household in Ngelngkong Hamlet, Giripurwo Village, Girimulyo District, Kulon Progo Regency.This research used descriptive qualitative approach with Participation Action Research (PAR) method. The data were obtained by Focus Group Discussion (FGD) with the farmer wifes and women representative from each neighbourhood association (Rukun Tetangga – RT) as the informant. The collected information was then analized using SWOT.The result showed that the farmer wife could be involved in marketing process of cacao beanss by using social capital that had been developed among the women in order to got information, expanded the network, and gained the potential buyers. Farmer wive were willing to involeved when their contribution could be the assurance of achiving household food resilience. All this time, the low cacao selling price became the main problem because each farmer sold the beans in the small amount with ununiformed quality. The deal of farmer wives was necessary to built the marketing pattern of cacao beans because they had potency to influenced farmers in selecting the market. The establishment of women farmer group by using social capital could be one of the solution. Beside engaged in the marketing, women could help the post-harvest activities, such as fermentation and dring cacao beans. Post-harvest activities were not as heavy as cultivation one but needed persistence thus opened the big opportunity for women participation. If the farmer could manage the farm, did fermentation, and dried the beans well according to SNI 01-2323-2008, the chance to met the global marketing challenge would increase.  Finally, the women involvement in cacao farming would realize the food resilience of farm household through the the increasing household income.\ABSTRAKKakao merupakan komoditas unggulan perkebunan yang diusahakan masyarakat tani Dusun Nglengkong sejak tahun 1980an. Selama ini,aktivitas usaha tani kakao dari penanaman hingga pemasaran dilakukan secara dominan oleh petani pria. Penelitian bertujuan untuk menggali potensi wanita dalam mendukung pemasaran biji kakao guna mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga tani di Dusun Nglengkong, Desa Giripurwo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif diskriptif dengan metode Participation Action Research (PAR). Data diperoleh melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan informan istri petani kakao dan perwakilan wanita tiap Rukun Tetangga (RT). Informasi yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan SWOT.Hasil penelitian menunjukkan bahwa istri petani kakao dapat dilibatkan dalam proses pemasaran biji kakao dengan memanfaatkan modal sosial yang telah terbangun di kalangan wanita untuk memperoleh informasi, memperluas jaringan pasar, dan mendapatkan pembeli potensial. Istri petani akan bersedia terlibat ketika kontribusi yang dia berikan dapat memberikan kepastian pada pencapaian ketahanan pangan keluarga. Selama ini rendahnya harga jual kakao menjadi permasalahan utama karena masing-masing petani menjual dalam jumlah sedikit dengan kualitas yang tidak seragam. Perlu adanya kesepakatan antara istri petani pada pola pemasaran biji kakao karena mereka memiliki potensi mempengaruhi petani dalam memilih pasar. Pembentukan kelompok wanita dengan memanfaatan modal sosial dapat menjadi salah satu solusi. Selain bergerak dalam pemasaran, wanita dapat membantu kegiatan pasca panen seperti fermentasi dan penjemuran biji kakao. Kegiatan pasca panen tidak seberat kegiatan budidaya tetapi memerlukan ketekunan sehingga membuka kesempatan besar bagi wanita untuk ikut berpartisipasi. Apabila keluarga petani telah mampu mengelola kebunnya serta melakukan fermentasi dan penjemuran sesuai SNI 01-2323-2008 dengan baik, maka peluang untuk memenuhi tantangan pasar global akan meningkat. Pada akhirnya, keterlibatan wanita dalam usaha tani kakao akan mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga melalui usaha peningkatan pendapatan keluarga.
Memperkuat Ketahanan Masyarakat Berbasis Social Capital Pada Era Otonomi Desa (Studi Di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang) Mochammad Rozikin
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.44904

Abstract

 ABSTRACTThe 1997 reforms brought changes in regional governance from a centralized model to decentralization. The village autonomy Law number 6 year 2014 was showed a new era where the existence of villages was appreciated as the smallest unit of government system in Indonesia, with all its diversity as local wisdom to strengthened community resilience nationally starting from the village. This study used descriptive qualitative method, with the analysis step according to Bogdan and Biklen (1982), carried out 2 (two), namely the first stage of data analysis during the field and second analysis of data after collected. The research location of Pandansari village, Ngantang District, Malang Regency, was affected by the Mount Kelud eruption which affected the resilience of rural communities. Data was taken by interview techniques, observations and supporting documents. The results of the study showed that after the impact of the Mount Kelud disaster the resilience of the community was quite disturbed, but it could return to normal with the efforts to developed resilience of rural communities by integrating social capital that existed in the community. Thus, Social capital that developed in the community contributed to developed community resilience after natural disasters.ABSTRAKReformasi tahun 1997 membawa  perubahan tatakelola pemerintahan daerah dari model sentralisasi kepada desentralisasi. Kemudian dalam otonomi desa terbit Undang-Undang nomor 6 tahun 2014. Hal ini menunjukkan era baru dimana keberadaan desa diapresiasi sebagai unit terkecil system pemerintahan di Indonesia, dengan segala keragamannya sebagai kearifan lokal, untuk memperkuat ketahanan masyarakat secara nasional yang dimulai dari desa.Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kualitatif , dengan langkah analisis menurut Bogdan dan Biklen (1982), dilakukan 2 (dua) yaitu  tahap pertama analisis data selama di lapangan dan kedua analisis data setelah terkumpul. Lokasi penelitian Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, yang terkena dampak bencana letusan Gunung Kelud yang berpengaruh terhadap ketahanan masyarakat desa. Data diambil dengan teknik wawancara, observasi dan dokumen pendukung.Hasil penelitian menunjukkan pasca dampak bencana Gunung Kelud ketahanan masyarakat cukup terganggu, tetapi dapat kembali normal dengan adanya upaya pengembangan ketahanan masyarakat desa dengan mengintegrasikan modal sosial (social capital) yang ada pada masyarakat. Modal sosial yang berkembang pada masyarakat memberikan kontribusi dalam mengembangkan ketahanan masyarakat pasca bencana alam.
Ketahanan Pangan Rumah Tangga Peternak Sapi Potong Rakyat di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia Ferdian Achmad; Jangkung Handoyo Mulyo; Masyhuri Masyhuri; Subejo Subejo
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.45620

Abstract

ABSTRACT One of the determinants of the national resilience of a nation was food security. The food consumption sector had a very vital and strategic role in every country. This study aimed to knew and to compared the degree of food  security  between the households of beef cattle farmersunder the self-ownership  and the partnership systems in the Special Region of Yogyakarta province. The number of samples studied were as many as 240 beef cattle farmers, consisting of 120 self-ownership system farmers, and 120 partnership system farmers. The primary method of research using a quantitative approach that was descriptive analysis. An instrument of measuring used was cross-classification between the share of food expenditure (PPP) and energy sufficiency (AKE) which was measured using an indicator of Jonsson and Toole’s table (1991).The results showed that the household food security of beef cattle farmersself-ownership system was better than partnership system farmers. The level of food security of livestock households in DI Yogyakarta in aggregates were 17.92% food secure, 17.08% food vulnerable, 39.17% food less secure, and 25.83% food insecure. Based on the system of livestock ownership, households of self-ownership system farmers were 22.5% food secure, 15.83%   were food vulnerable, 40.00% food less secure, and 21.67% were food insecure. In partnership farmers, 13.33% food secure, 18.ABSTRAKSalah satu faktor penentu ketahanan nasional suatu bangsa adalah ketahanan pangan.Sektor konsumsi pangan memiliki peran yang sangat vital dan strategis pada setiap negara.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkan derajat ketahanan pangan rumah tangga peternak sapi potong antara sistem mandiri dan sistem gaduhan di DI Yogyakarta.Sampel yang diteliti  sebanyak 240 orang peternak sapi potong, terdiri dari 120 orang peternak sistem mandiri, dan 120 orang peternak sistem gaduhan. Metode dasar penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat deskriptif analisis. Instrumen alat ukur yang digunakan yaitu klasifikasi silang antara pangsa pengeluaran pangan (PPP) dan angka kecukupan energi (AKE) yang diukur menggunakan indikator Tabel Jonsson dan Toole (1991).Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan pangan rumah tangga peternak sapi potong sistem mandiri lebih baik dibandingkan peternak sistem gaduhan. Derajat ketahanan pangan rumah tangga ternak di DI Yogyakarta secara agregat berturut-turut yaitu sebanyak 17,92% tahan pangan, 17,08% rentan pangan, 39,17% kurang pangan, dan 25,83% rawan pangan. Berdasarkan sistem kepemilikan ternak, rumah tangga peternak sistem mandiri sebanyak 22,5% tahan pangan, 15,83% rentan pangan, 40,00% kurang pangan, dan 21,67% termasuk rawan pangan. Pada peternak sistem gaduhan, sebanyak 13,33% termasuk rumah tangga tahan pangan, 18,33% rentan pangan, 38,34% kurang pangan, dan 30,00% rawan pangan..
Sosio Demografi Ketahanan Pangan Keluarga Dalam Hubungannya Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 1 – 5 Tahun (Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kotamadya Semarang, Provinsi Jawa Tengah) La Abdullah Laode Wado; Toto Sudargo; Armaidy Armawi
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.45707

Abstract

ABSTRACT Family food resiliencey was the fulfillment of food in the family that was sufficient in both quality and quantity continuously, while socio-demography was the structure and process of the population in an area where processes and social change occured. Food inresilience and low socio-demographic conditions would affect nutrition consumed not in accordance with its portion and would result in poor health of the family. This condition would give birth to a generation  with lesser quality and became a threat to national resilience in the future. This study aimed to examined the relationship of family food resiloience, socio-demographic with the incidence of stunting in children aged 1-5 years; and a variety of efforts to improved family food resilience in the work area of Bandar Harjo Health Center, Tanjung Mas Village, North Semarang District , Semarang city.This research was a quantitative and qualitative descriptive study using the Case Control method with a study population of parents (mothers / fathers) of children aged 1-5 years who experience the incidence of stunting, and as a comparison were parents of children aged 1-5 years who did not experience the incidence of stunting (normal child). The research sample was taken by simple random sampling. The analytical method used were descriptive univariate analysis, bivariate analysis and qualitative data analysis. The result of research showed that with the Spearman Correlation test it was known, the  family food resilience and socio-demography had a significant relationship with the incidence of stunting in children aged 1-5 years. The program to improved the quality of life of the community were done by preventing the occurrence of stunting of toddlers in the work area of Bandarharjo Community Health Center, including implementing the  Healthy Indonesia Program with Family Approach (PIS-PK), Supplementary Food Delivery (PMT), and 1000 First Days of Life (HPK)., and  encountered the obstacles  in the form of non-optimal regulations, inadequate patterns of life of the people and inadequate health infrastructure so that the incidence of stunting in children aged 1-5 years in the work area of Bandarharjo Health Center could be minimized.ABSTRAK           Ketahanan pangan keluarga adalah terpenuhinya pangan dalam keluarga yang cukup baik kualitas maupun kuantitas secara terus menerus, sedangkan sosio demografi adalah struktur dan proses penduduk di suatu wilayah dimana di dalamnya terjadi  proses dan perubahan sosial. Ketidaktahanan pangan dan kondisi sosio demografi yang rendah akan berpengaruh terhadap gizi yang dikonsumsi tidak sesuai dengan porsinya dan berakibat buruknya kesehatan keluarga. Kondisi ini akan melahirkan generasi kurang berkualitas dan menjadi ancaman bagi ketahanan nasional di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan ketahanan pangan keluarga, sosio demografi dengan kejadian stunting pada anak usia 1-5 tahun dan ragam upaya meningkatkan ketahanan pangan keluarga di wilayah kerja Puskesmas Bandar Harjo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan metode Case Control dengan populasi penelitian orang tua (ibu/bapak) dari anak usia 1-5 tahun yang mengalami kejadian stunting, dan sebagai pembanding adalah orang tua dari anak usia 1-5 tahun yang tidak mengalami kejadian stunting (anak normal). Sampel penelitian diambil secara acak sederhana. Metode analisis yang digunakan adalah analisis univariat secara deskriptif, analisis bivariat dan analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan uji Spearman Correlation diketahui  ketahanan pangan keluarga dan  sosio demografi memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting pada anak usia 1-5 tahun. Program peningkatan kualitas hidup masyarakat dilakukan melalui  pencegahan terjadinya stunting anak balita di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo, yaitu dengan melaksanakan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK), Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), serta berupaya mengatasi hambatan-hambatan berupa regulasi yang belum optimal, pola kehidupan masyarakat yang kurang sehat dan infrastruktur kesehatan yang belum memadai sehingga kejadian stunting pada anak usia 1-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo dapat diminimalisir
Peran Organisasi Pemuda Dalam Pengembangan Ekowisata Kawasan Mangrove Guna Mewujudkan Ketahanan Lingkungan (Studi pada Keluarga Pemuda Pemudi Baros (KP2B) Di Dusun Baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta) Novita Ardiyansari; Saryani Saryani; Muhamad Muhamad
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.46194

Abstract

 ABSTRACTThis research was to analyzed the role of Baros Youth Family or KeluargaPemudaPemudi Baros (KP2B) organization in developing Ecotourism Mangrove Baros Region to embodied environmental resilience. Specifically, this research aimed to knew the role of KP2B and its obstacle to developed Ecotourism Mangrove Baros Region. Afterward, these development efforts would impact on environmental resilience. This was qualitative field research using a descriptive method. Triangulation data consisting of document study, complete participant observation, and the semi-and-unstructured interview was the technique of data collection. The data analysis method used Mile and Huberman’s model containing 1) data reduction, 2) data display, and 3) conclusion drawing or verification. This research used four theories, namely the role of youth organization, ecotourism in mangrove conservation areas, and environmental resilience. The result of this research showed that KP2B had some leading roles in the development effort of Baros Mangrove Conservation Ecotourism covering conservational pillar, educational pillar, social pillar, and economic pillar. There were 5 (five) social empowerment working groups i.e., Avicenna, Mino Tirtohargo, Andini Lestari-Karya Manunggal, GAPOKTAN-KWT, and POKLASAR. Economic efforts consisted of selling seed, providing ecotourism services, offering live-in packet, selling marine wood waste crafts, crab farming, and offering coastal park and reforestation packet. KP2B had two obstacles in this ecotourism effort. That obstacles were a natural factor and human resource. Ecotourism development efforts had ABSTRAKPenelitian ini menganalisis peran organisasi Keluarga Pemuda Pemudi Baros (KP2B) dalam mengembangkan Ekowisata Kawasan Mangrove Baros guna mewujudkan ketahanan lingkungan. Secara spesifik penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran Keluarga Pemuda Pemudi Baros (KP2B)  dan kendala dalam mengembangkan Ekowisata Kawasan Mangrove Baros. Kemudian dari usaha pengembanagan Ekowisata Hutan Mangrove Baros akan berimplikasi terhadap ketahanan lingkungan.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif  dengan teknik pengumpulan trianggulasi data yang terdiri dari studi dokumentasi, observasi partisipasi lengkap, dan wawancara (semistruktur dan tidak terstruktur). Metode analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data,  dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Penelitian ini menggunakan tiga teori yaitu peran organisasi pemuda, ekowisata kawasan konservasi mangrove, dan ketahanan lingkungan.Hasil penelitian ini menunjukkan KP2B memiliki peran pokok dalam pengembangan usaha Ekowisata Kawasan Konservasi Mangrove Baros meliputi pilar konservasi, pilar pendidikan, pilar sosial masyarakat, dan pilar ekonomi. Terdapat lima kelompok kerja pemberdayaan masyarakat yaitu Avicenia, Mino Tirtohargo, Andini Lestari-Karya Manunggal, GAPOKTAN-KWT, dan POKLASAR. Usaha ekonomi terdiri dari penjualan bibit, pengusahaan jasa ekowisata, penjualan paket live-in, penjualan kerajinan sampah kayu laut, budidaya kepiting, dan paket taman peisir-penghijauan. KP2B mengalami kendala dalam usaha ekowisata yaitu factor alam dan SDM. Usaha pengembangan ekowisata berimplikasi positif terhadap ketahanan lingkungan meliputi komponen biotik, abiotik dan kultur.
Dampak Implementasi Asas Cabotage dan Program Tol Laut Terhadap Ketahanan Wilayah ( Studi di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau) Anwar Sahid; Edy Suandi Hamid; Armaidy Armawi
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.47766

Abstract

ABSTRACTSThis study aimed to determined the implementation, constraints and assesed the impact of the cabotage principle and sea toll program on regional resilience in Anambas until the beginning of 2019. Archipelagic districts that had 238 islands in the border region needed ships to supported the development of other sectors and connectivity of disadvantaged, remote, outermost, and border areas (3TP).This study used qualitative descriptive methods in the form of maps, tables and graphs. Data was obtained through observation, in-depth interviews and documentation in Tarempa, Matak Base, sea toll vessels and the Directorate of Sea Traffic and Freight, including literature studies and internet data. The result of this studi showed that cabotage principle succeeded in increasing the number of national commercial fleets fivefold since 2005-2018. The upstream oil and gas company at Anambas complied with cabotage and was not subject to operational disruption.The existence of national ships in Indonesian waters contributed to the aspect of defense security as a source of information. The implementation of the sea toll route to Anambas until the fourth year had not succeeded in reducing the price of goods but maintaining the stock of logistics, especially during extreme weather, supporting food security. Cabotage was important for economies and defense security meanwhile sea tolls contributed to inter-regional connectivity to supported the development of remote, frontier, disadvantaged and borderareas (3TP). Both were encouraging national sea freight to dominated the domestic market share.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi, kendala dan mengkaji dampak implementasi asas cabotage dan program tol laut terhadap ketahanan wilayah di Anambas hingga awal tahun 2019. Kabupaten kepulauan yang memiliki 238 pulau di wilayah perbatasan membutuhkankapal untuk menunjang pembangunan sektor lain dan konektivitas daerah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan (3TP).Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dalam bentuk peta, tabel dan grafik. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi di Tarempa, Matak Base, kapal tol laut dan Direktorat Lalu Lintas Angkutan Laut dilengkapi studi pustaka dan data internet.Hasil penelitian menunjukkan implementasi asas cabotage berhasil meningkatkan jumlah armada niaga nasional 356 persen pada tahun 2005-2018. Perusahaan hulu migas di Anambas mematuhi cabotage dan tidak terganggu operasionalnya. Keberadaan kapal nasional di perairan Indonesia mendukung aspek pertahanan dan keamanan sebagai salah satu sumber informasi.  Implementasi tol laut trayek Anambas hingga awal tahun 2019 belum berhasil menurunkan harga barang tetapi menjaga stok logistik terutama saat cuaca ekstrim, mendukung ketahanan pangan. Cabotage penting bagi perkonomian dan pertahanan keamanan di laut sedangkan tol laut berkontribusi pada konektivitas antarwilayah mendukung pembangunan daerah 3TP. Keduanya mendorong kapal nasional mendominasi angkutan laut dalam negeri. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 2 (2025) Vol 31, No 1 (2025) Vol 30, No 3 (2024) Vol 30, No 2 (2024) Vol 30, No 1 (2024) Vol 29, No 3 (2023) Vol 29, No 2 (2023) Vol 29, No 1 (2023) Vol 28, No 3 (2022) Vol 28, No 2 (2022) Vol 28, No 1 (2022) Vol 27, No 3 (2021) Vol 27, No 2 (2021) Vol 27, No 1 (2021) Vol 26, No 3 (2020) Vol 26, No 2 (2020) Vol 26, No 1 (2020) Vol 25, No 3 (2019) Vol 25, No 2 (2019) Vol 25, No 1 (2019) Vol 24, No 3 (2018) Vol 24, No 2 (2018) Vol 24, No 1 (2018) Vol 23, No 3 (2017) Vol 23, No 2 (2017) Vol 23, No 1 (2017) Vol 22, No 3 (2016) Vol 22, No 2 (2016) Vol 22, No 1 (2016) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 1 (2015) Vol 21, No 1 (2015) VOL. XXI, NO. 1 APRIL 2015 Vol 20, No 3 (2014) Vol 20, No 2 (2014) Vol 20, No 1 (2014) Vol. XX, No. 3, Desember 2014 VOL. XX, NO. 2, AGUSTUS 2014 VOL. XX, NO. 1, APRIL 2014 Vol 19, No 3 (2013) Vol 19, No 2 (2013) Vol 19, No 1 (2013) VOL. XIX, NO. 3, DESEMBER 2013 VOL. XIX, NO. 2, AGUSTUS 2013 VOL. XIX, NO. 1, APRIL 2013 Vol 17, No 3 (2012) Vol 17, No 2 (2012) Vol 17, No 1 (2012) Vol 16, No 3 (2011) Vol 16, No 2 (2011) Vol 16, No 1 (2011) Vol 15, No 3 (2010) Vol 15, No 2 (2010) Vol 15, No 1 (2010) Vol 14, No 3 (2009) Vol 14, No 2 (2009) Vol 14, No 1 (2009) Vol 13, No 3 (2008) Vol 13, No 2 (2008) Vol 13, No 1 (2008) Vol 12, No 3 (2007) Vol 12, No 2 (2007) Vol 12, No 1 (2007) Vol 11, No 3 (2006) Vol 11, No 2 (2006) Vol 11, No 1 (2006) Vol 10, No 3 (2005) Vol 10, No 2 (2005) Vol 10, No 1 (2005) Vol 9, No 3 (2004) Vol 9, No 2 (2004) Vol 9, No 1 (2004) Vol 8, No 3 (2003) Vol 8, No 2 (2003) Vol 8, No 1 (2003) Vol 7, No 3 (2002) Vol 7, No 2 (2002) Vol 7, No 1 (2002) Vol 6, No 3 (2001) Vol 6, No 2 (2001) Vol 6, No 1 (2001) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 4, No 3 (1999) Vol 4, No 2 (1999) Vol 4, No 1 (1999) Vol 3, No 3 (1998) Vol 3, No 2 (1998) Vol 3, No 1 (1998) Vol 2, No 3 (1997) Vol 2, No 2 (1997) Vol 2, No 1 (1997) Vol 1, No 1 (1996) More Issue