cover
Contact Name
STT Jaffray
Contact Email
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Penerbitan Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Jalan Gunung Merapi No. 103 Makassar, 90114
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Jaffray
ISSN : 18299474     EISSN : 24074047     DOI : -
Jurnal Jaffray adalah jurnal peer-review dan membuka akses yang berfokus pada mempromosikan teologi dan praktik pelayanan yang dihasilkan dari teologi dasar, pendidikan Kristen dan penelitian pastoral untuk mengintegrasikan penelitian dalam semua aspek sumber daya Alkitab. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, review, dan juga laporan kasus yang menarik. Review singkat yang berisi perkembangan teologi, tafsiran biblika dan pendidikan teologi yang terbaru dan mutakhir dapat dipublikasi dalam jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 458 Documents
Filsafat Ketuhanan Menurut Plato Ivan Th.J Weismann
Jurnal Jaffray Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v3i1.136

Abstract

Plato adalah filsuf pertama yang menulis secara filosofis dan secara sistematik teologis mengenai konsep Ketuhanan sehingga dapatlah dikatakan bahwa ia adalah peletqk dasar bagi ilmu teologia dan memberikan pengaruh besar bagi perkembanganfilsafat Barat khususnya tentangkonsep Ketuhanan. Pemikiran Plato tentang Ketuhanan adalah upayanya untuk mereformasi konsep Ketuhanan yang terdapat pada masyarakat Yunani kuno. Tulisan ini berupaya menganalisis dan memahami Ketuhanan menurut Plato agar pembaca masa kini dapat mengerti lebih dalam lagi tentong konsep Ketuhanan yang dipahami masyarakat Yunani kuno dan khususnya menurut Plato, dan juga dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagifilsafat Ketuhanan pada masa kini. Filsafat Ketuhanan menurut Plato ini penulis jelaskan dengan memperhatikandimensi metafisika, epistemologi, dan etika.
Peranan Psikologi terhadap Perkembangan Masyarakat Pasca Modernisasi Marrang Paranoan
Jurnal Jaffray Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v2i2.157

Abstract

Dalam mencapai kemajuan bangsa, terdapat hal-hal positif dan negatif, termasuk persoalan psikologis bangsa. Itu sebabnya peran seorang teolog dituntut untuk memilki dan menguasai ilmu psikologi dalam tugas pelayanannya
Mengajar Secara Kreatif Janet Kuhns
Jurnal Jaffray Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v1i1.171

Abstract

Menghasilkan cara mengajar yang kreatif meliputi banyak hal:sifat pribadi seorang guru dan pengenalan akan Tuhan dan firman-Nya,masa persiapan pelajaran, caranya ia merencanakan isi pelajaran,keterampilan-keterampilan dalam memakai beraneka macam metodemengajar dan hubungan pribadi dengan setiap murid. Seorang guruyang tidak berani berpikir secara kreatif at4upun belum pernah diajarsecara kreatif akan menghadapi lebih banyak tantangan tatkala ia inginmengubah cara mengajar nya. Namun, dengan kemauan yang sungsUttkeberanian untuk mencoba sesuatu yang baru dan dengan pengarahanyang jelas danbermutu, ia dapat juga menjadi seorang guru yang kreatif.
Analisis Tingkat Kepuasan Mahasiswa Terhadap Pelayanan Akademik Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar Yonas Boky
Jurnal Jaffray Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v14i2.213

Abstract

Bidang akademik Sekolah Tinggi Theologia Jaffray telah berusaha sebaik mungkin untuk melakukan pelayanan kepada mahasiswa sebagai konsumennya. Namun tidak dapat dipungkiri lagi bahwa selalu saja ada kekurangan dalam pelayanannya sehingga menimbulkan ketidakpuasan dari mahasiswa sebagai pelanggannya. Kenyataannya, kepuasan mahasiswa terhadap pelayanan akademik berbeda-beda. Oleh karena itu tujuan penulisan ini adalah Pertama, untuk menjelaskan sejauh mana tingkat kepuasan mahasiswa S1 terhadap pelayanan bidang akademik Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar berdasarkan hierarki kebutuhan Maslow. Kedua, menjelaskan bagaimana bidang akademik Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Strategi untuk meningkatkan kepuasan mahasiswa terhadap layanan Akademik STFT Jaffray Makassar adalah perlunya melaksanakan hal-hal yang menjadi prioritas utama, seperti: pelayanan akademik mampu bertindak cepat atas setiap keluhan mahasiswa, adanya evaluasi di bidang akademik sendiri secara rutin untuk melihat sejauh mana tingkat kepuasan mahasiswa itu tercapai, sistem komputerisasi akademik yang sudah berjalan baik walaupun dinilai oleh mahasiswa masih perlu peningkatan lagi. Hal-hal yang harus dipertahankan oleh bidang akademik STFT Jaffray Makassar adalah pihak kampus harus terus memberikan keamanan dan kenyamanan kepada mahasiswa, memberikan bimbingan akademik maupun konseling bagi mahasiswa yang mengalami kendala.The academic department of Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Jaffray has striven to minister to students as consumers, the fact is, contentment differs among students toward the service given by academics. Because of this, the purpose of this writing is as follows: First, to explain how high the level of contentment is among bachelor level students towards the services of the department of academics of Sekolah Tinggi Theologia Jaffray based on Maslow’s hierarchy of needs. Second, to explain how the academic department at Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Jaffray carries out its tasks and responsibilities. The strategy to raise the satisfaction of the students toward the service of Academics at Sekolah Tinggi Theologia Jaffray is to carry out those things that have become the main priorities, such as: academic services is able to respond quickly to every student complaint, there will be a routine evaluation of the academic department alone to see how far the level of student satisfaction has been reached, an academic computer system that, although has already been running, according to students, needs to be improved. Those things that need to be maintained by the academic department of Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Jaffray are that the campus must continue to give safety and comfort to its students, give student academic guidance as well as counseling to those students who have experienced obstacles/who have undergone school discipline.
Penggenapan Progresif Misi Allah Dalam Kisah Para Rasul 1:8 Heryanto David Lie
Jurnal Jaffray Vol 15, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v15i1.235

Abstract

Kisah Para Rasul 1:8 merupakan suatu master plan misi Allah yang Kristus amanatkan kepada para murid. Melalui pertolongan dan kuasa Roh Kudus yang telah dicurahkan para peristiwa Pentakosta, seluruh master plan misi Allah tersebut tergenapi secara progresif. Itulah yang hendak Lukas perlihatkan melalui kitabnya yang kedua, Kisah Para Rasul. Kebenaran ini menjadi landasan pemahaman teologis bahwa bermisi adalah melaksanakan master plan misi Allah. Kisah Para Rasul 1:8 juga mengingatkan bahwa menjadi saksi Kristus merupakan panggilan bagi semua orang percaya tanpa terkecuali. Atas dasar kebenaran ini, maka tidak ada alasan bagi orang percaya untuk tidak bermisi atau bersaksi bagi Kristus. Bahkan kebenaran ini mengingatkan bahwa bermisi bukan tergantung kepada hebatnya program tetapi seberapa efektif program-program tersebut dalam memperkenalkan Kristus. Kisah Para Rasul mem-berikan suatu dasar kebenaran bahwa pelayanan misi yang dilakukan gereja-gereja sekarang sesungguhnya merupakan kelanjutan dari fase “ujung bumi.” Misi yang dilakukan oleh gereja-gereja masa kini adalah bagian dari fase memperkenalkan Kristus sampai ke seluruh permukaan bumi secara geografis hingga Kristus kembali untuk kedua kalinya pada akhir zaman.Acts 1: 8 is a master plan for the mission of God which Christ gave as a mandate to the disciples. Through the help and power of the Holy Spirit that was poured out at the events of Pentecost, the entire master plan of the mission of God is fulfilled progressively. That’s what Luke wants to show through his second book, Acts. This truth is the foundation of the theological understanding that missions is carrying out the master plan of God. Acts 1: 8 is also a reminder that becoming a witness of Christ is a call to all believers without exception. On the basis of this truth, then there is no reason for believers not to do missions or witness for Christ. Moreover, this truth is a reminder that doing missions is not dependanton a great program, but on how effective these programs are in introducing Christ. Acts provides a basic truth that missions conducted by churches today is actually a continuation of the phase “ends of the earth.” Missions being carried out by the churches of today are part of a phase of introducing Christ to all peopleson the face of the earth until Christ comes again for the second time on the last day.
Apakah Rut, Perempuan Moab Adalah Penyembah TUHAN? Peniel C.D. Maiaweng; Christina Ukung
Jurnal Jaffray Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v16i2.308

Abstract

Pernyataan Rut kepada Naomi bahwa “bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (1:16-17) telah menimbulkan pertanyaan tentang kekonsistenan Rut menghidupi kata-kata yang telah diucapkannya. Apakah Rut adalah penyembah TUHAN? Ini adalah pertanyaan penting karena tidak ada informasi dalam kitab Rut tentang firman yang diterima secara langsung oleh Rut untuk pergi ke Betlehem-Yehuda; tidak ada firman kepada Rut untuk bekerja di ladangnya Boas; tidak ada firman kepada Naomi untuk merencanakan pertemuan antara Rut dengan Boas pada malam hari di tempat pengirikannya Boas; dan tidak ada firman secara langsung kepada Boas untuk mengambil Rut sebagai istrinya. Namun berdasarkan kitab Rut dan kitab-kitab lain dalam PL dan PB, dapat dibuktikan bahwa Rut (perempuan Moab, janda, meninggalkan orangtuanya dan allahnya, pergi bersama Naomi, mertuanya ke Betlehem-Yehuda, hidup sebagai orang asing, dan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan mertuanya) adalah seorang penyembah TUHAN. Keberadaan Rut sebagai penyembah TUHAN terwujud melalui perkataannya dan sikap hidupnya.Ruth's statement to Naomi that "your people are my people and your God my God" (1:16-17) has raised questions about the consistency of Ruth living the words she had spoken. Is Ruth a worshiper of the Lord? This is an important question because there is no information in Ruth about the word that Ruth received directly to go to Bethlehem-Judah; there was no word to Ruth to work in Boaz's field; there was no word to Naomi to plan the meeting between Ruth and Boaz at night at Boaz's threshing floor; and there was no word directly to Boaz to take Ruth as his wife. But according to the book of Ruth and other books in the OT and NT, it can be proved that Ruth (the woman of Moab, widow, left her parents and gods, went with Naomi, her mother-in-law to Bethlehem-Judah, lived as a stranger, and worked to fulfill her needs and his father-in-law) is a worshiper of the Lord. The existence of Ruth as a worshiper of the Lord was realized through her words and attitude of life.
Pengutamaan Dimensi Karakter Dalam Pendidikan Agama Kristen Daniel Nuhamara
Jurnal Jaffray Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v16i1.278

Abstract

Indonesia sedang menjalani suatu gerakan nasional “pembangunan karakter” untuk mengatasi berbagai masalah yang menghambat kesejahteraan masyarakatnya. Semua komponen bangsa dan masyarakat diharapkan memberi kontribusinya. Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai salah satu tugas gereja yang strategis dapat memberi kontribusinya yang penting bilamana dalam semua program PAK bagi semua kategori usia dan berbagai konteks (keluarga, gereja dan sekolah) dapat mengutamakan dimensi karakter. Penulis membangun argumentasi betapa dekatnya pendidikan karakter dengan PAK, bahkan merupakan bagian integral sebagaimana karakter Kristiani adalah bagian integral dari iman Kristiani. Untuk itu penulis memperjelas konsep-konsep terkait seperti prinsip, nilai, kebajikan, makna hidup, serta karakter dalam upaya membangun argumentasi di atas. Secara spesifik juga konten dari karakter Kristiani dicarikan contoh-contoh Alkitabiahnya.Indonesia is undergoing a national movement of character building to overcome various problems which hinder the welfare of its society. Every component of the nation and society is expected to give its contribution. Christian Education as one of the strategic tasks or missions of the churches is able to give its significant contribution when its educational programs endeavor to pay more attention to character dimension in its curriculum design for every age category and in all educational contexts. I also argue that character education is closely related to Christian Education even an integral part of it, as Christian character is an integral part of Christian faith. For that purpose I try to clarify some essential concepts such as principles, values, virtues, meaning of life, and Christian character as found in the Bible in order to build on the above argument. Finally, the specific content from the Christian characteristics are found in Biblical examples.
Hubungan Motivasi Belajar Ekstrinsik Terhadap Hasil Belajar Psikomotorik Pada Mata Pelajaran Agama Kristen Kelas V Di SD Zion Makassar Sifra Sahiu; Hengki Wijaya
Jurnal Jaffray Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v15i2.262

Abstract

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan motivasi dengan imitasi memperoleh skor 79,34% dalam kategori setuju menunjukkan bahwa peserta didik bukan hanya menjadi pendengar saja melainkan melakukan atau meniru setiap pelajaran yang diajarkan yang berhubungan dengan gerakan. Kedua, Hubungan motivasi dengan manipulasi memperoleh skor 80,29% dalam kategori setuju menunjukkan bahwa peserta didik mampu untuk menggunakan konsep dalam melakukan kegiatan seperti meneladani tokoh Alkitab. Ketiga, hubungan motivasi dengan presisi mempeoleh skor 83,42% dalam kategori setuju menunjukkan bahwa peserta didik tidak sekadar mengikuti apa yang dikatakan oleh gurunya tetapi mempertimbangkannya yang dapat diterima secara logikanya. Keempat, hubungan motivasi dengan artikulasi memperoleh skor 76,75% dalam kategori ragu-ragu menunjukkan bahwa peserta didik masih ragu-ragu dalam merangkai segala sesuatu menjadi suatu hal yang berkesinambungan. Kelima, hubungan motivasi dengan naturalisasi memperoleh skor 83,95% dalam kategori setuju menunjukkan bahwa peserta didik mampu melakukan segala tugas sekolahnya dengan mandiri dan berusaha sendiri. Kesimpulannya adalah keterkaitan motivasi dan hasil belajar psikmotorik merupakan hal yang sangat penting dalam mengembangkan keaktifan anak didik dalam belajar atau melakukan setiap kegiatan sehingga mencapai hasil yang lebih baik.The results of this study about the relationship of motivation with imitation that received a score of 79.34% on the Rating scale, indicate that learners not only are listeners but rather doers or imitaters of any lessons taught related to the kinesthetic movement. Second, the relationship of motivation with manipulation that received a score of 80.29% on the Rating scale, shows that learners are able to use concepts in doing activities such as emulating a biblical character. Third, the relationship between motivation and precision that received a score of 83.42% on the Rating scale, demonstrates that learners do not simply follow what the teacher says, but consider it logically acceptable. Fourth, the relationship of motivation with articulation that recieved a score of 76.75% on the Rating scale, suggests that learners are still hesitant in assembling all that they have learned into something that is continuous and consistant. Fifth, the relationship of motivation with naturalization  that obtained a score of 83.95% on the Rating scale, reveals that learners are able to do all their schoolwork independently by their own efforts. The conclusion is that the relationship of motivation and the effects of  psychomotor learning is very important in developing activity in students while learning or doing each activity so as to achieve better learning results.
Perceraian dan Pernikahan Kembali Maiaweng, Peniel C.D.
Jurnal Jaffray Vol 15, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v15i1.237

Abstract

Menyikapi konsep tentang perceraian dan pernikahan kembali, umumnya terdapat tiga pandangan yang dipraktikkan di kalangan Kristen.  Pertama, menyetujui perceraian dan pernikahan kembali; kedua, menyetujui perceraian, tetapi tidak menyetujui pernikahan kembali; ketiga, tidak menyetujui perceraian dan pernikahan kembali. Munculnya ketiga pandangan tersebut didasarkan pada frasa yang terdapat dalam Matius 19:9, “kecuali karena zina.”  Berdasarkan pengajaran Yesus dalam Mat. 5:32; 19:9; Mark. 10:11-12; Luk. 16:18, dapat disimpulkan bahwa kategori perzinaan adalah 1) jika suami yang menceraikan istrinya, maka suami menjadikan istrinya berzina; 2) jika laki-laki yang kawin dengan istri yang diceraikan suaminya, maka laki-laki itu berbuat zina; 3) jika suami yang menceraikan istrinya dan kawin dengan perempuan lain, maka suami berbuat zina; 4) jika istri yang menceraikan suaminya dan menikah dengan laki-laki lain, maka istri berbuat zina.  Dengan demikian, bagi Yesus, perceraian dan pernikahan kembali sama dengan perzinaan, karena Yesus tidak menganjurkan perceraian dan pernikahan kembali.  Hanya maut yang dapat memisahkan seseorang dari pasangannya dan menikah kembali.  Penyelesaian masalah perceraian dan pernikahan kembali yang telah terjadi adalah tanggung jawab jemaat secara keseluruhan untuk mendapatkan kembali mereka yang telah berpisah dari pasangannya karena masalah-masalah rumah tangga.  Jika ada seorang yang tidak ingin ditolong untuk merubah sikapnya agar bersatu dengan pasangannya, maka ia dianggap sebagai seorang yang tidak mengenal Allah.
Kepemimpinan Yesus Sebagai Acuan Bagi Kepemimpinan Gereja Masa Kini Yahya Wijaya
Jurnal Jaffray Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v16i2.287

Abstract

This article compares the leadership model of Jesus with those of the formal prominent leaders in his time. Rooted in a deep spiritual relationship with his Father, and moved by a compassionate heart, Jesus’ leadership challenges today’s church leadership practices in Indonesia which is marked by either institutional centralization, absolute local autonomy, or traditionalism. Artikel ini membandingkan antara model kepemimpinan Yesus dengan model-model kepemimpinan para penguasa formal di zamannya. Berakar pada hubungan spiritual yang mendalam dengan Bapanya, dan digerakkan oleh hati yang berbelaskasihan, kepemimpinan Yesus menantang praktik-praktik kepemimpinan gereja di Indonesia masa kini yang ditandai oleh sentralisasi institusional, otonomi lokal yang absolut, atau tradisionalisme

Filter by Year

2003 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 2 (2023): October 2023 Vol 21, No 1 (2023): April 2023 Vol 20, No 2 (2022): October 2022 Vol 20, No 1 (2022): April 2022 Vol 19, No 2 (2021): October 2021 Vol 19, No 1 (2021): April 2021 Vol 18, No 1 (2020): Jurnal Jaffray 18, no. 1 April 2020 Vol 18, No 2 (2020): October 2020 Vol 18, No 1 (2020): April 2020 Vol 17, No 1 (2019): Jurnal Jaffray Volume 17, no. 1 April 2019 Vol 17, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 17, No 1 (2019): April 2019 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 14, No 1 (2016): April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13, No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): April 2014 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): April 2013 Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 2 Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 1 April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): April 2012 Vol 10, No 2 (2012): Vol 10, No 1 (2012): Vol 9, No 2 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 2 Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 1 April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): April 2011 Vol 9, No 2 (2011): Vol 9, No 1 (2011): Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 1 April 2010 Vol 8, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): April 2010 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 7, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 6, No 2 (2008): Oktober 2008 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 More Issue