cover
Contact Name
Nur Rohim Yunus
Contact Email
jurnal.citahukum@uinjkt.ac.id
Phone
+6281384795000
Journal Mail Official
jurnal.citahukum@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat 15411
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Cita Hukum
ISSN : 23561440     EISSN : 2502230X     DOI : 10.15408
Jurnal Cita Hukum is an international journal published by the Faculty of Sharia and Law, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia. The focus is to provide readers with a better understanding of legal studies and present developments through the publication of articles, research reports, and book reviews. Jurnal Cita Hukum specializes in legal studies, and is intended to communicate original researches and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. It aims primarily to facilitate scholarly and professional discussions over current developments on legal issues in Indonesia as well as to publish innovative legal researches concerning Indonesian laws and legal system. Published exclusively in English, the Review seeks to expand the boundaries of Indonesian legal discourses to access English-speaking contributors and readers all over the world. The Review, hence, welcomes contributions from international legal scholars and professionals as well as from representatives of courts, executive authorities, and agencies of development cooperation. The review basically contains any topics concerning Indonesian laws and legal system. Novelty and recency of issues, however, is a priority in publishing. The range of contents covered by the Review spans from established legal scholarships and fields of law such as private laws and public laws which include constitutional and administrative law as well as criminal law, international laws concerning Indonesia, to various approaches to legal studies such as comparative law, law and economics, sociology of law and legal anthropology, and many others. Specialized legal studies concerning various aspects of life such as commercial and business laws, technology law, natural resources law and the like are also welcomed.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 716 Documents
The Direction of Police Community Policy In The Prevention of Traffic Accidents In Polda Metro Jaya Rudi Antariksawan; Muhammad Mustofa
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i1.13762

Abstract

AbstractThere are three core functions of the police, law enforcement, order maintenance, and services to the community or public services. One part of the law enforcement function is preventing and overcoming traffic violations. Traffic accidents have a large and detrimental impact, and this is one of many indicators of the success of the police. Traffic accidents are often caused by drivers who do not obey the rules, so they endanger themselves or others. In addition to violations by drivers, other things that become the factor occurrence of traffic accidents are road quality, human error, and vehicle worthiness. The purpose of this study was to determine the direction of community policing policies in dealing with traffic violations, and efforts to develop community policing models by paying attention to public participation and the role of the police in preventing traffic violations. The results obtained show that significant factors that caused the occurrence of high accidents per population were factors related to drivers or human factors, where the dominant violation was a violation of the speed limit. By knowing that the main factor of accidents is the human element, the policies taken to overcome this are policies related to humans, namely community policing.Keywords: Police Community, Traffic Violations, Traffic Accidents  AbstrakAda tiga fungsi inti polisi; penegakan hukum, pemeliharaan pesanan, dan layanan kepada komunitas atau layanan publik. Salah satu bagian dari fungsi penegakan hukum adalah mencegah dan mengatasi pelanggaran lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas memiliki dampak yang besar dan merugikan, dan ini adalah salah satu dari banyak indikator keberhasilan polisi. Kecelakaan lalu lintas sering disebabkan oleh pengemudi yang tidak mematuhi aturan, sehingga membahayakan diri mereka sendiri atau orang lain. Selain pelanggaran oleh pengemudi, hal lain yang menjadi faktor terjadinya kecelakaan lalu lintas adalah kualitas jalan, kesalahan manusia, dan kelayakan kendaraan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan arah kebijakan pemolisian masyarakat dalam menangani pelanggaran lalu lintas, dan upaya untuk mengembangkan model pemolisian masyarakat dengan memperhatikan partisipasi publik dan peran polisi dalam mencegah pelanggaran lalu lintas. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa faktor signifikan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan tinggi per populasi adalah faktor yang berhubungan dengan faktor pendorong atau manusia, dimana pelanggaran dominan adalah pelanggaran batas kecepatan. Dengan mengetahui bahwa faktor utama kecelakaan adalah unsur manusia, kebijakan yang diambil untuk mengatasinya adalah kebijakan yang terkait dengan manusia, yaitu pemolisian masyarakat.Kata kunci: Komunitas Polisi, Pelanggaran Lalu Lintas, Kecelakaan Lalu Lintas АннотацияСуществуют три основные функции полиции: правоохранительные органы, сохранение порядка и обслуживание населения или общественных служб. Одна из функций правоохранительных органов - это предотвращение и преодоление нарушений правил дорожного движения. Дорожные происшествия оказывают большое и пагубное влияние и являются одним из многих показателей успеха работы полиции. Дорожные происшествия часто вызваны водителями, которые не подчиняются правилам, поэтому они подвергают опасности себя или других. Помимо нарушений со стороны водителей, другим факторами, которые становятся причинами дорожных происшествий, являются качество дороги, человеческая ошибка и качество автомобиля. Цель этого исследования состояла в том, чтобы определить направление политики Совместной Охраны Порядка (Community Policing) в борьбе с нарушениями правил дорожного движения и усилия по разработке моделей Совместной Охраны Порядка, уделяя внимание участию общественности и роли полиции в предотвращении нарушений правил дорожного движения. Полученные результаты показывают, что значительными факторами, которые стали причиной большого количества аварий на одного человека, были факторы, связанные с водителями или человеческими факторами, где доминирующим нарушением было нарушение ограничения скорости. Так как основным фактором является человеческий, меры, предпринимаемые для его преодоления, являются мерами, связанными с людьми, а именно с Совместной Охраной Порядка.Ключевые слова: Полицейское сообщество, Нарушение правил дорожного движения, Дорожные происшествия  
The Role of Regional Heads in Corruption Crime in Klaten Regency Muhammad Dimas Rizqi; Achmad Nurmandi; Dian Eka Rahmawati
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i2.14854

Abstract

AbstractThe administrators of the state should be obliged to carry out their duties with a sense of responsibility and do not commit disgraceful acts, without strings attached either for personal, family, crony or group interests and do not expect compensation in any form that is contrary to the provisions of the legislation in force. However, Sri Hartini as the state organizer as the Regent of Klaten did it against the law. For this reason, the purpose of this research is how is the role of Sri Hartini as the Regent of Klaten Related to Corruption in Klaten Regency. This research uses descriptive qualitative research methods and data analysis techniques using the Nvivo 12 Plus software and secondary data sources from the Putusan Mahkamah Agung Nomor 55/PID.SusTPK/2017/PN.SMG. And the result is that Sri Hartini's role as a state organizer as Klaten Regent has a very dominant role in committing criminal acts of corruption, gratuity, bribery, and abuse of authority with the new SOTK changes in the Klaten District Government Environment. This can be proven by the percentage generated from the analysis using Nvivo 12 Plus, namely Gratification with a percentage of 35.27%, Network with a percentage of 45.95%, Bribery with a percentage of 38.08%, and Abuse of authority with a percentage of 37.82%.Keywords: Regents, Corruption, Gratification, Bribery, Abuse of Authority AbstrakPenyelenggara negara seharusnya berkewajiban untuk melaksanakan tugas dengan rasa tanggung jawab dan tidak melakukan perbuatan tercela, tanpa pamrih baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni maupun kelompok dan tidak megharapkan imbalan dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun, Bupati Klaten sebagai penyelenggara negara melakukan yang bertentangan dengan hukum. Untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana peran Bupati Klaten terkait tindak Pidana Korupsi di daerahnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualititatif dan teknik analisis data menggunakan Software Nvivo 12 Plus serta sumber data sekunder dari Putusan Mahkamah Agung dengan Nomor 55/PID.SusTPK/2017/PN.SMG. Hasil penelitian menyatakan bahwa Bupati Klaten sebagai penyelenggara negara memiliki peran yang sangat dominan dalam melakukan tindak pidana korupsi, gratifikasi, suap, dan menyalahgunaan wewenang dengan adanya perubahan SOTK yang baru di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Klaten. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya presentase yang dihasilkan dari analisis menggunakan Nvivo 12 Plus, yakni Gratifikasi dengan presentase 35.27%, Jejaring dengan presentase 45.95%, Suap dengan presentase 38.08%, dan Penyalahgunaan wewenang dengan presentase 37.82%.Kata Kunci: Bupati, Korupsi, Gratifikasi, Suap, Penyalahgunaan Wewenang. АннотацияГосударственные служащие должны выполнять свои обязанности ответственно и не совершать противоправных актов, без скрытых мотив в личных, семейных, дружеских или групповых интересах и не ожидать какой-либо компенсации, противоречащей постановлениям положений действующих законов. Однако регент Klaten как государственный служащий нарушил этот закон. По этой причине целью данного исследования является определение роли Регента Klaten по отношению к коррупции в его районе. В этом исследовании используются описательные качественные методы исследования и методы анализа данных с использованием программного обеспечения NVivo 12 Plus, а также вторичные источники данных из Постановления Верховного Суда № 55/PID.SusTPK/2017/PN.SMG. Результаты исследования показали, что Регент Klaten как государственный служащий играл очень доминирующую роль в совершении коррупционного преступления, денежного предоставления, взяточничества и злоупотребления властью с новыми изменениями SOTK в Правительстве Регентства Klaten. Это может быть доказано процентом, полученным в результате анализа с использованием Nvivo 12 Plus, а именно: денежное предоставление - 35,27%, использование личных связей и знакомств - 45,95%, взяточничество - 38,08% и злоупотребление властью - 37,82%.Ключевые слова: Регент, коррупция, денежное предоставление, взятка, злоупотребление властью.
Economy, Law, and Politics; Choudhury’s Theories and Fundamental Utopia JM Muslimin
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i2.16665

Abstract

Abstracts Masudul Alam Choudhury agrees that fundamental thinking to construct a new knowledge base is needed when scientific and social conditions tend to be closed and monopolistic. The construction is expected to be able to dismantle the structural veil to find an alternative foundation and format that can be expected to realize social justice. For this reason, law, economics, and social paradigm can be effective instruments. In contrast to Choudhury, Karl Marx emphasized the existence of a new, rational-material awareness that dimensioned an economic struggle based on class consciousness, historical dialectics, and materialism as the choice of objectives above. This awareness can be grown contextually, by moving the oppressed to demand equality. So the legal, economic, and political foundations can change. While Choudhury focuses more on the transcendental dimension of the divine (tauhid paradigm) which is interpreted comprehensively and totally to dismantle the legal, economic, and social order. Thus, the legal, economic, and political infrastructure rests on fairness and productivity that remains competitive. The values that are in the divine foundation are arranged in the building of law and ethics (morals) to be integrated into the institution towards the desired reconstruction. However, Choudhury’s ideas remain normative and fail to be translated. It is too utopian. Keywords: historical-dialectical materialism, usury, exploitation, monotheism paradigm. AbstrakMasudul Alam Choudhury sependapat bahwa pemikiran fundamental untuk membangun basis pengetahuan baru diperlukan ketika kondisi ilmiah dan sosial cenderung tertutup dan monopolistik. Pembangunan tersebut diharapkan mampu membongkar kerudung struktural untuk menemukan alternatif pondasi dan format yang diharapkan dapat mewujudkan keadilan sosial. Oleh karena itu, paradigma hukum, ekonomi, dan sosial dapat menjadi instrumen yang efektif. Berbeda dengan Choudhury, Karl Marx lebih menekankan adanya kesadaran material rasional baru yang berdimensi perjuangan ekonomi berdasarkan kesadaran kelas, dialektika historis dan materialisme sebagai pilihan tujuan di atas. Kesadaran ini bisa ditumbuhkan secara kontekstual dengan menggerakkan kaum tertindas untuk menuntut kesetaraan. Jadi landasan hukum, ekonomi dan politik bisa berubah. Sedangkan Choudhury lebih menitikberatkan pada dimensi transendental ketuhanan (paradigma tauhid) yang dimaknai secara komprehensif dan menyeluruh untuk membongkar tatanan hukum, ekonomi dan sosial. Dengan demikian, infrastruktur hukum, ekonomi dan politik bertumpu pada keadilan dan produktivitas yang tetap kompetitif. Nilai-nilai yang ada dalam landasan ketuhanan ditata dalam bangunan hukum dan etika (akhlak) untuk diintegrasikan ke dalam institusi menuju rekonstruksi yang diinginkan. Namun, ide Choudhury tetap normatif dan gagal diterjemahkan. Itu terlalu utopis.Kata kunci: Materialisme Historis-Dialektik; Riba; Eksploitasi; Paradigma Tauhid АннотацияМасудул Алам Чоудхури согласен с тем, что фундаментальное мышление необходимо для создания новой базы знаний, когда научные и социальные условия имеют тенденцию быть закрытыми и монополистическими. Ожидается, что создание такой базы сможет демонтировать структурную завесу и найти альтернативные основы и форматы, которые, как ожидается, позволят реализовать социальную справедливость. Следовательно, правовая, экономическая и социальная парадигмы могут быть эффективными инструментами. В отличие от Чоудхури, Карл Маркс больше подчеркивал существование нового рационального материального сознания с измерениями экономической борьбы, основанными на классовом сознании, исторической диалектике и материализме как на выбранных выше целях. Это осознание можно усилить в контексте, мобилизуя угнетенных на требование равенства. Так что правовая, экономическая и политическая основы могут измениться. Между тем, Чоудхури больше сосредотачивается на трансцендентном измерении божественности (парадигма таухид – божественное единство), которая интерпретируется всесторонне и тщательно, чтобы разрушить правовой, экономический и социальный порядок. Таким образом, правовая, экономическая и политическая инфраструктура опирается на справедливость и производительность, которые остаются конкурентоспособными. Ценности, которые существуют в божественном основании, изложены в правовом и этическом (ахлакском) здании для интеграции в учреждения для желаемой реконструкции. Однако идеи Чоудхури оставались нормативными и не претворялись в жизнь. Это слишком утопично.Ключевые Слова: Историко-Диалектический Материализм; Ростовщичество; Эксплуатация; Парадигма Таухид
Reconstruction of Political Party Membership In the Indonesian House of Representatives Dwi Putri Cahyawati; Bintan Saragih
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i2.16506

Abstract

Abstract:The House of Representatives (DPR) is an embodiment of the provisions of Article 1 Paragraph (2) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. Sociologically, the existence of the DPR as people's representatives is a mandate from all Indonesian people that must be carried out. In Indonesian constitutional practice, the role of the DPR as a people's representative institution is manifested in the form of a faction, which is an extension of the political parties and DPR institutions. The faction was formed to optimize the functions, duties, and powers of the DPR. This study uses a qualitative research method with a statutory approach. The data recorded is the result of the author's research in the form of literature collection and interviews with several related parties. The results showed that the membership of political parties in the DPR towards the existence of the DPR as the implementer of the people's sovereignty did not show any connection between one another. The existence of political party membership and DPR membership are two different things that have no juridical relevance.Keyword: DPR, Political Party, General Election Abstrak:Dewan Perwakilan Rakyat (selanjutnya disebut DPR) merupakan lembaga perwakilan rakyat, yang merupakan perwujudan dari ketentuan Pasal 1 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Secara sosiologis keberadaan DPR sebagai wakil rakyat merupakan amanat dari seluruh rakyat Indonesia yang harus dijalankan. Dalam praktek ketatanegaraan Indonesia, peran DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat diwujudkan dalam bentuk fraksi, yang merupakan perpanjangan tangan partai politik dan lembaga DPR. Fraksi dibentuk dengan maksud untuk mengoptimalkan   fungsi, tugas, dan wewenang DPR. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan. Data yang didata merupakan hasil riset penulis dalam bentuk pengumpulan literature dan wawancara kepada beberapa pihak terkait. Hasil penelitian menunjukan bahwa keanggotaan partai politik di DPR terhadap eksistensi DPR sebagai pelaksana kedaulatan rakyat ternyata tidak menunjukkan adanya keterkaitan antara satu dengan yang lain. Adanya keanggotaan partai politik dan keanggotaan DPR merupakan dua hal berbeda yang tidak memiliki relevansi secara yuridis.Keyword: DPR, Partai Politik, Pemilu Аннотация:Палата представителей - это учреждение представителей народов, которое является реализацией положений в статьях 1 пункт (2) Конституции государства Республики Индонезии от 1945 года. Существование DPR в качестве представителя народа является социологически мандатом от всего народа Индонезии, который должен быть выполнен. В практике государственного управления в Индонезии, роль DPR как учреждения представителя народов проявляется в виде фракции, которая является продолжением политических партий и DPR. Фракция была сформирована с целью оптимизации функций, обязанностей и полномочий DPR. Данное исследование использует качественный метод с подходом нормативных актов. Полученные данные являются результатом исследования автора в виде сбора литературных материалов и интервью с несколькими связанными сторонами. Результаты исследования показали, что не существует какой-либо связи между членством в политической партии в DPR и наличием DPR как исполнителем суверенитета народов. Членство в политической партии и членство в DPR это две разные вещи, которые не имеют отношения к юридической стороне.Ключёвые Слова: DPR, Политическая Партия, Всеобщие Выборы
Conceptualization and Problems in the Implementation of Fostered Children's Health Services to Support the Progressiveness of the Child Criminal Justice System in Tangerang Children's Penitentiary Alfitra Alfitra; Ali Mansur
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i1.15039

Abstract

Abstract:The existence of new thoughts rergarding on the fostering function becomes more than an entrapment, but also functioned on social rehabilitation and reintegration of prison-assisted children system that has long been known called a penal system. Protection of children in all activities is conducted to guarantee and protect their rights so they can live, grow, develop and participate optimally according to human dignity and get the protection from violence and discrimination. Although various improvements have been conducted regarding the criminal management for children in prison, such as conditional criminal punishment, parole, and special prosecution institutions, but basically the nature of the penalties and child health services still departs from the principle and the prison system. For this reason, efforts should be made to ensure that youngsters behave according to the existed norms. To achieve this goal, those efforts are required to foster, maintain and improve the welfare of children. This study uses qualitative research method with empirical-normative approach. The result of the study shows that the system of imprisonment and guidance based on Law Number 12 of 1995 concerning Penitentiary, which is accompanied by an institution "prison house", are gradually seen as a system and media that are no longer suitable to the concept of rehabilitation and social reintegration. Hence, the child prisoners cannot be directed to have an awareness for not commiting a crime, and back as a good citizen and responsible for themselves.Keywords: Child Criminal Justice System, Fostered Children's Health Services, Tangerang Abstrak:Adanya pemikiran-pemikiran baru mengenai fungsi pembinaan yang tidak lagi sekedar penjeraan, tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial terhadap anak warga binaan pemasyarakatan yang telah melahirkan suatu sistem pembinaan yang sejak lama dikenal dan dinamakan dengan sistem pemasyarakatan. Perlindungan anak dalam segala kegiatan dilakukan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya, agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Walaupun telah diadakan berbagai perbaikan mengenai tatanan sel-sel pemidanaan terhadap anak di lembaga pemasyarakatan, seperti pranata pidana bersyarat, pelepasan bersyarat, dan pranata khusus penuntutan, namun pada dasarnya sifat pemidanaan dan pelayanan kesehatan anak masih bertolak dari azas dan sistem pemenjaraan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan pendekatan normatif empiris. Hasil penelitian menyatakan bahwa sistem pemenjaraan dan pembinaan yang dilakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang Lembaga Pemasyarakatan, yang disertai dengan lembaga “rumah penjara” secara beransur-ansur dipandang sebagai suatu sistem dan sarana yang tidak lagi sejalan dengan konsep rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Sehingga narapidana anak belum dapat diarahkan untuk dapat sadar agar tidak melakukan kejahatan atau tindak pidana, dan dapat kembali menjadi warga masyarakat yang baik dan bartanggungjawab bagi dirinya sendiri.Kata Kunci: Sistem Peradilan Pidana Anak, Layanan Kesehatan Anak Asuh, Tangerang Аннотация:Существование новых мыслей, касающихся функции воспитания, которая становится не только средством устрашения, но также и попыткой социальной реабилитации и реинтеграции детей, получающих помощь в тюрьме, порождает систему сопровождения, которая давно известна и называется пенитенциарной системой. Защита детей во всех видах деятельности, направленной на то, чтобы гарантировать и защищать детей и их права, с тем чтобы они могли оптимально жить, расти, развиваться и участвовать в жизни в соответствии с достоинством человека и получить защиту от насилия и дискриминации. Хотя были сделаны различные улучшения в отношении уголовных мер для детей в тюрьмах, таких как условные преступные учреждения, условно-досрочное освобождение и специальные органы прокуратуры, но в основном характер наказаний и служб зравоохранения детей все еще отходит от принципа пенитенциарной системы.  В этом исследовании применялся качественный метод исследования с эмпирическим нормативным подходом. Результаты исследования показали, что система тюремного заключения и сопровождения, основанная на Законе № 12 1995 года о Пенитенциарных Учреждениях, который сопровождался учреждением "тюремного дома", постепенно рассматривалась как система и средства, которые больше не подходят для концепции реабилитации и социальной реинтеграции. Следовательно, дети-заключенные пока не могут быть направлены к осознанию того, что они не совершат преступления и вернутся в качестве добропорядочного гражданина и будут нести ответственность за себя.Ключевые слова: Система уголовного правосудия несовершеннолетного преступника, Служба зравоохранения по воспитанникам детских домов, Тангеранг
Problematic Issuance of Land Rights Certificate Moh Ali Wafa
Jurnal Cita Hukum Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v5i2.7089

Abstract

Many people who have not registered ownership rights so that they have no protection andlegal certainty due to several factors: First, factor of land ownership history. Second,community psychology. Third, weakness of land registration rules. Fourth, executorimplementation, intervention BPHTB legislation and other fees. Fifth, the mechanism ofregistration of land is too expensive for the community both procedure and registration fee.The Solution and effort to minimize the occurrence of land disputes society are: first, bypreventing the land dispute case is not repeated. Second, the government immediatelysocialize what and how the issuance of land certificates and the purpose of certificates. Third,If there is dispute in the court that the object is not certified land, the court notifies the urbanvillage and local BPN to block the transaction or the transition of the land immediately. Fourth,each transaction or transition of land with proof of ownership in the form of girik, the witness inthe transaction should be the Village Head and the BPN officer, and fifth, it is better if there island dispute in the court, at least one judge from land law expert, such as non-academicjudges (academics). DOI: 10.15408/jch.v5i2.7089
Государственное регулирование закупок учебного оборудования и инфраструктуры в школах (Government Regulation in the Procurement of Teaching Facilities and Infrastructures in Schools) Zaharah Zaharah; Galia Ildusovna Kirilova
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i1.14621

Abstract

AbstractEducational policy is the key to excellence, even a form of nation-state existence in global competition. Educational policy is understood as part of public policy in the field of education, aimed at achieving the development goals of the country and nation. While the facilities and infrastructure owned by schools are a supporting factor for the implementation of school programs, especially learning activities carried out by teachers. The purpose of this article is to analyze how the actual government regulations in terms of procurement of facilities and infrastructure in the field of education, because there are also many schools that are located in the regions or in the interior are very minimal with the infrastructure they have. This is due to the disobedience of the school principals or the head of the education office regarding the regulations of the local and central government so that they do not dare to submit the needs of the school, especially in terms of procurement of school facilities and infrastructure. Resulting in very minimal schools with the facilities and infrastructure needed. The method used in writing this article is a descriptive analysis method using literature data literature. The results and conclusions obtained state that government regulations in the provision of facilities and infrastructure in the field of education are listed in ministerial regulation number 24 of 2007 which states that the National Education Standards on Facilities and Infrastructure can optimize the procurement, distribution, inventory, maintenance, storage and elimination of facilities and educational infrastructure. Therefore, the role of government is needed to support the provision of facilities and infrastructure in schools or in educational institutions.Keywords: Government Regulation, Infrastructure Facilities Abstrak Kebijakan pendidikan merupakan kunci bagi keunggulan, bahkan merupakan wujud eksistensi negara-bangsa dalam persaingan global. Kebijakan pendidikan dipahami sebagai bagian dari kebijakan publik di bidang pendidikan, yang ditujukan untuk mencapai tujuan pembangunan negara dan bangsa. Sedang sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah merupakan faktor pendukung terlaksananya program sekolah, khususnya kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Adapun tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisis bagaimana regulasi pemerintah sebenarnya dalam hal pengadaan sarana dan prasarana di bidang pendidikan, karena banyak juga terlihat sekolah- sekolah yang berada di daerah ataupun di pedalaman sangat minim dengan sarana prasarana yang mereka miliki. Hal ini disebabkan karena ketidaktauan para kepala sekolah ataupun kepala dinas pendidikan tentang regulasi pemerintah daerah dan pemerintah pusat sehingga mereka tidak berani untuk mengajukan keperluan sekolah khususnya dalam hal pengadaan sarana dan prasarana sekolah. Sehingga mengakibatkan sekolah-sekolah sangat minim dengan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode deskriptif analisis dengan menggunakan literatur data kepustakaan. Hasil dan kesimpulan yang didapat menyatakan bahwa regulasi pemerintah dalam hal pengadaan sarana dan prasarana di bidang pendidikan tercantum dalam peraturan menteri nomor 24 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa Standar Nasional Pendidikan tentang Sarana dan Prasarana dapat mengoptimalkan pengadaan, penyaluran, inventarisasi, pemeliharaan, penyimpanan dan penghapusan sarana dan prasarana pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan peran pemerintah untuk mendukung pengadaan sarana dan prasarana di sekolah atau di lembaga pendidikan.Kata Kunci: Regulasi Pemerintah, Sarana Prasarana Аннотация  Образовательная политика является ключом к совершенству, даже формой существования государства в глобальной конкуренции. Образовательная политика понимается как часть государственной политики в области образования, направленной на достижение целей развития нации и страны. Оборудование и инфраструктура, принадлежащие школам, являются вспомогательным фактором для реализации  школьных программ, особенно учебных мероприятий, проводимых учителями. Целью данной статьи является анализ того, как исполняются фактические государственные нормативные акты в области обеспечения оборудованием  и инфраструктурой в области образования, поскольку многие школы расположенные в отдаленных  районах региона, имеют слабо развитую инфраструктуру. Это связано с невыполнением директорами школ или главами управления образования правил местного и федерального правительств, с тем чтобы они не осмелились представить потребности школы, особенно с точки зрения приобретения школьных помещений и инфраструктуры. В результате многие  школы не имеют необходимого оборудования и инфраструктуры. Метод, используемый при написании этой статьи, представляет собой метод анализа на основе использования данных литературы. Полученные результаты и сделанные заключения показывают, что правительственные нормативные акты в области обеспечения оборудованием и инфраструктурой в области образования перечислены в министерском постановлении No 24 от 2007 года, в котором говорится, что Национальные образовательные стандарты оборудования и инфраструктуры могут оптимизировать закупки, распределение, инвентаризацию, техническое обслуживание, хранение и списание оборудование и образовательной инфраструктуры. Поэтому государство необходимо для поддержки обеспечения объектов и инфраструктуры в учебных заведениях школ.Ключевые слова: Государственное регулирование, инфраструктура, объекты
The Institutional Renewal in Settlement of Disputes of Local Election Results Heru Widodo
Jurnal Cita Hukum Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v6i2.8690

Abstract

Abstract. Since the first step of local election in 2015, the authority of adjudicating a dispute of local election’s result has been run by The Constitutional Court (MK) until a special judicial board before the national election held. An ideal design of the institutional renewal to adjudicate a controversy of local election’s result, could be a part of judicial environment under The Supreme Court (MA) supervision, or may becomes a new institution or replaces another institution by attaching to the authorized institution, named: Bawaslu, PT TUN or MK. Bawaslu was become the one of the institution which fulfills the requirements. Started from a legislative election on 2014, Bawaslu has an authority of resolving a dispute among the candidates of general election or between the candidates and the committee. And since the national election in the year 2017, Bawaslu has given the authorization to settle up an administrative violation, a conflict of local election and to handle a money politics through TSM. The authority of the dispute court of election results is proposed not only on the controversy over the calculation result, but also including unreachable legal phenomenon with law enforcement on criminal system and stage of election dispute, as an inseparable part.Keywords: institutional renewal, dispute result, national election.Abstrak. Sejak pemilihan serentak tahap pertama tahun 2015, wewenang mengadili sengketa hasil pemilukada dijalankan Mahkamah Konstitusi sampai dibentuk badan peradilan khusus sebelum pelaksanaan pemilihan serentak nasional. Disain pembaharuan kelembagaan yang ideal untuk mengadili sengketa hasil pemilukada serentak, dapat menjadi bagian dari lingkungan peradilan dibawah Mahkamah Agung, dapat pula menjadi lembaga baru ataupun mereposisi lembaga dengan cara melekatkan pada lembaga yang saat ini berwenang menyelesaikan sengketa pemilihan, yakni : Bawaslu, PT TUN atau MK. Bawaslu menjadi salah satu pilihan lembaga yang memenuhi persyaratan. Sejak Pemilu Legislatif 2014, Bawaslu berwenang menyelesaikan sengketa antarpeserta pemilu maupun antara peserta dengan penyelenggara, dan sejak Pemilukada Serentak 2017, bahkan diberi wewenang memutuskan pelanggaran administrasi, sengketa pemilukada sampai penanganan politik uang (money politics) secara TSM. Kewenangan peradilan sengketa hasil pemilihan diusulkan tidak hanya atas perselisihan atas hasil perhitungan, tetapi memasukkan peristiwa hukum yang tidak terjangkau dengan penegakan hukum dalam sistem pidana dan tahap sengketa pemilihan, sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Kata kunci : pembaharuan kelembagaan, sengketa hasil, pemilukada serentak
Offences and Procedures in the Iranian and United State Capital Markets Mahdi Ashourzadeh Chakusari; Mohsen Shekarchi Zadeh; Gholamhossein Masoud
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i2.15491

Abstract

Abstract Economic development in today's societies has provided the bad for the development of economic offences and consequently. Today, one of the simplest and sometimes safest ways to make money can be an investment in the field of the stock exchange. Investing personal money through investment in the economic cycle has helped the economic cycle a lot and has prevented inflation and stagnation in this cycle and on the other hand. It has provided conditions for some offences. The stock exchange can be a good platform to commit classic offences such as the betrayal of trust, theft and fraud and also can ease offences such as different types of fraud, cybercrimes and so on. Therefore, the governments have always thought about controlling and protecting the capital and the investors to prevent the chaos in the stock exchange and consequently, the economy of the society. The actions of activists in the capital market, which are against the principles and regulations of the market can be classified into 3 groups: 1. Regulative offences 2. Disputes 3. Offences. The occurrence of any of these acts is inevitable and can pave the way for distort of regulation and the security of governor on the investment activities of the states. Therefore, this study has attempted to consider the abovementioned issues as much as possible in Iran and US countries. Then, the study tends to analyze and investigate the supervising officials and tends, at last, to present types of lawsuits and procedures for them in the field of the stock exchange.Keywords: Stock Exchange, Exchange Crimes, Exchange Offences, Exchange Offence Investigation AbstrakPerkembangan ekonomi di masyarakat saat ini telah memberikan dampak buruk bagi perkembangan pelanggaran ekonomi dan akibatnya. Saat ini, salah satu cara paling sederhana dan terkadang teraman untuk menghasilkan uang adalah dengan berinvestasi di bidang bursa saham. Menginvestasikan uang pribadi melalui investasi dalam siklus ekonomi telah banyak membantu siklus ekonomi dan telah mencegah inflasi dan stagnasi dalam siklus ini dan sebaliknya. Ini telah memberikan kondisi untuk beberapa pelanggaran. Bursa saham dapat menjadi platform yang baik untuk melakukan pelanggaran klasik seperti pengkhianatan kepercayaan, pencurian dan penipuan dan juga dapat meringankan pelanggaran seperti berbagai jenis penipuan, kejahatan dunia maya dan sebagainya. Oleh karena itu, pemerintah selalu memikirkan untuk mengontrol dan melindungi modal dan investor untuk mencegah terjadinya kekacauan di bursa efek dan akibatnya, perekonomian masyarakat. Tindakan para pegiat pasar modal yang bertentangan dengan prinsip dan ketentuan pasar dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok: 1. Tindak pidana regulasi 2. Sengketa 3. Pelanggaran. Terjadinya salah satu tindakan ini tidak dapat dihindari dan dapat membuka jalan bagi distorsi regulasi dan keamanan gubernur atas kegiatan investasi negara. Oleh karena itu, studi ini berusaha untuk sedapat mungkin mempertimbangkan masalah-masalah tersebut di atas di negara-negara Iran dan AS. Kemudian, studi ini cenderung menganalisis dan menyelidiki aparat pengawas, dan pada akhirnya cenderung menyajikan jenis-jenis tuntutan dan tata cara di bidang bursa.Kata Kunci: bursa efek, kejahatan bursa, delik pertukaran, investigasi tindak pidana bursa АннотацияТекущее экономическое развитие в обществе негативно сказалось на развитии экономических нарушений и их последствий. Сегодня один из самых простых и иногда самых безопасных способов заработать деньги - это инвестировать в фондовую биржу. Вложение личных денег посредством инвестирования в экономические циклы  помогло экономическим циклам и предотвратило инфляцию и стагнацию в них, и наоборот. Это создало условия для совершения нескольких преступлений. Фондовая биржа может быть хорошей платформой для совершения классических преступлений, таких как обман доверия, кража и мошенничество, а также может смягчать такие преступления, как различные виды мошенничества, киберпреступность и т. д. Поэтому правительство всегда думает о контроле и защите капитала и инвесторов, чтобы предотвратить хаос на фондовой бирже и, как следствие, защитить народную экономику. Действия участников рынка капиталов, противоречащие рыночным принципам и нормам, можно разделить на 3 группы: 1. Нормативные преступления 2. Споры 3. Нарушения. Совершение одного из этих действий неизбежно и может приводить к регулирующим и безопасным действиям губернатора для инвестиционной деятельности страны. Таким образом, данное исследование направлено на то, чтобы как можно больше рассмотреть эти проблемы в Иране и США. Затем в этом исследовании анализируется и исследуется надзорный аппарат, и, наконец, представлены типы требований и процедуры в области фондовой биржи.Ключевые слова: Фондовая биржа, биржевое преступление, обменное преступление, расследование биржевого преступления.
The Eradication Concept of Illegal Fishing In Keeping The Security And State Sovereignty In The Fisheries: The International And National Legal Perspective of Indonesia Muhammad Risnain
Jurnal Cita Hukum Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v5i1.4120

Abstract

Illegal fishing, not only has an adverse impact on the economy, ecology and social, but also on the larger issue of state sovereignty. Therefore, a legal policy concept that ensures the protection of state sovereignty and the realization of sustainable fisheries development is required. Illegal fishing eradication policy in the legal system in Indonesia has been done through the establishment of various laws and regulations, legally providing legitimacy for the government and law enforcement in eradicating Illegal fishing. However, it has not been maximum to ensure sustainable fisheries development due to incomplete policies and the establishment of a fishery court that has not been effective yet as a special court to solve criminal offenses in the field of fisheries. Therefore, it is necessary the concept of eradicating illegal fishing that can realize sustainable fisheries development and maintain the sovereignty of the state in the future with the concept of legislation to eradicate illegal fishing.  Penangkapan ikan secara melawan hukum (illegal fishing), tidak saja berdampak buruk terhadap ekonomi, ekologi, dan sosial, tetapi pada persoalan yang lebih besar yaitu kedaulatan negara. Oleh karena itu diperlukan sebuah konsep kebijakan hukum yang dapat menjamin terlindunginya kedaulatan negara dan tewujudnya pembangunan perikanan berkelanjutan. Terdapat  dua permasahalan pokok dalam penelitian ini : pertama, apakah kebijakan pemberantasan Illegal  fishing  dalam sistem hukum di Indonesia yang berlaku saat ini  dapat menjamin pembangunan perikanan berkelanjutan ?kedua, bagaimanakah konsep pemberantasan illegal fishing  yang dapat mewujudkan pembangunan perikanan berkelanjutan dan menjaga kedaulatan negara pada masa yang akan datang ?    Hasil analisis penelitian ni menunjukkan bahwa, pertama, Kebijakan pemberantasan Illegal  fishing  dalam sistem hukum di Indonesia saat ini telah dilakukan melalui pembentukan berbagai peraturan perundang-undangan yang mengandung dua aspek penting yaitu;  pertama, kebijakan kriminalisasi perbuatan illegal fishing dalam undang-undang nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan maupun dalam undang-undang Undang-undang Nomor 45 tahun 2009 tentang perubahan atas undang-undang nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang No. 56/PERMEN-KP/2014 tentang Penghentian Sementera (Moratorium) Perizinan Usaha Perikanan Tangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Negara Republik Indonesia secara hukum memberikan legitimasi bagi pemerintah dan penegak hukum dalam pemberantasan Illegal fishing, namun belum maksimal dapat menjamin pembangunan perikanan berkelanjutan karena kebijakan yang belum komprehensif dan , pembentukan pengadilan perikanan yang hingga kini belum efektif sebagai pengadilan khusus untuk menyelesaikan tindak pidana di bidang perikanan. Kedua, Konsep pemberantasan illegal fishing  yang dapat mewujudkan pembangunan perikanan berkelanjutan dan menjaga kedaulatan negara pada masa yang akan datang adalah konsep legislasi pemberantasan illegal fishing. Arah kebijakan pemberantasan illegal fishing ke depan yang dapat menjaga kedaulatan negara di bidang perikanan adalah dengan pengaturan dalam satu undang-undang tersendiri tentang pemberantasan illegal fishing.Penelitian ini menyarankan beberapa rekomendasi, pertama,untuk menjamin bahwa kebijakan pemberantasan illegal fishing yang komprehensif dan dapat menjaga kedaulatan dan keamanan negara maka Presiden RI  dan DPR RI dapat menggunakan hak inisiatifnya untuk mengajukan RUU pemberantasan illegal fishing (RUU pemberantasan Tindak Pidana Perikanan) sebagai bagian dari program legislasi nasional pada 2015-2019. Kedua, Dalam proses pembahasan RUU illegal fishing (RUU pemberantasan Tindak Pidana Perikanan) terdapat beberapa aspek-aspek yang dapat dipertimbangkan untuk diatur yaitu aspek kelembagaan, mekanisme kerjasama antar lembaga, pembentukan satuan tugas (satgas) tetap dan lain-lain yang dianggap perlu untuk mendukung sistem pemberantasan illegal fishing.   ABSTRACT The impact of illegal fishing not only negative effect for economy, ecology, social but also about state soverignty. For this problem need new legal concept that can guarantine for protection of state sovereignty and fisheries sustainable development. There are two problems of this research ; first, whether the policy of eradiction of illegal fishing under Indonesian law can guaranted and sustainable development fishires ? second, how the concept for  eradicting  of illegal fishing for soverignty of state and sustainable fishiers development in next ?The result of analyses showed that first, eradiction of Illegal  fishing policy in Indonesian law throught legislate varies laws which contains two aspects ; first, criminalization of illegal fishing  and formulation of fishires court by act no. 31 /2004 amended throught act no. 45/2009.Second, the concept eradiction illegal fishing that could realization sustainable fisheries development and state sovereignty in next time is legislation of illegal fishing eradiction trhought solely law about eradiction of legal fishing.This research recommended several recommendation, first, house of representative and president of republic of Indonesia initiating to include draft of act about eradiction of illegal fishing in the national legislation program 2015-2019. Second, there are several aspects will be regulate in this draf of act, institutionalization, cooperation between institution, etc. DOI: 10.15408/jch.v5i1.4120