cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 46 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3 (2016)" : 46 Documents clear
Hubungan antara Kadar Troponin T dengan Luas Infark Miokard yang Diukur dengan Menggunakan Metode Skoring QRS Selvester pada Pasien Infark Miokard Akut Muhammad Lingga Primananda; Masrul Syafri; Malinda Meinapuri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.562

Abstract

AbstrakDalam kriteria diagnosis IMA oleh WHO salah satunya apabila ditemukan peningkatan kadar enzim jantung. Troponin T merupakan salah satu enzim jantung yang akan meningkat apabila terjadi kerusakan sel miokardium. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara kadar Troponin T dan luas infark miokard yang diukur dengan metode skoring QRS Selvester. Ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang dilaksanakan dari Oktober 2013 sampai September 2014 di Subbagian Rekam Medis RS Khusus Jantung YJI Cabang Utama Sumatera Barat.  Analisis data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan p ≤ 0,05 jika bermakna.  Sampel penelitian adalah data rekam medis semua pasien dengan diagnosis IMA di RS Khusus Jantung YJI Cabang Utama Sumatera Barat periode Juli 2013 – Juni 2014 yang diambil dengan teknik total sampling. Penyeleksian data menghasilkan 81 data pasien dengan diagnosis IMA dan 37 data yang memiliki hasil pemeriksaan troponin T dan EKG. EKG digunakan untuk menentukan luas infark dengan menggunakan metode skoring QRS Selvester dengan hasil luas infark rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar Troponin T dengan luas infark pada pasien IMA dengan nilai p = 0,097 (p > 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara kadar Troponin T dan luas infark miokard.Kata kunci: troponin T, luas infark miokard, infark miokard akut, skoring QRS Selvester AbstractThe one of WHO criteria for the diagnosis of AMI is the elevated levels of cardiac enzymes. Troponin T is one of cardiac enzyme that will increase if  there is a myocardial cells damage. The objective of this study was to determine the correlation between troponin T level and myocardial infarction size that measured by using Selvester QRS scoring method. This research was an analytic research with cross sectional design that conducted in October 2013 to September 2014 in the sub-section of Medical Record of Khusus Jantung YJI Cabang Utama Sumatera Barat hospital. Analysis of the data was using the Kolmogorov-Smirnov test to determine the correlation with p ≤ 0.05 was significant. Samples of the research were medical record data of all patients with diagnosis of AMI in the Khusus Jantung YJI Cabang Utama Sumatera Barat hospital period July 2013 - June 2014 that were selected with a total sampling technique. The result of data selection was 81 patients with diagnosis of AMI and 37 data with the results of Troponin T and ECG Examination. ECG results were used to determine infarction size by using Selvester QRS scoring method with results low, medium, and high of infarction size. The results shown that there was no significant correlation between Troponin T level and myocardial infarction size with p value was 0.097 (p> 0.05). The conclusion of this research is there is no correlation between Troponin T level and myocardial infarction size.Keywords: troponin T, myocardial infarction size, acute myocardial infarction, Selvester QRS scoring
Hubungan Jumlah Komplikasi Kronik Dengan Derajat Gejala Depresi Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Poliklinik Rsup Dr. M. Djamil Padang Try Rahmi Lussii Karsuita; Eva Decroli; Delmi Sulastri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.600

Abstract

AbstrakKomplikasi akibat penyakit Diabetes Melitus (DM) dapat menyebabkan terjadinya perubahan psikologis, salah satunya adalah gejala depresi pada pasien DM. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan jumlah komplikasi kronik pada setiap derajat depresi pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional yang dilaksanakan dari Maret sampai Mei 2014 di Poliklinik RSUP Dr. M. Djamil Padang. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 76 pasien DM. Jumlah komplikasi kronik diketahui dengan melihat rekam medik pasien, sedangkan derajat gejala depresi dinilai dengan wawancara menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory (BDI) II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami gejala depresi sebanyak 27 orang (35,5%). Derajat gejala depresi normal atau minimal sebanyak 64,5%, derajat ringan sebanyak 27,6% dan derajat sedang sebanyak 7,9%. Gejala depresi pada responden dengan satu komplikasi sebesar 6,9%, dengan dua komplikasi 42,4%, dengan tiga komplikasi 88,8 % dan empat komplikasi sebesar 60%. Setelah dilakukan analisis dengan uji Kruskal Wallis didapatkan bahwa terdapat perbedaan rerata jumlah komplikasi kronik pada setiap derajat depresi pada pasien DM tipe 2 (p < 0,001).Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, gejala depresi, komplikasi kronikAbstractComplications due to diabetes disease can cause psychological changes, such as depression symptom. The objective of this study was to reveal the difference of the number of chronic complications on every single degree of depression in patients with type 2 diabetes. This was an analytic study that carried out from March to May 2014 in the polyclinic of RSUP Dr. M. Djamil Padang. The subject consisted of 76 diabetic patients. The number of chronic complications was identified by looking at the medical record of patients, whereas the degree of depressive symptom assessed by interview using a questionnaire BDI II. The results showed that respondents having depression symptom are made up by 27 people (35.5%). The amount of normal or minimal depression was 64.5%, mild depression is 27.6 %, and 7.9% for moderate depression. Depression symptoms on the respondents that having one complication is 6.9%, 42.4% for two complications, 88% for three complications and 60% for four complications. Kruskal Wallis test showed that there is the difference of the mean of chronic complication on every single degree of depression.Keywords: :type 2 diabetes mellitus, depression symptoms, chronic complications
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Cedera Ligamen Krusiat Anterior pada Atlet Cabang Olahraga Kontak Rurin Ardiyanti; Afriwardi Afriwardi; Nur Afrainin Syah
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.589

Abstract

AbstrakCedera Ligamen Krusiat Anterior (LKA) adalah trauma pada atlet yang memerlukan tindakan bedah dan berrisiko menjadi osteoartritis. Berbagai macam faktor dapat menyebabkan cedera LKA, seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) yang merupakan salah satu faktor risiko cedera LKA. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan IMT dengan cedera LKA. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional. Sampel adalah 271 atlet diambil dari seluruh cabang olahraga kontak di KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Jawa Timur. Data yang diperoleh berupa IMT dan kejadian cedera LKA pada atlet dalam 1 tahun, kemudian dianalisis dengan uji kemaknaan Fisher. Peneliti menemukan 7% (19 orang) mengalami cedera LKA. Penelitian ini menemukan bahwa presentase cedera LKA pada IMT tinggi (>24,9 kg/m2) dua kali lebih banyak dibanding pada IMT tidak tinggi (≤24,9 kg/m2), yaitu 12,5% dan 6,5%. Pada uji Fisher tidak ditemukan hubungan antara IMT dan cedera LKA (p>0,05).  Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat risiko cedera LKA pada atlet dengan IMT tinggi, namun tidak signifikan secara statistik. Banyak faktor risiko cedera LKA lainnya yang tidak dapat dikontrol melalui metodologi penelitian ini.Kata kunci: indeks massa tubuh, cedera ligamen krusiat anterior, atlet AbstractAnterior Cruciate Ligament (ACL) injuries are common on athletes that need surgical treatment and a risk to become osteoarthritis. There are many factors contributed to ACL injury. Body Mass Index (BMI) is one of ACL injury risk factor. The objective of this study was to determine the relationship between BMI and ACL injury. This was an observasional analitic study. The sample was 271 contact sport athletes at KONI East Java. Data about BMI and ACL injury on the athlete for 1 year was collected. The data then was analysed by Fisher test. There were 7% (19 persons) of athletes suffers from ACL injury. This study found that the proportion of ACL injury on athlete with high BMI (>24,9 kg/m2) was twice compared to athlete without high BMI (≤24,9 kg/m2), 12,5% and 6,3% respectively. The conclusion is the different is not significant statitically. This study showed that high BMI on athletes was a risk factor for ACL injury but not significant statistically.Keywords: body mass index, anterior cruciate ligament, athlete
Karakteristik Ibu pada Penderita Abortus dan Tidak Abortus di RS Dr. M. Djamil Padang Tahun 2011-2012 Resya I Noer; Ermawati Ermawati; Afdal Afdal
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.580

Abstract

AbstrakAbortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dengan batasan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan hubungan usia ibu, usia kehamilan, pekerjaan dan pendidikan terhadap kejadian abortus dan tidak abortus.  Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Populasi adalah rekam medik seluruh ibu hamil yang menjalani rawat inap di bagian Obstetri dan Ginekologi RS Dr. M. Djamil Padang sejak Januari 2011 sampai Desember 2012. Jumlah sampel sebanyak 272 orang yang diambil dengan teknik simple random sampling. Data diambil dengan cara melihat data sekunder dari rekam medis pasien dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat uji chi-square pada nilai p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian abortus tahun 2011-2012 adalah 5,83%. Ibu yang mengalami abortus lebih banyak berada di kelompok usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun, paritas lebih dari 3, pernah mengalami abortus sebelumnya, usia kehamilan kurang dari 12 minggu, tidak bekerja dan pendidikan terakhir SD, SLTP dan SLTA dibandingkan dengan ibu yang tidak mengalami abortus. Uji statistik menunjukkan bahwa usia ibu, usia kehamilan, pekerjaan dan pendidikan memengaruhi terjadinya abortus (p=0,035; p=0,000; p=0,002 dan p=0,043), sedangkan paritas dan riwayat abortus sebelumnya tidak memengaruhi terjadinya abortus (p=0,919 dan p=0,205).Kata kunci: usia ibu, paritas, riwayat abortus, usia kehamilan, pekerjaan ibu, pendidikan ibu, abortus AbstractAbortion is a pregnancy termination before the 20th completed week or weighing less than 500 gram. The objective of this study was to determine the relationship of the age, parity, history of previous abortion, gestational age, mother's occupation and education on abortion and without abortion. The design was comparative study with the cross sectional approach. The population was taken from the medical records of all pregnant women who is hospitalized at the Obstetric and Gynaecology Department in Dr. M. Djamil Hospital during during the period January 2011 to December 2012. The total samples of 272 people were taken by multi-stage random sampling. The data were collected from medical records and analyzed using univariate and bivariate analysis with Chi-Square test at p-value < 0,05. The results are the incidence of abortion at Dr. M. Djamil Hospital during the periode January 2011 to December 2012 is 5.83%. Pregnant women with abortion were mostly at the age 20 years and above 35 years, parity more than 3,  had previous abortions, gestational age less than 12 weeks, does not work and elementary school, junior and senior high as their latest education compared to pregnant women without abortion. Statistical test results showed that  maternal age, gestational age, occupation and education can affect the insidence of abortion (p=0.035; p=0.000; p=0.002 dan p=0.043). Parity and history of previous abortion don’t affect the incidence of abortion (p=0.919 dan p=0.205).Keywords:  maternal age, parity, history of previous abortion, gestational age, occupation, education, abortion
Perbedaan Hasil Pemeriksaan Sputum Basil Tahan Asam Antara PasienTuberkulosis Yang Perokok Dan Bukan Perokok Di Balai Pengobatan Penyakit Paru Lubuk Alung Nurul Ziqra; Elizabeth Bahar; Edison Edison
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.568

Abstract

 AbstrakMerokok dan Tuberkulosis (TB) merupakan dua masalah kesehatan di dunia walaupun TB lebih banyak ditemukan di negara berkembang. Kebiasaan merokok dan tuberkulosis memiliki hubungan yang erat. Tujuan penelitian ini adalah mmenentukan perbedaan hasil pemeriksaan sputum basil tahan asam antara pasien yang perokok dan bukan perokok di Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4)  Lubuk Alung. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional komparatif terhadap 44 penderita TB perokok dan 44 penderita TB non perokok yang dipilih secara consecutive sampling. Data dikumpulkan dari hasil pemeriksaan di Laboratorium dan wawancara. Hasilnya dianalisis dengan uji chi-square. Berdasarkan uji statistik didapatkan perbedaan yang bermakna antara penderita TB paru perokok dan non perokok berdasarkan hasil pemeriksaan BTA (p = 0,023). Kesimpulan studu ini ialah  pasien TB banyak ditemukan pada usia produktif dan pada jenis kelamin laki-laki. Pada perokok lebih banyak ditemukan BTA positif daripada bukan perokok.Kata kunci: tuberkulosis paru, BTA, perokok AbstractSmoking and Tuberculosis (TB) are two major health problems in the world even though TB is more common in developing countries. Smoking habit and tuberculosis have a close relationship.The objective of this study was to determine the differences in the results of Sputum Basil Tahan Asam examination between smokers and nonsmokers tuberculosis patients in the Lubuk Alung Pulmonary Disease Treatment Center. The desain of this study was a comparative cross-sectional on 44 TB smoker patients and 44 TB non-smoker patients by consecutive sampling. Data were collected through checkup in the laboratory and the interviews with new patients. The results were analyzed with the chi-square test.The statistic result showed significant differences between patients with pulmonary tuberculosis smokers and non-smokers based on the results of BTA checks (p value: 0.023). The conclusions was TB patients are found in the productive age and the male gender. Acid fast bacilli positive in smoker is higher than non-smokers.Keywords: pulmonary tuberculosis, acid fast bacilli, smoker
Gambaran Faktor yang Berhubungan dengan Timbulnya Kejang Demam Berulang pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Anak RS. DR. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 – Desember 2012 Vivit Erdina Yunita; Afdal Afdal; Iskandar Syarif
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.605

Abstract

 AbstrakKejang demam merupakan kejang paling sering pada anak yang kemungkinan berulang. Pengetahuan tentang faktor yang berhubungan dengan kejang demam berulang perlu diketahui demi ketepatan tatalaksana. Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran faktor yang berhubungan dengan kejang demam berulang. Penelitian ini merupakan deskriptif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel ditentukan dengan total sampling yaitu 40 pasien. Penelitian dilakukan dari Desember 2013 hingga Mei 2014. Data diambil dari berkas rekam medis pasien kejang demam berulang dari Januari 2010 sampai Desember 2012 di Poliklinik Anak RS. Dr. M. Djamil Padang. Variabel dependen adalah kejang demam berulang sedangkan variabel independen terdiri dari usia kejang demam pertama, jenis kelamin, riwayat kejang demam keluarga, riwayat epilepsi keluarga, dan tipe kejang demam pertama. Data yang diperoleh diolah dengan program komputer. Kejang demam berulang lebih banyak terjadi pada pasien yang kejang demam pertama pada usia 11 – 20 bulan (47,5%), pasien perempuan (62,5%), pasien dengan riwayat kejang demam keluarga (72,5%), pasien tanpa riwayat epilepsi keluarga (97,5%), dan kejang demam sederhana pada bangkitan kejang demam pertama (60%). Sebagian besar kejang demam berulang terjadi pada pasien yang berusia 11 – 20 bulan ketika kejang demam pertama, berjenis kelamin perempuan, memiliki riwayat kejang demam keluarga, tidak memiliki riwayat epilepsi keluarga, atau kejang demam sederhana pada bangkitan kejang demam pertama.Kata kunci: faktor yang berhubungan, kejang demam berulang AbstractRecurrent  febrile seizure is the most common seizure in young children.  Although having good prognosis, it is very frightening for parents. Knowledge about recurrent febrile seizure is important to determine accuracy of treatment. The objective of this study was to describe knowledge about recurrent febrile seizures related to descriptive features. This descriptive cross sectional study was done in M. Djamil General Hospital by using medical record of recurrent febrile seizure from January 2010 to December 2012. Sample was  40 patients. Data was taken from 2013 December to 2014 May. Recurrent febrile seizures are dependent variable meanwhile age of initial seizure, sex, family febrile seizure history, family epilepsy history, and type of initial febrile seizure are independent variables. Collected data was proceed by using computer program.  It was found that most patients who develop recurrent febrile seizures had their first attack in age of 11 – 20 months old (47.5%), female sex (62.5%), had febrile seizure family history (72.5%), had no epilepsy family history (97.5%), and had simple febrile seizure on their first attack (60%). Most recurrent febrile seizure occur in 11 – 20 months old in age, female in gender, having family febrile seizure history, having no family epilepsy history, or had simple febrile seizure as the first attack.              Keywords: descriptive features, recurrent febrile seizure
Identifikasi Nyamuk Anopheles Sebagai Vektor Malaria dari Survei Larva di Kenagarian Sungai Pinang Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan Suci Lestari; Adrial Adrial; Rosfita Rasyid
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.594

Abstract

AbstrakMalaria merupakan salah satu masalah kesehatan global  yang menimbulkan angka kesakitan tinggi dan kematian terutama pada daerah beriklim tropis dan subtropis. Kenagarian Sungai Pinang merupakan salah satu daerah endemik malaria yang didukung oleh topografinya yang terdiri dari daerah pantai, rawa, sungai, daerah pertanian dan area pemukiman. Jenis rancangan penelitian adalah survei deskriptif dengan populasi semua larva nyamuk yang ditemukan di beberapa tempat perindukan. Sampel adalah semua larva nyamuk Anopheles yang tertangkap melalui proses cidukan. Identifikasi nyamuk anopheles dengan memakai buku acuan Stroker dan Koesoemawinangoen. Data dianalisis secara manual dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Penelitian dilakukan di Kenagarian Sungai Pinang dari Oktober 2011 sampai Maret 2012. Hasil penelitian adalah 5 spesies nyamuk anopheles yaitu An. aconitus, An. barbirostris, An. kochi, An. subpictus dan An. Sundaicus. Tempat perindukan yaitu kolam bekas kurungan ikan, lagoon, rawa-rawa, kubangan kerbau, tambak sawah dan sungai. Kesimpulan penelitian ini ialah rata-rata kepadatan larva anopheles tertinggi adalah An. subpictus yaitu 4,95 ekor/cidukan  dengan tempat perindukan yang memiliki rata rata kepadatan larva Anopheles tertinggi yaitu kolam bekas kurungan ikan dengan 27,93 ekor/cidukan.Kata kunci: nyamuk anopheles, larva anopheles, tempat perindukan, kepadatan larva AbstractMalaria is a global health problem that causes high morbidity and mortality, especially in the tropics and subtropics areas. Kenagarian Sungai Pinang  is one of endemic areas which supported by the topography of the area, consists of beaches, marshes, rivers, agricultural area and a residential area. Research conducted in Kenagarian Sungai Pinang from October 2011 to March 2012. Design of this study was a descriptive survey with a population was any mosquito larvae were found  in some breeding places. The samples were all  Anopheles larvae that caught through detention. Identification of the Anopheles mosquito using  Stroker and Koesoemawinangoen (1950) reference books. The data were analyzed manually and presented in the form of a frequency distribution table. The results were five species of Anopheles mosquito; An. aconitus, An. barbirostris, An. kochi, An. subpictus dan An. Sundaicus. Seven breeding place were ex-fish cages ponds, lagoon, marsh, buffalo wallow, embankment, rice fields and rivers. The conclusion of this research are the highest larva density is An. subpictus with 4,95 larvae/detention and breeding place that has highest density of Anopheles larvae is ex-fish cage ponds with 27,93 larvae/detention.Keywords: anopheles mosquito, larvae anopheles, breeding places,  larvae density
Hubungan Kejadian Pneumonia Neonatus dengan Beberapa Faktor Risiko di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2010-2012 Rizki Meizikri; Finny Fitry Yani; Yusrawati Yusrawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.585

Abstract

AbstrakPneumonia merupakan salah satu penyebab mortalitas utama pada neonatus. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), kelahiran preterm, ketuban pecah dini (KPD), dan demam intrapartum merupakan faktor risiko yang dapat berpengaruh terhadap kejadian pneumonia neonatus. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara faktor risiko tersebut dengan kejadian pneumonia neonatus di RSUP M. Djamil. Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross-sectional dengan mengumpulkan data rekam medis pneumonia neonatus di RSUP M. Djamil Padang periode 2010 –  2012.  Kontrol diambil data neonatus yang dirawat dengan diagnosis selain pneumonia pada periode yang sama. Neonatus dengan diagnosis sindrom gawat nafas, sepsis, meningitis, asfiksia, dan aspirasi telah dieksklusi terlebih dahulu. Sejumlah 49 sampel yang memenuhi kriteria terdapat temuan; KPD sebanyak 22,4%, demam intrapartum 20,4%, BBLR 18,4%, dan kelahiran preterm 10,2%. Sebanyak 24 sampel tidak memiliki faktor risiko. Analisis bivariat chi-square menunjukkan bahwa BBLR (p=0,46), kelahiran preterm (p=0,372), KPD (p=0,616), dan demam intrapartum (p=0,083) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian pneumonia neonatus di RSUP M. Djamil periode 2010-2012.Kata kunci: pneumonia neonatus, BBLR, kelahiran preterm, KPD, demam intrapartum.  AbstractPneumonia is one of leading mortality causes among neonates. Low Birth Weight (LBW), preterm birth, Premature Rupture Of Membranes (PROM) and intrapartum maternal fever are known as risk factors that might contribute to neonatal pneumonia occurence. The objective of this study was to determine relationship  the risk factors  to  neonatal pneumonia in M. Djamil hospital. This analytic research with cross-sectional design compiled neonatal pneumonia data from 2010-2012 medical record M. Djamil hospital. Controls were taken from neonates hospitalized in M. Djamil within the same period. Neonates with respiratory distress syndrome, sepsis, meningitis, asphyxia, and aspiration were excluded. The 49 subjects that meet research criteria, PROM were found in 22,4% of neonates,intrapartum fever 20,4%, LBW 18,4%, and preterm birth 10,2%. Twenty four of them do not have any of those risk factors. Bivariate analysis with chi-square shows that none of those risk factors are significantly related to neonatal pneumonia in M. Djamil hospital period 2010-2012 (LBW p=0,46; preterm birth p=0,372; PROM p=0,616; intrapartum fever p=0,083).Keywords: neonatal pneumonia, LBW, preterm birth, PROM, intrapartum fever
Hubungan Kejadian Anemia dengan Penyakit Ginjal Kronik pada Pasien yang Dirawat di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP dr M Djamil Padang Tahun 2010. Rahmat Hidayat; Syaiful Azmi; Dian Pertiwi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.574

Abstract

AbstrakAnemia merupakan salah satu masalah utama pada pasien penyakit ginjal kronik. Tinggi rendahnya laju filtrasi glomerulus mempengaruhi kejadian anemia pada penyakit ginjal kronik. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi hubungan kejadian anemia dengan penyakit ginjal kronik pada pasien yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam tahun 2010. Penelitian yang dilakukan merupakan survei analitik dengan menggunakan design penelitian cross sectional study. Penelitian menggunakan data sekunder yang diambil dari sub bagian Rekam Medik (Medical Record) RSUP dr. M Djamil Padang dari Juni–Desember 2012 dengan jumlah sampel adalah 67 pasien penyakit ginjal kronik. Ditemukan angka kejadian anemia pada pasien penyakit ginjal kronik sebesar 98,5% dengan rata-rata kadar Hb sebesar 7,3 g/dl dan rata-rata laju filtrasi glomerulus adalah 8,81 ml/menit/1.73m2. Dari hasil uji korelasi Pearson diperoleh hasil adanya hubungan kejadian anemia dengan penyakit ginjal kronik di RSUP dr M Djamil Padang  dengan p = 0,00 (p < 0,05). Kesimpulan hasil penelitian ini adalah semakin rendah laju filtrasi glomerulus menunjukkan semakin rendah juga kadar hemoglobin pada pasien penyakit ginjal kronik.Kata kunci: anemia, penyakit ginjal kronik, laju filtrasi glomerulus AbstractAnemia is one of the major problems in patients with chronic kidney disease. High and low glomerular filtration rate affect the incidence of anemia in chronic kidney disease. The objective of this study was to identify the relationship  of anemia on patients with chronic kidney disease in the Internal Medicine. The type of this research was analytic studies using a cross sectional study research design from June–December 2012 . This study used secondary data taken from Medical Record department of dr. M. Djamil hospital  with  samples of the entire medical record is 67 persons chronic kidney disease patients in 2010. The result found the incidence of anemia in chronic kidney disease patients was 98.5%, with an average hemoglobin level at 7.3 g/dl and mean glomerular filtration rate was 8.81 ml /min/1.73m2. Pearson correlation of test results obtained by the result of the relationship of anemia on patients with chronic kidney disease at dr M Djamil Padang Hospital with p = 0.00 (p <0,05). The low rate of glomerular filtration rate also showed by the low level of hemoglobin in patients with chronic kidney disease    Keywords: anemia, chronic kidney disease, glomerular filtration rate
Gambaran Perilaku Remaja Terhadap Penggunaan Earphone Pada Siswa SMA Negeri Kota Padang Tiara Rahma Zain; Nirza Warto; Machdawaty Masri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.610

Abstract

AbstrakEarphone adalah alat yang digunakan untukmendengarkan musik dari telepon genggam dan perangkat audio lainnya.Sebuah survey yang dilakukan oleh American Speech Languageand Hearing Association (2006) menemukan bahwa remaja lebih banyak menggunakan perangkat dengar pribadidengan volume keras dan dalam waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku remaja terhadap pengunaan earphone pada siswa SMA Negeri Kota PadangPenelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif pada siswa SMAN Negeri Kota Padang yang berjumlah 13.105 orang.Didapatkan sampel berjumlah 427 orang, pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Cluster Sampling.Data diambil dengan menggunakan kuesioner.Analisis data menggunakan analisis univarat dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) 21.00 for Windows.                Hasil didapatkan proporsi pengguna earphone pada siswa SMA Negeri Kota Padangberjumlah 83,6%. Perilaku siswa dibagi menjadi 3 kategori yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan. Hasilnya didapatkan siswa tersebut memiliki pengetahuan dan sikap yang baik terhadap penggunaan earphone dengan persentase 93,4% dan 80,9%. Tindakan siswa ketika menggunakan earphone cukup baik dengan persentasi 66,3%.                Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar siswa SMA Negeri Kota Padang menggunakan earphone.Siswa tersebut memiliki pengetahuan yang baik mengenai dampak penggunaan earphone dan cara pencegahannya. Siswa juga memiliki sikap yang baik terhadap penggunaan earphone dan bertindak cukup baik ketika menggunakan earphone.Kata Kunci :Earphone, remaja, perilaku AbstractEarphone is a device that used for listening music from their mobile phone and other devices. A survey conducted by American Speech Languageand Hearing Association (2006) found that many teenagers use their personal audio device with maximum volume within a long time. This research aims to describe the teenager behavior in using earphone by taking case in high school student in Padang city.                 This research uses descriptive method by studying 13.105 high school students in Padang, with 427 students as a sample. The researcher uses Cluster Sampling method. The data obtained by spreading questionnaire. Data analysis used in this research is univariat analysis by using SPSS program(Statistical Product and Service Solution) 21.00 for Windows.                The result of this reasearch shows that the propotion of earphone user of high school student in Padang is 83,6%. Student behavior is divided into 3 categories namely knowledge, attitude, and action. The result shows that the students are having knowledge and good attitude on the use of earphone with the percentage 93,4 % and 80,9%. The students action when using earphone is quite good with pecentage 66,3 %.                 In conclusion, most of high school students in Padang city use earphone. The students have good knowledge about the impact of using earphone  and prevention’s. Students also have good behavior toward the use of earphone and act well when using it. Keywords : Earphone, teenager, behavior

Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue