cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 1,294 Documents
Otitis Media Supuratif Kronis Tipe Kolesteatom dengan Komplikasi Meningitis dan Paresis Nervus Fasialis Perifer Jenny Tri Yuspita Sari; Yan Edward; Rossy Rosalinda
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 4
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i0.931

Abstract

Pendahuluan: Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) tipe kolesteatom merupakan penyakit dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi akibat komplikasinya. Kolesteatom dapat menyebabkan erosi tulang dan kerusakan struktur-struktur di sekitarnya sehingga terjadi komplikasi. Kombinasi antibiotik dan tindakan bedah timpanomastoidektomi menjadi modalitas utama penatalaksanaan kasus OMSK dengan komplikasi. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus seorang laki-laki 18 tahun dengan keluhan sakit kepala hebat disertai dengan penurunan kesadaran dan wajah mencong. Pada pasien terdapat riwayat telinga berair dan penurunan pendengaran. Pasien didiagnosis sebagai OMSK auris dektra dengan kolesteatom disertai komplikasi meningitis dan paresis nervus fasialis perifer. Pasien diterapi dengan antibioik dosis tinggi dan dilakukan tindakan timpanomastoidektomi dinding runtuh dengan dekompresi nervus fasialis. Kesimpulan: Penatalaksaan segera dan tepat pada OMSK dengan komplikasi dapat meningkatkan angka kesembuhan dan mencegah kematian.
POLA KUMAN DAN UJI SENSITIVITAS TERHADAP ANTIBIOTIK PADA INFEKSI PLEURA DI RSUP. Dr. M. DJAMIL PADANG Mulya Eltario; Lillah Lillah; Tuty Prihandani
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 4
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i0.922

Abstract

Infeksi pleura merupakan salah satu penyebab terbanyak morbiditas dan mortalitas dengan insidens terus meningkat pada dewasa. Terapi pasien secara empiris dengan antibiotik berspektrum luas dan polifarmasi sering tidak bermanfaat. Mikroba penyebab infeksi pleura bergeser secara perlahan dari positif Gram menjadi negatif Gram sejak antibiotik semakin banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kuman dan uji sensitivitas terhadap antibiotik pada infeksi pleura di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian deskriptif dilakukan pada 55 spesimen cairan pleura dari bangsal paru dan penyakit dalam yang dikultur menggunakan agar darah di Laboratorium Sentral RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2015-Desember 2015. Identifikasi bakteri dengan pewarnaan Gram dan tes biokimia. Uji sensitivitas antibiotik menggunakan metode Kirby-Bauer sesuai dengan standar CLSI. Bakteri yang ditemukan pada spesimen cairan pleura adalah Klebsiella sp 21(38%), Staphylococcus sp (25%), Pseudomonas sp (22%), Proteus sp (5%), Streptococcus sp (5%), Acinetobacter sp (3,6%). Klebsiella sp sensitif terhadap Meropenem (95,2%), resisten terhadap Ampicilin (90,5%). Staphylococcus sp sensitif terhadap Meropenem (100%), resisten terhadap Ampicilin (57,1%). Pseudomonas sp sensitif terhadap Meropenem (75%), resisten terhadap Ampicilin (100%). Proteus sp sensitif terhadap Meropenem (66,7%), resisten terhadap Ampicilin (100%). Streptococcus sp sensitif terhadap Cefoperazone (100%), resisten terhadap Cefotaxime (100%). Acinetobacter sp sensitif terhadap Chloramphenicol (100%), resisten terhadap Cefotaxime (100%). Bakteri terbanyak penyebab infeksi pleura di bangsal paru dan penyakit dalam periode Januari 2015 sampai Desember 2015 adalah Klebsiella sp, yang sensitif terhadap Meropenem dan resisten terhadap Ampicilin. Pelaporan perlu dilakukan secara berkala sebagai pedoman dalam memberikan antibiotik yang tepat.
PERBEDAAN KADAR MALONDIALDEHID PADA DEWASA MUDA OBES DAN NON–OBES DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS Aristya Rahadiyan Budi; Husnil Kadri; Aswiyanti Asri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i2S.954

Abstract

Obesitas dapat menyebabkan peningkatan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) melalui hiperlipidemia, penurunan sensitivitas insulin, dan berbagai mekanisme lainnya. Peningkatan produksi ROS yang berlangsung terus – menerus dapat menyebabkan stres oksidatif yang dapat menyebabkan kerusakan sel. Stres oksidatif dapat dipantau dengan melihat perubahan kadar Malondialdehyde (MDA). Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kadar MDA pada serum dewasa muda yang obesitas dan non–obesitas. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain cross–sectional study. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Andalas pada April sampai dengan Mei 2017 dengan menggunakan tes Thiobarbituric Acids Reactive Substances (TBARs). Subjek penelitian adalah 42 Mahasiswa dan Mahasiswi di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok obesitas dan non–obesitas. Analisis data menggunakan uji normlitas Shapiro–Wilk dan uji Mann–Whitney. Penelitian ini mendapatkan rerata kadar MDA pada serum dewasa muda obesitas adalah 5,08±0,76 nmol/ml dan rerata pada non–obesitas adalah 3,51±0,24 nmol/ml. Hal ini menunjukkan subjek obesita memiliki kadar MDA yang lebih tinggi dibandingkan subjek non–obesitas, dan diperoleh nilai p=0,001 (p<0,05) yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara kadar MDA pada obesitas dan non–obesitas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar MDA pada dewasa muda obesitas dan non–obesitas.
Pengaruh Pemberian Tablet Zink dan Besi terhadap Kadar Hemoglobin dan Feritin pada Ibu Hamil Anemia Defisiensi Besi Desi Wildayani; Yusrawati Yusrawati; Hirowati Ali
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 4
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i0.913

Abstract

Anemia pada kehamilan merupakan salah satu masalah nasional karena pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan. Sebagian zink merupakan alat transpor transferin, yang juga merupakan alat transpor zat besi. Suplemen zink dianjurkan apabila ibu hamil mendapat suplemen besi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian tablet zink dan besi terhadap kadar hemoglobin dan feritin pada ibu hamil anemia defisiensi besi. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperiment dengan metode non randomized control group pre test and post test design. Penelitian dilakukan di Puskesmas Lubuk Buaya Padang dan Laboratorium Biomedik Universitas Andalas pada bulan Oktober 2017 – Maret 2018 terhadap 30 orang ibu hamil trimester II dan III, kadar Hb <11 g/dl dan ferritin <15 ng/ml yang diambil dengan cara consecutive sampling. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok (intervensi dan kontrol). Kadar feritin diperiksa dengan ELISA dan kadar hemoglobin dilakukan dengan metode Hematology analyzer. Uji normalitas data dengan uji Saphiro wilk dan dilanjutkan dengan uji T berpasangan dan uji T tidak berpasangan. Hasil penelitian didapatkan ibu hamil yang diberikan tablet zink dan besi rata-rata selisih kadar hemoglobinnya lebih tinggi (1,07 g/dl) dibandingkan dengan ibu hamil yang mendapatkan tablet besi saja (0,81 g/dl), dengan nilai p = 0,190. Selisih kadar feritin serum lebih tinggi pada ibu hamil yang mendapatkan tablet besi saja (19,39 ng/ml) dibandingkan dengan ibu hamil yang mendapatkan tablet zink dan besi (14,64 ng/ml), dengan nilai p = 0,529. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat pengaruh pemberian tablet zink dan besi terhadap kadar hemoglobin dan feritin pada ibu hamil anemia defisiensi besi.
Hubungan Pengetahuan Ibu Pasangan Usia Subur dengan Penggunaan Kontrasepsi IUD di Nagari Andalas Baruh Bukit Kecamatan Sungayang Kabupaten Tanah Datar Iis Rahayu; Mohamad Reza; Elly Usman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 4
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i0.945

Abstract

Intra Uterine Devices (IUD) merupakan pilihan kontrasepsi yang efektif, aman, dan nyaman bagi wanita. Namun demikian jumlah akseptor kontrasepsi IUD di Nagari Sungayang masih sangat rendah, yaitu 14,97 %. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Pasangan Usia Subur dengan Penggunaan Kontrasepsi IUD di Nagari Andalas Baruh Bukit Kecamatan Sungayang Kabupaten Tanah Datar. Kontrasepsi adalah cara untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan. Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi sel telur wanita (fertilisasi), atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang dalam rahim. Kontrasepsi yang reversibel adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek lama dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan untuk memiliki anak. Metode penelitian deskriptif corelasi dengan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Nagari Andalas Baruh Bukit. Populasi adalah seluruh ibu PUS, sebanyak 788 orang, dan sampel berjumlah 89 orang, dengan pengambilan sampel secara sistematic sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, diolah dan dianalisa secara komputerisasi. Hasil analisa univariat diketahui bahwa 66,3 % responden memiliki pengetahuan tinggi tentang kontrasepsi IUD, (52,8 %) dan 86,5 % tidak menggunakan kontrasepsi IUD. Hasil analisa bivariat ada hubungan pengetahuan ibu Pasangan Usia Subur dengan penggunaan kontrasepsi IUD (p = 0,050). Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa ada hubungan sikap ibu dengan penggunaan kontrasepsi IUD.
LIMFOMA NON-HODGKIN SEL B PADA MAMMAE Ninda Septia Yuspar; Irza Wahid
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.936

Abstract

Limfoma mammae merupakan kasus yang jarang karena jaringan limfoid tidak ada di regio mammae. Subtipe non-Hodgkin lymphoma (NHL) berkisar 0,5% dari karsinoma mammae, 1% dari semua NHL dan 2% dari limfoma ekstranodal. Limfoma mammae sering terjadi pada perempuan. Limfoma Mammae diklasifikasikan sebagai limfoma primer dan sekunder. Limfoma mamae primer biasanya non-Hodgkin jenis sel B, angka kejadian terbanyak adalah sub tipe Difusse large cell B Limfoma. Perempuan, 45 Tahun, keluhan benjolan pada leher, payudara dan ketiak`sejak 6 bulan yang lalu, Pasien telah didiagnosis Limfoma malignum non hodgkin 10 bulan sebelumnya, penurunan berat badan sekitar 15 kg sejak 4 bulan yang lalu dan didapatkan keluhan demam tidak tinggi yang hilang timbul. Pasien menjalani kemoterapi Rituximab, Cylophosphamide, Hydroxydaunorubicin, Oncovin, Prednison dan benjolan mengecil. Pemeriksaan fisik ditemukan benjolan di kedua mammae, colli sinister, axila sinistra dan inguinal, tidak eritem, konsistensi kenyal padat, terfiksir dan tidak nyeri tekan. Laboratorium, leukopenia dan LDH meningkat. USG mammae, Multipel nodul kedua mammae, axila bilateral, mammary interna kiri. USG colli, multipel limfadenopati regio colli, supraclavicula sinistra gambaran limfoma. Histopatologi, Limfoma malignan mammae bilateral. Pada pemeriksaan Imunohistokimia dengan hasil diffuse large B cell lymphoma, CD20 positif, Non GCB. Pasien didiagnosis Limfoma non hodgkin pada mammae relaps. Diberikan kemoterapi Rituximab, Etoposide, Actoplactin, Ifosfamide. Limfoma non-Hodgkin primer pada mammae termasuk kasus yang sangat jarang terjadi. Manifestasi klinis dan radiologis dari penyakit ini memiliki kesamaan dengan tumor mammae. Diagnosis penyakit ini ditegakkan melalui histopatologi serta pemeriksaan imunohistokimia. Penatalaksanaan PBL yaitu kemoterapi dengan atau tanpa rituximab dan radioterapi. Pada Pasien ini terjadi Limfoma Non-hodgkin pada Mammae Relaps selanjutnya diberikan kemoterapi lini kedua dengan regimen Rituximab, Etoposide, Actoplactin, Ifosfamide. memberikan hasil yang cukup baik.
Multipel Sklerosis pada Anak Fredyton Rizminardo; Iskandar Syarief; Rahmi Lestari; Tuti Handayani
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 4
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i0.927

Abstract

Multipel sklerosis (MS) adalah suatu penyakit neurodegeneratif akibat proses demielinisasi kronik pada sistem saraf pusat yang disebabkan oleh peradangan autoimun. Penyakit ini umumnya mengenai kelompok pasien usia dewasa muda (antara 30 sampai 40 tahun) dengan prevalensi umum di seluruh dunia adalah 30 kasus per 100.000 populasi; dan hanya sekitar 2-5% penyakit ini terjadi pada usia kurang dari 18 tahun. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada populasi dewasa, penyakit MS pada populasi anak memiliki sejumlah variasi manifestasi klinis demielinisasi atipikal yang menyebabkan pengenalan dan diagnosis MS pada pasien anak merupakan suatu proses yang rumit. Telah dilaporkan suatu laporan kasus pada seorang anak perempuan berusia 13 tahun 7 bulan dengan keluhan utama kejang yang disertai penurunan kesadaran, dimana kedua manifestasi klinis ini merupakan manifestasi klinis yang jarang ditemukan pada pasien multiple sklerosis. Diagnosis MS pada pasien ditegakkan setelah dilakukannya pemeriksaan MRI kepala. Pasien kemudian diterapi dengan menggunakan steroid intravena dan pada pengamatan selanjutnya ditemukan perbaikan klinis yang nyata.
Gambaran Glaukoma Pada Pasien Diabetes Mellitus di RSUP Dr. M. Djamil Padang Muhammad Fadhil; M. Hidayat; Fitratul Illahi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i2S.959

Abstract

Diperkirakan pada tahun 2035, penderita diabetes mellitus akan meningkat menjadi 592 juta orang dari tahun 2013 yang jumlahnya diperkirakan 382 juta orang. Diabetes mellitus memiliki komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Komplikasi mikrovaskular dapat berupa neuropati, pada mata seperti retinopati diabetikum, macular edem, katarak, dan glaukoma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran glaukoma pada pasien diabetes mellitus di RSUP Dr. M. Djamil Padang.Penelitian ini merupakan penelitian dekstriptif retrospektif yang dilakukan pada Maret 2018 – April 2018. Sampel penelitian sebanyak 35 pasien yang memenuhi kriteria inklusi yang diambil secara total sampling. Data pasien didapatkan dari data rekam medis pasien di instalasi rekam medis RSUP Dr. M. Djamil Padang.Hasil penelitian ini menunjukan glaukoma pada pasien diabetes mellitus paling banyak pada jenis kelamin laki-laki (65,7%). Untuk usia, glaukoma pada pasien diabetes mellitus paling banyak terjadi pada kelompok usia 40-60 tahun (71,4%), sedangkan untuk jenis diabetesnya didapatkan pada diabetes tipe II dengan menderita DM >5 tahun. Jenis glaukoma pada pasien diabetes mellitus terbanyak adalah glaukoma sekunder. Perlu dilakukan studi epidemiologi lebih lanjut agar hasil lebih representatif.
Kesesuaian Uji Cepat Antigen Mycobacterium tuberculosis dengan Pulasan BTA pada Tersangka Tuberkulosis Paru Nila Rahma Suryani; Lillah Lillah; Eugeny Alia
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 4
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i0.918

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular disebabkan oleh M. tuberculosis yang apabila tidak diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi bahkan kematian. Menegakkan diagnosis TB yang cepat dan akurat membutuhkan pemeriksaan yang cepat. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian uji cepat antigen M. tuberculosis dengan pulasan BTA. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan potong lintang yang dilakukan di Laboratorium Sentral RSUP Dr. M. Djamil Padang dari bulan April 2016 sampai dengan September 2016. Sampel sputum tersangka TB diperiksa menggunakan uji cepat antigen M. tuberculosis dengan prinsip immunochromatography dan pulasan BTA dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen. Sampel penelitian sebanyak 23 dilakukan uji cepat antigen M. tuberculosis didapatkan 9 (39,1%) positif dan 14 (60,9%) negatif. Pulasan BTA didapatkan 6 (26,1%) positif dan 17 (73,9%) negatif. Uji kesesuaian antara uji cepat antigen M. tuberculosis dengan pulasan BTA didapatkan nilai Kappa 0,321 (p=0,108) dengan interpretasi cukup, tetapi tidak bermakna secara statistik (p>0,05). Tidak terdapat kesesuaian antara uji cepat antigen M. tuberculosis dengan pulasan BTA. Penelitian lebih lanjut diperlukan dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan menggunakan baku emas sehingga didapatkan sensitivitas dan spesifisitas.
Pemberian Lyophilized Bacterial Lysat Pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis Stabil Yang Memiliki Kolonisasi Potentialy Pathogenic Microorganism Povi Pada Indarta; Irvan Medison; Russilawati Russilawati; Deddy Herman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.950

Abstract

Latar Belakang: Eksaserbasi pada pasien PPOK berpengaruh terhadap keparahan penyakit. Kolonisasi bakteri pada pasien PPOK dianggap berkontribusi terhadap kejadian eksaserbasi. Usaha menurunkan kolonisasi bakteri dilakukan untuk mengurangi kejadian eksaserbasi salah satuanya adalah dengan vaksinasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efek pemberian vaksinasi Lyophilized bacterial lysat pada pasien yang telah diketahui jenis potentialy pathogenic microorganism (PPM).Metode: Desain penelitian uji klinis terbuka (open ckinical trial) pada pemberian Lyophilized bacterial lysate dibandingkan dengan Plasebo terhadap pasien PPOK dengan koloni PPM di poliklinik Paru RSUP Dr.M.Djamil Padang periode Januari sampai Juni 2017.Sampel diambil dengan teknik konsekutif (accidental sampling). Hasil: Penelitian pada 33 pasien PPOK stabil dengan PPM yang diberikan Lyophilized bacterial lysat dan 22 pasien PPOK stabil dengan PPM yang diberika plasebo. Setelah perlakuan selama 3 bulan pada kelompok Lyophilized bacterial lysat tidak ditemukan lagi koloni bakteri ganda (10 menjadi 10) (p=0,002) sedangkan pada bakteri tunggal masih ditemukan koloni, sebelum 23 menjadi 26. Kelompok plasebo tidak didapatkan perubahan baik bakteri ganda (13 menjadi 13) ataupun tunggal (9 menjadi 9). Pada kelompok Lyophilized bacterial lysat terjadi perubahan pola koloni yaitu klebsiella pneumonia berkurang 6, Pseudomonas Aureginosa berkurang 2, Stapilococcus Areus berkurang 6, secara statistik mengalami penurunan (p=0,001) sedangkan pada plasebo tidak terjadi perubahan pola koloni Simpulan: Lyophilized bacterial lysat menurunkan proporsi koloni PPM oleh bakteri ganda dibandingkan dengan plasebo. Lyophilized bacterial lysat juga mengurani koloni terutama Pseudomonas Aureginosa dan stapylococcus Aureus dan klebsiella pneumonia.

Page 71 of 130 | Total Record : 1294


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): March 2026 Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue