cover
Contact Name
Nadiyah Tunnikmah
Contact Email
nadiyah.tunnikmah@isi.ac.id
Phone
+628157988977
Journal Mail Official
jociart@gmail.com
Editorial Address
Dsn Japanan Margodadi Seyegan
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Contemporary Indonesian Art
ISSN : 24423394     EISSN : 24423637     DOI : DOI: 10.24821/jocia.v9i1.8936
Core Subject : Humanities, Art,
Journal of Contemporary Indonesia Art is a scientific journal that contains the results of research or creation on contemporary art related to Indonesia. Contemporary art is defined as the latest art phenomenon. Art includes a wide variety of fine arts such as painting, sculpture, graphics, ceramics, comics, New media art, as well as other forms of art, including types that have not been categorized. The limitation is that the work is more concerned with aesthetic value than functional value. The term Indonesia refers to works of art that are related to Indonesia.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2024)" : 7 Documents clear
Umi Dachlan sang Ekspresionis Abstrak Rachma, Falicha Aulia
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v10i1.11227

Abstract

This research This research entitled "Umi Dachlan the Abstract Expressionist" raises the issue of Umi Dachlan's journey in pursuing education and art during her lifetime and how her role contributed to advancing art in Indonesia. This research aims to find out the life background, role in the arts and the development of early works to the final works that have been produced by Umi Dachlan. And in collecting research data, the author used a qualitative approach with document study techniques in the form of books, journals, PDFs or e-books.Apart from that, based on research, the following results were obtained: Umi Dachlan is a talented artist, she began to show her talent for interest in art since childhood through her love of drawing. She played an important role in the world of art as the first female lecturer at the Bandung Institute of Technology. Umi Dachlan has received many awards not only from within the country, such as the Best Painting award: Wendy Sorensen Memorial Award, New York, United States. Umi Dachlan has also worked as a co-designer and muralist for various institutions. Umi Dachlan was one of the early and pioneering Indonesian female artists who followed in the footsteps of Emiria Soenassa, along with Erna Pirous, wife of A.D. Pirous, Farida Srihadi, Srihadi's wife, Heyi Ma'mun, Kartika Affandi, daughter of the main Indonesian artist Affandi, Rita Widagdo and Nunung WS. His works have been auctioned by major international auction houses, including Bonhams, Christie's and Sotheby's. Umi Dachlan's early work was influenced by traditional Batik paintings and tapestries, textile works and landscape paintings. As in the work Untitled (1997), until after the death of his mentor Ahmad Sadali in 1987, he developed his own style. Penelitian ini berjudul “Umi Dachlan sang Ekspresionis Abstrak” ini mengangkat masalah mengenai bagaimana perjalanan Umi Dachlan dalam menempuh pendidikan dan kesenian pada semasa hidupnya dan bagaimana peran beliau memberikan kontribusi dalam memajukan kesenian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang kehidupan, peran dalam bidang kesenian dan perkembangan awal karya hingga karya – karya akhir yang telah dihasilkan oleh Umi Dachlan. Dan pada pengumpulan data penelitian ini penulis menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan teknik studi dokumen berupa buku, jurnal, pdf ataupun e-book. Selain itu Berdasarkan penelitian, diperoleh hasil berikut: Umi Dachlan seorang seniman yang berbakat, ia mulai menunjukkan bakat ketertarikannya pada seni sejak kecil melalui kegemarannya menggambar. Dia berperan penting dalam dunia kesenian sebagai dosen wanita pertama di Institut Teknologi Bandung. Umi Dachlan banyak mendapatkan penghargaan yang tidak hanya dari dalam negeri saja, seperti penghargaan Best Painting: Wendy Sorensen Memorial Award, New York, Amerika Serikat. Umi Dachlan juga pernah bekerja sebagai co-desainer dan muralis untuk berbagai institusi. Umi Dachlan adalah salah satu seniman perempuan Indonesia awal dan perintis yang mengikuti jejak Emiria Soenassa, bersama dengan Erna Pirous, istri A.D. Pirous, Farida Srihadi, istri Srihadi, Heyi Ma'mun, Kartika Affandi, putri Artis utama Indonesia Affandi, Rita Widagdo dan Nunung WS. Karya-karyanya telah dilelang oleh rumah-rumah lelang besar Internasional, termasuk Bonhams, Christie's dan Sotheby's. Karya awal Umi Dachlan dipengaruhi oleh lukisan Batik tradisional dan permadani, karya tekstil dan lukisan pemandangan. Seperti pada karya Untitled (1997), Hingga setelah kematian mentornya Ahmad Sadali pada tahun 1987, ia mengembangkan gayanya sendiri. 
Representation of Locality in Media Art in Yogyakarta: Dedy Shofianto's Kinetic Art Case Study Wicaksono, Satrio Hari
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v10i1.12393

Abstract

In the development of contemporary art, the issue of identity becomes a central and important thing to be studied more deeply, especially the personal or communal identity of marginalized parties in the context of modern society. This is what makes local values elevated and become a specific, unique identity character and become the characteristic of the artist in his work. Similarly, artists in Indonesia form a qualified personal representation with specific local values based on their background. Not just dwelling on conventional media, artists explore media more broadly. New media such as digital devices, kinetics, sound and so on are felt to be able to represent the state of the surrounding environment without abandoning the local identity that remains attached. Dedy Shofianto is one of the Yogyakarta artists whose execution uses conventional media but with a different approach, where kinetic elements become an identity that is closely related to the artist, which is supported by a strong local content narrative. The visual representation and material characteristics carried have a background and cultural narrative that is a unique characteristic of each of Shofianto's works, such as the use of wood materials that are attached to Indonesia as a tropical country and the myths of the archipelago are visible representations in Shofianto's works.Dalam perkembangan seni kontemporer, persoalan identitas menjadi hal yang pokok dan penting untuk dikaji lebih mendalam, khususnya identitas personal atau komunal dari pihak yang terpinggirkan dalam konteks masyarakat modern. Hal ini yang membuat nilai-nilai lokal terangkat dan menjadi karakter identitas yang spesifik, unik dan menjadi penciri yang khas dari sang seniman dalam karyanya. Begitu pula seniman-seniman di Indonesia yang membentuk representasi personal yang syarat dengan nilai-nilai lokal spesifik berdasar latar belakang mereka. Tak sekedar berkutat di media konvensional, para seniman mengeksplorasi media secara lebih luas. Media-media baru seperti perangkat digital, kinetik, suara dan lain sebagainya dirasa mampu merepresentasi dengan keadaan lingkungan di sekitar tanpa menanggalkan identitas lokal yang tetap melekat. Dedy Shofianto adalah salah satu seniman Yogyakarta yang eksekusi kekaryaannya menggunakan medium konvensional namun dengan pendekatan yang cenderung berbeda, dimana unsur kinetik menjadi identitas yang lekat dengan sang seniman, yang didukung dengan narasi muatan lokal yang kuat. Representasi visual dan karakteristik material yang diusung memiliki latar belakang dan narasi kultural yang menjadi ciri khas unik dari masing-masing karya Shofianto, seperti penggunaan material kayu yang lekat dengan Indonesia sebagai negara tropis dan mitos-mitos nusantara menjadi representasi yang terlihat dalam karya-karya Shofianto.
Keterikatan Warna dan Emosi dalam Mebeler Bagi Pemustaka Tuli di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Dewi, Riza Septriani; Setiadi, Veronica Belinda Aryani
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v10i1.12392

Abstract

This study aims to investigate the association to furniture color and emotion for deaf users in libraries, who often experience limited accessibility. However, few studies have focused on the relationship between color-emotion associations to furniture and the experience of deaf users. The purpose of this research is to find out how colours is associated with furniture, which benefit the emotions and comfort  to the deaf library user. This study uses qualitative research methods with in-depth interview techniques and participatory observation at the UIN Sunankalijaga Library in Yogyakarta. The findings of this study entailed how the uniqueness of colour was attached and functional with furniture. Major impact on emotions, where its produce a favourable experience for deaf guests. While in the library, the application of certain hues colour and design aspects provide a sense of comfort, relaxation, and concertration. The cool colours, such as green, which paired with neutral colours in furniture products or vice versa are shown to increase mood. Indeed, this study adds to our understanding of the psychological and social elements of deaf users' furnishings. Practical ideas for library managers and designers on how to create an inclusive library environment and fulfil the needs of deaf visitors through furnishing products that was generated.Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi keterikatan warna mebeler dan emosi bagi pemustaka tuli di perpustakaan, yang sering mengalami keterbatasan aksesibilitas dalam memperoleh informasi. Namun, sedikit penelitian yang fokus terhadap hubungan antara keterikatan warna dan emosi pada mebeler dengan pengalaman pemustaka tuli. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana keterikatan warna dan desain mebeler dapat mempengaruhi emosi dan kenyamanan pemustaka tuli selama berada di perpustakaan. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipatif di Perpustakaan UIN Sunankalijaga Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterikatan warna mebeler memiliki pengaruh signifikan terhadap emosi dan dapat menciptakan pengalaman positif bagi pemustaka tuli. Beberapa warna dan elemen desain memberikan rasa nyaman, relaksasi, dan fokus saat di perpustakaan. Penggunaan warna dingin pada perpustakaan seperti hijau dipadukan dengan warna netral pada mebeler dan sebaliknya, diakui dapat meningkatkan suasana hati. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman kita tentang aspek psikologis dan sosial mebeler bagi pemustaka tuli. Rekomendasi praktis dihasilkan untuk pengelola perpustakaan dan desainer dalam menciptakan lingkungan perpustakaan yang inklusif dan mendukung kebutuhan pemustaka tuli lewat mebeler.
Proses Penciptaan Dan Penyajian Karya Patung Publik Pada Jogja Street Sculpture Project #5 Rahayu, Ananta Dewi; Rosidi, Muhammad Rain; Wicaksono, Satrio Hari
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v10i1.12650

Abstract

The Jogja Street Sculpture Project (JSSP) exhibition is a programme by the Indonesian Sculptors Association (API) in collaboration with the Culture Service in the form of a public sculpture. The fifth JSSP, with the theme Ruwat Gatra Rasa: Redefining Form and Space, is located along Jalan Malioboro. The author researches the creative process of creating and presenting public sculpture using a qualitative descriptive method with an approach to the theory of the creation process, the theory of the function of art, the presentation of public sculpture, and the elements of sculpture. Data collection was carried out through a literature review, interviews, and observations. Public interest is present in four stages of creation, (1) Pre-Design, (2) Design, (3) Realization, and (4) Presentation. Aspects of public response are also explained, where anticipation of public interaction is also taken into account in the process of creating works exhibited by artists and the organizing committee. In the presentation aspect, the author examines the elements of sculpture that are present, the public response, and improvements made by the artist. Pameran Jogja Street Sculpture Project (JSSP) merupakan program Asosiasi Pematung Indonesia (API) yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan, berbentuk pameran patung di ruang publik. JSSP kelima dengan tema Ruwat Gatra Rasa: Redefining Form and Space berlokasi di sepanjang Jalan Malioboro. Penulis meneliti tentang proses kreasi penciptaan dan penyajian seni patung publik menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori proses kreasi, teori fungsi seni, penyajian patung publik, dan elemen-elemen seni patung. Pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka, wawancara, dan observasi. Kepentingan publik hadir dalam empat tahapan penciptaan, (1) Pra Perancangan, (2) Perancangan, (3) Perwujudan, dan (4) Penyajian. Aspek respon publik juga dipaparkan, di mana antisipasi interaksi publik juga diperhatikan dalam proses penciptaan karya yang dipamerkan oleh seniman dan panitia penyelenggara. Dalam aspek penyajian, penulis mengkaji elemen seni patung yang hadir, respon publik, dan perbaikan yang dilakukan seniman.
Penggunaan Kosakata Ciptaan Roald Dahl Sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis Kurniawan, Naja Izzah; Wicaksono, Satrio Hari; Junaedi, Deni
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v10i1.12645

Abstract

Painting is a visual language that can be the means of expressing one's creative expression and is useful in improving one's ability to think and imagine, especially one's aesthetic sensitivity. The transfer of language from verbal language to visual language is carried out in this Final Project by adopting the use of unique vocabulary found in Roald Dahl's children's novels in the form of paintings.‘Gobblefunk’ is a term created by Dahl to describe his own language. In this Final Project, his gobblefunk vocabulary is interpreted and used in the title of the work which has personal tendencies before being realized as a painting. The hope of achieving this Final Project is to represent the use of vocabulary created by Roald Dahl and the world of fantasy contained in his writings. This is channeled through a series of works that have a surrealistic component, colours that give a fantasy feel, human figures, and/or man-made or natural objects/subjects that are integrated into watercolour paintings with the addition of other media. Seni lukis merupakan salah satu bahasa imaji yang mampu menjadi sarana dalam mengeluarkan ekspresi kreatif seseorang dan bermanfaat dalam mengasah kemampuan berpikir dan berimajinasi, ataupun kepekaan estetika seseorang. Alih wahana dari bahasa verbal menjadi bahasa imaji dilakukan dalam Tugas Akhir ini dengan mengangkat penggunaan kosakata unik yang ditemukan dalam novel anak ciptaan Roald Dahl ke dalam wujud karya seni lukis. ‘Gobblefunk’ merupakan istilah yang dibuat oleh Roald Dahl untuk menyebut bahasa ciptaannya sendiri. Dalam Tugas Akhir ini, kosakata gobblefunk ciptaan Roald Dahl diinterpretasi dan digunakan dalam judul karya yang bersifat personal sebelum diwujudkan sebagai lukisan. Harapan capaian dari Tugas Akhir ini untuk merepresentasikan penggunaan kosakata ciptaan Roald Dahl dan dunia fantasi yang terdapat dalam tulisan-tulisannya. Hal tersebut disalurkan melalui rangkain karya yang memiliki komponen surealistik, warna yang memberikan nuansa fantasi, figur manusia, dan atau objek/subjek buatan manusia maupun alami yang terpadukan dalam lukisan cat air dengan tambahan media lain.
Kajian Teori Formalistik Pada Patung Figur Deformatif Karya Win Dwi Laksono Dengan Pendekatan Semiotika Berna, Edbert Antonio; Wicaksono, Satrio Hari; Wantoro, Yoga Budhi
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v10i1.12649

Abstract

In this article, we will examine the signs and meanings of five works by Win Dwi Laksono. Win Dwi Laksono is an artist, especially in sculpture, who uses his body as the embodiment of his artistic ideas in his figurative sculpture works. His works are full of symbolic expressions about various thoughts, life experiences, and the philosophy of life that he believes in. The research method used in this writing is qualitative which is analyzed using a combination of Clive Bell's formalistic theoretical approaches and Roland Barthes' semiotics to analyze the work of deformative figure sculpture by Win Dwi Laksono. This approach will provide comprehensive insight into the formal elements and meaning contained in these works of art. From the results of the study, it can be seen how broad his feelings are in responding to and interpreting life. In creating his work, Laksono generally has two types of processes in producing shapes and textures, namely textures with finger strokes and smooth textures. This choice came from long practice in making sketches and illustrations which provided him with the precise processing of deformation in each of his personal works. Pada penulisan ini akan mengkaji secara kebentukan dan makna dari lima karya Win Dwi Laksono. Win Dwi Laksono adalah seorang perupa khususnya seni patung yang menggunakan tubuh sebagai perwujudan ide-ide seninya di dalam karya-karya patung figuratifnya. Karya-karyanya sarat dengan ungkapan simbolik tentang berbagai pemikiran, pengalaman hidup serta falsafah kehidupan yang diyakininya. Metode penelitian yang digunakan pada penulisan ini adalah kualitatif yang dianalisis menggunakan gabungan pendekatan teori formalistik Clive Bell dan semiotika Roland Barthes untuk menganalisis karya seni patung figur deformatif karya Win Dwi Laksono. Pendekatan ini akan memberikan wawasan yang komprehensif tentang elemen-elemen formal dan makna yang terkandung dalam karya-karya seni tersebut. Dari hasil pengkajian tampak umbar rasa beliau dalam menyikapi dan memaknai kehidupan. Pada penciptaan karyanya, Laksono secara garis besar memiliki dua jenis proses dalam menghasilkan bentuk dan tekstur yaitu tekstur dengan pelototan jari dan tekstur halus. Pemilihan ini datang dari latihan yang panjang dalam membuat sketsa dan ilustrasi yang menjadi bekal atas pengolahan tepatnya mendeformasi pada setiap karya personalnya.
Perancangan Motif Batik Kontemporer Dengan Penggayaan Visual Pop Art Yang Terinspirasi Dari Dewi Athena Gunawan, Zahwa Fani; Sekar, Ahda Yunia; Yuningsih, Sari
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v10i1.10888

Abstract

Contemporary batik is the novelty of creation with  the aim of satisfying the tastes of the people, connoisseurs and consumers. One of the visual styles that people can enjoy today is the visual style  of  pop  art,  and  this  visual  style  of  pop  art  is  in  line  with  contemporary  batik  style.  The similarities of contemporary pop art and batik are the same – breaking down of existing pakemes and free visualizations without rules. Then  the selection of motif inspiration was taken  from the legend  of  the  goddess  Athena  Because  Athens  is  one  of  the  most  popular  goddesses  of  Greek mythology to date. This study is based on qualitative methods with a motive design approach and data collection techniques in the form of literature studies, interviews, observations, visual studies, and exploration. The purpose of the study was to produce a new contemporary batik motif with a pop art visual style inspired by the Legend of the Goddess of Athens. The result of this study is the visual novelty in contemporary batik motifs with the inspiration of the goddess Athena using popart visual style with the final result of a sheet of cloth.Batik kontemporer merupakan kebaruan kreasi dengan tujuan memenuhi selera masyarakat, penikmat serta konsumen. Salah satu penggayaan visual yang dapat dinikmati masyarakat saat ini adalah gaya visual pop art, dan penggayaan visual pop art ini sejalan dengan gaya batik kontemporer. Kesamaan pop art dan batik kontemporer sama – sama mendobrak dari pakem yang ada dan visualisasi yang bebas tanpa adanya aturan. Kemudian pemilihan inspirasi motif diambil dari cerita legenda Dewi Athena karena Athena merupakan salah satu dewi Mitologi Yunani yang populer hingga saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan desain motif dan teknik pengumpulan data berupa studi literatur, wawancara, observasi, studi visual, dan eksplorasi. Tujuan dari penelitian ini untuk menghasilkan kebaruan motif batik kontemporer dengan penggayaan visual pop art yang terinspirasi dari cerita Legenda Dewi Athena. Luaran dari penelitian ini adalah kebaruan visual dalam motif batik kontemporer dengan inspirasi Dewi Athena menggunakan penggayaan visual pop art dengan hasil akhir berupa lembaran kain.

Page 1 of 1 | Total Record : 7