cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "No 46 (1991)" : 7 Documents clear
Semiotik dan Penerapannya dalam Studi Sastra Aly Abubakar Basalamah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 46 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.046.23-34

Abstract

Perkembangan penelitian sastra pada masa kini cukup menggembirakan. Di Fakultas Adab lAIN Sunan Kalijaga sendiri sejak beberapa tahun terakhir ada kecenderungan di kalangan para mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Arab memilih bidang sastra sebagai ajang penulisan skripsi. Hal ini tentu tidak terlepas dari adanya peningkatan bimbingan dalam bidang kajian dan penelitian sastra pada Fakultas Adab, baik terhadap para mahasiswa maupun para pengajar. Kita dilanda oleh berbagai pendekatan sastra, sehingga tidak jarang menurut pengamatan saya, mahasiswa mendapat kesukaran untuk memilih salah satu pendekatan. Mereka berlomba-lomba untuk memasukkan berbagai teori dan pendekatan ke dalam penelitiannya. Hasil penelitiannya menjadi begitu "canggih", sehingga sukar dipahami, bahkan oleh pembuatnya sendiri. Menurut hemat saya, betapapun canggihnya, teori itu hanya merupakan alat untuk melakukan penelitian, sehingga si pemakai perlu memahami cara menggunakannya. Deretan istilah atau definisi teoritis yang berupa tempelan atau hiasan belaka, hanya akan menurunkan mutu penelitian sastra. Salah satu pendekatan yang kini banyak dibicarakan adalah semiotik, yaitu ilmu tanda.
Surat al-Duha Tafsir Zamakshari, ‘Abduh, dan Bint Al-Shati’ Yusron Asrofie
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 46 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.046.35-46

Abstract

Makalah ini merupakan studi tiga karya tafsir al-Qur'an mengenai surat al-Duha. Karya-karya yang dipelajari adalah kitab tafsir al-Kashshaf tulisan Zaimakhshari, kitab Tafsir al-Qur'an al-Karim tulisan Muhammad 'Abduh2, dan kitab al-Tafsir al-Barjani lil-Qur'an al-Karim tulisan Bint al-Shati'. Zamakhshari menulis tafsir al-Qur'an nya di Mekkah antara tahun 1131 dan 1133 Masehi. Karyanya merupakan perkembangan puncak analisa al-Qur'an secara filologis dan sintaktis. Dia menganalisa kerumitan style al-Qur'an dan menjelaskan hal-hal yang tampak aneh yang terdapat di dalam teks al-Qur'an. Untuk mendukung tafsirnya, dia juga menyertakan hadits-hadits dan contoh-contoh syair pra-Islam (Jahiliyyah) biasanya digunakan untuk membuktikan makna beberapa kata tertentu.  Muhammad 'Abduh (1849-1905), di lain pihak, terutama menampakkan keprihatinannya untuk menemukan pemecahan atas permasalahan­permasalahan yang terjadi pada masanya. Dia berpendapat bahwa al-Qur'an pada dasarnya bukan merupakan sumber hukum Islam atau ilmu kalam, tetapi merupakan kitab yang memberi petunjuk pada manusia dalam mencari kebahagiaari di dunia dan akhirat. Dia menginginkan suatu tafsir al-Qur'an yang bebas dari spekulasi teoretik, penyelidikan tata bahasa dan kutipan-kutipan ilmiah. Menurut dia, orang hendaknya membiarkan al-Qur'an  berbicara bagi dirinya sendiri. Dalam hal ini, dia ragu-ragu untuk menerima materi dari luar al-Qur'an sebagai mempunyai makna bagi penafsiran al-Qur'an.
Sibawaih dalam Lintas Linguistik Arab Fuady Aziz
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 46 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.046.47-62

Abstract

Kalau orang membicarakan linguistik, biasanya tokoh utama yang paling banyak dikenal dan disebutkan dalam pembicaraan adalah Mongin Ferdinand De Saussure. Sepanjang masa, nama Saussure tidak akan terhapus dari dunia linguistik. Dalam dunia linguistik umum, dialah orangnya yang dianggap sebagai Bapak Linguistik Modem dan Pelopor Strukturalisme.  Sibawaih, walaupun bukan orang yang pertama kalinya menciptakan ilmu bahasa, namun dalam teori-teori kebahasaan dia telah menunjukkan kemampuannya sebagai seorang linguis di antaranya dalam pembuatan deskripsi Fonetik yang maju dan sistimatis. Karya Sibawaih yang terkenal dengan nama "al-Kitab" yang mencuat pada akhir abad ke 8, membuktikan kehidupan dan perkembangan linguistik Arab, terutama di bidang ilmu Nahwu. Dari penelaahannya tentang bahasa Arab, dia telah menghasilkan sejumlah asumsi, hipotesis dan teori tentang bahasa Arab. Sehingga walaupun karya pemikiran Sibawaih itu lahir pada abad Renaissance, tetapi dalam perkembangan sejarah linguistik Arab, tetap merupakan tumpuan bagi para ahli bahasa Arab. Lebih dari lima puluh sarjana periode yang silam dari kalangan Arab sendiri, telah melakukan kegiatan ilmiyah mereka dengan objek karya besar tersebut; dengan jalan memberikan syarah, interpretasi syawahidnya, penjelasan berbagai problematikanya, pembuatan isi ringkasannya dan sebagainya. Kegiatan ilmiyah para ahli tersebut, boleh dikatakan tidak pernah meninggalkan teori­teori yang telah dihasilkan Sibawaih. Asumsi, hipotesis yang mereka peroleh diuji, diuji ulang, diverivikasi; kadang-kadang ditolak, diperbaharui, diperhalus, dikembangkan atau tidak diberlakukan sesuai dengan data dan fakta bahasa. Karya Sibawaih, tidak memperoleh perhatian dari kalangan Arab; akan tetapi juga perhatian dari kalangan Arab; akan tetapi juga perhatian yang sangat besar datang dari kalangan para sarjana Barat. Orientalis Jerman pernah menterjemahkannya ke dalam bahasa Jerman. Bahkan penerbitan di Jerman ini, merupakan terjemah ilmiyah yang sangat teliti; dikarenakan metode Filologi sudah mulai diterapkan terhadap manuskrip-manuskrip yang terdapat diberbagai perpustakaan. Dalam lintasan sejarah linguistik, di samping para linguis sering memunculkan tokoh-tokoh linguistik utamanya pada abad ke 19 seperti Grimm, Whitney, Meyer-Lubke, Maz Mulier, Brugmann dan Sweet, ditambah lagi diterimanya Ferdinand De Saussure dari Perancis sebagai Bapak linguistik modern; maka sewajarnya kita lebih mengenal siapa Sibawaih, apa karyanya dan mengenal pula istilah-istilah yang diciptakannya.
Saddudz Dzariáh dan Permasalahannya (Sebuah Kajian Ushul Fiqh) Tjut Intan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 46 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.046.1-8

Abstract

Sebutan dzari'ah yang bermakna "sarana" atau "jalan" yang bisa menuju pada keburukan atau mafsadah adalah harus di-"sumbat" (saddun), dan hal ini disebut dengan "saddudz-dzari'ah" yang merupakan susunan kata (kalimah) dari mudlaf dan mudlaf ilaihi - yaitu lafadh saddun dan dzari'ah.الذريعة ج ذرا ئع : الوسيلة. يقال : هوذريعتى الى فلان اى وسيلتىMenurut tinjauan bahasa secara sederhana, dzari'ah yang jamaknya dzara-i' adalah berarti wasilah - yaitu suatu perantara atau jalan. Kalau dikatakan dengan bahasa Arab: huwa dzari'atiy ilaa fulaanin, maka yang dimaksud dengan kalimah dzari'atiy adalah wasiilatiy, jadi artinya : dialah perantaraku (atau jalanku) menuju si Fulan. Ibnu Qayyim mengartikan dzari'ah dengan :ما كان وسيلة وطريقا الى الشيئJadi dzari'ah adalah suatu hal yang menjadi perantara dan jalan terhadap suatu perkara. Dalam hal ini Muhammad Abu Zahrah menjelaskan: "Dzari'ah-dzari'ah itu dalam bahasa ahli-ahli syara' (syar'iyyun) adalah merupakan suatu hal yang dapat menjadi jalan terhadap suatu perkara yang diharamkan atau yang dihalalkan, kemudian mengambil hukumnya. Kalau jalan yang menuju sesuatu yang diharamkan) maka hukumnya itu haram, jalan yang menuju sesuatu yang dibolehkan maka hukumnya itu mubah, dan suatu hal yang hanya dapat menunaikan sesuatu yang diwajibkan maka hukumnya itupun wajib. Perbuatan zina hukumnya haram, dan melihat aurat orang perempuan dapat mengarah pada perzinahan maka hukumnyapun menjadi hararn. Shalat Jum'ah hukumnya fardlu, karena itulah meninggalkan jual-beli lantaran untuk menunaikannya maka hukumnya (meninggalkan) menjadi wajib, sebab ia menjadi perantara terhadap shalat jum'ah itu ... "
Tafsir Al-Manar (Antara al-Syaikh Muhammad ‘Abduh dan al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridla) A. Malik Madany
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 46 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.046.63-81

Abstract

Di antara nama-nama kitab tafsir al-Quran yang muncul di abad keduapuluh ini, nama al-Manar berada pada deretan pertama, baik dalam hal popularitas tokoh penulisnya, maupun dalam hal kualitas isi yang dikandungnya. Dalam kaitannya dengan nama-nama tokoh yang berperan dalam kemunculan kitab Tafsir al-Manar ini, al-Syaikh Muhammad al-Fadlil ibn 'Asyur menyebut 3 (tiga) buah nama. Pertama: al-Sayyid Jamal al-Din al-Afghaniy (1839-1897) yang merupakan tokoh pencetus ide keharusan adanya perbaikan masyarakat Islam, dengan jalan membawa umat Islam untuk kembali kepada sumber ajaran agama yang murni. Kedua: al-Syaikh Muhammad 'Abduh (1849-1905) sebagai tokoh yang secara langsung melakukan penafsiran al-Quran al-Karim sebagai sumber pertama dan utama ajaran Islam, dalam rangka merealisir ide yang telah dicanangkan oleh tokoh pertama. Ketiga: al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935) sebagai tokoh pendamping dan penerus tokoh kedua dalam melestarikan dan mengembangkan usaha penafsiran al-Quran dimaksud. Mengingat kenyataan bahwa ketiga nama tokoh di atas merupakan nama-nama yang sudah sangat dikenal, dan jarak waktu antara kita dengan mereka relatif tidak begitu jauh, maka makalah ini sengaja tidak mengupas seluk-beluk riwayat hidup mereka. Yang penting untuk dibahas dalam makalah ini ialah kepastian tentang siapakah sebenarnya penyusun kitab Tafsir al-Manar ini. Hal ini berkaitan erat dengan kenyataan masih seringnya terjadi kekaburan di sekitar masalah dimaksud. Ungkapan yang berbunyi: Ta'lif al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridla Munsyi' Majallah al-Manar, yang menghiasi setiap halaman judul dari masing-masing juz al-Manar, sepintas lalu dapat menimbulkan kesan bagi sementara orang bahwa Rasyid Ridlalah penyusun dan pemilik ide penafsiran al-Manar; padahal --seperti telah disinggung sebelumnya-- Rasyid Ridla merupakan pendamping dan penerus ide penafsiran Muhammad 'Abduh. Demikian pula sebaliknya --seperti ditulis oleh A. Mahmud Syihatah-­ tidak sedikit ilmuwan yang menisbatkan al-Manar seluruhnya kepada Muhammad 'Abduh. Kekeliruan terakhir ini di samping dilakukan oleh beberapa ilmuwan Arab sendiri, juga dilakukan oleh orientalis terkemuka, Ignaz Goldziher dalam karya monumentalnya, Richtungen der Islamischen Koranauslegung, yang telah dua kali diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Mengingat adanya kesimpangsiuran diantara nama Muhammad 'Abduh dan Rasyid Ridla dalam kaitannya dengan penyusunan kitab Tafsir al-Manar ini, maka pembahasan makalah ini juga diarahkan pada beberapa masalah yang berkaitan dengan penafsiran kedua tokoh tersebut, baik dalam hal saham masing-masing, maupun dalam hal ciri-ciri khas yang menonjol dari penafsirannya.
Undang-Undang Melaka Suatu Tinjauan Resepsi dan Interteks (Undang-Undang Melaka A Reception and Intertextual Approach) Taufiq Ahmad Dardiri
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 46 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.046.9-22

Abstract

This research takes object of the text of Undang-Undang Melaka, issued in critical edition by Liaw Yock Fang (1976). This text is wellknown as Undang-Undang Negeri Melaka, Risalah Hukum Kanun, Hukum Kanun, and Undang-Undang Melayu.  The text is known as one of the oldest and the most important Indonesian literature which contain laws. because of the wide application and the great amount of its manuscripts and also of the variant form. We analyze that text using a reception and intertextual approach. There receptive approach takes over the researcher role as the explicit reader and the role of the text as the real matter of the implicit reader role. The intertextual approach here means while takes over the role of other text as the understanding background of UUM. From the analytical receptivity we know that a receptive on structure language .and context has existed in the UUM text. The aspect receptivity signed by verse addition absorbed from Islamic laws, the pattern and the method of writing. The receptivity of the language as used in Islamic law as usual. The content receptivity signed by the influence and absorption from the Islamic law text existed in the syncretism laws. We know from the intertextual analysis, UUM text has intertext relation with Quran. 'Hadis/Prophet's tradition, and Ijmak/Consensus. In the other hand, from the two approaches We hope to know the Islamic law' contents which were absorbed into UUM, and the Islamic Laws' practiced by community of Malaka at that time. Finally, we shall know that the receptivity and the intertextual process in the UUM is the consequence and also the results of the diffusion. This diffusion took place the local culture was influenced by Hinduism-Buddhism and Islam. In this case involved some kinds of culture, one of them was language, system of religion and laws, etc.
Metode Filsafat dalam Tinjauan Ilmu Agama (Tinjauan Pertautan antara Teori dan Praxis) M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 46 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.046.82-94

Abstract

Metode filsafat semakin hangat dibicarakan oleh para ilmuwan sosial, setelah metode yang dipergunakan dalam bidang ilmu-ilmu pasti-alam berkembang pesat dan menyelinap masuk ke dalam wilayah ilmu-ilmu sosial. Lingkaran Wina (Vienna Circle) adalah tonggak monumen sejarah bagi para filsuf yang ingin membentuk 'unified science', yang mempunyai program untuk menjadikan metode-metode yang berlaku dalam ilmu pasti-alam sebagai metode pendekatan dan penelitian ilmu-ilmu kemanusiaan, termasuk di dalamnya filsafat. Gerakan para filsuf dalam Lingkaran Wina ini disebut. oleh sejarah pemikiran sebagai Positivisme-Logik. Meskipun aliran pemikiran ini mendapat tantangan luas dari berbagai kalangan, tapi gaung pemikiran yang dilontarkan oleh aliran positivisme logik masih terasa hingga saat sekarang ini. Bukan karena pemikiran mereka yang patut dihidupkan kembali, tapi implikasi pemikiran mereka setidaknya telah membangkitkan kesadaran kita untuk memunculkan pertanyaan: apakah kehidupan manusia yang serba kompleks ini  dapat dipecahkan lewat pendekatan positivistik, pemisahan yang lugas antara 'teori' dan 'praxis' antara 'value' dan 'fact', antara 'scientisme' dan 'hermeneutism'.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

1991 1991


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue