Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles
1,211 Documents
Al Farabi dan Logika Aristoteles
Aburisman, A
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 34 (1986)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1986.034.1-23
Studi sejarah kebudayaan memberikan kesan kepada kita bahwa ilmu pengetahuan itu berinduk kepada filsafat. Filsafat menghadapi segala masalah dengan pemikiran radikal, berusaha mengungkap hakikat sesuatu objek secara tuntas, hingga diperoleh kebenaran hakiki. Kemudian berangsur-angsur muncul berbagai cabang ilmu pengetahuan, yang taraf pemikiran untuk memperolehnya tidak seradikal pemikiran filsafat. Corak dan sebutan ilmu pengetahuan itu bergantung kepada macam objekformal yang menjadi acuan memandangannya.
Drawing a “Geopolitics” of Medieval Middle East: Political Alliance and Rivalry among Islamic Caliphates, the Mongols, and the European Kingdoms
Karim, Muhammad Abdul
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 61, No 2 (2023)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2023.612.267-296
This article aims to sketch the “geopolitics” of the past by investigating the context of the medieval Islamic world. Not only in today’s world, international political and economic relations have also had their precedents in the past. Given its strategic position in this issue, the Middle East is one of the regions that are interesting to study in the context of geopolitical narratives from the past to the present. This article tries to unravel the geopolitical situation of the Medieval Middle East by tracing historical records related to the economic-political relations of Islamic dynasties through a broader picture by looking at their relationship with other political powers that existed at that time, especially the Mongols and European-Christian kingdoms in general. This exploration shows how the issues of political pragmatism filled with negotiations and the necessity of religious issues have been deeply intertwined with each other and became a major feature of geopolitical relations in the medieval Middle East.[Artikel ini menggambarkan sebuah sketsa tentang “geo-politik” di masa lalu dengan menginvestigasi konteks dunia Islam pada abad pertengahan. Tidak hanya terjadi di dunia saat ini, relasi internasional dalam bidang politik dan ekonomi juga telah memiliki presedennya di masa lalu. Timur tengah adalah salah satu ranah yang layak untuk dikaji dalam konteks narasi geopolitik sejak masa lalu hingga saat ini, mengingat posisinya yang strategis dalam isu ini. Artikel ini mencoba mengurai situasi geopolitik Timur Tengah pada abad pertengahan dengan menelusuri catatan sejarah terkait relasi ekonomi-politik dinasti-dinasti Islam ditinjau dari konteks yang lebih luas dengan melihat kaitannya dengan kekuaan politik lain yang ada ketika itu, termasuk Mongol dan kerajaan-kerajaan Kristen Eropa secara umum. Penelusuran ini menunjukkan bagaimana isu pragmatisme politik yang dipenuhi dengan negosiasi dan isu keagamaan telah sangat terkait satu sama lain dan menjadi fitur utama dalam relasi geopolitis di Timur Tengah pada abad pertengahan].
Sejarah Penulisan Hadits
Yusuf, Husein
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 35 (1987)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1987.035.70-77
Pada masa Rasulullah s.a.w masih hidup diperoleh dua macam riwayat/berita. Riwayat pertama menerangkan bahwa nabi s.a.w melarang penulisan hadits, sedang riwayat kedua menjelaskan bahwa beliau membolehkannya. Riwayat yang menerangkan bahwa nabi melarang penulisan hadits ialah riwayat Abu Said Al-Khudry, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda “Jangan sekali-kali kamu menulis suatu dari padaku selain Al Qur’an, barang siapa yang menulisnya, hendaklah dia menghapusnya.” selanjutnya dalam riwayat yang lain Abu Said mengatakan “Kami telah meminta dengan sungguh-sungguh kepada nabi s.a.w agar beliau mengizinkan kami menulis hadits, tetapi beliau tetap menolaknya.
Peranan Agama Memotivasi Pembangunan Masyarakat Pancasila Perspektif Dari Sudut Konsultasi dan Konsolidasi Umat Beragama
Abdullah, Syamsuddin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 35 (1987)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1987.035.62-69
Kunjungan ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dilakukan oleh saudara-saudara kita para mahasiswa Fakultas Keguruan dan Pendidikan Agama Institut Hindu Dharma (IHD) pada 11 September 1984, mengingatkan saya pada kunjungan ke Bali tanggal 25 s/d 30 Maret 1979. Kunjungan dimaksud diorganisir oleh Jurusan Perbandingan Agama pada Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sudah menjadi tradisi bagi Jurusan itu untuk setiap tahunnya mengadakan kunjungan kepada umat beragama lain, seperti mengadakan kunjungan ke parisada Hindu Dharma (PHD), institut Hindu Dharma (IHD), MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) yang berpusat di Solo. Juga tidak dilupakan kunjungan ke pusat-pusat pengolahan kegiatan agama di Yogyakarta dan sekitarnya, seperti Sekolah Tinggi Teologi (STT) Duta Wacana Yogyakarta, Institut Filsafat Teologi (IFT) Driyakara Yogyakarta, untuk menyebut beberapa saja diantaranya.
Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy Dalam Perspektif Sejarah Pemikiran Islam Di Indonesia
Shiddiqi, Nourouzzaman
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 35 (1987)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1987.035.46-61
Hasbi dilahirkan dan dibesarkan pada saat-saat di Jawa tumbuh gerakan pembaharuan pemikiran Islam (kaum pembaharu) yang meniupkan pula semangat kebangsaan Indonesia serta anti penjajah dan di Aceh perang melawan Belanda sedang berkecamuk. Baik gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang lahir di Jawa, maupun perang Aceh sama-sama dimotori dan dipimpin oleh para ulama atau oleh pemimpin yang perjuangannya disemangati oleh jiwa agama. Mereka mampu menggerakkan masyarakat ke arah perubahan dan membangkitkan semangat untuk berjuang, karena posisi ulama di mata rakyat jauh lebih tinggi daripada posisi kaum pemegang hak kekuasaan negeri (kaum adat). Ajakan bekerja yang didasari oleh rasa ikhlas demi mendapatkan keridlaan Allah.
Undang-Undang Melaka, Sosok Akulturasi Dari Sebuah Proses “Reseptio In Complex” (Suatu Tinjauan Reseptif)
Dardiri, Taufik Ahmad
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 35 (1987)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1987.035.35-45
Perhatian terhadap naskah-naskah sastra Indonesia lama dewasa ini di kalangan orang-orang Indonesia sendiri, sudah semakin baik --sesuatu yang sangat menggembirakan-- khususnya bagi yang berkepentingan dalam hal ini. Dengan semakin banyaknya kajian yang dilakukan terhadap naskah-naskah lama yang sangat beragam itu kita akan dapat lebih memahami dan mendapatkan alur dan gambaran kebudayaan kita yang lebih utuh dan lengkap, khususnya alur diakronitas perkembangan kesusastraan Indonesia.
Al Mawardi dan Teorinya Tentang Khilafah
Anwar, Syamsul
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 35 (1987)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1987.035.16-34
Ada kenyataan historis bahwa masalah yang pertama-tama muncul dalam Islam sepeninggalan nabi Muhammad bukanlah masalah teologi, melainkan justru masalah politik, walaupun kemudian persoalan politik ini segera menjelma menjadi perbincangan teologis. Problem yang paling mengenai khilafah atau imamah yang dilukiskan oleh al-Syahrastani (479 - 548 H) sebagai “pertentangan paling besar di kalangan umat Islam, sebab”, lanjut ahli ilmu perbandingan agama ini, “tidak pernah terjadi sebuah pedang dihunuskan karena suatu masalah dasar agama seperti yang terjadi karena masalah imamah di setiap zaman”.).
Konsepsi “Yang Esa” Dalam Filsafatnya Platonisme Platonus
Muzairi, M
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 35 (1987)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1987.035.6-13
Filsafat sampai kini tidak berhenti, masih jalan terus. Berbagai usaha filosofi-filosof muncul untuk menjawab pertanyaan yang tak pernah hilang dari lubuk sanubarinya. Sulitnya pertanyaan itu justru mengenai hal segalanya, sehingga tak kunjung selesai. Pertanyaan itu bukan hanya meliputi dunia yang dapat dijamak, dapat dimiliki saja, melainkan juga mengenai “Tuhan”. Masalah Tuhan merupakan masalah asasi yang menyangkut kehidupan manusia secara menyeluruh. Pengumulan dengan masalah tersebut, tidak mungkin dihindari oleh manusia, ia bukan hanya masalah akademis melulu, ia persoalan lama yang tak kunjung habis juga. Usaha dari manusia baik itu ulama, sastrawan, Sufi maupun filosof tak kunjung padam untuk menemukan tanda tanya historis itu. Sebab setiap perangkat perjalanannya senantiasa menimbulkan problema sendiri, karena itu masalah Tuhan adalah tema abadi dari perjalanan manusia.
Syariah: Dinamic Legal System
Sadzali, Munawir
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 35 (1987)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1987.035.1-5
First of all I would like to thanks my great friend, His excellency Mr. H. Mohamed, the Minister Transport and the Minister in Charge of the Muslim Religious and Culture Affaire of the Republic of Sri Lanka. For his kind invitation to me to take part in this very important Islamic gathering, the Third Asian Forum of the international Shariah Conference; and I deem it an exceptional privilege and honour to be invited to address this forum, attended by prominent Islamic jurists and scholar, all with in international repute, I am doubtful trough, that I Shall be able to come up to the expectation, and to satisfy the intellectual curiosity of this professionally well infromed audience.
Mengenal Afghanistan
Adi, Sulistyo
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 36 (1988)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1988.036.46-66
Afghanistan adalah sebuah negara yang terkurung daerah bergunung-gunung. Terjepit diantara Uni Soviet, Iran, Pakistan, Kashmir dan Cina. Afganistan benar-benar terletak pada persimpangan antara Timur dan Barat. Afganistan dengan lebih dari 17 juta penduduk dari bermacam-macam asal suku dan adat kebiasaan, sebelum dikuasai Rusia adalah sedang dalam masalah transisi. Pada zaman dahulu merupakan tanah rampasan. Afghanistan mencapai tingkat kesatuan Nasional pada tahun 1747 dan menjadi sebuah kerajaan konstitusional pada tahun 1931. Tetapi kekuatan politik tetap pada kekuasaan keluarga Kerajaan sampai tahun 1964 ketika sebuah konstitusi baru diumumkan secara resmi. Pada tahun 1973 sebuah Republik ditegakkan dengan suatu kudeta.